Maaf jika cerita ini agak ngaco, gak jelas, dan aneh. Maaf juga karena banyak terdapat kesalahan. Maklum saya masih baru disini. Jadi saya mohon kritik dan sarannya.
Disclaimer : Naruto bukan milik saya, kalau milik saya, saya gak akan buat itachi meninggal.
Ini saya berikan penampakan tokohnya :
Sasuke : tinggi 180, mata merah, rambut hitam lurus (dalam foto), kulit pucat.
Asuka : tinggi 160, mata hitam, rambut hitam jabrik, kulit putih.
Naruto : tinggi 160, mata biru, kulit coklat, rambut panjang sepinggang, telinga rubah, ada tiga garis tipis di masing-masing pipi.
Naruto (manusia) : sama kayak di atas hanya saja telinga rubahnya jadi telinga manusia biasa.
Chapter : 3 :
Normal POV
Naruto bergegas keluar saat bel istirahat berbunyi. Dia harus menemui Gaara dan Shikamaru di taman sekolah. Gaara juga menyamar sebagai murid disini. Tapi dia masuk kelas 3. Sedangkan Shikamaru memilih jadi tukang kebun (?). Naruto menggeleng tak percaya pada Shikamaru. Kenapa dia memilih jadi tukang kebun? Padahal dia bisa saja menyamar sebagai guru. 'dunia memang penuh misteri' pikir Naruto.
Naruto memilih jalan memutar sekalian berkeliling sekolah. Dia tak menghiraukan tatapan para murid cowok yang terlihat tertarik padanya.
Saat sampai di lantai satu, Naruto melihat seseorang dengan rambut hitam jabrik seperti pantat ayam, sedang berdiri di depan jendela dengan senyum tersungging di bibirnya. 'Apa sih yang dilihat si Teme itu, sampai dia senyum-senyum sendiri begitu?' pikir Naruto. Naruto berjalan mendekat dan menengok ke jendela. 'Hanya taman yang penuh murid, Apa istimewanya?' pikir Naruto lagi.
"Hei Dobe, dunia ini indah ya!" kata Asuka. Mata hitamnya terlihat bersinar penuh semangat.
' he..he..he.. akhirnya aku bisa pergi ke dunia manusia, Itachi sialan itu seenaknya saja mau menikahkanku' pikir Asuka dalam hati. Ia kembali tersenyum menikmati keindahan dunia manusia –yang berupa taman penuh siswa- dan juga kebebasannya.
" Sudah kubilang jangan panggil aku dobe, dasar teme" kata Naruto kesal sambil menjitak kepala Asuka.
" Hei…." Protes Asuka sambil memegangi kepalanya. Saat Asuka mau membalas Naruto, tiba-tiba saja Asuka merasa dadanya sesak dan pandangannya mulai buram. 'Ah sial…. Jangan lagi' batin Asuka. Lalu Asuka jatuh pingsan di depan Naruto. Refleks Naruto menangkapnya.
" Hei…hei… Teme, kau kenapa?" teriak Naruto.
Naruto meraba dahi Asuka yang berkeringat. Sepertinya dia demam. 'ukh… menyebalkan, kenapa aku sial begini' omel Naruto dalam hati. Naruto segera menggendong asuka di punggungnya. Ternyata Asuka lebih pendek dan kurus dari perkiraan Naruto. Paling tidak sama dengan tinggi Naruto. Tapi cowok kan seharusnya lebih tinggi dari cewek.
Naruto bertanya pada salah seorang siswi dimana letak UKS. Dan segera mengantar Asuka kesana. UKS itu berada di ujung koridor menghadap taman. 'sekalian saja' pikir Naruto.
Sampai di depan UKS, segera saja Naruto mengetuk pintunya.
" Permisi, ada anak yang sedang sakit" kata Naruto.
Pintu UKS di buka oleh seorang wanita cantik berambut pink dan mengenakan jas putih panjang.
" Masuklah" kata wanita itu membukakan pintu dan membantu Naruto. Setelah membaringkan Asuka, Naruto segera merenggangkan tubuhnya yang kaku. Wanita itu memandang Asuka, memandang Naruto, lalu memandang Asuka lagi.
" Dasar Asuka, sudah kubilang untuk tidak terlalu lama berdiri di bawah sinar matahari" kata guru UKS itu kesal.
Sepertinya Asuka memang sering pingsan, sampai-sampai guru UKS pun hafal padanya.'dasar manusia lemah' pikir Naruto.
"Terima kasih sudah membawanya kemari" ucap guru UKS itu.
Naruto hanya mengangguk dan langsung pergi menemui Gaara dan Shikamaru.
Guru uks berambut pink itu segera menutup pintu dan berbalik menatap sosok Asuka yang tengah berbaring.
" Hei Sasuke, sudah kubilang kau harus hati-hati," kata guru UKS itu sambil duduk di kursinya.
"Ukh… ini bukan salahku, kenapa aku jadi sering pingsan begini?" sebuah suara menjawab, namun itu bukan suara Asuka. Suaranya agak lebih berat.
" Itu karena kau belum terbiasa dengan tubuh manusiamu." Kata guru UKS itu sambil melototi Asuka. Namun yang berbaring di situ bukan Asuka. Orang itu bermata merah.
"Cih… Sakura! Kau lebih manis saat masih jadi kucing" kata Sasuke sambil tiduran.
" Bukan mauku berwujud manusia begini, lebih baik kau cepat istirahat sebelum ketahuan." Kata Sakura sambil menutup muka Sasuke dengan bantal.
" hei…" protes Sasuke.
Tak menghiraukan protes Sasuke, Sakura berjalan menuju jendela dan memandang taman sekolah. 'Aku harus lebih waspada' pikir Sakura.
# # #
Naruto bergegas menuju taman, Gaara dan Shikamaru pasti sudah lama menunggunya. Sampai di taman Naruto segera menghampiri kedua rekannya itu. Mereka ada di pojok taman. Gaara sedang membaca buku dan Shikamaru sedang berdiri dibelakang Gaara sambil membawa sapu.
"Maaf, aku telat" kata Naruto.
"Tak apa, aku juga baru bangun kok" kata Shikamaru sambil menguap.
"Kalian dapat suatu petunjuk?" Tanya Gaara.
"Aku tak menemukan satu orang pun yang mirip pangeran" kata Naruto sambil mendesah.
" Aku sudah menanyai murid disini, tapi tak satupun yang mengenal pangeran" kata Shikamaru sambil melambaikan foto pangeran.
" Aku juga sudah berkeliling tapi tak menemukan satupun petunjuk" kata Gaara.
"Sepertinya pangeran benar-benar mahir berbaur." Kata Naruto serius.
"Aku yakin pangeran juga menyamar." Kata Shikamaru.
Naruto mengedarkan pandangan ke seluruh taman. Lalu tatapannya berhenti di jendela UKS. Rupanya UKS bisa terlihat dari sini. Guru UKS berambut pink itu sedang memandang keluar jendela.
"Hei…Naruto, kau mendengarku tidak?" Tanya Shikamaru. Naruto segara berpaling ke arah Shikamaru.
"Ya, Ada apa?" Tanya Naruto.
" Jangan bengong saja" kata Shikamaru.
" Maaf" jawab Naruto.
"Kau benar-benar tak bisa mencium jejak pangeran?" Tanya Gaara.
"Ya… pangeran sangat mahir menyembunyikan jejaknya." Kata Naruto kesal. Selama ini, tak ada jejak yang tak bisa dicium oleh Naruto. Membuatnya kesal setengah mati.
"Tenang saja, sepandainya tupai melompat, suatu waktu pasti jatuh juga." Kata Shikamaru enteng.
Mereka bertiga mendiskusikan beberapa kemungkinan tentang penyamaran pangeran hingga bel masuk berbunyi. Kemudian mereka berpisah. Naruto segera pergi kekelasnya.
"Hei Dobe, kata bu Haruno, kau yang membawaku ke UKS ya? Terima kasih." Kata Asuka sambil tersenyum saat Naruto duduk di bangkunya.
Naruto berpaling tanpa mengatakan apapun. Sepertinya sia-sia saja menyuruh cowok pantat ayam itu untuk tidak memanggilnya dobe. Selain itu Naruto tak terbiasa melihat seseorang tersenyum padanya.
# # #
Esok paginya Naruto berangkat pagi-pagi sekali. Dia berdiri di gerbang sekolah sambil mengamati satu per satu murid dan guru yang masuk. Naruto akan memastikan dia mengetahui semua murid dan guru di sekolah ini. Tadi malam Naruto juga sudah mencuri data guru dan murid dari ruang arsip. Saat sedang serius mengamati, seseorang menyapa Naruto. Naruto tak menoleh, dia tahu suara siapa itu.
"Pagi Dobe, hari ini cerah ya?" kata Asuka sambil mendekati Naruto sambil tersenyum. Entah mengapa Asuka senang sekali bertemu dengan gadis bermata biru itu. Namun gadis yang disapanya itu hanya diam saja.
"Sedang menunggu temanmu ya?"Tanya Asuka.
"Bukan urusanmu" jawab Naruto.
" sedang membaca apa sih dobe, serius sekali?" Tanya Asuka sambil mengintip kertas yang di bawa Naruto. Naruto segara menutupnya, dan menatap tajam Asuka seperti mengatakan mau-apa-liat-liat.
Asuka tersenyum, wajah Naruto yang sedang kesal terlihat manis di matanya. Walaupun jika orang lain yang melihatnya pasti bergidik ngeri karena Naruto seakan mengeluarkan aura hitam.
" Hei dobe, bagaimana caranya kita agar bisa jadian dengan orang yang kita sukai?" Tanya Asuka.
'Mana kutahu' pikir Naruto tapi dia hanya diam saja, masih sambil mengamati.
" Ada orang yang kau sukai, dobe?" Tanya Asuka Sambil ikut mengamati murid-murid yang lalu lalang.
"Tidak" jawab Naruto singkat.
"Misalkan kamu harus menikah dengan orang yang tidak kau cintai, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Asuka sambil menatap Naruto.
"Mana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak kucintai" jawab Naruto sewot.
"Benarkan!" kata Asuka sambil tersenyum lagi. Dia menatap Naruto lalu menyentuh rambut Naruto yang di kucir kuda, dan mengambil jepitnya sehingga rambut Naruto terurai sekarang.
"Hei…apa yang kau …"kata Naruto.
" Kau lebih cantik saat rambutmu terurai" potong Asuka sambil tersenyum, lalu berjalan masuk. Kontan saja muka Naruto langsung memerah, tak ada yang pernah mengatakan dia cantik. Naruto masih terdiam di tempatnya.
"Kau akan terlambat kalau tak segera masuk, dobe." Asuka berhanti berjalan dan menoleh kea rah Naruto. Benar saja, pintu gerbang sudah sepi. Naruto sama sekali tak menyadarinya.
"Dasar Teme sialan, kembalikan jepitku." Teriak Naruto sambil berlari ke arah Asuka.
Di koridor menuju kelas, mereka berdua masih saja terus bertengkar. Saat berjalan melewati siswa yang akan membolos, tanpa sengaja Asuka menubruk salah satu dari mereka. Dilihat dari tampang mereka, bisa di tebak mereka adalah berandal sekolah ini.
Asuka segara meminta maaf, tapi pemuda berambut jabrik dan mempunyai tato segitiga terbalik di pipinya itu hanya terdiam dan menatap tajam Asuka.
"Berani sekali kau menubrukku." Kata cowok yang dikenali Naruto bernama Kiba. Dia punya riwayat buruk di arsip. Dia itu anak mafia dan berandal sejati. Sedang dua temannya , Chouji dan Akamaru, bisa dibilang mereka itu pengawalnya Kiba.
"Maaf, aku tak sengaja." Kata Asuka
"Takkan selesai hanya dengan minta maaf, bodoh!" kata Kiba sambil mengarahkan tinjunya pada Asuka.
Naruto menangkap tangan Kiba sebelum mengenai Asuka.
"Dia sudah minta maaf kan?" kata Naruto
"Heh…wanita jangan ikut campur." Kata Kiba.
Langsung saja Naruto meninju muka Kiba. Naruto sangat sensitive dengan perbedaan gender. Dia sangat benci lelaki yang meremehkannya hanya karena dia wanita. Tidak di neraka tidak di dunia manusia sama saja.
"Memangnya kenapa?" tantang Naruto.
"Beraninya kau." Kata Kiba sambil memegangi hidungnya.
Chouji, Akamaru, beri cewek ini pelajaran" kata Kiba.
Buk…bak…bak…
5 menit kemudian.
Plak…plak…plak…, Naruto membersihkan tangannya yang tak berdebu.
"Ayo, Teme." Ajak Naruto membiarkan 3 orang itu terkapar babak belur.
"Ah..OK!" Jawab Asuka masih sambil terpana.
' Wah si Dobe ini ternyata lumayan juga.' Pikir Asuka
# # #
Srek…srek…srek…
Naruto menyapu daun-daun kering itu dengan kesal. Gara-gara terlambat tadi pagi, mereka berdua dihukum membersihkan halaman setelah pulang sekolah.
'Bukan salahku kan kalau ada berandalan yang mencegat kami' gerutu Naruto dalam hati.
"Hei dobe.. kau sudah selesai belum?" teriak Asuka sambil berjalan ke arah Naruto. Sepertinya dia sudah selesai menyapu bagiannya.
Sambil cemberut Naruto mendatangi Asuka dan menyerahkan sapunya pada Asuka. Lalu dia pergi duduk.
"Hei… inikan bagianmu Dobe" kata Asuka.
"Kau pikir tadi aku terlambat gara-gara siapa?" jawab Naruto masih sambil cemberut. Asuka diam sejenak.
"Baiklah… aku sapukan untukmu." Kata Asuka sambil tersenyum. 'Dia manis sekali kalau sedang cemberut.' Pikir Asuka dalam hati
Naruto memandang Asuka yang sedang menyapu bagiannya sambil tersenyum. 'Dia itu bodoh ya,senyum-senyum seperti itu' pikir Naruto. Namun Naruto tak bisa melepas pandangannya dari Asuka. 'Walaupun dia menyebalkan tapi entah mengapa aku senang melihat senyumnya' pikir Naruto sambil ikut tersenyum.
"Di situ rupanya kau, cewek brengsek" sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Naruto menoleh ke arah suara itu. Disana berdiri Kiba dengan muka penuh perban. 'Apa aku tadi memukulnya terlalu keras?' pikir Naruto.
"Mau apa kau?" Tanya Naruto.
"Aku akan membalas perlakuanmu tadi berlipat lipat" kata Kiba sambil menjentikkan jarinya. Tiba-tiba saja mereka sudah dikelilingi oleh orang-orang berbaju hitam. Jumlahnya lebih dari 20 orang.
"Huh… mau main keroyok ya?" kata Naruto tenang.
"Hajar dia" teriak Kiba.
"Minggir, Teme" kata Naruto pada Asuka.
" hah..? tapi…" asuka protes.
"Menyingkirlah" teriak Naruto.
Orang-orang berbaju hitam itu mulai menyerang Naruto. Namun dengan mudah Naruto menangkis pukulan mereka dan balas memukul.
Satu…dua…tiga…
Sudah lebih dari sepuluh orang ambruk di tanah. Naruto masih terus menghajar mereka. Tanpa disadarinya, seseorang mengendap-endap di belakang Naruto. Dan memukul kepala Naruto keras-keras dengan tongkat.
Duak…
Naruto tersungkur di tanah. Darah mulai menetes di wajah Naruto. Membuat matanya perih karena terkena darah. 'Ukh…sial' maki Naruto dalam hati.
Pandangan Naruto mulai kabur karena darah mengucur deras dari luka di kepalanya. Naruto berusaha berdiri namun sambil terhuyung-huyung. Orang-orang berbaju hitam itu mulai menyerangnya lagi.
'sial..sial…sial… aku lengah' maki Naruto lagi.
'aku tak boleh marah, aku tak boleh marah, bisa gawat kalau aku benar-benar marah. Mereka semua akan mati, dan penyamaranku akan terbongkar' pikir naruto dalam hati.
Walau berfikir begitu, tubuh Naruto mulai bergetar, dia sudah tak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Tiba-tiba seseorang melompat di depannya.
"Hentikan!" teriak Asuka sementara Naruto hanya bisa memandangi punggung itu.
'sial… aku tak bisa melawan mereka semua dengan tubuh ini' batin Asuka.
'Tapi aku harus melindunginya" batin Asuka sambil menoleh ke arah Naruto yang masih terhuyung dan menatapnya tak percaya.
'ya… aku hanya bisa melakukan ini' batin Asuka sambil berbalik memeluk Naruto dan menindihnya di tanah. Orang-orang berbaju hitam itu mulai memukul dan menendangi mereka berdua. Asuka semakin mempererat pelukannya pada Naruto, sehingga pukulan mereka sama sekali tak mengenai Naruto.
"A…Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto setengah berbisik.
Namun Asuka hanya diam saja, dia bahkan sama sekali tidak mengaduh. Sambil menerima pukulan dia menatap mata biru Naruto dalam-dalam. 'Aku Harus Bertahan' batin Asuka.
Naruto tak bisa berkata apapun. Amarahnya sudah lenyap tak berbekas digantikan rasa terkejut. Dia menatap balik mata onyx Asuka. Beberapa saat kemudian pukulan-pukulan itu berhenti. Orang-orang berbaju hitam itu sudah pergi. Namun Asuka sama sekali tak mengendurkan pelukannya.
"Kau tak apa-apa, dobe?" Tanya Asuka.
" Kau sendiri…" Naruto bertanya dengan suara bergetar.
"Kau tak apa apa?"Tanya Asuka lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Naruto.
" aku….tidak apa apa." Jawab Naruto.
"Syukurlah…" jawab Asuka sambil tersenyum. Lalu dia ambruk di pelukan Naruto. Untuk beberapa saat Naruto Terdiam tak tahu apa yang harus dilakukan.
Saat tersadar, dia segera bangun dan berusaha menggendong Asuka. Sambil tertatih-tatih dia menuju UKS, berharap bu Haruno belum pulang atau ada seseorang yang akan menolongnya. Rasa perih di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dia sudah hampir ambruk . untung saja dia berpapasan dengan bu Haruno yang baru saja keluar dari UKS. Bu Haruno terkejut bukan main melihat keadaan mereka berdua.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bu Haruno sambil membantu Naruto memapah Asuka dan membaringkannya di ranjang. Naruto langsung terduduk di lantai bersandarkan dinding. Sementara Bu Haruno memeriksa Asuka.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya Naruto
"Dia tidak apa-apa" kata Bu Haruno sambil berbalik menatap Naruto, lalu bu Haruno menunduk memeriksa luka Naruto.
"Lukamu lebih parah, ini harus di jahit." Kata Bu Haruno.
"Aku taka pa-apa, rawat saja dia" kata Naruto berusaha bangkit dan berjalan pergi.
Di luar matahari sudah mulai tenggelam, semburat jingga menghiasi langit sebelum gelap tiba. Naruto berjalan tersaruk-saruk meninggalkan sekolah. Tubuhnya bergetar. Dia benar-benar sangat marah.
Dalam sekejap Naruto sudah melesat pergi. Dia berhenti di depan sebuah rumah dengan gerbang yang sangat besar dangan tulisan 'INUZUKA'. Naruto langsung menendang pintu itu hingga hancur berantakan. Beberapa orang berbaju hitam di dalam rumah tampak terkejut.
"Apa-apaan ini?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Siapa kau?" Tanya yang lain.
Tanpa berkata apapun Naruto langsung melesat menghajar mereka semua. Sebuah senyuman tersungging di bibir Naruto. Orang-orang berbaju hitam itu datang berduyun-duyun, namun Naruto menghajar mereka semua hingga tak ada satupun yang sanggup berdiri. Semua orang dari dalam rumah itu keluar karena mendengar keributan dan terkejut melihat semua pengawal mereka tergeletak di tanah.
Diantara kerumunan itu Naruto menemukan orang yangdi carinya. Kiba. Mukanya pucat pasi melihat Naruto. . Naruto langsung melesat ke arah Kiba. Mencekiknya dan membantingnya di tanah. Lalu mencengkeram kerah Kiba dan mengangkatnya ke udara.
"Kalau sampai aku melihat mukamu lagi, Aku pasti akan membunuhmu" ucap Naruto.
Naruto menatap tajam Kiba yang kini sedang kesakitan dan tak bisa bernafas, sementara keluarga Inuzuka sama sekali tak bergerak. Naruto melepaskan tangannya hingga Kiba jatuh tergeletak di tanah. Naruto berbalik dan dengan tenang berjalan pergi meninggalkan rumah itu. Darah di wajah Naruto sudah mengering, matanya yang yang berubah warna menjadi jingga menatap tajam kedepan dengan pupil mengecil seperti kucing. Rambutnya yang terurai bergerak saat angin meniupnya. Di belakangnya tampak bulan yang sedang purnama.
To be continue….
# # #
terima kasih telah mereview cerita saya
Iza-twinsdevil : Maaf saya anak baru, jadi gak tahu typo itu apa, maaf….
Chikara Kyoshiro: saya kalau lihat Sasuke imagenya pasti pangeran gak bisa bayangin dia kalau jadi putrid he…he..he..
Aurorafy : wah…malunya….ketahuan….., maaf, saya emang hobi otak atik kayak gitu
Akane Kanagaki : maaf… di chapter ini sudah saya usahakan panjang.
Uzumaki Winda : iya… Sasuke lagi nyamar ni..
Kawashima Miharu : he…he..he… maaf, saya emang sengaja bikin kayak gitu, abis kalau pake nama Sasuke ketahuan banget kan.
Qieya : terima kasih, saya usahakan update cepat.
Terima kasih semuanya, berkat semua review kalian saya jadi semngat nulis ni.
Tolong review lagi ya….
Please…
