Tenshi 39 Production

Present

Fantasy Adventure

Fanfiction


Ternyata anthropinos itu sangat mudah dipengaruhi.

.

.

.


Final Zone

©Sansan Kurai

2014


Donghae terus saja melangkahkan kakinya tanpa tahu kemana ia akan pergi. Sesampainya di lapangan sekolah yang sepi, sosok berjubah hitam dibelakang Donghae menghentikan langkahnya dan menatap Donghae lekat-lekat.

"Pangeran, aku serahkan anthropinos ini padamu.."

Donghae menghentikan langkahnya saat mendengar sosok itu berbicara. Donghae membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang pria berpakaian serba hitam yang amat sangat tampan berkulit putih pucat tengah menatap Donghae dengan mata hitam kelamnya. Seringaian manis terkembang dibibir pria itu.

"Aromamu sangat manis.." bisik pria dihadapan Donghae sembari menjilat bibir bawahnya dan kelakuan pria itu membuat Donghae melangkah mundur. "Dan jiwamu yang penuh dengan amarah itu membuatku ingin segera mencicipimu.."

Donghae terus melangkah mundur sedangkan pria dihadapan Donghae terus melangkah maju mendesak dirinya.

Tunggu!

Donghae membelalakkan matanya saat melihat pria dihadapannya itu tidak menginjak permukaan tanah. Pria dihadapannya kini melayang, melayang kearahnya dengan pelan namun pasti.

"Si—Siapa kau?"

"Aku?" Seringaian kembali muncul dibibir pria itu saat melihat wajah ketakutan Donghae. "Aku teman Eunhyuk. Apa dia tak pernah menceritakannya padamu?"

Pria itu terus melayang kearah Donghae yang hanya bisa melangkah mundur dan terus mundur.

Greb!

Pria itu mencengkeram lengan Donghae dan menatapnya lembut.

"Kau tak perlu takut, ini tak akan sakit," ucap pria itu sembari mendekatkan wajahnya kewajah Donghae. Donghae ingin sekali pergi dari tempat itu. Lari sekencang-kencangnya menjauhi pria aneh dihadapannya. Namun kakinya seakan mati rasa. Ia tak bisa menggerakkan kakinya bahkan seluruh tubuhnya. Semuanya seakan terhipnotis.

Pria dihadapan Donghae semakin mendekatkan wajahnya dan Donghae membelalakkan matanya kala bibir dingin pria itu menyentuh bibirnya. Ia masih mampu melihat seringaian diwajah pria itu. Sesaat kemudian, ia melihat ada asap berwarna putih menyeruak keluar dari bibirnya dan bibir pria itu. Donghae merasa tubuhnya terasa amat lemas, tenaganya seakan terkuras habis dan matanya hampir saja terpejam jika ia tak mendengar seseorang berteriak.

"HENTIKAN!"

Teriakan itu terdengar lagi dan Donghae berusaha melihat siapa yang tengah berteriak itu.

"Jangan ganggu kegiatan pangeran," desis sosok berjubah hitam.

"Dia tak ada hubungannya dengan ini! Menjauhlah darinya!"

"Ada atau tidak kami tak peduli.."

"Berhentilah mengganggu kesenanganku Lee Sungmin.." Pria dihadapan Donghae melepas pagutan bibir mereka. Pria itu kembali menyeringai kala melihat Donghae. Pria itu melepaskan genggamannya pada lengan Donghae. Donghae pun ambruk seketika.

"Donghae! KYUHYUN! BRENGSEK KAU!"

"Aku memang brengsek, kau mau apa? Melawanku? Sendirian? Bisa apa kau?"

"Jangan meremehkanku Cho Kyuhyun!" desis Sungmin.

"Aku tak pernah meremehkanmu, Lee Sungmin. Hanya saja, kalian masih tak bisa berbuat apapun saat Leeteuk dan Eunhyuk sudah kembali.."

"KAU!" raung Sungmin sembari menerjang Kyuhyun. Namun langkahnya terhenti kala sosok berjubah hitam itu menghalangi langkahnya. "Minggir kau Heechul!"

"Kau tahu aku tak akan melakukan itu.."

"Dasar serigala brengsek!"

Sungmin membuka telapak tangan kirinya dan sebilah pedang berwarna emas mencuat dari telapak tangannya yang terbuka. Setelah seluruh badan pedang itu keluar dari telapak tangannya, Sungmin segera menggenggam pedang itu dengan kedua tangannya dengan mata pedang yang mengarah kesosok berjubah hitam dihadapannya.

"Mati kau!" teriak Sungmin sembari menghunuskan pedangnya dengan cepat.

Zratt!

"Arrggghhh! Sssshhhh!"

"Peri penjaga sepertimu mau melawan dia? Kau bodoh atau apa?" ejek Kyuhyun.

Sungmin hanya terus mendesis sembari mencengkeram perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah. Ia bertumpu pada pedangnya dan menatap Kyuhyun serta Heechul—sosok berjubah hitam—bergantian. Walau kini ia tengah kesakitan, namun ia masih bisa menatap tajam kedua sosok dihadapannya.

"Kau mau lagi?" tanya Heechul. Heechul melangkahkan kakinya namun segera berhenti kala Kyuhyun merentangkan tangan kanannya untuk menghadang langkahnya.

"Cukup untuk sekarang," ucap Kyuhyun saat mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Heechul. Heechul menganggukkan kepalanya sekali. "Kita pergi.."

Heechul mengangguk lagi dan ia menyibakkan jubah hitamnya. Detik berikutnya sosoknya serta Kyuhyun sudah tak terlihat lagi.

"Brengsek kalian!" maki Sungmin. "Argh!"

Sungmin yang sudah kehilangan banyak darah pun hanya bisa menggerutu pelan dan akhirnya ia pun pingsan.


"Argh!"

Donghae mengerang pelan sembari memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan nyeri itu, namun nyeri itu tak kunjung menghilang dan itu membuat pandangannya kabur. Ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.

"Akhirnya kau bangun juga anthropinos."

Donghae mendongak namun ia tak bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah berbicara itu.

"Apa kepalamu masih nyeri? Sepertinya kau belum benar-benar pulih."

"Pulih?" tanya Donghae dengan suara serak. Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha agar pandangannya fokus.

"Kau terluka cukup parah dan kami terpaksa membawamu kemari. Walau sebenarnya sebagian besar dari kami melarang untuk membawamu kemari."

Donghae terdiam. Ia benar-benar tak mengerti maksud dari perkataan orang yang ada dihadapanya.

"Argh!"

Donghae mengerang lagi. Nyeri dikepalanya tak kunjung menghilang dan malah membuatnya semakin kesakitan.

"Sebaiknya kau kembali beristirahat jika kau tak ingin mati."

"E—eh? Ma—mati?" tanya Donghae terbata.

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Cepat istirahat."

"Tu—tunggu.."

Namun orang itu terus melangkah pergi meninggalkannya dan Donghae pun kembali mengerang kala nyeri itu kembali menyerangnya.


Donghae tak tahu sudah berapa lama ia berada di ruangan yang tak begitu luas ini. Pasalnya, ditempat itu sama sekali tak ada petunjuk. Disekelilingnya hanya ada dinding batu berwarna putih pucat. Cahayapun hanya berasal dari lilin yang menyala remang-remang di sudut ruangan. Tak ada jendela maupun pencahayaan yang lain, hanya ada sebuah pintu kayu berukir yang selalu terkunci. Sebenarnya Donghae sudah sangat penasaran dengan tempat itu sejak ia sadarkan diri. Namun ia tak bisa bertanya lebih banyak pada seseorang yang menyapanya saat ia terbangun karena kepalanya yang nyeri itu.

Donghae berfikir ini mungkin sudah lebih dari 3 hari sejak orang itu datang. Dan sejak itu tak ada lagi yang datang menemuinya. Bosan, itulah yang dirasakan Donghae saat ini.

Kriet

Donghae mendongak dan menatap seseorang yang kini tengah memasuki ruangan yang ditempatinya. Donghae mengernyit saat melihat wajah orang tersebut karena ia merasa pernah melihat orang tersebut disuatu tempat. Seorang pria bertubuh mungil, Donghae benar-benar merasa pernah melihat orang itu sebelumnya.

"Ternyata kau sudah sadar. Aku rasa kau sudah mulai pulih."

"Berhenti mengatakan aku sudah sadar atau pulih, dimana aku?" tanya Donghae.

"Anthropinos memang makhluk yang menyebalkan, tak pernah bisa bersabar."

"Anthropinos?" tanya Donghae. Ini sudah kesekian kalinya ia mendengar kata itu, namun sama sekali ia tak mengerti artinya.

"Ya, anthropinos. Kau, manusia."

"Hah?" Donghae tetap tak mengerti maksud dari perkataan orang itu. "Oke, terserah kau mau menyebutku apa. Tapi di mana aku? Dan tempat apa ini? Dan sudah berapa lama aku berada ditempat ini? Kenapa aku bisa bera—"

"STOP! Berhenti bertanya!" Orang itu menatap Donghae tajam. "Aku tak suka dengan begitu banyak pertanyaan dan aku tak suka denganmu. Keluar sekarang dan ikut aku. Kau harus menemui mereka."

"Menemui mereka? Menemui sia—"

"Sudahku bilang berhenti bertanya!"

Donghae terdiam dan memandang dingin sosok pendek dihadapannya. Melihat orang itu pergi mendahuluinya, mau tak mau Donghaepun beranjak dari ranjangnya dan pergi mengikuti langkah orang itu. Karena sejujurnya ia memang ingin segera pergi dari ruangan membosankan itu.

Tiba-tiba orang dihadapan Donghae berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap dirinya.

"Ingat! Tak ada pertanyaan dan jangan berisik!"

Donghae hanya mengangguk sekali dan orang itu pun kembali melanjutkan langkahnya. Mereka terus saja berjalan dalam lorong yang hanya diterangi oleh obor dan Donghae tak bisa berhenti mengerutkan keningnya kala melihat dinding disebelah kanan dan kirinya. Banyak sekali ukiran bergambar manusia berpakain perang di sana.

Tiba-tiba Donghae menghentikan langkahnya saat melihat sebuah ukiran yang sangat menarik perhatiannya. Diperhatikannya ukiran itu. Itu bukanlah sosok manusia seperti yang lain.

"Makhluk apa itu?" gumam Donghae saat memperhatikan sosok dalam ukiran itu. Donghae beralih pada wajahnya dan Donghae semakin terdiam. Walau hanya sebuah ukiran namun Donghae masih dapat melihat bahwa paras sosok itu terlihat sangat cantik.

"Jangan diam saja disitu! Ayo jalan!"

Donghae tersentak saat mendengar seruan itu. Dilihatnya sosok pendek dihadapannya tengah menatapnya tajam, menyuruhnya agar segera mengikutinya. Sekilas Donghae kembali mengamati wajah sosok itu sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya.

Kriet.. Kretek.. Kretek..

Donghae kembali terdiam saat melihat pintu batu dihadapannya bergeser. Dibenaknya kali ini dipenuhi bayak pertanyaan, terutama dari mana pintu batu itu muncul? Karena sejak tadi yang dilihatnya hanya dinding berukir serta lorong yang tak terlihat ujungnya.

Pintu batu itu akhirnya terbuka seutuhnya dan cahaya yang sangat meyilaukan mata menghampiri penglihatan Donghae. Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali agar matanya terbiasa dengan cahaya menyilaukan itu.

"Masuk.."

Donghae mendengar suara yang amat sangat lembut menyuruhnya untuk masuk. Sosok mungil dihadapannya sudah tak terlihat lagi. Dengan ragu Donghae pun melangkah maju memasuki ruangan yang tak tahu apa yang menunggunya saat ini.

Cahaya yang amat menyilaukan itu berangsur-angsur meredup dan Donghae pun bisa melihat apa yang tengah menunggunya sedari tadi.

"Selamat datang Lee Donghae.."

Donghae hanya diam mendengar sambutan yang begitu lembut. Entah ia terlalu terkejut atau terlalu terpesona, ia sendiri juga tak tahu. Yang pasti, sosok dihadapannya itu seakan telah membuatnya terhipnotis.

Diperhatikannya juga sosok-sosok yang lain. Sosok pendek yang tadi mengantarkannya nampak menghampiri seorang pria bertubuh tambun dan berdiri dihadapannya bak seorang pelindung dan itu membuat Donghae sedikit geli. Bagaimana mungkin sosok mungil itu melindungi pria bertubuh sebesar itu?

Namun kegelian Donghae berubah menjadi keheranan saat melihat pakaian-pakaian mereka. Ia merasa pernah melihat pakaian itu. Bukan pakaian yang seperti dikenakannya saat ini.

Pria bertubuh tambun yang baru saja diperhatikannya itu memakai sebuah kemeja lengan panjang berwarna hijau muda serta celana panjang dengan warna senada lalu dibagian atas kemejanya ditutupi oleh syal panjang berwarna hijau zambrud. Sedangkan pria mungil yang mengantarkannya tadi yang berdiri dihadapan pria tambun bak seorang pelindung itu hanya menggunakan pakaian panjang berwarna hijau muda. Namun dilehernya ada kalung yang berbandul daun berwarna hijau tua.

Disisi pria tambun itu ada seorang pria yang memakai topeng namun hanya separuh wajahnya saja yang tertutup oleh topeng itu. Pria itu memakai pakaian tak berlengan berwarna abu-abu dengan celana dibawah lutut dengan warna senada. Dilehernya terlilit syal berwarna senada dengan bajunya. Lalu dihadapan pria itu ada seorang pria berperawakan tinggi yang memakai baju lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna senada dengan jubah yang panjangnya hanya mencapai lutut dengan warna senada pula. Dan ditangan kanannya ada sebuah gelang dengan batu sebagai aksesorisnya.

Lalu disamping pria bertopeng separuh itu ada pria bertubuh pendek yang mengenakan kaus lengan panjang berwarna krem dengan celana panjang berwarna senada dan ditutupi dengan jubah panjang berwarna senada pula serta ada ukiran salib dibagian depan jubah itu. Dan dihadapannya itu berdiri seorang pria kekar yang memakai baju tanpa lengan berwarna krem serta celana yang panjangnya hanya dibawah lutut. Pria kekar itu menggunakan anting-anting ditelinga kirinya dengan bandul salib.

"Jangan memandangnya tidak hormat seperti itu, anthropinos rendah!"

"Sudahlah Kangin.." Pria pendek yang tadi menyapa Donghae nampak memandang pria kekar yang dipanggilnya Kangin itu. Menyuruhnya untuk tak usah meributkan masalah sepele ini.

"Ck! Kau itu terlalu baik, Yesung. Pantas saja kau mudah sekali dibohongi!" ejek pria bertopeng separuh itu.

"Bicara apa kau Hankyung hyung!" Kangin nampak menggertak Hangkyung—pria bertopeng separuh— sembari mengarahkan anak panah—yang entah muncul dari mana—tepat ketenggorokan Hankyung.

Donghae pun terdiam melihat keributan dihadapannya itu.

"Kau akan berurusan denganku jika kau berani menyentuhnya walau itu hanya sesenti!" desis pria tinggi dihadapan Hankyung sembari menghunuskan pedangnya ke kepala Kangin.

"Kangin! Hentikan!" perintah Yesung.

"Cukup Zhoumi," ucap Hankyung sembari menyeringai.

"Kalian semua memang membosankan, tak bisakah berhenti bertingkah kekanakan seperti itu?"

Mereka semua menoleh ke arah Donghae. Sedangkan Donghae hanya diam ditatap seperti itu dan ia baru sadar, bukan ialah yang kini tengah diperhatikan oleh mereka, namun seseorang dibelakangnya. Donghae pun menoleh dan mendapati seorang pria yang lebih tinggi darinya tengah berdiri di sana. Pria ini menggunakan pakaian tak berlengan berwarna biru gelap dengan celana panjang berwarna senada. Dipinggannya ada sebuah ikat pinggang dengan ukiran bintang dibagian ban pinggannya. Dan ada seorang pria..

"Ki—Kim Kibum?" Donghae benar-benar terkejut melihat tetangganya barunya itu ada ditempat itu juga. Pakaiannya pun tak kalah anehnya dengan yang lain. Kibum hanya menggunakan kaus berlengan panjang serta celana panjang berwarna biru gelap dan ditutupi oleh jubah panjang berwarna senada dan ada hiasan bintang dibagian bawah jubah itu.

"Oh, hai.. bagaimana kabarmu?"

Donghae tak menjawab pertanyaan Kibum dan malah menatap dingin Kibum. Entah keberanian darimana, Donghae pun berjalan mendekati Kibum dan hendak memukulnya namun tangannya tertahan saat pria dihadapan Kibum memegangi tangannya.

"Jangan lakukan itu jika kau tak ingin mati sia-sia ditempat ini."

"Lepaskan!" tegas Donghae tanpa melepaskan tatapan matanya dari Kibum. Namun pria itu tetap tak melepaskan tangan Donghae. "LEPASKAN!"

"Lepaskan saja, Siwon hyung. Dia tak akan menyakitiku," ucap Kibum. Pria yang dipanggil Siwon itu pun melepaskan genggamannya.

"Kau bawa ke mana Hyukjae?" tanya Donghae.

"Hah?" tanya Kibum tak mengerti.

"DIMANA HYUKJAE!" raung Donghae sembari mencengkeram baju Kibum.

Srettt

Donghae melirik ke kanan dan ke kiri. Disana sudah ada mata anak panah yang melayang. Semuanya tertuju ke kepalanya. Namun itu tak membuat Donghae melepas cengkeraman tangannya pada baju Kibum walau ia sedikit heran dari mana anak panah itu muncul.

"DIMANA—"

"Diamlah, Donghae. Kau terlalu berisik!" Donghae memiringkan kepalanya dan semakin membuncahlah amarahnya saat melihat Sungmin berdiri disana. Dan lagi-lagi, ia memperhatikan pakaian yang melekat pada tubuh Sungmin. Baju yang panjangnya hingga kemata kaki dan dipinggannya dililit oleh sehelai kain dan semua itu berwarna emas.

"Kibum, singkirkan anak panahmu itu," ucap Sungmin. Sungmin kini menatap Donghae dingin. "Kenapa Donghae? Bukankah kau sendiri yang sudah tak peduli dengan Hyukjae? Oh.. atau kau sudah menyadari kesalahanmu? Kau menyesal dan ingin meminta maaf padanya? Huh.. kau benar-benar menyedihkan!"

"Dimana Hyukjae?" tanya Donghae lagi.

"Dia tak ada disini," jawab Sungmin sembari berjalan melewati Donghae.

"Kau!"

"Berhenti atau kau akan mati!" ancam Sungmin saat tangan Donghae berhasil mencengkeram bajunya. Yang lain hanya memperhatikan kedua orang itu tanpa berniat untuk melerainya.

"Katakan dimana Hyukjae." Donghae kembali menanyakan itu kepada Sungmin dan Sungmin pun menatap dingin Donghae.

"Kau sudah tak ada hubungan lagi dengannya, dia harus disini."

"A—apa maksudmu?" tanya Donghae tak mengerti.

"Lebih baik kita duduk dan bicarakan ini baik-baik," ucap Yesung tiba-tiba. "Anthropinos itu berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah terlibat cukup jauh dan Kyuhyun serta Heechul juga menjadikannya incaran untuk menarik Eunhyuk keluar dari tempatnya saat ini."

"Kau benar Yesung hyung," ucap Sungmin. Namun dari nada bicaranya terdengar ia sama sekali tak menyukai saran itu.

"Tak perlu duduk! Jelaskan padaku!" tegas Donghae saat mereka semua hendak beranjak pergi dari tempat itu. "Sekarang!"

"Berhentilah bersikap seolah-olah kau pemimpin kami, Lee Donghae!" gertak Kibum. "Kau bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di sini dan kau tak berhak mengeluarkan pendapat. Ikuti aturan kami!"

"Hyung! Hyung! Hyuuunnngggg!"

Terdengar suara langkah kaki berlari serta teriakan dari balik pintu. Kibum yang paling dekat dengan pintu batu pun menoleh dan mendapati seorang pria mungil dengan wajah bersimbah keringat tengah menatap mereka. Wajahnya juga nampak pucat.

"Ada apa, Henry?" tanya Sungmin segera. Donghae memandang pria mungil itu ingin tahu. Pasalnya pria mungil itu menggunakan pakaian yang sama dengan Sungmin hanya saja dengan warna perak.

"Leeteuk hyung dan Eunhyuk hyung.. mereka.."

Belum selesai pria mungil bernama Henry itu menyelesaikan perkataannya, Sungmin telah berlari menjauhi tempat itu. Henry menatap mereka semua sekilas lalu mengikuti langkah Sungmin. Semula Kibum hanya berdiri diam, namun akhirnya ia pun mengikuti kedua orang yang sudah tak terlihat sosoknya itu diikuti oleh yang lain.

"Ikutlah kami," pinta Yesung pada Donghae. "Jika kau ingin mengetahui segalanya."

Dengan ragu, Donghaepun mengikuti langkah Yesung.

~to be continued~


finally, fanfic ini comeback.. xD
terima kasih yang masih setia sama fanfic ini.. kkk~
dan ternyata, direview chapter kemarin, entah itu di kotak review maupun di page, sepertinya penasaran sama sosok berjubah hitam itu ya?
siapa mereka? udah kejawabkan.. dan tahu peran mereka apakan difanfic ini?
dan semua member sudah keluar disini..
bagaimana kelanjutan ceritanya? tunggu saja.. ;)

oh iya, untuk yang nanya hubungan hyuk sama hae serta min..
sabar deh ya..
hehehe..
seneng deh bikin kalian penasaran... *plakkk
kkk! bercanda, dear...
sabar aja deh..
ntar satu per satu juga bakal dijelasin kok... ;)

so,, terakhir..
silahkan berikan review terbaik kalian di chapter ini.. ;)