Maaf jika cerita ini agak ngaco, gak jelas, dan aneh. Maaf juga karena chapter 1 banyak terdapat kesalahan. Maklum saya masih baru disini. Jadi saya mohon kritik dan sarannya.

Saya dapat ide cerita ini dari komik Harlem Beat Until Dawn. Jika ada yang merasa tidak suka dengan tulisan saya, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Disclaimer : Naruto bukan milik saya, tapi milik Masashi Kishimoto sensei.

Chapter 2: Memories

Naruto POV

Kami berjalan menuju gerbang dunia manusia bersamaan. Dalam sekejap, mataku dibutakan oleh warna-warna yang menyilaukan. Selama beberapa detik, aku terpesona pada warna-warna itu. Namun dengan cepat warna itu berganti dengan gelapnya malam yang bertabur cahaya bintang, sebuah rembulan penuh bersinar di ujung langit. Kami sudah sampai di dunia manusia.

Aku belum pernah pergi ke dunia manusia. Tapi pernah melihatnya dalam buku saat masih di akademi. Sebenarnya bentuknya hampir sama dengan dunia neraka, hanya saja dunia manusia lebih indah, terang dan penuh warna, sangat berbeda dengan dunia neraka yang kelihatan suram.

Kami tiba di atap bangunan persegi yang bisa kutebak bahwa ini adalah bangunan yang di sebut sekolah. Kami mendapat pelajaran tentang dunia manusia saat masih di akademi. Bagiku dulu, itu merupakan pelajaran yang tidak berguna. Tapi ternyata sekarang berguna juga. Aku jadi tahu nama-nama benda disini dan kegunaanya. Jadi kami dengan mudah bisa berbaur dengan manusia.

Kami melihat sekeliling, dan tiba-tiba samar-samar aku bisa mencium bau pangeran.

" Kesini !" kataku pada mereka berdua.

Aku melompat turun dari atap dan berlari mengikuti bau itu. Aku berhenti di tepi kolam renang. Baunya menghilang disini.

"Jejaknya hilang," kataku pada mereka berdua.

"Sepertinya pangeran bersembunyi di sekitar sekolah ini." Kata cowok berkucir. Ia terlihat sangat santai, bicara sambil mengusap belakang kepalanya dan menguap lebar. Aku jadi tak yakin ia benar-benar berniat menyelesaikan misi.

"Lebih baik besok kita menyamar dan berbaur dengan manusia." Kata cowok berambut merah. Kalau dia mungkin masih bisa diandalkan. Dia menatapku dengan serius dengan sepasang matanya yang berwarna hijau.

" Huah….. iya! Lebih baik kita istirahat dulu." Kata cowok berkucir lagi. Ok, dia memang tak berguna.

" Baiklah, kita lanjutkan besok." Kataku akhirnya, memandang mereka berdua dengan serius.

" Perkenalkan namaku Naruto, senang bekerja sama dengan kalian." Kataku lagi

" Namaku Gaara, senang bertemu denganmu." Kata cowok berambut merah.

" Namaku Shikamaru." Kata cowok berkucir itu cuek dan langsung saja ngeloyor pergi.

# # #

Bruk …..!

Kurebahkan diriku di ranjang yang empuk. Lelah sekali. Kami tinggal di bangunan yang agak kuno bergaya barat. Cocok sekali dengan kami. Aku harus tinggal dengan mereka berdua. Aku tak merasa khawatir, kalau mereka berbuat macam-macam, lihat saja akibatnya.

Perhatianku tiba-tiba tertuju pada foto-foto disampingku. Foto pangeran. Rambut hitamnya tertata rapi dan terlihat lembut, kulitnya berwarna putih pucat, dan matanya berwarna merah. Dia tampan tentu saja, dan keren… tapi sorot matanya tajam dan dingin. Aku jadi teringat dengan mimpiku kemarin.

Sekarang pangeran Sasuke sudah berubah. Tak lagi pangeran riang, baik hati, dan murah senyum yang dulu pernah menolongku. Sekarang dia sombong, acuh, tak memperdulikan sekitar, tak punya rasa kasihan dan dingin.

Setelah kejadian waktu aku kecil itu, aku berusaha keras belajar dan bekerja hingga sekarang aku bisa jadi prajurit istana. Aku ingin bisa melindungi pangeran seperti dia melindungiku dulu. Aku sebatang kara, tak punya keluarga, dan orang tuaku sudah lama meninggal. Jadi aku juga bekerja untuk biaya di akademi. Tapi semua impianku itu langsung musnah gara-gara peristiwa waktu 'itu'.

Saat itu hari penobatan para prajurit baru. Aku satu-satunya wanita yang lolos menjadi prajurit. Sebenarnya hal itu lumayan membuat heboh. Tapi semua ujian bisa kulalui dengan sempurna. Jadi tak ada alasan untuk tidak menjadikanku prajurit.

Tapi sepertinya ada prajurit lain yang tidak terima atas penobatanku. Saat aku sedang berjalan di taman istana, tiba-tiba saja seseorang menjegal kakiku hingga aku jatuh terjerembab di tanah.

" Ha…ha…ha…, lihat! Dia jatuh. Ha…ha..ha.." tawa seseorang. Dia salah satu prajurit baru yang sombong. Aku kenal dia. Dia Kabuto, prajurit yang lebih tua dariku. Dan dia tak menyukaiku.

Aku mencoba bangkit tapi Kabuto menendang kepalaku ke tanah.

' Bum….' Kurasakan rasa perih di dahiku.

" Wanita itu seharusnya memasak di dapur" kata Kabuto masih sambil tertawa.

Aku berusaha mendongak, saat itu kulihat rombongan pangeran melintas. Sepertinya pangeran baru pulang entah dari mana. Dia dikerubuti gadis-gadis seperti semut mengerubungi gula.

Saat itu pangeran melirikku. Mata biruku bertemu dengan matanya yang merah. Ini pertama kalinya aku bertemu pangeran setelah bertahun-tahun. Aku sedang berbaring di tanah, dahiku berdarah dan ada seorang pria yang menginjak kepalaku. Tapi dia, pangeran Sasuke yang mulia itu, hanya melihatku sepintas kemudian membuang muka dengan acuh. Lalu berjalan pergi bersama rombongannya tanpa menoleh lagi ke arahku.

Aku terkejut dan syok. Aku sedikit berharap pangeran akan menolongku seperti dulu. Tapi dia bahkan tak memandangku. Amarah menjalar ke seluruh tubuhku. Kabuto masih saja terus menghinaku. Tapi aku bahkan sama sekali tak mendengarkannya.

Dengan segera aku pegang kakinya dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke pohon di sampingku. Pohon itu roboh dengan suara bedebum yang keras. Aku memang wanita, tapi lain ceritanya kalau aku sedang marah. Amat sangat marah.

Aku bangun dan berjalan menuju Kabuto. Kutatap dia. Kutarik kerahnya dan kuangkat ke udara. Ku banting dia dan kutendang perutnya ke tanah. Lalu kuinjak wajahnya.

"Apa katamu tadi? " kataku dengan dingin.

Kabuto tak menjawabku. Tangannya sedang mencengkeram kakiku.

" Kalau kau sampai menyentuhku lagi…." Perkataanku berhenti…

" Aku takkan segan-segan untuk membunuhmu!" kataku penuh ancaman.

Kutendang tangannya yang memegangi kakiku lalu kutendang perutnya sekali lagi. Dan kutinggalkan dia tergeletak di sana.

Setelah kejadian itu, tak ada satupun yang berani mengerjaiku. Paling-paling mereka hanya berbisik-bisik di belakangku. Aku mengacuhkan mereka semua.

Hingga sekarang aku menjadi prajurit, hanya karena tak ada pilihan lain. Karena sudah terlanjur, jadi kujalani saja.

Ah… sudahlah, tak usah mengingat masa lalu lagi. Membuatku sakit hati saja. Lebih baik aku tidur, besok banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Aku harus mendaftar ke SMU itu. Menurutku pangeran Sasuke pasti berbaur di sekolah itu, entah menjadi guru atau murid. Kemungkinannya sama-sama besar. Kupejamkan mataku berharap esok segera datang.

# # #

Normal POV

Pagi itu di Konoha High School. Tepatnya di kelas 2-A. Kelas itu ramai oleh para murid yang sedang menyalin PR, bergosip ria, bahkan ada yang sedang tidur. Walaupun bel masuk telah berbunyi. Sepertinya tak berpengaruh pada mereka semua. Kelas itu baru sunyi setelah seorang lelaki berambut putih dan memakai masker memasuki kelas. Sambil menaruh bukunya di meja dia menyapa murid-muridnya.

" Selamat pagi anak-anak " sapa lelaki itu

" Selamat pagi Kakashi-sensei " sapa murid-murid di kelas itu.

"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Kalian harus memperlakukannya dengan baik. " kata Kakashi-sensei sambil menyuruh murid baru itu masuk.

Seorang gadis berambut pirang dikucir kuda dan bermata biru memasuki kelas. Kemudian berjalan ke samping Kakashi sensei.

" Perkenalkan dirimu." Kata Kakashi-sensei sambil tersenyum.

Gadis bermata biru itu mengangguk dan menghadap ke depan kelas.

" Namaku Naruto Uzumaki, salam kenal" kata Naruto tanpa tersenyum.

" yah…. Naruto, kau boleh duduk di bangku kosong itu." Kata Kakashi sensei sambil menunjuk bangku kosong di tengah ruangan.

Naruto berjalan menuju bangkunya tanpa menengok kanan kiri. Walaupun banyak murid yang menyapanya. Namun Naruto tak menghiraukan mereka semua. Sepertinya kebiasaannya di dunia neraka tak berubah. Tanpa Naruto sadari seseorang tengah memperhatikannya dengan senyum tersungging di bibirnya.

Setelah Naruto duduk di bangkunya dan Kakashi sensei mulai menerangkan pelajaran, Naruto mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mengamati satu per satu wajah di ruangan itu. Berharap kalau ia beruntung pangeran Sasuke ada diantara mereka. Namun tak ada satupun yang mirip foto pangeran. Naruto menghela nafas panjang.

" Hari ini pasti hari yang melelahkan bagimu" sebuah suara mengagetkan Naruto.

Naruto menoleh ke samping. Yang menyapanya adalah murid cowok yang duduk di sampingnya. Cowok itu berkulit putih, bermata hitam dan berambut hitam berdiri seperti pantat ayam. Cowok itu tersenyum, sepertinya dia sedang bahagia.

" Namaku Asuka Sheichu, aku juga murid baru, salam kenal." Kata cowok itu lagi.

Naruto berpaling dengan cuek. ' aku tak perlu berpura-pura senang disini, aku harus segera menemukan pangeran dan kembali ke dunia neraka' pikir Naruto.

" Hei Dobe, kau tidak dengar ya?" Tanya Asuka membuat naruto berpaling menatapnya dengan tiga garis siku-siku di kepalanya.

" Jangan panggil aku dobe, dasar Teme sialan" bentak Naruto.

" Ehem…ehem… Naruto, lebih baik perkenalannya dilanjutkan setelah pelajaran selesai saja." Kakashi sensei berkata sambil tersenyum mengerikan.

" Maaf, sensei" kata Naruto sambil manatap tajam Asuka.

Disampingnya Asuka terkikik geli.

To be continued….

# # #

terima kasih telah mereview cerita saya

iza-ken-twinsdevil : maaf saya baru disini jadi masih amburadul. Salam kenal . terima kasih, saya akan berusaha lebih baik lagi.

Akane ; terimakasih sudah bilang bagus * berkaca-kaca* baik… akan saya perbaiki lagi. Maaf….

Kyoshiro : Terima kasih, ada kemungkinan orang lain juga sih. Pangeran kabur karena gak mau nikah sama orang yang gak dicintainya. Salam kenal ya….

Uzumaki winda : makasih * nangis darah* iya…. Sasuke emang manja….

Sudah saya usahakan update kilat ni….

Please read and review…