hy... saya update... maaf lama...
terima kasih banyak buat :
Ganbatte ne
Harukaze chiharu.
Fujo suka nyasar
Flaya2
Yamamura Ayumu
Aoi no Kaze
HaikuReSanovA
Ren-Mi3 NovantA
BellaHamasaki
Yuna Claire Vessalius Kusanagi
Zaivenee
CCloveRuki
Princess Assasin
Superol
Akai no Tsubasa
Crimson-nightfall
KyouyaxCloud
atas reviewnya yang selalu membuat saya semangat. terimakasih juga buat yang gak log in:
Tara : um... Naruto gak diculik kok. tenang aja. tapi saya harap kamu suka chap ini. terima kasih. mohon pendapatnya di chap ini ya.
Naru3 : terima kasih. jawabannya ada di chap ini. moga suka -smile- gaara? ada kok. cuma gak kebagian banyak scene seperti dulu. maaf ya.
Corda tenebrae : iya, ini saya update. maaf ya lama...
Namikaze trisha : um... walaupun kemarin saya sempat bilang akan tamat di chap 15 sepertinya gak bisa he3 kemungkinan akan tamat di chap 16 atau 17. sabar ya.
ByuuBee : iya. ini saya update. maaf ya lama.
jangan lama-lama : hy... saya gak lagi ngapa-ngapain kok. maaf. saya selalu lama updatenya. saya benar-benar bingung bagi waktu. moga suka chap ini -smile-
Yuzu : hy... Wah anak sorong ya? deket donk. -tu jatim kan?-. cara bikin fic ya. kamu harus buat akun dulu setelah itu ada petunjuknya kok.-smile- moga suka chap ini.
Yukira : terima kasih. maaf bikin Sasuke jadi kayak gitu. abis saya suka sih -ditimpuk-. moga suka chap ini.
terima kasih atas semua reviewnya ya. benar-benar mencerahkan hari saya di tengah kesibukan yang menumpuk -alah-. mohon maaf. chap ini agak pendek dan jelek. Sepertinya saya mulai jadi bodoh. tapi saya harap semuanya suka -smile-
langsung saja. selamat membaca.
.
Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.
Pairing : SasuFemnaru
Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!
I Don' t Own Naruto!
Chapter 14 : Whisper.
Suara angin dan dedaunan yang saling bergesek terdengar nyaring malam ini. Sang rembulan yang sebelumnya bersinar terang, kini telah tertutup awan hitam. Membuat malam yang sebelumnya terang benderang kini gelap gulita. Angin yang berhembus pelan terasa dingin menusuk tulang.
Suasana di apartemen Naruto kini gelap gulita. Namun warna merah tampak menyala menerangi dinding. Membuatnya seakan tengah berlumuran darah. Terutama sosok yang terlihat tengah berbaring di lantai apartemen. Tubuh Naruto kini telah berwarna merah sepenuhnya. Segel kutukan itu telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Membuatnya seakan tengah dibakar hidup-hidup.
Saat semilir angin menerobos memasuki jendela, muncul sosok lain yang langsung berjalan mendekati Naruto. Sosok gelap itu tersenyum sambil menatap Naruto yang tak sadarkan diri. Saat warna merah yang muncul di tubuh Naruto terpantul di wajah sosok itu. Terlihatlah wajah seorang pria dengan rambut hitam panjang dan sepasang mata emas tajam seperti ular.
Orochimaru menunduk menatap sosok Naruto yang tak berdaya.
"Hm, sepertinya segel itu mulai sempurna." Kata Orochimaru sambil tersenyum. Dengan cepat ia membentuk rangkaian segel dengan dua tangannya.
Tubuh Naruto tersentak dan Ia membuka matanya. Menampakkan mata biru yang penuh dengan rasa sakit. Mata itu menatap kosong ke arah Orochimaru.
Orochimaru tersenyum. Ia membuat segel terakhir dan beberapa saat kemudian ia mengerutkan alisnya. Senyumnya pudar.
"Khu..khu… menarik, baru kali ini ada yang berhasil menolakku." Kata Orochimaru.
Sosok Naruto tersentak dan tubuhnya bergetar.
Orochimaru berjongkok dan memandang wajah setengah sadar Naruto lekat-lekat.
"Kita lihat… sampai kapan kau bisa bertahan." Kata Orochimaru sambil menyentuh wajah Naruto. Tubuh Naruto semakin bergetar, namun tak ada suara yang keluar.
"Sampai jumpa, Bocah rubah." Kata Orochimaru sambil berdiri dan menghilang dalam kegelapan. Meninggalkan sosok Naruto yang masih terbaring di lantai.
Perlahan-lahan mata Naruto terpejam. Tubuhnya berhenti bergetar dan warna merah di seluruh tubuhnya perlahan memudar. Semakin menghilang hingga hanya menyisakan tiga titik koma berputar yang masih menyala di bahunya.
Dan semuanya kembali gelap.
# # #
Pagi-pagi sekali Itachi sudah datang ke kamar Sasuke. Membuka korden jendela lebar-lebar dan menyalakan semua lampu di dalam kamar. Membuat Sasuke terbangun sambil menutup wajah dengan lengannya. Silau karena cahaya yang tiba-tiba menerangi kamarnya yang semula gelap.
"Selamat pagi, Baka Otouto." Kata Itachi sambil duduk di kursi di dekat ranjang Sasuke.
"Apa yang kau lakukan disini, Baka Aniki?" gumam Sasuke sambil membalikkan badan dan menutup kepalanya dengan selimut. Berusaha kembali tidur. Itachi hanya diam melihat kelakuan sang adik.
"Aku ingin mengajakmu minum teh dan sarapan. Apa itu salah?" Tanya Itachi sambil mengangkat secangkir teh yang baru saja dituang Neji. Sasuke hanya diam, berpura-pura tertidur kembali.
"Baiklah…" kata Itachi. Meletakkan cangkirnya dan bangkit berdiri.
"Lebih baik aku ke tempat Naru-chan, ia pasti mau menemaniku." Kata Itachi. Membuat Sasuke langsung membuka matanya lebar-lebar, ia segera melempar selimutnya dan bangkit berdiri di hadapan Itachi. Menghalangi jalannya.
"Maumu apa sih, Baka Aniki?" Tanya Sasuke sambil men-deathglare sang kakak. Yang tentu saja sama sekali tak mempan.
"Oh… kau sudah bangun? Duduk dan minumlah teh ini. Aku Khusus membuatkannya untukmu." Kata Itachi sambil menyodorkan secangkir teh pada Sasuke dan kembali duduk di kursinya. Mau tak mau Sasuke menerima teh itu dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap minuman di tangannya curiga sebelum dengan perlahan meminumnya.
"Tiga hari lagi kau harus memilih calon istrimu di pesta dansa istana." Kata Itachi enteng sambil meminum tehnya.
Brush…
Sasuke langsung menyemburkan teh yang baru saja di minumnya. Tingkah yang sangat tidak pangeran sama sekali.
"BAKA ANIKI! LAGI-LAGI KAU MEMUTUSKAN SEENAKNYA!" teriak Sasuke hingga terdengar di seluruh istana. Sama sekali tak repot-repot mengusap teh yang membasahi dagunya.
"Hn?" jawab Itachi tanpa memandang Sasuke. Masih meminum tehnya dengan santai.
"DAN APA MAKSUDNYA PESTA DANSA? AKU TAK MAU!" teriak Sasuke lagi.
Itachi meletakkan cangkirnya dan memandang Sasuke.
"Baka Otouto, seharusnya kau berterima kasih padaku. Aku sudah mengganti hari pernikahanmu dengan Hinata menjadi hanya pesta dansa. Atau kau ingin tetap melangsungkan pernikahan dengan Hinata?" Tanya Itachi enteng.
"A-apa?" Tanya Sasuke terkejut.
"Undangan pernikahanmu sudah di sebar di seluruh neraka. Dan mengingat kau sudah seenaknya membatalkan pertunanganmu dengan Hinata, aku harus memikirkan cara lain untuk mengganti acara pernikahanmu." Kata Itachi panjang lebar sementara Sasuke hanya membatu. Lupa sama sekali kalau sebelumnya ia hampir dipaksa menikah dengan Hinata.
"Dasar adik bodoh, kau tak tahu betapa merepotkannya itu?" Tanya Itachi sambil meminum tehnya lagi.
"La-lalu apa maksudnya aku harus memilih calon istri disana?" Tanya Sasuke masih tak terima.
"Agar tak ada yang protes dengan batalnya pernikahanmu, kau akan memilih salah satu gadis yang datang di pesta itu sebagai calon istrimu. Memberikan kesempatan pada semua gadis yang datang di pesta." Kata Itachi lagi.
Sasuke langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menggumamkan kata "Kakakku sudah gila." Berkali-kali. Ia terlihat seperti orang depresi.
"Apa susahnya memilih satu gadis dari semua yang datang?" Tanya Itachi sambil memndang sang adik yang seakan hidup segan matipun ogah.
"Masalahnya aku tak menyukai mereka semua." Kata Sasuke sambil menatap sang kakak tajam.
"Kalau begitu, kau tinggal membawa gadis yang kau suka dan mengumumkan kau memilihnya dihadapan semua orang. Dengan begitu takkan ada yang protes." Kata Itachi santai sambil berdiri dari kursinya. Meletakkan cangkir tehnya yang kosong di nampan di sampingnya.
Sasuke membeku, memikirkan kata-kata sang kakak.
"Pesta dansa atau pesta pernikahan. Kau pilih sendiri, Baka otouto." Kata Itachi sambil beranjak pergi. Meninggalkan Sasuke yang masih tertegun. Itachi tak melihat saat perlahan sebuah senyuman tersungging di bibir Sasuke.
"Terima kasih, Nii-san." Kata Sasuke lirih.
Sambil berjalan pergi, Itachi tersenyum.
# # #
Setelah kepergian Itachi, Sasuke segera menuju kamar mandi dan berganti pakaian. Ia sudah tak sabar untuk bertemu Naruto dan mengajaknya ke pesta Dansa. Dengan penuh semangat ia keluar kamar dan segera disambut oleh lima pengawal pribadi yang berlutut di depan pintunya.
"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran." Kata mereka bersamaan.
Tanpa menjawab salam mereka, Sasuke langsung berjalan menghampiri satu-satunya prajurit wanita berambut pirang di hadapannya. Dan menariknya berdiri.
"Naruto, ada yang ingin aku bicarakan." Kata Sasuke sambil tersenyum memandang gadis bermata biru di hadapannya. Namun senyum Sasuke langsung memudar.
"Ada apa, Naruto? Kau sedang sakit?" Tanya Sasuke saat melihat wajah Naruto yang sangat pucat. Ia segera meraba dahi Naruto.
"Aku baik-baik saja. Hanya tadi terlalu lama berendam." Kata Naruto sambil menarik tangan Sasuke dari dahinya. Ia tak balas menatap Sasuke. Tanpa sadar tangan Naruto meraba bahunya yang sejak tadi terasa nyeri.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Kau yakin?" Tanya Sasuke saat mengetahui suhu tubuh Naruto baik-baik saja. Naruto mengangguk.
"Baiklah, kita sarapan dulu. Kau pasti belum makan." Kata Sasuke sambil menggandeng tangan Naruto dan berjalan pergi. Naruto hanya diam dan menurut saat sasuke menuntunnya menuju taman. Sebuah meja putih dan dua kursi sudah disiapkan disana. Lengkap dengan berbagai makanan di atasnya.
Sasuke manarik kursi dan mendudukkan Naruto sebelum barjalan dan duduk di kursi di hadapan Naruto. Empat pengawal lain hanya berdiri di belakang Sasuke. Sedah terbiasa diacuhkan oleh sang Pangeran dan Sang prajurit wanita.
"Kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke saat melihat Naruto yang sejak tadi diam. Naruto mengangguk. Keduanya memakan makanan yang sudah disiapkan pelayan dalam diam. Sambil makan, Sasuke terus memperhatikan Naruto yang terlihat makan tanpa selera.
"Makanlah… Sup ini baik untuk kesehatan." Kata Sasuke sambil menyodorkan sup tomat yang penuh dengan sayuran.
"Aku tidak suka sayur." Kata Naruto sambil mendorong mangkok sup itu dari hadapannya.
"Hei… sekali-kali kau harus makan sayur!" kata Sasuke sambil kembali mendorong sup itu ke depan Naruto.
"Aku tak mau." Kata Naruto lagi.
"Makan! Dobe!" perintah Sasuke.
"SUDAH KUBILANG AKU TAK MAU!" teriak Naruto sambil berdiri dan menggebrak meja. Membuat sup itu tumpah mengenangi meja. Menodai taplak putih di atasnya.
Naruto langsung membeku saat menyadari apa yang sudah ia lakukan. Ia memandang wajah Sasuke yang terlihat terkejut.
"M-maaf! A-aku akan membereskannya." Kata Naruto buru-buru membereskan mangkok yang terguling di hadapannya. Sebelum sebuah tangan pucat menghentikan tangannya.
"Sudahlah, biar pelayan yang membereskannya." Kata Sasuke yang tiba-tiba sudah ada di samping Naruto. Menghentikan usaha Naruto merapikan piring berantakan di hadapannya.
"Maaf." Kata Naruto sambil menunduk. Menghindari tatapan Sasuke.
"Sudahlah, ayo pergi." Kata Sasuke pelan sambil menarik Naruto pergi.
Mereka berjalan menyusuri taman dalam diam. Naruto terus saja menunduk sementara Sasuke terus melirik sosok di sampingnya itu. Walaupun tangan mereka bergandengan, Naruto terlihat berjalan agak jauh dari Sasuke. Menciptakan jarak di antara mereka berdua.
"hei… mau berlatih sebentar?" Tanya Sasuke lembut saat mereka melewati taman yang agak lapang. Berusaha mengembalikan keriangan Naruto. Sasuke berhenti dan menatap Naruto. Hingga yang ditanya menganggukkan kepala pelan. Sasuke melepaskan genggaman tangannya dan membuka jubahnya. Ia juga membuka tiga kancing paling atas pada baju pangerannya. Menampakkan sedikit dada bidangnya yang terlihat kontras dengan baju berwarna biru yang di pakainya.
Naruto hanya diam saat menatap Sasuke.
Sang Pangeran menaikkan sebelah alisnya. Biasanya Naruto akan menatapnya dengan wajah merona saat Sasuke melakukan hal ini. Tapi Naruto kali ini terlihat… dingin.
Keduanya berjalan ke tengah taman sambil mengambil jarak. Pengawal yang lain hanya memandang dari jauh.
"Peraturannya sama. Hanya menggunakan taijutsu. Ok!" kata Sasuke sambil menatap Naruto. Naruto hanya diam.
Selama beberapa saat keduanya diam. Tak ada yang beranjak dari posisinya.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya lagi. Biasanya Narutolah yang pertama kali bergerak untuk menyerangnya. Sambil berpikir, akhirnya Sasukelah yang menyerang Naruto pertama kali.
Sasuke melayangkan tendangan saat sampai di hadapan Naruto. Melakukannya dengan agak pelan karena takut Naruto terluka. Namun Naruto dengan mudah menghindar dan sama sekali tak balas menyerang. Sasuke pun melayangkan pukulan yang dihindari Naruto dengan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan tanpa bicara sedikitpun. Kerutan di alis Sasuke semakin dalam. Biasanya Naruto dapat dengan mudah terpancing emosi. Ada apa dengannya?
Akhirnya Sasuke mulai serius. Setelah melancarkan beberapa pukulan dan tendangan, Sasuke berhasil mengunci kedua tangan Naruto di balik punggungnya.
"Aku menang." Kata Sasuke sambil tersenyum.
Naruto menggeram pelan. Dengan sekuat tenaga ia menarik kedua lengannya dari cengkraman tangan Sasuke. Membuat pergelangan tangannya berdarah saat kulitnya tergores kuku Sasuke saat ia menariknya dengan paksa sekuat tenaga.
Dan Naruto balas menyerang Sasuke. Sama sekali tak menghiraukan darah yang menetes dari pergelangan tangannya. Ia melancarkan tendangan dan pukulan pada Sasuke sekuat tenaga. Membuat Sasuke hanya bisa menangkis sambil terus melangkah mundur. Terdorong oleh setiap serangan Naruto. Sasuke sama sekali tak bisa membalas. Wajah dan bajunya kini penuh percikan darah yang terciprat dari pergelangan tangan Naruto.
"Naruto!" panggil Sasuke berusaha menghentikan Naruto yang terus menyerangnya secara membabi buta. Naruto hanya diam. Seakan tak mendengar panggilan Sasuke. Serangannya semakin cepat dan kuat. Hingga salah satu pukulan Naruto berhasil menyerempet pipi Sasuke. Menggores pipi pucat Sang Pangeran hingga mengeluarkan darah segar. Saat itulah Sasuke menangkap lengan naruto.
"HENTIKAN, NARUTO!" bentak Sasuke tepat di depan Naruto. Membuat sosok bermata biru itu membeku dan menatap wajah Sasuke yang berlumuran darah. Ia mengerjapkan matanya sejenak. Seakan baru sadar dengan apa yang telah di perbuatnya. Matanya terbelalak ngeri saat melihat darah mengalir dari luka di pipi Sasuke. Menetes menuruni dagunya.
"Sa-sasuke, kau berdarah. " kata Naruto panik. Berusaha memeriksa lukanya.
"DASAR BODOH, LIHAT LENGANMU!" bentak Sasuke sambil memegang lengan naruto yang kini sudah bersimbah darah. Darah terlihat mengalir deras dari luka di pergelangan tangannya. Naruto memandang tangannya tak mengerti. Seolah tak sadar ia tengah terluka sebelumnya. Naruto berbalik memandang Sasuke yang terlihat panik.
"GAARA, SHIKAMARU! CEPAT PANGGILKAN DOKTER!" teriak Sasuke . dua pengawal itu segera menghilang dari pandangan.
"Sial! Darahnya banyak sekali." Kata Sasuke sambil menarik Naruto mendekat. Dengan hati-hati ia memegang lengan Naruto yang berdarah.
Naruto memandang wajah Sasuke yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya. Wajah yang berlumuran darah itu terlihat cemas dan panic. Membuat Naruto tak mengerti.
Tiba-tiba saja, Naruto mendapat dorongan untuk merobek-robek leher berkulit pucat di hadapannya. Membiarkan darah mengalir membasahi kulitnya yang seputih salju. Dan Naruto yakin, ia akan tertawa gembira melihat pemandangan itu. Melihat orang yang dicintainya terkapar di tanah dengan tubuh bersimbah darah. Naruto memejamkan mata.
Segel kutukan di bahunya menyala merah. Membisikkan berbagai cara untuk membuat sosok di sampingnya itu terbaring tak bernyawa. Bisikan itu semakin kuat dan terus memenuhi kepala Naruto. Hingga membuat tubuh berbalut blazer abu-abu itu bergetar hebat. Semakin ia menolak, segel di bahunya semakin menyiksa. Seakan membakar tubuhnya sedikit demi sedikit. Naruto memejamkan mata dan menggenggam tangannya erat-erat. Tak ingin melakukan sesuatu yang dapat membuatnya menyesal seumur hidup.
Saat sakit di bahunya semakin tak tertahankan, akhirnya Naruto ambruk di pelukan Sasuke. Tak sadarkan diri.
"Naruto!"
# # #
Hal pertama yang dilihat Naruto saat membuka mata adalah wajah Sasuke yang tengah menatapnya penuh khawatir. Wajahnya sudah bersih dan luka di pipinya sudah diplester dengan rapi.
"Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit?" Tanya Sasuke bertubi-tubi.
"Aku… dimana?" Tanya Naruto pelan sambil memandang sekeliling.
"Kau ada di kamarku. Tadi kau pingsan" kata Sasuke sambil membantu Naruto yang berusaha bangun. Sasuke segera duduk di samping Naruto. Menarik tubuh Naruto hingga tubuhnya bersandar di dada Sasuke.
"Jangan melakukan itu lagi. Kau membuatku khawatir." Kata Sasuke sambil memeluk naruto erat.
Naruto hanya diam. Memandang pergelangan tangannya yang sudah di perban rapi. Jas blazernya tergeletak di samping tempat tidur. Ujung-ujung lengannya terlihat penuh noda darah. Ia kini hanya mengenakan kaos putih sederhana.
Naruto mendongak. Menatap wajah Sasuke yang terlihat sangat dekat.
Dan lagi. Bisikan itu kembali terngiang di kepala Naruto. Memerintahkannya untuk mencakar, mencabik-cabik sosok yang tengah memeluknya erat. Mengoyak kulitnya yang seputih salju. Mangambil sinar kehidupan dari sepasang mata merah yang menatapnya penuh kasih.
'Tidak' Batin naruto dalam hati.
'Tidak' batinnya lagi. Namun perlahan tangan Naruto mulai bergerak untuk menyentuh leher Sasuke.
'Tidak...' denyut nadi di leher itu terlihat sangat jelas. Satu koyakan di bagian itu pasti sudah cukup untuk membuat sosok yang dicintainya itu terbaring tak bernyawa.
'Tidak!'
Naruto langsung bangkit berdiri dan menjauh dari Sasuke. Tangannya ia genggam erat-erat di belakang tubuhnya. Ia menatap sekeliling dengan liar. Melihat jendela yang terbuka lebar menampakkan matahari yang mulai tenggelam.
"Ada apa, Naruto?" Tanya Sasuke sambil manatap Naruto yang terus melangkah mundur. Tak mengerti dengan tingkah Naruto. Ia segera bangkit dan berjalan mendekatinya.
"Tidak." Kata Naruto pelan sambil melangkah mundur. Tubuhnya bergetar hebat. Menahan dorongan untuk menyerang sosok pangeran di hadapannya.
"A-aku ingin pulang." Kata Naruto sambil berbalik menjauhi Sasuke. Ia segera membuka pintu dan menutupnya keras-keras.
Blam…
Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung di tengah ruangan yang kini sunyi.
# # #
Sasuke langsung bergegas menuju ruang singgasana. Ingin meminta izin pada sang kakak untuk meninggalkan istana. Ia sudah memegang gagang pintu saat mendengar sang kakak tengah berbicara dengan Neji dengan suara serius.
"Kau sudah mendapatkan informasi yang kuminta?" terdengar suara Itachi dari balik pintu. Membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan.
"Tentang Uzumaki Naruto, Yang mulia?" terdengar suara neji bertanya balik. Sasuke langsung membeku di balik pintu.
'Naruto? Untuk apa Itachi menyelidiki Naruto?' Tanya Sasuke dalam hati.
"Sudah, Yang mulia." Jawab Neji. Lalu terdengar suara lembaran kertas dibuka.
"Uzumaki Naruto. Lahir tanggal 10 Oktober. Ayah bernama Uzumaki Minato dan Ibu bernama Uzumaki Kushina." Kata Neji membacakan data Naruto.
"Kau tahu mengenai asal usulnya?" Tanya Itachi.
"Ya, ada yang aneh dengan asal usulnya, Yang Mulia." Jawab Neji.
"Maksudnya?' Tanya Itachi lagi.
"Sama sekali tak ada berkas mengenai nama Uzumaki di arsip Neraka. Itu berarti, Naruto telah memalsukan identitasnya." Jelas Neji.
"Apalagi yang kau dapat?"
"Saya mencari data dengan nama Minato dan Kushina. Ada beberapa nama yang saya temukan, namun tak ada yang membuat kedua nama itu saling berhubungan. Kecuali… satu nama yang tanpa sengaja saya temukan dalam sebuah Arsip rahasia."
"Arsip Rahasia?"
"Benar, Yang Mulia. Nama itu adalah... Namikaze." Kata Neji terdengar ragu.
"Jelaskan,"
"Namikaze adalah satu nama klan terkuat di zaman dahulu. Hampir sama kuatnya dengan klan Uchiha. Mereka hebat dalam segel. Dan selain itu mereka juga mempunyai kekai genkai yang menyamai hebatnya sharingan. Klan Namikaze seluruhnya mempunya daya sembuh yang tinggi. Bahkan darah mereka dipercaya bisa menyembuhkan segala macam luka. Di tambah ada sebagian rumor yang menyatakan mereka bisa menggunakan kekuatan dari Kyuubi No kitsune."
"Rubah ekor sembilan?"
"Ya. Siluman rubah ekor sembilan. Legenda mengatakan bahwa siluman itu adalah siluman terkuat di dunia neraka. Klan Namikaze dipercaya telah berhasil menyegel siluman itu dan secara turun temurun dapat menggunakan kekuatan itu sesuka hati."
"Kenapa aku tak pernah mendengar tentang klain ini sebelumnya?" tanya Itachi terdengar penasaran.
"Beberapa ratus tahun yang lalu klan Namikaze dipercaya telah musnah... Karena banyaknya orang yang memburu mereka demi kekuatan."
"Kenapa kau bilang Naruto adalah klan namikaze kalau klan itu sudah musnah ratusan tahun yang lalu?"
"Saya… menemukan sebuah arsip rahasia milik raja terdahulu, Yang Mulia." Kata neji ragu.
"Milik Ayah?"
"Bukan, Yang Mulia. Arsip itu lebih tua. Menceritakan tentang sisa klan Namikaze yang tengah bersembunyi."
Selama beberapa saat suasana hening.
Sebelum kemudian terdengar sebuah helaan nafas.
"Kakek anda, Yang mulia Uchiha Madara berhasil mengetahui tentang sepasang klan Namikaze bernama Minato Dan Kushina. Dan beliau menjadi terobsesi untuk menangkap mereka. Hingga membuat beliau turun tahta lebih awal dan menyerahkannya pada Yang Mulia Uchiha Fugaku. Supaya beliau bisa lebih fokus pada pencarian sisa klan Namikaze tersebut."
"Lalu?"
"Sekitar 10 tahun yang lalu, Yang Mulia Uchiha Madara berhasil mengetahui letak persembunyian mereka. Beliau langsung berangkat secara diam-diam dan membawa pasukan khusus. Tanggal kepergian beliau sama dengan tanggal kematian beliau dalam sejarah. Sepertinya beliau meminta agar diumumkan meninggal."
Tak ada suara hingga terdengar Neji menarik nafas panjang.
"Beberapa hari setelah hari keberangkatan beliau, terdapat berita tentang sesosok siluman rubah menghancurkan puluhan desa di Neraka bagian selatan. Sejak saat itu tak ada lagi laporan mengenai klan Namikaze. Dan kakek anda sama sekali tidak kembali hingga saat ini."
Di depan pintu Sasuke sudah terduduk dengan seluruh tubuh bergetar.
"Saya sangat yakin bahwa uzumaki Naruto yang kita kenal adalah klan Namikaze terakhir. Namikaze Naruto."
# # #
Sasuke berjalan cepat hampir berlari menuju kamarnya. Manabrak beberapa pelayan dan prajurit neraka yang tengah berjalan di koridor istana.
Sejak tadi, gemetaran di sekujur tubuh Sasuke tak juga segera reda. Ia menutup pintu rapat-rapat saat sampai di dalam kamarnya. Langsung terduduk di depan pintu setelah tak dapat menahan sekujur tubuhnya yang terasa lemas. Berbagai emosi bercampur aduk dalam dirinya. Rasa bersalah, sedih, jijik, marah, takut. Semuanya tercampur menyesaki dadanya.
Tanpa sadar air mata mulai mengalir dari dua mata merahnya. Ia menunduk dengan tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya.
Air matanya yang bening berjatuhan tanpa suara di lantai kamarnya yang gelap.
Naruto Naruto Naruto.
Sasuke menggigit bibirnya hingga berdarah. Menahan suara isakan yang akan keluar dari dua belah bibirnya.
Bayangan tentang wajah Naruto yang menangis tanpa suara di hari ulang tahunnya yang lalu kembali terbayang di mata Sasuke. Betapa sosok yang dicintainya itu terlihat hancur dan rapuh saat mengingat kedua orang tuanya terbunuh di depan matanya.
Dan semua itu gara-gara salah satu anggota klan Uchiha. Kakek Sasuke sendiri.
Berbagai pikiran buruk terlintas di kepala Sasuke.
Bagaimana kalau Naruto tahu?
Apa ia akan meninggalkannya?
Apa ia akan membencinya?
Membayangkan hal itu membuat jiwa Sasuke seakan dirobek-robek.
Dan sosok pangeran itu kembali menangis dalam diam. Dalam kegelapan kamarnya di istana Neraka.
# # #
Esok paginya Sasuke terbangun di lantai di depan pintu. Ia semalaman sama sekali tak ingin beranjak dari posisinya. Ia tak tahu berapa lama ia menangis semalam.
Tanpa semangat Sasuke bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia tak ingin membuat kakaknya curiga bahwa ia semalam telah mencuri dengar pembicaraan rahasianya dengan Neji.
Sasuke menatap bayangan wajahnya di cermin. Wajahnya kusut dan berantakan. Matanya terlihat memerah dan bengkak. Sasuke mancoba tersenyum. Namun bibirnya hanya sedikit bergerak. Seolah lupa bagaimana caranya tersenyum. Ia memejamkan mata. Bingung bagaimana ia harus bersikap di hadapan Naruto nanti. Sasuke menghela nafas.
Ia menyalakan kran dan membiarkan air hangat mengguyur seluruh tubuhnya. Melemaskan seluruh otot di tubuhnya. Sasuke memejamkan mata. Merasakan setiap tetes air yang menyentuh kulitnya.
Setelah menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Bengkak di mata Sasuke sudah banyak berkurang. Sasuke menutupinya dengan genjutsu. Tak ingin ada seorangpun yang tahu bahwa ia habis menangis.
Ia segera mengenakan baju pangerannya dan berjalan menuju pintu.
Saat keluar, seperti biasa ia disambut oleh lima pengawal pribadi yang berlutut di depan kamarnya. Namun sosok gadis yang semalaman ia pikirkan tak ada diantara mereka.
"Dimana Naruto?" Tanya Sasuke dengan suara serak.
Gaara dan Shikamaru saling pandang.
"Kutanya dimana Naruto?" Tanya Sasuke dengan nada lebih tinggi. Moodnya benar-benar buruk sekarang.
"Yang Mulia Pangeran… Tadi pagi Naruto…" kata Shikamaru ragu-ragu.
"Naruto sudah mengundurkan diri sebagai prajurit neraka." Jawab Gaara.
Sasuke langsung membeku.
"A-Apa?"
.
.
To Be continue…
.
Yeah… selesai. Maaf ya pendek. sepertinya juga jelek. maaf ya. mengecewakan kalian. saya benar-benar gak bisa mikir yang lain -hiks2- Walaupun begitu saya harap kalian suka –smile-.
Oh ya, saya mohon maaf –bungkuk dalam2- sepertinya saya tidak akan bisa update chap selanjutnya dalam waktu dekat. Saya akan mengikuti festival Yosakoi di Surabaya bulan juli nanti. Jadi waktu luang saya –yang Cuma dikiit- akan habis untuk latihan. Tapi kalau ada waktu luang saya akan usahakan update kok. Paling lambat akhir bulan juli. Sekali lagi saya mohon maaf –bungkuk2-
Ps : saya punya fic baru, Sasunaru juga –ditimpuk- -maaf-. Judulnya 'Searching for the Sun' kalau ada waktu harap dilihat ya –smile- siapa tahu kalian juga suka. Terima kasih.
Oh ya… saya mohon pendapatnya untuk chap ini ya…
REVIEW PLEASE…
