Hay…

Maaf menunggu lama.

Terimakasih buat:

Azura Pink Ruezi

Black Aquamarine

Kuroi5

Meli .S. B'Mepasupati

Sizunt Hanabi.

Mechakucha No aoi Neko.

LUKIAST

Uzumaki Winda

CCloveRuki

Zaivenee

Kuchiki Hirata

Fujoshi Nyasar

Runa Meido

Aoi No Kaze

Sweets Strawberry

Renmi3 Novanta

Karena masih bersedia review..

N balasan buat.

Vanadise: maunya sih langsung saya buat jadi istrinya Sasu , tapi ntar g seru donk.

Yozai :wah… sepertinya saya mulai pervert nih…

Zee Rasetsu : makasih ini saya update.

Mikami : ini saya update.

Mokkun Gembul : yup saya mau buat yang lebih lucu tapi gak bias *nangis* bagaimana dengan chap ini?

Ustafi Nanohana : maafkan saya! Saya mohon maafkan saya *pundung di pojokan berminggu-minggu*

Tsukiyomi Hikari : hinata gak punya perasaan apa-apa kok ke sasu. Kan memang bias buat bangsawan nikah tanpa cinta . maaf. Harap sabar. Mungkin sekitar chap 15

Naru3 : em…* posemikir* gak juga. Sasu tetep cool kok ma yang lain , kecuali ma naru saya…

Miyako Shirayuki : mungkin sekitar chap 15. sepertinya tidak. Maaf

Uzumaki Shion : soal itu tunggu nanti saja * devil smirk*

Hiroki : ini saya update. Maaf lama…

naMIAkaze Kawaii : terimakasih. Ini juga pair favorit saya.

Kirana.: saya masih butuh rambut panjang naru untuk efek dramatis *dilempar sandal* hehe

Qiao : apa maksudnya bashing? Saya gak ngerti. Maaf. Yup. Seneng banget bikin sasu menderita. Tapi chap ini sepertinya giliran naru.

Agi : cob abaca kejutan di chap ini *devil smirk*

Shiroyuki Schiffer: saya juga berfikir begitu. Hehe

Justin bieber : yea.. ini saya update.

Terimakasih! Leganya bias balas semua review.

Terimakasih lagi pada semuanya yang masih bersedia review padahal chap kemarin typonya seperti pasir di lautan *artinya buanyak banget* mohon maaf!

Sesuai janji saya. Saya bekerja keras di chap ini. Maaf mungkin alurnya terasa cepat. Tapi saya harap semua menyukainya.

Selamat membaca.

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

Chapter 11 : New Guardian.

Pagi ini Naruto langsung bergegas menuju ruang tugas. Dalam perjalanan Naruto selalu berdoa semoga apa yang ia takutkan tidak benar-benar terjadi. Namun betapa kecewanya Naruto saat menemukan tulisan :

"DITUGASKAN SEBAGAI PENGAWAL PRIBADI YANG MULIA PANGERAN UCHIHA SASUKE DALAM BATAS WAKTU YANG BELUM DITENTUKAN"

Dengan segera Naruto meremas surat tugas itu.

"S..I..A..L..A..N…! pangeran brengsek itu…"geram Naruto sambil berjalan menuju kamar Sang pangeran. Dalam perjalanan yang singkat itu, Naruto sudah memikirkan ratusan cara untuk membuat sang pangeran Uchiha menyesal telah menjadikannya pengawal.

Saat sampai di depan kamar sang pangeran, Naruto bertemu dengan beberapa prajurit nereka yang juga ditugaskan menjadi pengawal pangeran. Dan terkejut mendapati beberapa wajah yang familiar.

"Gaara… Shikamaru?" panggil Naruto tak percaya.

"Naruto! Kau juga?" Tanya Shikamaru

"Kalian juga ditugaskan sebagai pengawal pangeran?" Tanya Naruto sambil berjalan ke arah mereka.

"Hm" jawab Gaara pelan.

"Setelah memburu, kita ditugaskan untuk menjaga? Benar-benar merepotkan!" kata Shikamaru malas.

Greek…

Pintu kamar sang pangeran terbuka. Kelima prajurit yang ada di situ langsung berlutut. Hari ini pangeran mengenakan baju butih kerah berdiri V yang terbuka lebar. Menampakkan dadanya yang bidang. Dengan tali besar berwarna ungu yang dijadikan ikat pinggang.

"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran" kata kelima prajurit bersamaan.

"Hn" jawab Sasuke sambil berjalan pergi.

Kelima prajurit itu segera berdiri dan mengikuti sang pangeran. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Sasuke berbalik dan berhenti tepat di hadapan Naruto.

"Pagi…, dobe!" bisik Sasuke di telinga Naruto sambil tersenyum.

Naruto membeku. Namun sebelum ia dapat bereaksi, Sasuke sudah berbalik dan kembali berjalan. Meninggalkan Naruto yang masih mematung denagn muka yang merona.

"Teme brengsek" desis Naruto pelan.

# # #

Mata Naruto mengikuti setiap gerakan sang Pangeran yang kini tengah berlatih di lapangan latihan kerajaan. Dengan gesit Sasuke mengayunkan chokutonya dengan gerakan yang cepat dan mematikan. Beberapa kali pula sang pangeran mengalirkan cakra petir ke dalam pedangnya, membuat dampaknya semakin mengerikan.

Setelah beberapa lama, Sasuke berhenti dan mengambil nafas selama beberapa saat. Lalu memandang Naruto yang tengah menatapnya dengan seksama. Sasuke menyeringai.

"Naruto! Mau menjadi teman berlatihku sebentar?" Tanya Sasuke sambil tersenyum mencurigakan.

Walau agak khawatir, Naruto melangkah maju. Tidak. Ia tidak takut. Hanya sedikit curiga.

Sasuke menyarungkan chokutonya dan menatap Naruto.

"Hanya taijutsu, OK! Dengan tangan kosong tanpa ninjutsu!" kata Sasuke sambil menaikkan sudut bibirnya.

Naruto ikut menyeringai. 'Huh… satu kesempatan untuk membuatnya menyesal' batin Naruto

Naruto melemaskan tangannya hingga terdengar aba-aba 'mulai'.

Dengan kecepatan tinggi Naruto segera melesat ke arah sasuke dan melayangkan pukulan tepat ke wajahnya. Dalam detik terakhir Sasuke berhasil menghindar dengan selisih hanya beberapa milimeter dari kulitnya. Dengan segera Sasuke menangkap pergelangan Naruto.

"Jangan terlalu semangat, dobe!" bisik Sasuke di telinga Naruto.

Naruto bergidik pelan. Sebelum kemudian melayangkan tendangan ke arah Sasuke yang juga di tangkis dengan tangan kiri. Mereka berdua terus beradu pukulan dan tendangan dalam kecepatan tinggi. Naruto mulai kesal karena tak satupun pukulannya mengenai Sasuke. Ia mulai terburu-buru. Sasuke memanfaatkan kesempatan itu. Dengan segera ia melontarkan tubuhnya ke depan Naruto hingga wajahnya hanya berjarak satu senti dari wajah Naruto. Naruto yang terkejut secara refleks langsung melangkah mundur. Namun ia kehilangan keseimbangan. Naruto jatuh ke belakang dengan posisi kepala duluan.

Melihat itu Sasuke segera menangkap pinggang Naruto. Menahannya dalam posisi setengah ambruk. Mereka berdua saling pandang selama beberapa saat sebelum kemudian Sasuke tersenyum Jahil dan menarik Naruto ke pelukannya.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum sadar apa yang terjadi.

"Le..lepas!" kata Naruto panic.

Bukannya melepaskan Naruto, Sasuke malah memepererat pelukannya.

"Kau harus lebih berhati-hati, Dobe! Atau aku akan mengikatmu seperti ini supaya kau tak akan menghancurkan kepalamu saat aku tak ada" Kata Sasuke membuat wajah Naruto merona merah.

Dengan sekuat tenaga Naruto menginjak kaki Sasuke.

"Aw…" pekik Sasuke secara refleks melepaskan Naruto.

Naruto segera melompat mundur beberapa meter.

"DASAR PANGERAN MESUM BRENGSEK" teiak Naruto dari kejauhan.

"Huh, kau curang, Dobe!" kataSasuke sambil mengernyit memegangi kakinya.

Sementara semua orang yang ada di sana hanya saling pandang.

# # #

Naruto mencuci mukanya dengan kesal. Setelah peristiwa di lapangan latihan tadi tak henti-hentinya Naruto menggerutu pelan. Niatnya untuk membalas Sasuke justru berbalik 180 derajat.

"Sial" maki Naruto sambil membersihkan mukanya dengan handuk.

"Uzumaki-san. Anda disini rupanya" kata seorang utusan khusus yang terlihat familiar.

"Sai-san? Ada apa?" Tanya Naruto heran.

"Bisakah anda mengantarkan surat ini untuk yang mulia pangeran?" Tanya sai sambil tersenyum

"Tentu! Tapi kenapa bukan anda sendiri yang mengantarkannya?" Tanya Naruto curiga.

"Saya masih ada tugas lain yang harus saya kerjakan. Lagipula anda adalah pengawal yang mulia, jadi saya yakin anda akan mengantarkan surat ini dengan selamat" kata Sai sambil tersenyum mengerikan.

"ba..baik!" jawab naruto. Merinding.

"yah… terima kasih" kata sai sambil berjalan pergi.

Sambil menghela nafas panjang, Naruto kembali berjalan menuju kamar sang pangeran. Di pintu depan ia bertemu dengan Gaara dan Shikamaru.

"Apa pangeran di dalam?" Tanya Naruto.

"Ya! Kau masuk saja" jawab Shikamaru malas.

Naruto mengetuk pintu selama beberapa saat. Karena tak mendapat jawaban, Naruto langsung membuka pintu dan berjalan masuk. Ia berjalan mengahampiri Sasuke yang terlihat berbaring di ranjang.

Naruto berhenti tepat di samping ranjang dan memperhatikan Sasuke yang masih tertidur lelap. Ia masih menggunakan baju latihan. Mungkin terlalu lelah untuk mengganti pakaian.

Naruto manatap sasuke dengan seksama. Memeperhatikan garis wajah Sasuke yang tegas. Beberapa bulir keringat menghiasi dahinya. Dengan mata terpejam dan rambut hitam berantakan yang membingkai wajah pucatnya, saat tidur seperti ini, Sasuke benar-benar terlihat seperti Asuka. Karena ekspresinya saat tidur benar-benar sama.

Seakan terhipnotis, Naruto mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Sasuke. Namun saat ujung jarinya hanya berjarak satu senti dari wajah Sasuke, naruto tersadar dan dengan segera menarik tangannya. Tiba-tiba saja sebuah tangan pucat menangkap pergelangan tangan Naruto dan menariknya menyentuh pipi Sasuke.

"Kenapa tidak jadi?" Tanya Sasuke masih dengan mata terpejam. Menggosokkan tangan Naruto ke pipinya lalu menarik nafas Dalam-dalam.

"Ap..apa maksudmu?" Tanya Naruto sedikit panic dan berusaha menarik tangannya.

Namun Sasuke lebih kuat. Ia menarik Naruto hingga membuatnya terjatuh.

"Uwa.." pekik Naruto kaget.

Naruto terjatuh tepat di atas Sasuke dengan bunyi bruk pelan. Sasuke segera mengaitkan tangannya ke pinggang Naruto, membuatnya tak bias bergerak.

Rambut Naruto yang panjang terurai lembut di pipi Sasuke. Sementara tangan Naruto berada di dada Sasuke. Berusaha untuk bangun.

Sasuke membuka matanya. Menatap dalam dalam mata biru Naruto yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

"Kau tahu apa maksudku" kata Sasuke pelan tepat di depan hidung Naruto.

Membuat Naruto menghirup aroma kental sasuke dengan hidungnya yang sensitive. Seperti asap yang tebal, aroma Sauke berputar-putar di otak Naruto. Menyelubungi dan membuatnya tak bisa berpikir. Tangannya mulai bergetar saat tanpa sengaja menyentuh dada bidang Sasuke yang memang terbuka. Matanya menatap mata merah Sasuke yang terlihat hangat.

Dada Naruto berdesir. Dengan segera Naruto menutup matanya dan menahan nafas. Berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya malu. Karena aroma Sasuke yang begitu kental membuat jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya seakan tak bisa dikendalikan.

Sasuke menatap Naruto yang memejamkan matanya erat-erat dan wajahnya yang memerah karena menahan nafas terlalu lama.

"Kau kenapa, Dobe?" Tanya Sasuke sedikit khawatir sambil melepaskan pelukannya.

Menyadari itu, Naruto segera bangkit dan melompat mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Dengan segera ia menghirup nafas dalam dalam. Berusaha menghapus bau kental Sasuke dari otaknya. Membuatnya terlihat seperti oarng yang habis tenggelam. Terengah engah mencari udara segar.

"Ada apa?" Tanya Sasuke lagi.

Naruto menatap tajam Sasuke.

"Kau bau, Teme!" kata naruto di sela-sela nafasnya yang terengah.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Aku tidak bau!" kata Sasuke tegas.

"Ya, kau bau!" balas Naruto.

"Tidak" tegas Sasuke.

"Iya"

"Tidak"

"Iya"

"Tidak"

"Hah… sudahlah! Aku hanya ingin mengantar surat ini dan segera pergi" kata Naruto sambil memandang matahari yang mulai terbenam.

Sasuke mengambil Surat itu dan segera membacanya.

"Dasar aniki brengsek! Membebankan tugas seperti ini padaku" kata Sasuke sambil memeras surat itu.

"ada apa?" Tanya Naruto

"huh… bersiaplah! Besok kita pergi ke Suna! Tolong beritahu yang lain" kata Sasuke sambil melangkah menuju kamar mandi.

Sampai di kamar mandi, Sasuke segera mengendus tubuhnya.

"Apa aku benar-benar bau?" Tanya Sasuke pelan.

# # #

Esok harinya di pagi yang cerah…

"Ambilkan bajuku"

Naruto menghambil baju yang sudah disiapkan pelayan dan memberikannya pada Sasuke.

"Jubah"

Tiga sudut siku-siku mulai muncul di dahi Naruto. Namun ia tetap diam sambil mengulurkan sebuah jubah pada Sasuke.

"Sepatuku"

Tiga sudut siku-siku bertambah lagi di dahi Naruto. Dengan tangan bergetar ia mengulurkan sepatu pada Sasuke.

"Naruto! Cium aku"

Dengan sekuat tenaga Naruto melempar sepatu yang masih di pegangnya ke muka Sasuke.

"APA-APAAN ITU! AKU BUKAN PELAYANMU" teriak Naruto sambil menunjuk kea rah Sasuke yang tengah menangkap sepatu yang dilempar Naruto dengan tangannya.

"lalu kenapa kau menuruti perintahku?" Tanya Sasuke sambil tersenyum polos.

"DASAR PANGERAN BRENGSEK MANJA MENYEBALKAN" teriak Naruto lagi.

"Tapi kau menyukai ku kan?" Tanya Sasuke

"KAU MASIH TIDUR YA?" teriak Naruto lagi.

Para pelayan dan pengawal Sasuke hanya bisa saling pandang melihat tingkah laku pangeran dan pengawal barunya. Yah setidaknya tidak ada acara lempar barang.

BRUAK…

Belum.

# # #

Sasuke tersenyum kecil saat melihat Naruto duduk di depannya dengan muka cemberut. Yang sejujurnya membuatnya tambah imut.

Seperti yang di rencanakan, hari ini mereka berangkat menuju Suna pagi-pagi sekali. Mereka berangkat menggunakan sebuah kereta dengan Gaara dan Shikamaru sebagai kusirnya. Dua orang pengawal lain mengikuti di belakang dengan menunggang kuda. Sementara Naruto berjaga di dalam kereta bersama Sasuke.

Mereka berdua hanya diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Sasuke berpura-pura sibuk dengan membaca buku. Walaupun sedari tadi ia matanya mengikuti gerak-gerik Naruto yang terlihat gelisah. Dilihatnya lagi Naruto yang kini tengah menyandarkan kepalanya di dekat jendela. Matanya menatap keluar.

'Mungkin ia hanya terlalu waspada' batin Sasuke dalam hati. Memutuskan kembali membaca bukunya.

# # #

'SIALAN! Kenapa aku yang kebagian berjaga di sini?' runtuk Naruto dalam hati.

Diliriknya Sasuke yang tengah sibuk membaca buku. Naruto berusaha sekuat tenaga menjaga nafasnya tetap teratur. Setelah peristiwa kemarin, entah mengapa bau Sasuke menjadi lebih sensitive di hidung Naruto. Dan sekarang mereka berdua berada di kereta yang kecil ini hanya berdua. Tak ada bau lain yang bias mengalihkan perhatiannya, sementara bau Sasuke terasa semakin pekat di ruangan yang sempit ini.

Naruto melirik Sasuke lagi. Hari ini ia memakai baju pangeran berwarna hitam dengan kerah berdiri. Diperhatikannya leher Sasuke yang jenjang. Lalu kulit pucat wajahnya yang terlihat sangat kontras dengan warna baju hitamnya. Naruto menelan ludah. Merasakan dorongan untuk menyentuh wajah pucat itu.

Dengan segera Naruto memalingkan muka. Menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia menyandarkan kepalanya tepat di samping jendela. Berusaha menghirup udara luar yang belum tercemari bau Sasuke.

Dan perjalanan satu hari penuh menuju Suna itu terasa berbulan-bulan untuk Naruto.

# # #

Mereka tiba di suna saat hari sudah gelap. Mereka di sambut oleh sekelompok bangsawan yang kemudian mengantarkan mereka ke sebuah mansion mewah di tengah kota. Setelah berbasa-basi dengan memuji-muji Sasuke, para bangsawan itu pergi.

"Dasar penjilat!" gerutu Naruto pelan sambil menutup pintu.

"Apa mereka selalu memperlakukanmu seperti itu?" Tanya Naruto saat mengawal Sasuke menuju kamarnya. Diputuskan, mereka akan berjaga secara bergantian. Giliran pertama untuk Naruto.

"Setiap waktu" jawab Sasuke sambil mendengus.

"Huh… hidupmu pasti menderita" sindir Naruto dengan dramatis.

"Kau takkan tahu bagaimana rasanya" jawab Sasuke sambil memutar bola matanya.

"ah… aku ikut berduka" ucap Naruto senang. Sangat berlawanan dengan kata-kata yang di ucapkannya.

Sasuke memutar bola matanya.

Setelah meniaiki tangga, Naruto membuka satu-satunya kamar di lantai atas. Kamar itu sangat luas dengan ranjang kingsize di tengah-tengah ruangan. Sasuke segera duduk di atas renjang sementara Naruto berkeliling untuk memeriksa keadaan. Setelah memasrtikan semuanya dalam kondisi aman, Naruto kembali dan terkejut mendapati Sasuke tengah malapas baju pangerannya.

"AP… APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Naruto kaget.

"Apa? Aku hanya ingin tidur!" kata Sasuke sambil melempar bajunya ke kursi terdekat. Ia berbalik menatap Naruto yang dengan perlahan melangkah mundur. Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan sikap Naruto. Sebelum kemudian Sasuke menyadari situasi dan tersenyum melihat Naruto yang masih melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu.

"Kau piker aku akan melakukan apa?" Tanya Sasuke yang kini bertelanjang dada sambil berjalan kea rah Naruto.

"bu…bukan apa-apa!" jawab Naruto sambil menoleh ke belakang. Menyadari ia tak bias mundur lagi.

"Benarkah?" Tanya Sasuke tak percaya.

"A… aku akan berjaga di depan pintu" kata Naruto cepat sambil berbalik berisaha membuka pintu. Sebelum dengan tiba-tiba Sasuke sudah di depannya. Menahan pintu dan merapatkan Naruto sehingga ia tak bisa bergerak.

"A..apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto panik. Mukanya semakin merona.

"Kau piukir aku akan membiarkanmu pergi?" bisik sasuke di samping wajah Naruto.

Lagi. Aroma Sasuke yang kental kembali berputar-putar di kepala Naruto. Ia menelan ludah dan menggigit bibirnya. Memandang sekeliling dan menyadari jalan keluar satu-satunya adalah pintu di belakangnya.

Sebelim keadaan menjadi tak terkendali (?) Naruto segera menginjak kai Sasuke. Lagi. Lalu segera membuka pintu yang dengan sukses mengenai kepala Sasuke yang terduduk memegangi kakinya. Melangkah keluar dan dengan keras menutup pintu.

Blam…

Meninggalkan Sasuke yang masih meringis kesakitan dengan kepala benjol.

"Awas kau, Dobe!" geram Sasuke pelan

Di luar, Naruto segera mengunci pintu dengan sapu yang entah ia dapatkan dari mana. Dengan nafas terengah-engah dan muka merona merah.

"Dasar pangeran mesum brengsek" desis Naruto

# # #

Esok paginya, Sasuke berjalan menuju ruang pertemuan diikuti kelima pengawalnya. Sejak peristiwa semalam, ia dan Naruto belum saling bicara. Setiap mereka bertemu muka, naruto akan langsung memalingkan muka atau pura-pura bicara dengan yang lain. Tingkah Naruto itu justru membuat Sasuke tersenyum geli.

Mereka memasuki ruang pertemuan yang sudah di penuhi para itu luas dengan meja panjang di tengah-tengah ruangan. Di kiri kanan meja duduk para bangsawan sedang Sasuke duduk di ujung meja dengan kursi paling mewah pertanda ia yang memimpin pertemuan.

Pertemuan itu berlangsung selama berjam-jam. Mereka membahas pembangunan mansion-mansion mewah oleh para bangsawan –Naruto hamper tersedak saat mendengarnya- hingga pembentukan pasukan khusus untuk bangsawan.

Saat matahari hamper berada tepat di atas kepala. Pertemuan itu usai dan Sasuke langsung bangkit pergi dari ruangan itu sebelum para bangsawan bias bangkit dari kursimya.

Tak punya hal lain yang lebih berguna dari pada hal semacam ini" gerutu Sasuke sambil kembali ke mansion sementaranya. Naruto hanya terkekeh pelan melihat wajah suntuk sang pangeran.

"Kalian bersiaplah! Kita langsung kembali ke istana" perintah Sasuke sembari menaiki tangga menuju kamarnya.

"Baik yang mulia"

# # #

"KENAPA AKU HARUS BERJAGA DI DALAM ! LAGI!" teriak Naruto tak terima.

"Berisik Naruto! Kau yang kalah undian jadi kau yang harus berjaga di dalam" kata Shikamaru malas.

"AKU TIDAK MAU" TERIAK Naruto lagi.

"Ada apa?" Tanya Sasuke saat keluar dari mansion.

"Bukan urusanmu!" jawab Naruto sengit sambil berjalan menuju kereta dan membukakan pintu untuk Sasuke.

Tanpa banyak bicara, Sasuke segera naik diikuti Naruto. Kali ini giliran Gaara dan Shikamaru yang menunggang kuda dan berjaga di belakang. Selama perjalanan itu, Naruto kembali pada posisinya saat berangkat. Kepala bersandar di samping jendela dengan kedua tangan tergenggam erat menatap keluar jendela. Ia sama sekali tak bicara dengan Sasuke.

"Hei… Dobe! Kau tidak capek begitu terus?" Tanya Sasuke saat melihat Naruto sama sekali tak bergerak.

"Berisik, Teme!"jawab naruto sambil memandang keluar jendela.

Saat itu mereka tengah melewati sebuah desa yang tengah mengadakan festival. Naruto melihat seorang anak yang tengah di gendong di atas pundak ayahnya sambil memakai sebuah topeng.

'Naru-chan mau topeng yang mana?'

Naruto tersenyum saat kenangan itu kembali terlintas di pikirannya. Bayangan saat ia kecil di atas pundak sang ayah yang tengah menggandeng tangan ibunya.

"Sudah lama sekali…" kata Naruto pelan sambil terus memandang keluar. Senyuman yang lembut tersungging di bibirnya.

Sasuke yang melihat perubahan ekspresi Naruto ikut memandang keluar. Memandang keramaian festival. Ia terdiam sejenak. Memandang senyum Naruto lalu memandang kaluar lagi. Sasuke ikut tersenyum.

"Berhenti!" kata Sasuke agak keras. Keretapun berhenti di sebuah jalan yang sepi.

"Ada apa, Yang Mulia Pangeran?" Tanya Salah seorang pengawal yang bertugas sebagai kusir.

"Aku ingin melihat festival disini!" kata Sasuke sambil turun Dari kereta. Ia mengambil jubah dengan tutup kepala berwarna hitam. Ia melemparkan salah satunya pada Naruto.

"Aku ingin kita berbaur" kata Sasuke sambil mengenakan jubahnya.

Pengawal yang lain hanya saling pandang sementara Naruto menatap Sasuke tak percaya.

# # #

Enam sosok berjubah hitam itu berjalan menembus keramaian festival. Mereka semua mengenakan tudung kepala sehingga wajah mereka hampir tak terlihat. Rombongan itu berjalan pelan hingga kemudian berhenti di sebuah stand yang menjual berbagai topeng.

Sasuke memandang topeng-topeng itu dengan penuh minat sebelum kemudian mengambil sebuah topeng berwarna putih dengan gambar wajah Naga berwarna merah. Lalu berbalik menatap Naruto yang berdiri di sampingnya.

"Kau mau topeng yang mana, Naruto?" Tanya Sasuke sambil mengenakan topengnya lalu melepas tudung jubahnya.

"Eh?" Tanya Naruto tak mengerti.

"Aku Tanya kau mau topeng yang mana, Dobe!" kata sasuke. Membuka topengnya dan mengenakannya di dahi sebelah kanan.

Naruto masih memandang Sasuke tanpa mengatakan sepatah katapun. Tanpa pikir panjang Sasuke mengambil sebuah topeng rubah dan memasangnya di wajah Naruto.

Tanpa menunggu reaksi Naruto, Sasuke segera membayar topeng yang ia ambil lalu menggandeng tangan Naruto dan kembali berjalan sambil memandang stand-stand yang ramai.

Naruto masih terdiam. Memandang tangan Sasuke yang menggenggam tangannya. Rasanya hangat.

Sasuke menemukan sebuah stand eskrim. Ia berhenti dan membeli sebuah eskrim dengan rasa jeruk . membaginya menjadi dua bagian dan menyodorkan salah satunya pada naruto. Naruto masih diam tak bergerak sebelum dengan perlahan ia menerima es krim yang disodorkan Sasuke.

"Dobe!" panggil Sasuke. Naruto masih diam.

"Dobe!" panggil Sasuke lagi.

"Eh… apa?" jawab naruto sambil memandang Sasuke.

"'Itu' akan segera meleleh kalau tak segera kau makan" kata Sasuke sambil menggigit eskrimnya.

"oh…" jawab naruto memandang es krimnya.

"Dan kau tak akan bias makan kalau masih memakai topeng itu!" kata sasuke sambil menggeser topeng Naruto ke dahi seperti dirinya.

Wajah Naruto masih setengah sadar. Kemudian dengan perlahan memasukkan eskrim itu ke mulutnya.

"Enak…" kata Naruto seakan baru sadar. Ia menggigit eskrimnya lagi.

"Terima kasih" kata Naruto sambil tersenyum lebar.

Sasuke membeku memandang Naruto. Senyuman itu. Sudah lama sekali ia tak melihat Naruto tersenyum seperti itu padanya. Ia masih memandangi Naruto yang dengan riang gembira memakan eskrimnya hingga bibirnya belepotan.

Sasuke tersenyum. Ia melangkah mendekati Naruto. Lalu dengan lembut mengusap bibir Naruto yang belepotan sementara sebelah tangan mereka masih bergandengan.

Naruto membeku. Menatap mata sasuke yang juga tengah menatapnya dalam-dalam. Tiba-tiba saja jantung Naruto berdegup kencang. Merasa dejavu. Dengan perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari Naruto. Tubuh Naruto sedikit bergetar saat merasakan nafas hangat Sasuke di wajahnya.

"Bukankah aku sudah pernah bilang kalau kau lebih cantik saat rambutmu terurai?" bisik Sasuke sambil menyentuh rambut Naruto dan melepas ikatannya hingga rambut Naruto teruarai lembut.

"Dobe!" kata Sasuke lagi sambil tersenyum jahil. Sebelum kemudian menjauhkan wajahnya dan kembali sambil menggandeng naruto.

Naruto masih membeku dengan muka merona sebelum sadar apa yang terjadi.

"TEME!" teriak Naruto sambil berjalan di samping Sasuke.

"KEMBALIKAN IKATAN RAMBUTKU!" Teriak naruto di telinga sasuke.

"Berisik, Dobe!" balas Sasuke sambil terus berjalan.

Di belakang mereka. Keempat pengawal yang 'terabaikan' hanya saling pandang.

"Kenapa aku merasa seperti sedang menguntit sepasang kekasih yang sedang kencan? Merepotkan!" gerutu Shikamaru sambil ikut berjalan.

Gaara hanya diam sementara dua pengawal yang lain hanya menghela nafas panjang.

Tak jauh dari mereka, sekelompok orang tengah memandang Naruto dan Sasuke dengan seksama.

"Hei… bukankah dia…"

# # #

"KEMBALIKAN!" teriak Naruto hingga terdengar dari luar kereta.

"Dobe! Suaramu itu bias membuat telingaku tuli!" kata Sasuke sambil menutup telinganya.

"KARENA ITU CEPAT KEMBALIKAN!" teriak Naruto lagi.

Sasuke menghela nafas kemudian mengeluarkan sebuah pita berwarna orange dari sakunya.

" Maksudmu ini?" kata sasuke sambil mengayunkan pita itu di depan Naruto.

Dengan segera Naruto berusaha merebut pita itu dari tangan Sasuke. Namun dengan terlihat sengaja, Sasuke melepaskan pita itu hingga terbang ke luar jendela.

"AH… PITAKU!"teriak Naruto sambil memandang pitanya yang terbang dari lubang jendela.

"Ups.. maaf! Aku tak sengaja!" kata Sasuke tanpa rasa bersalah.

"KAU..!" teriak Naruto berbalik menghadap Sasuke.

"Hn?" jawab Sasuke.

"DASAR PANGERAN BRENGSEK MENYEBALKAN!" Teriak Naruto. Dengan marah ia mengenakan topeng rubahnya dan duduk di pojokan menatap keluar jendela.

Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Naruto.

Duar…

Terdengar sebuah ledakan dari luar hingga membuat kereta bergetar.

"Ada apa?" Tanya Sasuke.

"Kita di serang, Yang mulia Pangeran" jawab salah seorang pengawal dengan nada tegang.

Naruto tersentak. Dengan segera ia keluar dari kereta diikuti Sasuke dan mendapati mereka tengah dikepung puluhan musuh berbaju hitam dari segala arah.

Gaara dan Shikamaru segera bergabung di samping naruto. Melingkar melindungi Sasuke.

Duar…

Tiba-tiba saja kereta di belakang mereka meledak dan tanpa aba-aba puluhan musuh berbaju hitam itu menyerang.

Dengan segera Gaara membuat pelindung pasir berbentuk kubah saat ratusan kunai dan shuriken di lemparkan ke arah mereka.

Sasuke dengan tenang mancabut chokutonya. Sementara Naruto segera menyilangkan jarinya dan berbisik 'Kagebunsin no jutsu' dari balik topeng rubah yang tanpa sadar masih dikenakannya. 5 clone Naruto muncul dan langsung menyerang musuh saat gaara membuka pelindung pasirnya.

Shikamaru menautkan tangannya dan dengan kecepatan tinggi bayangan di kakinya melesat menuju musuh dan membuat mereka membeku. Yang dengan segera di habisi oleh dua orang pengawal yang lain. Shikamaru mengangguk pada mereka dan kembali menyerang.

Sasuke bergerak dengan anggun saat menghindari shurikan yang dilemparkan musuh dan dengan gerakan cepat menebas bagian vital musuh tanpa membuat bajunya kotor. Ia tengah menghadapi dua orang musuh saat melihat Naruto tengah di kepung oleh lebih dari sepuluh musuh. Walaupun menggunakan kagebunshin tetap saja naruto kewalahan. Nafasnya terengah-engah saat menangkis beberapa tebasan pedang sembari menghindari kunai yang dilemparkan ke arahnya.

Sasuke segera berlari kea rah Naruto sembari menebas musuh yang menghalangi jalannya.

"Butuh bantuan, Dobe?" Tanya Sasuke saat sampai di samping Naruto. Menebas musuh di belakang Naruto.

"Berisik, Teme!" jawab Naruto. Menendang musuh yang berusaha menyerang Sasuke.

"Aku menghawatirkanmu" kata Sasuke. Bergerak cepat di belakang Naruto. Menebas dua musuh sekaligus.

"Aku tak butuh bantuanmu" nalas Naruto sambil melemparkan kunai ke arah Sasuke. Melewati leher Sasuke dan tepat mengenai dahi musuh di belakang Sasuke.

"Dobe!" balas Sasuke sambil terus menebas.

"Tema!" kata Naruto tak kalah sengit.

Mereka berdua bertarung berdampingan saling melindungi dengan gerakan yang sinkron seperti terus saling bertengkar dan mengejek satu sama lain.

Tiba-tiba saja dari samping Naruto muncul musuh yang mengayunkan sebuah pedang besar kea rah Naruto.

"Mati kau, monster!" kata Pria itu.

Naruto membeku. Menatap pedang yang mengarah padanya.

"Naruto!" teriak Sasuke sambil berlari kea rah Naruto.

Zrak…

Mereka berdua tersungkur di tanah saat dengan sekuat tenaga Sasuke menubruk Naruto menghindari tebasan pedang.

"Ukh.." rintih Sasuke. Memegangi lengannya yang berdarah.

"Sasuke…" kata Naruto pelan.

"Kali ini kau tak akan selamat, Monster!" kata pria itu kembali berusaha menebas Naruto

"Sial!" umpat Sasuke sambil berusaha melindungi Naruto.

Jleb…

Sebuah tangan menembus jantung pria itu sebelum bias memgayunkan pedangnya. Pria itu ambruk di depan sasuke yang masih terkejut.

Di hadapan Sasuke berdiri Naruto dengan tangan bersimbah darah. Sasuke menatap wajah Naruto yang masih mengenakan topeng dengan mata terbelalak.

Tanpa mengucap sepatah kata pun. Naruto berbalik meninggalkan Sasuke menuju musuh-musuh yang masih mengelilingi secepat kilat, Naruto menghabisi musuh yang ada di hadapannya hanya dengan tangan kosong. Tangan Naruto yang kini seperti memiliki cakar dengan mudah mengoyak leher, menebas tubuh dan menembus jantung musuh.

Tiba-tiba semua musuh yang menghadapi Gaara dan Shikamaru mundur. Berkumpul.

Dan secara serentak menyerang Naruto.

"Naruto!" teriak Sasuke ngeri saat melihat Naruto diserang begitu banyak musuh. Ia segera berlari menolong. Namun

Blarr…

Sebuah ledakan terdengar dan beberapa musuh terpental ke segala arah.

Dengan kecepatan tinggi menghabisi mereka semua. Hingga semuanya terbaring di tanah. Mati. Menyisakan Naruto yang masih berdiri tegak dengan tangan dan baju bersimbah darah. Topeng rubah yang dikenakan Naruto pun ternoda percikan darah. Rambut Naruto yang terurai semakin membuatnya sereti dewi kematian. Sasuke dan yang lainnya membeku.

Naruto berbalik. Berjalan menuju satu-satunya musuh yang masih hidup. Musuh itu sudah berdarah-darah, merangkak mundur berusaha menyelamatkan diri.

"biarkan dia hidup, Naruto! Kita akan membawanya ke istana untuk di interogasi" perintah Sasuke sambil menyarungkan pedangnya.

Naruto masih berjalan maju. Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Naruto?" panggil Sasuke.

Kini Naruto sudah berdiri di hadapan musuh yang tersisa. Menatap pria itu dari balik topeng rubahnya.

"Mon…Monster" kata pria itu pelan.

Tanpa ragu, Naruto mengangkat leher pria itu ke udara…

Dan menghancurkannya.

Membuat darah terciprat ke segala arah.

Mata Sasuke terbelalak ngeri.

"Apa yang kau lakukan, Naruto? Sudah kubilang biarkan dia hidup!" teriak sasuke marah.

Naruto masih diam. Sebelum kemudian menoleh ke arah Sasuke.

Deg…

Tiba-tiba saja Sasuke merasakan aura membunuh yang sangat mengerikan.

Sasuke membeku. Menatap naeruto yang masih menoleh ke arahnya dengan topeng bersimbah darah.

"Naruto?" panggil Sasuke pelan.

Dalam sekejap aura membunuh itu menghilang.

Dengan perlahan Naruto berbalik menghadap Sasuke. Menatap sekelilingnya yang penuh mayat lalu menatap tangannya yang bersimbah darah. Ia melangkah mundur.

"A..aku"

"Ma..maafkan aku!" kata Naruto pelan.

"Naruto?" panggil sasukie sambil berjalan maju.

"maafkan aku" kata naruto lagi sambil menatap tangannya yang berlumuran darah.

"Tenanglah Naruto! Semua baik-baik saja!" kata Sasuke menenangkan Naruto yang terlihat ketakutan.

"Hei… ini aku!" kata sasuke. Naruto masih melangkah mundur.

"BERHENTI BERJALAN MUNDUR! DOBE!" teriak Sasuke membuat Naruto membeku.

Dengan cepat Sasuke menghampiri Naruto. Melepas dan membuang topeng yang dikenakan Naruto. Lalu memegang pundaknya.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke lembut. Menatap wajah Naruto yang terlihat ketakutan

Naruto menatap balik sasuke. Lalu dengan perlahan mengangguk.

# # #

Sasuke dan kelima pengawalnya berjalan menembus hutan dalam sudah mulai gelap. Ia menatap Naruto yang terlihat tidak nyaman dengan bajunya yang bersimbah darah.

Sasuke membuka jubahnya dan dengan lembut mengenakannya pada Naruto.

"Aku sudah mengirim kabar pada istana! Besok pasukan penjemput akan segera dating" Lapor Gaara.

"Bagus! Malam ini kita berkemah disini" kata Sasuke sambil menatap sekeliling.

Para pengawal segera membersihkan tempat itu dan membuat api unggun.

Sasuke berjalan mendekati Naruto yang duduk sendirian jauh dari api unggun.

"kau baik-ba…"

"Aku akan berkeliling memeriksa keadaan" potong naruto dengan segara bangkit dan berjalan pergi. Sasuke membeku

"Ini aneh" gumam Shikamaru setelah Naruto pergi..

"Apanya yang aneh?" Tanya Sasuke.

"musuh-musuh tadi! Sepertinya bukan mengincar anda, Yang mulia Pangeran!" jelas Shikamaru.

"Maksudmu?" Tanya Sasuke.

"Mereka mengincar Naruto"

# # #

Keesokan harinya pasukan bantuan dating, menjemput mereka.

Mereka sampai di istana saat matahari tepat berada di atas kepala. Sasuke kemudian memerintahkan kelima pengawalnya untuk pulang dan beristirahat. Sementara Sasuke berjalan menuju ruang singgasana untuk menemui sang kakak dan melaporkan semua yang terjadi.

# # #

Esok harinya, Sasuke berjalan keluar kamar dan menyadari Naruto tak berada di antara kelima pengawalnya.

"Mana Naruto?" Tanya Sasuke.

"Hari ini Naruto tak bertugas, Yang Mulia Pangeran!" jawab Gaara.

"Kenapa?" Tanya Sasuke lagi.

"Hamba tidak tahu, Yang Mulia!" jawab gaara lagi.

Sasuke lalu berjalan menuju ruang singgasana dengan perasaan tak enak. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Hari ini tanggal berapa?" Tanya Sasuke.

"10 Oktober, Yang Mulia"

To be continue…

Yah selesai….

Bagaimana? Bagaimana?

Mohon reviewnya ya…

Untuk chap depan! Past naru akan terungkap! Ada yang mau nebak?

REVIEW PLEASE…