Maaf jika cerita saya gak jelas, OOC, OOT dan membingungkan, maklum saya baru di sini. Jadi saya mohon kritik dan sarannya.
Selamat Hari raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin ya…
Disclaimer : Naruto itu milik Masashi Kishimoto sensei…. Gak bakalan jadi punya saya….
Chapter 5 : Penangkapan
Naruto POV
Aku menatap berbagai bahan makanan di depanku. Benda-benda bernama tepung, telur, dan bahan-bahan lain yang aku tak tahu namanya. Aku menatap sekeliling. Kulihat anak-anak yang lain sudah mulai sibuk mencampurkan bahan-bahan tersebut.
Huff….. Aku menghembuskan nafas panjang.
Aku lupa kalau hari ini adalah hari bebas ekstra. Aku memang tak pernah memperhatikan pelajaran dan pengumuman. Hari bebas ekstra adalah hari dimana siswa boleh memilih pelajaran apa yang akan di lakukan. Anak-anak cewek memilih pelajaran memasak, sedangkan anak cowok memilih pelajaran olang raga.
Aku tak bisa memasak, sama sekali tak bisa memasak. Paling-paling aku hanya bisa membuat ramen instant. Tapi Kurenai sensei sudah memelototiku dari tadi karena hanya berdiam diri menatap bahan-bahan. Bukannya aku takut padanya, hanya saja aku malas mencari masalah dengan guru. Jadi aku campurkan saja semua bahan-bahan itu ke dalam baki. Lalu mengaduknya hingga tercampur. kulihat teman-teman yang lain menuangnya ke dalam loyang dan memasukkannya ke dalam oven. sepertinya mereka semua sedang membuat kue. Aku hanya mengikuti apa yang di kerjakan anak-anak yang lain. Setelah memasukkannya ke dalam oven, anak-anak yang lain mulai mencampurkan telur dengan gula lalu mengaduknya. Setelah itu mereka duduk dan mengobrol sambil menunggu kue dalam oven matang.
Aku memandang keluar jendela. Melihat anak-anak cowok yang sedang asyik bermain bola. Di dunia manusia in pun aku tak mempunyai teman. Kecuali Asuka, aku tak tahu dia menganggapku teman atau tidak, tapi dia kan memang aneh. Kupandangi Asuka yang sedang membawa bola, ia lumayan gesit mengoper bola dan memasukkannya ke gawang. Dia tersenyum senang saat bisa memasukkan gol. 'anak itu benar-benar berbadan lemah tidak sih' tanyaku dalam hati. Tanpa sadar akupun tersenyum.
Anak-anak cowok sudah selesai bermain bola, mereka mulai berdatangan melihat anak-anak cewek. Meminta kuenya sebenarnya. Beberapa anak cewek sudah mengeluarkan kuenya dari oven. Kuintip kueku, begini sudah matang belum ya?
Tiba-tiba Asuka sudah duduk di atas mejaku. Kenapa dia harus ke mejaku sih? Bukannya teman ceweknya juga banyak?
"Dobe, kuemu sudah matang belum?" tanya Asuka.
"Belum, minta cewek lain saja sana" kataku dingin.
"Tapi aku ingin makan kuemu" jawab Asuka.
Aku berbalik menuju oven untuk menyembunyikan senyumku.
Ku buka pintu ovennya pelan-pelan. Namun tiba-tiba dari dalam oven keluar asap hitam. Uhuk…uhuk… aku terbatuk-batuk saat berusaha mengeluarkan kuenya. Asapnya banyak sekali. Setelah susah payanh akhirnya kue itu berhasil kukeluarkan. Kutaruh kueku di atas meja.
Aku dan Asuka tertegun memandang kue itu.
Kueku masih mengeluarkan asap, warnanya hitam legam dan bentuknya tak beraturan. Aku masih memandangi kue itu.
"Ini benar-benar kue?" tanya Asuka sambil menatapku. Aku hanya diam saja.
Ha…ha…ha… mukamu hitam dobe" kata Asuka sambil tertawa.
Kutatap wajahku lewat pantulan kaca. Benar saja, mukaku belepotan kue hitam tadi, tanganku juga hitam.
"Sini, kalau tak mau kuenya ya sudah" kataku sambil membawa kuenya pergi.
"Iya, iya mau" kata Asuka sambil mencegahku membawa kuenya pergi.
Kuletakkan kueku di atas meja. Lalu mencoba mengirisnya dengan pisau. Tapi kuenya keras sekali, aku sampai berkeringat.
"Um… Dobe, biasanya kue itu di olesi krim dulu" kata Asuka
Mana aku tahu. Di akademi neraka tak ada pelajaran seperti ini tahu omelku dalam hati. Tapi aku akhirnya mengolesi kue itu dengan campuran telur dan gula tadi. Tetap saja hasilnya kueku berantakan, tapi setidaknya warnanya tak lagi hitam legam. Kusodorkan sepotong pada Asuka. Dia menggigitnya tapi tentu saja tidak mudah, seperti aku waktu memotongnya tadi.
"Bagaimana rasanya?" tanyaku pada Asuka yang masih mengunyah.
"Em… rumit" jawab Asuka pendek.
Aku pun mencoba seputong. Ugh… keras sekali pikirku sambil mengunyah. Rasanya tidak enak, aku berusaha menelannya.
"Tidak enak, sudah jangan dimakan lagi." Kataku sambil mengambil rotinya.
"Dobe, bibirmu penuh krim" kata Asuka sambil mengusap bibirku. Wajahku mulai panas, tiba-tiba Asuka melemparkan sesendok krim ke mukaku.
"Apa yang kau lakukan, teme?" tanyaku
Tapi asuka hanya tertawa. Akhirnya aku melemparkan semangkuk krim padanya. Dengan gesit Asuka menghindar. Lemparanku mengenai Taka, teman sekelasku. Dia langsung menoleh ke arahku yang belepotan krim. Aku menunjuk Asuka yang masih tertawa melihatku.
Taka dengan geram mengambil semangkuk krim.
"Asuka!" panggil Taka.
Asuka menoleh dan semangkuk krim mendarat tepat di mukanya. Sekarang wajah Asuka penuh krim. Giliranku yang tertawa melihatnya.
"Awas kau ya" teriak Asuka sambil melempar Taka dengan kueku. Dan entah bagaimana, sekarang terjadi perang lempar kue. Aku tertawa memandang mereka semua. Tinggal satu bulan lagi. Sepertinya aku akan merindukan saat-saat seperti ini nanti
# # #
Normal POV
"Aku punya ide" kata Naruto pada Gaara dan Shikamaru saat berkumpul di atap seperti biasanya.
"Bagaimana?" tanya Gaara serius.
"Aku bisa sedikit sihir, dengan sedikit persiapan aku akan mengubah ramuan itu menjadi kabut asap. Dan akan kupastikan seluruh sekolah menghirupnya. Yang penting ramuan itu masuk ke dalam tubuh kan?" tanya Naruto.
"Ya… ide bagus" kata Shikamaru.
"Tapi aku harus memasang kekai agar kabut asap itu terfokus pada area sekolah. Jadi aku tak bisa bergerak pergi" kata Naruto menjelaskan.
"Tak apa, serahkan saja pengakapan pangeran pada kami, kau beritahukan saja posisi pangeran." Kata Shikamaru.
Naruto mengangguk.
"Berapa lama persiapannya?" tanya Gaara.
"Dua hari" jawab Naruto.
# # #
Esoknya Naruto berangkat sekolah sambil membaca buku sihir. Dia berusaha menghafal mantra sihir dan ritualnya sekali lagi. Dia tak ingin membuat kesalahan. Kesalahan sedikit saja dalam ritual sihir bisa menyebabkan hal yang mengerikan.
Karena terlalu seriua membaca, Naruto tak memperhatikan jalan. Hingga ia menubruk sesuatu di depannya.
Aw… Naruto segara mendongak sambil memegangi hidungnya. Di hadapannya kini Asuka sedang berdiri dengan senyum mengejek.
"Hei Dobe, kalau jalan lihat ke depan." Ejek Asuka.
"hei… kau itu yang berdiri di tengah jalan, Teme." Balas Naruto.
"Kalau tadi ada tiang, hidungmu pasti sudah rata" kata Asuka sambil tersenyum.
"Aku takkan menabrak tiang" kata naruto tak mau kalah.
"Benarkah?" tanya Asuka sambil melangkah pergi.
Sekarang Naruto bengong, di depan Naruto berdiri tiang listrik dengan gagahnya. Rupanya Asuka tadi berdiri di sana supaya Naruto tak menabrak tiang. Seketika itu wajah Naruto langsung merona merah karena malu. 'ukh.. sial' pikir Naruto.
"Ayo dobe, kau mau terlambat?" tanya Asuka sambil berhenti berjalan dan menoleh ke arah Naruto.
"Iya iya" jawab Naruto sambil berjalan di samping Asuka.
"Kau sedang baca buku apa?" tanya Asuka
"Oh ini…. Bukan apa apa" jawab Naruto sambil memasukkan buku sihir itu ke dalam tas.
Sekilas Asuka melirik buku itu, sepertinya ia pernah melihat buku itu, tapi dimana ya…
Mereka berdua berjalan dalam diam, tiba-tiba Naruto tersadar, kalau rencananya menangkap Pangeran berhasil, berarti dia hanya mempunyai satu hari ini di dunia manusia. Dari satu bulan kini dia hanya punya satu hari?. Naruto menoleh dan menatap wajah Asuka. Jika dia kembali kedunia neraka, dia takkan pernah bisa bertemu dengan Asuka lagi. Tiba-tiba mata Naruto terasa panas. Dan setetes cairan bening menetes menuruni pipinya. 'Apa ini?' pikir Naruto sambil mengusap matanya. 'Air mata? Kenapa aku menangis?' tanya Naruto dalam hati.
"Ada apa, dobe?" tanya Asuka saat melihat Naruto berhenti melangkah.
Naruto mendongak dan menatap Asuka. Asuka terkejut melihat mata biru itu menatapnya dengan penuh kesedihan. Tanpa sadar Asuka melangkah menghampiri Naruto dan memeluknya dengan lembut.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Asuka sambil memeluk Naruto.
Naruto yang semula terkejut dengan tindakan Asuka hanya terdiam. Dia merasakan perlahan tubuhnya menghangat. Detak jantungnya mulai tak beraturan dan wajahnya terasa panas. Dia membalas pelukan Asuka, merasakan kehangatannya. Tapi Naruto hanya terdiam.
"Hei…. Pagi-pagi jangan bermesraan di tengah jalan" tegur seseorang pada mereka berdua.
1 detik….
2 detik…
3 detik….
Doeng…. Secepat kilat Naruto dan Asuka melepaskan pelukannya. Baru sadar kalau mereka ada di tengah jalan.
"Um… sebaiknya kita segera berangkat." Kata Naruto canggung.
" Iya" jawab Asuka tak kalah canggungnya.
Mereka berdua berjalan dengan wajah merah padam tanpa memandang satu sama lain.
# # #
Seharian itu sebisa mungkin Naruto habiskan bersama dengan Asuka. Sepanjang waktu dia memandangi wajah Asuka, mencoba mematrinya dalam ingatan. Asuka yang melihat ada sesuatu yang aneh pada Naruto berkali kali menanyakan keadaannya. Khawatir Naruto sakit Atau ada sesuatu yang terjadi. Namun Naruto hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa ia baik baik saja.
Saat bel pulang berbunyi, dengan enggan Naruto beranjak dari kursinya. 'Apakah sudah berakhir?' tanya Naruto dalam hati.
"Oi dobe, kau mau langsung pulang?" tanya Asuka.
Naruto hanya mengangguk dan melangkah keluar. Dia masih harus mempersiapkan segala sesuatu untuk penangkapan besok. Asuka hanya memandangi Naruto 'Hari ini dia aneh sekali, sama sekali tak bersemangat.' Batin Asuka dalam hati.
Mereka berdua berjalan dalam diam. Langkah mereka terhenti saat sampai di pintu keluar lantai satu yang menghadap taman. Diluar turun hujan yang sangat deras. Bahkan taman sekolah seakan diselimuti kabut putih saking derasnya hujan. Naruto memandang sekeliling. Anak-anak yang lain pulang sambil berlari. Kebanyakan yang lain membawa payung. Naruto melirik Asuka. Dia terlihat kebingungan, sepertinya dia juga tidak membawa payung. Asuka tak mungkin berlari pulang. Bias-bisa nanti dia tak masuk sekolah selama seminggu.
"Hujan dobe, aku tidak membawa payung" kata Asuka sambil memandangi langit.
"Aku juga tidak membawa payung, kita tunggu sampai reda saja" kata Naruto sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
Mereka berdua memandang taman yang hampir tak terlihat dalam diam.
Tiba-tiba Naruto melangkah maju dan menengadahkan tangannya pada tetesan hujan. Rasanya dingin menyejukkan. Naruto tersenyum sambil memandangi langit. Bahkan hujan pun lebih indah di dunia manusia. Rasanya sungguh tidak adil.
"Kau suka hujan dobe?" tanya Asuka memecah lamunan Naruto.
"Iya, aku suka sekali memandangi langit saat hujan. Memandangi air yang jatuh dari langit. Saat sedih sku sering sekali pergi ke tempat yang tinggi untuk memandangi hujan. Seakan-akan semua kesedihan dan kegelisahan jadi ikut tersapu air yang mengalir." Kata Naruto sambil tersenyum.
Asuka terdiam. Itu ucapan terpanjang yang pernah di dengar Asuka dari mulut Naruto. Tangan Naruto masih bermain tetesan air. 'Sepertinya ia benar benar menyukai hujan' pikir Asuka. Tiba-tiba ia mendapat ide.
"Kalau begitu kita ke tempat itu saja." Kata Asuka sambil menarik tangan Naruto. Dia menggenggam tangan Naruto sambil setengah berlari. Membuat Semburat merah muncul di wajah Naruto.
Mereka berjalan menaiki tangga dan menuju lantai atas. Asuka membuka pintu dan sampailah mereka di atap. Naruto tertegun memandang sekeliling. Hujan yang deras membuat sekeliling mereka seperti kabut. Naruto mendongak melihat langit yang terlihat sangat dekat. Ia bisa melihat tetesan air hujan yang jatuh dari langit. Indah sekali, walaupun langitnya gelap pekat. Entah mengapa Naruto menyukainya. Rasanya ringan… dan damai.
Naruto tersenyum lagi. Rasanya hari ini dia terlalu banyak tersenyum.
Asuka terpana memandang Naruto. Wajah Naruto terlihat berkilau dengan percikan air hujan. Matanya yang secerah langit biru dan rambutnya yang seterang sinar matahari terlihat bersinar, Sangat kontras dengan langit gelap di atasnya. Rambutnya melambai lembut terkena angin hujan dan senyum lembut yang menghiasi bibirnya membuatnya terlihat sangat cantik. Wajah paling cantik yang pernah dilihat Asuka. Padahal, sebagai pangeran neraka dia sudah sering di kelilingi wanita cantik. Namun semua yang mendekatinya hanya memasang wajah palsu. Hanya mengejar kedudukan dan kekayaannya sebagai pangeran neraka. Semua itu membuatnya muak. Dan ia tak ingin berteman dengan mereka semua.
Kini, akhirnya dia menemukan seseorang yang mau tersenyum tulus padanya. Yang ,mau melihat dia apa adanya. Bukan sebagai pangeran tapi sebagai menusia biasa. Tanpa melihat pangkat dan kedudukannya.
Naruto menoleh pada Asuka.
"Indah ya" kata Naruto sambil terus tersenyum.
"Ya.. indah sekali" jawab Asuka smbil terus memandangi Naruto.
Selama beberapa saat mereka terdiam, larut dalam fikiran mereka masing masing. Kemudian hujan pun berhenti. Hanya menyisakan rintik-rintik kecil. Naruto melangkah maju, mencoba menggapai tetsan yang tersisa. Asuka mengikutinya. Mereka baru sadar bahwa tangan mereka masih berpegangan dari tadi. Naruto menatap Asuka yang juga sedang menatapnya. Lalu mereka berdua tersenyum.
Matahari mulai bersinar dari sela-sela awan yang mulai menipis. Dan sekumpulan warna-warna indah mulai terbentuk di langit. Melengkung sempurna membentuk setengah lingkaran.
"Lihat dobe, ada pelangi!" kata Asuka sambil menunjuk kumpulan warna itu.
Pelangi? Baru kali ini Naruto melihat pelangi. Indah sekali. Di dunia neraka tak pernah ada pelangi. Naruto menunduk dan tersenyum.
"Hei… Asuka" panggil Naruto.
" Apa? Eh.. kau memanggilku apa tadi?" tanya Asuka. Ini pertama kalinya Naruto memanggil namanya. Itu membuatnya terkejut… dan gembira.
"Terima kasih" kata Naruto.
"Untuk apa?" tanya Asuka tak mengerti.
'dan selamat tinggal' batin Naruto sambil menarik lengan Asuka.
" Lebih baik kita segera pulang. Ini sudah hampir malam. " ajak Naruto. Asuka hanya mengikuti Naruto. Mereka berdua pulang sambil bergandengan tangan.
# # #
Esok paginya….
Naruto berdiri di atap sekolah sambil memandangi murid-murid yang mulai berdatangan. Dilihatnya juga Asuka mulai memasuki gerbang. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. 'mungkinkah dia sedang mencariku?' tanya naruto dalam hati.
Teng…teng…teng…
Bel masuk sudah berbunyi. Gaara dan Shikamaru sudah datang dan berdiri di samping Naruto.
"Kau sudah siap Naruto?" tanya Gaara.
Naruto mengangguk. Dalam sekejab mereka berubah dalam wujud asli mereka. Wujud prajurit neraka lengkap dengan seragam abu-abu mereka.
"Kita mulai sekarang" perintah Gaara.
Naruto segera maju dua langkah, dengan gerak cepat dia membentuk beberapa segel dengan tangannya. Lalu Naruto menggambar bintang segi tujuh dalam lingkaran sambil mengucapkan mantra.
"Star seven heaven fall, open!" teriak Naruto. Dan segel bintang segi tujuh itu membesar dan bersinar di lantai bawah naruto. Ia kemudian mengayunkan tangannya kedepan sambil berteriak " Open!"
Sebuah sinar kecil muncul di depan Naruto, saat sinar itu meredup terlihatlah sebuah batu kristal melayang di depan Naruto.
"Gaara, berikan ramuan itu" pinta Naruto.
Gaara melemparkan ramuan itu pada Naruto. Dengan sebelah tangan Naruto menangkap ramuan itu dan meneteskan tiga tetes ramuan di atas batu kristal.
"Brek the seal, Open!" teriak Naruto lagi.
Bum….
Sebuah ledakan kecil terdengar, dan di sekeliling mereka sudah di kelilingi kabut berwarna putih. ' Berhasil' pikir Naruto.
Naruto mulai membentuk kekai di sekeliling sekolah.
"Delapan mata bintang turuti perintahku! Close" teriak Naruto.
Langit di atas Naruto mulai muncul segel berbentuk bintang segi tujuh. Lalu di sekelilingnya muncul rantai yang mulai mengelilingi segel. Sebuah lapisan transparan muncul mengelilingi sekolah berbentuk setengah lingkaran. Hanya Naruto yang bisa melihatnya. Kekai itu membuat kabut asap semakin pekat dan berpusar mengelilingi sekolah. Kekai itu juga mencegah siapapun keluar dari area sekolah.
"Bersiaplah!" kata Naruto
# # #
Asuka memasuki kelas dan duduk di kursinya. Dia memandang bangku Naruto yang kosong. ' dimana dia?' tanya Asuka dalam hati.
Tiba-tiba Asuka merasakan sesuatu yang aneh, kabut mulai menyelimuti sekelilingnya. 'kabut apa ini?' tanya Asuka sambil melihat sekaliling. Satu per satu teman-temannya mulai ambruk. Hingga hanya Asuka saja yang masih tersisa. Dia mulai merasa dadanya sesak.
Asuka segera berlari keluar kelas menuju koridor. Dilihatnya semua orang tergeletak tak sadarkan diri. 'sial, apa apaan ini' batin Asuka.
Dia mulai berlari lagi.
Deg….
Tubuh Asuka tiba-tiba terasa lemas. Jantungnya berdetak cepat. Dan keringat dingin mulai menetes di dahinya. Asuka jatuh terduduk di lantai koridor dengan tangan yang memegang dadanya yang terasa sesak.
Ukh… Asuka mulai tak bias bernafas, rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya.
"Uwa…" teriak Asuka sambil memejamkan mata. Dan
Srak…..
Sebuah sayap berwarna hitam terbentang lebar.
Asuka membuka matanya dan melihat pantulan tubuhnya di kaca jendela. Matanya kini berwarna merah. Tubuhnya juga lebih tinggi dan berisi. Dan yang lebih mengagetkan, sepasang sayap hitam terbentang lebar di pun ggungnya. Dia telah kembali ke wujud aslinya. Pangeran Sasuke.
Sasuke menatap bayangan wajahnya di jendela.
# # #
Naruto menatap tajam seluruh sekolah. Dilihatnya satu per satu manusia yang menghirup kabut itu tergeletak pingsan. Efek asap itu untuk manusia biasa hanya membuat mereka tertidur.
Lalu Naruto mencium bau pangeran . dia ada di lantai dua.
" Pangeran ada di lantai dua" teriak Naruto pada Gaara dan Shikamaru.
Gaara dan Shikamaru segera melesat pergi, dari lantai tiga mereka berlari menuju koridor lantai dua. Dilihatnya pangeran Sasuke sedang berdiri menatap jendela. Mereka segera berlari dan mulai menyerang.
Sasuke yang melihat dua prajurit neraka berlari menuju ke arahnya segera melompati jendela.
Prang…..
Naruto sedang mengawasi sekeliling saat didengarnya suara kaca pecah. Dan dilihatnya pangeran Sasuke sedang melompat lewat jendela lantai dua menuju taman. Sasuke berlari memunggungi Naruto. Ia mengenakan seragam murid yang sudah compang camping. Sayap hitam terbentang lebar di punggungnya. Dan di sela-sela bajunya yang tertiup angin, Naruto bias melihat sebuah lambang besar di punggungnya. Lambang kerajaan.
Sasuke segera berbalik saat Gaara dan Shikamaru mengejarnya. Mereka berhenti, dan sekarang mereka bertiga sudah berdiri berhadap-hadapan.
"Pangeran Sasuke, harap anda ikut bersama kami kembali ke dunia neraka" kata Gaara sopan.
Sasuke hanya diam, namun dia memasang posisi siap bertahan.
"Sayang sekali sepertinya kita harus menggunakan kekerasan" kata Shikamaru sambil menautkan kedua tangannya.
Tiba-tiba bayangan Shikamaru memanjang menuju Sasuke. Sasuke yang melihat itu segera melompat menghindar. Sementara Gaara hanya bersedekap namun kemudian pasir-pasir bermunculan dan mulai ikut menyerang sasuke.
Sasuke segera membentuk beberapa segel dengan tangannya dan menyemburkan api yang sangat besar ke arah Gaara dan Shikamaru. Mereka segera menghindar dan balik menyerang. Terjadi pertarungan yang sengit di antara mereka. Walaupun Sasuke sendirian di bisa bertarung seimbang dengan Gaara dan Shikamaru.
Naruto ingin sekali membantu mereka namun dia harus menjaga segel sihir dan kekai. Ia kesal setengah mati karena hanya bisa membantu dengan berdiam diri menonton dari kejauhan.
Sasuke masih berusaha mnghindari serangan meraka berdua. Saat sasuke melompat, pasir Gaara berhasil menanggkap salah satu kakinya dan melemparkannya ke tanah hingga terdengar suara berdebum yang keras. Segera saja pasir gaara menyelubungi tubuh Sasuke. Bersamaan dengan itu bayangan Shikamaru berhasil mengikat sasuke.
Sasuke sekarang sudah terperangkap. Sekujur tubuhnya hingga leher diselimuti pasir dan bayangan shikamaru.
"Tertangkap" kata Shikamaru sambil tersnyum.
Sasuke hanya menatap dingin mereka berdua.
Cip…cip…cip…cip….Duar…..!
Ikatan pasir dan bayangan itu terlepas membuat Gaara dan Shikamaru terlempar membentur tembok. Mereka segera berdiri dan siap menyerang lagi.
Mereka tertegun memandang Sasuke yang sekujur tubuhnya di selimuti petir hingga jarak beberapa meter. Membuat pelindung seakan-akan ada sebuah planet petir di depan mereka dengan Sasuke sebagai pusatnya. Petir itu mengeluarkan bunyi yang berisik.
Cip…cip…cip…cip…
Sasuke segera membentuk segel di tangannya. Petir-petir di depan sasuke segera berkumpul membuat sebuah bola petir kecil. Lalu sasuke segera membentuk segel bintang dengan tangannya.
Naruto mengenali tanda itu. 'sial' umpat Naruto. Dia lupa kalau pangeran juga bisa menggunakan sihir.
"Gaara, Shikamaru, awas! Pangeran akan menggunakan sihir!" teriak Naruto lewat earphone di telinganya.
"Apa?" teriak Gaara dan Shikamaru bersamaan.
Namun terlambat, Sasuke sudah melemparkan bola petir itu kea rah mereka berdua. Mereka berusaha menghindar.
Duar…..
Terjadi ledakan besar. Gaara dan Shikamaru terlempar dan membentur dinding. Kaca-kaca jendela jatuh pecah berantakan. Naruto melihat itu sambil ternganga, itu sihir level atas.
Melihat kesempatan itu sasuke segera berbalik pergi. Dia berlari menuju pintu gerbang. Sasuke melesat pergi sebelum kemudian dia menabrak dinding kekai dan terlempar beberapa meter.
"Sial" umpat Sasuke.
Dia baru menyadari adanya kekai. Dia mendongak dan dilihatnya segel bintang di langit. Dia menatap sekeliling sebelum kemudian berhenti dan memandang atap sekolah. Dilihatnya seseorang tengah berdiri disana.
'Sial, mereka bertiga rupanya' batin sasuke.
Sasuke segera berdiri walupun terhuyung. Dan membuat segel yang sama seperti sebellumnya.
"Sial" kini giliran Naruto yang mengumpat saat melihat Sasuke ingin menghancurkan kekainya. Naruto segera memperkuat segelnya.
"Golden star Emerald Eyes. Close" teriak Naruto.
Sasuke segera melempar bola petir itu.
"Chidori" teriak Sasuke.
Duar…..
Terjadi ledakan yang lebih besar daripada sebelumnya. Kekai Naruto retak dan pecah berantakan. Naruto terlempar dan membentur dinding dengan sangat keras hingga dinding di belakangnya hancur berantakan.
"Uhuk uhuk" naruto terbatuk dan muntah darah. Dilihatnya pangeran Sasuke berlari keluar sekolah lalu menghilang.
"Ukh…. Sial, ia lari" umpat Naruto.
Naruto terduduk masih sambil terbatuk dan muntah darah. Dia merasakan dadanya sesak dan sakit sekali.
Gaara dan Shikamaru melompat ke atap beberapa saat kemudian. Mereka berdua babak belur dan penuh luka gores. Mereka terkejut mendapati Naruto tergeletak di antara reruntuhan dinding. Gaara segera berlari ke arah Naruto.
"Naruto, kau tak apa?" tanya Gaara sambil membantu Naruto duduk.
"Aku tak apa" jawab Naruto. Namun berlawanan dengan jawabannya, naruto terbatuk dan muntah darah lagi.
"Sial, pangeran itu ternyata lumayan juga" umpat Shikamaru.
"Kita harus segera membawa Naruto pergi sebelum semua manusia bangun" kata Gaara.
Shikamaru mengangguk. Gaara segera menggendong Naruto ala bridal style dan berlari pergi. Kabut ramuan itu sudah mulai menghilang. Satu-per-satu penghuni sekolah mulai bangun.
Gaara segera melompati atap dan berlari menuju rumah. Sementara Shikamaru mengikuti di belakangnya. Naruto mulai tak sadarkan diri. Kepalanya terasa pusing dan dadanya terasa sakit sekali.
Tak lama kemudian Naruto merasa tubuhnya di baringkan. Mereka sudah sampai di rumah. Sepertinya Gaara sudah berlari kencang hingga mereka bisa sampai di rumah secepat ini.
"Minumlah" kata Gaara sambil meminumkan sesuatu ke mulut Naruto.
"Lebih baik kau istirahat. Lukamu parah sekali" kata Shikamaru.
Naruto mengengguk dan memjamkan matanya yang terasa berat.
To be continue…..
Hwa… akhirnya selesai juga…..
Saya memang gak bisa buat adegan romance dan pertempuran. Menurut kalian alurnya terlalu cepat atau justru terlalu lambat?
Terima kasih atas semua reviewnya….
*SeiichiroRaikaSiiStoicAlone : makasih mau selalu review cerita saya yang gak jelas. Saya sudah mulai terbiasa kok nulis nama kamu hi..hi..hi… sebenarnya saya mau buat banyak romancenya, tapi sepertinya saya ememang tidak berbakat T_T
*Kafuyamei Vanessa-hime : semangat max! hehehe tetp review ya…
*Lavender hime-chan : maunya juga kilat. Tapi otak saya gak bisa di ajak kompromi. Lagi bebal ni makanya agak lama. Maaf…
*Chikara Kyoshiro. : he..he..he… rahasia… lihat saja nanti..
*Uzumaki Winda : he…he..he… kalau Naru tahu nanti reaksinya gimana ya…*senyun iblis*
*Ismail uzumaki : makasih…! *bungkuk-bungkuk* saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi hasilnya Cuma kayak gini, maaf…..
*Kaze or Wind : wah.. makasih dah mau fav cerita saya yang gaje. Tenang, bibit cinta sudah mulai saya sebar. Sebenarnya sasuke tu murah senyum, sayangnya waktu jadi pangeran dia gak suka banyak orang yang mendekatinya Cuma gara-gara pangkat dia. Jadinya dia kayak gitu deh…
*Hamaki sana : Hya… mau review saja saya sudah sangat senang. Sebenarnya saya mau buat sedikit NaruGaa, tapi saya koq gak bisa-bisa*nangis-nangis* lagipula menurut saya, di manga aslinya pun Gaara perhatian banget ma Naru loh. Iya, saya punya komiknya, waktu baca summarynya saya langsung suka, tapi ternyata genrenya humor, hamper gak ada romancenya. Jadi saya bayangin kalau ada romancenya mungkin seperti ini ya….
Terima kasih! Saya menunggu semua review….!
