Maaf….. saya baru bisa update setelah sekian lama. Liburan saya sudah berakhir jadi saya tidak punya banyak waktu luang lagi. Tapi saya usahakan chapter selanjutnya akan segera saya tulis.

I Don't own Naruto.

Saya Cuma minjem karakternya yang amat sangat keren-keren dari Masashi Kishimoto sensei

Chapter 6 : Kegagalan

Sasuke berlari keluar dari area sekolah sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. 'Itachi sialan itu ternyata mengirim prajurit neraka untuk menengkapku, aku harus lebih hati-hati mulai dari sekarang' batin Sasuke sambil terus berlari sejauh mungkin, tak ingin para prajurit neraka itu berhasil mengejarnya. Namun baru saja sampai di jalan belakang sekolah, Sasuke sudah terduduk lemas. Tenaganya banyak terkuras gara-gara menggunakan chidori dua kali tadi.

Tiba-tiba sasuke merasakan seseorang telah berhasil mengejarnya. Sasuke segara berbalik dan bersiap menyerang, namun diasegera menghentikan serangannya saat mengetahui siapa yang mengejarnya. Seorang gadis berambut pink dan menegenakan jas putih panjang tengah berdiri dengan mata terbelalak. Ujung serangan sasuke hanya berjarak sejengkal dari matanya.

"Sakura, kau mengagetkanku" ucap Sasuke sambil menghela nafas lega. Dia segera menurunkan tangannya lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding pagar sekolah di samngnya.

"Kau tak apa Sasuke?" Tanya Sakura khawatir. Dia segera memeriksa Sasuke.

"Ugh… aku taka apa." jawab Sasuke sambil mengernyit menahan sakit di sekujur tubuhnya.

"Aliran cakramu kacau" kata Sakura sambil membantu Sasuke berjalan. Sakura membuka pintu gerbang belakang sekolah dan menuntun sasuke masuk.

"Kenapa kita kembali ke sekolah?" Tanya Sasuke

"tenanglah, mereka semua sudah pergi, lebih aman disini dari pada kau berkeliaran di luar sana" kata sakura.

Sasuke diam saja saat Sakura menuntunnya menuju UKS. Beberapa manusia sudah mulai bangun, namun mereka menutupi tubuh mereka dengan sihir sehingga tak ada yang bisa melihat mereka berdua. Sasuke sudah tak mempedulikan keadaan sekitar, dia mempercayai Sakura. Lagi pula rasa sakit di sekujur tubuhnya mulai menjadi-jadi.

Deg…..

Jantung Sasuke seakan berhenti berdetak saat merasakan rasa sakit yang amat sangat di jantungnya. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya bergetar hebat. Sasuke mencengkeram dadanya yang terasa amat sakit.

"Sial" maki sasuke sebelum pandangannya berubah gelap.

# # #

Naruto terbangun di tengah malam. Ia merasa haus sekali. Dilihatnya gelas di saming tempat tidurnya telah habis. Perlahan Naruto bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju dapur. Dadanya masih terasa sesak. Bertarung dengan sihir memang lebih besar resikonya bila dibandingkan bertarung secara fisik. Tapi belum pernah Naruto kalah telak seperti ini. Dia mengepalkan tangannya dengan kesal.

Naruto mengambil sebotol air dari kulkas dan meneguknya banyak-banyak. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya.

" Kau sudah baikan, Naruto?" Tanya Gaara mengagetkan Naruto.

Naruto segera berbalik dan dilihatnya Gaara tengah menatapnya sambil bersandar di dinding.

" yah… sudah lumayan" jawab Naruto sambil duduk di salah satu kursi di meja makan.

Gaara melangkah maju dan mengambil sebotol air dari kulkas dan menuangnya ke dalam gelas.

"Rencana kita gagal total ya?" ucap Naruto sambil memandangi botol di tangannya.

"Kita kurang persiapan dan strategi" ucap Gaara sambil meneguk air dari gelas yang di bawanya.

"Aku tak pernah menyangka pangeran sekuat itu' ucap Naruto jengkel.

"Paling tidak kita tahu pangeran menyamar sebagai murid, kita bias mempersingkat pencarian" ucap Gaara menenangkan.

"Kita masih punya beberapa minggu lagi. Lagipula ramuannya juga masih tersisa" kata naruto sambil meneguk air yang di pegangnya. Namun dia mulai batuk-batuk lagi.

"Sebelumnya kau harus memulihkan lukamu dulu" kata Gaara sambil memandang Naruto khawatir.

"Ya, lebih baik aku segera kembali ke kamar" kata Naruto sambil berdiri dari kursinya.

"Selamat malam" ucap Gaara.

"Selamat malam" ucap Naruto sambil berjalan pergi.

# # #

pagi itu Naruto sudah bersiap pergi ke sekolah. Ia tengah mengikat tali sepatunya ketika bertemu Gaara dan Shikamaru.

"kau sudah sembuh Naruto?" Tanya Shikamaru.

"sudah lebih baik" jawab Naruto sambil mendongak menatap mereka berdua.

"bukankah lebih baik kau tidak usah masuk sekolah dulu, Naruto" kata Gaara.

"Tidak, aku harus menyusuri sisa jejak pangeran kemarin, lagipula aakn terlihat mencurigakan kalau aku tidak masuk, setelah peristiwa kemarin, pangeran pasti lebih berhati-hati" kata Naruto sambil berdiri.

"Aku berangkat" kata Naruto sambil membuka pintu.

"ya.. hati-hati" ucap gaara sambil memandang kepergian Naruto.

Naruto berjalan pelan menuju sekolah. Dadanya masih terasa sesak dan sakit. Untung saja jarak sekolah lumayan dekat. Walaupun begitu, Naruto merasa jaraknya jauh sekali. Udara terasa dingin menusuk tulang. Naruto segera mempererat jakat dan syal merah yang dikenakannya. Namun ia masih saja merasa kedinginan. Naruto merasa kepalanya bertambah pusing dan matanya mulai berkunang-kunang. Ia berhenti berjalan dan menyandarkan tubuhnya dip agar dinding di pinggir jalan. Naruto kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh.

Bruk….

Seseorang menangkap pinggang Naruto sebelum ambruk di tanah. Naruto membuka mata dan dilihatnya sepasang mata onyx manatapnya khawatir.

"Kau taka pa, Naruto?" Tanya Asuka sambil membantu Naruto berdiri.

Naruto mengngangguk dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih terhuyung. Asuka menyentuh dahi Naruto dengan lembut.

"Kau sedang demam" kata Asuka sambil memandang wajah Naruto yang pucat.

"Aku tak apa" jawab Naruto sambil berjalan pergi.

Asuka memandang Naruto khawatir. Ia menangkap tangan Naruto. Lalu dalam sekejap menggendong Naruto di punggungnya.

"A..apa yang kau lakukan?" protes Naruto.

Asuka tak menghiraukan protes gadis yang tengah di gendongannya. Dia mulai berjalan.

"Kamarin kau tak masuk ya? Aku mencari-carimu" Tanya Asuka.

Naruto hanya diam sambil menunduk. Mukanya merah padam dan jantungnya berdetak cepat.

"kalau masih sakit kenapa masuk sekolah?" Tanya Asuka lagi.

"Hari ini ada ujian biologi" bohong naruto.

"hah, benarkah? Gawat! Aku benar-benar lupa" keluh Asuka.

Naruto tersenyum, dia menaruh wajahnya di bahu asuka. Mencium harumnya bau asuka. Membuatnya nyaman dan hangat.

"Mukamu kenapa?" Tanya Naruto saat melihat wajah Asuka yang penuh luka gores.

" oh.. ini.. kemarin ada gempa saat aku tidur di uks, aku jatuh terguling-guling dari ranjang, yah jadinya seperti ini" jawab Asuka sambil tersenyum.

Mereka berdua berjalan dalam diam. Tak memperhatikan orang-orang tengah memperhatikan mereka dengan muka yang merona. 'mereka berdua mesra sekali' piker orang-orang di sekelilingnya. Tentu saja yang bersangkutan tak menyadarinya.

Saat sampai di depan gerbang sekolah, Naruto meminta Asuka menurunkannya. Dan meyakinkan Asuka bahwa ia baik-baik saja. Naruto terkejut saat mulai memasuki halaman sekolah. Memang seperti habis terkena gempa. Banyak kaca jendela yang pecah, dinding yang retak dan pohon-pohon tumbang. Lebih mirip terkena tsunami dari pada gempa sebenarnya. Sepertinya pertarungan dengan pangeran kemarin hamper menghancurkan sekolah. Untung saja tidak ada yang sadar.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju kelas. Saat sampai di koridor lantai 2 tak jauh dari kelas mereka, Naruto mencium sisa jejak pangeran. 'Pangeran pasti mulai berubah di sini' batin Naruto.

"Asuka, kau ke kelas duluan saja" kata Naruto sambil berbalik pergi.

"Ada apa?" tanya Asuka.

"Ada barangku yang jatuh" teriak Naruto yang sudah berlari pergi.

Naruto menyusuri koridor dan berhenti di depan jendela yang kacanya pecah. 'Pangeran pasti melompat dari sini' piker Naruto. Ia segara turun menuju taman tempat Gaara dan Shikamaru bertarung dengan Pangeran kemarin. Naruto mengikuti jejak pangeran hingga keluar sekolah. Jejak itu memutar menuju belakang sekolah dan berhenti tepat di gerbang belakang sekolah. Biasanya pintu itu tak pernah dipakai dan dikunci. Namun Naruto mendapati pintu gerbang itu terbuka. Naruto masuk dan sampailah mereka di belakang gedung sekolah. Tempat itu penuh semak dan tak terawat. Jejak pangeran menghilang di sana.

'Aneh! Kenapa Pangeran kembali ke sekolah?' Tanya Naruto dalam hati.

Kemudian Naruto mencium jejak lain. Namun ia tak bias memastikan jajek apa itu karena tercampur bau manusia. Lalu sebuah pemahaman menyadarkan Naruto bahwa Pangeran tidak sendirian. "Sial" maki Naruto

Naruto kembali kesekolah setelah yakin tak ada yang bias dijadikan petunjuk. Dia bergegas lari saat di dengarnya bel masuk telah berbunyi. Baru saja sampai di taman sekolah, Naruto merasakan dadanya terasa sesak dan sakit lagi. Naruto berhenti berlari dan berpegangan pada salah satu pohon yang ada di sana. Ia mulai terengah-engah. "ukh… sial" maki Naruto.

Naruto terduduk sambil memegangi dadanya. Matanya mulai berkunangkunang. Lalu pandangannya menjadi gelap.

Saat Naruto membuka mata, ia mengerjap silau. Lalu hal yang di lihatnya adalah wajah Asuka. Naruto memicingkan matanya, berusaha melihat lebih jelas.

"Kau sudah sadar, Naruto?" Tanya Asuka. Sepasang mata onyx itu menatap Naruto penuh khawatir.

Narutomencoba bangun. Ia tadi tidur di pangkuan Asuka. Di dahinya ada sapu tangan yang basah.

"Lebih baik kau jangan bangun dulu" kata Asuka sambil mencegah naruto bangun.

"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Naruto sambil tetap berbaring.

"Aku khawatir karena kau tak segera kembali, jadi aku menyusulmu. Lalu aku menemukanmu pingsan di sini" jawab Asuka sambil tersenyum.

"Berapa lama aku pingsan?" Tanya Naruto.

" tak lama kok, tapi kita sudah ketinggalan pelajaran, ssepertinya nanti kita akan kena hukuman lagi" jawab Asuka.

Naruto diam, ia memandangi wajah Asuka yang terlihat bersinar saat terkena sinar matahari. Di atasnya terlihat langit biru yang cerah. Angina yang bertiup membuat rambut Asuka bergoyang pelan. Naruto terus memandanginya, ' andai selamanya aku bias seperti ini' batin Naruto.

# # #

Naruto dan Asuka kembali kekealas tak lama kemudian. Mereka beruntung karena Asuma sensei tidak hadir. Jadi mereka lolos dari hukuman.

"Kita beruntung" kata Asuka sambil duduk di kursinya.

Naruto mengangguk.

Grek….

Pintu kelas di buka olah seorang pria. Rambutnya berwarna hitam panjang. Matanya berwarna emas yang tajam seperti ular.

"Selamat pagi, perkanalkan nama saya Orochimaru, saya akan menggantikan Asuma sensei selama beliau cuti" kata pria itu.

"Baiklah, buka buku biologi kalian dan kerjakan soal halaman 13 sampai halaman 15" kata pria itu disambut helaan dari seluruh murid.

# # #

Saat istirahat, Asuka memaksa Naruto untuk pergi ke UKS, tak menghiraukan perkataan Naruto bahwa ia baik-baik saja. Asuka meminta Bu Haruno untuk mengawasi Naruto jangan sampai dia pergi keluar. Naruto hanya menghela nafas dan tidur seharian di UKS.

Saat bel pulang berbunyi, Asuka dating sambil membawakan tas Naruto. Ia mendapati Naruto masih tertidur lelap. Asuka memandangi wajah naruto. 'Ia benar-benar terlihat manis dan polos saat tertidur' batin Asuka sambil tersenyum.

"Asuka?" panggil bu Haruno.

"Iya" jawab Asuka sambil berjalan kea rah bu haruno.

"Mana Naruto?" Tanya bu haruno.

"Dia masih tidur, anda tak keberatan kan kalau aku menunggunya sampai ia terbangun?" Tanya Asuka.

"Bagaimana keadaanmu?" bu haruno balik bertanya.

"Ku baik-baik saja" jawab Asuka sambil menoleh kea rah Naruto.

Bu Haruno berjalan mendekat

"bagaimana lukamu kemarin? Apa hari ini ada yang mencurigakan?" bisik bu Haruno

"tidak ada, para prajurit neraka itu untuk sementara pasti tak akan muncul" bisik Asuka balik.

"kau harus lebih berhati-hati" bisik Bu Haruno lagi

"tenang saja sakura, semua akan baik-baik saja" bisik Asuka menenangkan 'kucing' peliharaannya.

Asuka menoleh ke arah ranjang Naruto. Sakura mengikuti arah pandang Asuka.

"Kau menyukai anak itu ya?" Tanya sakura to the point.

"hah?" Asuka langsung berpaling menatap sakura dengan wajah bersemu merah. 'Apa sebegitu jelas terlihat' Tanya Asuka dalam hati.

Sakura hanya tersenyum melihat 'majikannya' seperti itu. 'dia ini benar-benar mudah di tebah.' Batin sakura.

"iya..iya.. aku tahu, tapi kau harus lebih berhati hati' kata sakura.

Saat itu Naruto bangun dan menyadari sekelilingnya sudah sepi. Dia bangkit dan berjalan keluar. Dilihatnya Asuka dan Bu Haruno sedang berbisik-bisik. Muka Asuka merah padam. 'Ada apa dengan Asuka dan Bu Haruno? Apa-apaan mukanya itu' batin Naruto kesal.

Dengan enggan Naruto keluar. Dengan segera Asuka menoleh kea rah Naruto.

"Kau sudah bangun, Naruto?" Tanya Asuka agak gugup sambil berjalan mundur menjauhi sakura.

Melihat itu Naruto jadi tambah kesal. 'Apa yang dilakukannya dengan bu Haruno? Apa apaan wajah tersipunya itu' batin Naruto dalam hati. Dengan kesal Naruto langsung berjalan keluar tanpa menjawab pertanyaan Asuka.

"Hei… Naruto!" panggil Asuka

"Bu Haruno, kami pulang dulu, terima kasih" kata Asuka sambil berlari mengejar Naruto.

"Hei… dobe…!" teriak Asuka sambil menangkap tangan Naruto.

"Kenapa tak kau lanjutkan saja pembicaraanmu dengan bu Haruno?" kata Narutyo kesal.

Deg…. Jantung Asuka berdetak cepat.

"Kau…. Mendengar pembicaraan kami?" Tanya Asuka ragu.

"Mana mungkin aku bias mendengar kalian kalau kalian berbisik mesra seperti itu?" ucap Naruto ketus.

'Syukurlah' batin Asuka lega.

Eh…. Berbisik mesra?

"Siapa yang berbisik mesra?" Tanya Asuka kaget.

"Tentu saja kau dan bu Haruno" jawab Naruto kesal.

Eh…..

# # #

Sepanjang perjalanan pulang Naruto tak mengatakan sepatah kata pun. Sementara Asuka masih sibuk dengan pikirannya sendiri.. ia memikirkan perkataan Naruto tadi. 'Ia dan sakura terlihat mesra?'tanya Asuka dalam hati. Lalu memanang wajah Naruto yang terus saja cemberut sedari tadi. Sejujurnya itu membuat Naruto terlihat imut. Asuka tersenyum 'mungkinkah Naruto sedang cemburu?' Tanya Asuka dalam hati.

"Hei…Naruto" panggil Asuka. Orang yang di panggil hanya diam saja.

"oi…dobe..!" panggil asuka sambil meraih tangan Naruto. Memaksanya berhenti berjalan.

"Apa?" jawab Naruto ketus. Asuka hanya tersenyum.

"Ikut aku ke suatu tempat" ajak Asuka sambil menggandengnya pergi.

" eh.. tapi.. tunggu… teme…!" teriak Naruto saat Asuka menyeretnya sambil berlari.

Mereka berdua menyusuri jalan yang sepia lalu berbelok di jalan setapak sambil tetap bergandengan tangan. Untuk beberapa saat, mereka hanya dikelilingi semak dan belukar. Sebelum kemudian mereka tiba di sebuah tanah lapang kecil yang penuh bunga-bunga liar. Di depannya , sebuah danau berwarna hijau terbentang di tengah rimbunnya pepohonan. Mereka berdua berhenti.

"Aku menemukan tempat ini beberapa waktu yang lalu" kata Asuka sambil melirik Naruto yang masih terpukau.

"Hanya kau yang ku beritahu, jadi ini rahasia kita berdua" kata Asuka lagi.

"Indah" hanya kata itu yang sanggup di ucapkan olah Naruto. Dia memandang sekeliling. Tampat itu banyak ditumbuhi bunga-bunga yang indah. Asuka memetik sekuntum mawar berwarna merah dan memberikannya pada Naruto.

"Untukmu" kata Asuka Sambil tersenyum.

"Um… terima kasih" jawab Naruto sambil tersenyum juga. Wajahnya merona semerah kelopak mawar yang dipegangnya.

# # #

Naruto memandang setangkai mawar merah yang kiti bertengger manis di hadapannya dengan vas kristal panjang. Tanpa sadar Naruto tersenyum lagi. Hari ini Asuka memperlihatkan pemandangan paling indah yang pernah dilihatnya. Sepanjang sore itu mereka habiskan dengan duduk di pinggir danau dan menikmati pemandanan. Naruto tersenyum lagi mengingat ekspresi Asuka saat ia menyiramnya dengan air danau yang sejuk. Asuka membalasnya tentu saja, akhirnya mereka pulang dengan basah kuyup. Untung saja Asuka meminjamkan jaketnya sehingga Naruto tidak kedinginan. Naruto tersenyum lagi. Seakan akan senyum itu terpahat secara permanent di wajahnya.

Tok..tok..tok…

Ketukan di pintu kamarnya menyadarkan lamunan Naruto.

"Naruto? Kau masih di dalam?" Tanya Gaara dari balik pintu.

Naruto segera bangkit dan membuka pintu.

"ya.. gaara, ada apa?" Tanya Naruto.

"Shikamaru sudah menunggu di tempat biasa" kata gaara sambil mengamati wajah Naruto.

"eh…" jawab Naruto. Dia baru ingat kalau malam ini mereka janji bertemu di atap sekolah untuk membahas masalah pangeran. Naruto sama sekali lupa tentang itu.

"Kau tidak lupa kan?" Tanya Gaara. Tak biasanya Naruto melupakan misinya.

"Eh.. tentu saja tidak. Aku baru saja mau berangkat kok" jawab Naruto sambil mengambil jaketnya.

Gaara menaikkan sebalah alisnya dan memandang kamar Naruto. Sekuntum mawar bertengger di meja samping tempat tidur Naruto.

'Sejak kapan Naruto suka bunga?' Tanya Gaara dalam hati.

# # #

"Aku sudah menyusuri jejak pangeran" kata Naruto serius.

"Bagaimana?" Tanya Shikamaru.

"Aku bisa menyimpulkan bahwa pangeran tidak sendirian di sini" kata Naruto.

"Jadi dia masih punya kaki tangan?" Tanya Shikamaru tidak senang.

"iya, aku mencium jejak lain di tempat jejak pangeran menghilang. Tapi aku tak bias memastikan jejak apa itu karena bercampur dengan bau manusia" kata Naruto menjelaskan.

"Kita benar-benar harus lebih waspada" ucap Gaara.

Naruto dan Shikamaru mengangguk.

"Naruto, bagaimana lukamu?" Tanya Gaara.

"Sudah lebih baik, tapi untuk sementara aku tak bias menggunakan sihir." Kata Naruto.

"Kita tak bias menggunakan cara yang sama seperti kemarin." Kata Shikamaru sambil berfikir.

"ya.. kita harus memikirkan rencana baru" ucap Naruto.

Angina berhembus meniup pucuk-pucuk pepohonan. Naruto merasakan sekelilingnya sunyi senyap. Terlalu sunyi. 'Ada yang aneh' batin Naruto sambil memandang sekeliling.

"Ada apa Naruto?" Tanya gaara

"Tunggu sebentar" kata Naruto sambil melesat pergi.

Naruto mengelilingi sekolah. Memeriksa setiap sudut sekolah. Mencoba menemukan bau yang tak semestinya ada. Ia kembali kea tap beberapa saat kemudian.

"Ada apa?" Tanya Gaara lagi.

"Maaf, tidak ada apa-apa" kat Naruto.

'mungkin hanya perasaanku saja' batin Naruto.

# # #

Pagi ini cuaca mendung. Awan hitam terlihat bergulung-gulung. Namun hujan belum turun. Naruto berangkat sambil memasukkan paying ke dalam tasnya. Lalu berjalan dengan terburu-buru. Ingin segera sampai di tempat itu. Dari jauh dilihatnya sosok yang tengah bersandar di dinding tepi jalan. Naruto tersenyum dan buru-buru menghampirinya. Sosok itu tengah menunduk, memandangi genangan air di depannya, seperti sedang berfikir keras.

"Sudah menunggu lama, Asuka?" Tanya Naruto begitu tiba di hadapan pemuda itu.

Asuka mendongak dan tersenyum melihat Naruto.

"Baru saja kok" jawab Asuka

Mereka berdua berjalan bersama menuju sekolah.

"Bagaimana malammu?" Tanya Asuka.

"Aku tertidur lelap" bohong naruto. Tak mungkin kan dia mengatakan bahwa ia semalaman menyusun strategi penangkapan pangeran neraka. Asuka lalu bercerita tentang gema yang ia mainkan semalaman. Naruto memandang Asuka. Membayangkan apa yang akan terjadi bila Asuka tahu bahwa ia bukan manusia. Bukannya Naruto ingin memberi tahu. Itu tak mungkin. Ia hanya membayangkan. Masihkah Asuka mau menjadi temannya setelah tahu bahwa ia bukan manusia. Bahwa ia seorang iblis?. Naruto menggelengkan kepalanya. Tak ingin memikirkannya lagi. 'hanya beberapa minggu lagi' batin Naruto.

"Hei Naruto, kau mendengarkanku tidak sih?" Tanya Asuka memecah lamunan Naruto.

"Eh.. apa? Aku tak tahu apapun mengenai game" jawab Naruto.

"Begitu ya… kalau begitu lain kali kita main sama-sama" kata Asuka

"boleh?" Tanya Naruto.

"tentu saja" jawab Asuka sambil tersenyum.

Mereka berjalan melewati sekumpulan pedagang souvenir. Naruto melihat sepasang gantungan kristal berwarna biru dengan hiasan awan di dalamnya. Naruto berhenti dan memandang gantungan itu.

"Ada apa?" Tanya Asuka

Naruto mengambil gantungan itu dan menatapnya.

"Berapa pak?" Tanya Asuka. Lalu menyodorkan sejumlah uang pada pdagang itu.

"Eh" kata naruto.

"Ini untukmu" kata Asuka sambil menyerahkan gantungan yang agak kecil. Lalu ia mengambil yang agak besar."dan ini untukku" kata Asuka lagi

"ini..untukku?" Tanya Naruto

"iya" kata Asuka sambil tersenyum.

"terima kasih" kata Naruto sambil tersenyum. 'Akan kujaga baik-baik' batin Naruto.

"Ayo cepat, nanti kita terlambat" kata Asuka sambil menggandeng tangan Naruto dan mengajaknya pergi. Naruto tersenyum.

# # #

Asuka dan Naruto sampai di sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Untung juga hujan tidak turun meskipun mendung semakin bergulung-gulung.

"Naruto, aku keluar dulu menemui bu Haruno di uks" kata Asuka sambil beranjak pergi.

"Aku ikut" kata Naruto sambil bangkit dari kursinya.

"Tidak usah, aku Cuma sebentar kok" jawab Asuka sambil berjalan pergi.

Naruto kembali duduk di kursinya. Sambil mengeluarkan buku pelajaran. 'dasar asuka, kalau pak guru dating bagaimana?' batin Naruto.

Grek….

Orochimaru sensei membuka pintu dan dengan segera melangkah menuju tengah kelas.

"Selamat pagi anak-anak. Maaf, karena bapak ada urusan kalian boleh istirahat" kata Orochimaru sensei sambil tersenyum.

Naruto segera membereskan bukunya. Tersenyum senang mendengar berita itu. Tapi anehnya, biasanya anak-anak yang alin pasti sudah rebut dan berteriak kesenangan. Naruto mendengar orochimaru sensei berjalan mendekatinya.

"Naruto! Bapak boleh bertanya sesuatu?" Tanya Oarochimaru sensei.

"Apa sensei?" Tanya Naruto sambil mendongak. Baru kemudian Naruto memandang sekeliling. Anak-anak yang lain tergeletak tidur di bangku masing-masing. Naruto mendongak menatap senseinya.

"Dimana pangeran Sasuke berada?" Tanya Orochimaru sensei sambil tersenyum.

To be continue….

Mohon maaf sekali, saya tidak bias membalas reviewnya. Saya benar-benar minta maaf. Tapi saya sudah membaca semuanya. Terimakasih pada semua yang sudah mau review. Saya harap semuanya mau meriview chapter ini. Apakah alurnya terlalu cepat? Apa yang kurang dari tulisan saya?

Review anda adalah semangat saya…..

Review please…..