Gomen! Saya baru bisa update sekarang. Sebenarnya saya sudah mau update minggu kemarin. Tapi waktu lagi enak-enaknya ngetik tiba-tiba lampunya mati… hya…. Fic yang sudah susah payah saya ketik selama 3 JAM langsung musnah. Hua *nangis nangis*
Tapi sebagai ganti telatnya update. Chap ini saya buat panjaaang. Ok! Langsung aja!
I Don't own Naruto
Chapter 8 : Kenyataan
Prang…
Suara kaca yang pecah membuyarkan lamunan Asuka. Ia segera menoleh ke jendela. Dan matanya membulat ngeri. Dari UKS, dari tempatnya berdiri kini, ia bisa melihat seseorang tengah jatuh dari jendela lantai tiga. Dan bisa dilihat dari warna rambutnya yang mencolok, yang jatuh itu adalah Naruto.
Jantung Asuka seakan berhenti berdetak.
Tanpa pikir panjang, Asuka langsung berlari melompati jendela tanpa memperdulikan teriakan Sakura. Ia paksakan kakinya untuk berlari secepat mungkin. Sekelilingnya terlihat kabur saat ia memfokuskan pandangannya pada sesosok tubuh yang tengah jatuh itu. Orang yang amat disayanginya. Tangan Asuka menggapai berharap ia bisa meraihnya. Namun jaraknya masih terlalu jauh. Tangannya hanya menggapai udara kosong. Sedetik yang seakan terasa seabad bagi Asuka. Ia tahu ia akan gagal. Kakinya berlari terlalu lambat. Apa tadi ia berharap menjadi manusia biasa? 'Dasar kaki manusia lambat bodoh tak berguna' batin Asuka.
Keputus asaan menyergap Asuka saat dengan sekuat tenaga ia berteriak.
"NARUTO…"
Semuanya berlangsung terlalu cepat. Seseorang, orang lain juga tengah berlari ke arah Naruto. Dengan cepat orang itu menangkap pinggang Naruto, memposisikan tubuhnya di bawah Naruto.
Bruk…
Tubuh Naruto yang jatuh dari ketinggian lebih dari 15 meter dengan keras membentur tubuh orang di bawahnya. Orang itu kemudian memeluk Naruto lalu berguling ke samping, menghindari pecahan kaca yang juga ikut terjatuh bersama tubuh Naruto.
"Kau baik-baik saja Naruto?" Tanya orang itu sambil bangkit dalam posisi duduk. Tangan kanan masih memeluk pinggang Naruto sementara tangan kirinya memegang belakang kepala Naruto.
Secara perlahan Naruto membuka matanya. Awalnya tatapannya kosong, sebelum kemudian terfokus pada sosok di hadapannya.
"Gaara…" panggil Naruto lirih.
Saat itulah Asuka sampai di samping Naruto dengan nafas terengah-engah.
"Naruto! Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya Asuka berlutut di samping Naruto sambil berusaha mengatur nafasnya. Sama sekali tak menyadari kehadiran Gaara.
Naruto segera mengalihkan pandangannya dari Gaara dan menatap Asuka.
"Asuka…?" Tanya Naruto lemah. Kemudian ia menyadari Asuka tengah menatapnya penuh khawatir dengan keringat bercucuran. Naruto tersenyum.
"Aku baik-baik sa…" kata-kata Naruto terhenti saat ia merasakan bahunya terbakar. Naruto segera mencengkeram bahunya dengan kuat. Berusaha menekan rasa sakit yang mulai menjalari seluruh tubuhnya. Seakan-akan darahnya tengah bergolak hebat. Mendidih.
"Ugh..ukh aa.." rintih Naruto sambil menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak berteriak. Namun rasa sakit yang amat sangat membuatnya tak peduli lagi.
"U..UWA….AAAAAA…AAA" teriak Naruto sekuat tenaga. Berusaha mengungkapkan rasa sakit yang tengah ia rasakan.
Asuka dan Gaara membeku.
Lalu Naruto ambruk. Ia pingsan.
"Na..Naruto! hey kau baik baik saja?" Tanya Asuka panic saat mendapati Naruto ambruk. Ia sempat terpaku saat Naruto berteriak kesakitan. Seakan-akan ada seseorang yang tengah mencengkeram jantungnya. Kemudian seseorang menyentuh leher Naruto.
"Tenanglah! Ia hanya pingsan." Kata Gaara setelah memeriksa nadi Naruto.
Asuka menghela nafas lega. Lalu berpaling menatap Gaara. (A/N: Gaara dalam wujud manusia tidak mempunyai tato di dahi) dipandanginya sosok cowok berambut merah itu. Merasa familiar.
"Ugh" erang Gaara saat berusaha bangkit. Secara refleks ia memegang dadanya.
"Kita harusa segera membawa Naruto ke rumah sakit!" kata Asuka sambil menatap Gaara.
"Hey… kau kenapa?" Tanya Asuka kemudian saat melihat wajah Gaara yang mulai pucat.
"Bukan masalah besar" jawab Gaara sambil menekan serangkaian nomor di HPnya.
# # #
Asuka tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit di depan ruangan tempat Naruto dan Gaara di periksa. Asuka yakin tulang rusuk Gaara patah karena sejak perjalanan ke rumah sakit Gaara selalu memegangi rusuknya.
Dengan gerakan tiba-tiba Asuka berdiri. Berbalik menghadap tembok dan melayangkan tinjunya di dinding di depannya.
"Prajurit neraka itu… beraninya mereka…" geram Asuka marah. Ia sempat merasakan aura makhluk neraka saat melompati jendela. Ia amat sangat yakin yang menyerang Naruto adalah prajurit neraka.
"Sialan!" umpat Asuka kesal.. diabaikannya rasa sakit dan darah yang mulai keluar karena ia memukul dinding sekuat tenaga.
Ia kesal. Amat sangat kesal. Barusaja ia berjanji di depan sakura akan melindungi Naruto, tapi belum sampai satu jam kemudian ia sudah mengingkarinya. Ia tak bisa melindungi Naruto. Ia merasa kesal karena bukan dirinya yang menyelamatkan Naruto. Kesal ada lelaki lain yang lebih bisa melindungi Naruto.
Saat itulah seorang dokter keluar dari ruangan tempat Naruto di periksa. Ia segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Naruto.
"permisi dokter, bagaimana keadaan teman saya?" Tanya Asuka
"Oh.. anda teman mereka? Yang laki-laki hanya mengalami retak tulang rusuk, sementara yang perampuan mengalami memar di seluruh tubuh, retak tulang tengkorak dan patah tulang bahu. Ia harus menginap selama beberapa hari untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya." Jelas sang Dokter.
Wajah Asuka mengernyit sedih.
"Bolehkah saya melihatnya?" Tanya Asuka lagi.
"Silahkan" kata Dokter itu sambil melangkah pergi.
Dengan perlahan Asuka memasuki ruangan putih itu. Dilihatnya Naruto tengah tertidur. Perban membalut dahi, bahu serta beberapa bagian tubuh yang lain. Walaupun tertidur, wajah Naruto mengernyit nyeri. Ia terlihat menahan sakit.
Asuka menggigit bibirnya. Tangannya mengepal erat. Terlihat darah yang masih menetes dari luka di tangannya.
"Maafkan aku, Naruto," kata Asuka sambil menunduk.
# # #
Gelap….
Dingin…
Dimana ini…?
"Kushina! Cepat bawa lari Naruto!" seorang pria berteriak.
Ayah…
"Naruto… lari…!" kali ini suara perempuan yang berteriak.
Ibu…
Gelap…
gelap sekali….!
Takut…
Ayah… Ibu…
Jangan pergi…
jangan tinggalkan aku…!
Merah…?
Apa ini…?
"TIDAK…" teriak Naruto sambil terduduk di ranjangnya. Sekelilingnya gelap.
"Naruto! Ada apa?" Tanya Asuka sambil memegangh pundak Naruto.
"Kya…" teriak Naruto sambil meronta. Berusaha menjauh dari Asuka.
"Naruto! Naruto! Tenanglah! Ini aku! Asuka!" kata Asuka sambil berusaha menenangkan Naruto yang terus meronta.
Pandangan Naruto menerawang jauh. Tidak benar-benar menyadari kehadiran Asuka. Ketakutan terpasang jelas di naruto. Ia terus saja mendorong Asuka menjauh. Asuka bingung, tak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian ia menarik Naruto ke pelukannya. Berusaha meredam ketakutan Naruto.
"Tenanglah! Ada aku disini! Tenanglah! Kau aman disini!" kata Asuka sambil memeluk erat Naruto. Ia mengusap bahu Naruto lembut.
Selama beberapa saat mereka berdua dalam posisi tersebut akhirnya Naruto mulai berhenti meronta. Nafasnya mulai teratur. Dan pandangannya mulai terfokus. Namun tangannya masih mencengkeram bahu Asuka.
"A..Asuka?" Tanya Naruto lirih saat akhirnya ia melihat wajah Asuka.
"Aa.. ini aku! Tenanglah! Kau aman sekarang!" kata Asuka sambil membelai rambut Naruto.
"Aku… Aman?" Tanya Narutolirih.
"Iya.. kau aman sekarang. Aku akan melindungimu. Aku janji." Kata Asuka sambil tersenyum sedih.
Akhirnya Naruto melepas cengkeramannya dari bahu Asuka dan melingkarkan tangannya ke pinggang Asuka. Meletakkan wajahnya di dada Asuka.
"Aku ada disini! Aku akan melindungimu" kata Asuka berulang kali hingga Naruto tertidur di pelukannya.
# # #
Esoknya Naruto membuka mata saat sinar matahari menembus jendela kamarnya. Ia melihat sekeliling. Semuanya berwarna putih. Bau obat menyergap hidungnya.
"Ugh.. aku benci rumah sakit!" erang Naruto pelan saat ia menyadari dimana ia sekarang. Ia berusaha menutup hidungnya dengan tangan, namun ia menyadari seseorang tengah menggenggam tangannya. Naruto menoleh dan dilihatnya Asuka tengah tertidur di samping ranjangnya. Kepala Asuka bersandar di ranjangnya sementara lengan kanannya menggenggam erat tangan Naruto. Ia masih tidur.
Naruto terdiam. Terkejut mendapati Asuka di sampingnya. Ia berusaha mengingat kejadian kemarin. Ia di serang. Seseorang yang juga menginginkan pangeran. Orang itu menggigitnya. Melemparnya ke jendela. Gaara. Lalu Asuka.
Tiba-tiba wajah Naruto memerah. Mengingat kejadian semalam dengan Asuka. 'itu pasti mimpi, itu tidak benar-benar terjadi kan?' Tanya Naruto dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya dengan keras, membuat Asuka terbangun dari tidurnya.
"Um.. Naruto? Kau sudah bangun?" Tanya Asuka sambil mengusap matanya.
"Mm.. baru saja" jawab Naruto sambil memalingkan mukanya. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Ada apa Naruto? Mana yang sakit? Wajahmu merah! Aku akan panggilkan Dokter!" kata Asuka panik sambil bangkit berdiri.
Namun tangan Naruto menggenggam erat tangan Asuka. Mencegahnya pergi.
Asuka berbalik lalu memandang tangan mereka yang bertautan.
"Jangan pergi," kata Naruto lirih.
Asuka memandang wajah Naruto yang merona merah lalu tersenyum. Ia kembali duduk.
"Tenang saja. Aku akan selalu di sampingmu" janji Asuka sambil mempererat genggaman tangannya.
Selama beberapa saat kemudian suasana sunyi. Naruto masih berusaha meredam detak jantungnya yang bertalu-talu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Asuka memecah kesunyian.
"Um.. apa?" Tanya Naruto tak mengerti.
"Bagaimana kau bisa jatuh? Apa ada seseorang yang mendorongmu?" Tanya Asuka sambil menatap Naruto dalam-dalam.
Naruto langsung panic.
"Um… aku terpeleset lalu menabrak jendela. Tak ada yang mendorongku" jawab Naruto sambil mengalihkan pandangan dari mata Asuka.
Asuka tahu Naruto menyembunyikan sesuatu.
"Naruto… a…" belum sempat Asuka menyelesaikan kalimatnya seorang perawat memasuki ruangan.
"Ohayou, Uzumaki-san. Bagaimana keadaan anda?" Tanya suster itu sambil meletakkan nampan berisi pakaian dan handuk di meja samping Naruto.
"Baik" jawab Naruto pendek.
"Maaf, saya harus mengganti pakaian Uzumaki-san. Bisakah anda keluar?" Tanya perawat itu pada Asuka.
Asuka menatap Naruto.
"Pulanglah. Kau masih harus masuk sekolah" kata Naruto sambil tersenyum. Ia sebenarnya merasa agak sedih karena Asuka akan meninggalkannya.
Asuka menatap Naruto dalam-dalam. Memastikan ia baik-baik saja.
"Baiklah, aku pulang. Tapi kau harus beristirahat dan hubungi aku kalau terjadi sesuatu." Kata Asuka bangkit dari kursinya. Ia mencium kening Naruto dengan lembut.
"Aku akan datang lagi saat pulang sekolah." Kata Asuka sambil tersenyum dan melangkah pergi. Sementara Naruto masih membeku. Ia menyentuh keningnya. Tempat dimana Asuka menciumnya terasa panas. Namun menyenangkan.
"Wah… kalian mesra sekali. Pacarmu itu pasti sangat mencintaimu. Ia sama sekali tak beranjak dari sisimu sejak kemarin. Bahkan ia bersikeras menemanimu walau jam besuk sudah berakhir." Kata suster itu sambil tersenyum.
"Dia bukan pacarku" kata Naruto lirih.
"Benarkah?" Tanya suster itu sambil tersenyum menggoda.
Naruto hanya diam sementara wajahnya terus memerah.
# # #
Tok..tok..tok…
Seseorang tengah mengetuk pintu tempat Naruto sedang di rawat..
"Masuk" jawab Naruto yang kini tengah duduk bersandar di ranjangnya.
Terdengar suara pintu dibuka. Dan kemudian dilihatnya Gaara masuk dan berjalan ke arahnya. Ia mengenakan kemeja merah dan celana jins hitam. Di belakangnya Shikamaru juga datang dengan muka yang bosan seperti biasa. Ia mengenakan kaos hijau dan juga jins hitam.
"Yo… Naruto! Bagaimana keadaanmu?" Tanya Shikamaru
"Baik" jawab Naruto.
Gaara kemudian duduk di kursi yang sebelumnya di tempati Asuka. Shikamaru hanya berdiri di sampingnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Gaara to the point.
Naruto menghela nafas. Baru saja Asuka menanyakan pertanyaan yang sama di tempat yang sama.
"Ada seseorang yang mengincar pangeran" kata Naruto membuat mereka terkejut.
"Siapa?" Tanya Gaara.
"Aku tak tahu. Tapi ia menyamar sebagai guru baru bernama Orochimaru." Jawab Naruto.
"Kau tak bisa mencium jejaknya?" Tanya Shikamaru
Naruto menggeleng.
"Awalnya ia berbau seperti manusia. Entah bagaiman acaranya menyembunyikan jejak sepekat itu. Ia tahu tentangku dan menanyakan tentang keberadaan pangeran." Kata Naruto.
"Ia tahu identitasmu?" Tanya Gaara.
"Ya. Tapi aku tak tahu ia tahu tentang kalian atau tidak. Dia bukan utusan raja neraka. Aku yakin itu. Dan aku khawatir ia berusaha membunuh pangeran." Kata Naruto serius.
Suasana hening selama beberapa saat.
'Uh.. merepotkan" erang Shikamaru memecah kesunyian.
"Kau harus lebih berhati hati" kata gaara.
Naruto mengangguk.
"Sebaiknya kau beristirahat, Naruto" kata Gaara sambil beranjak dari kursinya dan melangkah pergi bersama Shikamaru.
"Gaara?" panggil Naruto
"Ya?" jawab Gaara sambil menoleh.
"Bisa kau mengeluarkanku dari sini?" Tanya Naruto.
"Maksudmu keluar dari rumah sakit?" Tanya Gaara balik.
"Ya" jawab Naruto.
"Hei… kau harus menyembuhkan lukamu" protes Shikamaru.
"Aku benci rumah sakit. Bau obat ini membakar hidungku. Lagipula aku sudah sembuh" kata Naruto
"Kau baru saja jatuh dari lantai 3 kemarin dan kau bilang kau sudah sembuh?" Tanya Shikamaru tak percaya.
"Aku pernah mengalami yang lebih buruk. Lagipula aku punya daya penyembuhan yang cepat, dan itu akan membuat manusia di sini curiga." Kata Naruto sambil memutar bola matanya.
"baik. Aku akan bicara dengan dokter" kata Gaara smbil melangkah pergi.
"Um.. Gaara" panggil Naruto lagi.
"ya?" Tanya Gaara
"Terima kasih" kata Naruto sambil tersenyum. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau ia benar-benar terjatuh dari lantai 3 dengan wujud manusia.
"Hm" jawab Gaara sambil berjalan pergi.
# # #
Tut… tut.. tut…
"Halo?" sabuah suara menjawab
"Naruto! Kau ada dimana?" Tanya Asuka panic.
"Asuka? Um.. aku ada di rumah" jawab Naruto dari seberang telpon.
"Apa yang kau lakukan di RUMAH?" Tanya Asuka tak mengerti
"Aku sudah keluar dari rumah sakit. Maaf! Tadinya aku mau menelponmu tapi takut mengganggu pelajaran." Jawab Naruto
"Kau baru saja jatuh dari lantai 3 kemarin dan kau bilang kau sudah sembuh?" Tanya Asuka menaikkan sebelah alisnya.
"Tak seburuk yang terlihat kok. Aku sudah sembuh." Sangkal Naruto.
"Kau tak tahu betapa paniknya aku menyadari kau tak ada di ruanganmu?" Tanya Asuka lemas.
"Maaf" jawab Naruto pelan
"Dimana rumahmu?" Tanya Asuka
"Eh" kata Naruto
"Dimana rumahmu?" Tanya Asuka lagi
# # #
Ting tong ting tong
Asuka menekan bel dengan tidak sabar.
Ceklek…
Gaara yang mengenakan kaos putih dan celana pendek selutut membukakan pintu.
"Apa yang kau lakukan di rumah Naruto?" Tanya Asuka tajam. Terkejut karena Gaara yang membukakan pintu.
Gaara hanya terdiam sesaat mendapati Asuka tengah berdiri di depan pintu. Terkejut karena Naruto memberi tahu Asuka dimana ia tinggal.
"Masuklah" jawab Gaara akhirnya sambil membukakan pintu lebar-lebar kemudian menutupnya setelah Asuka melangkah masuk.
"Kau belum menjawab pertanyaanku" kata Asuka tajam.
"Ikut aku! Naruto ada di kamarnya" kata Gaara sambil melangkah pergi.
Asuka mengikuti Gaara sambil menatapnya tajam. Kemudian mereka berhenti di depan pintu sebuah kamar. Gaara mengetuk pintu itu dan terdengarlah jawaban 'masuk' dari dalam kamar. Gaara kemudian membuka pintunya.
"Naruto! Ada yang mencarimu." Kata Gaara di depan pintu.
"Asuka! Kau benar-benar kemari?" Tanya Naruto sambil tersenyum lebar.
Melihat reaksi Naruto, Asuka tersenyum sambil melangkah masuk. Naruto tengah duduk bersandar di tempat tidurnya. Dahinya sudah tidak di perban.
"Bukankah sudah kubilang akan datang?" kata Asuka sambil duduk di samping tempat tidur Naruto.
"Tapi kupikir tidak sekarang" Kata Naruto senang.
Asuka tersenyum mendapati Naruto terlihat gembira. Naruto jarang sekali terlihat gembira seperti itu. gaara keluar dan menutup pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kau tinggal serumah dengan 'dia'?" Tanya Asuka tak senang
"Dia? Maksudmu Gaara? Iya.. kami tinggal serumah" jawab Naruto polos.
"Kau tinggal berdua saja dengannya?" Tanya Asuka dengan nada agak tinggi.
"Tentu saja tidak. Masih ada Shikamaru" jawab Naruto
"Kau tinggal serumah dengan dua orang pria?" Tanya Asuka mulai marah
"Memangnya kenapa?" Tanya Naruto polos.
"Apa hubunganmu dengan mereka?'" Tanya Asuka serius.
"Eh… mereka itu… em… sepupu!... ya!mereka itu sepupuku" Bohong Naruto.
"Benarkah?" Tanya Asuka tak percaya
"Ten..tentu saja. Untuk apa aku berbohong. Mereka itu sepupuku. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku." Kata Naruto sedikit panic.
Asuka menghela nafas panjang.
"Iya… aku mengerti! Bagaimana keadaanmu?" Tanya Asuka sambil meraba kening Naruto.
# # #
"Ugh…ukh…" naruto merintih sambil memegangi bahunya.
Jarum jam di dinding sebelah Naruto menunjuk angka satu. Sekelilingnya gelap gulita. Naruto terbaring di tempat tidurnya. Bergelung ke samping. Tangannya mencengkeram bahu.
Luka luka Naruto sudah sembuh, ia yakin itu. Namun entah mengapa di tempat dimana Orochimaru menggigitnya terasa terbakar.
"Ugh" rintih Naruto sambil menggigit bibirnya. Tak ingin Gaara dan Shikamaru terbangun. Ia tak ingin terlihat lemah.
Tanpa disadari Naruto, bercak-bercak mulai muncul di sekitar leher Naruto menyebar hingga separuh wajahnya. Ia memejamkan mata saat rasa sakit yang ia rasakan semakin menjadi-jadi. Bercak-bercak itu berwarna merah. Menyala di kegelapan.
# # #
Asuka berdiri di samping ranjang Naruto sambil menggenggam sebuah jaket berwarna orange. Sementara Naruto masih sibuk memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas.
"Kau yakin ingin masuk sekolah?" Tanya Asuka.
"Hu um" jawab Naruto sambil mengangguk.
"Ayo berangkat!" ajak naruto kemudian sambil berjalan keluar kamar. Asuka hanya diam dan mengikutinya dari belakang. Saat sampai di pintu depan, mereka bertemu dengan Gaara.
"Hai gaara! Aku berangkat duluan" kata Naruto sambil tersenyum
"Hm.. hati-hati" jawab Gaara
Asuka segera membukakan pintu dan memberikan jaket orange itu pada Naruto lalu mengambil tas yang di bawa Naruto.
"Biar aku yang bawa" kata Asuka sebelum mereka berdua melangkah pergi dan menutup pintu.
"Tadi itu siapa?" Tanya Shikamaru saat ia keluar dari dapur sambil membawa segelas air.
"Teman Naruto" jawab Gaara pendek.
"Oh" kata Shikamaru sambil duduk di kursi di depan Gaara.
Suasana sunyi selama beberapa saat.
"Eh… Cuma perasaanku saja atau memang belakangan ini Naruto terlihat manis ya?" Tanya Shikamaru tiba-tiba.
Gaara hanya diam sambil menatap Shikamaru dalam-dalam
"Apa?" Tanya Shikamaru
# # #
Naruto dan Asuka berjalan dalam diam. Beberapa kali Naruto melirik Asuka yang sedang berjalan di sampingnya. Asuka berjalan dengan agak menunduk. Tangan kirinya membawa dua tas. Miliknya dan milik Naruto. Yang di sampirkan di bahu kirinya. Tangan kanannya di masukkan ke saku celana. Sejak tadi Asuka tak berkata sepatah kata pun. 'Apa ia masih marah padaku?" Tanya Naruto dalam hati.
"A…" barusaja Naruto akan memanggil Asuka namun ia merasakan bahunya terbakar. Lagi.
Naruto berhenti berjalan. Tangannya memegang bahu. Ia menutup mulutnya rapat rapat. Tak ingin berteriak kesakitan di hadapan Asuka.
"Naruto?" panggil Asuka yang juga ikut berhenti berjalan.
Sebelum Asuka mengerti apa yang sedang terjadi. Naruto sudah ambruk di hadapannya.
# # #
Asuka memandang wajah Naruto yang sedang pingsan dalam diam. Di belainya rambut pirang Naruto dengan lembut. Mereka sedang duduk di kursi taman tak jauh dari tempat Naruto pingsan. Naruto tengah terbaring di kursi itu berbantalkan paha Asuka. Wajah asuka datar. Sesekali ia memalingkan muka dan mengernyit sedih. Ia masih menyalahkan dirinya karena tak bisa melindungi Naruto.
"Uh…" erang Naruto saat membuka matanya. Dilihatnya wajah Asuka di atasnya dengan ekspresi wajah yang tak bisa di bacanya.
"Sudah sadar?" Tanya Asuka sambil tersenyum kecil. Dibantunya Naruto bangun.
"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kau pingsan," kata Asuka pendek.
"Oh," gumam Naruto sambil mengangguk mengerti.
"Wa… jam berapa ini? Kita bisa terlambat" teriak Naruto sambil tiba-tiba berdiri. Membuatnya terhuyung karena pusing di kepalanya semakin menjadi.
Asuka segera menangkap pinggang Naruto sebelum ia ambruk lagi.
"Tenanglah! Kau baru saja pingsan. Dan ini sudah siang. Kita sudah terlambat" kata Asuka sambil membantu Naruto duduk kembali.
"Maafkan aku," kata Naruto sambil menghela nafas.
"Tidak apa. Sekali-kali membolos itu menyehatkan. Lagi pula hari ini waktunya Gai sensei mengajar olahraga," kata Asuka memutar bola matanya sambil tersenyum.
Naruto tersenyum. Gai sensei adalah orang yang over over hyperaktif. Ia senang mengajar muridnya berlari keliling sekolah 100 kali. Naruto ngeri membayang ia harus berlari dalam kondisi seperti ini.
Mereka berdua terdiam sebelum kemudian Naruto mendapat ide.
"Kalau begitu kita pergi ke tempat itu saja. Danau hujaumu!" kata Naruto tersenyum lebar.
# # #
Naruto berbaring di padang kecil tak jauh dari danau. Beralaskan rumput yang tumbuh subur. Beberapa bunga mawar dan matahari tumbuh liar di sekelilingnya. Naruto tengah memandangi langit biru di atasnya yang sesekali tertutup pucuk-pucuk pepohonan. Asuka juga berbaring di sampingnya. Memandang Naruto dalam diam. Naruto bahkan bisa merasakan hangatnya tubuh Asuka.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Naruto?" Tanya Asuka.
"Um.. ya?" jawab Naruto sambil menoleh. Membuat wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Asuka. Naruto terpana.
"Malam itu. Saat di rumah sakit. Kau berteriak di tengah malam. Apa yang terjadi?" Tanya Asuka memandang naruto lekat-lekat.
Naruto tersentak. Tak menyangka Asuka akan menanyakan hal itu. Naruto berpaling. Menatap langit biru yang berada jauh di atasnya.
"Hanya mimpi buruk" jawab Naruto
"Mimpi buruk?" Tanya Asuka
"Humm… hari ulang tahunku" jawab Naruto lirih.
'ulang tahun?' Tanya Asuka dalam hati. Bukankah seharusnya itu jadi hari yang menyenangkan? Ia ingin bertanya namun mengurungkan niatnya saat melihat wajah Naruto yang sedih. Sepertinya itu bukan hal yang ingin di ceritakan. Putus Asuka dalam hati.
"Kapan kau ulang tahun?" Asuka mengganti pertanyaannya.
"10 Oktober, memang kenapa?" Tanya Naruto menatap Asuka lagi.
"Kita bisa merayakannya bersama, kalau kau mau," kata Asuka
Naruto menatap ngeri.
"Jangan!" teriak Naruto membuat Asuka kaget.
"Memangnya kenapa? Oh.. mungkin kau ingin menghabiskan hari itu dengan orang lain. Aku mengerti" kata Asuka kecewa.
"Bukan begitu! Pokoknya jangan menemuiku di hari ulang tahunku!" jelas Naruto cepat.
"Kenapa?" Asuka menaikkan sebelah alisnya.
"Pokoknya jangan!" kata Naruto tegas.
'aku tak ingin membunuhmu' kata Naruto dalam hati sambil mengalihkan pandangannya. Menatap matahari yang mulai tenggelam di pucuk cakrawala. Semburat jingga itu dipantulkan sempurna oleh danau hijau di hadapannya. Membuat danau itu berkilauan.
# # #
Hari sudah hampir malam saat Asuka mengantar Naruto pulang.
"Asuka… mau beli es krim?" ajak Naruto sambil menunjuk seorang penjual eskrim.
Asuka hanya tersenyum sambil berjalan di belakang Naruto yang dengan semangatnya berlari kea rah penjual es krim tersebut.
"Pak! Es krim rasa jeruk satu ya! Asuka, kau mau apa?" Tanya Naruto sambil menoleh ke arah Asuka.
"Hm… ada yang rasa tomat tidak?" Tanya Asuka pada pak penjual.
"Maaf, tidak ada!" kata pak penjual sweatdrop.
"Kalau begitu tidak usah!" kata Asuka agak kecewa.
Mereka berdua segera berjalan lagi sambil bercakap-cakap tentang sekolah. Naruto bersikeras akan masuk sekolah besok. Walaupun Asuka melarang karena berpikir Naruto belum sembuh benar. Mereka sempat bertengkar tentang hal itu. Hingga tanpa disadari mereka sudah sampai di depan rumah Naruto.
Asuka mengantar sampai depan pintu. Naruto segera menghabiskan es krimnya yang masih tersisa.
"Terima kasih sudah mengantarku, sampai besok ya!" kata Naruto sambil berbalik membuka pintu.
"Naruto!" panggil Asuka sambil menahan sebelah tangan Naruto.
"Ya?" Tanya Naruto sambil berbalik.
Asuka melangkah maju, tangan sebelah kirinya masih menggenggam tangan Naruto.
"Bibirmu belepotan" kata Asuka sambil mengusap bibir Naruto dengan tangan kanan.
Naruto membeku. Wajah Asuka hanya berjarak sejengkal darinya. Sapphire itu terperangkap onix yang tengah menatapnya dalam dalam. Jantung Naruto berdetak dua kali lebih cepat. Tangan Asuka masih mengusap bibir Naruto sebelum kemudian ia mendekatkan wajahnya.
3 senti…
2 senti…
Jantung Naruto seakan mau melompat dari rongganya.
Dan dengan lembut Asuka mencium bibir Naruto. Sentuhan yang begitu lembut namun seakan bisa melelehkan seluruh tubuh Naruto. Jantung Naruto berhenti berdetak . kemudian berdetak berkali lipat dari sebelumnya. Naruto memejamkan matanya dan membalas ciuman Asuka.
Beberapa saat kemudian Asuka menjauhkan wajahnya, namun dahi mereka masih bersentuhan. Keduanya terengah-engah.
"Es krimnya enak!" kata Asuka sambil tersenyum jahil.
Wajah Naruto langsung merah padam. Menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. Ia melangkah mundur sambil menunduk. Berusaha menyembunyikan wajahnya.
"A..Aku harus masuk se..sekarang" kata Naruto sambil membuka pintu.
"Sam..sampai besok!"kata Naruto sebelum menutup pintu.
Naruto menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Tangan kirinya memegangi jantungnya yang seakan-akan ingin melompat keluar. Tangan kanannya meraba bibirnya yang masih hangat.
'KYAAAAAAAAAAAAAA' teriak Naruto dalam hati.
# # #
Naruto menatap bangku Asuka yang masih kosong. Pagi ini Asuka tidak datang untuk menjemputnya. Akhirnya Naruto berangkat sendirian walaupun akhirnya di tengah jalan ia bertemu dengan bu Haruno dan berangkat bersama.
'Apa Asuka marah karena aku langsung masuk rumah?'tanya Naruto dalam hati.
Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya. Lagi. Ciuman kemarin masih terasa di bibir naruto. Hangat… lembut… dan berasa jeruk. Wajah Naruto langsung merona. Lagi. Memikirkan kejadian kemarin. Mereka berciuman. Ia dan Asuka.
Naruto masih larut dalam pikirannya hingga tak menyadari suasana kelas yang mulai ramai.
"Kya… lihat! Cantik sekali…!" teriak seorang siswi yang berdiri dipinggir jendela
Naruto mengernyit. 'berisik!' batinnya.
"Ada apa?" Tanya siswi di sampingnya.
"Ada yang sedang menyatakan cinta!" jawab yang lain.
"benarkah? Wah… iya, Manis sekali!" kata siswi itu.
"Wah… romantis sekali!" yang lain menimpali.
"Naruto? Kau kenal nama itu?" Tanya seorang siswi pada temannya.
Seisi kelas langsung membeku dan menatap Naruto yang tengah duduk di bangkunya.
Mata Naruto menatap teman-teman sekelasnya tak mengerti.
"Ada apa?" Tanya Naruto entah kepada siapa.
Salah seorang siswi menunjuk keluar jendela. Tanpa berkata sepatah kata pun. Masih sambil menatap Naruto.
Naruto segera bangkit dan berjalan menuju jendela. Dan matanya terbelalak tak percaya.
Di taman sekolah kini ada beberapa murid yang tengah berbaris membentuk huruf 'I' dan 'U'. dan yang membuatnya terpana adalah rangkaian bunga yang besar. bunga mawar yang dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk hati. Di tengah-tengahnya terpahat nama 'naruto' yang di rangkai dari bunga matahari. Rangkaian bunga itu memenuhi seluruh taman, bahkan Naruto bisa mencium aroma mawar dan matahari dari jendela tempatnya berdiri.
Mulut Naruto ternganga tak percaya. Sebelum kemudian matanya terpaku pada sosok seorang berambut hitam pantat ayam yang tengah berdiri tepat di bawahnya. Di depan rangkaian bunga yang indah itu. Ia memakai jaket biru dengan sebelah tangan yang di masukkank ke dalam saku celananya. Ia mendongak dan tersenyum lebar melihat ekspresi terkejut Naruto. Ia melambaikan tangannya, meminta Naruto untuk turun.
Wajah Naruto merah seketika. Dengan segera ia berlari ke luar kelas dan menuruni tangga menuju taman dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
Kebahagiaan memenuhi Naruto. Saking besarnya, seakan akan dadanya akan meledak karena terlalu bahagia. 'Apa ini mimpi? Kalau benar, aku akan memilih untuk tak akan bangun selamanya.' Batin Naruto dalam hati saat ia berlari secepat kaki manusianya bisa. Menemui orang yang kini menjadi pusat dunianya. Ia tak peduli lagi pada semuanya. Tak peduli pada pangeran brengsek yang melarikan diri atau pada yang lainnya.
Asuka mencintainya. Benar-benar mencintainya. Sama seperti ia mencintai Asuka. Ia berlari sekuat tenaga. Ingin segera sampai di tempat Asuka. Ia sudah turun di taman sekarang, tinggal satu belokan lagi dan ia akan bisa melihat Asuka. Tak menyadari sebuah kunai yang melesat ke arahnya.
"Jleb…"
Naruto melompat mundur. Hingga menabrak dinding. Tangan kanannya memegang lengan kirinya yang tertancap kunai. Darah segar mulai mengalir dari lukanya.
"KAU!" geram Naruto sambil menatap tajam sosok di hadapannya. Orochimaru.
"Khu..khu..khu.. senang melihatmu masih hidup, Bocah rubah!" kata Orochimaru sambil tersenyum.
Naruto mencabut kunai yang menancap di lengannya. Membuangnya di tanah dan memasang posisi siap menyerang.. ia segera berubah ke dalam wujud prajurit neraka.
'Sialan' batin Naruto dalam hati. Kenapa harus sekarang? Di saat akhirnya ia diterima oleh seseorang. Dicintai oleh seseorang. Untuk pertama kalinya selama hidupnya. Ia tak ingin semuanya berantakan. Ia harus segera membereskannya.
Naruto melemparkan beberapa shuriken lalu berlari menerjang Orochimaru dengan kunai di kedua tangannya.
"Huh.. ingin melawanku?" Tanya Orochimaru sambil menangkis semua Shuriken.
Naruto segera menghunuskan kunainya tepat ke jantung Orochimaru. Namun dengan cepat orochimaru menangkap pergelangan tangan Naruto. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto.
"khu..khu..khu.. bagaimana dengan hadiah yang kuberikan?" bisik Orochimaru.
Naruto berjengit. Dengan segera melayangkan tendangan keperut orochimaru. Membuat cengkramannya terlepas dan Naruto melompat mundur. Orochimaru sedikit terhuyung ke belakang.
Naruto menyilangkan jarinya dan dengan segera muncul clone-clone Naruto yang langsung menerjang menyerang orochimaru. Orochimaru segera menangkis semua serangan dan menyerang balik hingga semua clone Naruto lenyap. Belum sempat Orochimaru melangkah maju, muncul Naruto dari tengah asap dengan bola biru berpusar di tangan kanannya.
"RASENGAN!" teriak Naruto
Namun saat serangan itu sampai tepat di hadapan Orochimaru, bola biru itu menyusut dan kemudian hilang sama sekali. Naruto ambruk di hadapan Orochimaru sambil mencengkeram bahunya.
"Ukh..ukh.." erang Naruto saat bercak-bercak berwarna merah darah muncul dan menjalari leher dan sekitar wajahnya.
" Khu..khu.. tanda yang bagus" kata Orochimaru sambil mencekik leher Naruto lalu menendang perutnya dengan keras. Membuat Naruto memuntahkan sedikit darah dan terlempar beberapa meter sebelum kemudian menabrak sebatang pohon. Naruto terbaring di tanah sambil terbatuk dan muntah darah. Wujud prajurit nerakanya memudar hingga akhirnya hilang sama sekali, hanya menyisakan naruto dalam wujud manusia. Ia menatap Orochimaru tajam.
"Membosankan," kata Orochimaru sambil menatap Naruto.
"Lebih baik aku segera pergi, kalau aku membuat keributan, cepat atau lambat pangeran juga akan muncul" kata Orochimaru sambil menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba dari belakang Orochimaru muncul monster-monster neraka. Mereka berperawakan tinggi dengan kulit bersisik dan cakar panjang menghiasi jari-jari mereka.
"Habisi dia!" kata Orochimaru sebelum menghilang dalam asap.
Naruto berusaha bangkit. Monster-monster neraka itu mulai berjalan mendekati Naruto. Naruto merangkak mundur sambil memegangi bahunya.
"Naruto!" panggil seseorang. Membuat Naruto menoleh dan dilihatnya Asuka tengah berlari ke arahnya.
'jangan, jangan kemari' batin Naruto.
"Asuka! Jangan kemari!" teriak Naruto.
Namun Asuka tak mengerti. Ia berlari ke arah Naruto dan berlutut di sampingnya. Tak menyadari monster-monster neraka yang mulai menyerang mereka.
"Naruto! Apa yang terjadi? Kau terluka!" Tanya Asuka panik.
"Asuka! Awas!" teriak Naruto sambil menatap ngeri monster-monster neraka.
Asuka berbalik dan terkejut mendapati monster neraka tengah mengayunkan cakarnya ke arahnya dan Naruto. Naruto berteriak.
"ASUKA…"
Srak…
Sebuah sayap hitam terbentang lebar di hadapan Naruto.
To be continue…..
Hwa….. ini chap terpanjang yang pernah saya tulis.
Saya mohon reviewnya *sujud-sujud*
Saya merasa fic ini mulai bertele-tele. Benar gak?
Maaf saya banyak menuliskan hal-hal yang kurang penting. Tapi saya tak terlalu bisa skip time. Jadi saya menuliskan urutan waktunya terlalu rinci agar semua tahu bahwa waktu Naruto di dunia manusia tidak sampai satu bulan.
Bagaimana dengan ciumannya? Pernyataan cintanya? Mohon kasih komentar. Karena saya gak pandai nulisnya jadi mungkin kurang kerasa feelnya *nangis-nangis*
Ok bales review.
Lili Carvi: benarkah? Makasih *loncat-loncat* tapi menurut saya fic ini masih jauh dari kata itu *hiks-hiks* kalau chap ini gimana?
Mechakucha no aoi neko : ini saya update. Setelah saya pikir. Saya memang banyak menggunakan kata itu*garuk-garuk belakang kepala* makasih sudah mau kasih review^^ mohon sarannya untuk chap ini juga ya… makasih
Embun Pagi : benarkah?*nyengir-nyengir gaje* ini saya update. Mohon pendapatnya untuk chap ini ya… plis…
Akifa : salam kenal ! akifa-chan*dilempar sandal* kalau chap ini bikin penasaran g?
Naruhina Namizumaki : salam kenal juga. Ini saya update. Mohon maaf sekali, sepertinya kalau seminggu sekali agak susah. Tapi akan saya usahakan update kilat. Gomen lama menunggu.
Itazura Yuuki : hwa… senpai! Gomen…. Sepertinya saya gak bakalan lepas dari typo. Saya gak berani janji lagi deh.*nangis-nangis* terima kasih petunjuknya*angguk-angguk ngerti* terima kasih. Saya sangat tertolong dengan pengetahuan yang senpai kasih. Kalau chap ini bagaimana senpai? *puppy eyes*
Zaivenee : masa' sih *muka merona*padahal saya pikir tidak terlalu detail malahan. Chap ini gimana?
Femnaru : memang saya pernah bilang kalau tunangan Sasuke itu Hinata? Iya… gimana nih, saya kok mulai merasa cerita saya mulai mbulet. Apa fic ini sudah seperti sinetron? Karena jujur saya sangat benci dengan sinetron*he he he sukanya anime doank* jadi mohon peringatkan saya kalau sudah menjurus ke sana!
Naru3 : hehehe akhirnya Gaara deh… mungkin bakalan lebih romantis kalau yang nangkep sasu ya? Abiznya… banyak yang sudah menduga sasu yang nangkep. Gak seru kan kalau di tebak semudah itu. Ok! Ini sasunarunya. Kerasa gak feelnya?
QQ : ini saya update. Semoga bisa mngobati kekecewaan anda! Hehehe
Uzumaki Winda : iya… saya butuh waktu lama updatenya. Lagi sibuk ini itu. Semoga chap ini gak mengecewakan ya!
Kenshi Himura : iya ni. Kali ini si Bakoro bikin kacau lagi. Mana lagi momen indah. Gimana chap ini? Bagus gak?
Kaze or Wind : tuh kan.. banyak yang nduga kalau yang nangkep sasu. Hehehe gaara ja gak papa kan?
Kafuyamei Vanessa Hime : hwa… chap ini udah romantis belum? Saya gak pinter nulisnya. Jadimungkin gak kerasa feelnya. Gomen *bungkuk-bungkuk*
Uchiha tu Keren : wah.. gak tau ni sampai chap berapa. Tapi saya usahakan segera tamat kok. Saya juga penasaran ma endnya *loh?* Gomen saya kurang tahu anime kaliedo star. Jadi mohon maaf gak bisa kasih komentar hehehe.
Sweet Strawberry.: hwa… darimana kamu tahu kalau Asuka nyatain cinta di chap ini?
Fuuta : gomen! Saya bukannya bermaksud membalik karakter. Kadang saya berpikir kalau naru yang jadi pangeran bakalan pas banget. Tapi saya gak pernah bisa bayangin sasu jadi cewek. Gak pernah bisa! Terus soal segel! Saya Cuma pengen bayangin kalau yang dapat segel tu naru gimana perasaan sasu. Lagipula segel disini agak beda fungsinya!
Teme : gomen. Saya update nya telat. Soal sampai chap berapa. Saya belum tahu pastinya. Tapi ini udah mo tamat kok.
Ok ! mohon reviewnya untuk chap ini. Terutama adegan kissingnya *kya….* ma pernyataan cintanya. Apakah sudah terasa feelnya?
Review please…!
