Hy…

Akhirnya…. Saya bisa update.

Bukan maksud saya sengaja gak update. Sudah dua minggu ini saya berusaha update tapi gak bisa. Untung aja ada Azura-san. Terima kasih atas bantuannya…*bungkuk-bungkuk*

Terima kasih banyak buat :

RenMi3 NoVanta

Fujo Suka Nyasar

Hikaru the Gin Neko

Yuna Claire Vessalius Kusanagi

Runa Meido

Meli S.B'Mepasupati

Takazawa Kazuki

Sweet's Strawberry

Zaivenee

Ganbatte ne

LUKIAST

Uzumaki Winda

Azura Pink Ruezi

Bella Hamasaki

Devil Brain

Atas semua reviewnya yang menjadikan semangat saya.

And balasan buat :

Kilua Lucifer : terima kasih. Maaf penyakit saya yang itu udah akut. Tpi saya berusaha kok… maaf lama.

Chikechiri : iya… saya update! Maaf lama *bungkuk-bungkuk* ada masalah teknis nih *ngeles*

NaMIAkaze-kawai : sebenarnya di awal mau saya buat gitu. Tapi saya emang gak bisa buat cinta segitiga he3 mungkin sekarang Gaara Cuma nganggap sebagai adik. Mungkin. *ditendang*. Ah… maaf saya gak kenal siapapun di Ffn. Karena itu berani update. Abiz fic saya pada gaje semua. Karena itu juga saya bingung banget waktu ni Ffn error. Maaf ya…

AshuraDaiMaou : tenang saja, saya juga ingin segera namatin ini fic. Saya udah dapet ide buat fic baru saya *smirk* sabar sekitar 3 chap lagi ya, ah… saya gak bisa buat lemon. Gak berani he3. maaf. Sebagai ganti saya kasih apel aja ya. *smile*

Sweets Strawberry : ha3 maaf! Abiz kalau ada orang yang kita sukai di dekat kita –jadi bawahan lagi- jadi pengen ngerjai *ditimpuk Naru*

Sizunt Hanabi : maaf! Chap ini malah lebih lama. Jangan salahkan saya *nunjuk-nunjuk Ffn* yosh saya akan lebih berusaha.

Miyako Shirayuki : sebenarnya saya gak bisa and gak terlalu suka buat cinta segitiga. Abiznya terlalu rumit buat otak saya. Bukannya seneng saya malah stress lagi. Saya lebih suka focus di satu cinta and masalahnya aja *ciez* maaf saya akan berusaha lebih keras.

Naru3 : sebenarnya saya gak bermaksud buat Sasu jadi pervert. Saya lebih suka bilang jahil. Lagi pula sampai sekarang Sasu belum berani loh cium Naru. Padahal banyak banget kesempatan *kecewa* jadi… ya gitu deh! Jadi bagaimana chap ini *evil smirk*

Akira Tsukiyomi : Um… nanti akan saya ungkap. Saya gak tau gimana cara jelasinnya di chap ini. Jadi mungkin nunggu chap depan. Maaf. Otak saya udah overload nih he3

Kiryuu : maaf.. tambah lama… ini saya update. Saya akan segera buat chap selanjutnya biar cepat tamat..

Zee Rasetsu : soal si Oro bakal muncul di chap depan. Yeah mari kita bantai si Oro *bawa golok* yeah moga suka chap ini…

Adelove Sasunaru : terima kasih! ini saya update. Maaf ya lama…

Terima kasih buat semua yang masih bersedia review fic gaje ini. Mohon juga untuk chap ini.

Selamat membaca!

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

Chapter 12 : Oktober 10th

Sesosok gadis berambut pirang panjang terlihat terhuyung-huyung berjalan di antara pepohonan. Suasana disana gelap, kelam. Bahkan teriknya sinar matahari di siang itu tak snggup menerobos rimbunnya dedaunan yang melingkupi seluruh kawasan hutan. Pohon-pohon menjulang tinggi dengan akar-akar yang mencuat di permukaan membuat suasana semakin menyeramkan. Namun gadis itu terus berjalan. Sesekali ia bersandar pada batang pohon. Mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lalu kembali berjalan. Jas blazer abu-abu yang ia kenakan tampak lusuh dengan noda darah yang telah mengering di sana sini. Sambil berjalan, gadis itu terus mencengkeram dadanya erat-erat. Seakan berusaha menekan rasa sakit yang perlahanlahan mulai menggerogoti hatinya.

Terus berjalan. Ia harus terus berjalan. Tak boleh menyerah. Tidak sekarang.

Sebentar agi ia akan sampai. Ia bisa melihat tempat itu. Sedikit lagi.

Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Namun ia tak menyadari sebuah akar yang mencuat di permukaan tanah. Membuatnya tersandung dan terjatuh. Tersungkur di atas hamparan rumput liar.

Dan dalam sekejab saja, ia sudah dikelilingi ratusan musuh berbaju hitam.

"Shit!" Naruto mengumpat pelan.

# # #

Sasuke berjalan pelan menaiki tangga sebuah apartemen. Dan tak seperti biasa, ia tak mengenakan baju formal khas pangerannya dan hanya mengenakan baju simple berwarna putih dengan celana hitam.

Akhirnya setelah berusaha berjam-jam, ia berhasil mengelabui para pengawalnya dan pergi dari istana dengan meninggalkan sebuah genjutsu.

Sasuke terus berjalan hingga ia berhenti di depan sebuah pintu. Ia segera mengetuknya.

Tak ada jawaban.

Dicobanya sekali lagi.

"Ia tidak ada," sebuah suara menjawab membuat Sasuke menoleh ke samping.

Seorang pria tua dengan rambut berwarna putih panjang keluar dari pintu sebelah.

"Kemana ia pergi?" Tanya Sasuke.

Pria itu menatap Sasuke lekat lekat.

"Aku tak tahu Naruto mempunyai seorang teman?" Tanya pria itu balik.

Sasuke menatap pria itu sambil bersedekap. Menunggu jawaban dari pertanyaannya.

"Ia belum pulang sejak beberapa hari yang lalu" kata Pria itu akhirnya. "Kudengar ia mengawal Pangeran menuju Suna"

"Mereka sudah kembali kemarin! Kau tau kemana ia pergi?" Tanya Sasuke. Pria itu menggeleng.

Tanpa bicara lagi, Sasuke berbalik pergi.

Setelah sampai di sebuah tanah lapang. Sasuke menggigit jarinya dan menghempaskan ke tanah. Sambil berbisik 'Kuchiyose no jutsu'.

Dalam sekejap, tanah lapang itu di penuhi 8 anjing Nereka dalam berbagai ukuran.

"Temukan Naruto" kata Sasuke sambil mengeluarkan sebuah pita berwarna orange

# # #

Naruto berdiri tegak di tengah tanah lapang yang kini seakan berubah menjadi lautan darah. Merah. Semuanya kini berwarna merah. Daun, pohon.

Hembusan angin yang dingin membuat rambut pirang panjang itu melambai lembut. Sebagian menutupi wajahnya yang merunduk. Kemudian perlahan-lahan ia mulai melangkah.

Suasana sunyi. Seakan sedikit suara saja bisa menghancurkan segalanya.

Naruto terus berjalan hingga ia sampai di tengah tanah lapang yang lain. Namun berbeda dengan sebelumnya. Tanah lapang itu berwarna hijau dengan hamparan bunga bunga liar. Ia berhenti di depan dua gundukan tanah yang seluruhnya ditutupi bunga. Ia terduduk dan mengusap gundukan tanah itu dengan lembut.

"Ayah"

"Ibu"

Dan semuanya menjadi gelap.

# # #

Sesuatu yang lembut membeli pipi Naruto. Rasanya hangat dan nyaman. Dengan perlahan ia membuka mata. Mendapati seorang wanita cantik berambut merah panjang tengah tersenyum padanya. Sepasang telinga rubah juga terlihat mencuat diantara rambutnya.

"Pagi, Naru-chan"

Naruto (5th) tersenyum lebar. Ia langsung bangkit dan memeluk wanita itu.

"Selamat pagi, Ibu!" sapa Naruto senang.

"Ayo cepat bangun, ayahmu sudah menunggu di meja makan, kau tak ingin ketinggalan festival kan?"kata Kushina sambil tersenyum.

"Ah… festival! asyik…" teriak Naruto sambil berlari menuju kamarmandi. Meninggalkan sang ibu yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Naruto.

Tak lama kemudian, Naruto berjalan menuju ruang makan dengan riang. Ia mengenakan sebuah gaun panjang berwarna orange. Rambutnya yang panjang sepinggang tampak berantakan.

"Pagi, Naru-chan!" sapa sang ayah yang tengah duduk di meja makan.

"Pagi, Ayah!" jawab Naruto sambil ikut duduk dan menikmati sarapan.

"Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau mimpi indah?" Tanya Minato sambil mengacak-acak rambut Naruto.

"Ayah! Kau membuat rambutku berantakan!" protes Naruto

Minato hanya tertawa pelan melihat ekspresi Naruto. Dari belakang, Kushina datang sambil membawa beberapa pita rambut dan sisir.

"Minato! berhenti menggoda Naruto, biarkan ia makan!" kata Kushina sambil menata rambut Naruto.

"Iya, iya" jawab Minato ganti mencubit pipi Naruto.

"Ayah!" protes Naruto sambil menggembungkan pipinya. Minato hanya tertawa.

"Ayah, apa hari ini kita akan melihat festival?" Tanya Naruto penuh semangat.

"Hm m, apa kau sudah siap?" Tanya Minato sambil menatap Naruto yang kini sudah rapi dengan rambut diikat dua di atas.

"Iya!" kata Naruto segera menghabiskan sarapannya dan langsung bangkit berdiri sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya.

"Ayo Ayah, Ibu, aku ingin segera makan eskrim!" kata Naruto tak sabar saat keluar rumah. Mansion Namikaze terletak di sebuah bukit tak jauh dari desa tempat diadakannya festival.

Minato dan Kushina hanya tersenyum dan mengandeng Naruto diantara mereka berdua.

Mereka berdua berjalan beriringan sambil tertawa riang.

Sesampainya di festival. Naruto langsung berlari ke salah satu stand yang menjual berbagai macam es krim.

"Paman! Aku minta eskrim yang itu, itu, itu, dan itu ya…" kata Naruto penuh semangat sambil menunjuk beberapa es krim. Si penjual hanya tersenyum ramah dan mulai membuat es krim yang di minta Naruto.

"Naruchan, kau tak boleh makan eskrim sebanyak itu, kau bisa sakit perut" kata Kushina memperingatkan.

"Semuanya bukan untukku kok" kata Naruto membela diri.

"Lalu untuk siapa?" Tanya Minato lembut.

Naruto tersenyum lebar saat menerima es krim pesanannya.

"Yang ini untuk ibu" kata Naruto menyodorkan satu eskrim pada Kushina

"Yang ini untuk ayah" kata Naruto lagi menyodorkan eskrim yang lain pada Minato.

"Dan yang dua ini untukku" kata Naruto sambil bergantian menjilati dua eskrim miliknya.

Minato dan kushina hanya tertawa lembut melihat tingkah Naruto. Mereka segera mengajak Naruto pergi sebelum ia meminta tambahan eskrim lagi. Sambil memakan eskrimnya, mereka bertiga melihat-lihat festival dengan gembira.

Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah stan yang menjual berbagai macam topeng. Dengan penuh minat, Minato mengambil sebuah topeng setengah wajah yang penuh hiasan-hiasan cantik. Kemudian memakaikannya pada Kushina.

" Topeng ini cocok sekali untukmu, Kushina!" kata Minato sambil tersenyum lebar.

"Benarkah?" Tanya Kushina dengan wajah sedikit memerah. Minato mengangguk dan menatap Kushina dalam-dalam.

"Apa tadi aku sudah bilang bahwa kau terlihat sangat cantik, Kushina?" Tanya Minato sambil membelai rambut panjang Kushina. Kushina menggeleng.

"Kau sangat cantik, Kushina," ulang Minato sambil mendekatkan wajahnya ke arah wanita berambut merah itu.

"Ehem ehem" suara itu membuat Minato dan Kushina menoleh dan mendapati Naruto tengah menatap mereka berdua dengan wajah cemberut.

"Ayah! Ibu! Jangan melupakanku!" protes naruto sambil menggembungkan pipinya.

"Ah… maaf, Naru-chan" kata Minato sambil menggaruk belakang kepalanya. Sementara wajah Kushina merona merah.

"Naru-chan mau topeng yang mana?" Tanya Kushina berusaha mengganti topic.

Naruto langsung tersenyum lebar dan mengambil sebuah topeng kecil bergambar rubah.

"Aku mau yang ini!" kata Naruto sambil memakai topengnya. Minato tersenyum kecil dan membayar topeng yang mereka ambil.

"Ayo Naru-chan, kita harus segera pulang!" kata Minato sambil mengangkat Naruto dan menggendongnya di atas pundak.

"Yah… kenapa pulang sekarang? Aku masih ingin liat festival!" protes Naruto kecewa.

"Ini sudah sore, Naru-chan! Lain kali kita bisa datang lagi" kata Kushina berjalan bergandengan tangan dengan Minato

"Benarkah? Janji?" Tanya Naruto menunduk memandang kedua orang tuanya.

"Kami janji Naru-chan!" kata mereka berdua bersamaan.

# # #

Sasuke berlari dengan kecepatan tinggi diantara cabang pohon. Mengikuti salah satu anjing summonnya yang berhasil melacak jejak Naruto. Semakin lama Sasuke semakin mempercepat larinya, menyadari kini ia semakin dekat menuju hutan kematian. Firasatnya benar-benar buruk kali ini.

Setelah berlari dalam kecepatan tinggi selama waktu yang menurutnya sangat lama, Sasuke mendarat di sebuah tanah lapang di tengah hutan kematian. Hari sudah mulai malam, untung saja bulan bersinar penuh.

Sasuke memandang sekeliling selama beberapa saat sebelum buru-buru menutup hidungnya dengan tangan. Tanah lapang itu berwarna merah dengan bau darah yang pekat. Di beberapa tempat Sasuke melihat beberapa serpihan daging dan sobekan kain. Seakan-akan ada seseorang atau sesuatu yang baru saja berpesta dengan mencincang daging apapun itu dengan lembut hingga tak bisa di kenali lagi.

Jantung Sasuke berdetak cepat. Mengingat mungkin saja Naruto bertemu dengan apapun itu yang melakukan hal ini. Dengan segera Sasuke melesat pergi ke arah yang di tunjukkan anjing summonnya. Semakin lama ia semakin khawatir.

Sasuke langsung bernafas lega saat menemukan Naruto di tanah lapang berikutnya.

Namun rasa leganya tak bertahan lama saat menyadari Naruto tengah terbaring di atas dua gundukan tanah yang di tumbuhi bunga.

"Naruto!" teriak Sasuke berusaha terdengar tenang seperti biasa saat menghampiri Naruto. Namun ia bahkan bisa mendengar kekhawatiran dari suaranya di telinganya sendiri.

Naruto diam tak bergerak. Tak merespon panggilan Sasuke. Namun saat jarak Sasuke hanya beberapa jengkal darinya, sosok Naruto menghilang. Tiba-tiba saja Sasuke merasakan rasa sakit di ulu hatinya saat menyadari seseorang menendang perutnya dengan keras. Membuat Sang pangeran neraka itu terlempar beberapa meter sebelum bisa mendarat di atas dua kakinya. Ia segera mendongak dan mendapati Naruto berdiri tak jauh darinya.

Naruto masih mengenakan seragam prajurit penuh darah yang sama saat ia membantai musuh berbaju hitam saat mengawal Sasuke. Hanya saja bajunya kini lebih banyak bernoda darah. Membuatnya sulit membedakan warna asli seragamnya.

Rambut pirang panjang Naruto terlihat berantakan saat angin meniupnya. Namun yang membuat Sasuke membeku adalah ekspresi Naruto. Kulit tan-nya kini terlihat pucat. Dan mata biru itu menatap kosong ke arahnya. Seakan tak benar-benar menatapnya. Sasuke tak pernah melihat Naruto tanpa emosi seperti ini. Biasanya ia adalah orang yang ekspresinya dengan mudah dapat ditebak. Namun kali ini berbeda.

"Naruto?" Tanya Sasuke ragu.

Dan dalam sekejap saja Naruto sudah ada di hadapannya. Tanpa peringatan langsung melayangkan pukulan ke arah Sasuke yang untung saja dapat di tangkis Sasuke.

"Apa yang kau lakukan, Dobe!" Tanya Sasuke sambil menangkis semua pukulan dan tendangan Naruto. Naruto hanya diam seolah tak mendengarnya.

"Sial!" Geram Sasuke

Siapapun yang melakukan ini pada Naruto akan mati! Geram Sasuke dengan Sharingan aktif.

# # #

"Selamat Ulang Tahun!"

Naruto mengerjap tak percaya saat mendapati kedua orang tuanya berada di samping kanan kiri tempat tidurnya pagi ini. Memeluknya hangat. Dalam sekejap senyum lebar mengembang di wajah Naruto. Mengingat hari ini adalah hari special untuknya.

Hari ulang tahunnya yang ke-6.

"Terima kasih, Ayah! Ibu!" kata Naruto sambil balas memeluk kedua orang tuanya.

"Cepat bangun, kami sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Kata Minato sambil mengacak rambut Naruto.

"Benarkah? Dimana? Dimana?" Tanya Naruto penuh semangat bangun dari tidurnya. Menarik kedua orang tuanya agar bangun juga.

Minato Dan Kushina tertawa pelan sambil menggandeng Naruto menuju ruang makan. Yang kini sudah dihiasi berbagai balon dan pita aneka warna. Tepat di tengah meja makan terdapat sebuah kue tart besar berwarna putih dengan lilin-lilin yang melingkar di atasnya berjumlah 6.

Naruto langsung melonjak kegirangan dan berlari menuju kue ulang tahunnya.

"Apa kita akan memakan semuanya, Ayah?" Tanya Naruto dengan muka berbinar.

"Tentu saja" jawab Minato sambil menyalakan lilin-lilinnya.

"Sebelum itu, buatlah permohonan dan tiup lilinnya" kata Kushina lembut sambil tersenyum.

"Permohonan?" gumam Naruto sambil berpikir.

"Ah… aku ingin segera bertemu pangeran seperti dalam dongeng yang selalu di ceritakan ibu dan bahagia selamanya" kata Naruto riang sambil meniup lilinnya.

Minato dan Kushina saling pandang sebelum kemudian tertawa bersamaan mendengar permohonan Naruto.

"Sekarang kau boleh memotong kuenya, Naru-chan!" kata Kushina sambil menyerahkan sebuah pisau dengan pita orange.

"Asyik!" teriak Naruto sambilmemotong kuenya. Minato Dan Kushina ikut membantu di samping kanan kiri Naruto.

"Ini untuk ayah dan ibu" kata Naruto sambil menyerahkan potongan pertama pada kedua orang tuanya.

"Terima kasih, Naru-chan!" kata Kushina sambil menerima potongan kue itu berdua dengan Minato. Kushina memandang Minato sambil tersenyum. Minato dan Kushina mengengkat kue itu berdua dan menggigitnya secara bersamaan. Membuat pipi dan bibir mereka sedikit bersentuhan. Keduanya tersenyum.

"Apa enak?" Tanya Naruto. Kedua orang tuanya mengangguk.

"Ah… aku juga mau" kata Naruto sambil memakan sisa kue milik kedua orang tuanya. Memasukkan ke mulutnya sekaligus membuat bibirnya belepotan krim.

Minato dan Kushina tertawa sementara Naruto hanya tersenyum lebar.

Moment itu terhenti saat bel di pintu depan berdentang.

"Biar aku saja," kata Minato. Bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang depan. Kushina dan Naruto kembali memotong kue menjadi beberapa bagian.

"Duar…"

Sebuah ledakan terdengar dari arah depan hingga membuat dinding-dinding bergetar diikuti dengan asap tebal.

Secara refleks Kushina langsung mendekap Naruto ke pelukannya. Tak berapa lama kemudian sebuah bayangan terlihat keluar dari asap. Membuat ibu dan anak itu melangkah mundur.

Kushina langsung menghela nafas lega saat menyadari suaminyalah yang datang. Namun rasa lega itu tak bertahan lama saat melihat Minato datang sambil terengah-engah dengan beberapa percikan darah di wajahnya. Seluruh acara ulang tahun itu langsung terlupakan.

"Minato! Apa yang terjadi?" Tanya Kushina langsung berlari ke arah suaminya.

"Mereka datang! Cepat bawa Naruto pergi, aku akan berusaha menahan mereka." Kata Minato saat Kushina berusaha menghapus darah di wajahnya.

"Ta..tapi!" protes Kushina sementara Naruto hanya memandang kedua orang tuanya dengan bingung.

"Tak usah pedulikan aku, cepat pergi! Segelnya tak akan bertahan lama" kata Minato sambil menggandeng Kushina dan membuka salah satu pintu rahasia di rumah mereka.

"A..ayah" panggil Naruto mulai ketakutan.

"Tidak apa apa, Naru-chan! Semua akan baik-baik saja" kata Minato sambil memeluk Naruto dan mencium keningnya lembut.

"Minato" panggil Kushina penuh kekhawatiran

"Jaga Naruto baik-baik." Kata Minato. Mencium bibir Kushina selama beberapa saat sebelum kemudian terdengar lagi sebuah ledakan.

"Cepat pergi!" perintah Minato sambil mendorong Kushina masuk dan menutup pintu.

"Aku mencintai kalian," kata Minato sambil tersenyum lebar sebelum pintunya menutup.

"Kami juga mencintaimu, Minato! Kumohon tetaplah selamat" kata Kushina sebelum berlari dalam lorong yang remang-remang.

"Ibu, apa yang terjadi? Mana ayah?" Tanya Naruto pelan.

"Semua akan baik-baik saja sayang, ayahmu sedang mengusir orang jahat. Sebentar lagi ia pasti kembali" kata Kushina sambil tersenyum pada Naruto.

Mereka berdua berlari selama beberapa saat hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu. Kushina segera membukanya dan mendapati mereka sudah berada di tepi hutan. Mereka melangkah keluar. Kemudian ia melihat mansion Namikaze yang terletah di atas bukit kini tengah dilalap api hingga asap hitamnya membumbung tinggi di angkasa. Dengan, mata berlinang Kushina memeluk Naruto erat dan berlari memasuki Hutan.

"I-ibu?" Tanya Naruto pelan saat melihat ibunya menangis.

"Ssh… semua akan baik-baik saja, Naru-chan" jawab Kushina sambil mencium lembut kening Naruto.

Ibu dan anak itu terus berlari jauh ke dalam hutan. Berulang kali Kushina menoleh ke belakang. Hingga tanpa sadar ia menabrak sesuatu di depannya, membuatnya mundur beberapa langkah. Ia segera mendongak dan mendapati seseorang berbaju hitam tengah berdiri di hadapannya dengan topeng berpusar berwarna orange menutupi wajahnya. Kushina refleks melangkah mundur.

"Selamat sore, Namikaze," sapa pria itu ramah.

Dan tiba-tiba saja Kushina sudah terlempar beberapa meter. Naruto juga ikut terlempar tak jauh darinya. Kushina berusaha bangun namun sebuah tendangan di perut membuatnya terlempar lagi. Dalam sekejap saja pria bertopeng itu sudah ada di hadapan Kushina. Dengan santai menginjak perut Kushina sambil menunduk.

"Kutemukan kau, rubah kecil" kata pria bertopeng itu sambil mencengkeram leher Kushina dan mengangkatnya ke udara.

Pria itu mulai mendekatkan wajahnya pada Kushina. Namun sebelum ia bisa berbuat sesuatu, pria itu melompat mundur saat sebuah kunai dilemparkan kearahnya. Dan dalam sekejap, Minato sudah ada di sana dengan Kushina di pelukannya.

"Mi-minato" kata Kushina pelan saat melihat suaminya.

Baju Minato kini penuh darah dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya. Nafasnya terengah-engah. Ia menurunkan Kushina di samping Naruto yang langsung memeluk kaki Minato.

"Betapa keluarga kecil yang bahagia" kata pria bertopeng itu sambil melangkah mendekat.

Dengan segera Minato berdiri dihadapan Kushina.

"Apa yang kau inginkan, Madara?" Tanya Minato tajam.

"Kau tahu apa yang aku inginkan" kata Madara sebelum dalam sekejap mata sudah menyerang Minato. Keduanya saling menyerang dengan kecepatan tinggi hingga gerakan mereka terlihat kabur.

Kushina segera menggendong Naruto dan berlari pergi meninggalkan dua orang yang kini tengah bertempur. Ia berhenti di bawah sebuah pohon besar dengan akar-akar yang mencuat di bawahnya.

"Naru-chan, kamu sembunyi disini dulu ya, Ibu akan membantu Ayahmu" kata Kushina sambil menurunkan Naruto.

"T-tapi Ibu..." kata Naruto pelan

"Ssh… turuti perintah ibu! Jangan pergi kemanapun, Ibu dan Ayah akan segera kembali" kata Kushina sambil mencium kening Naruto dan beranjak pergi.

Naruto kecil hanya bisa memandang punggung sang Ibu yang mulai menghilang di antara pepohonan.

Selama beberapa saat, Naruto hanya menatap sekeliling dari balik akar yang mencuat di depannya. Suasana sunyi senyap. Dan gelap.

Naruto mulai gelisah. Perlahan-lahan ia keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah sang ibu menghilang.

Untuk sesaat hanya ada pepohonan dan kegelapan hingga Naruto mulai khawatir ia tersesat. Ia mulai berlari hingga sebuah sinar muncul dari kejauhan diikuti suara bising. Naruto mempercepat larinya. Ia tersenyum senang saat belihat sekelebat rambut merah panjang milik ibunya.

"Ibu!" teriak Naruto sambil berlari ke arah sang ibu.

Namun ia langsung terdiam saat menyadari sang ibu tengah mengernyit kesakitan saat pria aneh bertopeng itu mencekik lehernya dan mengangkatnya di udara. Tak jauh dari tampat itu ia bisa melihat sang ayah yang terduduk sembari memegangi pinggangnya yang berlumuran darah. Secara bersamaan ketiga orang dewasa itu menoleh menatap Naruto.

Yang pertama dilihat Naruto adalah ekspresi ngeri di wajah kedua orang tuanya. Kemudian sebuah mata berwarna merah darah dengan pupil seperti shuriken menatapnya dari balik topeng orange yang retak di beberapa bagian. Seketika itu tubuh Naruto bergetar dan langsung terduduk di tanah.

"Naruto!" teriak Sang Ayah berusaha bangkit namun kembali terduduk sambil mengernyit kesakitan.

"Hm… ibu? Rupanya bocah kecil ini putri kalian" kata Madara tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto. Dengan kasar ia melempar Kushina ke tanah dan mulai melangkah mendekati Naruto yang membeku.

"La-lari Naruto!" kata Kushina di antara nafasnya yang terengah.

"Bocah rubah yang manis," puji madara sambil mengeluarkan sebuah pedang dan terus berjalan mendekati Naruto.

"Jangan sentuh dia!" teriak Kushina geram.

"Aku tak tahu bagaimana kau mengunci kekuatanmu, Kushina. Tapi bisakah kau menahannya saat aku sedikit 'bermain' dengan putrimu?" kata Madara saat sampai di depan Naruto. Tiba-tiba ia menebaskan pedangnya ke arah Naruto yang membeku kaku.

Dalam sekejap Minato dan Kushina sudah ada di hadapan Naruto. Menerima tebasan pedang Madara tanpa berusaha menghindar. Membuat darah mereka terpercik ke segala arah.

Dengan sisa kekuatannya, Minato mencengkeram tangan Madara dan dengan sebelah tangannya memusatkan seluruh cakra yang tersisa . membentuk sebuah bola cakra berwarna biru.

"Rasengan!"

Bola cakra berwarna biru itu telak mengenai dada Madara, membuatnya terlempar beberapa saat hingga menabrak sebuah pohon besar yang langsung tumbang.

Setelah serangan terakhir itu, Minato langsung ambruk dengan derah menggenang di tanah dibawahnya.

Kushina yang masih terduduk di hadapan Naruto mengusap pipi Naruto lembut dan tersenyum.

"Maafkan kami, Naru-chan!" kata Kushina pelan sebelum ikut ambruk di samping Minato.

Meninggalkan Naruto yang masih terduduk kaku dengan tubuh berlumuran darah orang tuanya. Naruto menatap tubuh kedua orang tuanya yang kini sudah tak bernyawa.

"A-ayah… Ibu…" panggil Naruto perlahan.

"Huh, dasar bodoh! " kata Madara sambil perlahan bangkit berdiri. Baju bagian depannya terkoyak dengan darah segar menetes dari lukanya. Sambil tersaruk-saruk ia berjalan mendekati Naruto. Namun yang ia dapati adalah sepasang mata berwarna jingga dengan pupil menyempit menatapnya penuh amarah dan kebencian.

Madara tersentak saat merasakan aura membunuh yang sangat mengerikan terarah padanya dari tubuh seorang bocah berumur enam tahun. Tanpa sadar ia melangkah mundur.

"KAU…! TIDAK MUNGKIN!" teriak Madara tak percaya

Hal terakhir yang dilihatnya adalah cakra merah yang melesat kearahnya. Membelah tubuhnya menjadi serpihan.

# # #

Naruto terus menyerang Sasuke tanpa henti sementara Sasuke hanya bisa menghindar tanpa berusaha untuk balas menyerang karena takut melukai Naruto.

"Hei Dobe! Sadarlah, dasar baka!" teriak Sasuke berusaha menyadarkan Naruto.

Naruto hanya diam sambil terus menyerang. Pukulannya yang semakin lama semakin cepat dan keras membuat Sasuke kewalahan. Ia segera melompat mundur beberapa meter. Berusaha menjaga jarak. Tubuh sasuke kini sudah penuh luka gores walaupun tak ada yang fatal. Nafasnya terengah-engah.

Pohon-pohon di sekelilingnya kini sudah hancur berantakan saat terkena pukulan Naruto yang meleset saat menyerang Sasuke. Sasuke sempat merasa ngeri saat membayangkan jika satu pukulan saja mengenai tubuhnya. Ia pasti hancur berantakan hingga tak bersisa. Dari kejauhan Sasuke menatap Naruto yang kini berdiri kaku.

Perlahan-lahan tubuh Naruto mengeluarkan cakra merah yang mulai menyelimuti seluruh tubuhnya. Diikuti aura membunuh mengerikan yang sempat dirasakan Sasuke beberapa hari yang lalu.

"T-tidak mungkin!" kata Sasuke tak percaya. Secara refleks ia melangkah mundur. Jantungnya langsung berdetak kencang berusaha sekuat tenaga mengatakan sesuatu.

Lari. Lari. Lari.

Menjauh dari apapun itu yang ada di hadapannya.

Sosok Naruto kini sudah sepenuhnya di selimuti cakra merah. Tiga garis di masing-masing pipinya kini menebal dengan taring yang mulai muncul di antara bibirnya. Tangannya yang terkulai di samping tubuhnya mulai berubah tajam seperti cakar.

Sasuke menatap ngeri saat sedikit demi sedikit kulit Naruto mulai mengelupas. Membuat Cakra merah itu semakin pekat oleh darah Naruto. Diikuti dengan ekor-ekor yang mulai bermunculan di belakang tubuh Naruto. Melambai lambai ke segala arah. Dalam sekejap rumput-rumput di bawahnya langsung mengering. Pohon-pohon di sekelilingnya langsung mati menyisakan ranting-ranting kering tanpa daun.

Namun yang lebih mengerikan adalah sepasang mata berwarna jingga dengan pupil menyempit seperti binatang buas yang tengah menatap Sasuke seakan ia tak lebih dari sekedar debu di udara.

Sasuke mulai melangkah mundur semakin jauh. Menuruti instingnya untuk menjauhi makhluk mengerikan yang ada di hadapannya. Ia sudah berbalik untuk berlari pergi sebelum sesuatu menghentikan gerakannya.

Seseuatu yang berkilau telah jatuh dari mata jingga itu.

Bulir-bulir kristal yang semakin lama semakin deras membasahi pipi Naruto sebelum menguap karena cakra merah yang menyelubungi tubuhnya.

Ia menangis.

Naruto, gadis yang paling dicintainya kini tengah menangis.

Secara refleks, hampir tanpa sadar. Sasuke berlari ke arah Naruto. Tak mematuhi insting yang menyuruhnya untuk lari menjauh.

Sasuke tak bisa. Ia takkan sanggup meninggalkan orang yang dicintai melebihi hidupnya itu menangis. Tak peduli seperti apapun sosoknya. Naruto tetaplah Naruto.

Dengan lembut Sasuke memeluk Naruto erat. Tak peduli dengan cakra merah yang membakar kulitnya.

"Tenanglah! Semua akan baik baik saja… aku ada disini!" bisik Sasuke lembut di telinga Naruto.

Hanya untuk di balas dengan sebuah cakar yang menembus tubuhnya.

# # #

Semuanya berwarna merah.

Darah…

Darah Ayah… Darah Ibu…

Dan sosok keduanya yang tak bergerak di depan matanya. Tak peduli sekeras apapun ia berteriak, memanggil nama mereka.

Mereka hanya diam. Mati.

Mati… kata-kata itu perlahan-lahan meresap di hatinya.

Mati.

Mati.

Mati.

Mati.

Dan dalam sekejap kesedihan yang tak tertahankan itu berubah menjadi amarah.

Kemarahan yang menuntunnya untuk menghancurkan segalanya. Segalanya yang telah mengambil yang berharga darinya. Hancurkan semuanya hingga tak bersisa. Hingga semuanya menghilang. Hingga dingin yang ada di dalam hatinya menghilang. Hingga tak ada satupun yang tersisa. Hampa. Kosong.

Untuk apa aku hidup?

Jika aku tak punya apapun?

Jika tak ada alasan apapun?

Jika tak merasa apapun?

Jika tak ada siapapun...

Dan bayangan sesosok pangeran kecil bermata merah tersenyum lembut padanya. Mengulurkan sebelah tangan padanya.

"Kau baik-baik saja?"

# # #

Perlahan-lahan Naruto membuka matanya saat merasakan sinar matahari yang hangat menerpa kulitnya. Dan sosok pangeran kecil di mimpinya kini seakan membesar. Menampakkan wajah yang sama dengan garis wajah yang yang lebih tegas dan dewasa. Mata merah yang sama menatap hangat ke arahnya. Hingga ia melihat beberapa perbedaan dengan lebih jelas. Model rambut yang lebih berantakan dan wajah yang lebih pucat dengan bibir berwarna putih yang bergetar perlahan.

"Akhirnya kau sadar juga, Dobe," kata sosok itu sambil berusaha menyeringai namun gagal.

Naruto mengerjapkan matanya tak percaya.

"Sa-sasuke?" Tanya Naruto pelan.

"Kau pikir siapa lagi, bodoh!" jawab Sasuke lirih.

Naruto terpana selama beberapa saat sebelum menyadari posisinya saat ini.

Ia tengah berada di pelukan Sasuke yang terduduk sambil bersandar pada batang pohon yang telah mati. Dan merasakan sesuatu yang basah di telapak tangannya. Naruto menunduk dan mendapati tangannya bersimbah darah.

"Ti-tidak" gumam Naruto lirih. Menyentuh perut Sasuke yang basah oleh darah segar dari luka menganga di perutnya. Darahnya menggenang membasahi tanah di bawah meraka.

"Ti-tidak" kata Naruto dengan air mata yang mulai mengalir dari mata birunya. Menyadari siapa yang melakukan semua itu.

"M-maaf!"

"Ma-maafkan aku!" mohon gadis itu di sela isak tangisnya.

"Tidak apa-apa" kata Sasuke lembut sambil mengusap air mata Naruto.

"Ku-kumohon… j-jangan membenciku" isak Naruto putus asa

"Maafkan aku..." mohonnya lagi

Sasuke tersenyum lembut, dengan sebelah tangannya yang juga bersimbah darah, ia mengusap rambut Naruto.

"Ssh… jangan menangis… semua akan baik-baik saja," kata Sasuke dengan wajah pucatnya.

Segera saja Naruto terisak isak di dada Sasuke. Menggumamkan maaf berkali-kali. Sementara Sasuke hanya memeluk Naruto lemah sembari berusaha menenangkan gadis yang paling dicintainya.

Kesadaran Sasuke sudah mulai menipis karena rasa sakit dan kehabisan banyak darah. Ia mulai tak bisa melihat Naruto dengan jelas saat gadis itu melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah kunai yang tergeletak tak jauh darinya. Namun Sasuke masih sadar saat Naruto mengiris pergelangan tangannya hingga berdarah.

"Ap..apa yang kau lakukan, dob.." desis Sasuke marah sebelum Naruto menutup mulutnya dengan tangannya yang terluka. Tak bisa menolak darah yang mengalir deras dari luka Naruto mengalir di kerongkongannya. Ia berusaha meronta namun tubuhnya tak bisa bergerak. Yang bisa ia lakukan hanya menatap mata biru Naruto yang juga menatapnya balik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Perlahan-lahan Sasuke mulai merasa tubuhnya menghangat. Diikuti dengan menghilangnya rasa sakit di sekujur tubuhnya. Saat ia sadar, luka menganga di perutnya sudah sembuh sama sekali tanpa menyisakan bekas sedikitpun.

Dengan lembut Sasuke menarik tangan Naruto dari bibirnya. Memperlihatkan luka menganga di pergelangan tangannya yang dalam sekejap saja sudah menutup kembali. Ditatapnya wajah Naruto yang kini terlihat pucat setelah 'transfusi' darurat.

Mereka saling pandang selama beberapa saat. Tak ingin mengalihkan pandangan. Seakan salah satu dari mereka akan menghilang dalam sekejap.

Tangan Sasuke meraih pipi Naruto dan membelainya lembut. Mata Naruto terpejam,menikmati sentuhan hangatnya. Perlahan wajah keduanya mendekat. Mempersempit jarak di antara mereka berdua hingga bibir mereka saling bersentuhan.

Naruto mengalungkan tangannya ke leher Sasuke sementara tangan Sasuke memeluk pinggang Naruto. Keduanya larut dalam ciuman lembut yang seakan menyatukan jiwa mereka. Ciuman yang saling berbalas tanpa ada paksaan.

Ciuman yang berasa darah.

# # #

Naruto dan Sasuke tak beranjak dari posisinya.

Mereka masih saling berpelukan erat, dengan kepala Naruto bersandar di dada Sasuke. Sementara Sasuke berulang kali mengusap dan mencium puncak kepala Naruto. Setelah ciuman singkat yang dalam itu mereka terus begitu. Seakan tak ingin menyia-nyiakan momen itu. Hingga Sasuke menyadari matahari telah tinggi dan ia telah meninggalkan istana semalaman.

"Kita harus segera pulang" Kata Sasuke pelan.

"Hm m" gumam Naruto namun sama sekali tak beranjak dari posisinya.

Sasuke hanya diam. Seakan setuju untuk sama sekali tak beranjak dari posisi mereka.

"Sasuke?"panggil Naruto pelan

"Hn?" jawab Sasuke

"Aku tak bisa menggerakkan tubuhku" kata Naruto pelan.

Sasuke tersenyum geli. Dengan perlahan ia bangkit berdiri dengan Naruto di pelukannya. Menggendongnya ala bridal style dan mulai berlari keluar hutan. Menuju apartemen Naruto.

Sasuke sempat kaget saat menyadari tubuhnya telah pulih seperti sedia kala. Seakan-akan ia sama sekali tak terluka. Kalau bukan karena noda darah di bajunya yang mengering, ia takkan percaya bahwa sebelumnya ada lubang menganga di perutnya.

Tanpa memikirkan hal itu lebih jauh,Sasuke terus berlari dengan kecepatan tinggi. Sambil memperhatikan wajah Naruto yang tertidur lelap di pelukannya. Sasuke tersenyum, ia tak keberatan berada dalam posisi itu selamanya.

Sasuke memasuki apartemen Naruto dalam kecepatan tinggi hingga bayangan mereka terlihat kabur. Ia tak ingin ada yang melihat mereka dengan pakaian bersimbah darah.

Sasuke bersyukur saat mendapati pintu apartemen Naruto tak terkunci. Dengan segera ia memasuki apartemen yang hanya terdiri dari satu ruangan dengan satu tempat tidur di samping jendela. perlahan-lahan ia membaringkan Naruto di tempat tidur dan menyelimutinya.

Sasuke mengecup kening Naruto selama beberapa saat.

"Mimpi indah, My Princess" bisik Sasuke sebelum melangkah keluar dan menutup pintu.

To be Continue…

Saya Harap tak terlalu gaje dan mengecewakan

Maaf…

Mau apel?

REVIEW PLEASE…