hy... akhirnya saya bisa update. maaf ya, lama!

terimakasih banyak buat semua yang masih bersedia review.

Ganbatte ne

KyouyaxCloud

lady Spain

Arisu Kuroneko

Devil Brain

Princess Assasin

Ichiko Yuuki

Fujo Suka Nyasar

Yuna Claire Vessalius Kusanagi

Aoirhue Kazune

Takazawa kazuki

Ren-Mi3 NoVanta

Zaivenee

Viezukha potter

dan balasan buat yang g log in :

Tara : Yeah saya update maaf lama, moga gak kecewa ya...

ByuuBee : Terima kasih. padahal saya agak bingung buat flashbacknya. saya gak pernah buat genre family sih. senang ada yang suka.

Sana-chan : wah kalau saya bikin sasu mati di tengah tengah chap saya bisa di bantai para reader. kalau di ending sing akan saya pertimbangkan. *kabur*

mika : maaf... kena sindrom males+gak da ide+ banyak pikiran. maaf ya, cahap selanjutnya saya usahakan cepat.

Namikaze trisha : maaf! ini saya update. saya akan usaha update kilat *yosh*

Yukira Adeline : maaf chap ini masih lama jg he3. wah... sepertinya saya harus bangun gudang buat nyimpan jempolnya he3. maaf chap ini mungkin agak membosankan.

Naru3 : yup, bener bangte. saya akan usahakan sampai chap 15. gak tahu kalau molor. Nb: yeah dah baca kan? saya agak susah nngelanjutin fic ini karena kepikiran fic itu terus he3.

Adeiin : Yeah saya update. maaf lama. sepertinya chap ini agak membosankan. maaf ya!

yeah... terima kasih ats semua reviewnya yang selalu membuat saya semangat.

yosh... langsung aja.

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

Chapter 13 : Revelation !

Seperti biasa istana neraka yang berdiri di puncak bukit itu terlihat megah. Beberapa prajurit neraka berjalan hilir mudik di seluruh area untuk menjaga keamanan. Namun sepertinya seluruh prajurit itu tak menyadari sekelebat bayangan hitam yang melompat melewati gerbang neraka dengan kecepatan tinggi.

Sambil mengendap-endap, Sasuke menyelinap masuk ke dalam istana manuju kamarnya. Menghindari semua prajurit neraka yang berjaga di sekitar istana dengan menggunakan genjutsu. Ia mengenakan jubah hitam dengan tudung kepala untuk menyembunyikan baju putihnya yang kini penuh noda darah. Dengan perlahan ia membuka jendela kamarnya yang memang sengaja tak ia kunci sebelumnya.

Sasuke menghela nafas lega saat menyadari kamarnya masih gelap gulita. Pertanda genjutsunya masih aktif dan tak ada seorang pun yang memasuki kamarnya. Ia segera melompat masuk dan kembali menutup jendela dengan perlahan.

"Darimana saja, Baka Otouto?" Tanya sebuah suara membuat Sasuke refleks menoleh. Dalam sekejap ruangan itu menjadi terang. Menampakkan sosok raja neraka yang dengan santai duduk di sebuah kursi di sudut kamar. Dibelakangnya neji berdiri bersama 5 pengawal pribadi Sasuke.

Sasuke menatap mereka tanpa menampakkan rasa terkejut yang ia rasakan.

"Bukan urusanmu, Baka Aniki!" jawab Sasuke tanpa menatap sang kakak. Ia berjalan menjauh sambil merapatkan jubah hitamnya.

Itachi hanya diam. Menatap Sasuke dalam-dalam sambil duduk di kursinya.

Dan dalam sekejap saja Itachi sudah ada di hadapan Sasuke. Menarik jubah hitam Sasuke hingga menampakkan baju putihnya yang penuh dengan noda darah. Walaupun terkejut, Itachi tak memperlihatkan ekspresinya saat Sasuke melangkah mundur berusaha menjauh darinya.

"Apa yang terjadi, Sasuke?" Tanya Itachi serius. Melangkah maju mendekati Sasuke.

"Ini bukan apa-apa." Jawab Sasuke sambil melangkah mundur.

"Kau terluka?' Tanya Itachi lagi.

"Tidak," jawab Sasuke sambil memalingkan muka.

Itachi segera mencengkeram bahu Sasuke. Membuat Sasuke tak bisa bergerak dan dengan perlahan menyibak baju Sasuke yang penuh darah. Berusaha mencari luka atau goresan di tubuh Sasuke.

"Ini darahmu" kata itachi dingin.

"Hn." Jawab Sasuke pendek. Berusaha tetap tenang.

"Siapa yang melakukannya?" Tanya Itachi pelan.

"Bukan siapa-siapa." Jawab Sasuke cepat.

"Kutanya SIAPA?" bentak Itachi sambil menatap Sasuke dengan tiga koma berputar di mata merahnya. Membuat Sasuke tersentak.

"Tenanglah, Nii-san. Aku baik-baik saja." Jawab Sasuke berusaha menenangkan sang kakak. Sasuke sadar, sejak kematian kedua orang tuanya, Itachi memang lebih overprotektif padanya. Dan membuatnya marah bukanlah hal yang ingin ia hadapi.

"Ceritakan padaku!" perintah Itachi. Sasuke menghela nafas.

"Aku mengunjungi seorang teman dan terluka karana kecerobohanku. Lalu temanku itu menyembuhkan lukaku." Kata Sasuke berusaha menjelaskan hal yang terjadi tanpa membawa-bawa nama Naruto.

Itachi menatap Sasuke dalam-dalam dengan Sharingan yang masih aktif.

"Sekali lagi kau pergi dari istana tanpa sepengetahuanku, aku akan merantai kaki dan tanganmu dengan api tsukuyomi." Ancam Itachi sambil menatap tajam Sasuke.

"Maaf, Nii-san." Jawab Sasuke sambil menunduk.

Itachi menatap Sasuke selama beberapa saat dan menghela nafas dalam-dalam. Ia memejamkan mata dan dalam sekejap saja mata merahnya kembali seperti semula.

"Cepat mandi dan ganti baju, kita makan siang bersama-sama." Kata Itachi sambil berbalik menuju pintu dan melangkah pergi.

"Baik, Nii-san"

# # #

Malam ini Naruto terbangun dalam kegelapan. Dengan panic ia bangkit dan mamandang sekeliling. Berusaha mencari tahu dimana ia sekarang. Ia menghela nafas lega saat menyadari ia berada di kamar apartemennya. Dengan perlahan ia bangkit dan menyalakan lampu saklar di samping tempat tidurnya.

Setelah lampu menyala dan suasana menjadi terang, Naruto kembali duduk di tepi ranjang. Memandang sekeliling. Ia merasa lebih tenang setelah tak lagi berada dalam kegelapan. Diliriknya jam kecil di samping tempat tidur. Jam 3 pagi. Naruto memandang sekeliling lagi.

'Apa yang terjadi?' Tanya Naruto dalam hati sambil berusaha mengingat-ingat.

"Benar juga…" renung Naruto.

Ia mengantar pangeran menuju Suna dan hampir lepas kontrol saat perjalanan pulang.

Naruto mendengus pelan. Mengutuki kebodohannya. Harusnya ia lebih berhati-hati saat mendekati hari ulang tahunnya. Harusnya ia sudah terbiasa menyadari bahwa ia akan sulit mengendalikan kekuatannya di hari ulang tahunnya. Ia harus bersyukur. Setidaknya tak ada seorangpun yang tahu identitas aslinya. Walaupun mereka mulai curiga, setidaknya ia bisa mencari alasan nanti. Untung saja setelah sampai di istana mereka di perbolehkan langsung pulang. Naruto langsung melesat pergi menuju hutan kematian. Tempat ia biasa menghabiskan hari ulang tahunnya selama hampir 10 tahun ini. Disana tak akan ada orang yang mengganggunya kecuali orang-orang yang benar-benar mencarinya seperti sepasukan ninja berbaju hitam itu.

Naruto menghela nafas panjang. 'Setidaknya hari itu sudah lewat.' Batin Naruto sambil memandang tangannya yang berlumuran darah. Ia memang sudah terbiasa pulang dengan tubuh bersimbah darah, tapi sepertinya ada yang aneh.

Naruto mengernyit dan berusaha mencari sesuatu yang tidak biasa. Ia mengendus bau darah di tangannya dan seketika itu ia langsung terlonjak berdiri.

"Tidak mungkin," bisik Naruto sambil memandang tangannya yang bergetar.

"Sa-sasuke?" gumam Naruto tak percaya. Kemudian ia mengingat peristiwa tadi pagi.

Ia sadar dalam pelukan Sasuke yang… yang berlumuran darah. Ia… melukainya.

Seketika itu air mata Naruto langsung menetes. Kata-kata Sasuke kembali terngiang di telingnya.

'Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja'

'Jangan menangis'

Naruto langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. Berusaha menahan tangisnya.

Setelah selama beberapa saat menangis dalam diam. Naruto mengingat hal lain yang langsung membuat tangisnya berhenti. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat, berusaha meyakini ingatannya. Dengan perlahan ia meraba bibirnya.

'Kyaaa…' teriak Naruto dalam hati. Panik sendiri.

'A-aku.. berciuman… dengan si Teme itu! Hyaaa…'

'Gawat! Harus bagaimana aku waktu bertemu dengannya nanti?'

Dan sisa pagi itu dihabiskan Naruto dengan mondar-mandir mengelilingi kamar sambil bergumam tidak jelas. Dengan muka yang merona merah seperti tomat.

# # #

Pagi ini Sasuke mengerjakan semua tugasnya dalam diam. Dia bahkan sama sekali tidak protes saat disuruh Itachi menghadiri rapat dewan yang menyebalkan. Itachi hanya memperhatikan Sasuke dalam diam. Beberapa kali ia memergoki Sasuke mengerjakan laporan sambil melamun. Walaupun agak khawatir, Itachi hanya diam tak mengatakan sepatah katapun. Hingga saat hari menjelang sore, Sasuke datang menemuinya dengan wajah ragu-ragu.

"Ada apa, Sasuke?" Tanya Itachi sambil membaca beberapa dokumen. Berpura-pura tak memperhatikan gerak-gerik Sasuke yang terlihat gelisah.

"Tugasku sudah selesai, bolehkah aku… uh… meninggalkan istana sebentar?" Tanya Sasuke ragu-ragu. Memandang sekeliling, kemanapun selain sosok sang kakak di hadapannya.

Itachi memandang Sasuke dalam diam. Melihat postur sang adik yang terlihat gelisah dan takut memandangnya langsung. Itachi jadi sedikit merasa bersalah. Mungkin ia terlalu keras pada Sasuke kemarin.

"Kemana?" Tanya Itachi setelah beberapa saat.

"Menemui seseorang." Jawab Sasuke masih memalingkan muka.

"Siapa?" Tanya Itachi lagi. Diperhatikannya wajah Sasuke yang terlihat lebih merah dari biasanya.

"Bukan siapa-siapa." Jawab Sasuke.

Itachi hanya diam. Dia kembali berpura-pura membaca dokumen seolah tak mendengar jawaban Sasuke. Selama beberapa saat keduanya diam. Sama-sama menunggu jawaban.

"Uh… baiklah! Aku ingin mengunjungi Naruto. Kau sudah puas?" kata Sasuke akhirnya. Memandang sang Kakak dengan kesal.

"Oh." Jawab Itachi pendek. Ia sedikit tersenyum melihat tingkah Sasuke. Namun senyumnya tertutup kertas dokumen sehingga Sasuke tak bisa melihatnya.

"Jadi?" Tanya Sasuke semakin kesal. Ia memandang sang kakak sambil bersedekap angkuh.

"Boleh, pergi saja," kata Itachi cuek tanpa melihat Sasuke.

Sasuke memandang Itachi curiga selama beberapa saat. Sebelum kemudian ia keluar tanpa mengatakan apapun lagi.

# # #

Sasuke melesat keluar istana dengan kecepatan tinggi. Ia tak sempat mengganti baju pangeran biru gelap yang di pakainya. Ia takut tak akan sempat mengingat matahari sudah condong di barat. Walaupun begitu ia sempat menyambar sebuah jubah hitam yang cukup bias menyembunyikan identitasnya.

Setelah sampai di depan gedung apartemen Naruto, Sasuke berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang terengah. Kemudian dengan perlahan ia berjalan menaiki tangga dan berhenti di depan pintu apartemen Naruto. Diketuknya pintu itu perlahan.

Tidak ada jawaban.

Sasuke mulai khawatir. Apa terjadi sesuatu pada Naruto lagi?

Diketuknya pintu Naruto lagi. Kali ini lebih keras dan terburu-buru.

Masih tak ada jawaban.

Sasuke kembali mengetuk pintu dengan tidak sabar. Kalau dalam hitungan ke tiga pintu itu tak juga terbuka, Sasuke sudah memutuskan akan mendobraknya.

1… 2…

"Iya aku dengar, tak perlu menggedor pintu seperti itu." Omel Naruto sambil membuka pintu. Sebelum kemudian ia sadar siapa yang berdiri di depan pintunya. Mata Naruto terbelalak tak percaya. Sasuke tersenyum dan sudah akan bicara sebelum

Blam…

Naruto menutup pintunya kembali keras-keras tepat di depan hidung Sasuke.

Di depan pintu, Sasuke masih tertegun tak mengerti sebelum kemudian ia tersadar dan kembali mengetuk pintu.

"Cepat buka pintunya, Dobe!" perintah Sasuke dengan tak sabar.

Tidak ada jawaban.

"Naruto!" panggil Sasuke lagi sambil mengetuk pintu.

"Mau apa kau datang kemari?" Tanya Naruto dari balik pintu.

"Kalau dalam hitungan ketiga kau tak juga membuka pintunya, akan kuhancurkan dengan chidori!" ancam Sasuke. Tak ada jawaban.

"Satu!" Sasuke mulai menghitung.

"Dua" Sasuke mulai membentuk segel dengan kedua tangannya.

Brak… dan pintupun terbuka.

"Apa sih maumu?" Tanya Naruto kesal.

Tanpa menjawab, Sasuke langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Naruto.

"Hei… aku belum mempersilahkanmu masuk!" protes Naruto. Menatap Sasuke tajam sambil menutup pintu di belakangnya.

"Hn," jawab Sasuke sambil menatap sekeliling. Lalu berbalik menatap Naruto yang kini tengah berdiri sambil bersedekap kesal. Ia mengenakan sebuah T-shirt berwarna biru dan celana pendek selurut berwarna orange. Rambut pirangnya terlihat basah dan tergerai panjang di belakang punggung. Sepertinya ia baru saja selesai mandi.

"A-apa?" Tanya Naruto saat sadar Sasuke menatapnya lekat-lekat.

Sasuke melangkah mendekati Naruto dan berhenti tepat di hadapannya.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Sasuke sambil menatap Naruto dalam-dalam. Membelai sedikit ujung rambut Naruto.

"Ten-tentu saja aku baik-baik saja. Kau pikir aku ini siapa?" jawab Naruto dengan wajah merona merah. Menatap wajah Sasuke di hadapannya. Ia mundur selangkah.

"Syukurlah!" jawab Sasuke. Ia kembali berbalik dan kembali menatap sekeliling. Kemudian duduk di salah satu kursi di depan meja makan.

"Untuk apa kau kemari?" Tanya Naruto yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu.

"Aku tak boleh kemari?" Tanya Sasuke balik.

"Bu-bukan begitu!" jawab Naruto sambil memalingkan muka.

"Eh… darimana kau tahu ini apartemenku?" Tanya Naruto kaget.

"Dobe… kau pikir aku ini siapa?" Tanya Sasuke sambil memandang Naruto.

"Huh.." jawab Naruto singkat. Ia lalu terdiam. Memandang kemana saja selain sosok pangeran di hadapannya. Aneh sekali! kenapa tiba-tiba apartemen yang biasanya terasa sunyi dan dingin kini jadi terasa hangat dan nyaman?

"Hei… kau benar-benar sudah baikan?" Tanya Sasuke. Tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Naruto dan menyentuh dahinya lembut.

"Uwa…" teriak Naruto kaget. Ia refleks melangkah mundur. Dan terjatuh saat tersandung kakinya sendiri. Untung saja Sasuke langsung menarik tangan Naruto sehingga kepalanya tak membentur pintu.

Muka Naruto langsung merona merah saat menatap Sasuke yang kini sudah setengah memeluknya. Ingatan kemarin kembali terbayang di kepalanya. Dipandanginya bibir Sasuke yang berwarna pink menggoda. Naruto menelan ludah.

"Sepertinya pennyakit bodohmu memang tak mungkin bisa disembuhkan" kata Sasuke sambil setengah tersenyum. Membuyarkan lamunan Naruto.

"Diam kau, Teme!" teriak Naruto kesal. 'Bagaimana aku bisa suka sama pangeran brengsek ini sih?' Tanya Naruto dalam hati.

"Hn." Jawab Sasuke sambil melepas pelukannya. Dibantunya Naruto berdiri lalu kembali menuju dapur.

"Kau punya sesuatu untuk dimakan?" Tanya Sasuke sambil membuka kulkas. Hanya ada sekotak susu. Sasuke berpindah ke lemari makan. Ramen, ramen, ramen.

"Kau hanya punya ramen?" Tanya Sasuke sambil mengambil satu cup ramen.

"Kau datang kemari hanya untuk makan? Maaf saja, disini tak ada makanan mewah. Lebih baik kau pulang dan makan di istana sana!" kata Naruto ketus sambil merebut ramen dari tangan Sasuke.

"Berisik! Tadi aku belum sempat makan siang!" kata Sasuke kembali merebut ramen yang di pegang Naruto dan langsung membuka tutupnya.

"Ah… ramenku!" teriak Naruto.

"Teme! Itu ramen favoritku!" teriak Naruto lagi.

"Bagaimana cara makannya?" Tanya Sasuke sambil menatap ramen di tangannya. Naruto sweatdrop.

"Dasar pangeran tak berguna. Makan ramen saja kau tak bisa!" jawab Naruto sambil mengambil termos dan menuangkan air panas ke ramen di hadapan Sasuke.

"Tunggu 3 menit!" perintah Naruto saat Sasuke mencoba meraih ramennya. Naruto ikut mengmbil 3 cup ramen dan menyeduhnya dengan air panas.

Keduanya lalu makan dalam diam.

"Kemarin itu… kau kenapa?" Tanya Sasuke setelah beberapa saat. Membuat Naruto langsung tersedak.

"Bu-bukan apa-apa!" jawab Naruto cepat. Kembali memakan ramennya dengan lahap tanpa memandang Sasuke.

"Kau salah besar jika mengira aku akan mengabaikan hal itu begitu saja." Kata Sasuke tajam. Naruto hanya diam.

"Kau… kau terlihat…" kata Sasuke berusaha mencari kata yang tepat.

"Mengerikan?" potong Naruto tajam. Sasuke hanya tertegun memandang Naruto yang kini terlihat marah.

"Aku terlihat mengerikan? Menakutkan? Menjijikkan? Seperti monster?" desis Naruto penuh amarah. Sasuke membeku.

"Karena kau sudah tahu, kau bisa membenciku dan tinggalkan saja aku sendiri!" teriak Naruto sambil berdiri dan berjalan menjauh. Ia memandang keluar jendela, memunggungi Sasuke yang masih terdiam.

Selama beberapa saat suasana sunyi.

Dengan perlahan Sasuke berdiri. Dan berjalan menghampiri Naruto. Perlahan di raihnya bahu Naruto. Menariknya agar berbalik menghadapnya.

Naruto tengah memejamkan mata dan menggigit bibirnya yang terlihat bergetar.

"Naruto…" panggil Sasuke sambil membelai pipi Naruto lembut.

Dengan perlahan Naruto membuka mata dan menatap mata oniq Sasuke. Rasa takut, panik, bersalah, dan putus asa tergambar jelas di mata sapphire Naruto. Membuat dada Sasuke terasa sesak.

"Kau tahu? Aku tak akan pernah… tak akan bisa membencimu!" kata Sasuke lembut. Naruto mendongak menatapnya sambil menggigit bibirnya lebih keras. Berusaha menahan isakan yang siap keluar dari bibirnya.

"Walaupun kau menghancurkan seluruh tulang di tubuhku, aku tak akan pernah bisa membencimu." Kata Sasuke. Dihapusnya setetes air mata yang jatuh dari mata Naruto.

"Jadi percuma saja kau mengusirku, karena aku akan tetap di sampingmu!" kata Sasuke sambil memandang Naruto yang kini memejamkan mata erat-erat. Membuat air matanya mengalir menuruni pipi dan menetes.

"Seolah-olah kau bisa jauh dariku saja." Kata Sasuke sambil setengah tersenyum.

Tanpa bisa di tahan, Naruto langsung memeluk erat Sasuke. Mengubur wajahnya di dada Sasuke sambil terisak.

"Kumohon! Jangan membenciku!" kata Naruto di sela-sela tangisnya.

"Jangan tinggalkan aku! Aku tak ingin sendiri lagi!" mohon Naruto sementara Sasuke membelai lembut rambut pirang Naruto dan memeluknya lebih erat, berusaha menenangkannya.

"Hn, tuhkan. Seolah kau bisa jauh dariku saja." Sindir Sasuke sambil tersenyum.

"Teme!" teriak Naruto kesal. Masih sambil memeluk Sasuke. Sementara yang bersangkutan hanya tertawa pelan.

Setelah selama beberapa saat berpelukan dalam diam, dengan perlahan Sasuke menarik Naruto dari pelukannya.

"Sudah puas menangisnya?" Tanya Sasuke sambil menyibak rambut Naruto dan menghapus sisa air matanya.

"Keberatan kalau menjelaskan sekarang?" Tanya Sasuke lagi. Naruto menghela nafas panjang sambil duduk di tepi tempat tidurnya. Sasuke ikut duduk di sampingnya, bersiap mendengarkan. Tapi Naruto hanya diam.

"Orang tuaku." Kata Naruto pelan setelah beberapa saat.

"Hn?" Tanya Sasuke tak mengerti.

"Orang tuaku di bunuh tepat di hari ulang tahunku." Kata Naruto sambil menunduk. Sasuke hanya tersentak kaget mendengar pengakuan Naruto.

"Kau tahu… siapa…?" Tanya Sasuke.

"Tidak," jawab Naruto.

"Tapi sepertinya aku sudah membunuhnya saat itu." lanjutnya lagi. Sasuke hanya diam.

"Sejak saat itu, tiap di hari ulang tahunku, aku selalu tak bisa mengendalikan kekuatanku." Kata Naruto sambil menghela nafas.

"Kekuatan yang... itu?" Tanya Sasuke pelan.

"Ya, yang itu. Aku punya… sejenis kekai genkai. Biasanya kekuatan itu hanya keluar saat aku merasa terdesak. Namun berbeda di hari ulang tahunku. Kekuatanku akan terlepas tanpa kendali." Jelas Naruto tanpa memandang Sasuke.

"Biasanya itu akan berlangsung selama satu minggu penuh." Kata Naruto. Sasuke tersentak.

"Satu minggu?" Tanya Sasuke tak percaya. Naruto mengangguk.

"Tapi… sekarang… kau…?" Tanya Sasuke.

"Aku tak tahu. Ini pertama kalinya aku hanya mengamuk selama satu-dua hari." Jawab Naruto sambil mengangkat bahu.

Sasuke menatap Naruto selama beberapa saat sebelum kembali bertanya.

"Lalu orang-orang berbaju hitam itu?"

"Mereka memang mengincarku, hanya saja mereka tak tahu dimana aku bersembunyi selama ini. Yang mereka tahu, aku akan berada di hutan kematian setiap tanggal 10 oktober. Sepertinya saat aku mengawalmu ke Suna, beberapa dari mereka mengenaliku." Kata Naruto pelan

"Apa setiap Tahun selalu seperti ini?" Tanya Sasuke. Naruto mengangguk.

Hening.

"Apa apaan wajahmu itu, Teme! Biasa saja, aku sudah biasa mengalami hal itu." Kata Naruto sambil tersenyum lebar.

"Berhenti pasang muka bodoh seperti itu!" kata Sasuke tajam sambil memandang Naruto.

Senyum Naruto langsung memudar. Ia menunduk. keduanya diam selama beberapa saat.

"Ada aku…" kata Sasuke pelan. Naruto mendongak. Mendapati dirinya terperangkap sepasang mata berwarna oniq yang menatapnya penuh keyakinan.

"Aku akan melindungimu!" kata Sasuke sungguh-sungguh. Dibelainya pipi Naruto dengan lembut. Naruto tak dapat berkata-kata.

Mereka saling pandang selama beberapa saat. Sebelum tanpa sadar wajah keduanya saling mendekat. Saling memejamkan mata dan meniadakan jarak di antara mereka.

"Hm, sudah waktunya pulang, Baka Otouto!" sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Menghentikan gerakan mereka beberapa millimeter sebelum bibir keduanya saling bersentuhan. Dengan kesal Sasuke berbalik dan menatap tajam siapapun itu yang mengganggu kegiatannya.

Dan terkejut saat melihat Itachi tengah duduk di kursi di depan meja makan Naruto dengan santai. Kali ini ia sendirian tanpa ditemani oleh Neji. Itachi memandang Sasuke dan Naruto penuh minat sambil memegang dagunya.

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, BAKA ANIKI!" teriak Sasuke kesal.

"Y-yang Mulia!" pekik Naruto terkejut. Dengan segera ia berdiri dan berlutut di hadapan Itachi.

"Maafkan atas kelancangan hamba!" kata Naruto dengan muka memerah karena malu kepergok akan berciuman dengan Sasuke.

"Dobe! Kau tak perlu berlutut padanya!" kata Sasuke sambil menarik Naruto berdiri.

"Diam kau, Teme!" kata Naruto sambil memukul kepala Sasuke.

"Hei…" protes Sasuke sambil memegang kepalanya.

"Tak apa, Naru-chan. Kau boleh berdiri." Kata Itachi sambil tersenyum.

Sasuke dan Naruto langsung membeku. Na..Naru-chan?

"Nah, karena sepertinya urusan Sasuke sudah selesai. Boleh kita bicara sebentar?" Tanya Itachi sambil berdiri.

"Ten-Tentu Yang Mulia!" jawab Naruto gugup.

"Apa kau yang melukai Sasuke kemarin?" Tanya Itachi to the point. Membuat Naruto dan Sasuke tersentak.

Suasana langsung hening.

"Nii-san" kata Sasuke pelan.

"Diam," jawab Itachi tenang.

"Tapi… Nii-san…" Protes Sasuke.

"Benar, Yang Mulia!" jawab Naruto. Sasuke tersentak dan menatap Naruto tak percaya.

"Dobe… apa yang-"

"Sayalah yang melukai Yang Mulia Pangeran kemarin." Kata Naruto lagi sambil menunduk.

Suasana kembali hening.

"Begitu," kata Itachi akhirnya. Ia berjalan mendekati Naruto.

"Nii-san, itu tak seperti yang kau kira." Kata Sasuke. Melangkah di hadapan Itachi. Menghalangi langkahnya.

"Minggir." Kata Itachi tenang.

"Tidak." kata Sasuke bersikeras. Kemudian sebuah tangan menyentuh bahunya lembut. Sasuke menoleh ke arah Naruto.

"Minggirlah, Sasuke!" kata Naruto. Sasuke sudah akan protes sebelum kemudian melihat raut wajah Naruto. Dengan enggan Sasuke mnyingkir namun tetap berdiri di samping Naruto. Bersiap dengan apapun yang akan terjadi.

"Bagaimana kau menyembuhkan lukanya?" Tanya Itachi lagi. Kini ia sudah berdiri di hadapan Naruto.

"Saya mempunyai obat yang bisa menyembuhkan luka dengan cepat" jawab Naruto.

"Apa itu?" Tanya Itachi lagi.

"Darahku." Jawab Naruto sambil menatap sang raja neraka. Keduanya saling tatap selama beberapa saat.

Dengan perlahan tangan Itachi bergerak ke arah Naruto. Naruto memejamkan mata, bersiap menerima hukuman yang pasti akan ia dapat. Raja Neraka di hadapannya itu sudah terkenal sangat protektif pada sang adik. Dan ia pasti tak akan diam saja mengetahui bahwa Naruto hampir membunuh sang adik kemarin.

"Bagus!" kata Itachi sambil tersenyum. Mengacak rambut Naruto lembut.

"Eh?" Naruto dan Sasuke tercengang.

"Baka Otouto itu memang sekali-kali perlu di beri pelajaran." Kata Itachi masih tersenyum.

Naruto dan Sasuke masih bengong.

"Sa-saya tidak dihukum?" Tanya Naruto tak percaya.

"Tentu saja kau akan di hukum." Jawab Itachi sambil menarik tangannya.

"Apa?" protes Sasuke tak terima.

"Temani aku makan malam." Kata Itachi sambil tersenyum. Menarik tangan Naruto dan mengajaknya pergi. Meninggalkan Sasuke yang masih tertegun tak percaya.

"Hei… apa-apaan itu!"

# # #

Esok paginya, Naruto kembali bertugas sebagai prajurit Neraka. Walaupun dengan langkah ragu-ragu, Naruto memasuki istana Neraka. Ia masih tak percaya masih bisa menginjakkan kaki lagi di Istana. Apalagi setelah ketahuan oleh Raja Nareka bahwa ia melukai Sang Pangeran. Adiknya satu-satunya. Masih hidup saja, Naruto sudah sangat beruntung.

Dan bukannya menghukumnya, Raja Neraka justru mengajaknya makan malam. Bayangkan saja. Makan malam dengan seorang raja. Naruto sangat yakin bahwa itu adalah mimpi.

Seperti biasa, Naruto langsung menuju kamar Sasuke.

"Yo, Naruto! Kau sudah baikan?" Tanya Shikamaru yang tengah berdiri santai di depan kamar Sasuke.

"Hy Shika! Memangnya aku kenapa?" Tanya Naruto balik.

"Kami pikir kau sakit beberapa hari ini." Kata Gaara yang juga berdiri di samping Shikamaru.

"Oh itu, ya… aku sudah sembuh!" jawab Naruto sambil tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Kau beruntung karena kemarin tak bertugas." Kata Shikamaru.

"Memangnya ada apa?" Tanya Naruto penasaran.

"Tiga hari yang lalu Pangeran menyelinap keluar dari Istana." Gaara menjawab.

"Kau bisa bayangkan bagaimana hebohnya istana karena ia menghilang. Kami beruntung tak di hukum mati karena melalaikan tugas." Kata Shikamaru malas.

Naruto hanya diam. Baru saja menyadari masalah lain yang di sebabkan olehnya. Untung saja pintu kamar Sang Pangeran terbuka, mengalihkan perhatian mereka semua. Menampakkan sosok Pangeran Sasuke yang terlihat kesal. Naruto dan prajurit yang lain langsung berlutut di hadapan Sasuke.

"Selamat pagi, Yang mulia Pangeran!" sapa mereka bersamaan.

"Hn." Jawab Sasuke pendek. Ia langsung pergi menuju ruang singgasana tanpa menatap Naruto atau menyapanya seperti biasa.

"Hei, Naruto! Apa yang sudah kau lakukan?" bisik Shikamaru pelan.

"Uh, apa?" Tanya Naruto. Masih setengah sadar karena syok Sasuke sama sekali tak menyapanya. Bukannya ia berharap begitu sih. Tapi tetap saja.

"Beberapa hari yang lalu Pangeran selalu menanyakanmu, kenapa sekarang setelah kau bertugas ia malah mengacuhkanmu?" Tanya Shikamaru lagi.

Naruto hanya diam sambil mengangkat bahu. Ia terlihat tak peduli walaupun di dalam hatinya ia panik setengah mati.

'Apa Sasuke membencinya?'

'Ia marah?'

'Apa yang harus aku lakukan?' batin Naruto panik saat mereka berjalan menuju ruang singgasana.

"Ah, selamat pagi, Naru-chan!"sapa Itachi saat sampai di ruang singgasana.

Membuyarkan lamunan Naruto dan membuat semua orang refleks langsung menoleh ke arah sang prajurit wanita. Sementara Sasuke hanya diam sambil duduk di kursinya dengan raut muka kesal. Tiga sudut siku-siku terlihat menghiasi kepalanya.

"Se-selamat Pagi, Yang Mulia." Jawab Naruto sambil menunduk hormat.

"Kau sudah sarapan?" Tanya Sang Raja Neraka lagi. Sekali lagi semua orang menatap Naruto.

"Su-sudah, Yang Mulia."Jawab Naruto.

"Begitu? Sayang sekali." Kata Itachi terdengar kecewa.

"Bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama, Naru-chan?" kata Itachi lagi. Kali ini sambil tersenyum. Semua orang disitu langsung memucat.

'Raja Neraka tersenyum! Dunia akan kiamat!' pikir semua orang.

"I-itu…" jawab Naruro terbata-bata. Ia mulai berkeringat.

"Nanti dia ada janji denganku." Potong Sasuke tajam.

"Oh, Benarkah, Naru-chan?' Tanya Itachi.

Tiga sudut siku-siku bertambah lagi di dahi Sasuke.

Naruto melirik Sasuke yang kini menatapnya tajam. "Be-benar, Yang Mulia."

"Bagaimana kalau makan malam..."

"Naru-chan?" Tanya Itachi lagi.

Ok! Sasuke sudah tak tahan lagi.

"Berhenti memanggilnya seperti itu, Baka Aniki!" kata Sasuke kesal.

"Kenapa? Kau ingin memanggilnya Naru-chan juga, Baka Otouto?" Tanya Itachi dengan wajah polos.

"A-apa? Diam, Dasar Baka aniki!" kata Sasuke sambil berdiri dari kursinya. Semburat merah yanga amat sangat sedikit mewarnai wajah pucatnya. Walaupun begitu semua orang bisa melihatnya.

"Ayo kita pergi, Na- Naruto!" kata Sasuke langsung melesat pergi meninggalkan ruangan sambil menarik tangan Naruto.

Meninggalkan beberapa prajurit neraka yang masih bengong dan sosok Raja Neraka yang tersenyum menyeringai dari balik dokumen yang dibacanya.

# # #

Sasuke masih saja terus menarik tangan Naruto sepanjang koridor istana yang dilewatinya. Mengacuhkan tatapan semua orang yang memandangnya penuh tanya.

"Berhenti menarikku, Teme!" teriak Naruto tak terima. Sasuke hanya diam saja.

Sasuke baru melepaskan tangan Naruto saat sampai di koridor sepi di sudut Istana. Ia mendorong Naruto hingga punggungnya menyentuh tembok. Lalu menatap Naruto tajam.

"Ap-apaan sih, teme!" teriak Naruto panic. Merinding melihat tatapan Sasuke. Terakhir kali Sasuke menatapnya seperti itu ia…

Tanpa bicara sepatah katapun, Sasuke langsung melumat bibir Naruto. Semakin merapatkan tubuhnya sementara kedua tangannya di letakkan di dinding samping kepala Naruto.

Naruto yang tak siap dengan serangan itu hanya bisa terbelalak kaget.

2 menit… wajah Naruto mulai berkeringat.

3 menit… Naruto mulai mendorong tubuh Sasuke walaupun itu sama sekali percuma.

4 menit… tangan Naruto sudah menggapai gapai di antara bahu Sasuke dengan putus asa.

5 menit… Naruto menginjak kaki Sasuke dan langsung mendorongnya hingga Sasuke mundur beberapa langkah.

"HUAH!" teriak Naruto lega. Ia langsung menghirup nafas banyak-banyak.

"TEME! KAU MAU MEMBUNUHKU YA?" teriak Naruto sambil menudingkan jarinya ke arah Sasuke yang juga terengah-engah

"Hn." Jawab Sasuke yang menatap Naruto sambil setengah tersenyum. Ia lalu berjalan mendekati Naruto.

Wajah Naruto memucat. Ia sudah berbalik dan bersiap lari namun Sasuke sudah menangkap tangannya dan menariknya hingga lagi-lagi ia terhimpit dinding. Sasuke kembali mendekatkan wajahnya. Refleks Naruto langsung memejamkan mata, bersiap menerima yang lebih parah dari sebelumnya.

"Benda itu memang lebih cocok untukmu." Kata Sasuke setelah selama beberapa saat tak terjadi apapun.

Dengan ragu-ragu, Naruto membuka sedikit matanya dan mengintip apa yang di lakukan Sasuke. Tidak ada. Sasuke hanya menatapnya sambil tersenyum. Naruto membuka matanya dan menunduk. Mendapati sebuah kalung dengan liontin kristal berwarna biru terpasang manis di lehernya. Mulut Naruto ternganga.

"I-ini?" Tanya Naruto.

"Aku belum memberimu hadiah ulang tahun." Sasuke sambil memalingkan muka. Mencoba menyembunyikan semburat merah yang menghiasi pipinya.

"Ta-tapi!" kata Naruto tak percaya. Ini pertama kalinya ada orang yang memberinya hadiah sejak kedua orang tuanya meninggal.

"Kenapa? Apa kurang mewah?" Tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alis.

"Teme! Berhenti pamer kekayaanmu padaku. Aku tak butuh uangmu!" teriak Naruto kesal.

"Lalu?" Tanya Sasuke lagi. Menatap Naruto dalam-dalam.

"Hanya… I-ini terlalu indah. Aku tak pantas memakainya." Kata Naruto dengan wajah menunduk.

Sasuke memandang Naruto selama beberapa saat sebelum kemudian ia tersenyum. Diangkatnya wajah Naruto dan dicium bibirnya sekilas.

"Kalau kau berani melepasnya, aku akan mengurungmu di dalam kamarku selama seminggu penuh!" kata Sasuke sambil menyeringai.

Blush… wajah Naruto langsung merah padam.

"A-apa apan itu, Teme!" teriak Naruto.

Sasuke hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Naruto. Mengajaknya pergi.

"Oh ya, Satu lagi, kalau sampai kau berani menerima ajakan Itachi…" Kata Sasuke sambil berbalik.

"Aku akan membuatmu sangat menyesal!" kata Sasuke sambil tersenyum manis.

Wajah Naruto seketika itu memucat.

"O-okay!"

# # #

Malam Harinya Naruto berjalan memasuki apartemennya dengan langkah ringan dan tersenyum lebar. Berulang kali ia menunduk dan meraba kristal biru dilehernya yang kini terlihat berkilau dalam kegelapan. Ia mengambil kunci dari sakunya dan segera memasukkannya ke lubang pintu. Tak berapa lama, pintupun terbuka. Naruto segera masuk dan kembali menutup dan mengunci pintu. Lalu melepas sepatu yang ia pakai.

Suasana di dalam ruang apartemen Naruto gelap. Hanya ada sedikit cahaya rembulan yang menerobos masuk lewat celah jendela. Semilir angin membuat gorden berwarna orange yang menutupinya melambai pelan.

Dengan santai Naruto melepas jas blazer abu-abu yang dipakainya dan melemparnya ke kursi di dekat meja makan. Ia sudah melangkah untuk menyalakan saklar lampu saat tiba-tiba saja tubuhnya membeku.

Bruk…

Tanpa bisa menjaga keseimbangan, tubuh Naruto langsung ambruk di lantai. Dengan nafas yang terengah engah, Naruto berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa berat.

'Jangan lagi!" batin Naruto sambil berusaha menggerakkan tangannya. Dengan tangan bergetar ia meraba bahunya. Symbol tiga koma berputar yang ada di bahunya menyala merah. Di cengkeramnya bahunya erat-erat. Mersakan panas yang tiba-tiba membakar kulitnya. Membuat darahnya seolah mendidih.

"Ukh…" Naruto merintih pelan.

Dengan sisa kekuatannya ia berusaha merangkak menuju pintu. Namun baru beberapa senti bergerak. Naruto sudah tak sadarkan diri.

Suasana langsung sunyi senyap. Hanya suara angin yang berani mengusik ketenangan.

Perlahan-lahan, bercak bercak merah mulai muncul di kulit Naruto. Menyebar mulai leher hingga sekujur tubuhnya. menyala merah seakan membakar tubuh Naruto.

Tak jauh dari apartemen Naruto, sesosok bayangan berdiri di puncak sebuah pohon. Memandang jendela apartemen naruto dari kejauhan. Rambutnya yang berwarna hitam panjang melambai pelan. Lalu sebuah seringaian terlihat di wajahnya yang ditutupi kegelapan.

"Khu…khu…khu…"

"Kutemukan kau…"

"Bocah rubah"

.

.

.

To Be Continue…

Yah selesai…

Maaf kalau chap ini agak ngaco dan mengecewakan. agak pendek juga. maaf ya! Saya gak bisa mikir ide yang lain sih. Atau mungkin saya terlalu terburu buru untuk namatin ini fic?

Saya akan berusaha update cepat. Doakan saya ya *smile*

REVIEW PLEASE…