hy... *nyengir*

Maaf atas update yang sangat sangat sangat lama *bungkuk-bungkuk*

terima kasih buat :

HaikuReSanovA

Harukaze Chiharu

Namikaze to Uchiha

CCloveRuki

ck Mendokusei

Naomi Arai

Aoi no Kaze

Princess Assassin

Ren-Mi3 NoVantA

Zazaive

Oridugdug

Black CapXa

Yamamura Ayumu

Kyouya x Cloud

Yuna Claire Vessalius Kusanagi

Superol

Akai no Tsubasa

atas reviewnya yang menyenangkan dan terima kasih sudah menunggu ^^

juga balasan buat yang agak log in :

Fujo suka nyasar : um... ini masih bulan juli kan? *liat kalender* maaf ya lama. saya kasih banyak romance di chap ini deh. walau jadi ooc dan gaje *nyengir* moga suka.

Namikaze trisha : Dia nyuruh neji buat nyari info soal naru karena tau sasu suka ma dya. jadi dia harus yakin bahwa cew yang di suka sang adik gak bakalan manfaatin dia. uh... bener2 kakak yang baik ya?

Meg chan : saya update! maaf karena menungu lama. moga suka chap ini.

Yukira : Terima kasih. maaf ya lama. moga suka chap ini

Naru3 : kan segel si oro bukan penyakit. jadi Naru gak bakalan bisa nyembuhinnya. 17. kayaknya *ditimpuk*

Adelove Sasunaru : terima kasih. maaf menunggu lama. moga suka chap ini ^^

Ochihame Shibuya : Terima kasih. maaf juga lamaa updatenya. moga suka chap ini

NaMIAkaze Kawaii : terima kasih ^^ udah mo ngerti... moga suka chap ini.

yupp... saya gak bakalan nulis banyak. sebelumnya WARNING! akan amat sangat gaje dan OOC!

.

.

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

Chapter 15 : Under The Rain.

Drap… drap… drap…

BRAK!

Pintu besar penuh ukiran itu menjeplak terbuka dengan suara keras. Diikuti sosok Pangeran yang berjalan masuk dengan tergesa. Wajah berkulit pucat itu tegang saat memasuki ruang singgasana yang langsung sunyi karena kedatangannya yang berisik.

Tanpa menyadari tindakannya yang sungguh tidak sopan, Sasuke langsung berjalan ke arah Sang Kakak yang tengah duduk di atas singgasana sambil membaca selembar kertas. Mata merah Sang Raja Neraka memandang kedatangan Sasuke yang seakan sudah ia duga.

"Apa itu benar?" Tanya Sasuke.

Seakan mengerti apa maksud Sasuke, Itachi menyerahkan selembar kertas yang baru saja ia baca. Sasuke langsung menyambar kertas itu dan membaca setiap kata yang tertera di dalamnya. Beberapa saat kemudian Sasuke meremas surat pengunduran diri itu dan membuangnya ke lantai. Tanpa bicara sepatah kata pun, Sasuke berbalik dan melangkah pergi.

"Mau kemana, Sasuke?" Tanya Itachi sambil memandang punggung sang adik.

"Mencarinya." Jawab sasuke tanpa berbalik dan terus berjalan. Ia sama sekali tak ingin menunggu izin dari sang kakak. Kalaupun Itachi melarang, Sasuke akan tetap pergi walau harus mengalahkan seluruh prajurit istana yang menghalangi jalannya.

Lambaian jubah Sasuke mengiringi kepergiannya sebelum pintu ruang singgasana tertutup. Meninggalkan sang raja neraka yang masih memandangi pintu hitam berlambang uchiha itu dalam diam.

# # #

Pagi itu mendung menyelimuti langit. Membuat suasana dunia neraka yang suram menjadi semakin dingin.

Sasuke berlari menembus rintik gerimis yang mulai turun dalam kecepatan tinggi. Sama sekali tak peduli untuk menyamar atau mengganti baju pangeran mencolok berwarna biru yang tengah ia pakai. Ia langsung melesat menaiki tangga menuju apartemen Naruto. Tanpa mengetuk pintu, Sasuke langsung memegang kenop dan membukanya. Yang terhenti karena pintu itu dikunci.

"NARUTO, BUKA PINTUNYA!" panggil Sasuke dengan keras. Namun tak ada jawaban dari dalam kamar bercat orange itu. Tanpa menunggu lagi, Sasuke langsung menendang pintu itu hingga menjeplak terbuka dengan kenop yang rusak parah.

Sasuke langsung masuk dan memandang sekeliling. Mencari sosok gadis rubah berambut pirang yang tinggal di tempat itu. Mata merah Sasuke manatap tajam setiap sudut hingga sebuah suara lain menginterupsinya.

"APA-APAAN INI?" Tanya seseorang berambut putih sambil berjalan masuk. Menatap sosok yang berani memasuki kamar Naruto dengan brutal.

Sasuke berbalik dan memandang sosok paman berambut putih yang diingatnya sebagai tetangga Naruto. Paman itu membelalakkan mata saat menatap sosok pemuda yang beberapa waktu lalu ia temui kini berdiri di hadapannya dengan mengenakan baju kebesaran Pangeran Neraka. Sebuah simbol klan Uchiha tersulam jelas di punggung bajunya.

"Y-yang Mulia Pangeran?" Tanya paman itu tak percaya.

"Dimana dia?" Tanya Sasuke dengan wajah tanpa ekspresi.

"A-apa?" Tanya paman itu tergagap.

"Dimana Naruto?" Tanya Sasuke dengan tidak sabar.

Si paman itu, Jiraiya. Tetangga Naruto sekaligus pemilik apartemen hanya bisa terdiam menatap Sang Pangeran Neraka yang kini tengah menatapnya tajam.

"A-aku tak tahu." Jawab Jiraiya setelah beberapa saat. Membuat Sasuke segera berbalik pergi sebelum terhenti saat paman itu kembali bicara.

"Biasanya ia selalu pergi ke arah selatan." Kata Jiraiya sambil menunjuk arah selatan.

Tanpa mengatakan apapun Sasuke keluar dan pergi ke arah yang di tunjuk Jiraiya. Ia mengumpat pelan saat menyadari hujan telah turun dengan sangat deras. Membuatnya tak bisa menggunakan Kuchiyose untuk melacak jejak Naruto. Lalu dimana ia harus mencarinya?

Tanpa berhenti, Sasuke langsung melesat ke arah selatan. Sambil memandang sekeliling ia menerka dimana Naruto sekarang. Sama sekali tak menghiraukan hujan deras yang kini membuatnya basah kuyup.

Setelah beberapa saat berlari tanpa tujuan, tanpa sengaja pandangan Sasuke tertuju pada sebuah menara tua yang menjulang tinggi tak jauh di depannya. Dengan wajah tanpa ekspresi, Sasuke menaikkan kecepatannya dan melesat menuju tempat itu. Satu yang sudah ia tahu.

Naruto berniat pergi meninggalkannya.

Dan Sasuke takkan pernah membiarkan hal itu terjadi.

# # #

Seorang gadis pirang bertelinga rubah terlihat berdiri di tempat lapang itu. Berdiri diam ditengah hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya.

Hujan…

Naruto mendongak menatap langit gelap dunia neraka. Memandang butiran air yang jatuh dari langit dalam ribuan tetes. Membentuk garis-garis tipis seperti benang yang terlihat seakan menghubungkan langit dan bumi. Meskipun tak seindah di dunia manusia. Ia tetap bersyukur setidaknya masih ada hujan di dunia neraka.

Naruto memejamkan mata. Mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh sang hujan. Entah sejak kapan ia menyukai saat-saat hujan turun deras seperti ini. Padahal sebagian orang menganggapnya sebagai tanda berduka. Tapi tidak untuk Naruto.

Hujan selalu mengerti perasaannya…

Disaat tak ada seorangpun yang peduli padanya. Saat kesepian mencengkeram hatinya hingga terasa remuk. Hujan akan selalu menggantikannya untuk menangis…

Disaat seperti ini, saat ia memejamkan mata dan menengadahkan tangannya, ia bisa merasakan sentuhan air dan angin menyelimuti sekujur tubuhnya. Membuatnya seakan dilindungi. Disayangi.

Mata biru itu terbuka dan memandang jauh ke depan. Ke arah istana neraka yang terlihat menjulang di atas bukit. Berdiri tegak dan kokoh di antara kabut hujan berwarna abu-abu.

Sapphire itu kembali terpejam, berusaha membayangkan sosok pangeran bermata merah kini ada di bersamanya. Menemaninya.

Naruto tersenyum dan merasakan sesuatu yang hangat meleleh menuruni pipinya.

Berpura-pura.

Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Berpura-pura bahwa ia pantas disini. Berpura-pura ada yang membutuhkan keberadaannya. Berpura-pura bahwa ia layak.

Perlahan tangan Naruto bergerak menuju kantong senjatanya. Meraih sebuah kunai dari dalamnya. Digenggamnya kunai itu dengan erat. Menatap bagian tajam kunai yang merefleksikan separuh wajahnya.

Naruto tersenyum.

"Selamat tinggal, Sasuke." Kata Naruto lirih sambil mengarahkan kunai itu ke lehernya.

# # #

Menara tua yang berdiri kokoh di tepi hutan itu terlihat seakan berlendir saat aliran hujan yang deras menuruni menara. Dinding luarnya yang berwarna abu-abu terlihat retak di beberapa bagian. Mengingat sudah berpuluh tahun menara itu tak lagi digunakan sebagai menara patroli. Rumput liar terliat tumbuh di lantai dasar menara yang tak terawat.

Sasuke mamasuki menara itu perlahan. Memandang sekeliling yang gelap karena memang tak ada penerangan. Setelah yakin Naruto tak ada di lantai dasar, Sasuke segera menaiki tangga melingkar yang menghubungkannya menuju lantai atas. Walaupun bangunan itu terlihat bobrok, namun dinding dan tangga yang terbuat dari kayu itu masih kokoh berdiri tanpa ada kerusakan yang berarti. Tetes -tetes air yang jatuh dari baju sasuke membuat jejak basah di sepanjang tangga yang ia daki.

Setelah selama beberapa saat menaiki tangga menuju puncak. Akhirnya Sasuke sampai pada pintu yang menghubungkan lantai atap dengan tangga. Pintu besar berwarna kusam itu sedikit terbuka. Membuat angin disertai beberapa tetesan hujan membasahi ujung tangga.

Sasuke segera membuka pintu itu dan menghela nafas lega saat menemukan sosok gadis rubah yang sejak tadi dicarinya tangah berdiri di tengah-tengah ruangan tak beratap itu. Naruto masih mengenakan seragam prajurit neraka yang kini basah kuyup terkena hujan. Ia tengah menatap istana neraka yang terlihat sangat jelas di ketinggian ini.

Sasuke terdiam sesaat menatap gadisnya berdiri di tengah hujan seperti itu. Sosoknya yang sangat indah itu seakan berkilau di antara tetesan hujan yang masih turun dengan lebatnya.

Hingga sebuah kilauan logam tertangkap mata merah sang pangeran. Dan ia terbelalak ngeri saat melihat Naruto mengarahkan benda yang ia kenali sebagai kunai ke lehernya. Berniat menyayat leher itu dengan tangannya sendiri.

Dalam sekejap, Sasuke sudah ada di hadapan Naruto. Menggenggam bagian tajam kunai yang hanya berjarak beberapa inchi dari kulit Naruto. Ia segera merebut dan melempar kunai itu ke sembarang arah. Sambil berteriak keras.

"APA YANG KAU LAKUKAN, NARUTO!"

Sepasang sapphire yang semula terpejam itu perlahan terbuka. Menatap sosok pangeran neraka yang kini berdiri di hadapannya.

"Sa-sasuke?" panggil Naruto tak percaya. Tak menyadari kunai yang sudah menghilang dari genggamannya.

Sasuke memegang kedua bahu Naruto dan mengguncangnya dengan keras.

"Apa yang kau lakukan? Kau berniat bunuh diri?" Tanya Sasuke penuh amarah. Tangannya mencengkeram bahu Naruto semakin erat.

"A-apa?" Tanya Naruto belum sadar sepenuhnya.

"APA MAKSUDNYA DENGAN KUNAI ITU, HAH? KAU INGIN MENINGGALKANKU?" bentak Sasuke dengan tiga koma berputar di mata merahnya. Ia benar-benar marah hingga seluruh tubuhnya bergetar.

Naruto masih belum mengerti mengapa Sasuke bisa ada di hadapannya. Sebelum sebuah rasa nyeri yang menusuk di bagian bahu menyadarkannya. Dengan segera Naruto melompat mundur beberapa meter dari sosok Sasuke sambil memegang bahunya yang kini kembali terbakar.

"Jangan mendekat." Desis Naruto dengan tubuh bergetar. Perlahan ia melangkah mundur hingga lututnya goyah dan terduduk di lantai.

"Jelaskan padaku, Naruto!" kata Sasuke sambil berjalan maju.

"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!" bentak Naruto yang sukses membuat Sasuke membeku di tempat. Memandang sosok Naruto yang terduduk dengan tubuh bergetar. Mencengkeram bahunya kuat-kuat!

"Apa yang terjadi, Na-" kata-kata Sasuke terhenti saat melihat bercak-bercak merah menjalar dari leher naruto hingga separuh wajahnya. Mengubah sebelah mata Naruto yang semula biru seperti langit menjadi hitam dengan pupil menyempit berwarna jingga.

"Ukh…" Naruto merintih pelan sambil mencengkeram bahunya semakin kuat. Bisikan-bisikan itu kembali datang memenuhi kepala Naruto. Memrintahkannya untuk menghabisi sosok pangeran yang berdiri mematung di hadapannya.

"Naruto?" panggil Sasuke setengah berbisik sambil melangkah maju perlahan.

Melihat itu, Naruto Segera berdiri dan melangkah mundur.

"Apa yang kau lakukan disini, Pangeran?" Tanya Naruto sambil mengernyit nyeri. Mendengar itu, amarah Sasuke kembali memuncak.

"Apa yang kulakukan? SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA BEGITU, NARUTO!" jawab Sasuke sambil mengepalkan tangannya erat. Membuat darah mengalir dari luka di telapak tangannya. Berbaur dengan aliran air yang mengalir di lantai.

"Apa maksudnya semua ini?" Tanya Sasuke lirih. Menatap mata Naruto yang kini berbeda warna.

Naruto memandang Sasuke selama beberapa saat.

"Itu sudah jelas kan?" jawab Naruto dengan wajah tanpa ekspresi.

"Aku membencimu. AKU SANGAT MEMBENCIMU! JADI CEPAT PERGI DAN TINGGALKAN AKU SENDIRI!" teriak Naruto diantara suara derasnya hujan. Membuat Sasuke membeku.

Naruto… membencinya?

Dari awal, apa ia hanya bermimpi? Naruto memang tak pernah menjawab pernyataan cintanya. Sejak awal Naruto memang tak pernah berkata bahwa ia juga mencintainya. Ialah yang seenaknya menyimpulkan bahwa gadis itu juga mencintainya. Bahwa ia membalas perasaannya selama ini.

"Huh, begitu ya?" Tanya Sasuke pelan sambil menunduk.

Dalam sekejap Naruto mengernyit mendengar perkataan Sasuke. Sebelum kembali memasang wajah tanpa ekspresi.

"Benar. Jadi cepat tinggalkan aku." Kata Naruto lirih.

Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya suara derasnya hujan yang menjadi pengiring kejadian diantara mereka.

Perlahan Sasuke mendongak dan menatap Naruto. Dan mata merahnya melebar saat menangkap sesuatu di wajah Naruto.

"Kau bohong." Kata Sasuke sambil melangkah pelan mendekati Naruto.

"A-apa maksudmu?" kata Naruto sambil melangkah mundur.

"Lalu mengapa kau menangis?" Tanya Sasuke sambil menatap Naruto lembut. Membuat gadis itu membeku dengan mata terbelalak.

"Mengapa kau menangis saat mengatakan aku membenciku?" kata Sasuke sambil terus mendekat. Mempersempit jarak diantara mereka hingga sang gadis berada di hadapannya.

"Tatap mataku dan katakan sekali lagi bahwa kau membenciku." Kata Sasuke sambil menyentuh pipi Naruto yang penuh bercak merah. Menghapus aliran air mata yang terlihat jelas meski dalam guyuran hujan.

Naruto masih membeku dengan tubuh bergetar.

"Katakan, Naruto." Kata Sasuke sambil menatap mata Naruto dalam-dalam.

Naruto masih tak bergeming. Sebelum kemudian ia berhambur memeluk Sasuke. Melingkarkan lengannya di punggung Sasuke yang lebar. Menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan. Sasuke balas memeluknya erat. Tak ingin lagi melepaskan gadis yang sangat dicintainya itu. Mereka berdua terus begitu selama beberapa saat. Berpelukan di antara derasnya hujan yang tak juga reda. Hingga Naruto melepaskan pelukannya dan mendorong Sasuke pelan.

"Terima kasih." Kata Naruto sambil tersenyum. Ia melangkah mundur hingga menabrak tepi menara yang membuatnya ambruk dan jatuh ke bawah.

Dengan mata terbelalak, Sasuke langsung berlari dan menangkap pergelangan tangan Naruto.

"Naruto, idiot! Apa yang kau lakukan?" teriak Sasuke sambil menggenggam tangan Naruto erat. Berusaha menariknya ke atas.

"Lepaskan aku. Kau bisa ikut terjatuh." Kata Naruto sambil berusaha melepaskan genggaman Sasuke.

"Diam dan biarkan aku menarikmu!" bentak Sasuke sambil terus berusaha menariknya.

Naruto menggeleng.

"Aku akan melukaimu. Aku berusaha membunuhmu." Kata Naruto sambil mendongak. Tanah terlihat sangat jauh dari atas menara. Sekalipun Naruto memiliki daya sembuh yang tinggi. Kalau jatuh dari ketinggian ini, ia pasti tak akan selamat.

"Kau tak akan bisa membunuhku, Dobe." Kata Sasuke sambil berusaha tersenyum sinis.

"Lagipula… kalau kau mati sekarang…" kata Sasuke sambil menatap Naruto lekat-lekat.

"Aku akan langsung menyusulmu." Kata Sasuke lagi. Membuat Naruto berhenti meronta dan menatap Sang pangeran tak percaya.

Sasuke segera menangkap pergelangan tangan Naruto dengan dua tangan dan dengan sekuat tenaga menariknya ke atas.

Keduanya tergeletak dengan posisi Sasuke di bawah sambil berpelukan erat.

Tanpa bicara lagi, Sasuke mencium bibir Naruto dengan lembut. Berusaha meyakinkan gadis itu betapa ia sangat mencintainya. Bahwa ia ada untuknya.

Sambil terus meneteskan air mata. Naruto membalas ciuman Sasuke. Memeluknya dengan erat seakan tak ada lagi hari esok.

Keduanya terus berada dalam posisi itu. Terus berpelukan dalam keadaan basah kuyup. Hingga hujan deras itu kini berubah menjadi rintik gerimis kecil.

"Ukh…" Naruto merintih pelan. Membuat Sasuke melepas ciumannya dan menatap wajah Naruto. Ia terkejut saat mendapati bercak merah yang ada di wajah Naruto bergerak dengan liar.

Sasuke segera bangun dan memegang bahu Naruto.

"Naruto, apa yang terjadi?" Tanya Sasuke panik. Naruto mulai terbatuk dan memuntahkan banyak darah. Wajah tan berhias tiga goresan itu mengernyit kesakitan sambil mencengkeram bahunya kuat-kuat.

"Naruto, jawab aku!" kata Sasuke semakin panik sebelum sebuah tangan pucat lain terulur menyentuh bahu Naruto. Sasuke segera menoleh dan terkejut saat mendapati sang kakak sudah berjongkok di sampingnya.

"Nii-san." Panggil Sasuke saat Itachi membuka kemeja Naruto dan menyibak kaos di bagian lehernya. Menampakkan tanda tiga koma yang terus berputar seakan menggerakkan bercak merah di tubuh Naruto.

Selama beberapa saat Itachi terdiam menatap symbol yang terlihat sangat familiar baginya.

"Sasuke, cepat angkat Naruto." Kata Itachi sambil berdiri.

"Kita kembali ke istana."

# # #

Sang Raja Neraka dan Sang pangeran dengan sesosok gadis dalam gendongannya berjalan cepat diantara koridor istana . semua prajurit neraka, pelayan, bahkan bangsawan langsung menyingkir untuk memberikan jalan sambil menunduk hormat. Mereka saling pandang dan berbisik melihat raut wajah kakak adik yang tegang.

Itachi terus berjalan menuju kamar Sasuke. Para pelayan segera membukakan pintu agar keduanya bisa segera masuk. Mereka langsung masuk dan melarang siapapun memasuki kamar itu.

Dengan lembut Sasuke membaringkan Naruto di atas ranjang. Mengusap dahi Naruto yang penuh keringat sambil berjongkok di samping ranjang. Wajah Naruto masih mengernyit menahan sakit. Sementara bercak merah di tubuhnya terus bergerak liar meskipun tidak menyebar. Ia berulang kali terbatuk dan muntah darah. Membuat kekhawatiran Sasuke semakin memuncak.

"Sasuke, buka bajunya." Perintah Itachi sambil melepas jubah dan menggulung lengannya hingga siku.

"A-apa?" Tanya Sasuke dengan wajah merah.

"Kubilang lepas baju Naruto, Baka Otouto." Perintah itachi sementara dia membuka sebuah gulungan dan mengeluarkan benda yang tersegel di dalamnya.

"Dan jangan berpikir yang macam-macam." Kata Itachi saat dengan perlahan Sasuke melepas kaos putih Naruto. Menampakkan tubuh langsing Naruto yang hanya berbalut kain putih di bagian dada.

"Apa lagi yang harus kulakukan?" Tanya Sasuke serius.

"Baringkan dia di tengah ruangan dan singkirkan semua perabotan." Kata Itachi yag langsung dilaksanakan oleh Sasuke. Ia segera membaringkan Naruto di lantai tengah ruangan dan dengan sihir menyingkirkan semua perabotan menepi ke dinding.

"Apa lagi?" Tanya Sasuke saat Itachi berjalan mendekati Naruto yangmasih mengernyit kesakitan.

"Pegangi dia." Kata Itachi sembari menggambar rangkaian segel mulai dari bahu Naruto hingga lantai sekeliingnya.

Setelah selama beberapa saat akhirnya segel itu selesai. Dengan hati-hati Itachi kembali mendekati Naruto yang masih terbaring dengan Sasuke yang memegang tangannya erat. Setelah sampai di samping Naruto, Itachi segera menyentuh bahu Naruto. Mengalirkan sedikit cakranya ke dalam segel sehingga segel itu mulai bersinar biru. Tangan kirinya Itachi membentuk rangkaian segel dengan cepat hingga segel yang berada di lantai bergerak menyusut ke bahu Naruto.

Membuat Naruto membuka mata lebar-lebar dan…

"AKH… AAAAAAAA!" teriak Naruto sambil meronta.

"Tahan dia!" Perintah Itachi sambil tetap berkosentrasi mengendalikan segel.

Sasuke segera memegang tangan Naruto yang berusaha meronta dan mencakari bahunya yang kini penuh dengan bercak merah yang bergerak liar karena terdesak segel Itachi. Perlahan bercak merah itu menyusut dan kembali tersedot ke bahu Naruto yang berhias tiga titik koma.

"Tenanglah, sebentar lagi sakitnya akan hilang." Kata Sasuke berusaha menenangkan Naruto yang terus berteriak dan meronta.

"Nii-san…" panggil Sasuke yang mulai tak tega melihat Naruto.

"Tetap pegangi dia, Sasuke!" perintah Itachi.

Bercak-bercak merah di tubuh Naruto kini mulai bergerak seluruhnya kembali kedalam segel di bahu Naruto. Diikuti seger Itachi yang mengelingkarinya seakan menjadi sebuah penjara.

Setelah semua bercak merah itu menghilang dan segel Itachi masuk ke tubuhnya, Naruto langsung berhenti berteriak dan jatuh pingsan. Sasuke segera menyelimutinya dengan jubah miliknya dan perlahan mengangkat Naruto ke dalam pelukannya.

Itachi ikut berdiri dengan wajah penuh keringat. Ia melambaikan tangannya dan dalam sekejap semua perabotan di kamar Sasuke kembali ke tempatnya.

"Biarkan dia istirahat." Kata Itachi sebelum ia meninggalkan Sasuke yang tengah membaringkan Naruto di ranjangnya.

# # #

Seharian itu Sasuke terus berada di dalam kamar. Menunggui sosok Naruto yang belum juga sadar sejak kemarin. Ia tak peduli dengan tugasnya yang menumpuk di atas meja. Hal itu bisa di kerjakan nanti. Atau tidak usah sekalian.

Sambil duduk di kursi samping ranjang, Sasuke terus memandang wajah Naruto yang tertidur dengan tenang. Diusapnya pipi berwarna madu itu dengan lembut.

"Kau tak bisa berdiam diri dan hanya memandanginya sepanjang hari, Baka Otouto." Kata Itachi saat memasuki kamar Sasuke ditemani dengan Neji. Membuat Sasuke menoleh dengan kesal.

"Iya, aku bisa." Jawab Sasuke seenaknya.

"Setidaknya kau bisa bersiap untuk pesta dansa 2 hari lagi." Kata Itachi sambil duduk tak jauh dari sang adik.

"Bisakah kau tak mengingatkanku tentang hal itu?" Tanya Sasuke kesal. Membayangkan ratusan gadis yang menatapnya dengan pandangan penuh nafsu sudah bisa membuatnya merinding.

"Lalu kau sendiri, Baka aniki. Akan datang dengan siapa?" Tanya Sasuke tanpa berpikir sebelum teringat kata-kata Sakura saat ia masih kabur di dunia manusia.

"Oh, aku lupa kalau kau memang selalu bersama dengannya." Kata Sasuke sambil tersenyum menyeringai. Membuat Itachi memandangnya dalam diam.

"Apa maksudmu?" Tanya Itachi sambil mengerutkan sebelah alis.

"Maksudku, kau tak perlu menyembunyikan hubunganmu dengan Neji karena aku sudah tahu." Kata Sasuke tersenyum penuh kemenangan.

Itachi dan Neji saling pandang sebelum dengan perlahan Neji mundur menjauhi sang Raja Neraka.

"Maksudmu aku dan Neji…" Tanya Itachi tak menyelesaikan kalimatnya.

"Aku tahu kalian berdua sepasang kekasih" kata Sasuke sambil memandang sang Kakak.

Suasana hening selama beberapa saat.

Sebelum akhirnya Sang Raja Neraka tertawa terbahak-bahak diikuti aura berwarna ungu yang keluar di sekeliling Neji.

Sasuke memandang Sang kakak tak mengerti.

"Itu lelucon paling lucu yang pernah kudengar."Kata Itachi di sela tawanya.

Sasuke masih diam memandang tawa Sang kakak.

"Sebenarnya… Yang Mulia Pangeran…" Kata Neji mengalihkan perhatian Sasuke.

"Saya dan Yang Mulia tidak…" kata Neji berusaha mencari kata yang tepat.

"Berpasangan." Kata Neji sambil mengerutkan alisnya.

"Tapi… Sakura bilang…" kata Sasuke tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejut.

"Sepertnya aku harus pergi. Wajahku bisa kaku karena terlalu banyak tertawa." Kata Itachi bangkit sambil masih tertawa geli.

"Lalu siapa orang itu?" Tanya Sasuke penasaran.

Itachi hanya tertawa sambil berjalan keluar.

"Anda juga akan segera tahu, Yang Mulia Pangeran." Kata Neji sebelum mengikuti Itachi dan menutup pintu

"Apa yang lucu?" Tanya sebuah suara yang langsung membuat Sasuke menoleh. Mendapati Naruto tengah memandangnya tak mengerti.

Sasuke tersenyum dan menunduk mencium bibir Naruto singkat.

"Selamat pagi." Kata Sasuke sambil mengusap dahi Naruto.

"Bagaimana perasaanmu, apa masih ada yang sakit?" Tanya Sasuke. Nada khawatir terdengar jelas walau ia tengah tersenyum.

"Hm m, tapi aku masih mengantuk." Kata Naruto lemah.

"Kau bisa tidur lagi." Kata Sasuke sambil menyelimuti Naruto.

"Maukah kau menemaniku?" Tanya Naruto polos sambil menggenggam tangan Sasuke.

Sasuke mengerjapkan mata. Sejak kapan Naruto jadi manja seperti ini?

"Tentu." Kata Sasuke sambil berdiri dan berbaring di samping Naruto. Ia berbaring di atas selimut sementara Naruto tetap tergulung dalam selimut yang tebal.

"Tidurlah, aku akan ada disini." Kata Sasuke sambil membelai rambut Naruto.

Naruto memejamkan mata dan menggenggam tangan Sasuke erat.

Tak berapa lama, keduanya tertidur saling berhadapan dengan senyum tipis yang tersungging di bibir mereka.

.

.

To Be Continue…

.

.

Maaf! Saya tahu ini pendek. Tapi mengingat hanya tinggal 2-3 chap lagi. Saya akan update cepat kok. Kali ini beneran *swear* pokoknya paling lama 2 minggu.

Karena itu, mohon pendapatnya untuk chap ini walau saya tahu bener-bener gaje *nyengir*

Yosh!

REVIEW PLEASE…