Super Junior

Fantasy Adventure


"Serigala.. Iblis.. Serangan.. Kibum-ssi.. ada apa sebenarnya?" gumam Jungsoo pelan.

.

.

.


Final Zone

Sansan Kurai

2014


~Pukul 22.01 di Rumah Sakit~

Kepala Hyukjae serta Donghae saling terantuk pelan. Hyukjae dan Donghae tengah tertidur pulas dalam posisi duduk. Keduanya memang masih berada di rumah sakit, tepatnya di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat Sungmin. Bukannya keduanya tak diijinkan untuk masuk, namun Hyukjae yang tak ingin masuk untuk melihat keadaan Sungmin dan itu membuat Donghae mengurungkan niatnya untuk menemani Sungmin di dalam.

Seseorang dari jauh nampak memperhatikan Hyukjae serta Donghae dengan raut wajah bingung. Orang itu pun berjalan mendekati Hyukjae dan Donghae. Orang itu berniat membangunkan keduanya, namun diurungkan niatnya. Orang itu memilih untuk masuk dan melihat keadaan Sungmin.

"Itouku-sama.."

Jungsoo menghentikan langkahnya dan menatap Sungmin dengan lembut. Bibirnya mengembangkan senyum tipis dan senyum itu membuat Sungmin menarik sudut bibirnya.

"Kau baik-baik saja?"

"Heiki.. Heiki.." Sungmin mengangguk sembari mengibaskan tangannya. Walau lemah namun ia ingin menunjukkan pada orang di hadapannya ini bahwa ia benar-benar dalam keadaan baik.

"Baguslah.." angguk Jungsoo sembari melanjutkan langkahnya untuk mendekati ranjang Sungmin.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Itouku-sama?" tanya Sungmin dengan nada khawatir.

"Hey.. Seharusnya aku yang mengkhawatirkanmu! Kenapa malah kau yang mengkhawatirkanku?!" tegur Jungsoo lembut. Sungmin terkikik namun akhirnya ia menghentikannya saat dadanya terasa sakit.

"Itouku-sama tak perlu mengkhawatirkanku. Anata—"

"Aku tahu Sungmin.." potong Jungsoo. Jungsoo menarik kursi agar lebih dekat dengan kepala ranjang dan ia menghempaskan tubuhnya di kursi itu lalu menatap mata Sungmin intens. "Kau ingat siapa yang menyerangmu pagi ini? Jangan coba-coba berbohong padaku!"

Sungmin yang sudah tahu akan mendapat pertanyaan ini dari Jungsoo hanya menautkan kedua jari telunjuknya dan memainkannya, memutar-mutarkannya hingga kedua jari itu berhenti bermain kala Jungsoo menggenggam jari itu.

"Jawab aku Lee Sungmin!" tegas Jungsoo. Sorot matanya yang menuntut jawaban penuh kejujuran kini menusuk mata jernih Sungmin. Sungmin pun mendesah pelan dan selanjutnya ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau sedang tak berbohong padaku kan Lee Sungmin?!" selidik Jungsoo.

"Walalupun aku berbohong Itouku-sama pasti akan mengetahuinya.." jawab Sungmin polos.

"Lalu.. kenapa kertas ini bisa ada padamu?" Jungsoo mengeluarkan kertas lusuh berwarna coklat dari saku jaketnya lalu menyerahkannya pada Sungmin. Sungmin nampak menatap bingung kertas lusuh itu walau jantungnya berdegup kencang.

"Ini.. ada padaku?" tanya Sungmin sembari menatap Jungsoo dengan tatapan polosnya. Jungsoo mengangguk. Sungmin mengangkat tangannya dan meraih kertas lusuh itu dari tangan Jungsoo dan membacanya, "na eíste prosektikoí me to diávolo kai tou lýkou."

"Kau tahu apa maksudnya?" tanya Jungsoo. Sungmin menggeleng sembari menatap wajah Jungsoo.

"Sebuah surat ancaman? Sesuatu tentang membunuhku?" Wajah ketakutan yang polos itu membuat Jungsoo menggeleng gemas. Sisi angkuh serta pribadinya yang dingin menghilang begitu saja saat ia berada didekat Sungmin. Namun Jungsoo tak pernah menyadarinya. Jungsoo merasa bahwa ia selalu memperlakukan orang lain sama.

"Bukan itu.. Ini seperti sebuah peringatan.. Berhati-hatilah dengan Iblis dan serigala.."

Selama sepersekian detik Sungmin menatap Jungsoo sembari mengedipkan matanya berkali-kali bak seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Detik berikutnya Sungmin tertawa lepas sembari mengaduh-aduh kesakitan dan itu membuat Jungsoo diserang kepanikan.

"Hentikan Sungmin! Lukamu akan terbuka lagi nanti!" seru Jungsoo. Namun Sungmin masih saja tertawa sembari mengaduh.

"Hahaha... aduhhhh... hahaha... iblissss... aduhh... hahaha... sakitttt..." Sebutir air mata mengalir dari mata Sungmin dan itu membuat Jungsoo membulatkan matanya.

"Cukup Sungmin! Kau melukai dirimu sendiri!" tegas Jungsoo. "Hentikan!"

"Aduhhh... baiklah.. hahaha..."

Kali ini Sungmin berusaha menenangkan dirinya, menghembuskan nafas berkali-kali. Namun baru beberapa detik ia kembali tertawa dan itu membuat Jungsoo memukul kaki Sungmin dan kelakuan Jungsoo semakin membuat Sungmin tertawa keras.

"Astaga! Kau mau membuatku mati khawatir ya!" seru Jungsoo frustasi.

Malam itu kamar rawat Sungmin dipenuhi oleh tawa kesakitan Sungmin serta seruan frustasi Jungsoo yang tak bisa melakukan apapun terhadap Sungmin. Sedangkan Hyukjae serta Donghae yang tengah terbang ke alam mimpi pun tak terganggu dengan semua keributan kecil itu.


~Pukul 00.00 di suatu tempat~

"Bagaimana?"

"Sungmin baik-baik saja dan kita belum tahu siapa yang sudah menyerangnya. Yang lain baik-baik saja, tapi.. kita tak bisa membawa mereka pergi. Ada anthropinos di dekat mereka. Aku tak mau ambil resiko antrhopinos ikut terbawa."

"Hanya satu anthropinos kenapa membuatmu setakut itu? Dan keadaan sudah semakin genting. Jika mereka tak segera datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan tempat ini dan tempat tinggal mereka. Semuanya pasti akan kacau."

"Tunggu dan bersabarlah, mereka pasti bisa membawa mereka datang."

"Sampai kapan kita akan menunggu?"

"Sampai hati mereka mau mengakui keadaan yang sebenarnya."


~Waktu yang sama di Rumah Sakit~

Suasana rumah sakit nampak sunyi dan gelap bagaikan tak berpenghuni. Kesunyian itu tiba-tiba terganggu oleh suara langkah kaki. Semula hanya samar-samar, namun lama kelamaan suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas dan menggema di lorong rumah sakit yang sunyi itu. Sungmin yang beberapa saat lalu mengubah posisi tidurnyapun segera terjaga kala mendengar suara yang mengganggu pendengarannya.

"Siapa yang berkunjung malam-malam begini," bisik Sungmin. Perlahan Sungmin menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Bersyukurlah Sungmin karena Jungsoo sudah pulang ke rumahnya setelah mendapat paksaan darinya dan Jungsoo dengan kasar membangunkan Hyukjae serta Donghae untuk menyuruh mereka tidur di rumah.

Langkah kaki itu semakin dekat dengan kamar rawat Sungmin dan Sungmin bisa merasakan bahwa pemilik suara langkah kaki itu tengah berjalan menghampiri kamarnya.

Srekk!

Seseorang berjubah hitam kelam dengan topeng berwarna senada kini tengah berdiri di depan pintu dengan tangan yang masih setia memegang sisi luar pintu. Namun tiba-tiba tangannya mengepal dan menghantam pintu kamar itu. Sebuah lekukan yang cukup dalam tercipta pada pintu itu akibat perbuatan orang berjubah hitam itu. Orang itu membalikkan tubuhnya sembari menyibakkan jubahnya kasar dan detik berikutnya orang tersebut menghilang.

"Akuma.." desis Sungmin sembari keluar dari tempat persembunyiannya beberapa saat lalu.


~22 April 2013

Pukul 11.50 di SMA Geosang kelas 11-2~

Seminggu telah berlalu sejak penyerangan terhadap Sungmin. Pihak sekolah berusaha menutup rapat-rapat atas penyerangan-penyerangan itu. Siswa-siswi yang melihat kejadian itupun diminta untuk tak mengatakan apapun perihal tentang itu. Dan beberapa dari mereka mulai melupakan peristiwa mengerikan itu karena sibuk dengan berbagai pelajaran yang mereka ikuti.

Namun tidak dengan Donghae. Saat pelajaran tengah berlangsung dan seorang guru wanita tengah menerangkan di depan kelas dengan menggebu-gebu, Donghae malah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tangan kanannya yang memegang pensil tengah sibuk menggambar pada halaman belakang buku tulisnya. Donghae terlihat sangat serius hingga tak menyadari ada yang memanggil namanya dari luar kelas.

Beberapa siswa yang berada dekat dengan pintupun menoleh kearah Donghae namun tak berniat untuk memanggil anak itu.

Srakk!

"Ya!" Donghae berseru marah kala kegiatan mengasyikkannya terganggu. "OH! Guru Han!"

"Kau malah menggambar disaat aku sedang menerangkan materi pelajaran?" seru Guru Han sembari mengangkat tinggi-tinggi hasil karya Donghae. Nampaklah jelas sekarang, apa yang sedari tadi digambar oleh Donghae. Sebuah sosok mengenakan jubah hitam panjang dengan topeng hitam diwajahnya. Seseorang diluar kelas yang sedari tadi memanggil nama Donghae dengan suara pelan nampak memperhatikan hasil karya Donghae sejenak sebelum akhirnya menyingkir dari kelas Donghae.

"KELUAR DARI KELASKU!" Perintah yang tak dapat dibantah itu membuat Donghae mendengus kesal dan Donghae pun melangkahkan kakinya keluar kelas.

"Tanpa mendengarkan ocehannya aku juga bisa belajar sendiri," gerutu Donghae setelah berada di luar kelas. "Lebih baik aku ke kelas Hyukjae. Sedang apa dia sekarang? Apa masih sibuk belajar?"

"Donghae.."

"Ngg~"

Donghae menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat ia merasa ada yang menyerukan namanya dengan pelan di lorong sekolah itu.

"Di sini.."

"Astaga! Sungmin!" desis Donghae saat melihat Sungmin tengah bersembunyi di balik pintu ruangan yang ada di sisinya. Hanya kepala Sungmin yang terlihat di sana dan itu membuat Donghae terkejut. Donghae segera membuka pintu itu dan masuk ke ruangan yang sama dengan Sungmin. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bersembunyi? Dan—"

"Aku sudah sembuh Donghae.." ucap Sungmin.

"Jungsoo hyung tahu kalau kau sudah keluar dari rumah sakit?" selidik Donghae.

Sungmin mengangguk ragu sembari menatap Donghae dengan tatapan polosnya.

"Oh~ Sungmin! Jangan menatapku seperti itu.." ujar Donghae frustasi. Sedangkan Sungmin hanya tersenyum senang, tahu jika keinginannya akan segera terpenuhi. "Apa?"

"Bisa kau bantu aku menemui Hyukjae?"

"D—"

"Tapi jangan sampai Itouku-sama tahu," potong Sungmin cepat. Donghae mendelik ke arah Sungmin. Tak suka dengan sikap Sungmin yang memotong ucapannya begitu saja. Namun akhirnya Donghae mendesah pasrah saat melihat Sungmin terus menatapnya dengan tatapan polosnya yang membunuh.

"Baiklah.. Aku juga berencana menemuinya sekarang, kau bisa ikut denganku."

"Doumo arigatou gozaimasu!" seru Sungmin sembari memeluk Donghae erat.

"Siapa yang menyuruhmu menemui Hyukjae? Dan siapa yang menyuruhmu keluar dari rumah sakit!"

Sungmin segera melepas pelukannya terhadap Donghae dan menatapa sosok di depannya dengan takut-takut. Sedangkan Donghae langsung menundukkan kepalanya, takut.

"Itouku-sama... aku.. aku.." Terbata-bata Sungmin merangkai kata-katanya dan itu membuat Jungsoo menatapnya dingin.

"Apa kau mau kembali seperti dulu lagi!" gertak Jungsoo keras. Sungmin yang semula menatap Jungsoo takut-takut kini memilih untuk menundukkan kepalanya.

"Gomen.." lirih Sungmin. Tanpa berucap apapun Jungsoo menggenggam tangan Sungmin dan menariknya pergi dari ruangan itu. Sebelum Sungmin benar-benar menghilang, ia menatap Donghae sejenak dengan tatapan minta maaf. Donghae hanya mengangguk paham dan mendesah keras setelah keduanya tak terlihat.

"Dia itu seperti hantu," gerutu Donghae sembari berjalan keluar ruangan. "Muncul tiba-tiba dan selalu membuatku ketakutan."

"Donghae!"

"HYUKJAE!" Donghae berseru marah sembari memegangi dadanya. Merasakan detak jantungnya yang berdetak tak normal. "Sekali lagi kau mengagetkanku, ku cincang kau!"

Hyukjae hanya terkekeh mendengarnya.

"Ke kantin?" ajak Hyukjae dan Donghae hanya mengangguk untuk menanggapi ajakan itu. Sama sekali tak ada niatan untuk menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya di ruangan tadi.


~Pukul 21.23 di sebuah tempat sepi dekat sungai~

Terlihat dua orang pria tengah saling berhadapan. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Salah seorang dari mereka menatap yang lain dengan tatapan membunuh sedangkan yang ditatap hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah.

PLAKK!

Tamparan keras itu membuat sang pria dengan kepala menunduk terkejut.

"Jangan pernah sentuh Sungmin lagi!"

Setelah memberikan satu peringatan, pria itu segera pergi meninggalkan pria yang baru saja ditamparnya. Sedangkan pria yang ditampar itu berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Namun akhirnya ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan mulai menjatuhkan butiran-butiran air mata yang sudah tak bisa ditampungnya.

Disisi lain, seorang pria berstelan jas mahal memperhatikan keduanya dengan mata berkaca-kaca.


~Jam yang sama di kamar Donghae~

"Aish! Kemana bocah bodoh itu! Kenapa ponselnya tidak aktif?" maki Donghae sembari membanting ponselnya yang entah sudah keberapa kalinya. Sedang sibuk memikirkan keberadaan sahabatnya yang bodoh itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah kesal Donghae menghampiri pintu kamarnya dan membukanya dengan kasar. "Apa?!"

"Apa Ibu mengajarimu berbicara seperti itu?"

"Ibu.. ayolah.. aku sedang tak ingin berdebat dengan Ibu. Aku sudah cukup lelah memikirkan bocah bodoh itu!"

"Bocah bodoh? Maksudmu..."

"Hyukjae!" Donghae melanjutkan ucapan sang Ibu yang menggantung dengan singkat. Sedangkan sang Ibu hanya menganggukkan kepalanya paham. "Ada apa Bu?"

"Ada yang mencarimu di depan.. Tapi bukan Hyukjae.."

"Lalu?" Donghae mengernyitkan dahinya, berfikir siapa yang bertamu malam-malam begini. Tanpa menunggu jawaban sang Ibu, Donghae segera keluar dari kamarnya dan sedikit berlari menuju pintu utama. "S—Sungmin.."

"Apa aku mengganggu istirahatmu?"

"Ti—Tidak.. A—ayo masuk.."

Entah kenapa, Donghae nampak sangat terkejut melihat sosok imut di depannya.

"Kenapa kau jadi gugup seperti itu? Itouku-sama tak akan tahu kalau aku datang menemuimu. Jadi kau tenang saja.."

"Baiklah.." pasrah Donghae. "Masuklah.."

"Tak usah, aku ke sini cuma ingin minta tolong padamu.."

"Apa?"

"Bisa kau mengantarkanku ke tempat Hyukjae?"

"Apa?! Lagi?"

"Apa maksudmu dengan lagi? Aku baru memintamu mengantarkanku ke sana sekali ini!" sungut Sungmin.

"Oh Sungmin... kenapa kau membuat hidupku sengsara.." ratap Donghae.

"Hanya sekali ini saja... bantulah aku.. Itouku-sama tak akan tahu," rengek Sungmin tanpa peduli dengan ratapan Donghae.

"Tidak mau!" tolak Donghae dan membuat Sungmin terkejut. Ia menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca. Donghae memalingkan wajah dan menutup kedua matanya.

"Donghae... bantu aku.." rengek Sungmin. Donghae mendesah keras lalu memberanikan diri menatap wajah Sungmin.

"Berikan aku penjelasan, kenapa kau memaksaku untuk mengantarkanmu ke tempat Hyukjae? Jangan-jangan..." Donghae menatap Sungmin horor. "Kalian..."

"Pernah..."

"Berpacaran?!" potong Donghae cepat. Ditatapnya terus Sungmin yang hanya bisa menundukkan kepalanya. "Kalian benar-benar berpacaran?! Jawab aku Lee Sungmin!"

"Sssstttt... Jangan keras-keras.." desis Sungmin sembari mengerucutkan bibirnya.

"Astaga! Sungmin!" Donghae menyandarkan tubuhnya ke sisi pintu. Tubuhnya terasa lemas.

"Kau tidak apa-apa Donghae?" tanya Sungmin. Ia menatap Donghae khawatir. Selanjutnya, Donghae segera menegakkan tubuhnya dan menatap Sungmin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kalian sakit!" sembur Donghae dan ia segera masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu. Meninggalkan Sungmin yang hanya bisa berdiri mematung.

"Dia... marah?"

to be continued~


oha~ ^_^

comeback lagi deh nih fanfic...
dichapter kemarin banyak yg review 'penasaran'..
ada jg yg bingung sama Kibum... penasaran tentang Kibum juga ya? xD

makasih yg masih setia baca fanfic ini...
buat fanfic yg lain maybe aku belum akan update...

dan hanya sekedar info..
fanfic Afterlife dan Mysterious Circus statusnya adalah discontinue..
tapi ada seseorang yg akan melanjutkan fanfic itu...
untuk saat ini dia hanya akan melanjutkan Mysterious Circus..
jadi berharap saja dia akan melanjutkan fanfic itu dengan baik...
sebagai bocoran, dia akan merombak semuayg ada di Mysterious Circus tanpa merubah karakter mereka...
dan yg berniat melanjutkan fanfic Afterlife silahkan kunjungi page FB 'Tenshi 39' *promo*

so... the last...
sangat membutuhkan review kalian... ^_^v
jadi silahkan berikan review terbaik kalian...
arigatou minna..

chu~

(NB : ini sama sekali belum aku edit, so kalau banyak typo berterbaran maafkanlah..)