Hya…. Akhirnya sampai 50 review…. *dansa dansa*

Ehm ehm terima kasih atas semua yang mau repot repot mereview fic saya yang gaje ini.*bungkuk bungkuk*

Saya amat berterima kasih. Saking senangnya saya jadi semangat nulis dan segera update. Tapi tiba-tiba saja saya menemukan sebuah fic yang kereeeeeeeeeeeen sekali. Judulnya BLOOD SINGS by Fireun Feather. Keren banget pokoknya. Saya merekomendasikan fic ini untuk semua penggemar Naruto. Tapi paling tidak kalian harus baca sampai chap 5 baru bisa tahu kerennya gimana. Gara gara itu fic semua ide saya di fic ini langsung musnah. Hehe he jadi curhat.

Ok! Saya persembahkan chap ini

I Don't Own Naruto

Chapter 7 : Memories.

"Naruto ! bolehkah sensei bertanya sesuatu?" Tanya Orochimaru sensei.

"Ya, sensei ?" jawab Naruto sambil mendongak. Barulah kemudian Naruto memandang sekeliling. Anak-anak yang lain tergeletak tidur di bangkunya masing-masing. Naruto mendongak dan memandang Orochimaru sensei.

"Dimana pangeran Sasuke berada?" Tanya Orochimaru sensei sambil tersenyum.

Secara refleks Naruto melompat mundur hingga belakang kelas.

"Siapa kau?" Tanya Naruto tajam. Ia sama sekali tak mencium bau yang mencurigakan dari senseinya itu.

'Apa dia juga makhluk neraka?' Tanya Naruto dalam hati.

"Uzumaki Naruto, prajurit neraka terbaik yang dikirim untuk mencari pangeran, tak mungkin kau sama sekali tidak tahu ?" kata Orochimaru sambil tersenyum menyeramkan.

"Matipun takkan kuberi tahu" kata Naruto tajam sambil mengambil posisi siap bertahan.

"Khu…khu…khu… kau pikir kau bisa menyembunyikannya?" kata Orochimaru sambil berjalan maju.

"Sayang sekali, kalau begitu matilah!" kata Orochimaru sambil menyerang Naruto.

# # #

Asuka tengah duduk di ranjang UKS sambil menatap sepatunya dalam diam. Sakura duduk di kursinya seperti biasa sambil menulis beberapa laporan. Suasana terasa sunyi karena tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Asuka memilih untuk mengatakan apa yang telah menjadi pikirannya sedari tadi.

"Sudah kuputuskan, Sakura" kata Asuka pelan.

"Memutuskan apa?" Tanya Sakura tanpa mengalihkan pandangan dari laporan yang sedang di tulisnya.

"Aku akan mengatakan semuanya pada Naruto." Kata Asuka yakin.

Jari-jari Sakura berhenti menulis, ia segera menoleh memandang Asuka dengan wajah kaget.

"Apa kau sudah GILA?" Tanya Sakura menekankan kata-katanya.

"Hei, jangan seperti itu Sakura." Kata Asuka sambil merengut.

"Kau mau para prajurit neraka itu menangkapmu?" Tanya Sakura mendelik marah.

"Aku kan Cuma memberitahukannya pada Naruto" kata Asuka membela diri.

"Kau pikir apa yang akan di pikirkannya kalau tahu kau adalah pangeran neraka yang kabur, bahwa kau BUKAN MANUSIA?" Tanya Sakura.

"Dia pasti akan menjauhimu! Kau mau itu? Dan lagi bagaimana kalau dia memberitahukan pada semua orang?" omel Sakura panjang lebar.

"Naruto tidak seperti itu!" sangkal Asuka.

"Apa kau yakin?" Tanya Sakura dengan nada tajam menusuk.

"Itu….." kata Asuka sambil menunduk.

"Itu apa?" Tanya Sakura lagi.

"Itulah yang ingin kurundingkan denganmu." Kata Asuka sedih.

Sakura hanya terdiam melihat majikannya itu. Asuka terlihat tak berdaya, lemah, dan lembut. 'kemana perginya pangeran Sasuke yang cool dan angkuh itu?' Tanya Sakura dalam hati.

"Aku yakin dia tidak akan mengatakannya pada orang lain, tapi aku tak yakin dia masih mau bersamaku," kata Asuka sambil menunduk.

Sakura jadi iba melihatnya. Ia berfikir sejenak.

"Kau benar-benar mencintainya ya?" Tanya Sakura sambil menatap Asuka dalam-dalam.

Asuka tersentak lalu mendongak menatap lurus Sakura. Semburat merah menghiasi wajahnya. Walaupun tanpa kata-kata Sakura tahu apa jawabannya. 'dasar pangeran yang seenaknya' batin Sakura sambil menghela nafas panjang.

"Kau tahu kan kalau dia itu manusia?" Tanya Sakura lembut, tak ingin menekan majikannya lebih lanjut.

"Aku juga bisa jadi manusia" jawab Asuka membela diri.

"Tapi itu tak menutup kenyataan bahwa kau adalah pangeran neraka, dan prajurit neraka itu akan selalu memburumu" kata Sakura lembut.

"Aku akan mengalahkan mereka" kata Asuka tajam.

"Untuk saat ini kau bisa, bagaimana kalau mereka mengirim prajurit yang lebih kuat dan lebih pintar? kau bisa membuat Naruto terluka." Kata Sakura

Asuka tersentak, wajahnya memucat membayangkan sesuatu terjadi pada Naruto.

"Aku akan melindunginya" jawab Asuka tajam.

Sakura menatap mata Asuka yang penuh keyakinan. Sakura tak bisa mengatakan apapun lagi, tahu bahwa semua nasihatnya akan sia-sia.

Sakura menghela nafas panjang.

"Baiklah, terserah apa yang ingin kau lakukan. Yang penting aku sudah memperingatkanmu." Kata Sakura menyerah.

Asuka menatap Sakura sambil tersenyum.

"Terima kasih Sakura" kata Asuka

"Sebelumnya kita harus membereskan para prajurit neraka itu terlebih dahulu" kata Sakura sambil melanjutkan kegiatannya menulis laporan.

"Yah… aku yakin mereka tak akan pernah menyerah" kata Asuka sambil menghela nafas.

"Yang aku yakin, yang mulia Itachi takkan pernah menyerah untuk menikahkanmu, dia sudah susah payah memilihkan calon untukmu," kata Sakura sambil terkikik geli.

"Hah…. Dia memang menyebalkan" kata Asuka jengkel.

"Tapi dia sangat menyayangimu," kata Sakura lembut.

"Aku tahu," kata Asuka pelan.

Sebuah kenangan terbayang kembali di mata Asuka.

Flash Back.

Sasuke (7th) tengah bermain air di tepi pantai tak jauh dari vila peristirahatan kerajaan. Ia tengah mengejar ombak yang telah menghancurkan istana pasirnya. Ombak itu surut saat Sasuke mengejarnya.

"Sasuke, jangan bermain terlalu ke tengah, nanti kau terseret ombak" sebuah suara lembut memperingatkan Sasuke. Sasuke menoleh dan dilihatnya sang ibunda, Uchiha Mikoto tengah berjalan ke arahnya. Ia mengenakan dress putih selutut tanpa lengan. Di belakangnya sang ayahanda, Uchiha Fugaku juga tengah berjalan ke arahnya. Ia mengenakan baju putih simple dengan celana hitam.

"Dengarkan Ibundamu, Sasuke" kata sang ayahanda sambil duduk di pasir pantai di samping permaisurinya.

Hari ini mereka sekeluarga tengah berlibur di vila peristirahatan kerajaan tak jauh dari istana. Sang ayahanda yang menjabat sebagai raja neraka akhirnya bisa meluangkan waktu untuk berlibur bersama sesuai janjinya pada Sasuke.

Sasuke tersenyum lebar saat kedua orang tuanya mau menemaninya bermain. Ia segera berlari menuju kedua orang tuanya. Namun kaki Sasuke terpeleset dan membuatnya terjatuh. Saat itulah ombak menggulung Sasuke, menyeretnya ke tengah laut. Sasuke berusaha berenang ke permukaan namun tubuh kecilnya terombang ambing oleh arus ombak. Saat ia mulai kehabisan nafas seseorang menarik tangannya dan menyeretnya ke permukaan.

Saat Sasuke membuka mata, yang dilihatnya adalah sepasang mata berwarna merah seperti matanya, mata yang dimiliki keluarga kerajaan, tengah menatapnya khawatir. Sasuke sedang berbaring di tepi pantai, dilihatnya kedua orang tuanya berlari ke arahnya.

"Sudah kubilang untuk berhati-hati kan, Baka Otouto" kata lelaki berambut hitam yang menolong Sasuke sambil menjentikkan jari tengahnya ke dahi Sasuke.

"Aw…. Kakak! Kau datang? Bagaimana ujiannya?" Tanya Sasuke sambil memeluk kakaknya . sama sekali lupa bahwa ia baru saja tenggelam.

Uchiha Itachi (15) kini menatap adiknya dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Aku sudah menyelesaikannya, jadi kita bisa berlibur bersama" kata Itachi sambil mengacak acak rambut Sasuke yang basah. Saat itulah kedua orang tua Sasuke sampai.

"Sasuke, kau tak apa? uh… aku benar-benar khawatir, jangan mengulanginya lagi!" kata sang ibunda sambil memeluk Sasuke. Sasuke hanya mengangguk.

Sang ayahanda mengikuti di belakang, berjalan pelan setelah tahu Sasuke baik-baik saja. Ia menoleh ke arah Itachi.

"Bagaimana ujianmu Itachi?" Tanya Fugaku

"Semuanya lancar, Ayahanda" kata Itachi penuh hormat.

"Bagus, kau tak apa kan Sasuke?" Tanya Fugaku sambil menoleh ke arah Sasuke. Sasuke mengangguk lalu menoleh ke arah Itachi.

"Kak Itachi, buatkan aku istana pasir yang besar!" kata Sasuke sambil menarik tangan Itachi. Itachi hanya tersenyum sambil berjalan mengikuti sang adik.

Sasuke mulai membuat gundukan pasir yang besar dibantu Itachi sementara kedua orang tuanya pergi ke arah vila untuk beristirahat.

"Kakak!" panggil Sasuke.

"Hn?" jawab Itachi.

"Kemarin aku bertemu gadis yang maniiis sekali" kata Sasuke penuh semangat.

"Benarkah?" Tanya Itachi

"Iya… tapi entah mengapa banyak anak yang melemparinya dengan batu. Kasihan sekali jadi aku menolongnya" kata Sasuke.

"Melemparinya dengan batu? Kau tak apa kan?" Tanya Itachi sambil menatap Sasuke dalam dalam, kemudian dilihatnya bekas luka yang sudah kering di dahi Sasuke. Mata Itachi terbelalak.

"Mereka juga melemparimu?" Tanya Itachi dengan nada tinggi.

"Um… iya, salah satunya mengenai dahiku, untung saja Karin segera datang dan mengusir anak anak nakal itu" kata Sasuke sambil terus membentuk istana pasirnya.

"Hm… kau hebat Sasuke" kata Itachi sambil mengacak acak rambut adiknya.

"Tentu saja, aku kan seorang pangeran." Kata Sasuke bangga sambil tersenyum.

Mereka berdua membentuk istana pasir hingga hari menjelang sore.

Itachi mengajak Sasuke pulang karena ia harus mengerjakan sesuatu namun Sasuke menolak. Dia ingin menyelesaikan istana pasirnya yang hampir jadi, Sasuke menyuruh kakaknya pulang duluan. Itachi hanya tersenyum melihat adik kesayangannya.

"Hati-hati" kata Itachi sambil mengusap rambut sasuke.

"um… OK!" kata Sasuke sambil tersenyum lebar.

Sasuke menyelesaikan istana pasirnya saat matahari mulai tenggelam. Ia lalu memandang matahari terbenam sambil duduk di samping istana pasirnya. Tak berapa lama kemudian Sasuke berlari menuju vila, ingin menunjukkan istana pasirnya pada Itachi. Ia melewati jalan setapak lalu sampai di halaman vila, dia segera membuka pintu.

"Kakak" panggil Sasuke.

Namun aneh sekali, suasana terasa sangat sepi. Sasuke segera berlari menuju ruang tengah. Saat itulah ia melihat sesosok tubuh tengah terbaring di lantai.

"Karin" panggil Sasuke sambil berlari ke arah tubuh itu tergolek.

Sasuke tersentak mundur saat dilihatnya Karin sudah terbujur kaku dengan darah menggenangi seluruh wajahnya.

"Uwa…" teriak Sasuke sambil terjengkang di lantai lalu merangkak mundur. Namun alangkah terkejutnya Sasuke saat dmenemukan tubuh-tubuh lainnya bergelimpangan di lantai. Para pengawalnya tergeletak di seluruh ruangan, tak bernyawa. Sasuke berusaha berdiri walaupun kakinya bergetar hebat. Dipaksanya kaki kecil itu untuk berlari ke ujung ruangan, kamar kedua orang tuanya.

"Ayah…Ibu…" panggil Sasuke panik.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Namun ruangan itu kosong. Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sebelum berbalik pergi dan tubuhnya membentur sesuatu yang keras hingga ia jatuh terjengkang. Sasuke mendongak dan dilihatnya kedua oarng tuanya tengah berdiri di hadapannya.

"Ayahanda, Ibunda, apa yang terjadi? Karin… berdarah…" kata Sasuke sambil berdiri dan berjalan kea rah kedua orang tuanya.

Kemudian sesuatu yang dingin menggores pipinya. Sasuke berdiri kaku. Darah mulai keluar dari luka di pipinya. Dia menatap kedua oarng tuanya tak percaya. Ayahandanya tengah memegang sebuah pedang yang berlumuran darah, begitu juga dengan sang ibunda. Baju mereka berdua kotor bernoda darah, sebagian menciprat di wajah mereka.

"Ayahanda…Ibunda…" panggil Sasuke dengan suara bergetar. Ia melangkah mundur sedikit demi sedikit. Yang dipanggil hanya diam saja sambil berjalan maju menuju Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke sambil terus melangkah mundur sebelum kemudian terjatuh dan terduduk di lantai. Mereka berdua sudah berdiri di depan Sasuke.

"Ayahanda…Ibunda…"panggil Sasuke lagi. Kini air mata muali turun di sudut mata Sasuke. Kedua orangtuanya mengayunkan pedangnya ke arah Sasuke.

Mata Sasuke terbelalak ngeri.

Jleb…

Sesuatu yang berkilau menembus tubuh Ayahandanya saat pedangnya hanya berjarak satu senti dari wajah Sasuke.

Bruk….

Kedua orang tuanya ambruk di hadapan Sasuke. Darah menggenang di lantai bawah Sasuke. Sasuke mendongak dan dilihatnya sang kakak tengah memegang pedang sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang berdarah.

"Sasuke, kau baik-baik saja?" Tanya sang kakak sambil mengernyit.

Sasuke segera bangkit dan berlari ke arah sang kakak.

"Kakak… apa yang terjadi? Kau berdarah" kata Sasuke sambil memandang perut Itachi.

"Aku tak apa, ayo, kita pergi dari sini" kata Itachi sambil merangkul Sasuke.

"Tapi… ayah dan ibu?" kata Sasuke sambil menatap kedua orang tuanya yang tengah terbaring di lantai.

"Ayo pergi" lata Itachi sambil menarik Sasuke.

Mereka bergegas keluar dari vila itu, melewati mayat-mayat yang bergelimpangan.

End of Flashback

Asuka menunduk menatap lantai. Tak benar-benar melihatnya. Ia teringat kembali pada peristiwa itu. Peristiwa dimana ia kehilangan semuanya. Setelah peristiwa itu Sasuke dan Itachi kembali ke istana dengan susah payah. Seluruh istana gempar mendapati sang putra mahkota pulang dengan luka menganga di perutnya. Sementara Sasuke hanya bisa memandang sang kakak yang susah payah berusaha untuk bernafas. Mereka kembali ke istana dengan kereta. Dan selama perjalanan itu Itachi sama sekali tak melepaskan pelukannya dari sasuke. Sementara tangan kirinya memegang kekang kuda, dangan kanannya menggenggam erat pedang yang sejak tadi dipegangnya. Membuat seluruh pakaian Sasuke basah oleh darah yang mengucur deras dari luka di perut Itachi. Saat para tabib istana berusaha memapah Itachi menuju kamar pengobatan, Itachi mengelus rambut Sasuke.

"Semua akan baik baik saja, Sasuke" kata Itachi sambil tersenyum.

Sampai saat ini Sasuke tak tahu mengapa kedua orang tuanya berusaha membunuhnya dan kakaknya. Setelah peristiwa itu, Itachi naik tahta menggantikan Ayahandanya hingga sekarang.

"Ada apa, Asuka?" Tanya Sakura memecah lamunan Asuka

" huh… tak apa, hanya sedikit teringat sesuatu" kata Asuka pelan

Sakura menatap Asuka dalam-dalam, ia tahu Sasuke hanya bernada sesedih itu saat mengingat kedua orang tuanya.

"Kau pikir apa rencana yang mulia Itachi?" Tanya Sakura berusaha mengalihkan pikiran Asuka.

"Aku tak tahu apa yang di pikirkannya selain dengan semangatnya berusaha menikahkanku" kata Asuka jengkel.

"hi..hi..hi… sepertinya ia tak sabar ingin menimang keponakan" kata Sakura sambil terkikik geli.

"Memangnya dia kakek-kakek apa? Harusnya dia kan yang segera menikah dan memberikanku keponakan" kata Asuka semakin jengkel.

"Kurasa itu karena Neji tak bisa melahirkan anak," kata Sakura masih sambil terkikik

Mata Asuka terbelalak kaget.

" hah… Neji? Apa maksudmu Sakura?" Tanya Asuka kaget.

"Ups…. Aku seharusnya tak mengatakan itu." Kata Sakura sambil menutup mulutnya dengan tangan.

"Kau bilang kakak dan Neji…." Sasuke tak bias melanjutkan kata-katanya.

"hi…hi..hi aku sering memergoki mereka sedang berduaan di kamar. Aku dalam wujud kucing tentu saja" kata Sakura sambil tersenyum geli.

Asuka tak bisa berkata apa-apa lagi. Kakaknya dan Neji…. ? Asuka tak pernah memperhatikannya. Mereka berdua memang selalu bersama, tapi Asuka pikir itu karena Neji adalah asisten kakaknya. Pantas saja sampai sekarang Asuka tak pernah melihat kakaknya bersama dengan seorang wanita. Asuka menggeleng tak percaya. 'Ini tidak mungkin kan?' Tanya Asuka dalam hati.

Prang…..

Suara kaca yang pecah membuyarkan lamunan Asuka. Ia segera menoleh ke arah jendela dan matanya membulat ngeri.

# # #

"khu…khu..khu… kau pikir kau bisa menyembunyikannya? Sayang sekali, kalau begitu matilah!" kata Orochimaru sambil menyarangkan pukulannya ke wajah Naruto.

Dengan segera Naruto berubah ke wujud aslinya lengkap dengan seragam abuabunya. Ia menangkis pukulan orochimaru dengan kedua tangannya. Namun sebuah tendangan mengenai perutnya dengan telak, membuatnya memuntahkan sedikit darah. Lalu "Poff…" tubuh Naruto berubah jadi asap.

" huh… kagebunshin ya.." kata orochimaru sambil tersenyum

Naruto tengah berlari di koridor lantai tiga, berusaha mencari Gaara dan Shikamaru. Seluruh penghuni sekolah tengah tertidur sama seperti saat ia menggunakan kabut ramuan beberapa waktu yang lalu.

Ini aneh sekali, siapa dia? Dia benar benar berbau seperti manusia, tapi dilihat dari serangannya tadi jelas-jelas dia itu makhluk neraka. Ia jelas bukan utusan raja neraka. Untuk apa dia menyerangku? Ia juga mencari pangeran, untuk apa? Tanya Naruto dalam hati.

"Sial" maki Naruto saat sadar orang itu berniat membunuh pangeran.

Naruto membuka handphonenya, menekan sebaris nomor sambil terus berlari. Dan berharap Gaara segera mengangkat telponnya.

Sebuah benda berkilau belesat ke arahnya. Secara refleks ia melompat, beberapa helai ujung rambutnya terpotong. Ia juga merasakan perih di pipinya yang mulai mengeluarkan darah. Dilihatnya sebuah kunai kini menancap di tembok tempatnya berada sedetik yang lalu.

'sial, dia berhasil mengejarku' batin Naruto dalam hati.

"khu..khu..khu… kau memang hebat seperti yang di beritakan." Kata orochimaru dari belakang Naruto. Naruto sama sekali tak mencium jejaknya. Ia segera berbalik untuk menghindar namun sebuah tangan yang kekar mencekik lehernya dan melemparnya ke dinding dengan keras.

Duak….

Sebelum Naruto sempat bangun tangan itu mencengkeram lehernya lagi. Dan mengangkatnya ke udara.

"Kutanya sekali lagi, dimana pangeran?" Tanya Orochimaru tanpa tersenyum sambil mencekik leher Naruto.

Naruto mulai kehabisan nafas, ia mencengkeram tangan Orochimaru lalu mengayunkan kakinya. Dengan sangat keras di tendangnya kepala Orochimaru hingga terdengar suara patahan yang mengerikan.

Orochimaru melepaskan cengkeramannya hingga Naruto terjatuh di lantai. Dengan segera Naruto melompat mundur beberapa meter. Berusaha bernafas sambil memandang tajam Orochimaru.

Kepala Orochimaru kini terkulai ke samping dengan posisi yang ganjil. Ekspresi wajahnya kosong.

"khu..khu..khu… bocah yang menarik" kata orochimaru sambil tersenyum.

Naruto terbelalak ngeri. Ia yakin telah mematahkan leher Orochimaru. Tapi dia masih bisa tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya menarik. Naruto kini mengeluarkan kunai dari sakunya sambil tetap memandang Orochimaru.

Kepala Orochimaru yang terkulai bergerak sedikit. Lalu dari dalam mulutnya yang menyunggingkan senyuman muncul jari jari yang berusaha membuka mulutnya lebih lebar. Naruto terbelalak ngeri.

Dari mulut Orochimaru yang seolah-olah berubah elastis kini muncul sepasang lengan kemudian kepala hingga seluruh tubuhnya keluar dari mulut Orochimaru, menyisakan seonggok kulit, seakan akan dia baru saja berganti kulit. Naruto berusaha menahan dirinya untuk tidak muntah.

Laki-laki itu berdiri tegak di hadapan Naruto dengan wajah yang sama persis seperti Orochimaru sensei. Bau makhluk neraka yang pekat segera menyergap Naruto. 'bagaimana mungkin dia menyembunyikan jejak sepekat ini sebelumnya?' batin Naruto dalam hati.

Naruto segera menyilangkan jarinya dan membisikkan "kagebunshin no jutsu". 5 clone yang sama persis seperti naruto muncul dan dengan segera menyerang Orochimaru dari segala arah. Orochimaru dengan mudah menahan semua pukulan dan tendangan yang dilancarkan clone Naruto. Dalam sekejap saja semua clone Naruto menghilang diikuti suara 'poff'.

Naruto menatap tajam Orochimaru yang tengah tersenyum memandangnya.

Tubuh Naruto mulai bergetar, dengan segera amarah menjalari seluruh tubuhnya. Matanya yang sebelumnya berwarna biru cerah kini berubah menjadi jingga dengan pupil yang mengecil seperti binatang buas. Tiga garis tipis di masing-masing pipinya menebal dan kukunya memanjang. Naruto menatap dingin Orochimaru.

Orochimaru terdiam, ekspresi mukanya tak bisa di baca, sebelum kemudian ia tersenyum lagi.

"khu..khu..khu.. kukira semua keluarga namikaze sudah musnah, ternyata aku keliru." Kata Orochimaru.

Naruto tersentak mendengar ucapan Orochimaru, membuatnya semakin marah.

"Diam kau" kata Naruto sambil menyerang.

'bagaimana ia tahu' pikir Naruto dalam hati.

Naruto mengarahkan tangannya yang kini setajam pedang ke arah wajah Orochimaru. Orochimaru memalingkan wajahnya hingga serangan Naruto mengenai tembok di belakangnya hingga hancur berantakan. Beberapa helai rambut Orochimaru Ikut terpotong. Mata Orochimaru melirik Naruto. Mata jingganya menatap tajam Orochimaru penuh amarah. Bulu kuduk Orochimaru sempat meremang mendapati tatapan tajam itu.

Orochimaru tersenyum, selama beberapa saat mereka saling beradu tendangan dan pukulan. Naruto mulai mengeluarkan aura merah. Ia menyeringai menampakkan gigi taringnya yang sedikit lebih panjang dari ukuran normal. Naruto menerjang Orochimaru secara membabi buta. Salah satu seranggannya mengenai bahu Orochimaru menyebabkan Orochimaru terpental mundur hingga membentur tembok. Darah mulai menetes dari bahunya.

Orochimaru melompat mundur beberapa meter. Senyum semakin lebar tersungging di bibir Orochimaru.

"khu..khu..khu… bocah rubah yang menarik. Kau akan menjadi salah satu koleksi mainanku yang paling menarik" kata Orochimaru sambil membentuk beberapa segel di tangannya.

Naruto tengah berdiri dengan posisi bertahan. Tiba-tiba saja leher Orochimaru memanjang dan dalam sekejap kepalanyanya mencapai leher Naruto dan menggigitnya.

"Uwa…" teriak Naruto saat Orochimaru menggigitnya. Ia merasa seakan ada besi panas yang tengah di tempelkan di bahunya.

Orochimaru melepas gigitannya dan dengan segera lehernya memendek kembali ke ukuran semula. Beberapa tetes darah masih mengalir dari sudut bibir orochimaru.

"huh… aku sama sekali tak menyukai siluman rubah" kata Orochimaru sambil meludah.

Naruto terduduk di lantai sambil memegani bahunya yang seakan terbakar. Di tempat orochimaru menggigitnya kini berkilau merah sebelum kemudian berpusar dan membentuk tiga titik koma yang saling berputar berwarna hitam.

Aura merah yang semula menyelubungi Naruto kini menghilang seketika. Matanya yang jingga kini kembali berwarna biru cerah.

"uh…uh.." erang Naruto sambil memegangi bahunya. Rasa sakit yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya seakan dia terkana racun yang sangat berbisa.

Naruto kembali berubah menjadi manusia. Seragam abuabunya kini telah berganti dengan seragam sekolah yang sebelumnya ia pakai.

"ukh…uh.." erang Naruto lagi

Secara perlahan Orochimaru berjalan mendekati Naruto.

Naruto hanya bisa menatap tajam Orochimaru masih sambil memegangi bahunya. Ia sama sekali tak bias menggerakkan tubuhnya.

Orochimaru mencengkeram leher Naruto yang sudah tak berdaya.

"tapi sebelum menjadi mainanku, kau harus bisa bertahan hidup terlebih dahulu" kata Orochimaru sambil melempar Naruto ke arah jendela.

Prang…..

Terdengar suara kaca jendela yang pecah saat tubuh Naruto menabraknya.

Naruto hanya memendang Orochimaru di antara pecahan kaca yang jatuh bersama tubuhnya.

"Sampai jumpa, bocah rubah," kata Orochimaru sebelum menghilang dalam asap.

Waktu seakan terhenti saat Naruto merasakan tubuhnya terjatuh ke bawah. Ia memejamkan kedua matanya.

"Bruk…"

To be Continue…

Ok….. waktunya balas review…..

Itazurayuuki : wah… gomen…! Kemarin saya hanya punya waktu 3 jam untuk menulis chapter sebelumnya. Jadi saya tidak sempat mengecek kali ini saya usahakan tidak ada typo. Namun jika nanti masih ada. Mohon beri tahu saya ya… terima kasih atas semua nasihatnya. Mohon nasihatnya untuk chapter ini juga ya…..*peace*

Femnaru : hya…. Ini saya lanjutkan, semoga saja nggak mengecewakan.

Kafuyamei Vanessa Hime : kya… makasih. Gimana chapter ini? Seru gak? Maaf saya benar benar tidak bisa buat adegan pertempuran.

Kenshi Himura : yeah… hidup SasuFemNaru….ini saya usaha update cepat.

Uzumaki Winda. : he… lihat saja Orochimaru baik ato g?tapi saya gak pernah tuh liat orochimaru tobat jadi baik. Kecuali saya pernah baca dia jadi tukang sayur ha ha ha kocak abiz….

Sweets Strawberry : hai…. Salam kenal juga…

Uh… senangnya ada yang mau baca tulisan saya. jawaban pertanyaaanmu ada di chap ini. Terima kasih sudah menanyakannya hingga saya jadi punya ide untuk buat chapter ini. Kalau ada pertanyaan lain review ya. Siapa tahu saya dapet ide baru lagi he he he

Naru3 : uhya…. Saya juga benci banget sama si Bakoro tu. Gomen… chap ini moga gak ada yang salah ya..

Kaze Or Wind : nanti bakalan ketahuan siapa tu orochimaru and apa aja yang udah diperbuatnya…sabar….*senyum manis*

Kawashira Miharu : ok… silahkan dinikmati chapter ini… Sasuke berubah gara-gara peristiwa di chap ini.

Uchiha Tu Keren : hwa…. Saya juga author baru review kan gak harus author yang berpengalaman,cukup kasih pendapat kamu tentang tentang fic ini sudah membuat saya senang. Tubuh Asuka tu mulai bertambah kuat karena sudah mulai terbiasa dengan kekuatan sihir Sasuke.

Muzutani Aizawa : gomen… saya benar benar gak berpengalaman buat cerita romance.*nangis nangis*saya sudah berusaha sekuat tenaga buat nampilin adegan yang romantis, sepertinya masih kurang ya.. saya akan berusaha lebih giat.

Namiakaze Kawaii : arigatou…., ni sudah saya update. Gimana chapter ini? Bagus gak?

Terima kasih atas semua yang mau review. Saya mohon juga untuk review chap ini.

Review please…..