hy... *smile*
maaf updatenya ngaret dari yang saya janjikan. tapi cuma telat sehari kan?
terima kasih banyak untuk:
Oridugdug
Zazaive
Ren-Mi3 NoVantA
Saiyuki Ayaseharu
Yukira Mirabelle
Aoi no Kaze
Vipris
Yanz namiyukimi-chan
Miko-199
Ck Mendokusei
Monkey D eimi
Kobayashi Akane
Shiho Nakahara
Ulquiorra zelga
atas kesediaannya mereview, yang sangat amat berguna untuk memacu semangat saya *smile*. dan balasan buat :
Alexa : Maaf! chap kemarin pendek. chap ini sudah saya usahakan lebih panjang walau... err... loh kenapa? iya sih sasu jahat. tapi kan ...
Yumi : yap... ini update. Maaf ya ngaret ^^
Harukaze Chiharu : saya update... chap depan saya usahakan segera buat.
Ace Sam Luffy : Um... Moga.. suka chap ini... *weak smile*
Yoseob : Terima kasih. saya harap chap ini gak mengecewakan *sigh...
Fujoshi Nyasar : saya update *smile* untuk scene pertarungan sepertinya akan ada di chap depan. maaf, chap ini akan membosankan. pesta dansa akan ada juga di chap depan juga. terus... untuk fic yang Searching for the sun... sebenarnya chap 4 udah update waktu ultah Sasu kemarin, tapi karena gak ada waktu lagi, saya gak bisa balas review *ditimpuki reader* chap selanjutnya sepertinya harus nunggu dulu *sigh...
Naru3 : um... ini udah bisa dibilang update kilat kan?
namikaze Trisha : *smirk* soal pasangan Itachi... bukankah sudah jelas? mau nyoba nebak?
Amu Aiko : iya... ini saya update! maaf ngaret dari waktu yang saya janjikan... saya jadi gak berani janji lagi nih*sigh...
um... yeah! terima kasih atas semua reviewnya, saya harap juga untuk chap ini, walau err... saya agak ragu *ditimpuk* saya benar-benar mohon maaf jika mengecewakan *lirik chap ini* daripada saya batal update karena gak yakin, silahkan baca sendiri saja ya? jangan lupa pendapatnya...
Happy reading minna...!
.
.
Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.
Pairing : SasuFemnaru
Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!
I Don' t Own Naruto!
.
#Story From Kingdom of Hell#
by : Ayushina
.
Chapter 16 : The Truth.
.
Malam hari yang cerah di dunia neraka…
Langit hitam bersih dari awan, walaupun tak ada bintang seperti di dunia manusia, tapi bulan berwarna pucat bersinar terang mewarnai dunia neraka yang suram. Ditambah oleh suara merdu burung gagak dari kejauhan. Benar-benar malam yang indah dan tenang.
Istana Neraka terlihat megah berdiri di atas bukit. Cahaya obor berwarna kuning orange menyala menerangi setiap jendela di kastil tersebut, Para prajurit neraka berjalan mondar mandir menjaga keamanan sambil sesekali menguap. Di sebuah ruangan, di dalam istana Neraka yang luas itu, atau lebih tepatnya di kamar Sang Pangeran Neraka, sepasang mata sebiru sapphire perlahan terbuka. Memandang wajah pucat berbingkai rambut hitam kelam yang berjarak hanya satu inchi dari wajahnya.
Satu kerjapan mata…
Dua kerjapan mata…
Dan…
"HUWAAAAA….!" Sebuah teriakan terdengar hingga radius 1 km. membuat burung-burung gagak terbang ketakutan
"DASAR PANGERAN MESUM BRENGSEK!"
"KENAPA KITA BISA TIDUR SERANJANG!?" teriak mantan prajurit neraka bermata biru itu sambil berdiri dan menunjuk sang pangeran yang masih tertidur dengan lelap.
"Dan… AAAH! MANA BAJUKU? APA YANG KAU LAKUKAN, TEME?" teriak Naruto lagi. Menyadari ia tengah mengenakan sebuah kemeja putih kebesaran yang ia yakin bukan miliknya.
Sasuke mengeliat pelan dan akhirnya bangun. Masih dengan mata setengah terpejam, ia menarik tangan Naruto hingga si gadis terjatuh di pelukannya.
"Pagi…" sapa sang Pangeran sambil mengecup bibir Naruto lalu kembali tidur di bahu sang gadis.
Hening…
3 sudut siku-siku kini bertengger di dahi Naruto yang kini wajahnya sudah merah padam.
"Pagi kepalamu? Bangun! Dasar pangeran pemalas!" bentak Naruto sambil menjitak kepala sang Pangeran.
"Owh… apa yang kau lakukan, Dobe?" Tanya Sasuke sambil mengusap kepalanya.
"Kenapa kita tidur seranjang?" Tanya Naruto ulang. menahan keinginan untuk menghajar pangeran mesum di depannya.
"Kan kau yang memintaku menemanimu." Jawab Sasuke sambil menguap. Sebelum akhirnya membeku saat memandang gadis rubah yang tengah duduk dalam pelukannya. Kemeja putih kebesaran yang di kenakannya membuat bagian kerah terbuka lebar hingga menampakkan sebelah bahunya yang berkulit seperti madu. Sasuke berusaha untuk tidak mimisan…
Tiba-tiba Naruto ikutan membeku dan tersentak bangun.
"Ah… aku harus pulang!" kata Naruto sambil buru-buru berjalan menuju pintu. meninggalkan Sasuke yang masih terduduk di ranjang dengan wajah tak mengerti.
Niat Naruto terhenti saat menyadari pintu besar berwarna hitam itu terkunci. Walaupun begitu, Naruto tetap berusaha menarik kenop pintu dengan panik.
BRAK...
Hingga sebuah tinju melayang ke pintu tepat di samping wajah Naruto.
"Kau pikir kau mau pergi kemana, Naruto?" geram Sasuke dengan Sharingan aktif. Menyadari gadis rubah di hadapannya tengah berusaha lari darinya. Lagi.
Naruto segera berbalik dan mendapati dirinya terperangkap di antara pintu dan sosok pangeran Neraka yang tengah marah.
"A-aku harus pergi." Jawab Naruto sambil memalingkan muka ke samping.
"Boleh aku Tanya 'mengapa' kau pergi dariku, Naruto?" desis Sasuke sambil menatap tajam Sang Uzumaki.
Naruto hanya diam, berusaha untuk tidak balas memandang sepasang mata semerah darah dengan tiga koma berputar di hadapannya.
"Mengapa kau ingin meninggalkanku?" Tanya Sasuke lirih sambil menaruh dahinya di dahi Naruto dan memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma khas Naruto yang menenangkan. Berusaha untuk tak mengingat bayangan gadis yang sangat dicintainya itu tengah berusaha membunuh dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa gadis yang dicintainya itu masih ada bersamanya. Masih bernafas dan hidup.
"JAWAB AKU, NARUTO!" bentak Sasuke penuh amarah. Menyadari kalau waktu itu ia terlambat sedikit saja, ia pasti kehilangan sosok gadis dihadapannya itu untuk selamanya.
Naruto tersentak mendengar bentakan Sasuke hingga ia tak tahan lagi.
"KAU MAU TAHU ALASANKU?" teriak Naruto.
"AKU BERUSAHA UNTUK TIDAK MEMBUNUHMU, BRENGSEK!" Bentak Naruto balik. Membuat sang Pangeran membeku.
"A-apa?" Tanya Sasuke terkejut.
"KAU TAK AKAN TAHU BAGAIMANA RASANYA BERUSAHA MEMBUNUH ORANG YANG KAU CINTAI!" bentak Naruto lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Apa maksudmu? Kau berusaha membunuhku?" Tanya Sasuke tak percaya. Naruto mengangguk perlahan, membuat satu tetes air mata jatuh dari saphirenya. Sasuke langsung terdiam detik itu juga.
"A-ada… suara-suara… yang menyuruhku… membunuhmu." Jawab Naruto terbata-bata.
"Bagaimana…?" Sasuke tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Naruto menggeleng.
"A-aku tak tahu… selalu bergema di kepalaku… tiap aku dekat denganmu… rasanya… rasanya…"Naruto berusaha menjelaskan sebelum menyadari sesuatu.
"Eh… menghilang…" bisik Naruto tak percaya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke khawatir.
"Suara-suara itu… tak ada lagi." Jawab Naruto. Ia buru-buru melihat bahunya, menyadari tanda tiga koma di bahunya kini dikelilingi simbol lain seperti segel.
"Bagaimana bisa?" Tanya Naruto tak percaya.
"Itachi yang melakukan sesuatu pada bahumu." Kata Sasuke sambil ikut memeriksa bahu Naruto.
"Yang Mulia?" Tanya Naruto. Sasuke mengangguk.
Naruto memandang Sasuke selama beberapa saat.
"Syukurlah…" bisik Naruto sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Syukurlah…" bisiknya lagi dengan tubuh bergetar menahan isakan.
Tanpa pikir panjang Sasuke menarik Naruto ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis tersedu-sedu di dadanya sambil membelai punggung kecil yang terlihat rapuh itu dengan lembut.
"Aku tak ingin melukaimu…" bisik Naruto di sela isakannya.
"Lebih baik aku mati… daripada harus membahayakanmu." Bisik Naruto lagi. Membuat Sasuke membeku, mengetahui alasan mengapa gadis yang dicintainya itu ingin bunuh diri.
"Jangan. Pernah. Berpikir. Melakukan. Hal. Seperti itu. Lagi!" desis Sasuke dengan gigi gemeletuk karena marah. Ia akan mencari siapapun yang telah membuat Narutonya melewati hal seperti ini.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu…" kata Sasuke lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Karena jika kau tak ada… aku juga tak ingin hidup lagi." Kata Sasuke sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata Naruto dalam-dalam.
Perlahan Sasuke mencium tiap sudut mata Naruto yang penuh airmata, menghapusnya, sebelum beralih untuk mencium bibirnya.
Ia menciumnya dengan lembut, hanya bermaksud menenangkan gadis dalam pelukannya yang terus gemetaran. Hingga Naruto membalas ciumannya. Saling menenangkan satu sama lain. Saling menginginkan keberadaan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian keduanya melepas ciuman mereka dengan nafas terengah-engah. Saling tersenyum dengan dahi yang masih bersentuhan.
"Jadi… kau benar-benar mencintaiku?" Tanya Sasuke sambil tersenyum menyeringai.
"A-apa?" Tanya Naruto dengan wajah merah padam.
"Tadi kau bilang 'orang yang kucintai' jadi kau mencintaiku kan?" Tanya Sasuke lagi.
Naruto memalingkan muka sambil bergumam 'Hn'.
"Katakan…" kata Sasuke sambil memegang wajah Naruto lembut. Kembali menyatukan dahi mereka.
"Um… apa?" Tanya Naruto berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak semakin cepat.
"Katakan kalau kau mencintaiku…" bisik Sasuke sambil mencium sudut bibir Naruto. Membuat si gadis berambut pirang itu bergidik sebelum menggumamkan sesuatu.
"Hn?" Tanya Sasuke sambil mendekatkan telinganya.
"Aishiteru, Sasuke." Bisik Naruto sebelum mencium bibir Sang Pangeran.
# # #
Pagi yang damai dan cerah di istana neraka. Para pelayan sibuk dengan tugas mereka, begitu juga dengan para prajurit neraka yang mulai berdatangan untuk melaksanakan misi. Tak terkecuali 5 pengawal pribadi Pangeran neraka yang sudah bersiap menunggu di depan pintu kamar Sang Pangeran sejak tadi. Mereka dengan sabar menunggu Sang Pangeran keluar dari kamarnya yang masih tertutup rapat. Hingga mereka mendengar suara-suara berisik dari dalam kamar.
"KENAPA AKU HARUS MEMAKAI BAJU SEPERTI 'INI'?"
"Memangnya kau mau memakai bajuku terus?"
"Setidaknya aku bisa memakai baju seragamku kemarin!"
"Kau lupa, Dobe? Kau kan sudah mengundurkan diri."
"Kalau begitu biarkan aku pulang!"
"Kau pikir bisa pergi begitu saja?"
"Tentu saja bisa!"
"Kata Siapa?"
"Kataku!"
"Memangnya kau siapa?"
"Ugh… dasar Teme!"
Para prajurit itu saling pandang. Sebelum akhirnya pintu kamar Sang pangeran terbuka. Mereka berlima segera berlutut untuk menyambutnya.
"Aduh… punggungku!" Keluh Sasuke sambil memegang punggungnya.
"Rasakan huh!" kata Naruto senang.
"Ini gara-gara kau menyuruhku tidur di sofa, Dobe!" Gerutu Sasuke kesal.
"Salahmu sendiri melarangku pulang!" balas Naruto tak peduli.
"Kita kan bisa tidur ber-Ugh" kata-kata Sasuke terhenti oleh sebuah pukulan di perut oleh Naruto.
"Diam!" bentak Naruto dengan wajah merah padam. Ia segera berjalan keluar dan terhenti saat memandang 5 prajurit Neraka yang tengah berlutut di hadapannya.
"Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran." Sapa mereka bersaman.
Naruto mengerjap beberapa kali sebelum menyingkir ke sisi Sasuke.
"Hn." Jawab Sasuke membuat kelima pengawal itu segera bangkit berdiri. Dan semuanya tertegun saat memandang Naruto, Mantan prajurit Neraka itu terlihat cantik dengan sebuah gaun selutut berwarna biru muda. Rambut pirangnya yang panjang diikat separuh sementara seperuhnya lagi di biarkan tergerai di belakang punggung.
"Er… hai… Gaara, Shikamaru…" Sapa Naruto sambil tersenyum. Membuat kelima pengawal itu terpesona dan tak bisa berkata-kata.
"Pagi, Naruto." Balas Gaara sambil mengangguk.
"Hari ini kau cantik sekali, Naruto." Kata shikamaru sambil menatap gadis rubah itu tak percaya.
"Um… terima kasih." jawab Naruto dengan sedikit rona merah di pipinya.
Membuat 3 sudut siku-siku bertengger di dahi Sang pangeran yang langsung menarik tangan Naruto dan menyeretnya pergi.
"Eeh… Teme! Apa apaan kau?" teriak Naruto tak terima.
"Hn." Gumam Sasuke tanpa menoleh.
"Aku mau pulang!" teriak Naruto lagi.
"Tidak bisa." Jawab Sasuke pendek.
"Kau tak bisa melarangku, Teme!" Protes Naruto.
"Itachi ingin bicara denganmu, Dobe." Jawab Sasuke sambil menarik Naruto lebih dekat dan menggenggam tangannya.
"ugh…" geram Naruto sambil memalingkan muka. Tak bisa protes lagi kalau sudah menyangkut Sang Raja Neraka.
Keduanya berjalan dalam diam menuju ruang singgasana diikuti 5 pengawal yang berjalan diam di belakangnya…
Tak berapa lama kemudian mereka tiba di depan ruang singgasana dan berjalan masuk. Mendapati sang Raja Neraka tengah duduk di singgasananya sambil membaca beberapa dokumen. Seperti biasa ditemani Neji di belakangnya.
Itachi menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan memandang Sasuke yang berjalan masuk sambil menggandeng Naruto di sisinya.
"Selamat pagi, Sasuke." Sapa Itachi sambil meletakkan dokumennya. Yang hanya di jawab 'Hn.' Oleh sang adik.
"Selamat pagi, Naruto. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Itachi sambil memendang Sang Uzumaki.
"Selamat pagi, Yang Mulia." Jawab Naruto sambil menunduk hormat.
"Terima kasih, saya baik-baik, Yang Mulia." Jawab Naruto sopan.
Itachi hanya memandang Naruto dalam diam.
Hening.
Sebelum Sasuke membuka mulutnya untuk bicara, Itachi sudah berdiri dan berjalan membelakanginya.
"Ikut aku." Kata Sang raja Neraka tanpa menoleh.
Sasuke dan Naruto saling pandang. Sebelum kemudian mengikuti Itachi dalam diam.
Mereka memasuki lorong yang berada di samping ruang singgasana, terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam. Pintu berlambang Uchiha dengan ukiran yang lebih rumit dan lebih mewah. Itachi menyentuh daun pintu dengan tangannya dan perlahan pintu itu terbuka. Itachi segera masuk diikuti Neji, Sasuke, dan Naruto. Sementara pengawal yang lain menunggu di luar. Tahu bahwa ruangan itu ruangan khusus yang tak boleh dimasuki sembarangan.
Ruangan itu sangat luas, hampir mirip dengan ruang singgasana. Obor-obor di setiap dinding langsung menyala saat pintu di belakang mereka tertutup. Menyinari dinding yang penuh dengan lukisan anggota klan Uchiha.
Sasuke melirik Naruto dengan khawatir saat sang uzumaki memandang sekeliling dengan takjub. Ia kemudian beralih menatap punggung sang kakak dan bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka di bawa kemari.
Itachi berhenti tepat di depan lukian besar para Raja neraka terdahulu. Dan berbalik menatap Sasuke dan Naruto.
"Aku ingin bertanya beberapa hal padamu, Namikaze-san." Kata Itachi sambil memandang Naruto.
"Baik, Yang Mulia." Jawab Naruto sambil menunduk, sebelum tubuhnya membeku kaku. Menyadari kesalahan yang telah ia buat. Perlahan ia mendongak menatap Raja Neraka yang juga balas menatapnya.
"Nii-san." Panggil Sasuke berusaha mencegah. Takut kalau sang kakak mengatakan kebenaran tentang orang tua Naruto.
"Diam, Sasuke. Atau kau akan kusuruh keluar." Kata Itachi dengan tenang.
Sasuke langsung terdiam sambil melirik Naruto yang terlihat pucat.
"Mengapa kau memalsukan identitasmu, Namikaze Naruto?" Tanya Itachi sambil menatap gadis pirang di depannya.
Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum membuka mulutnya.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud memalsukan identitas. Sejak dulu, ukh… kedua orang tua saya selalu melarang menggunakan nama itu. Jadi... saya terpaksa menggunakan nama samaran saat mendaftar sebagai prajurit neraka." Jawab Naruto sambil menunduk hormat.
"Kenapa kau ingin menjadi prajurit neraka?" Tanya Itachi.
"Itu… ukh… waktu saya masih kecil… um… Yang Mulia Pangeran pernah menolong saya… jadi… saya bermaksud membalas kebaikan… beliau." Jawab Naruto dengan wajah merah padam. Berusaha untuk tidak melihat wajah Sasuke yang terlihat terkejut.
"Kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sasuke tak percaya. Menatap wajah Naruto yang merah padam. Di pandanginya wajah Naruto lekat-lekat. Berusaha mengingat-ingat hingga sebuah bayangan seorang gadis kecil bertelinga rubah terbayang di kepalanya, gadis itu tengah terduduk dengan baju yang penuh kotoran dan dahi yang terluka. Mendongak memandangnya dengan sepasang mata berwarna biru jernih yang lebar.
"Oh." Kata Sasuke sambil memalingkan muka. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang ikut merona mengingat wajah Naruto kecil yang sangat um… imut.
Itachi hanya diam sambil memandang dua sosok dihadapannya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Dimana keluargamu yang lain?" Tanya Itachi sambil berjalan di depan sebuah lukisan.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal. Selain mereka saya tidak mempunyai keluarga yang lain, Yang Mulia." Jawab Naruto sambil memandang Sang Raja Neraka. Tanpa sadar ia juga mendongak menatap lukisan di belakang Itachi. Lukisan raja Neraka Terdahulu yang berambut hitam panjang, bagian belakangnya berantakan mirip rambut Sasuke jika saja lebih panjang. Dengan sepasang mata berwarna merah yang memandang penuh keangkuhan.
"Begitu…" komentar Itachi sambil menatap wajah Naruto dalam-dalam.
Sasuke melirik khawatir ke arah Naruto dan lukisan di belakang Sang Kakak.
"Baiklah…" kata Itachi sambil berjalan mendekat.
"Darimana kau mendapatkan segel di bahumu?" Tanya Sang Raja Neraka.
"Segel?" Tanya Naruto tak mengerti sambil memandang bahunya.
"oh… tanda ini muncul saat saya diserang seseorang waktu saya mencari Pangeran di dunia manusia." Jawab Naruto sambil mengerutkan alis. Membuat Sasuke terkejut namun ia diam saja.
"Seperti apa orang yang menyerangmu?"
"Seorang makhluk neraka, Yang Mulia. Pria, berambut hitam panjang, berkulit pucat dan memiliki mata berwarna emas dengan pupil menyempit seperti ular. Dia menyamar sebagai guru sekolah dan mengaku bernama Orochimaru."
"Bagaimana caranya memberimu segel itu?"
"Saya tidak yakin, Yang Mulia." Jawab Naruto
"Tapi sebelumnya… dia menggigit bahu saya." Lanjut Naruto sambil mengernyit. Mengingat rasa sakit yang ia rasakan waktu itu. Tanpa sadar ia meraba bahu yang berhias tiga koma.
"Apa?" Tanya Sasuke.
"Kenapa kau tak memberitahuku?" Tanya Sasuke marah.
"Kupikir itu akan sembuh seperti semua luka yang pernah kuterima." Jawab Naruto.
"Apa beberapa waktu ini kau berniat membunuh Sasuke? Atau aku?" Tanya Itachi membuat mata Naruto dan Sasuke melebar karena terkejut.
Hening selama beberapa saat.
"Benar, Yang Mulia. Tapi saya hanya… mencoba membunuh Yang Mulia Pangeran." Jawab Naruto sambil menunduk. Merasa yakin akan dihukum mati setelah ini. Hingga Sasuke mengeratkan genggaman tangannya. Mengurangi rasa takut yang ia rasakan.
"Karena itu kau mengundurkan diri sebagai prajurit neraka?" Tanya Itachi dengan ekspresi datar.
"… Benar… Yang Mulia." Jawab Naruto ikut mempererat genggaman tangannya.
Itachi memandang Naruto selama beberapa saat.
"Bagaimana cara segel itu bekerja?" Tanya Itachi serius.
Naruto terdiam sesaat.
"Awalnya segel itu terasa terbakar dan nyeri. Kemudian, saat saya berdekatan dengan Pangeran… ada suara-suara yang muncul di kepala saya." Kata Naruto ragu
"Menyuruh saya membunuh Pangeran, jika saya menolak, segel itu akan semakin sakit… membuat saya hilang kendali dan sempat menyerang Pangeran sekali." Lanjut Naruto pelan. Tak berani memandang sang Raja Neraka.
Suasana hening selama beberapa saat.
"Bagaimana dengan sekarang?" Tanya Itachi.
"eh…"
"Apa suara-suara itu masih ada?" tanya Itachi. Memandang Naruto dan Sasuke yang semakin merapatkan diri dan berpegangan tangan dengan erat.
"Tidak ada, Yang Mulia." Jawab Naruto sambil berjengit saat Sang Raja Neraka berjalan mendekatinya dan… mengelus kepalanya.
"Terima kasih." kata Itachi sambil tersenyum. Membuat Sasuke dan Naruto terpana.
"Kalian berdua boleh keluar." Kata Itachi sambil berbalik.
Naruto dan Sasuke saling pandang sebelum keduanya tersenyum dan menghela nafas lega.
"Terima kasih, Yang Mulia." Kata Naruto sambil menunduk hormat.
Ia dan Sasuke segera berjalan keluar dengan tangan yang masih bergandengan.
"Apa ini tidak apa, Yang Mulia?" Tanya Neji sambil berjalan mendekati Itachi.
"Hn." Jawab Itachi tanpa menoleh. Masih memandang lukisan di depannya.
"Sepertinya dia tidak tahu kalau Yang Mulia Uchiha Madara yang membunuh kedua orang tuanya." Kata Neji sambil ikut memandang lukisan besar Uchiha Madara.
"Segel itu berfungsi karena dia menolak perintah segel kutukan di bahunya. Dia benar-benar menyukai Sasuke" gumam Itachi.
"Gadis itu memang benar-benar polos." Komentar Neji.
"Kuharap semua akan baik-baik saja."
# # #
Naruto dan Sasuke berjalan di koridor istana sambil tetap bergandengan tangan. Sama sekali tak menghiraukan para pelayan yang melihat mereka dengan wajah merona. Jarang sekali mereka melihat Sang pangeran terlihat bahagia seperti itu. Walau Sasuke hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya, namun aura yang terpancar darinya terlihat penuh suka cita. Mengingatkan mereka pada sosok pangeran kecil sebelum sang Raja dan Ratu terdahulu meninggal.
"Hei, Sasuke! Kita mau kemana?" Tanya Naruto.
"Um… jalan-jalan?" jawab Sasuke sambil berpikir.
"Memangnya kau tak punya tugas?" Tanya Naruto sambil menaikkan sebelah alis.
"Tidak." Jawab Sasuke. Walau kini ia membayangkan mejanya yang penuh tumpukan dokumen.
"Benarkah?" Tanya Naruto tak percaya.
"Hn." Jawab Sasuke sebelum ia berhenti tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanya Naruto ikutan berhenti.
"Aku ingin kau datang ke pesta dansa besok." Kata Sasuke sambil menatap wajah Naruto.
"Eh… A-apa?" Tanya Naruto terkejut.
"Kau dengar aku, Dobe." Jawab Sasuke sambil memutar bola matanya.
"Tidak! Aku tak mau!" jawab Naruto sambil kembali berjalan.
"Kenapa?" Tanya Sasuke mengikuti.
"Aku tak suka pesta!"
"Aku juga."
"Itu urusanmu, Teme!"
"Kau harus datang, Dobe!" perintah Sang Pangeran.
"Huh… baiklah… aku akan berjaga di dekatmu." Kata Naruto sambil menghela nafas. Sasuke hanya bisa tersenyum kecil.
"Padahal katanya aku sudah berhenti." Gerutu Naruto pelan.
"Kau tak boleh mengenakan seragam prajurit, Dobe." Kata Sasuke. Menyadari dobenya itu benar-benar 'dobe'.
"Eeh… kenapa"
"Kau bukan lagi prajurit Neraka."
"Lalu aku harus datang pakai apa?"
"Tentu saja kau harus memakai gaun."
Hening…
Hening lagi…
" AKU TIDAK MAU!" teriak Naruto dengan wajah merona. Membayangkan ia memakai baju ini saja sudah membuatnya malu, apalagi gaun pesta!
"Kenapa?" Tanya Sasuke sambil memiringkan kepalanya.
"A-a… aku tak bisa dansa." Jawab Naruto sambil memalingkan muka.
"Hm…" Sasuke bergumam sambil berpikir sebelum menemukan sebuah ide. Ia menarik Naruto ke sudut taman. Tepat di dibawah pohon maple merah yang rindang.
"Sini kuajari." Kata Sasuke sambil berdiri di hadapan naruto.
"Eh?" Tanya Naruto tak percaya.
"Pegang pundakku dengan tangan kiri…" kata Sasuke sambil menaruh tangan Naruto di bahunya. Sementara tangan kanannya ia genggam dengan tangan kiri.
"Begini." Kata Sasuke sambil meraih pinggang Naruto dan menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Ukh… apa harus seperti ini?" Tanya Naruto dengan wajah merah. Tentu saja ia pernah melihat orang berdansa. Tapi ia tak pernah membayangkan akan sememalukan ini.
"Hn, kaki kanan melangkah, lalu kaki kiri mundur sambil sedikit berputar…" Intruksi Sasuke sambil menggerakkan tubuhnya diikuti Naruto dengan kaku.
"Jangan seperti robot kayu, Dobe… berputar dan Aw… jangan menginjakku!" kata Sasuke sambil mengernyit.
"Sudah kubilang aku tak bisa, Teme!" teriak Naruto kesal.
"Coba sekali lagi." Kata Sasuke sambil kembali memegang Tangan Naruto dan memeluknya.
"Huh…" keluh Naruto sambil menghembuskan nafas.
"Jangan menunduk… lihat aku." Kata Sasuke pelan.
Naruto mendongak dengan kesal sebelum tertegun saat mendapati Sasuke tangah menatapnya balik. Sepasang mata merah miliknya menunduk menatapnya penuh perhatian.
Seakan terhipnotis, Naruto sama sekali tak bisa berpaling dari wajah Sang pangeran yang rupawan, tersenyum kecil padanya. Tanpa sadar Naruto ikut tersenyum. Dunia sekelilingnya seakan memburam dan tak penting lagi baginya. Hanya ada ia dan Sasukenya.
Ya… Sasuke miliknya…
Sambil terus menatap Sasuke, kaki Naruto dengan mudah mengkuti setiap gerakan Sang Pangeran. Tubuh mereka mengayun ke kanan kiri, maju mundur, dan berputar dengan anggun. Sesekali ia berputar tanpa melepaskan tatapan mereka. Angin yang berhembus seakan berubah menjadi musik yang mengalun menemani setiap gerakan mereka. Menerbangkan daun-daun maple merah hingga berguguran di sekitar mereka. Hingga Sasuke memutar Tubuh Naruto dan menangkap pinggang sang gadis dalam posisi setengah ambruk.
"Tuh, kau bisa kan." Kata Sasuke sambil menaikkan sudut bibirnya. Memandang mata biru Naruto yang berada sejengkal dari wajahnya. Sebelum kemudiam mengunci mulut Sang Uzumaki dalam sebuah ciuman yang lembut.
Sama sekali tak menyadari seluruh penghuni taman yang melihat mereka dengan wajah merona.
# # #
Sasuke duduk di tepi ranjangnya sambil memandang sebuah gaun berwarna putih yang tergeletak rapi di samping ia duduk. Di belainya gaun itu dengan lembut sambil tersenyum. Membayangkan betapa cantik Naruto jika memakainya besok. Ia belum memberikannya karena gadis itu kini mengurung diri di kamar karena kesal Sasuke tak memperbolehkannya pulang. Sebenarnya Sasuke hanya tak ingin Naruto tahu bahwa ia telah menghancurkan pintu apartemennya kemarin.
"Miaw…" seekor kucing berbulu putih kemerahan terlihat berjalan perlahan mendekati Sang pangeran Neraka setelah melompat masuk lewat jendela yang terbuka. Memecah lamunan Sasuke dengan sukses.
"Sakura… darimana saja kau selama ini hah?" Tanya Sasuke sambil berbalik dan menatap tajam sang kucing.
"Miaw…" kucing itu menaikkan sebelah kaki depannya sambil menatap sang majikan.
"huh…" gerutu Sasuke sambil merapalkan mantra dan membentuk rangkaian segel dengan tangannya. Membuat sebuah symbol bintang segi tujuh muncul di bawah sang kucing, menyala kuning dan menyelubungi sang kucing sebelum menghilang dan meninggalkan sesosok wanita berambut merah muda sebahu dengan gaun berwarna pink juga.
"Ah… lama sekali aku tak memakai wujud ini…" kata Sakura sambil mengeliat dan melemaskan ototnya.
"Hn, salahmu sendiri berkeliaran kemana-mana." Kata Sasuke sinis.
"Hei, kau yang selalu sibuk dengan gadis rubahmu dan melupakanku!" kata Sakura kesal.
"Kau sendiri juga pasti sedang bersenang-senang dengan kucing hijau itu." Kata Sasuke sambil menyeringai. Melihat wajah Sakura yang memerah karena ketahuan.
"Ini gara-gara kau yang kabur kedunia manusia hingga aku tak bisa menemuinya lagi!" kata Sakura kesal.
"Untung saja aku tak disate oleh Yang Mulia Itachi karena membantumu." Kata Sakura lagi.
Sasuke hanya mendengus.
"Wah… gaun yang cantik sekali, untuk Naruto?" Tanya Sakura sambil berjalan mendekat dan melihat gaun itu lebih jelas.
"hn."
"Oh… kau manis sekali, Sasuke." Kata Sakura sambil tersenyum jahil.
"Diam!" kata Sasuke dengan wajah memerah.
"Ngomong-ngomong, mana Naruto? Tumben kau tak bersama dengannya." Tanya Sakura sambil memandang sekeliling.
"Dia ada di kamarnya, melarangku masuk karena melarangnya pulang." Kata Sasuke sambil berbaring.
"Wah.. biar kuantarkan padanya…" kata Sakura sambil tersenyum.
"Hn, awas saja kalau rusak." Ancam Sasuke sambil memejamkan mata. Tak sabar menanti hari esok.
"Iya-iya." Jawab Sakura sambil mengangkat gaun itu dengan hati-hati dan berjalan keluar menuju pintu.
Suara pintu yang tertutup pelan mengantar Sang Pangeran ke alam mimpi.
# # #
Saat itu Naruto tangah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Memandang awan hitam yang bergerak perlahan di atas langit. Perlahan mendekati Sang rembulan yang bersinar terang.
Tak lama kemudian, gadis rubah itu bangkit sambil menguap lebar. Ia menutup jendela dan berjalan untuk mematikan lampu agar ia bisa tidur, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu diketuk.
Sambil mengeluh karena merasa yakin yang mengganggunya adalah Sasuke, Naruto berjalan menuju pintu dan membukanya dengan raut wajah kesal.
"Teme! Berhenti menggangguku dan…" kata-kata Naruto terhenti saat menyadari sosok yang berdiri di depan pintunya bukanlah Sang Pangeran, namun sosok prajurit neraka berambut putih yang entah mengapa terlihat familiar.
"Ada apa?" Tanya Naruto sambil berusaha mengingat. Hingga sosok itu mendongak, menampakkan sepasang kacamata bulat yang membingkai sepasang mata berwarna emas seperti ular. Sebuah seringaian terlihat jelas dari wajahnya yang tak disinari cahaya.
Sebelum Naruto bisa bereaksi, sosok itu sudah mencengkeram leher Naruto dan memasuki kamar sambil mendorong Naruto yang kini berusaha bernafas sambil berusaha melepas cengkraman tangan di lehernya.
"Ka…buto… bagai..mana…" kata Naruto di sela nafasnya saat mengingat sosok yang mencengkeram lehernya. Ia mengingatnya sebagai prajurit neraka yang pernah meremehkannya dulu.
"Huh… kita bertemu lagi, Bocah rubah…" kata Sosok itu sambil tersenyum. Dengan suara yang terdengar sangat familiar di kepala Naruto.
"O-orochimaru…" bisik Naruto pelan sambil menatap sosok itu tak percaya.
"khu..khu..khu… ternyata kau cantik juga, prajurit wanita. Tak salah jika menjadi mainan yang paling kusuka." Kata Orochimaru memandang gaun yang dikenakan Naruto sambil mengeratkan cengkraman di lehernya. Membuat gadis itu mengernyit kesakitan.
"Huh… aku bertanya-tanya…" kata Orochimaru sambil memutar tubuh Naruto hingga membelakanginya dan menutup mulutnya. Tangannya yang lain menggenggam kedua lengan Naruto hingga gadis itu sama sekali tak bisa bergerak. Naruto berusaha meronta namun entah mengapa ia jadi sama sekali tak memiliki tenaga.
"Raja Neraka memang hebat, berhasil menghentikan segel kutukanku yang sedang aktif." Kata Orochimaru sambil menyibak baju di bahu Naruto dengan lidahnya yang panjang. Menatap segel miliknya kini dikelilingi segel lain milik Itachi.
"ini yang pertama kalinya… padahal Raja dan Ratu Neraka terdahulu bisa dengan mudah aku kuasai, ternyata levelnya memang berbeda… sayang sekali waktu itu gagal…" gumam Orochimaru sambil terus memandang segel di bahu Naruto. sementara Naruto hanya melirik sosok di belakangnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Khu..khu..khu… kita lihat sekuat apa segel ini." Kata Orochimaru sambil tersenyum menyeringai.
Seketika itu segel tiga koma di bahu Naruto menyala merah. Perlahan segel itu berputar semakin cepat. Membuat Naruto membelalakkan mata saat tiba-tiba rasa sakit menyerang sekujur tubuhnya. Ia berusaha meronta dan berteriak sekuat tenaga namun sama sekali percuma. Suaranya sama sekali tak keluar dan tubuhnya tak dapat di gerakkan.
Sunyi yang sangat mencekam di kamar yang remang-remang itu.
Orochimaru memandang segel miliknya dalam diam. Segel kutukan itu masih menyala merah dan berputar dengan cepat. Namun bercak-bercak merah yang menandai aktifnya segel sama sekali tidak muncul. Dipandanginya pula segel milik Itachi yang kini juga menyala biru. Seakan menahan semua bercak merah yang ingin keluar.
Sambil menggeram, Orochimaru melepas cengkraman tangannya dan melempar tubuh Naruto ke lantai. Dengan tubuh bergetar, Naruto berusaha mencengkeram bahunya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Bagaimana mungkin?" renung Orochimaru sambil memutari sosok Naruto yang masih terbaring di lantai.
"Tak mungkin segel seperti itu bisa menahan segelku… ini tak pernah terjadi sebelumnya." Gumam Orochimaru sambil terus berpikir. Sebelum akhirnya terhenti dan memandang wajah Naruto yang mengernyit kesakitan.
"Huh… tak mungkin ini gara-gara cinta." Kata Orochimaru sambil tertawa sinis.
"Kau mencintai pangeran itu bukan? Rubah kecilku?" Tanya Orochimaru sambil berjalan mendekat. Naruto hanya bisa menatap sosok itu dengan penuh kebencian.
"Khu..khu..khu… jangan membuatku tertawa, Namikaze." Kata Orochimaru sambil berjongkok di depan sosok Naruto.
"Kau tak mungkin mencintai orang yang keluarganya telah membunuh orang tuamu, bukan?" kata Orochimaru sambil tersenyum di depan wajah Naruto. Membuat gadis itu tersentak dan berusaha mendongak menatap sosok mirip ular di depannya.
"Huh… kau tak tahu siapa yang membunuh orang tuamu?" Tanya Orochimaru sambil menyeringai.
"Akan kuberitahu…" bisik Orochimaru di telinga Naruto.
"Kakek dari orang yang kau 'cintai' itu… Uchiha Madara… adalah sosok bertopeng spiral… yang membunuh Minato dan Kushina namikaze"
"Orang tuamu." Bisik Orochimaru lagi.
Mata biru sapphire itu membulat. Hingga perlahan airmata bening mengalir dari kedua matanya yang menyiratkan ketidak percayaan.
"Kau tidak percaya huh?" kata Orochimaru sambil kembali berdiri dan berjalan mengelilingi Naruto.
"Apa kau yakin tidak pernah melihat mata semerah darah dari sosok bertopeng waktu itu, Naruto-chan?"
"Aku yakin kau ingat bagaimana sosok itu membunuh kedua orang tuamu eh…"
"Kasihan sekali kau, ditinggalkan di hutan seperti itu. Hanya ditemani dua mayat orang tuamu…"
"Kau yakin tidak ingin membalas dendam?"
"Pada klan yang telah menghancurkan keluargamu?"
"Pada mereka yang telah mengambil orang yang berharga untukmu?"
"Pada mereka yang masih bisa tetap tersenyum sementara kau terlunta-lunta sendirian?"
Orochimaru terus berjalan mengitari sosok Naruto yang sama sekali tak bergerak. Hingga ia terhenti saat melihat perubahan di tubuh Naruto.
"Nah… itu baru mainanku yang pintar." Kata Orochimaru sambil tersenyum lebar. Memandang bercak-bercak merah yang mulai menjalari bahu naruto. Segel Itachi seakan tenggelam saat bercak-bercak itu semakin pekat dan menjalar ke seluruh tubuh Naruto. Menutup kulit sewarna madu di wajah Naruto yang kini menatap kosong tanpa ekspresi. Airmata terus mengalir dari iris biru yang kini perlahan berubah warna menjadi hitam. Dengan pupil menyempit berwarna jingga.
"Ha..ha..ha… besok akan jadi hari yang menyenangkan." Tawa Orochimaru menggema di kamar kecil dalam istana Neraka itu.
Diluar, langit kini menggelap karena purnama telah tertutup awan hitam yang pekat.
.
.
To be continue…
.
.
Hwah… maaf! Chap ini gaje banget ya? *garuk belakang kepala*
Soal orochimaru diatas, dia make tubuh Kabuto –chap duluu sekali saya pernah nulis tentang kabuto yang jadi prajurit Neraka- jadi kalau bayangin sosoknya kayak sosok kabuto di manga baru-baru ini ya…
Terus soal segel Itachi… segel itu fungsinya seperti segel kakashi di manga asli. Akan berguna jika yang terkena segel berusaha menolak segel kutukan. Sama seperti Sasuke di manga asli. Jadi mohon jangan bingung kalau di chap ini Naru langsung down gara-gara tau tentang ortunya…
Yah… maaf ya. Saya juga sadar chap ini berantakan *sigh* habis… saya gak bisa mikir yang lain *nangis2* tapi kalau memang benar-benar ancur harap beritahu saya ya? Nanti 'mungkin' akan saya remove *sigh*
Karena itu, mohon pendapatnya ya…
.
.
REVIEW PLEASE…
