Hay…

Gomen…! Saya baru update sekarang. Beberapa hari ini kepala saya lagi error jadi gak bisa dibuat mikir hehehe.

Terima kasih pada semua yang masih bersedia mereview cerita gaje saya.

Pinkberry

Kou Todoryu 'Kyuuketsuki'

Zee Rasetsu.

Ustafi Nanohana

Akifa

Mechakucha no aoi neko

Femnaru

Naru3

Milako

LUKIAST

Vanadise

Zaivenee

Vessalius-sama

Kaze Or Wind

Mokkun Gembul

Kuroi5

Pochan

Fujoshi Nyasar

Sweetstrawberry

Fuuta

Tsukiyomi Hikari

Aoihime No Rinha

Rychan S.W.N

Namikaze Nara

Uzumaki Winda

Black134

BlackAquamarine

miyakoShirayuki

Sunday Sky

Ruvina No Ookami Hime.

Mohon Maaf! Seperti biasa saya tak bisa membalas review semuanya. Tapi saya benar-benar sangat senang membaca review semuanya. Seperti dikasih nyawa tambahan hehehe. Sebenarnya saya ingin sekali membalas reviewnya. Adakah yang bersedia mengajari saya bagaimana membalas review lewat PM? Karena sampai sekarang saya belum bisa*dilempari sandal*

Mohon maaf juga. Chap ini sepertinya agak membosankan. Tapi saya janji Chap depan akan saya buat lebih menarik. Jadi mohon tetap review ya…

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning: Gaje, OOC, Typo bertebaran. Don't like don't read.

I don't Own Naruto! Never! Hiks hiks…

Pairing : SasuFemnaru!

Chapter 10 : A Change!

Naruto dan Sasuke tertegun memandang sosok raja neraka yang tengah menatap mereka lekat-lekat. Naruto dan Sasuke saling pandang.

1…

2…

3…

Dengan panik Naruto langsung berusaha untuk bangkit dari atas tubuh Sasuke. Menyadari posisi mereka yang benar-benar bisa menimbulkan salah paham. Namun saat mencoba berdiri, ujung rambut Naruto tersangkut di baju Sasuke. Dengan terburu-buru Naruto berusaha melepaskan ujng rambutnya. Namun karena panik ikatan itu tak juga terlepas, justru terlihat semakin mengikat. Sasuke yang melihat itu segera menahan tangan Naruto. Lalu dengan perlahan melepaskan rambut Naruto dari bajunya.

Naruto hanya memalingkan muka, sementara Itachi menatap mereka berdua dalam diam.

Setelah ikatan itu terlepas, mereka berdua segera bangun. Naruto segera merapikan seragam abu-abunya yang berantakan sementara Sasuke hanya bersedekap dan mengalihkan pandangan. Kemudian Naruto berlututdi hadapan Sasuke.

"Terima kasih atas pertolongan Yang Mulia Pangeran. Hamba mohon diri" kata Naruto sebelum melangkah pergi. Saat melewati Itachi, Naruto menunduk penuh hormat.

"Naruto!" pangil Sasuke. Namun Naruto sudah pergi. Sasuke hanya bisa tertegun memandang kepergian Naruto.

"Hm," gumam Itachi sambil memandang ekspresi Sasuke.

Merasa diperhatikan, Sasuke menoleh.

"Apa?" Tanya Sasuke kesal.

Itachi langsung berbalik menghadap Neji yang berdiri di belakangnya. Menyandarkan kepalanya di bahu Neji.

"Neji! Akhirnya… aku akan segera punya keponakan." Gumam Itachi.

Gubrak.

Blush…

"Baka Aniki! Apa yang kau pikirkan hah?" teriak Sasuke dengan muka merah padam.

"Setidaknya, Baka Otouto! Pilih waktu dan tempat yang pantas untuk melakukan hal 'itu'" kata Itachi sambil berjalan pergi.

"Heh… kau salah paham!" teriak Sasuke lagi.

Itachi berhenti berjalan.

"Oh iya, besok pagi tunanganmu akan datang. Kau harus datang untuk menyambutnya." Kata Itachi sambil menoleh ke arah Sasuke.

"Huh… sudah kubilang aku menolak kan?" kata Sasuke dingin.

"Paling tidak, kau harus menemuinya. Aku tidak ingat pernah punya seorang adik pengecut." Kata Itachi sambil berjalan pergi diikuti Neji di belakangnya.

Sasuke hanya terdiam mendengar perkataan Itachi. Tak bisa mendebat lebih jauh.

"Sial!" geram Sasuke sambil berjalan pergi.

# # #

Sasuke memasuki kamarnya dengan perasaan campur aduk. Dihempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Kepalanya terasa pusing. Belum selesai masalah Naruto, kini ia harus menghadapi masalah tunangan yang bahkan belum pernah ia temui.

"Ukh… aku bisa gila!" keluh Sasuke sambil menutup wajahnya dengan telapak tanan.

Tak lama kemudian Sasuke bangkit berdiri. Sambil membuka bajunya, Sasuke berjalan menuju kamar mandi.

Dibiarkannya air yang dingin membasahi seluruh tubuhnya. Sambil menatap pantulan wajahnya di cermin, kata-kata Naruto terus terngiang di kepalanya.

'Berhentilah berpura-pura seolah-olah kau adalah 'dia', karena kau bukan 'dia', dan kau tak akan pernah bisa jadi 'dia''

"Sial!" erang Sasuke.

"Dia meragukanku!" geram Sasuke sambil menatap tajam bayangannya. Dan sebuah ide terlintas di kepalanya.

"Hm," gumam Sasuke sambil tersenyum.

"Kau akan menyesal telah mengatakan itu, Naruto!"

# # #

Esok harinya…

Sasuke menatap pantulan wajahnya di cermin dengan puas. Hari ini ia menyuruh semua pelayannya untuk tidak menata rambutnya. Dan hasilnya, kini rambut Sasuke terlihat 'berdiri' melawan gravitasi. Sama persis seperti rambut Asuka. Para pelayan Sasuke hanya saling pandang tak mengerti melihat model rambut baru sang pangeran.

'Hm… sebenarnya akan lebih mirip kalau mataku berwarna hitam. Tapi seperti ini kupikir sudah cukup' pikir Sasuke sambil memandang cermin. Ia tak bisa begitu saja mengganti warna matanya menjadi hitam, karena mata merah adalah symbol bahwa ia adalah keluarga kerajaan.

Setelah Sasuke merasa penampilannya sempurna, ia segera pergi menuju ruang singgasana. Menemui sang kakak.

Dalam perjalanan menuju ruang singgasana, Sasuke mendapati semua orang menatapnya dengan mata terbelalak. Beberapa memekik pelan dengan pandangan tak percaya. Bahkan ada seorang gadis yang terjengkang menabrak tembok karena berjalan sambil menoleh menatap sasuke.

'Apa sebegitu anehnya?' Tanya sasuke dalam hati melihat reaksi semua orang.

Setelah sampai di depan ruang singgasana, Sasuke segera masuk dan mendapati Itachi tengah berbincang dengan Neji. Mendengar ada yang datang mereka berdua menoleh dan menatap Sasuke.

Sunyi…

"Sasuke…itu kau?" Tanya Itachi akhirnya. Sebelah alisnya terangkat.

"Hn," jawab Sasuke sambil berjalan mendekat.

"Kau… mengganti model rambutmu?" Tanya Itachi lagi.

"Kenapa?" Tanya Sasuke balik.

"Kau terlihat…" Itachi mencoba mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan rambut pantat ayam Sasuke.

"Unik," kata Itachi akhirnya.

"Hn," jawab Sasuke tak peduli sambil duduk dikursinya. Di samping kanan singgasana Itachi.

Itachi memandang Sasuke selama beberapa saat sebelum kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Neji.

Tak lama kemudian Itachi bangkit berdiri.

"Ikut aku, Sasuke!" kata Itachi sambil melangkah pergi.

"Hn," jawab Sasuke sambil bangkit dan berjalan di belakang Itachi.

Mereka memasuki salah satu ruangan di istana neraka. Di ujung ruangan itu berdiri seorang gadis berambut hitam panjang. Ia tengah berbicara dengan pelayannya. Membelakangi Sasuke.

"Aku ingin memperkenalkanmu dengan nona Hyuuga Hinata" kata Itachi membuat gadis itu menoleh. Gadis itu berkulit putih dengan mata berwarna violet pucat sama seperti mata Neji. Selama sedetik mata violet itu bertemu dengan mata Sasuke.

"Tunanganmu."

# # #

Pagi itu Naruto melangkah menuju istana dengan langkah gontai. Merutuki kesialannya. Kemarin ia kepergok bersama pangeran oleh raja neraka. Dalam posisi seperti itu pula. Naruto tak tahu apa yang dipikirkan raja neraka tentangnya, tapi ia berharap raja neraka tidak memikirkan apa yang Naruto kira ia pikirkan.

Naruto menghela nafas panjang.

"Masa bodoh! Kalau besok aku di takdirkan mati. Maka besok aku akan mati. Percuma menghindar," kata Naruto sambil terus berjalan memasuki istana. Tak merasa perlu menajamkan indranya. Karena ia tahu semua itu percuma.

Hari ini Naruto mendapat tugas untuk membersihkan taman bunga istana. Segera saja ia menuju taman istana.

"Yo… Naruto! Kau juga di tugaskan kemari?" Tanya sebuah suara.

Naruto menoleh dan dilihatnya Shikamaru tengah duduk di hamparan rumput. Disampingnya, Gaara berdiri bersedekap sambil bersandar di pohon.

"Kalian juga?" Tanya Naruto sambil berjalan mendekati mereka.

"Hm." jawab Gaara pendek.

Naruto memandang sekeliling. Beberapa prajurit neraka juga ditugaskan seperti Naruto.

Tanpa banyak bicara, Naruto mulai mengerjakan tugasnya. Mencabuti rumput, menyirami tanaman dll. Taman istana sangat luas. Tak heran membutuhkan beberapa prajurit neraka untuk membantu membersihkannya.

Saat matahari mulai tinggi. Seseorang menyodorkan sebotol air pada Naruto. Ia menoleh dan dilihatnya Gaara berdiri di belakangnya sambil menyodorkan botol air.

"Minumlah! Sudah waktunya istirahat" kata Gaara

Naruto menghentikan pekerjaannya. Menerima minuman yang disodorkan Gaara. Dilihatnya juga Shikamaru tengah berjalan ke arahnya.

Mereka bertiga duduk di bawah naungan sebuah pohon. Beberapa putri bangsawan juga tengah bercengkrama dan bergosip ria tak jauh dari tempat mereka.

Tiba-tiba Naruto mencium bau yang familiar. Tubuh Naruto menegang kaku. Dia berusaha rileks. Sambil meneguk minumannya Naruto menoleh.

Brush…

Naruto langsung menyemburkan semua air yang baru saja diminumnya.

# # #

"Tak kusangka ternyata Sasuke-kun sudah banyak berubah ya?" Tanya Hinata sambil tersenyum.

"Hn." jawab Sasuke sambil terus berjalan di antara koridor istana bersama Hinata.

Sasuke tak pernah mengira tunanganya adalah Hinata. Mereka berdua sering bermain bersama dulu waktu ia masih kecil. Saat itu Itachi sudah sering menghabiskan waktunya bersama Neji. Sementara Neji sering ditugaskan menjaga Hinata yang notabene adalah sepupunya. Jadi saat Itachi bersama Neji. Sasuke sering bermain bersama Hinata. Tapi itu sudah lama sekali.

Mereka berdua berjalan sambil berbincang tentang banyak hal. Walau Sasuke hanya menjawab 'hn' sebagai jawaban. Hinata merasa sedikit terkejut melihat Sasuke. Sasuke yang ia kenal dulu adalah seorang pangeran yang periang dan murah senyum.

Saat melewati taman istana mata Sasuke menangkap sosok Naruto yang tengah duduk di bawah pohon. Senyum Sasuke langsung merekah. Hinata yang melihat itu terpana. Senyuman itu sama seperti yang ia lihat waktu ia masih kecil. Padahal sedari tadi bersama Hinata, Sasuke tak pernah tersenyum.

"Keberatan kalau kita berjalan-jalan di taman?" Tanya Sasuke. Matanya masih menatap sosok Naruto.

"Tentu saja tidak, Sasuke-kun" jawab Hinata sambil melihat arah pandang Sasuke.

Dengan tenang Sasuke melangkah menuju taman istana. Ia mendengar para gadis memekik pelan saat melihatnya. Tumben sekali tak ada yang berteriak. Apa memang begitu aneh?

Sasuke berhenti melangkah saat dilihatnya dengan perlahan Naruto menoleh ke arahnya sambil meneguk sebotol air. Selama sedetik pandangan mereka bertemu. Dan.

Brush…

Naruto menyemburkan semua air yang baru saja diminumnya.

Sasuke hampir saja ingin tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Naruto. Kalau saja ia tidak sadar kalau ia tengah berada di taman istana yang ramai dan bahwa ia adalah seorang Uchiha. Tapi Sasuke tak bisa menahan senyumnya.

Dengan perlahan ia berjalan mendekati Naruto yang masih menatapnya tak percaya dengan bola mata yang seakan ingin keluar dari rongganya.

"Kalau minum itu lewat mulut, bukan lewat hidung..." kata Sasuke sambil tersenyum saat sampai di hadapan Naruto.

"Dobe," kata Sasuke lagi.

Naruto mengerjapkan matanya sebelum sadar apa yang terjadi.

"KAU…!" teriak Naruto sambil menunjuk Sasuke.

"Hn?" jawab Sasuke sambil bersedekap.

"APA-APAAN RAMBUTMU ITU?" teriak Naruto sambil berdiri.

"Kenapa?" Tanya Sasuke sambil tersenyum polos.

Naruto sudah akan berteriak kalau saja tidak ada sebuah suara lembut yang menyelanya.

"Sasuke-kun, mereka temanmu?" Tanya Hinata sambil berjalan di samping Sasuke. Memandang Naruto, Shikamaru Dan Gaara.

Naruto terpana memandang Hinata. Ia adalah gadis paling cantik yang pernah Naruto lihat.

"Hn," jawab Sasuke.

"Bukan, mana mungkin kami yang hanya Prajurit rendahan berteman dengan Yang Mulia Pangeran Uchiha Sasuke," sindir Naruto sambil memalingkan muka.

"Huh… sekali dobe selamanya tetap dobe" kata Sasuke.

"APA KAU BILANG?" teriak Naruto.

"Apa? Aku tak bilang yang dobe itu kau" kata Sasuke sambil menaikkan sudut bibirnya.

"KAU…" teriak Naruto

"Hi...hi…hi"

Suara tawa itu membuat Naruto dan Sasuke menoleh.

"Kalian berdua akrab sekali," kata Hinata sambil tertawa pelan.

"Perkenalkan, namaku Hyuuga Hinata, Tunangan Sasuke." kata Hinata sambil tersenyum.

Mendengar itu Naruto tertegun. Tiba-tiba saja ia merasa ribuan jarum menghujani dadanya.

"Begitu! Selamat atas pertunangan anda, Yang Mulia Pangeran." Kata Naruto sambil menunduk.

Sasuke dan Hinata terdiam.

"Maaf, hamba harus kembali bekerja. Hamba mohon diri," kata Naruto sebelum ia melangkah pergi diikuti Gaara dan Shikamaru.

Sasuke dan Hinata masih terdiam melihat perubahan Naruto.

"Ukh… sial!" erang Sasuke pelan sambil melangkah pergi.

"Ayo… Hinata!" ajak Sasuke.

"Eh, baik!" jawab Hinata sambil memandang kepergian Naruto sebelum berbalik dan melangkah pergi mengikuti Sasuke.

Di balik pohon tak jauh dari sana, sekelompok gadis memandang Naruto yang kini telah kembali bekerja.

"Beraninya dia bertingkah tidak sopan di hadapan pangeran!" geram salah seorang gadis.

"Iya! Prajurit neraka itu benar-benar harus diberi pelajaran," sahut yang lain.

"Hei… aku dapat ide,"

# # #

Dengan kasar Naruto mencabuti rumput yang tumbuh diantara tanaman bunga.

"Apa-apaan dia itu," gumam Naruto pelan.

"Apa dengan begitu ia pikir bisa membodohiku?" gumam Naruto sambil mencabut rumput lebih kasar.

"Dasar pangeran brengsek bodoh menyebalkan," gumam Naruto lagi.

Pikiran Naruto kembali pada gadis amat cantik bermata lavender yang berada di samping Sasuke. Mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi. Naruto menghentikan pekerjaannya. Ia merasa seakan tengah tenggelam di air yang gelap.

"Nona Prajurit, bisakah membantu kami sebentar?" Tanya seorang gadis berambut pirang panjang.

"Tentu, apa yang bisa ku bantu?" Tanya Naruto sambil bangkit berdiri lalu berjalan mengikuti gadis pirang itu. Mereka berdua berjalan menuju sudut taman yang sepi.

Buak…

Sesuatu yang amat keras menghantam kepala Naruto. Naruto langsung terhuyung dan ambruk ke tanah. Sebelum Naruto berusaha bangkit. Seseorang menarik rambut Naruto.

"Kau pikir kau itu siapa hah? Berani bersikap tidak sopan pada pangeran." Kata gadis pirang yang tadi mengajak Naruto.

Darah mulai membasahi rambut Naruto, mengalir menuruni wajahnya. Naruto membuka mata dan melihat sekeliling. Beberapa gadis putri bangsawan tengah mengelilinginya dengan raut muka kesal.

"Kau itu hanya Prajurit neraka yang rendah, kau harus sadar posisimu!" kata gadis itu lagi.

Naruto mulai paham apa yang terjadi.

'Dasar pangeran brengsek pembawa sial' batin Naruto dalam hati.

"Mau apa kalian?" Tanya Naruto dingin.

"Ino! Dia benar-benar kurang ajar." Kata gadis yang lain pada gadis pirang tadi.

Ino menjambak rambut Naruto dan menariknya berdiri.

"Apa kau bilang?" Tanya Ino.

Dalam sekejap Naruto menarik tangan Ino yang menjambak rambutnya dan menariknya ke belakang punggung.

"Kyaa…" teriak Ino kesakitan.

"Kalian salah kalau kalian berpikir bisa mengerjaiku," kata Naruto dingin.

Tiba-tiba saja salah seorang gadis melemparkan serbuk putih ke wajah Naruto. Naruto merasa tubuhnya lemas dan ambruk di tanah.

"Dasar prajurit rendah. Beraninya menyentuhku!" kata Ino sambil mengusap pergelangan tangannya.

Naruto hanya menatap kumpulan gadis itu tajam. Tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak. 'Sial!' umpat Naruto dalam Hati.

"Lihat! Apa yang bisa kita lakukan ya…, hm ada yang bawa pisau?" Tanya Ino pada yang lain. Salah seorang gadis menyerahkan sebilah pisau pada Ino.

"Kita sayat wajahnya atau potong habis rambutnya?" Tanya Ino sambil berjalan mendekati Naruto yang tergeletak di tanah.

Pandangan Naruto menggelap.

# # #

"Sasuke-kun?" panggil hinata.

Sasuke diam saja. Pandangannya menerawang jauh.

"Sasuke-kun?" panggil Hinata lagi. Kali ini sambil menepuk pundak Sasuke.

"Hn?" jawab Sasuke akhirnya sambil menatap hinata.

"Ada apa? Kau terlihat sedang berpikir keras?" Tanya Hinata sambil menatap wajah Sasuke.

"Bukan apa-apa," jawab Sasuke.

"Sedang memikirkan gadis bermata biru tadi ya?" Tanya Hinata sambil tersenyum.

"Hn… eh.. apa?" Tanya Sasuke dengan wajah terkejut.

"Hi..hi..hi Sasuke-kun benar-benar mudah di tebak ya?" kata Hinata sambil tertawa pelan.

"Darimana kau tahu?" Tanya sasuke sambil memalingkan muka.

"Em… naluri wanita, mungkin." jawab Hinata masih sambil tersenyum geli.

Sasuke hanya terdiam.

"Pergilah!" kata Hinata.

"Apa?" Tanya Sasuke tak mengerti.

"Pergilah, temui dia, maaf! Tadi sepertinya gara-gara aku dia salah paham," kata Hinata lagi.

Sasuke menatap Hinata lekat-lekat.

"Apa? Cepat pergi! Sebelum aku berubah pikiran loh!" goda Hinata.

Sasuke segera berbalik.

"Hinata?" panggil Sasuke.

"Ya?" jawab Hinata.

"Terima kasih," kata Sasuke sebelum melangkah pergi.

Hinata hanya tersenyum kemudian kembali melangkah menuju ruangannya.

# # #

Dengan langkah cepat, hampir terburu-buru, Sasuke melangkah menuju taman. Ditatapnya sekeliling. Namun sosok Naruto tak ada disana. Sasuke melihat Gaara dan segera melangkah ke arah mereka.

"Gaara, kau lihat Naruto?" Tanya Sasuke.

Gaara menatap Sasuke lekat-lekat sebelum kemudian beralih menatap Shikamaru.

"Sepertinya tadi aku melihatnya berjalan ke arah sana bersama seorang gadis," jawab Shikamaru sambil menunjuk ke arah tempat Naruto menghilang.

"Hn," gumam Sasuke sambil berjalan ke arah yang di tunjuk Shikamaru.

"Eh, Cuma perasaanku saja atau rasanya pangeran hari ini mirip dengan seseorang ya?" Tanya Shikamaru pada Gaara. Gaara hanya menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh.

Dengan lengkah cepat Sasuke melangkah ke arah yang ditunjuk Shikamaru. Ia ingin segera bertemu dengan Naruto sebelum kemudian ia mendengar seseorang bicara.

"Kita sayat wajahnya atau potong habis rambutnya?" kata sebuah suara. Perasaan Sasuke jadi tidak enak. Ia segera berlari ke arah suara itu dan mendapati Naruto tengah tersungkur di tanah dengan darah membasahi dahinya. Ia dikelilingi beberapa gadis bangsawan. Salah satunya tengah memegang pisau dan bersiap memotong rambut Naruto.

Secepat kilat Sasuke melangkah ke samping Naruto. Menahan tangan gadis pirang yang tengah membawa pisau.

"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Sasuke dengan nada dingin.

"Kya…" teriak Ino kaget. Ia segera melepas pisau yang di pegangnya dan melangkah mundur.

"Ano… Pangeran, kami hanya ingin memberinya pelajaran karena berlaku tidak sopan pada pangeran," jawab Ino. Tubuhnya bergetar hebat mendapati sang pangeran tengah menatap tajam mereka.

"Pergi!" perintah Sasuke.

"T-tapi pangeran!" Protes Ino.

"Pergi, sebelum aku benar benar marah!" kata Sasuke sambil menatap gadis itu dengan 3 koma berputar di matanya.

Tanpa banyak bicara, para gadis itu segera berhamburan pergi.

Sasuke segera berlutut. Menyibak rambut Naruto yang berantakan dan memeriksa luka Naruto. Untungnya lukanya hanya luka kecil. Sasuke segera menggendong Naruto ala bridal style dan pergi menuju istana.

# # #

"Ukh" erang Naruto sambil meraba kepalanya yang kini telah diperban.

Secara perlahan ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang hampir semuanya berwarna biru.

"Kau sudah sadar?" Tanya sebuah suara yang familiar.

Dengan tiba-tiba Naruto langsung bangkit dari tidurnya. Menyadari suara siapa iru.

"Aw!" erang Naruto saat merasa kepalanya pusing.

"Pelan-pelan!dasar dobe!" kata Sasuke sambil membantu Naruto berbaring lagi.

"Dimana aku?" Tanya Naruto

"Dikamarku," jawab Sasuke sambil duduk di samping ranjang Naruto.

"Apa?" teriak Naruto sambil berusaha bangkit lagi.

"Hei… diamlah!" perintah Sasuke.

"Kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Naruto.

"Kau dikerjai para gadis bangsawan," jelas Sasuke.

"Oh…" jawab Naruto mengerti

"Dasar! Melawan gadis-gadis seperti itu saja kau kalah" sindir Sasuke

"Hei… kau pikir ini salah siapa hah?" teriak Naruto

"Jadi kau menyalahkanku?" kata Sasuke tak terima.

"Huh… aku harap tak perlu bertemu denganmu lagi. Gara-gara kau aku selalu kena sial." Kata Naruto kesal.

"Oh… sayang sekali. Sepertinya mulai besok kau akan terus bertemu denganku" kata Sasuke sambil tersenyum.

"Kenapa bisa begitu?" Tanya Naruto tak mengerti.

"Mulai besok kau akan menjadi pengawal pribadiku!" kata Sasuke sambil bangkit berdiri dan menatap Naruto.

Sunyi…

"APA…?" teriak Naruto.

To Be continue…

Yah begini saja hehehe. Mohon maaf bila mengecewakan.

Oya saya akan balas beberapa review.

Vanadise : mata Sasuke disini warnanya emang merah. Tapi bukan Sharingan loh. Kalau Sharingannya aktif di matanya muncul 3 koma. Emang agak serem sih kalau dikira Sharingannya Stand by terus hehehe.

Fujoshi Nyasar : mohon maaf! Chap ini jadinya seperti ini. Maaf mengecewakan. Wah… saya senang sekali kamu mau menyukai fic ini. Mau dijadiin koleksi lagi. Tapi mohon maaf ya. Typonya masih betebaran. Saya belum sempat buat ngeditnya.

Black134 : maaf! Di Chap awal saya sudah menuliskan kalau saya dapet ide ini dari komik HARLEM BEAT UNTIL DAWN. Terus soal 'past'nya Naru. Hehehe mohon ditunggu ya!

Mohon maaf buat yang lain yang tidak bisa saya bales. Saya harap Chap depan saya bisa bales semuanya. Jadi mohon pendapatnya untuk chap ini ya…

REVIEW PLEASE…