Hay… yeah akhirnya saya bisa update. Maaf menunggu lama *bungkuk-bungkuk*
Senangnya… banyak yang kasih review. Terima kasih buat:
Mechakucha No Aoi Neko
Uzumaki winda
Femnaru
Akifa
Embun pagi
Naru3
Yureiko-chan
Uyung
Zaivenee
Tori Nadeshiko
Izakentwinsdevil
Kafuyamei Vanessa-hime
Fuuta
Hikaru Uzumaki
Kitsune
Namikaze Shiruna
Namikaze Nara
KiranaQiaodanAgi
Rychan S.W.N
Sizunt Hanabi
Shiroyuki Schiffer
Kawashima Miharu
Kaze Or Wind
Vessalius-Sama
Kuroikiru No Mikazuki Chizuka
Sweet Strawberry
Tsukiyomi hikari
Gomen ! *bungkuk dalam-dalam* saya tidak bisa membalas review semuanya. Mohon maafkan saya *sujud-sujud* sebagai permintaan maaf saya, saya bagiin apel deh*bagi-bagi apel*
Minggu kemarin benar-benar penuh masalah buat saya. Dan membaca review semuanya benar-benar membuat semangat hidup saya kembali. Saya harap reviewnya juga untuk chap ini! Semoga tidak mengecewakan.
I Don't Own Naruto
Chapter 9 : Wake up!
"Asuka! Awas!" teriak Naruto sambil menatap ngeri para monster neraka.
Asuka berbalik dan terkejut mendapati monster-monster neraka itu tengah mengarahkan cakarnya kearahnya dan Naruto.
"ASUKA...!" Teriak Naruto lagi.
Srak…
Sebuah sayap hitam terbentang lebar dihadapan Naruto.
Naruto membeku. Matanya membulat.
Asuka masih berdiri membelakanginya. Atau orang yang Naruto sangka adalah Asuka. Karena sosok dihadapannya kini sama sekali berbeda. Sosok itu bertubuh lebih tinggi dan kekar. Sepasang sayap hitam terbentang lebar di punggungnya. Dan di sela-sela seragamnya yang robek, Naruto bisa melihat sebuah tato. Lambang darah kerajaan.
"Katon : Goukakyuu no jutsu!" sebuah suara asing bicara. Itu juga bukan suara Asuka.
Duar…
Semburan bola api yang sangat besar munculndan langsung menerjang para monster neraka. Mereka semua ambruk di tanah dan seperti tertiup angin, tubuh mereka berubah menjadi abu. Tak tersisa.
Naruto menatap sosok itu dalam diam, benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Maaf Naruto! Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahukan hal ini padamu" kata sebuah suara asing yang membuat Naruto tersadar. Suara itu bukan suara Asuka, suara itu lebih besar walau nadanya terdengar lembut seperti suara Asuka.
"Tapi aku takut kau akan membenciku setelah tahu siapa aku sebenarnya!" kata suara asing itu lagi.
Sosok asing itu berbalik. Dan memang bukan wajah Asuka yang dilihat Naruto. Sosok dihadapannya itu bermata merah dengan garis wajah yang lebih tegas walau Naruto masih bias melihat sedikit bentuk wajah Asuka pada sosok di hadapannya kini. Namun tetap saja itu bukan wajah Asuka. Tapi wajah sang pangeran neraka. Uchiha Sasuke.
Naruto memandangi wajah itu. Tak dapat berkata-kata.
Sebenarnya aku bukan manusia. Aku berasal dari dunia neraka, dan Namaku adalah Sasuke." Kata sosok itu sambil tersenyum. Senyum yang sama persis dengan yang dimiliki Asuka.
"Sasuke! Sudah kubilang jangan sembarangan berubah wujud, kau membuat Naruto ketakutan!" kata bu Haruno yang tiba-tiba datang sambil menjitak kepala Sasuke.
"Aww…! Sakit! Sakura!" erang Sasuke sambil memegangi kepalanya.
'Apa maksudnya ini?' batin Naruto sambil memandang mereka berdua.
"Apa boleh buat, prajurit neraka itu membawa monster neraka untuk menyerang Naruto lagi!" kata Sasuke membela diri.
"Kau baik-baik saja, Naruto?" Tanya bu Haruno sambil membantu Naruto bangun dan memeriksa lukanya.
"Bagaimana keadaannya, Sakura?" Tanya Sasuke sambil berjalan mendekati Naruto.
"Lengannya terluka. Kita harus segera mengobatinya, mereka bisa saja menggunakan racun. Selain itu mungkin ia hanya shock." Kata Sakura.
'sedikit shock?" batin Naruto. Ia menunduk. Tangannya bergetar.
Lalu semuanya berubah dengan cepat. Sebuah bayangan di tanah melesat dengan cepat ke arah Sakura dan Sasuke. Sasuke yang menyadari itu segera melompat mundur, namun Sakura terperangkap. Bayangan itu melilit tubuh Sakura seperti ular.
"Disini anda rupanya, pangeran Sasuke! Terima kasih, berkat anda, kami tak perlu bersusah payah membereskan monster neraka." Kata Shikamaru yang tiba-tiba muncul diikuti gaara disampingnya. Pasir-pasir Gaara sudah bersiap menyerang. Bergerak mengelilingi Gaara.
Sasuke menatap tajam dua prajurit neraka di hadapannya. Tiga titik koma berpusar muncul di mata Sasuke.
"bukankah kalian yang mengirim monster-monster neraka itu untuk menyerang kami?" desis Sasuke penuh amarah.
"Huh.. untuk apa kami melakukan hal merepaotkan seperti itu!"kata Shikamaru bosan.
"Ukh… lepaskan aku!" teriak Sakura sambil meronta.
"Maaf Bu Haruno! Tak kusangka anda kaki tangan pangeran!" kata Shikamaru sambil memepererat ikatan bayangannya.
"Pangeran Sasuke! Untuk yang terakhir kalinya, harap anda ikut kami kembali ke dunia neraka" kata Gaara sopan.
"Tak akan!" jawab Sasuke sambil mengambil posisi bertahan.
Tanpa ada aba-aba pasir Gaara langsung menyerang Sasuke secara bertubi-tubi.
# # #
Naruto masih terduduk di tanah. Menunduk. Sekujur tubuhnya bergetar.
"Tidak mungkin!" desis Naruto pelan.
'Dia tidak mungkin Asuka' batin Naruto berulang kali.
Bayangan saat Asuka tersenyum padanya, saat merengut dengan kesal, saat marah, saat tertawa bersama, semua kenangan itu terlintas kembali di mata Naruto.
'Kenapa?' batin Naruto. Ia masih dalam posisi terduduk di tanah.
,T angannya meremas tanah di bawahnya. Matanya mulai terasa panas. 'Jangan menangis!, jangan menangis!" batin Naruto berulang kali. Rasanya sakit. Amat sangat sakit.
Duar… Sreek...!
Sasuke melompat mundur di depan Naruto. Nafasnya mulai terengah-engah.
"Maaf Naruto! Bisakah kau lari?" Tanya Sasuke sambil memunggungi Naruto.
Ucapan itu membuat Naruto tersentak. Ia berusaha bangkit walau dengan tangan bergetar.
"Kenapa kau tak segera membantu Gaara…" teriak Shikamaru.
Sasuke kini bangkit berdiri walau kembali memasang posisi siap menyerang.
"NARUTO!" teriak Shikamaru lagi.
Punggung Sasuke menegang kaku. Lalu menoleh memandang Naruto yang kini tengah membentuk beberapa segel dengan tangannya yang gemetar. Kepala Naruto menunduk sehingga Sasuke tak bisa melihat langit biru itu di mata Naruto.
Sasuke berbalik menghadap Naruto. Tiba-tiba saja dari tanah di sekeliling Sasuke muncul tali-tali berwarna merah menyala. Mengikat Sasuke erat sembari menghisap cakranya. Membuat Sasuke lemas dan kemudian ambruk di tanah.
Sasuke memandang mata biru Naruto yang kini bisa dilihatnya karena ia tengah tersungkur di tanah. Sapphire itu terlihat dalam. Dingin. Dan kosong. Sasuke bisa melihat rasa sakit yang coba disembunyikan Naruto. Perasaan yang dihianati.
Sasuke menutup matanya akibat cakra yang terus berkurang. Sebelum pingsan, ia bisa melihat tetes-tetes hujan yang mulai turun.
Darah menetes di sudut bibir Naruto. Mengalir menuruni dagunya. Bahunya kembali terbakar, namun rasa sakit itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa sakit lain yang mendera dadanya.
Hujan pun turun dengan deras. Membuat basah kuyup kelima orang yang tengah berada di taman sekolah yang sunyi.
"Kerja bagus, Naruto!" teriak Shikamaru.
"Sasuke…!" teriak Sakura.
"Kau tak apa-apa, Naruto?" Tanya Gaara sambil berjalan ke arah Naruto.
Naruto diam saja. Masih menatap Sasuke yang tergeletak di tanah di hadapannya.
Gaara segera menghubungi dunia Neraka. Tak lama kemudian dihadapan mereka telah terbentang gerbang Neraka. Shikamaru dan Sakura melangkah masuk pertama kali, disusul Gaara yang memanggul tubuh Sasuke.
Naruto menengadah ke atas. Menatap langit mendung yang sangat ia sukai. Tetes-tetes air hujan menusuk wajahnya.
"Naruto!" panggil Gaara.
Naruto melangkah menuju gerbang Neraka yang berkilauan terpantul tetesan hujan. Tanpa menengok ke belakang lagi.
# # #
Teng.. teng.. teng…
Sosok berambut pirang yang masih tergeletak tidur itu hanya membalikkan tubuhnya. Menutup telinga dengan bantal.
Teng.. teng.. teng.. teng…
"Hah…!" erang sosok itu sambil menghela nafas.
Dengan enggan ia membuka mata. Dan tampaklah iris mata berwarna biru secerah langit. Melirik kea rah jam kecil berbentuk daun di sampingnya. Jarum menunjukkan angka tujuh. Dengan malas ia menyeret tubuhnya ke kamar mandi.
Hari ini dia harus kembali bertugas setelah mendapat libur selama 3 hari untuk memulihkan luka-lukanya. Raja neraka terlihat senang saat ia membawa kembali pengaran neraka walau dalam kondisi terikat dan tak sadarkan diri. Walau sang raja memasang wajah datar dan hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya. Semua orang juga tahu sang raja sedang senang. Terbukti dengan diberikan nya hadiah-hadih dan libur selama 3hari untuk mereka. Prajurit nereka jarang sekali mendapat libur.
Setelah merasa cukup lama berendam dalam air hangat. Naruto segera keluar. Memakai seragam abu-abunya dan memandang cermin. Memandang pantulan wajahnya.
Kulitnya yang aslinya berwarna kecoklatan kini terlihat agak pucat. Mata birunya menatap datar wajahnya yang terpantul di cermin. Wajahnya terlihat sayu dan dingin.
'Benarkah sejak dulu wajahku selalu seperti ini?' Tanya Naruto dalam hati sambil memegang pipinya yang berhias tiga goresan. Ia menatap dirinya selama beberapa saat, sebelum kemudian ia memutuskan bahwa ia tak peduli.
Dengan segera Naruto menyisir rambut panjangnya yang agak basah. Lalu mengikatnya jadi ekor kuda. Tanpa memandang cermin lagi, ia melangkah keluar dari apartemennya dan berjalan menuju istana.
Naruto berjalan tanpa menengok kanan kiri. Ia tahu takkan ada yang menyapanya, namun entah mengapa dadanya berdesir. Ingatan tentang seseorang seseorang yang selalu menyapanya di pagi hari berkelebat cepat di pikirannya.
Naruto menatap kosong jalanan di hadapannya. Semua orang berjalan lalu lalang di sekelilingnya. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Naruto sempat berfikir, jika ia menghilang dari dunia ini, adakah seseorang yang sadar? Lalu wajah seseorang bermata onyx yang tengah tersenyum terbayang di kepalanya. Naruto mencengkeram dadanya, rasa sakit itu muncul kembali.
Satu-satunya oaring yang mencintainya, yang mengakui keberadaannya telah pergi. Tak mungkin kembalilagi. Tak mungkin seperti dulu lagi.
Plak…!
Dengan tiba-tiba Naruto memukul pipinya kedua dengan keras.
"That's just a dream! Forget it!" ucap Naruto pelan.
Benar! Naruto sadar, ia telah bangun dari mimpi yang sangat indah, mimpi yang harus ia lupakan. Mimpi yang selalu terbayang di ingatannya.
Naruto memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Dicengkeramnya bola dingin kecil yang ada di sakunya.
"perlihatkan identitasmu!" perintah seseorang. Membuyarkan lamunan Naruto.
Naruto baru sadar ia telah sampai di pintu gerbang istana. Ia segera menunjukkan kartu identitasnya dan menyebutkan namanya. Penjaga itu segera membiarkannya masuk.
"Naruto!" seseorang memanggil Naruto.
Dengan cepat Naruto menolah dan dilihatnya Gaara dan Shikamaru tengah berjalan ke arahnya. Sedikit rasa kecewa menyergap Naruto. 'Huh.. kau piker siapa yang mau menyapamu selain mereka?'tanya Naruto dalam hati.
"Hm" hanya itu jawaban Naruto. Datar. Tanpa senyum.
Shikamaru tertegun memandang reaksi Naruto, lalu ia menatap Gaara yang juga tengah menatap Naruto.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gaara sambil berjalan di samping Naruto.
"Baik!" jawab Naruto pendek tanpa memandang Gaara.
Mereka bertiga berjalan dalam diam menuju ruang tugas. Larut dalam pikiran masing-masing.
Saat berbelok di taman istana, tubuh Naruto menegang kaku. Ia berhenti melangkah. Membeku.
"Ada apa, Naruto?" Tanya Shikamaru. Ia dan Gaara juga berhenti melangkah.
Naruto menghela nafas panjang.
"Bukan apa-apa" jawab Naruto sambil melangkah dan menatap lurus ke depan.
# # #
"Yang Mulia Pangeran, Siang ini anda harus menghadiri pesta di kediaman Senju" kata salah seorang pengawal sambil menunduk hormat.
"Hn" jawab Sasuke datar.
Beberapa hari ini mood Sasuke benar-benar buruk. Sejak kembali dari dunia manusia, dia harus selalu dijaga oleh 5 pengawal pribadi kemanapun ia pergi. Sejak bangun tidur hingga ia tidur lagi.
Flashback.
"Ukh" erang Sasuke sambil perlahan membuka kedua matanya. Seluruh tubuhnya terasa berat. Ia berusaha bangun namun ia baru sadar kini ia tengah terbaring di ranjangnya, di dalam kamarnya di istana neraka, dengan rantai yang mengikat kaki dan tangannya.
"Sudah bangun, Baka Otouto?" Tanya sebuah suara dari sudut kamar Sasuke.
Sasuke segera menoleh dan dilihatnya sang kakak, sang raja neraka tengah duduk di sebuah sofa di sudut kamar Sasuke sambil memegang secangkir teh. Di belakangnya, Neji Hyuuga berdiri dengan wajah datar.
"Aniki sialan! Apa yang kau lakukan?" geram Sasuke sambil menatap sang kakak yang dengan santai meminum tehnya. Sasuke sama sekali tak bisa bergerak karena rantai yang mengikatnya.
"Memastikan kau tak akan kabur lagi" jawab itachi di sela-sela kegiatan minum tehnya.
"Kau piker memangnya itu gara-gara siapa hah? Tiba-tiba memaksaku menikah!" kata Sasuke sambil menatap Itachi tajam.
"Kau kan bias menolak" jawab Itachi enteng.
"Kau tidak bilang begitu! Pagi-pagi dating ke kamarku dan bilang 'Sasuke! Satu bulan lagi kau akan menikah' memangnya siapa yang tidak akan kaget. Kau bahkan tak memberituhuku siapa calon istriku!" omel Sasuke panjang lebar.
"Benarkah? Aku melakukan hal seperti itu?" Tanya Itachi berpura-pura tak mengerti, sebelah tangan memegang dagu.
"Tentu saja! Cepat lepaskan aku!" teriak Sasuke kesal.
Itachi hanya tersenyum simpul melihat adik kesayangannya.
"Baik! Tapi dengan syarat" kata Itachi sambil bangkit dari kursinya.
Flashback Off.
Dan disinilah Sasuke. Terjebak dengan jadwal padat sebagai Pangeran Neraka dan 5 pengawal pribadi yang menyebalkan. Sasuke melempar pandangan bosan pada taman istana di hadapannya. Dan tubuhnya membeku.
Seseorang dengan warna rambut yang amat ia kenal tengah berjalan ke arahnya. Mata biru yang amat ia sukai itu menatap lurus ke depan. Sepasang telinga Rubah mencuat disela-sela rambutnya yang diikat ekor kuda. Baru kali ini Sasuke melihat wujud asli Naruto. Hal itu membuat dadanya berdesir.
Naruto berjalan bersama dua orang yang dulu menangkapnya. Sasuke beru sadar salah seorang dari mereka adalah Gaara. Perasaan Sasuke campur aduk, namun ia tetap memasang wajah datar hingga rombongan Naruto berjalan melewatinya. Naruto sama sekali tak menatapnya. Tepat saat mereka berpapasan, Sasuke menangkap pergelangan tangan Naruto.
"Berhenti !" perintah Sasuke lirih.
Naruto berhenti. Begitu juga Gaara dan Shikamaru yang berada dua langkah di depan Naruto. Mereka semua terdiam melihat pangeran Sasuke menggenggam pergelangan Naruto.
Selama beberapa saat suasana sunyi.
Kemudian dengan cepat Naruto berbalik, membuat genggaman Sasuke terlepas, lalu berlutut di hadapan Sasuke.
"Anda memanggil hamba, Yang Mulia Pangeran?" Tanya Naruto sambil menunduk, berlutut di hadapan Sasuke.
Mata Sasuke terbelalak. Ia tak bias berkata sepatah kata pun. Memang wajar bagi prajurit neraka berlutut di hadapannya saat memberi perintah, tapi melihat Naruto melakukan hal itu membuatnya sakit. Dan nada sopan yang di ucapkan Naruto membuat Sasuke tertegun. Seakan-akan mereka hanya seorang atasan dan bawahan.
Sunyi.
"Kalau tidak ada yang anda butuhkan,hamba mohon diri."kata Naruto bangkit dan berjalan pergi menuju ruang tugas diikuti Gaara dan Shikamaru tanpa menoleh ke belakang.
Sasuke hanya tertegun melihat bayangan Naruto yang semakin menjauh.
"Sialan!" maki Sasuke pelan sambil mengepalkan tangannya.
# # #
Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan bagi Naruto. Setelah bertemu Pangeran brengsek menyebalkan yang selalu menghantui tidurnya, kini ia mendapatkan tugas yang juga amat sangat menyebalkan. Ia harus menjadi pengawal seorang bangsawan manja yang kerjanya hanya foya-foya dan main wanita. Naruto sempat berfikir untuk apa mengawal bangsawan ini. Jujur saja! Siapa sih yang ingin membunuh bangsawan tak berguna ini?
Naruto berjalan di belakang Sasori, tuannya hari ini, yang sedang berjalan sambil merangkul dua orang di kiri kanannya. Sasori tertawa gembira sambil menggoda dua orang wanita yang dirangkulnya. Mereka kini tengah berjalan menuju pesta yang diadakan salah seorang bangsawan istana.
Naruto menghela nafas panjang. Ia benci pesta. Terutama pesta yang diadakan bangsawan istana yang penuh penjilat dan bangsawan tak berguna seperti Sasori. Namun toh Naruto tak mempunyai pilihan lain selain mengikuti Sasori. Prajurit neraka tak pernah punya pilihan.
Sampai di tempat pesta, Naruto berdiri di belakang Sasori. Merapat di dinding sambil menatap sekeliling. Dan pandangannya langsung teralih saat seseorang memasuki ruangan pesta diikuti teriakan histeris dari para gadis.
"Kya…! Pangeran Sasuke…!" teriak para gadis itu membuat telinga Naruto sakit.
Naruto memandangi Pangeran Sasuke dari kejauhan. Hari ini pangeran mengenakan baju formal khas pangeran berwarna hitam dengan hiasan ukiran berwarna biru. Dipandanginya sosok itu lekat-lekat. Perawakan pangeran yang tegap dan tinggi sangat berbeda dengan Asuka yang bahkan tak lebih tinggi darinya. Rambut hitamnya yang tergerai lembut sangat berbeda dengan rambut pantat ayam milik Asuka. Dan mata merah menyala itu juga sangat berbeda dengan mata hitam kelam milik Asuka. Naruto mengepalkan tangannya. Mencoba untuk tidak mencengkeram dadanya yang terasa nyeri.
'kenapa aku membandingkan pangeran manja itu dengan Asuka? Jelas-jelas mereka berbeda! Yang berada jauh dihadapannya bukan Asuka, tapi Pangeran Sasuke' batin Naruto dalam hati.
Dan kini mata merah itu tengah menatapnya diantara kerumunan para gadis.
Naruto segera mengalihkan pandangannya, kemanapun selain sosok bermata merah yang berada jauh di ujung ruangan. Lalu Naruto melihat Sasori yang terhuyung karena mabuk tersandung dan hamper menabrak meja penuh gelas kaca kalau saja Naruto tak segera menangkapnya.
"Anda harus lebih berhati-hati kalau tidak ingin terluka, Sasori-sama!" kata Naruto sambil membantu Sasori berdiri.
"Siapa kau berani menasihatiku?" kataSasori tajam sambil menatap Naruto.
Naruto melangkah mundur kembali ke posisinya dengan wajah datar.
"Ho…rupanya kau prajurit wanita itu ya?" Tanya Sasori sambil berjalan mendekati Naruto. Di tatapnya Naruto lekat-lekat.
"Hm… kau lumayan cantik. Untuk apa menyiksa diri menjadi prajurit neraka?" kata Sasori sambil menyentuh ujung rambut Naruto.
Naruto menatap Sasori datar namun tangannya terkepal.
"Lebih baik kau jadi salah satu wanitaku, aku akan memberimu banyak uang" kata Sasori sambil tersenyum sinis. Tangannya yang semula memegang poni Naruto kini bergerak turun meyusuri dagu Naruto. Tangan Naruto sudah bergetar menahan marah. Ia berusaha menahan dirinya. Ia tahu apa yang akan terjadi bila seorang prajurit neraka berani memukul seorang bangsawan. Mereka bias dikurung atau bahkan dihukum mati.
Tangan Sasori kini bergerak menyusuri bibir Naruto. Kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Naruto. Naruto sudah tak tahan lagi. Masa bodoh dengan hukuman nanti. Tangan Naruto sudah terangkat untuk memukul Sasori. Namun sesuatu terjadi sebelum Naruto sempat memukul Sasori.
Mata Naruto terbelalak tak percaya.
# # #
Sasuke memasuki ruangan pesta dengan pandangan bosan. Ia benci pesta. Disana selalu penuh dengan penjilat dan gadis gadis berisik yang menyebalkan. Mereka akan berusaha mendekatinya. Memberikan pujian-pyjian kosong untuk menarik simpatinya. Seolah-olah ia membutuhkannya saja. Dan teriakan para gadis itu sudah hamper membuatnya tuli. Tak bisakah mereka diam dan bicara dengan pelan?
Sasuke mendengus pelan dan memandang sekeliling selain gadis-gadis berisik di hadapannya.
Dan sasuke terpaku pada mata biru yang menatapnya jauh di ujung ruangan. Merapat di dinding. Suasana seakan langsung sunyi bagi Sasuke. Seakan hanya ada ia dan gadis bermata biru di ujung ruangan itu. Mata biru itu terlihat begitu dalam seakan ia bias menyelam ke dalamnya. Namun, tak berapa lama kemudian mata biru itu berpaling. Membuat Sasuke kesal tak bisa melihat langit cerah itu lagi.
Naruto kini bergerak cepat menangkap seseorang berambut merah yang terhuyung dan hamper menabrak tumpukan gelas kaca. Dilihat dari pakaiannya bias diketahui bahwa pria itu seorang bangsawan. Naruto kini melangkah mundur setelah menolong bangsawan itu. Namun pria berambut merah itu terlihat tidak senang. Ia berjalan mendekati Naruto dengan senyuman yang membuat darah di tubuh Sasuke memanas. Sasuke membayangkan bagaimana rasanya saat ia merobek mulut pria itu. Pasti sangat menyenangkan.
Kemudian pria itu menyentuh rambut Naruto. Mata Sasuke terbelalak. Diremasnya gelas kaca yang tengah dipegangnya hingga hancur berantakan. Matanya tak bisa berpaling saat pria itu menyentuh dagu kemudian turun menyusuri bibir Naruto. Mendekatkan wajahnya ke arah Naruto.
Sasuke tak tahan lagi. Dengan cepat ia melangkah kea rah pria itu. Membelah lautan bangsawan yang tengah berpesta.
Kemudian menendang kepala bangsawan itu sekuat tenaga sebelum ia berhasil mencium Naruto.
Duak…!
Prang…!
Sasori terlempar dan menubruk meja yang penuh dengan gelas dan piring. Bunyi perabot yang pecah membuat semua orang memandang ke arah Sasori.
"SIAPA YANG BERANI MEMUKULKU?" teriak Sasori sambil berpaling menatap orang yang menendangnya.
Dan ia mendapati sang pangeran Uchiha tengah menatapnya dengan tiga titik koma berputar di mata merahnya. Pertanda sang Pangeran benar-benar marah. Sasori langsung terdiam sambil menelan ludahnya. Darahnya langsung membeku melihat sang pangeran tengah menatapnya dengan pandangan seolah ingin mencabik-cabiknya.
Suasana langsung sunyi. Semua orang memandang kejadian di hadapn mereka dengan bingung. Naruto masih mematung dengan sebelah tangan terangkat.
Tanpa berkata sepatah katapun Sasuke menangkap pergelangan tangan Naruto dan menariknya keluar dari ruangan pesta. Naruto hanya terdiam saat Sasuke menariknya keluar menuju koridor istana yang sepi.
# # #
Suara derap langkah langsung bergema di koridor saat Sasuke menarik tangan Naruto menjauhi tempat pesta. Mata Naruto masih terbelalak. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Pangeran memukul Sasori. Hal itu benar-benar mengejutkannya.
Perasaan hangat yang tiba menyelimutinya membuat Naruto tersadar. Dipandanginya tangannya yang kini tengah digenggam erat oleh Sasuke. Merasa hal seperti ini pernah terjadi. Rasanya hangat. Dan nyaman.
Kemudian kenyataan dengan telak menghantam kesadaran Naruto. Ia menunduk.
"Harap lepaskan tangan hamba, Yang Mulia Pangeran!" kata Naruto akhirnya.
Langkah Sasuke terhenti mendengar perkatan Naruto. Ia berpaling menatap mata biru Naruto yang terlihat dingin. Hal itu membuat amarah sasuke memuncak. Sasuke mendorong tubuh Naruto dan merapatkannya ke dinding.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" geram Sasuke marah sambil menunduk menatap Naruto yang kini lebih pendek darinya.
Posisi Naruto kini terjepit di antara dinding dan Sasuke. Tangan Naruto berada di dada Sasuke, berusaha mendorongnya menjauh. Naruto menatap mata Sasuke yang masih berhias tiga titik koma. Amarah masih menguasai sang pangeran.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto.
"Apa tadi ia menyentuh rambutmu?" Tanya Sasuke sambil membelai rambut Naruto. Suaranya bergetar karena marah. Sementara Naruto hanya terdiam. Merasakan nafas hangat Sasuke membelai wajahnya.
"Apa tadi ia menyentuh wajahmu?" Tanya Sasuke sambil menciumi dagu Naruto. Tubuh Naruto menegang kaku. Di cengkeramnya baju Sasuke kuat-kuat. Namun sasuke sama sekali tak menyadarinya.
"Apa tadi ia menyentuh bibirmu?" Tanya Sasuke sebelum melumat bibir Naruto.
Naruto hanya bisa diam. Dan terbelalak tak percaya saat Sasuke menciumnya. Ia berusaha mendorong Sasuke namun usahanya sia-sia. Naruto memjamkan matanya erat-erat.
Selama beberapa saat mereka berciuman. Akhirnya Sasuke menarik wajahnya. Menatap Naaruto dalam dalam. Betapa terkejutnya Sasuke saat melihat air mata menggenang di sudut mata biru itu. Sasuke melangkah mundur, berusaha memberi ruang untuk Naruto.
"Naruto… aku…" kata Sasuke panic saat melihat air mata itu meleleh menuruni pipi Naruto.
Belum sempat Sasuke mengucapkan kata maaf, Naruto sudah memukul wajah Sasuke dengan keras dan berlari pergi. Meninggalkan sang pangeran yang terduduk di lantai sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Sasuke terpaku, menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Miaw…"
Seekor kucing berbulu putih bersemu merah mengeluskan kepalanya ke kaki Sasuke.
Sasuke masih terdiam. Matanya menatap kosong koridor tempat Naruto menghilang. Sebuah rasa sakit yang aneh menyergap dadanya.
Ia menyakitinya. Menyakiti orang yang paling berharga baginya. Membuat airmata yang tak pernah ia lihat di mata biru itu menetes.
Sasuke mengepalkan tangannya erat-erat.
"Bagaimana ini, Sakura! Ia benar-benar membenciku" kata Sasuke sambil menunduk. Sebelah tangan menutupi sebagian wajahnya.
# # #
Naruto berlari sekuat tenaga di koridor yang sepi. Hingga ia sampai di sebuah taman yang gelap. Naruto masih terus berlari.
"Beraninya dia!"
"Beraninya dia menciumku seperti itu!" ucap Naruto dengan suara bergetar. Dengan kasar diusapnynya bibirnya yang masih terasa hangat. Sambil terus berjalan menembus kegelapan. Hingga ia berhenti di tengah taman.
Dengan sekuat tenaga dipukulnya sebatang pohon yang cukup besar hingga roboh dengan suara bedebum yang keras.
Air mata Naruto terus saja menetes. Dengan kasar diusap kedua matanya dengan punggung tangannya. Berusaha menghapusnya. Namun sia-sia, air mata it uterus saja meleleh jatuh dari mata biru yang kini seakan mendung.
"Dsar air mata bodoh! Berhentilah menetes!" umpat Naruto masih sambil berusaha menghapus air matanya.. Jika ada orang lain yang melihatnya menangis seperti ini, ia pasti akan ditertawakan. Prajurit neraka tak seharusnya menampakkan emosinya.
Naruto terduduk di atas rumput yang dingin. Menyerah berusaha menghapus air matanya.
"Ukh! Sialan!" umpat Naruto pelan.
Naruto hanya terduduk di taman yang gelap itu selama beberapa saat hingga air matanya berhenti.
Naruto memasukkan sebelah tangannya ke seku bajunya. Diambilnya sebuah gantungan kecil berbentuk bola kristal dengan hiasan awan biru di dalamnya. Di tatapnya bola kecil itu lekat-lekat.
"Kau tidak akan melakukan hal seperti itu padaku kan, Asuka?" kata Naruto pelan. Digenggamnya bola kecil itu lekat-lekat.
Neruto mendongak. Ditatapnya lanmgit malam yang hitam kelam. Di dunia neraka tak pernah ada bintang. Berpura-pura menatap seseorang dengan warna mata seperti langit itu.
# # #
Sasuke kembali ke istana Neraka dengan langkah gontai. 5 pengawal yang selalu menemaninya hanya saling pandang.
Mereka menemukan sang pangeran tengah terduduk di koridor yang sepi dengan sudut bibir yang berdarah. Mereka segera membantu sang pangeran bangun dan memintanya kembali ke kamarnya. Sang pangeran pun segera melangkah ke kamarnya dalam diam.
Saat mereka berada di taman istana, mereka berpapasan dengan rombongan Raja Neraka. Itachi yang melihat sang adik tengah berjalan ke arahnya hanya tersenyum.
"Bagaimana pestanya, Sasuke?" Tanya Itachi sambil berhenti melangkah.
Namun Sasuke tak menjawab. Dia hanya terus berjalan dengan wajah menunduk. Tak menghiraukan pertanyaan sang kakak.
Senyum Itachi langsung lenyap. Di tariknya bahu sasuke hingga mereka berhadapan muka. Dipandanginya wajah sasuke yang terlihat lebam di bagian sudut bibir.
"Jawab aku saat aku bertanya, baka Otouto!" kata Itachi tegas.
Sasuke mengangkat wajahnya. Dipandangnya sang Kakak dengan tatapan kosong. Ia menampik tangan Itachi yang masih memegang bahunya, dan kembali berjalan ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Itachi hanya diam melihat Sasuke yang seakan kehilangan rohnya.
"Neji!" panggil Itachi.
"Ya…! Yang Mulia?" jawab Neji penuh Hormat.
"Selidiki apa yang terjadi pada Sasuke dan segera laporkan padaku!" kata Itachi sambil kembali berjalan menuju kamarnya.
"Baik, Yang Mulia" jawab Neji sambil berjalan di belakang sang raja.
# # #
Esoknya. Naruto melangkah menuju istana dengan langkah gontai. Sama sekali tak bersemangat. Ia sadar apa yang telah ia lakukan kemarin. Ia memukul pangeran neraka.
Jika memukul bnagsawan saja bisa di kurung, apalagi kalau memukul pangeran, ia pasti akan dihukum mati.
Naruto menghela nafas, mungkin lebih baik kalau ia mati. Paling tidak, ia tidak akan merasakan rasa sakit di dadanya yang semakin lama semakin menyiksa. Terutama setelah kejadian kemarin. Seolah-olah seseorang terus menekan tombol back sehingga kejadian kemarin terus berulang di kepalanya.
Sampai di istana, Naruto segera menuju ruang tugas. Ia menajamkan indra penciumannya. Tak ingin bertemu dengan seorang 'Teme' bermata merah yang mungkin saja berjalan kearahnya seperti kemarin.
Dan benar saja, seharian itu ia selalu mencium bau pangeran menuju ke arahnya. Walau dengan cepat Naruto berbalik atau mengambil jalan memutar. Hingga Naruto merasa seakan ia di kejar hantu karena berlari sekuat tenaga saat merasa pangeran berada di dekatnya.
Hingga malam tiba, naruto merasa capek sendiri. Hari ini ia hanya di tugaskan untuk menjadi prajurit penjaga istana, jadi tak bisa keluar. Saat matahari mulai tenggelam, naruto menghela nafas lega. Dengan tenang ia berjalan keluar istana.
Namun sekelebat bayangan hitam menangkap lengan Naruto dan dengan cepat menariknya masuk ke salah satu ruangan di sudut istana. Secara refleks Naruto segera melayangkan pukulan ke arah penyerangnya. Namun dengan mudah orang itu menangkap pergelangan tangan Naruto dan menguncinya di samping tubuh Naruto. Merapatkannya ke dinding.
"Berhentilah mencoba memukulku!" kata sebuah suara yang terdengar familiar di telinga Naruto. Naruto mengutuki pendengarannya. Mengapa ia mengenal suara itu seakan telah mendengarnya beribu kali dalam hidupnya? Sial! Ia juga baru sadar ada beberapa orang yang bisa menyembunyikan baunya.
"Anda memang pantas di pukul, Yang Mulia Pangeran" kata Naruto dingin sambil menatap sosok bermata merah dihadapannya.
Sasuke menghela nafas panjang.
"Baiklah! Aku hanya ingin minta maaf soal kejadian kemarin" kata Sasuke pelan sambil menunduk menatap Naruto dalam-dalam.
Dada Naruto berdesir. Mata merah itu menatapnya dengan lembut. Seperti tatapan seseorang.
"Lepaskan aku!" kata Naruto tajam. Menatap lurus mata Sasuke dengan dingin.
"Kalau aku melepaskanmu, kau akan pergi dan lari dariku" kata Sasuke
"Aku tak pernah lari dari siapapun" jawab Naruto tegas.
"Benarkah? Seharian ini kau terus lari menghindariku" kata Sasuke sambil menaikkan sudut bibirnya. Setengah tersenyum.
Naruto menatap marah Sasuke. Berharap bisa membakar pangeran brengsek di hadapannya itu hanya dengan tatapan.
"Aku hanya ingin mendengar jawabanmu" kata Sasuke pelan
"Jawaban apa?" Tanya Naruto dingin
"Pernyataanku" kata Sasuke
"Pernyataan apa?" Tanya Naruto lagi. Tak mengerti.
Sasuke menarik nafas dalam-dalam. Semburat merah mewarnai wajah pucatnya.
"Pernyataan cintaku" kata Sasuke sangat pelan.
Naruto tersentak. Ia langsung tahu apa maksud Sasuke. Kenangan itu kembali terlintas di pikirannya. Naruto mengalihkan pandangannya.
"Memangnya kau pernah melakukan hal itu?" Tanya Naruto dingin.
Sasuke tertegun. Dengan kasar Naruto mendorong Sasuke hingga mundur beberapa langkah. Naruto bergegas melangkah pergi.
"Kau tahu apa maksudku" kata Sasuke pelan sambil menangkap pergelangan Naruto.
Naruto terdiam. Kemudian dengan kasar ia menyentakkan tangan Sasuke.
"Berhenti berpura-pura seolah olah kau adalah 'dia', karena kau bukan 'dia', dan kau tak akan pernah bisa jadi 'dia'" teriak Naruto marah.
"Daripada memikirkan hal sepele seperti itu, bukankah lebih baik anda memikirkan tunangan anda, Yang Mulia Pangeran?" kata Naruto dingin.
Dengan segera Naruto melangkah pergi. Namun kakinya tersandung dan dia terjatuh.
Sasuke yang melihat itu segera menarik Naruto hingga akhirnya mereka berdua terjatuh dengan posisi Sasuke di bawah dan Naruto di atas.
Sasuke mengaduh pelan.
Greek…
Suara pintu yang di buka membuat mereka berdua menoleh. Dan dilihatnya sang Raja Neraka tengah berdiri di ambang pintu. Menatap mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Itachi.
To be continue…..!
Hwa…. Selesai….
Senangnya ! akhirnya saya bisa panggil-panggil Sasuke. Abiznya saya masih merasa agak aneh panggil Sasuke dengan nama Asuka. Dan tenang saja. Rambut pantat ayam Sasuke bakal balik kok. Bukan Sasuke namanya kalau rambutnya gak kayak pantat ayam *dichidori Sasuke* he he
Semoga tidak mengecewakan ya….
Sedikit bocoran untuk chap depan!
Tunangan Sasuke bakalan muncul! Hya….!
Ada yang mau usul atau nebak siapa tunangan Sasuke? Karena sebetulnya saya belum menentukan siapa *dilempar sandal* ha ha
Mau apel lagi? Mohon reviewnya ya…!
REVIEW PLEASE…!
