hy^^...

maaf ya lama^^

.

.

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

.

.

.

Gadis berambut pink sebahu itu berjalan di antara koridor Istana Neraka sambil berdendang pelan. Ia membawa sebuah gaun putih panjang dengan kedua tangannya. Mencegah gaun indah itu menjuntai di lantai istana yang kotor. Mata emeraldnya menyusuri keindahan gaun yang dibuat penuh kehati-hatian. Tentunya mereka tak ingin mengecewakan pangeran neraka yang sudah repot-repot memesan gaun tersebut.

Sakura terkikik pelan membayangkan wajah Sasuke saat tengah memesan gaun dan ditanyai berbagai pertanyaan tentang ukuran dan bentuk tubuh sang wanita. Huh… dasar majikan bodoh.

Langkah kaki Sakura berhenti di depan sebuah pintu berwarna mahogani. Sambil menaruh gaun yang dibawanya pada satu tangan –dan memastikan tidak terjuntai ke lantai- sakura mengetuk pintu tersebut.

'Tok tok tok'

Tidak ada jawaban.

'Tok tok tok' "Naruto." Sakura kembali mengetuk pintu sambil memanggil nama sang pemilik kamar.

Tidak ada jawaban.

'Apa Naruto sudah tidur?' batin Sakura dalam hati.

Saat Sakura kembali berniat mengetuk pintu, tiba-tiba pintu dihadapannya itu terbuka sedikit.

"Siapa?" Tanya sebuah suara dari celah pintu. Suaranya agak serak, membuat Sakura mengernyit heran.

"Naruto? Ini aku Sakura! Aku mengantarkan sesuatu dari Sasuke." Kata Sakura sambil berusaha mengintip ke dalam.

"Sakura?" Tanya suara itu lagi. Sakura menaikkan sebelah alis.

"Iya, Haruno Sakura kalau kau lupa, aku yang menyamar sebagai guru kesehatan saat menemani Sasuke kabur ke dunia manusia." Jawab Sakura.

Tidak ada jawaban.

"Naruto? Bisakah kau membuka pintu dan perlihatkan dirimu?" pinta Sakura dengan sebelah alis terangkat. Apa Naruto selalu bersikap seperti ini?

Setelah beberapa saat tak ada suara, akhirnya pintu itu perlahan terbuka. Menampakkan sesosok gadis berambut pirang panjang tengah berdiri sambil memegang kenop pintu. Ia sudah memakai piama tidur dan rambutnya sedikit berantakan.

"Ah maaf! Apa tadi aku membangunkanmu?" Tanya Sakura sambil tersenyum.

Naruto diam sejenak sebelum kemudian balas tersenyum.

"Tidak kok, Sakura-chan. Tadi aku baru mau berbaring." Jawab Naruto sambil tetap tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu. Um… boleh aku masuk?" Tanya Sakura sambil memiringkan kepalanya karena Naruto tetap berdiam di depan pintu, sama sekali tak menawarinya masuk.

Sambil tetap tersenyum, mata biru Naruto melirik ke dalam sekilas sebelum kembali menatap Sakura yang terlihat bertanya-tanya.

"Tentu." Jawab Naruto akhirnya. Ia sedikit mundur ke samping agar Sakura bisa masuk.

Gadis –atau kucing?- berambut pink itu masuk sambil memandang sekeliling. Seperti yang ia duga, Sasuke memberi Naruto kamar khusus. Kamar itu seluas kamar Sasuke, bedanya dinding kamar ini berwarna putih –tidak seperti dinding lain yang berwarna marun- dengan korden berwarna orange yang Sakura duga sengaja diatur oleh Sasuke sendiri.

Kamar itu sangat rapi. Tak seperti bayangan Sakura tentang kamar Naruto. Bahkan selimut di atas ranjang pun masih tertata rapi.

Suara pintu tertutup dibelakangnya membuat Sakura kembali menoleh ke arah Naruto.

"Kamarmu bagus." Puji Sakura.

"Terima kasih." Jawab Naruto sambil tersenyum.

"Oh ya, ini gaun yang akan kau pakai besok." Kata Sakura sambil berjalan mendekati Naruto yang masih diam di depan pintu dan memberikan gaunnya. Naruto hanya diam menerima gaun itu sementara Sakura menatanya agar tidak menjuntai di lantai.

"Kau akan sangat cantik memakainya besok." Kata Sakura sambil tersenyum.

"Tentu. Pasti kupakai." Kata Naruto balas tersenyum.

Suasana kemudian hening, hanya dua orang gadis yang saling tersenyum.

"Um… sepertinya aku harus pergi." Kata Sakura sambil berjalan ke arah pintu diikuti Naruto di belakangnya.

"Selamat malam, selamat tidur." Ucap Sakura sambil berjalan pergi.

"Selamat malam." Balas Naruto sebelum menutup pintu.

Sambil berjalan, Sakura kembali menoleh ke arah kamar Naruto yang sudah tertutup. Entah mengapa sejak tadi Naruto mengingatkannya pada Sai, utusan Khusus Raja Neraka yang selalu tersenyum palsu setiap saat.

'Sudahlah, mungkin cuma perasaanku.' Batin Sakura sambil kembali ke kamar Sasuke.

Sementara itu di dalam kamar…

Naruto masih mematung di depan pintu yang baru saja ia tutup. Wajah berhias tiga goresan itu tanpa ekspresi. Ia meremas gaun yang baru saja diberikan Sakura dan mendekatkannya ke wajah.

"Khu khu khu" tawa Naruto pelan.

Naruto berjalan ke arah tempat tidur sambil menyeret gaun putih itu di lantai.

"Menggelikan…"

.

.

#Story from Kingdom of Hell#

.

Chapter 17

Hell Dance Party

Part 1

.

.

.

Pagi ini cuaca di dunia neraka terasa lebih dingin. Hal ini lumayan aneh mengingat seharusnya neraka terasa panas. Mungkin ini gara-gara awan mendung yang terus menggantung di langit dunia neraka sejak kemarin. Awan itu menurup sang mentari yang seharusnya bertugas menghangatkan dunia.

Sasuke membuka jendela kamarnya perlahan. Mata merahnya menatap awan mendung itu sambil mengerutkan dahi. Cuaca yang muram untuk hari yang dinantikannya sejak kemarin. Sasuke berbalik dan berjalan menuju ranjang tidurnya. Ia mendudukkan diri sambil memandang pantulan wajahnya di cermin. Sosok yang sama memandang balik dengan wajah berpikir.

Semalam ia terbangun dan sampai kini ia tak bisa tidur. Entah mengapa ia merasa gelisah. Mungkinkah ini hanya gara-gara ia tak sabar menantikan pesta dansa nanti? Dimana ia akan mengumumkan hubungannya dengan Naruto di depan seluruh penghuni dunia neraka?

Sasuke menghela nafas dalam-dalam.

Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Memutuskan sudah waktunya untuk menemui Naruto. Ia memang tak ingin mengganggu gadis rubah itu di hari sepagi ini. Ia bisa membayangkan reaksi horror di wajah Naruto saat Sakura mengantar gaun pestanya semalam. Ia tahu pagi ini ia pasti akan mendapatkan protes keras dari kekasih rubahnya itu.

Sasuke tertawa pelan.

Ya, hari ini pasti menyenangkan. Ia hanya berharap Naruto tak membakar gaun yang sudah susah payah ia pesan itu di perapian. Hm… tidak… dia tak akan berani. Sasuke tertawa lagi. Yah, semoga saja.

Dengan pikiran bahagia itu, Sasuke memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan air bersih. Tak berapa lama ia keluar dan segera mengenakan baju khas pangerannya. Setelah sedikit menata rambut pantat ayamnya di depan cermin, Sasuke segera keluar kamar.

Dan tubuh Sasuke mematung di tengah pintu saat mendapati tak hanya 5 pengawal pribadinya yang menyambut di depan pintu. Melainkan beberapa pelayan dengan nampan tertutup . mereka semua langsung memberi salam saat melihat sang Pangeran.

Seakan di beri aba-aba, para pelayan wanita itu langsung memasuki kamar Sasuke tanpa mengetahui raut terkejut di wajah sang pangeran.

"Apa-apaan ini?" Tanya Sasuke berusaha terdengar datar.

"Maaf yang mulia pangeran." Salah seorang pelayan dengan baju khusus membungkuk di depan sasuke.

"Yang mulia harus mencoba pakaian yang akan anda kenakan nanti. Selain itu, Yang Mulia juga harus segera bersiap menyambut beberapa tamu yang akan datang lebih awal pagi ini."

"Yang Mulia Raja meminta kami untuk segera mempersiapkan yang Mulia dan segera menghadap beliau di ruang singgasana. Untuk mempersingkat waktu, kami sudah membawa sarapan anda agar bisa makan dengan tenang di dalam kamar." Jelas kepala pelayan itu sambil mengayunkan tangannya. Mempersilahkan Sang Pangeran untuk kembali masuk ke dalam kamar. Namun Sasuke tetap bergeming. Menatap sang pelayan dengan pandangan kalau-aku-tak-mau-kau-mau-apa.

Kepala pelayan itu setikit tersenyum melihat tingkah Sang pangeran.

"Yang Mulia Raja berpesan bahwa 'rubah' Yang Mulia Pangeran akan 'disita' kalau pangeran menolak." Kata kepala pelayan itu sambil tersenyum.

Sasuke mengerjapkan matanya sejenak. Sebelum kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah bersungut-sungut.

'Apa maksudnya disita? Dasar baka aniki brengsek." Gerutu sasuke sepanjang pagi itu.

.

.

.

Sasuke duduk di ruang singgasana tepat di samping kanan Itachi saat beberapa bangsawan bersama dengan putri mereka memberi hormat pada Sang Raja dan Pangeran. Sasuke tidak tersenyum. Dia juga tidak bicara. Buat apa beramah tamah dengan para penjilat seperti mereka? Toh Sasuke sudah di kenal sebagai pangeran yang dingin dan angkuh. Lagipula ia sudah ingin muntah melihat para putri itu meliriknya dengan senyum memuakkan.

Sasuke memalingkan muka dan menghela nafas sangat pelan.

Matahari sudah mulai tinggi dan ia sama sekali belum bertemu dengan Naruto sejak kemarin. Ia benar-benar merasa frustasi. Tak bertemu Naruto dalam beberapa jam saja sudah membuat dadanya sesak dan pikirannya selalu gelisah. Lain kali ia ingin mengikat tangannya dan tangan Naruto agar kemanapun mereka bisa selalu bersama.

'Hm… Benar-benar ide yang bagus' batin Sasuke sambil sedikit menyeringai. Membuat putri bangsawan yang berada tak jauh di depannya merona dan tersenyum di buat-buat. Menjijikkan.

Saat matahari sudah ada tepat di atas langit, Sasuke langsung saja ngeloyor pergi dari singgasana meskipun saat itu ada beberapa bangsawan yang menghadap. Ia sudah tak tahan lagi untuk bertemu Naruto. Ia keluar dari ruang singgasana tanpa berkata apapun. Bahkan melirik para bangsawan pun tidak.

Itachi hanya terdiam melihat tingkah kekanakan sang adik. Tapi dia diam saja. Kembali menatap bangsawan yang lagi-lagi mengelu-elukan dirinya.

.

.

.

Tanpa mengetuk pintu, Sasuke langsung memasuki kamar Naruto yang tidak dikunci. Ia agak panik saat mendapati kamar itu kosong. Namun Sasuke langsung menghela nafas lega saat mendengar suara air mengalir dari arah kamar mandi. Sepertinya gadis rubah bermata biru itu tengah mandi.

"Dobe! Lain kali kunci kamarmu saat kau sedang mandi atau tidur!" omel Sasuke sambil mendudukkan dirinya di ranjang ukuran kingsize berwarna orange di tengah kamar.

"Dasar! Bagaimana kalau ada yang memasuki kamarmu tanpa izin?" omel sasuke lagi. Sama sekali tak sadar ia baru saja melakukan hal tersebut.

Sambil menunggu Naruto selesai mandi, Sasuke memandang sekeliling. Entah hanya perasaannya saja atau kamar Naruto memang terasa aneh kali ini. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela yang tertutup dan membukanya. Menampakkan langit dunia neraka yang masih tersaput awan mendung. Sasuke kembali berbalik dan pandangannya tertuju pada sebuah benda berkilau di bawah tempat tidur. Sebuah gantungan kecil berbentuk bola kristal dengan sebuah awan berwarna biru di dalamnya.

Sambil tersenyum, Sasuke memungut gantungan itu dan memandanginya. Diambilnya juga gantungan yang serupa dari balik jubahnya. Gantungan yang sama persis hanya saja lebih besar dari gantungan milik Naruto.

Kenangan sewaktu ia berada di dunia manusia terngiang kembali di ingatan Sasuke. Dimana ia menyamar sebagai Asuka dan berteman dengan Naruto yang ternyata adalah prajurit neraka yang di utus untuk menangkapnya. Mengingat hari-harinya bersama Naruto sebagai manusia. Bagaimana mereka dulu sering menghabiskan waktu di di atap sekolah atau di danau hijau rahasia. Sasuke kembali tersenyum. Lain kali ia akan meminta izin pada Itachi agar ia bisa pergi ke dunia manusia bersama Naruto untuk beberapa lama.

Tok tok tok

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Sasuke. Ia segera berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu. Mendapati Sai, sang utusan khusus tengah berdiri dengan senyum palsunya di depan pintu.

"Selamat Siang, yang mulia pangeran." Sapa Sai.

Sasuke hanya diam.

"Maaf mengganggu Yang Mulia. Saya hanya memberitahu bahwa seluruh dokumen yang tertunda selama beberapa hari yang lalu harus segera selesai sebelum pesta dansa nanti malam." Kata Sai sambil tersenyum.

"Kenapa harus begitu?" Tanya Sasuke sambil mengerutkan alisnya.

"Seluruh dokumen itu seharusnya selesai kemarin, Yang mulia." Jawab Sai.

Sasuke hanya diam. Sama sekali tak beranjak dari tempatnya sambil menatap sebal utusan khusus di depannya. Keduanya diam selama beberapa saat.

"Kalau yang mulia ingin mengelak dari tanggung jawab silahkan saja." Kata Sai akhirnya.

"Saya bisa mengatakan hal itu pada yang Mulia Raja agar beliau bisa 'menyita' rubah anda." Lanjut Sai sambil tetap tersenyum.

Sasuke hanya bisa memandang utusan khusus itu dengan tatapan membunuh yang entah mempan atau tidak pada Sai yang selalu tersenyum itu. Dalam hati ia mengutuki sang baka aniki yang selalu mengucapkan ancaman yang sama tiap ia 'sedikit' berulah. Lama-lama seperti ini ia bisa benar-benar jadi adik penurut.

Setelah selama beberapa saat saling tatap dalam keheningan, akhirnya Sasuke kembali masuk kamar dan berhenti di depan pintu kamar mandi.

"Dobe, Nanti sore aku akan menjemputmu." Kata Sasuke sebelum keluar dari kamar naruto. Sambil menabrak bahu Sai yang masih berdiri di depan pintu dengan senyum sialan di bibirnya.

Ia sama sekali tak menyadari kamar mandi di dalam kamar itu kosong sejak tadi. Hanya kran air yang terus menyala mengisi kesunyian kamar yang kosong.

.

.

.

Tanpa terasa, matahari yang bersinar redup hari itu dengan cepat bertengger di ufuk barat. Setelah bekerja kilat mengerjakan dokumen di atas mejanya yang menggunung. Sasuke buru-buru keluar dari ruang kerjanya dan segera menuju kamar Naruto.

Namun baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Ia sudah disambut puluhan pelayan plus beberapa prajurit neraka di depan pintu.

Merasa adanya firasat buruk, Sasuke kembali menutup pintu ruang kerjanya bahkan sebelum kumpulan pelayan dan prajurit neraka itu sempat memberi salam.

Blam!

Dengan segera ia membuka jendela dan melompat pergi tanpa menghiraukan teriakan beberapa pelayan dari ruang kerja yang kini di dobrak paksa.

Sambil berusaha tetap terlihat biasa. Sasuke berjalan setengah berlari menuju kamar Naruto yang terletak di sisi utara istana.

Senja kini sudah menyelimuti dunia neraka. Menciptakan semburat orange pada langit mendung yang masih saja menghiasi langit. Istana neraka kini sudah mulai ramai. Lampu-lampu lilin di sepanjang koridor mulai menyala, diikuti banyaknya para putri dan bangsawan yang berjalan menuju aula istana yang akan menjadi tempat berlangsungnya pesta dansa.

Tanpa banyak memakan waktu, Sasuke kini sudah berdiri di depan pintu kamar Naruto. Namun langkah sang pangeran itu terhenti saat menyadari pintu kamar itu sedikit terbuka. Entah mengapa firasat buruk menyergap Sasuke. Dengan segera ia berlari masuk hingga pintu itu menjeplak terbuka hingga membentur dinding dengan keras.

"Naruto!" panggil Sasuke saat menyadari kamar itu kosong seperti tadi siang. Ia berusaha membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci. Namun ia hanya mendapati kamar mandi itu kosong dengan kran air yang terus menyala hingga membuat lantai dibawahnya tergenang air.

"Sial!" umpat Sasuke saat menyadari ada yang tidak beres. Ia segera berlari keluar dengan panic. Saking paniknya ia tak menyadari ada sosok yang tengah berjalan di depan kamar Naruto.

Brukk

"hei… hati-hati kalau jalan." Teriak Sakura sambil menatap kesal sosok yang telah menubruknya.

"Eh Sasuke? Ada apa?" Tanya Sakura saat melihat wajah panic Sasuke.

"Aku tak menemukan Naruto dikamarnya, apa kau melihatnya, Sakura?" Tanya Sasuke saat menyadari sosok itu adalah Sakura.

"Naruto? Oh… dia sudah menuju aula." Kata Sakura sambil tersenyum. Memandang wajah Sasuke yang tertegun.

"Aku sempat bicara dengannya sebentar." Sakura berkata sambil mengedipkan sebelah mata." Dan ia benar-benar cantik."

Sasuke mengerjapkan matanya seperti orang bodoh.

"Sebaiknya kau segera ke aula kalau tak ingin rubahmu itu di curi orang lain." Kata Sakura sambil menyeringai jahil. Menyadarkan Sasuke dari ketertegunannya.

"Aku akan kesana sekarang." Kata Sasuke serius sebelum lengannya di cekal sakura.

"Kau tak akan kesana dengan pakaian dan wajah seperti ini kan?" Tanya Sakura sambil menaikkan sebelah alis.

"Kenapa?" Tanya Sasuke balik.

"Um… tidak apa. Kau kesana seperti inipun tetap akan membuat seluruh putri di aula mimisan." Jawab Sakura sambil tersenyum."tapi akan lebih baik kalau kau mandi dan ganti baju."

Tepat setelah Sakura berkata seperti itu, Sasuke sudah dikelilingi oleh para pelayan dan Prajurit neraka.

"Yang Mulia Pangeran, mari bersiap untuk pesta dansa."

.

.

.

Aula istana sore itu mulai terlihat ramai oleh para putri dan bangsawan dunia neraka. Bangunan yang juga berwarna marun itu berdiri di samping taman istana bagian luar. Masih ada tembok lain yang memisahkannya dengan istana bagian dalam. Mencegah siapapun yang tak berkepentingan memasuki bangunan paling penting di dunia neraka itu.

Aula tersebut sangat luas dan besar, hampir 3 kali luas ruang singgasana, dengan atap tinggi seperti kerucut dan jendela kecil panjang di dinding atasnya. Ruangan itu tampak gemerlap dengan banyaknya cahaya lilin dan lampu hias besar di tengah atap yang seperti katedral. Berbagai macam makanan tersedia di sederet meja di tepi ruangan. Di salah satu sudut bahkan terdapat air mancur kecil yang berisi rum merah. Dengan gelas berderet tinggi seperti gunung di sampingnya.

Meskipun acara masih akan dimulai nanti malam. Tapi banyak putri yang sengaja datang lebih awal –ralat: sangat awal- hanya untuk melihat keluarga kerajaan atau istana neraka yang terlihat indah di senja itu.

Atau mulai melihat-menandai- siapa saja bangsawan yang bisa mereka incar jika pangeran tidak memilihnya. Memang, selain para putri, pesta dansa itu juga di hadiri para putra bangsawan, ksatria dan hampr semua orang penting di dunia neraka. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas –kapan lagi raja neraka akan mengadakan pesta dansa?- para putri itu berdandan secantik mungkin, mengenakan gaun mereka yang paling indah, dan perhiasan mereka yang paling berkilau.

Suasana aula berdinding warna marun itu hanya diisi oleh gumaman kecil dan bisikan sopan dari para undangan yang datang. Beberapa dari mereka berbincang sambil menyantap hidangan yang sudah disediakan atau hanya duduk memandang keindahan istana neraka yang bisa dilihat dari jendela kecil dalam bangunan seperti katedral itu.

Semuanya langsung hening saat tiba-tiba pintu khusus yang menghubungkan aula itu dengan istana neraka terbuka. Menampakkan sosok Itachi dan Sasuke yang berjalan masuk diikuti para pengawal di belakangnya. Kedatangan duo Uchiha berpangkat Raja dan Pangeran itu sontak membuat para putri berteriak histeris. Beberapa bahkan ada yang pingsan saat melihat dua makhluk neraka paling tampan dan berkuasa di dunia neraka itu.

Kali ini Sasuke terlihat amat sangat tampan dengan sebuah baju berwarna hitam kelam. Beberapa sulaman berwarna emas menghiasi bagian bahu, ujung lengan dan kerah berdiri yang membuat sosoknya terlihat dewasa dan menyilaukan. Sementara Itachi mengenakan baju dengan warna senada. Dengan model yang hampir sama, namun ia terlihat lebih dewasa dan berwibawa dengan sebuah jubah berwarna biru violet yang menyampir anggun di bahunya. Sepeti biasa, sebuah symbol uchiha tersulam di punggung mereka yang lebar. Duo Uchiha yang masih single itu langsung menjadi sasaran utama para putri yang menatap mereka dengan mata berbinar-binar.

Tanpa memedulikan sekeliling, Sasuke langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari seorang gadis rubah berambut pirang diantara lautan putri yang hadir di pesta dansa itu. Namun ia tak menemukan sosok itu dimanapun.

Tak seperti dugaan Sasuke, rombongan Raja dan Pangeran neraka itu tidak menuju singgasana yang berdiri tinggi di ujung aula, mereka justru menuju salah satu kerumunan bangsawan. Sasuke hanya bisa melirik sang kakak yang memasang wajah datar.

Rombongan itu berhenti di depan kumpulan para bangsawan dan ksatria yang tengah berbincang dengan salah satu keluarga klan terpandang di dunia neraka. Mereka semua langsung menunduk dengan hormat saat melihat kedatangan Itachi.

"Bolehkah aku membawa Hinata, hyuuga-san?" Tanya Itachi dengan nada datar. Namun bisa membuat para ksatria dan bangsawan yang sebelumnya berusaha mendekati sang putri hyuuga itu memucat.

"Tentu saja, yang Mulia." Jawab Hiashi Hyuuga sambil membungkuk hormat.

Tanpa memandang sekeliling, Itachi langsung menggandeng tangan Hinata dan membawanya berjalan menuju kursi singgasana. Sementara putri Hyuuga itu hanya tersenyum dan memandang sang Raja neraka dengan raut bahagia di wajah cantiknya.

Sasuke yang melihat adegan penyelamatan itu –terlihat seperti adegan penyelamatan Hinata bagi Sasuke- hanya mengerjapkan matanya dengan wajah tidak percaya. Memandang Sang kakak dengan mantan tunangannya bergantian.

"Sebenarnya Yang mulia pangeran." Ucap Neji di samping Sasuke.

"Yang Mulia Raja memilih Nona Hinata sebagai tunangan yang mulia pangeran karena menganggap Nona Hinata adalah wanita paling sempurna yang pernah ia temui." Kata Neji sambil tersenyum.

"Dan beliau selalu memberikan yang terbaik untuk Yang Mulia Pangeran." lanjut Neji lagi.

Penjelasan itu membuat Sasuke terdiam sebelum kemudian tersenyum kecil memandang sang kakak. Dasar, baka anikinya itu memang selalu mendahulukan kepentingan Sasuke dari pada kepentingan dirinya sendiri.

"Dasar Baka Aniki." Decak Sasuke sambil berjalan di sisi dua sosok pasangan yang langsung menarik perhatian seluruh tamu yang datang. Bukankah secara tidak langsung mereka sudah meresmikan hubungan? Tanya Sasuke dalam hati. Memandang Sang raja neraka yang menggandeng tangan Hinata yang notabene adalah pewaris Hyuuga.

"Kau tahu, Hinata." Kata Sasuke sambil melirik hinata yang ada di sampingnya.

"Kau bisa bilang padaku kalau baka aniki ini melakukan hal seenaknya lagi seperti menjodohkan wanita yang dicintainya dengan adik laki-lakinya sendiri." Kata Sasuke sambil menunjuk Itachi dengan jempolnya.

"Jadi aku bisa menggantikanmu untuk menghajarnya." Kata Sasuke sambil menatap tajam sang Kakak yang memasang wajah tanpa dosa. Hinata hanya balas tersenyum.

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Aku percaya dengan semua yang diputuskan oleh Yang Mulia." Jawab Hinata.

"Tau tak perlu memanggilanya seformal itu, Hinata. Mulai sekarang kau bisa memanggilnya Itachi-koi*" kata Sasuke sambil menyeringai jahil. Membuat wajah Hinata merona merah seperti kepiting rebus.

"Diamlah, Sasuke." Kata Itachi sambil menarik Hinata agar berpindah di sisi kirinya. Menjauhi sasuke.

"Kenapa? Akukan hanya beramah tamah dengan mantan tunanganku. Atau sekarang lebih tepat kalau kusebut calon kakak ipar?" kata Sasuke dengan wajah polos. Membuat wajah Hinata semakin merah seakan bisa pingsan kapan saja.

Tanpa bicara lagi, itachi langsung menarik Hinata menuju singgasana. Menjauhi sang adik yang sedang jahil mode: on.

"Daripada mengurusi kami, bukankah lebih baik kau mencari putri rubahmu?" Tanya Itachi sambil melirik ke belakang.

"Kalau terlambat, mungkin dia sudah dicuri orang." Kata Itachi sambil tersenyum puas saat melihat wajah Sasuke yang terlihat terkejut.

"Dasar, Baka Otouto." Kata Itachi lagi sebelum pergi. Meninggalkan Sasuke yang masih tertegun di tengah aula.

Tepat saat itu alunan musik mulai terdengar. Menandakan pesta dansa telah dimulai. Dalam sekejap, Sasuke sudah terjebak di tengah-tengah lautan putri yang mengajaknya berdansa.

Tanpa sepatah katapun, Sasuke langsung mengeluarkan aura dingin dan tatapan tajam yang langsung membuat para putri itu bungkam. Dengan wajah pucat mereka membuka jalan untuk Sang pangeran menuju Singgasana.

Dengan aura dingin yang sama, Sasuke mendudukkan dirinya di kursi samping kanan Itachi. Menatap sebal sang kakak yang hanya menatap ke depan dengan datar seolah bukan karena dia Sasuke terjebak di tengah pesta dansa dengan para putri hipersensual.

"Tenang saja, Sasuke-kun. Uzumaki-san pasti akan segera datang." Kata Hinata berusaha menenangkan. Baru saja hinata selesai bicara seperti itu, sesosok putri bergaun putih bersih berjalan memasuki aula.

Dan dalam sekejap, aula itu mendadak sunyi. Hamier semua orang menghentikan kegiatannya dan memandang putri yang baru saja datang dengan wajah bertanya-tanya. Putri itu mengenakan gaun yang sangat indah sepanjang tungkai. Dengan hiasan pita di beberapa bagian. Terlihat sengat mencolok karena warnanya yang putih bersih. Tak seperti kebanyakan makhluk neraka yang lebih menyukai warna-warna gelap. Rambut yang berwarna pirang cerah itu digerai kebelakang punggung dengan beberapa ikatan manis di bagian depan.

Dengan sebuah topeng melingkar seperti lollipop berwarna orange yang menutupi wajahnya.

Putri bertopeng itu hanya berdiri di depan pintu aula. Entah merasa ragu atau malu pada semua tatapan yang tertuju padanya.

"Dasar idiot." Gumam Sasuke sambil bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke arah sang Putri tak dikenal itu dengan wajah datar. Menembus lautan bangsawan yang masih saja membeku.

Sesampainya di depan sang putri 'putih' Sasuke segera mengulurkan tangannya. Mengajak berdansa meskipun terlihat sangat angkuh karena ia sama sekali tak menunduk seperti kebanyakan pria yang mengajak berdansa.

Suasana benar-benar hening.

Putri bertopeng itu hanya diam. Kepalanya sedikit menunduk menatap uluran tangan Sasuke kemudian beralih menatap wajahnya.

"Kau sengaja ingin mempermalukanku ya, Naruto?" Tanya Sasuke dengan kedutan tiga garis siku-siku di dahinya. Apa jadinya kalau ajakan dansa sang pangeran neraka yang terlihat angkuh, dingin dan sombong itu ditolak oleh sang gadis? Ia pasti akan jadi bahan tertawaan.

Naruto masih diam. Hingga tak lama kemudian ia menerima uluran tangan Sasuke.

Sebuah senyuman kecil langsung tersungging di bibir sang pangeran saat perlahan keduanya berjalan menuju lantai dansa. Hal itu sudah cukup untuk membuat aula yang sebelumnya sunyi jadi penuh dengan bisikan.

"Kyaaa… pangeran tersenyum."

"Memangnya pangeran dingin itu bisa tersenyum?"

"Dia tersenyum pada gadis itu."

"Apa mereka saling kenal?"

"Kenapa putri itu memakai topeng?"

"Wajahnya pasti jelek."

Sambil mengeratkan genggamannya, Sasuke terus berjalan sambil menata plurus ke depan. Sama sekali tak menghiraukan semua bisikan yang bahkan bisa ia dengar dengan jelas itu. Semuanya tak penting. Yang terpenting adalah sosok gadis yang tengah berjalan di sampingnya kini. Yang mungkin tengah mengumpat kesal di dalam hatinya. Sasuke tersenyum lagi.

Keduanya sampai di tengah lantai dansa tepat saat musik kembali mengalun pelan. Sambil tetap tersenyum, Sasuke meraih pinggang Naruto dan mulai bergerak pelan seirama alunan lagu.

Semua yang hadir di ruangan itu terdiam. Hanya menatap Sang Pangeran dan Putri bertopeng yang tengah berdansa dengan anggun. Perlahan pasangan yang lain menyingkir dari pesta dansa, membuat lantai dansa itu kosong seakan hanya menjadi milik Sang pangeran dan pasangannya.

Pasangan itu benar-benar serasi. Keduanya bergerak dengan sangat indah. Berputar, dan menari seakan mereka adalah satu kesatuan. Mereka berdua terlihat berkilau. Apalagi gaun putih bersih milik sang putri itu terlihat amat sangat kontras dengan baju sang pangeran yang hitam kelam. Hal itu justru membuat keduanya lebih bersinar. Seperti siang dan malam. Sangat berbeda namun saling melengkapi.

Sementara seluruh perhatian tengah tertuju pada Sang pangeran dan putri bertopeng di tengah lantai dansa, tak ada yang menyadari saat beberapa ular berwarna putih melata dari semak-semak dan memasuki istana tempat berlangsungnya pesta dansa. Sepasang mata berwarna emas terlihat di salah satu sudut gelap, diikuti sebuah seringaian mengerikan.

"Waktunya bersenang-senang."

.

.

.

Sepasang mata berwarna merah darah itu terus memperhatikan sepasang warna hitam putih yang tengah menari di lantai dansa. Ekspresi datar sang raja neraka itu beralih menatap sekeliling aula yang di penuhi oleh para bangsawan dan putri. Semuanya terlihat gembira –minus para fans Sasuke- dan menikmati pesta dansa. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati sang raja. Ada yang tak beres. Itachi hanya mengerutkan sedikit alisnya.

"Yang Mulia Raja." Dari belakang Neji memanggil dengan nada yang sedikit mendesak. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu pada Itachi.

"Ada penyusup." Bisik Neji pelan. Itachi masih memandang ke depan dengan wajah datar.

"Kami sudah mengepungnya, tapi dia terlihat sedikit aneh, Yang Mulia." Lanjut Neji dengan alis berkerut.

Itachi kembali memandang Sasuke yang tengah berdansa dengan Naruto.

"Ciri-cirinya seperti sosok yang telah memberi segel kutukan pada Naruto." Kata Neji lagi. Membuat Itachi melirik sang asisten dengan cepat.

"Dimana?" Tanya Itachi sambil berdiri.

"Anda tak perlu turun tangan, Yang Mulia. Sebentar lagi kami pasti berhasil meringkusnya." Jawab Neji dengan cepat.

Tanpa menghiraukan kata-kata Neji, itachi berjalan pergi meninggalkan aula pesta.

"Jaga Hinata untukku, Neji." Perintah Itachi tanpa berbalik. Jika penyusup itu benar-benar Orochimaru, maka dia sendiri yang harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Kemunculannya di waktu pesta dansa ini pasti ada hubungannya dengan Naruto dan Sasuke.

Dalam koridor istana neraka yang remang-remang, sepasang mata merah milik sang raja menajam dengan tiga koma berputar di dalamnya.

Ia harus membunuhnya.

.

.

.

"Aku tadi mencarimu." Kata Sasuke saat Ia tengah berdansa dengan Naruto. Sang gadis hanya diam sambil menari.

"Kau tadi kemana?" Tanya Sasuke sambil memutar tubuh Naruto dan menangkap pinggangnya. Sebelum kemudian kembali menari.

Sang gadis tetap diam. Membuat tiga garis siku-siku berkedut di dahi Sasuke.

"Aku bicara denganmu, Dobe." Geram Sasuke kesal sambil menatap sosok bertopeng orange itu.

"Dan apa-apaan topengmu ini?" kata Sasuke kesal karena terus didiamkan oleh pasangan dansanya. Lagipula, tak bisa melihat wajah Naruto ini membuatnya sedikit gelisah. Ia tahu Naruto tengah ngambek. Tapi ia tak perlu mendiamkannya seperti orang bodoh kan?

"Lepas." Perintah Sasuke sambil bergerak untuk melepas topeng yang di kenakan Naruto. Namun niatnya itu terhenti oleh sebuah tangan berwarna kecoklatan yang menahan tangannya. Sasuke menunduk menatap gadis itu kesal.

Namun amarah Sasuke langsung menghilang saat Naruto menggenggam tangannya erat lalu menaruh kepalanya di dada Sasuke. Membuat beberapa putri yang melihat berteriak histeris.

Sasuke hanya mengerjapkan matanya melihat kelakuan kekasih rubahnya itu. Sejak kapan Naruto jadi manja begini? Kalau Cuma berduaan di kamar sih Naruto pernah melakukannya –walau saat itu dia sedang setengah sadar-. Tapi kalau di hadapan orang banyak seperti ini biasanya Naruto selalu menjaga jarak.

Walaupun merasa aneh. Sasuke akhirnya tersenyum. Ia memeluk pinggang Naruto semkin erat dan mendekatkan kepalanya untuk mencium rambut Naruto yang tertata dengan cantik.

"…ri…" terdengar suara bisikan pelan.

"hn?" Tanya Sasuke sambil menghirup aroma rambut Naruto.

"L-lari." Bisik Naruto amat lirih.

"Apa?" Tanya Sasuke sambil menunduk. berusaha mendengar lebih jelas.

Dan mata merahnya melebar saat merasakan sebuah logam yang dingin menembus perutnya.

.

.

.

"Khu..khu..khu… lama tak jumpa, Itachi."

Sosok bertudung dengan kacamata bulat itu menyeringai. Memandang kedatangan raja neraka di taman belakang yang hanya diterangi cahaya rembulan. Sosok bermata ular itu berdiri angkuh di tengah taman yang penuh tubuh para prajurit neraka yang tergeletak tak berdaya.

"Orochimaru." Kata Itachi datar. Sang raja neraka itu berjalan pelan mendekati sosok kabuto yang sudah banyak berubah. Seekor ular besar berwarna putih terlihat menjulur dari belakang jubahnya. Menjijikkan.

"Khu… lihat dirimu sekarang." Kata Orochimaru sambil tersenyum."Yang Mulia Raja Neraka yang hebat!" lanjut sang ular sambil menatap itachi yang kini berdiri diam tak jauh darinya. Raja muda itu balas menatap dengan sharingan yang telah aktif.

"Kau sekarang bersyukurkan? Telah membunuh kedua orang tuamu." Kata Orochimaru sambil kembali tertawa.

"Itu semua ulahmu." Kata Itachi yang walau terdengar datar namun dengan jelas menyimpan amarah.

"Huh… bukan seperti itu rencana awalku." Kata Orochimaru sambil berjalan menyamping. "kau mengacaukan semua rencanaku." Katanya lagi tanpa senyum.

Itachi hanya diam. Menatap setiap gerakan sosok setengah ular yang ada di hadapannya.

"Seharusnya waktu itu kau mati. Kau bahkan tak melawan saat ibu yang kau cintai itu menusukmu." Kata Orochimaru kembali tertawa. "Ah… kenangan yang menyenangkan."

"Apa tujuanmu?" Tanya itachi dingin. Angin malam berhembus menerpa dua sosok yang berdiri di tengah taman.

"Tujuanku?" Tanya Orochimaru balik. Ia menaruh tangannya di dagu dengan pose berpikir.

"Aku hanya ingin kau mati. Pewaris tahta mati. Dan dua mainan raja dan ratu neraka dalam genggamanku. Semuanya begitu sempurna." Kata Orochimaru lagi. "tapi sepertinya kau memang lebih menyayangi adikmu. Kau bahkan tanpa ragu membunuh kedua orang tuamu. Walau tahu mereka tengah dikendalikan."

"Berani kau menyentuh Sasuke-"

Kyaaaaa…

Kata-kata Itachi di sela oleh suara teriakan yang terdengar dari arah aula pesta. Membuat sang raja neraka menoleh dengan wajah kaget.

"Khu..khu…khu… kau terlambat." Kata Orochimarau sambil terkekeh. Perlahan tubuhnya yang berbalut jubah hitam itu seakan mencair dengan tanah sebelum menghilang sama sekali.

Tanpa membuang waktu, Itachi kembali melesat menuju aula dansa sambil mengumpat pelan. Mengutuki kebodohannya yang masuk ke dalam jebakan dengan mudah. Ia sengaja di pancing kesini untuk meninggalkan Sasuke dan yang lainnya,

.

.

.

"Kyaaaa…"

Aula pesta itu tiba-tiba menjadi ricuh saat melihat sang pangeran terhuyung ke belakang dengan darah yang mengalir dari perutnya. Diikuti dengan banyaknya ular berwarna putih yang langsung menyerang para penjaga dan bangsawan yang ada di sana. Mereka semua segera berlari keluar untuk menyelamatkan diri.

"Naruto?" Tanya Sasuke sambil terduduk memegangi perutnya yang berdarah. Untung saja ia bergerak refleks untuk menghindar, sehingga serangan itu tak mengenai organ vitalnya. Tapi tetap saja jika luka menganga itu di biarkan. Ia bisa mati kehabisan darah.

Pangeran Neraka itu mendongak. Menatap sosok putri bertopeng yang berdiri di hadapannya dengan sebuah kunai penuh darah dalam genggamannya.

"Apa yang terjadi, Naruto?" Tanya Sasuke sambil mengernyit. Apa gadis itu hilang kontrol lagi?

Tanpa menjawab pertanyaan Sasuke, Naruto kembali mengarahkan kunainya kea rah Sasuke yang masih terduduk.

Trang…

Kunai itu membentur sebuah shuriken dan sosok gadis bertopeng itu melompat mundur untuk menghindari bayangan hitam di lantai yang bergerak gesit untuk menangkapnya.

"Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Tanya Gaara sambil membantu sang pangeran berdiri.

"Apa dia benar-benar Naruto?" Tanya Shikamaru yang tiba-tiba sudah berdiri di samping gaara. Menatap sosok putri rubah yang dengan gesit melompat menghindar. Dengan gaun putih melambai yang dikenakannya, sosok putri bertopeng itu terlihat seperti bidadari.

"Ya, jangan melukainya." Kata Sasuke. Aroma dan tubuh itu memang Naruto. Dan suara itu…

Naruto akhirnya berhenti di ujung aula. Berdiri vertical di dinding setelah bayangan Shikamaru tak dapat menjangkaunya. Sosok itu berjongkok seakan berpikir. Bagaimana cara melewati para pengawal pribadi itu dan membunuh Sasuke.

Melihat Naruto seperti itu membuat dada Sasuke berdenyut sakit. Gadis yang dicintainya itu tengah menyusun rencana untuk membunuhnya…

Gaara dan Shikamaru melangkah ke depan. Melindungi sang pangeran dari serangan yang akan datang. Tiba-tiba aula yang hampir kosong itu di penuhi oleh para monster neraka yang muncul dari dalam tanah. Para monster itu mendesis dengan air liur yang menetes dari mulutnya yang penuh taring. Membentuk sepasukan kecil di depan naruto.

Tanpa aba-aba, puluhan monster itu menyerang.

Dengan cepat, Gaara menyebarkan pasirnya untuk melindungi mereka dari serangan para monster. Sementara itu, bayangan shikamaru dengan cepat menangkap beberapa monster neraka sekaligus, melilit mereka dan menghancurkannya dalam sekali serangan.

"Yang Mulia Pangeran, sebaiknya anda tetap di belakang saya." Ujar Gaara sambil ikut menggerakkan pasirnya menyerang, sekaligus melindungi mereka dari benda mirip shuriken yang di lemparkan para monster neraka itu.

"Luka anda itu-" kata-kata Gaara terhenti saat ia menoleh ke belakang dan mendapati sang pangeran sudah menghilang.

"Huh… merepotkan." Gumam Shikamaru. Diikuti helan nafas pelan dari gaara yang melihat sang pangeran melompat menuju sosok Naruto. Meninggalkan mereka berdua dengan puluhan monster neraka yang bersiap menyerang mereka dengan membabi buta.

"Hah… kadang aku benar-benar ingin berhenti dari pekerjaan merepotkan ini." Kata Shikamaru sambil berjalan mendekat ke samping Gaara.

"Kenapa tidak kau lakukan?" Tanya Gaara sambil melirik rusa pemalas disampingnya.

"Akan lebih merepotkan mendengar omelan temari sepanjang hari." Jawab Shikamaru sambil kembali menautkan jarinya. Dalam sekejap tercipta bayangan hitam yang seakan meledak dari belakangnya. Bayangan itu langsung menerjang monster neraka tanpa ampun. Tak mau kalah, pasir gaara pun ikut berdansa di antara bayangan hitam. Menghancurkan monster neraka yang jumlahnya terus bertambah.

Jauh di depan Gaara dan Shikamaru. Sasuke berlari menuju sosok Naruto yang masih tak bergeming di ujung aula. Sesekali ia menebas beberapa monster neraka yang berani menghalangi jalannya. Saat jarak Naruto tak jauh lagi, Sasuke melompat tinggi dan mendarat beberapa meter di depan Naruto yang masih berjongkok vertical di dinding. Wajah bertopeng orange itu menatap kedatangan Sasuke dalam diam.

"Naruto." Panggil Sasuke sambil berjalan mendekat. Sosok bergaun putih itu tetap diam membeku.

Trang!

Dalam sekejap Sasuke sudah menangkis kunai yang diarahkan Naruto dari belakang punggungnya.

"Apa yang terjadi, Naruto?" Tanya Sauke sambil menoleh ke belakang. Menatap wajah bertopeng orange yang berjarak hanya beberapa jengkal darinya. Dengan gerakan cepat, Sasuke mencekal tangan Naruto dan memutarnya ke belakang punggung sehingga gadis itu tak bisa bergerak.

"Jawab aku, Dobe!" pinta Sasuke putus asa saat gadis pirang itu tak juga bicara.

Naruto menoleh memandang Sasuke. Ia memutar tubuhnya dan balas memutar lengan Sasuke. Tanpa bicara apapun ia mengarahkan kunai yang di pegangnya ke leher sang pangeran. Refleks, Sasuke menyikut perut Naruto dan menunduk untuk menghindari serangan. Ia mendorong tubuh Naruto dan melompat mundur kebelakang dengan wajah yang menunduk.

"Baik. Sepertinya kau memang tak bisa bicara." Kata Sasuke sambil menunduk.

"Berarti aku hanya harus mengalahkanmu dan membuatmu tak bisa bergerak lagi." Kata Sasuke. Ia mengangkat wajahnya dan menatap tajam Naruto dengan tiga koma berputar di mata merahnya. Dengan cepat ia membentuk rangkaian segel dengan kedua tangannya.

"Katon: Gokakyuu no jutsu!"

Sebuah bola api yang besar muncul dan mengarah ke arah Naruto. Dengan gesit gadis itu melmpat tinggi menghindari api.

"Ini tak akan berlangsung lama." Bisik Sasuke dari balik punggung Naruto. Membuat gadis bertopeng itu menoleh ke belakang.

Saat Naruto berbalik. Sasuke memukul perutnya hingga gadis itu terjatuh ke bawah dengan cepat. Namun sebelum membentur lantai, Sasuke sudah ada di bawah. Naruto segera menyilangkan tangannya di depan tubuh, bersiap menahan serangan yang akan dilayangkan lagi oleh sasuke.

Namun bukannya mendaratkan pukulan, Sasuke justru menangkap tubuh sang gadis dalam pelukannya. Ia memegang dua tangan Naruto dan mendekatkan wajahnya.

"Sadarlah…" bisik Sasuke di telinga sang gadis. Dari lubang topeng yang hanya satu itu, Sasuke bisa melihat kilatan mata Naruto yang menatapnya. Sebelum merasakan sesuatu yang keras menendang perutnya.

"ukh." Sasuke terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang semakin banyak mengeluarkan darah.

"huh… seperti biasa kau memang keras kepala." Ucap Sasuke sambil berdiri tegak, menatap naruto yang berdiri dengan tenang tak jauh darinya.

Keduanya hening selama beberapa saat, saling tatap dalam diam. Sebelum keduanya menghilang dan bertemu dengan kunai dan chokuto yang bertubruk diantara mereka.

Dan pertempuran sepasang kekasih itu kembali dimulai.

.

.

.

Teriakan yang terdengar lagi dari arah aula itu membuat Itachi semakin mempercepat larinya. Saking tergesanya, Ia tak melihat sebuah tombak yang meluncur cepat ke arahnya. Di detik terakhir, ia sadar dan memundurkan sedikit kepalanya, membuat tombak berwarna putih itu melewatinya dengan jarak setipis kertas.

Brak…

Tombak putih itu menancap di tembok samping Itachi. Memblokir jalan sang raja untuk melanjutkan perjalanannya.

Itachi melirik ke samping dan mendapati 5 makhluk neraka berjalan keluar dari kegelapan.

"Wah… Yang Mulia Raja sedang tergesa-gesa rupanya."

"hm… raja Neraka memang tampan ya?"

"diam Tayuya, kau menjijikkan."

"Apa kau bilang?"

"Diam, atau kubunuh kalian." Salah satu dari mereka berkata dengan dingin. Menghentikan pertengkaran konyol yang mereka lakukan.

"huh… kau membosankan. Kimimaro." Kata satu-satunya gadis yang ada di kelompok itu.

Itachi menatap mereka datar.

"Ayo bersenang-senang." Kata salah satu dari mereka sambil tersenyum. Diikuti tanda segel yang menjalar di sekujur tubuh mereka.

.

.

.

Sekelebat warna hitam putih itu terus menerjang tanpa henti. Diikuti suara benturan dua logam yang terus menggema di dalam aula itu.

Setalah selama beberapa saat saling serang dengan kecepatan tinggi seperti itu. Keduanya mengambil jarak beberapa meter. Kembali bersiap untuk melepas serangan.

Sasuke berdiri dengan bertumpu pada chokuto yang ia tancapkan di lantai. Nafasnya terengah-engah dan tubuhnya bergetar. Mata sharingannya tak melepas pandangan dari sosok gadis rubah yang masih dengan tenang berdiri tak jauh darinya. Berbeda dengan dirinya yang sudah susah payah berdiri tegak dengan luka menganga di perutnya, gadis bertopeng itu bahkan tak kehabisan nafas sedikitpun.

Sasuke kembali mengernyit saat perutnya kembali berdenyut nyeri.

Di tatapnya lagi sang kekasih yang kini berniat untuk membunuhnya.

Naruto masih tampak sangat cantik. Bahkan gaun putih yang dikenakannya masih bersih tak bernoda. Ia terlihat seperti malaikat bagi Sasuke. Malaikat mautnya.

Tubuh Sasuke terduduk di lantai. Kakinya sudah tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Sementara tangan kanannya memegang erat chokuto yang tertancap di lantai, tangan kirinya memegang luka di perutnya, berusaha menahan darah yang keluar semakin banyak. Menetes membasahi lantai aula yang gelap.

Sosok Naruto kini berjalan perlahan mendekati Sasuke yang masih terduduk. Sambil berjalan. Ia mencabut sebuah pedang yang tertancap tak jauh darinya. Dengan wajah yang masih tertutup topeng. Ia terus berjalan mendekati sang pangeran yang menatapnya sedih.

Sasuke melepaskan pegangan dari chokuto miliknya. Tangan kanan itu bertumpu di lantai, berusaha menahan tubuh Sasuke saat ia terbatuk dan memuntahkan banyak darah.

Sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya, Sasuke kembali menatap sang kekasih. Ia berusaha berdiri namun gagal.

Akhirnya Sasuke menyerah. Ia tak peduli lagi kalau ia akan mati. Setidaknya ia akan mati di tangan orang yang paling dicintainya. Hal itu sudah cukup membuatnya bahagia. Ditatapnya lagi sosok Naruto yang kini sudah sampai di depannya. Menunduk memandangnya dengan wajah tertutup topeng. Menbuat Sasuke tak bisa melihat ekspresi Naruto.

Apakah ia akan menangis kalau ia mati? Pikiran itu membuat dadanya sesak. Ia tak ingin Naruto menangis.

Setidaknya ia ingin sekali lagi melihat senyum itu…

Sebuah tendangan di dagunya membuat Sasuke terlempar ke belakang dan terbanting di lantai.

Setidaknya ia ingin sekali lagi melihat mata biru yang selalu membuatnya tenang itu…

Sasuke kembali terbatuk saat punggung dan belakang kepalanya membentur lantai dengan keras. Walaupun berat, ia berusaha menatap Naruto yang berdiri di atasnya.

"Akh!" Sasuke mengerang saat kaki Naruto yang berhak tinggi itu menginjak perutnya yang terluka.

Sambil mengernyit menahan sakit. Sasuke manatap Naruto yang menunduk menatapnya dari balik topeng. Dengan sebuah pedang yang terhunus tinggi, siap untuk menghabisi nyawanya.

Sasuke tersenyum.

Setidaknya ia bisa tersenyum pada orang yang dicintainya untuk terakhir kali.

"Naruto." Panggil Sasuke lirih saat pedang itu melesat cepat ke arahnya.

Dan cairan merah itu terpercik ke segala arah. Menodai gaun putih sang putri rubah…

.

.

.To be continue…

.

.

.

um... jelek ya? maaf ya^^ hanya seperti ini yang bisa saya buat.

dan seperti biasa *sigh* saya tak bisa lagi membalas reviewnya satu per satu. tapi kali ini akan saya usahakan membalas lewat pm buat yang log in.

um... maukah memberikan review walau saya tahu ini jelek?

terima kasih ya^^

oh ya... chap depan akan jadi chap terakhir...

REVIEW PLEASE