Surprise! \\^o^/ *dihajar reader*

Gomeeeen... saya tau ini sudah... *ngitung* 2 tahun 5bulan dan 21 hari ^^a *dihajar lagi*

Sudah lama sekali, dan saya benar-benar minta maaf... tapi akhirnya bisa juga ^^

Berhubung sudah lamaaaaa bgt... saya yakin sudah pada lupa ma jalur ceritanya ^^a jadi silahkan baca chap sebelumnya atau kalau mau, baca dari awal saja ^^ *ditendang*

Yosh... saya persembahkan chap terakhir dari fic ini...

Moga suka ^^

Disclaimer : Masashi kishimoto sensei.

Pairing : SasuFemnaru

Warning : OOC, gaje, typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!

I Don' t Own Naruto!

.

.

.

Segalanya terasa gelap.

Hitam.

Dingin.

Dan aku tak bisa merasakan tubuhku...

Apa aku jatuh?

Apa aku tenggelam?

Apa aku... mati?

Itu mungkin saja... aku tak bisa merasakan nafasku...

Tak apa... mungkin ini lebih baik...

Hidup itu menyakitkan... menyedihkan...

Memuakkan...

Lebih baik seperti ini... aku takkan merasakan sakit lagi... takkan merasa sedih lagi.. tak akan ditingalkan lagi...

Benar... semuanya meninggalkanku... tak ada yang tersisa lagi...

Hanya rasa dingin ini...

Aku... mencarimu.

Siapa?

Kau... dimana?

Siapa itu? Tak ada lagi yang akan mencariku... semuanya pergi...

Aku bicara denganmu

Siapa? Kau bicara dengan siapa?

Dobe

Sekejap saja seluruh kegelapanku menghilang... aku bisa bernafas... dan bisa melihat... dada bidang berbalut hitam pekat...meski aku baru sadar hanya bisa melihat dengan sebelah mata... sesuatu menutupi wajahku dan sebelah mataku

Dan suara detak ini... ini miliknya... aku ingat sekarang ... ini milik Sasuke...

Sasuke?

Entah mengapa nama itu membuatku berpikir jernih... dimana aku? Aku harus pergi menemuinya... aku ingin melihatnya... aku ingin bersamanya...

Oh. Aku ingat...

Ular itu mendapatkanku...

Aku bisa merasakan... dinginnya logam dalam genggamanku... kenapa? Aku tak bisa menggerakkan tubuhku? Dan ketakutan merasuki seluruh tubuhku saat aku menyadari apa yang akan aku lakukan.

Kumohon... Sasuke...

Lari...

Hn?

Lari! Dasar pangeran mesum brengsek! Apa kau tuli?

Atau aku akan-

Sekejap saja tanganku sudah bergerak... menumpahkan warna merah itu...

Naruto?

Dan aku bisa melihatnya sekarang... wajah terkejut itu...

Apa yang terjadi, Naruto?

Aku berusaha menjawab... tapi tak ada yang keluar dari bibirku yang tetap terkatup rapat... sebaliknya aku justru kembali berniat menikamnya...

Dasar tubuh sialan! Turuti perintahku! Berhenti!

Apa yang terjadi? Rasanya seperti ada tali-tali yang menjerat seluruh tubuhku... menggerakkannya diluar kemauanku...

Orochimaru!

Dasar ular busuk brengsek! Dia melakukannya lagi... mengontrolku seakan aku ini boneka murahan!

Naruto

Apa!?

Apa yang terjadi

Ular brengsek itu mengambil alih tubuhku!

Jawab aku, Naruto

Aku sudah menjawabmu, brengsek!

Sepertinya kau memang tak bisa bicara

Aku sudah mencoba, Teme! Jangan salahkan aku kalau tubuhku tak menuruti perintahku!

Berarti aku hanya harus mengalahkanmu dan membuatmu tak bisa bergerak lagi

Gaaah... ini benar-benar menyebalkan...

Kenapa.

Aku.

Tak bisa.

Mengontrol.

Tubuhku!

Daaaaamn!

Berhenti!

Berhenti! Tubuh sialan!

Berhenti!

Berhenti!

Berhenti...

Kumohon...

Aku tak ingin menyakitinya...

Kumohon berhentilah...

Kumohon...

Kumohon...

Naruto

Kenapa kau diam saja, brengsek!

Menyingkirlah!

Jangan melihatku seperti itu!

Jangan tersenyum seperti itu...

Jangan-

Jangan meninggalkanku

.

.

.

### Story from Kingdom of Hell ###

By: Ayushina

.

Chapter 18

Hell Dance Party

Part 2

.

.

Suara logam menembus daging itu terdengar lebih keras dari seharusnya. Seakan menggema dalam aula yang kini mulai kosong.

Secara refleks Sasuke tersentak saat logam dingin itu menembus tubuhnya. Bibir pucat itu terbuka oleh teriakan tanpa suara akibat rasa sakit yang ia rasakan. Sasuke memang sudah siap mati. Ia yakin ia akan mati. Dan ia senang bisa mati di tangan'nya'. Hanya saja rasa sakit itu tak berada di tempat yang ia duga. Ia yakin Naruto akan langsung menusuk jantungnya. Cara paling cepat untuk membunuh makhluk neraka.

Tapi tidak. Rasa sakit dan basah itu justru berpusat di bahunya. Ia bahkan masih merasakan logam dingin itu menembus tubuhnya. Bergerak perlahan membuat luka itu semakin lebar.

Apa ia ingin menyiksanya dulu sebelum membunuhnya? Benar-benar menyedihkan.

Sambil menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Sasuke perlahan membuka mata dan tertegun saat melihat sosoknya.

Wajah tertutup topeng itu hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.

Dalam jarak sedekat itu Sasuke bisa melihat retakan dari topeng berwarna orange yang dikenakan Naruto. Mungkin beberapa serangannya berhasil mengenai benda brengsek itu.

Dan kini ia bisa melihat bagaimana tubuh berbalut gaun putih itu bergetar di atasnya. Salah satu kaki Naruto masih berada di perut Sasuke, sementara kedua tangannya menggenggam pedang yang kini menembus bahu kiri sang pangeran.

Sasuke hanya menatap wajah tertutup topeng itu saat tangan kiri Naruto melepaskan genggamannya pada gagang pedang. Dan perlahan menggenggam logam tajam yang menusuk bahu Sasuke. sesaat Sang Pangeran Neraka itu tak mengerti apa yang terjadi hingga cairan merah perlahan mengalir dari genggaman Naruto. Menuruni bilah pedang dan menyatu dengan luka dibawahnya. Logam dingin itu bergetar dan sedikit terangkat sebelum kembali menghujam semakin dalam hingga lantai di bawahnya. Sang Pangeran masih memandang Naruto dan berusaha mengindahkan rasa sakit di bahunya saat serpihan topeng kini mulai berjatuhan di atasnya. Menampakkan wajah yang paling ingin ia lihat. Mata biru itu memandang kosong ke arahnya. Dengan bibir bergetar yang perlahan bicara.

"S-sudah kubilang l-lari kan... b-brengsek,"

Sasuke masih tak bisa berkata-kata. Menatap sosok Naruto yang masih tanpa ekspresi.

Dengan cairan bening yang mengalir menuruni pipi dan jatuh di wajah Sasuke. Suara tulang yang terpotong perlahan membuat mata Sasuke melebar. Dan menyadari itu bukan suara tulangnya. Mata merahnya beralih menatap tangan Naruto yang menggenggam logam tajam hingga hampir menembus jemari dan telapak tangannya. Membuat cairan merah itu semakin deras membasahi bahu Sasuke.

"Hentikan," bisik Sasuke hampir tanpa suara saat menyadari perlahan pedang itu terangkat dari bahunya dan luka di genggaman Naruto semakin dalam.

"Sudah cukup," bisiknya lagi diikuti tangannya yang perlahan menggenggam gagang pedang diatas tangan kanan sang gadis. Membantu menarik pedang itu keluar dari bahunya. Gadis itu tak bicara lagi.

Air mata itu semakin deras turun dari iris biru Naruto meski wajahnya masih kosong tanpa ekspresi.

Dengan bergetar Sasuke mengangkat tangan kirinya dan berusaha menghapus aliran bening di wajah sang gadis meski rasa nyeri langsung menghujam di sekujur lengannya,

"Jangan menangis," bisiknya saat tangan bergetar itu membelai pipi sang gadis.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Sasuke sambil tersenyum sementara tubuh Naruto masih bergetar. Pedang itu masih terarah ke tubuh Sasuke dengan jarak beberapa senti. Dan Sasuke bisa merasakan tekanan di tangan kanan Naruto yang berusaha kembali menusuknya sementara tangan kirinya berusaha menahannya.

"Aku janji," Sasuke kembali berkata sambil membelai pipi Naruto dengan tangan kiri sebelum perlahan turun di belakang leher sang gadis. Dengan konsentrasi penuh, Sasuke mengalirkan cakra petir di titik vital Naruto. Membuat serangan di seluruh syaraf sang gadis hingga tubuh ramping itu ambruk di atasnya. Sasuke langsung memeluknya sementara kilatan listrik kecil berwarna biru menyebar di seluruh tubuh sang gadis dan membuatnya lumpuh sementara.

Sasuke memeluk Naruto erat. Menyadari ia hampir saja tak bisa lagi memeluk orang yang paling dicintainya itu. Ia menghela nafas lega dan membenamkan wajahnya di surai pirang sang kekasih.

"Hm... kurasa, sekali rusak mainan itu memang seharusnya dibuang saja," gumam seseorang yang langsung membuat Sasuke menoleh. Menatap sosok berjubah hitam dengan ular berwarna putih yang menjulur dari balik jubahnya.

"KAU!" geram Sasuke sambil berusaha bangkit dengan Naruto dalam pelukannya. Tubuhnya masih gemetar akibat luka yg dideritanya. Cairan merah itu menetes dari luka menganga di bahunya.

"KAU YANG MELAKUKAN SEMUA INI!" bentak Sasuke sementara sosok itu hanya tersenyum.

"Khu khu khu, tak perlu berteriak, Sasuke-kun. Ini hanya sebuah permainan," kata Orochimaru sambil berjalan mendekat. Sasuke berlutut sambil memasang posisi bertahan.

"Ck ck... mainan yang bagus memang tak selalu berguna, seperti bocah rubah itu dan kedua orang tuamu... sayang sekali," sosok itu kembali berkata sambil menggeleng.

Mata Sasuke langsung menyipit mendengar perkataan itu.

"Kau. Yang. Melakukan. Itu. Pada. Orang tuaku." Desis Sasuke penuh amarah. Mengingat kejadian bertahun yang lalu dimana kedua orang tuanya berusaha membunuhnya.

"Hoo... jadi kakakmu tersayang tak mengatakannya padamu? Dia pasti berpikir bisa membunuhku sendiri... kasihan sekali." Jawab Orochimaru.

Sharingan Sasuke berputar perlahan, "Dimana Itachi?" tanya Sasuke tajam.

"Tak tahu. Mungkin ia masih di luar sana... atau mingkin sudah mati?" jawab sosok ular itu dengan seringaian.

"Aku akan membunuhmu," desis Sasuke tajam.

"Dan bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya suara yang tiba-tiba berada di belakang Sasuke. refleks, sang pangeran neraka itu berputar dan mengayunkan pedang yang sebelumnya digenggam Naruto ke arah sosok dibelakangnya. Pedang itu menebas udara kosong dan Sasuke dengan segera melompat mundur dengan Naruto dalam pelukannya.

Sasuke tak mempunyai kesempatan mengelak saat kilauan logam meluncur cepat ke arahnya. Ia sempat mengumpat pelan sambil berusaha melindungi Naruto dengan tubuhnya saat tiba-tiba sekumpulan pasir menghentikan pedang itu. Diikuti tubuh Sasuke yang bergerak sendiri melompat menjauhi sosok Orochimaru, yang kini berusaha menghindar dari pasir yang menyerangnya.

"Anda baik-baik saja, Yang Mulia Pangeran?" tanya Gaara yang segera berdiri di depan Sasuke sementara Shikamaru masih membentuk segel bayangan yang mengontrol tubuh Sang Pangeran. Membuatnya mundur dan berdiri di belakang 2 prajurit pribadi itu.

Sasuke mendongak menatap dua prajurit neraka yang kini berdiri di hadapannya. Tubuh mereka terlihat penuh luka dengan nafas yang tak beraturan. Mereka pasti sudah kehabisan cakra karena melawan monster neraka sebanyak itu.

Perlahan Sasuke membaringkan Naruto di lantai dengan wajah tertunduk. Seluruh gaun putih milik gadis rubah itu kini penuh noda darah. Membuat darah Sasuke mendidih mengingat apa yang bisa saja terjadi. Untung saja semua darah itu miliknya.

Sasuke memejamkan mata dan menarik nafas dalam, sebelum menunduk dan mencium dahi Naruto yang masih tak sadarkan diri.

"Kalian berdua, lindungi Naruto," Perintah Sasuke sambil berdiri dengan wajah yang masih tertunduk.

"Tapi, Yang Mulia, luka anda?" tanya Gaara sambil menaikkan alis. Menatap seluruh tubuh Sasuke yang penuh darah.

Perlahan Sasuke membuka kancing bajunya dan melepas jubah luar miliknya hingga ia hanya memakai baju tanpa lengan berwarna hitam yang terlihat robek besar di bagian perut dan bahu. Meski begitu luka di kedua bagian itu telah sembuh berkat darah Naruto yang memasuki luka di bahunya. Hanya menyisakan garis tipis berwarna pink seakan luka itu telah berumur beberapa hari.

"Lindungi dia, ini perintah," kata Sasuke dingin sambil membuang jubahnya sembarangan. Ia dengan tenang berjalan ke arah Orochimaru yang masih berusaha menghindari pasir Gaara. Sambil berjalan Sasuke mencabut pedang miliknya sebelum berlari dengan kecepatan tinggi ke arah sosok ular itu.

Trang!

Keduanya bertemu dengan kusanagi dan chokuto yang bersilang di depan wajah mereka.

"Wah wah... sang Pangeran tengah marah rupanya..." gumam Orochimaru sambil tersenyum sebelum mengeluarkan banyak ular dari lengannya. Dengan sekali tebas seluruh ular itu langsung terpotong. Sedetik kemudian Orochimaru sudah menjulurkan lehernya yang memanjang dan berusaha menggigit leher Sasuke. dengan refleks yang tinggi Sasuke menyilangkan pedangnya ke belakang leher dan menangkap Orochimaru diantara mulutnya.

"Chidori Nagashi," bisik Sasuke sambil menahan kepala Orochimaru. Sekejap kemudian seluruh tubuh Sasuke sudah diselimuti cakra petir yang juga mengalir ke pedangnya dan dengan sedikit dorongan membelah kepala Orochimaru jadi dua.

Tubuh berjubah hitam itu terdorong ke belakang hingga menabrak dinding dan ambruk ke lantai. Sebelum Sasuke bisa bernafas lega sepasang lengan tiba-tiba keluar dari leher yang terbelah dua, diikuti sosok Orochimaru yang kembali muncul tanpa luka sedikitpun.

"Khu khu khu... menarik sekali... kau memang berbeda Sasuke-kun," tawa sosok ular itu tak sedikitpun merasa risih dengan lendir yang menempel di seluruh tubuhnya.

"Cih," Sasuke kembali menyerang dengan jurus api miliknya, diikuti sabetan chokuto berselimut petir. Namun semua itu bisa dihindari Orochimaru dengan mudah. Ia bahkan memasang wajah tersenyum yang membuat darah Sasuke semakin mendidih.

Keduanya kembali bertukar serangan, menyisakan suara dentingan senjata dan ledakan jurus yang membuat seluruh bangunan bergetar.

"Tak perlu semarah itu, Sasuke-kun... ini hanya permainan," kata Orochimaru sambil membuat beberapa segel yang membuat tanah di bawah kaki Sasuke retak dan bergerak menyerang sang pangeran.

Sasuke melompat tinggi dan dengan kaki berselimut cakra berdiri terbalik di atap aula. Ia ikut membuat beberapa segel sebelum sebuah naga api muncul, menghancurkan retakan tanah itu jadi abu dan bergerak menyerang Orochimaru.

Sebuah naga air muncul sebelum serangan Sasuke mengenai sang ular dan membuat api itu menghilang menyisakan asap uap air yang langsung menyebar ke seluruh ruangan.

"Cih," Sasuke langsung memasang posisi bertahan sambil memandang sekeliling dengan sharingan yang menyala merah. Sedikit kilauan perak sudah cukup untuk membuat Sasuke menahan serangan Kusanagi yang terarah ke arahnya. Ia kembali melompat dan mendarat di tanah sebelum kembali berlari menyerang sosok Orochimaru yang terlihat diantara uap yang mulai menghilang.

"Kagebunshin no Jutsu," menggunakan jurus faforit Naruto, Sasuke membuat satu klon dirinya yang langsung menyerang Orochimaru secara bersamaan, mereka kembali bertukar serangan. Saat Orochimaru tengah sibuk menangkis serangan klon miliknya, Sasuke membuat beberapa segel.

Sedetik kemudian suara ribuan burung menggema di dalam ruangan itu diikuti Sasuke yang langsung berlari menyerang Orochimaru yang tengah sibuk memusnahkan klon miliknya.

"CHIDORI!"

Orochimaru berbalik menatap Sasuke dengan seringaian lebar saat terdengar suara koyakan tubuh menandakan jurus Sasuke mengenai sasaran.

Sasuke bisa merasakan rasa hangat itu saat lengannya menembus tubuh lawan dan menghancurkan jantungnya. Ia juga bisa merasakan detak itu dalam genggamannya yang perlahan melambat.

"Uhuk!"

Dan mata Sasuke melebar saat melihat justru wajah itu yang ada di hadapannya, menampakkan wajah tanpa ekspresi yang kini terbatuk dan mencipratkan noda merah di wajah Sasuke. Mata biru itu masih menatapnya kosong. Detak itu berdenyut pelan, sebelum terdiam sama sekali.

"N-naruto,"

Jlep!

Sebelum Sasuke bisa menyadari apa yang terjadi, sebuah pedang menembus tubuh sang gadis dan menusuk Sasuke tepat di jantungnya. Kusanagi itu memanjang hingga kebelakang punggung sang pangeran. Sasuke tak tahu lagi apa yang terjadi. Ia bahkan tak menyadari rasa sakit saat pedang itu ditarik dan membuat luka di jantungnya melebar. Yang ia tahu adalah.

Ia telah membunuhnya.

Ia membunuhnya...

"Sasuke!"

Sasuke mendengar seseorang memanggilnya tapi ia tak peduli. Yang ia lihat kini hanya wajah Naruto didepannya saat mereka berdua jatuh. Ia bisa merasakan cairan hangat yang mengalir diatasnya dan bercampur menggenang di bawahnya. Ia masih merasakan hangat dilengannya yang masih menembus tubuh itu. Tubuh orang yang paling dicintainya.

Ini hanya mimpi kan?

Besok ia akan bangun kan?

Ia masih akan melihat senyum itu lagi kan?

Jadi...

Mengapa sakit ini terasa begitu nyata?

Jadi mengapa mata itu masih menatapnya tanpa cahaya sama sekali?

Ini bohong kan?

Cairan bening itu perlahan menggenang di mata merah sang pangeran. Sebelum mengalir deras di kedua sisi wajahnya.

"N-naruto," bisik Sasuke dengan bibir yang penuh darah.

"H-hey... Bangunlah," bisiknya sambil membelai pipi yang perlahan mulai dingin. Menyibak helaian pirang yang basah dengan sebelah tangannya yang bebas. Ia tak ingin memikirkan dimana posisi lengannya yang lain.

"J-jangan... menatapku... seperti itu," pinta Sasuke pelan. Sepasang safir itu masih terbuka, terlihat redup tanpa benar-benar menatap sang pangeran.

"Kumohon..." bisiknya sambil menempelkan dahinya di dahi Naruto. Dengan nafas tercekat berusaha mengirup wangi sang kekasih yang seperti matahari.

Darah yang tiba-tiba menggenang di tenggrokannya membuat Sasuke terbatuk dan mencipratkan darah di wajah sang gadis. Tapi gadis itu masih tak bergeming. Hanya menatap Sasuke dengan mata biru yang redup.

Sasuke memejamkan mata dan membuat airmatanya semakin deras mengalir. Ia memeluk tubuh itu semakin erat meski ia mulai merasa mati rasa.

Ia bisa merasakan jantungnya berdetak lemah. Sebelum tergagap dan berhenti sama sekali.

Semua menjadi dingin dan gelap.

Dan Sasuke menyambutnya.

.

.

.

Untuk kesekian kalinya hari itu, Itachi mengumpat. Sikap yang sangat tidak relevan bagi seorang raja. Tapi menghadapi musuh seperti dihadapannya ini benar-benar menguras kesabarannya. Ia seorang raja Neraka, damn it! Jadi mengapa menghadapi seorang makhluk neraka saja ia kewalahan? Mungkin itu gara-gara musuhnya kali ini adalah salah satu klan Kaguya yang terkenal tak mudah mati seperti kecoa. Ditambah dengan segel gaib sialan milik ular itu. Padahal 4 rekannya sudah tumbang di tangan Itachi. Tapi makhluk berambut putih dengan tulang keras di seluruh tubuhnya itu masih bisa bergerak meski dengan lubang menganga di dada dan wajahnya.

Tak ada pilihan lain.

Sang raja neraka itu kembali mengelak dari pedang tulang yang di hempaskan ke arahnya. Ia melompat tinggi sambil membuat beberapa segel. Sekejap saja tanah tempat Kimimaro berpijak menjadi lautan lumpur. Sambil mendarat di salah satu atap. Itachi kembali membuat segel dalam kecepatan tinggi sambil memejamkan sebelah matanya. Saat membuka mata, tiga tome dalam sharingannya menyatu dan membentuk sebuah shuriken berujung tiga. Sesaat tak ada yang terjadi. Hingga sebuah simbol muncul di sekeliling kimimaro diikuti api hitam yang menjulang tinggi ke langit. Membakar anggota terakhir klan Kaguya itu hidup-hidup.

"Musnahlah dalam keabadian amaterasu," bisik Itachi sambil memejamkan mata dan mendarat di tanah. Tanpa menengok ke belakang ia langsung melesat ke arah aula dansa. Langkahnya sempat goyah saat merasakan cakranya berkurang drastis akibat jurus yang baru saja ia gunakan. Tapi ia mengabaikannya dan kembali berlari.

Dalam perjalanan kesana, Itachi melihat beberapa tubuh yang bergelimpangan di sepanjang koridor. Dan tak ada sorangpun yang ia temui melintasinya. Itu bisa berarti semua orang telah berhasil di evakuasi atau semuanya sudah mati.

Itachi tak terlalu memikirkan hal itu sekarang. Yang ada di benaknya hanya keselamatan Sang adik yang ia yakini masih berada di bangunan besar di depannya. Saat ia mulai dekat ia bisa mendengar suara ribuan burung yang menjadi ciri khas jurus faforit sang adik. Tentunya ia juga tengah bertarung sekarang. Setidaknya itu menandakan ia masih hidup.

Meningkatkan kecepatannya, Itachi segera berbelok dan memasuki pintu utama aula dan harus menyaksikan bagaimana Orochimaru telah berhasil menusuk Naruto dan Sasuke sekaligus sebelum menendang punggung sang gadis hingga pedang itu tercabut dengan suara yang membuat seluruh tubuh Itachi berdesir.

"Sasuke!" Itachi berteriak tanpa sadar. Dan itu membuat Orochimaru berbalik menghadapnya dengan seringaian.

"Kau terlambat, Itachi," tawanya sambil menjilat darah di ujung pedangnya.

Dengan segera Sang Raja Neraka itu berusaha mendekat namun langsung di hadang oleh Orochimaru.

"Kurasa tidak, Itachi-kun," kata Orochimaru sambil menggeleng, "Mereka sudah mati," bisiknya di telinga Itachi.

Itachi mengatupkan bibirnya rapat-rapat sebelum mendorong Orochimaru dengan pedangnya.

"Kau salah," desis Itachi penuh amarah. Meski begitu ia bisa melihat dari balik punggung sang ular, bagaimana cairan merah itu menggenang di bawah tubuh sang adik. Menciptakan kilauan emas saat cahaya di dalam aula itu menyinarinya.

Dan Orochimaru hanya tertawa.

Sebuah gelombang pasir dan bayangan hitam ikut menyerang Orochimaru sambil berusaha meraih dua sosok yang kini tergeletak tak bergerak.

Sambil melompat mundur, Orochimaru membuat segel dan menciptakan sebuah barier pelindung yang menghalau kedua jurus itu untuk mencapai tujuannya.

"Tsk tsk tsk... tak semudah itu," gumam Orochimaru sambil menjentikkan jarinya. Sekejap saja ruangan itu kembali dipenuhi monster neraka.

Itachi bisa mendengar prajurit pengguna bayangan disampingnya mengerang.

"Dimana prajurit yang lain?" tanya Itachi sambil menatap kumpulan monster neraka di depannya.

"Mati," jawab Shikamaru, terlalu malas untuk menjelaskan lebih.

"Yang lain melakukan evakuasi pada seluruh undangan," tambah Gaara yang di jawab anggukan oleh Itachi sebelum kembali menatap situasi di depannya.

"Kita tak bisa menghadapi mereka semua sekaligus," kata Itachi membuat kedua prajurit itu menunduk.

"Tapi kita bisa menang," lanjut Itachi membuat mereka berdua menoleh, "Bisakah kalian mengulur waktu?" tanya Itachi

Gaara dan shikamaru saling pandang sebelum sang pengguna bayangan menghela nafas dan berdiri di samping Gaara, "Kita tak punya pilihan bukan?" gumam Shikamaru sambil menautkan kedua tangannya.

"Ayo kita hancurkan mereka," seringai Shikamaru sementara Itachi mulai membentuk beberapa segel.

.

.

.

Sementara Sang Raja Neraka sibuk dengan para monster neraka, Orochimaru berbalik menatap dua sosok yang tergeletak di lantai. Dengan pandangan yang serius dia meraih kerah gaun Naruto dan menariknya sementara sebelah kakinya menahan tubuh Sasuke. Suara lengan Sasuke yang terlepas dari tubuh Naruto sama sekali tak membuatnya berjengit. Dengan mudah ia melempar tubuh sang gadis kebelakang dan memperhatikan sosok sang pangeran neraka yang terdiam dengan sepasang mata onix yang menatap kosong ke depan.

Orochimaru menendang tubuh bersimbah darah itu keras. Sebelum menarik rambut Sasuke dan menatap matanya lekat. Memastikan sang pangeran neraka itu benar-benar telah mati. Tak ada cahaya di mata kelam itu.

"Apa yang istimewa darimu, huh?" tanya Orochimaru.

"Jadi apa yang membuatmu menjadi pewaris tahta dibanding Itachi? Kau hanya bocah yang hanya memikirkan seorang bocah rubah yang tak berguna, sungguh menyedihkan."

"Ini sedikit membuatku kecewa setelah sekian lama usahaku untuk membunuhmu. Ini terlalu mudah,"

"Setidaknya kemenangan sudah ada dalam genggamanku, aku tinggal membunuh Itachi. Dan semuanya akan selesai,"

"Ditambah aku mempunyai sisa tubuh klan Namikaze terakhir... itu akan menjadi eksperimenku yang paling menarik khu khu khu... jangan khawatir Sasuke-kun... aku akan memanfaatkan tubuh kekasihmu sebaik mungkin... namanya Naruto kan?"

Orochimaru tertawa pelan sambil melepaskan cengkramannya di rambut Sasuke. membuat tubuh sang raven kembali tergeletak di tanah sebelum berbalik menatap tubuh sosok gadis rubah di belakangnya.

"Nah... apa yang harus aku lakukan padamu Naruto-chan? Mungkin seharusnya aku memisahkan kepala dari tubuhmu terlebih dahulu... aku dengar klan namikaze punya kemampuan regenerasi yang tinggi... meski aku tak pernah dengar seseorang bisa hidup lagi setelah jantungnya di hancurkan seperti ini,"

"Atau aku seharusnya mengumpulkan darahmu hingga kering? Darahmu bisa menjadi penyembuh segala luka bukan?" kata-kata itu membuat Orochimaru membeku dan dengan segera ia berbalik menatap Sasuke. memperhatikan darah yang membasahi seluruh tubuhnya.

Tanpa menunggu lagi, Orochimaru mengangkat pedangnya. Dan kembali menusukkannya di jantung sang pangeran. Suara tikaman itu terdengar jelas diantara riuh pertaruangan di sekitarnya. Orochimaru masih memandang sosok sang pangeran neraka yang diam tak bergerak. Dengan wajah tanpa ekspresi ia memutar pedangnya hingga luka di tubuh sang pangeran itu melebar.

Sebelum sebuah tangan penuh darah menghentikan logam itu.

Orochimaru terdiam. Menatap sepasang mata kelam yang masih terlihat mati, tanpa cahaya kehidupan yang menyinarinya. Meski begitu lengan yang seharusnya menjadi mayat itu bergerak menarik pedang itu keluar dari tubuh Sasuke dan tak bergeming meski Orochimaru mendorong pedang itu semakin kuat.

Tubuh berambut kelam itu tersentak pelan, seakan jantungnya berusaha kembali berdegup sebelum kembali terdiam.

Tanpa menunggu lagi Orochimaru membuka mulutnya dan seekor ular muncul dengan sebuah pedang yang siap menusuk sang pangeran. Tapi tangannya yang lain bergerak dan kembali menangkap pedang itu.

Sebuah sentakan yang lain membuat tubuh Sasuke terangkat ke atas. Dan sebuah degupan bisa di dengar Orochimaru sebelum sebuah suara terdengar.

"J-jangan pernah menyentuhnya," bibir pucat itu bergerak meski wajah itu terlihat mati. Mata kelam itu bahkan sama sekali tak berkedip.

Orochimaru mengangkat sebelah tangannya yang bebas dan puluhan ular muncul dari lengannya.

BLARRRR...

.

.

.

Itachi sudah hampir selesai dengan segelnya saat ledakan itu terdengar. Sementara Gaara dan Shikamaru yang masih sibuk menahan monster neraka itu menoleh dan harus menahan hempasan angin yang tiba-tiba muncul.

Dan disana, dimana Sang pangeran dan Orochimaru berada kini berdiri sesosok makhluk yang belum pernah mereka lihat. Sosok hitam kelam dengan sepasang sayap lebar di belakangnya. Sosok itu perlahan berdiri diantara serpihan daging ular yang terpotong di sekelilingnya. Saat sosok itu mendongak, yang bisa terlihat hanyalah sepasang mata semerah darah dengan pupil berbentuk bintang segi enam. Tak jauh darinya, sosok Orochimaru terduduk di lantai dengan mata melebar.

Semua yang berada di dalam aula itu membeku. Hingga sebuah raungan yang melengking membuat mereka harus menutup telinga. Raungan itu membuat seluruh kaca yang ada di istana neraka bergetar dan pecah berantakan.

Dengan kecepatan tinggi sosok hitam itu berlari menerjang Orochimaru, menendangnya hingga sang ular terpental ke udara sebelum sosok hitam itu kembali muncul di atasnya dan menendangnya ke bawah menciptakan sebuah kawah kecil saat tubuh itu membentur tanah dengan bunyi 'Bum'.

Orochimaru perlahan bangun sambil meludah dan mengusap darah yang mengalir dari mulutnya. Ia segera membuat segel diikuti munculnya sebuah ular besar yang segera menyerang dan menelan sosok hitam itu hidup-hidup.

Ledakan lain terdengar dan ular raksasa itu sudah berubah menjadi serpihan. Sosok hitam itu masih berdiri di posisinya sebelum perlahan warna putih mulai menjalar membentuk rambut yang familiar diikuti warna kulit yang perlahan berubah sewarna tanah. Sayap hitam di belakangnya berbunyi 'Krak' keras saat berubah menjadi seperti sebuah telapak tangan besar. Monster berwajah sang pangeran dengan tanda hitam di atas hidungnya itu menatap ke depan tanpa ekspresi. Sebelum kembali meraung dan dengan kecepatan tinggi sudah berada di depan Orochimaru. Menendang wajah sang ular hingga terpental ke ujung ruangan.

Sedetik kemudian monster itu sudah menginjak punggung Orochimaru, menarik kedua lengannya hingga terdengar suara 'Krak!' saat kedua lengan itu terlepas dari tubuhnya. Membuat Orochimaru berteriak kesakitan. Ia berusaha berbalik dan menyerang Sasuke dengan ular dari mulutnya namun langsung terhenti saat sebuah tendangan yang lain membuatnya terlempar hingga membentur dinding.

Tanpa membuang waktu, monster itu kembali menghajar Orochimaru. Suara 'Krak!" kembali terdengar saat ia mematahkan kaki, meremukkan bahu dan rusuk Orochimaru yang kini telah bersimbah darah. Sebelum sang monster berhasil menyarangkan serangan ke jantung Orochimaru, suara ledakan lain terdengar... membuat monster bermata darah itu terpental.

Di tempat sebelumnya Orochimaru berada kini muncul monster lain. Berwujud ular putih berkepala delapan yang dengan mudah menghancurkan atap aula dengan ukuran tubuhnya yang besar. Dari salah satu kepala ular itu sosok Orochimaru muncul dengan tubuh penuh lendir. Mata emas itu memandang sosok monster Sasuke yang perlahan mulai berdiri sebelum kembali terpental saat salah satu kepala ular itu menyerangnya.

"Ini pertama kalinya aku harus menampakkan wujud asliku setelah sekian lama," kata Orochimaru sambil menatap sosok monster yg kini tak bergerak di depannya.

"Harus kuakui, kau membuatku terkejut, Sasuke-kun... jadi ini kekuatanmu sesungguhnya, menarik... namun tak akan cukup kuat untuk membunuhku... jadi MATILAH!" teriak Orochimaru saat 3 kepala ular dengan kusanagi di masing-masing mulutnya itu menyerang Sasuke.

Walau begitu, ketiga ujung pedang itu terhenti saat barier berwarna ungu muncul di sekitar sosok Sasuke, membentuk sosok yang menjadi legenda di dunia Neraka.

Dewa kehancuran. Susanoo.

Dengan sekali tebas, ketiga kepala ular milik orochimaru sudah tergolek di tanah sementara sang pemilik menatap sosok monster berwarna hitam keunguan didepannya dengan horor.

Monster Sasuke itu perlahan berdiri, membuat bayangan Susanoo itu menjulang menyamai tinggi ular Orochimaru dan dalam sekejap sudah mencincang monster ular itu hingga seluruh area istana Neraka terlihat seperti hujan darah.

Tak jauh dari tempat kedua monster itu, Itachi muncul sambil menggendong tubuh Naruto yang sudah tak bernyawa. Ia membaringkannya perlahan di tanah rumput di bawahnya. Sang Raja Neraka itu menunduk menatap sedih mayat gadis rubah yang kini masih menatapnya dengan mata yang setengah terbuka. Itachi mengusap wajah sang gadis hingga mata itu terpejam. Kalau bukan karena darah kering di wajahnya, Itachi pasti mengira gadis itu tengah tertidur.

Suara raungan yang kembali terdengar membuat Itachi mendongak dan menatap sosok Susanoo yang telah mencincang habis sosok ular yang di kenal bernama 'Yamata no Orochi'. Seakan ular itu bukan legenda yang dikenal sebagai 'dewa naga'.

Dengan ekspresi wajah seperti orang gila, monster berwajah Sasuke itu menyeringai saat ia menebas setiap kepala monster ular di depannya, dan kembali menebas setiap inchi tubuh ular yang bisa dilihatnya. Orochimaru tak bisa berbuat banyak saat seluruh tubuhnya dicincang, hingga sebuah tebasan lain memisahkan kepala dan tubuhnya. Kepala itu jatuh di tanah dan menggelinding pelan ke bawah kaki Sasuke. meski hanya tersisa kepala, wajah bermata emas itu masih bisa memandang sekeliling seakan mencari celah untuk kabur. Wajah menyeringai Sasuke menunduk. Sebelah kakinya terangkat dan dengan hentakan keras menginjak kepala itu hingga terdengar bunyi 'Cruck!'. Seperti anak TK yang menemukan mainan, Sasuke terus menginjak kepala itu hingga yang tersisa hanya serpihan dan remukan daging berwarna merah dan putih. Setelah sadar tak ada lagi yang bisa dihancurkan, sosok monster itu meraung dan beralih menghancurkan sekeliling yang dilihatnya.

Gaara dan Shikamaru dalam sekejap muncul di belakang Itachi, diikuti semua prajurit neraka dan ksatria yang masih tersisa. Mereka semua menatap sosok pangeran yang kini menjadi monster dan masih mengamuk membabi buta. Sepertinya Sasuke sudah tak bisa mengontrol dirinya dan jika dibiarkan ia bisa menghancurkan seluruh istana neraka.

"Menyebar! Hentikan pergerakannya sementara aku berusaha menyegelnya!" perintah Itachi yang langsung diikuti semua prajurit.

Dengan cepat Itachi membentuk beberapa segel. Dia menggigit tangan dan menghempaskannya ke tanah. Kedua sharingannya berputar cepat hingga berubah bentuk dari tiga tomoe menjadi seperti shuriken berujung tiga. Diikuti air mata darah yang menuruni kedua matanya. Bersamaan itu simbol besar muncul di sekeliling Sasuke, membuatnya tak bisa bergerak. Mangekyo sang pangeran bergerak liar mencari sang pengganggu hingga pandangannya tertuju pada itachi yang masih berlutut di tanah. Simbol di sekelilingnya berkilau biru dan membuat sosok Susanoo itu perlahan menghilang, sementara sosok Sasuke kembali meraung dan berlari ke arah Itachi, berusaha melenyapkan sosok yang baginya mengganggu.

Sebelum Sasuke bisa menyentuh Itachi, sekumpulan pasir sudah menyelimuti seluruh tubuh sang pangeran, diikuti bayangan hitam yang membelenggu seluruh tubuhnya seperti tali. Sekejap saja seluruh tubuh Sasuke sudah dipenuhi pasir, dan rantai-rantai besi yang yang dililitkan oleh para prajurit neraka yang kini mengelilinginya.

Itachi hanya memandang sosok sang adik yang masih berwujud monster. Memandang mangekyo yang berbentuk seperti bunga teratai itu memandang sekeliling liar, mencari celah agar bisa kembali mengamuk. Sasuke benar-benar sudah tak bisa mengendalikan dirinya.

"Sasuke, Tenangkan dirimu," Pinta Itachi, berusaha menyadarkan sang adik. Sosok Sasuke hanya kembali meronta dan meraung.

Hingga mata merah sang monster tertuju pada sosok tak bergerak di belakang Itachi. Ia membeku, sebelum kemudian ia meraung keras. Diikuti sebuah ledakan saat seluruh pasir dan rantai yang mengelilinginya hancur. Dan secepat kilat melesat ke arah Itachi, sang raja neraka itu harus melompat menghindar saat cakar berlumuran darah milik Sasuke mengayun ke arahnya.

Itachi mendarat di atas salah satu reruntuhan dan berbalik memandang sang adik. Yang kini tengah berlutut di atas mayat Naruto dengan lengan yang memeluk mayat sang gadis dengan posesif. Mata merahnya memandang sekeliling seakan menantang siapa saja yang berani mendekat atau mengambil gadis dalam pelukannya.

"Jangan bergerak," perintah Itachi pada seluruh prajurit neraka. Hal terakhir yang ia ingin adalah membuat Sasuke mengira mereka adalah musuh.

Sasuke masih memandang sekeliling dengan liar, rambut putihnya ikut bergerak saat kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan tak ada lagi ancaman, sosok monster itu menunduk. Menatap wajah sang gadis yang tak bergerak sama sekali. Cakar berlumuran darah miliknya bergerak membelai dan menyibak helaian pirang dari wajah Naruto.

Itachi hanya bisa terdiam melihat sosok sang adik yang kini memeluk mayat Naruto erat. Wajah berwarna tanah itu kini basah oleh cairan merah yang keluar dari kedua matanya. Perlahan, Rambut berwarna putih itu kembali menghitam. Diikuti kulitnya yang kembali memucat.

Semua yang berada di tempat itu masih membeku, tak ada yang berani bergerak saat suara isakan sang pangeran terdengar.

Itachi perlahan melangkah mendekat.

"Sasuke," panggil Itachi pelan. Sasuke hanya memeluk mayat itu semakin erat.

Itachi melangkah pelan hingga ia berdiri di depan sosok sang adik. Yang seakan tak memperdulikannya sama sekali. Ia hanya berdiri disana, memandang sosok Sasuke yang masih terus terisak.

"Sakit sekali, Itachi," bisik Sasuke pelan.

"Dia pergi," bisik Sasuke lagi. Itachi hanya berlutut sebelum mengusap bahu sang adik.

"Aku membunuhnya," Sasuke memejamkan mata dan menyatukan dahinya dengan dahi Naruto. Airmata darah itu terus mengalir. Sebagian menetes di wajah sang gadis rubah.

"Aku takkan bisa lagi melihatnya tersenyum... takkan... takkan bisa lagi melihatnya tertawa,"

"B-bagaimana ini, Nii-san... Aku ingin melihat senyumannya." Kata Sasuke sambil mendongak dan menatap sang kakak dengan mangekyounya. Air mata darah itu terus mengalir menuruni pipinya yang pucat.

"Kau pasti bisa melakukan sesuatu kan?" pinta Sasuke dengan wajah memohon pada Itachi.

"Kau raja neraka kan? Kau pasti bisa melakukan sesuatu," pinta Sasuke lagi.

"Sasuke," kata Itachi pelan, "Aku tak bisa menghidupkan kembali yang sudah mati,"

"DIA TIDAK MATI!" bentak Sasuke.

"Dia tidak mati. J-jangan katakan hal itu... kumohon..." pinta Sasuke kembali membenamkan wajahnya di leher Naruto. Berusaha merasakan sedikit saja tanda-tanda bahwa gadis rubah itu masih hidup.

"Sasuke," panggil Itachi lembut.

"Biarkan aku sendiri," gumam Sasuke sambil memejamkan mata.

"Sasu-"

"BIARKAN AKU SENDIRI, BRENGSEK!" bentak Sang pangeran tajam. Sebelum kembali menunduk dan membenamkan wajahnya di leher sang gadis.

Tiba-tiba tubuh Sasuke membeku. Perlahan ia membuka mata dan menatap wajah Naruto. Mata merah itu melebar saat melihat tubuh Naruto tiba-tiba diselimuti cakra berwarna kuning emas.

"N-naruto?" panggil Sasuke penuh harap. Tubuh itu tetap diam.

"Dia akan baik-baik saja,"

Sebuah suara terdengar dan Sasuke mendongak. Menatap sesosok bayangan yang berdiri di depannya. Setitik jejak cakra menyambung bayangan itu dengan cakra emas di sekujur tubuh Naruto. Bayangan itu membentuk sesosok pria dengan rambut pirang cerah sewarna rambut Naruto.

"Siapa kau?" tanya Itachi sambil berdiri di depan Sasuke. sharingan miliknya menatap tajam.

"Wah wah... tenanglah, Uchiha."

Sebuah suara lain terdengar tepat di belakang sang raja neraka. Ia segera berbalik dan mendapati bayangan lain tengah berlutut di depan Sasuke. Kali ini membentuk seorang wanita berambut merah panjang.

"Siapa kau?" kali ini Sasuke yang bertanya. Ia sedikit menjauh dan memeluk tubuh Naruto semakin erat saat bayangan wanita yang terlihat transparan itu bergerak untuk menyentuh sang kekasih.

"Tenanglah," bayangan wanita itu berkata sambil tersenyum, "Aku hanya ingin melihatnya,"

"Dan menjawab pertanyaanmu, Namaku Uzumaki Minato. Dan dia istriku, Namikaze Kushina," kata bayangan pria itu sambil tersenyum.

"Kalian-" Itachi tak melanjutkan kata-katanya.

"Ya, kami adalah orang tua Naruto," kata Minato. Membuat Itachi dan Sasuke menatap mereka berdua terkejut. Beberapa prajurit neraka disekeliling mereka bergerak gelisah.

"Kami menyegel sebagian cakra kami sebelum mati untuk menjaga Naruto kalau hal seperti ini terjadi. Bolehkah aku melihatnya?" pinta Kushina sambil mengulurkan tangannya pada Sasuke yang masih memeluk Naruto. Sasuke menatapnya sesaat sebelum perlahan melepaskan pelukannya dan membaringkan Naruto di pangkuannya.

"Oooh... Naru-chan.."

Sasuke tak tahu kalau hantu bisa meneteskan airmata. Jadi ia hanya diam saat bayangan-mirip-hantu berambut merah di depannya menangis sambil membelai pipi Naruto. Sesaat kemudian bayangan yang lain ikut berlutut di depannya dan mengusap rambut pirang dalam pelukannya.

"Maafkan aku," Sasuke tiba-tiba berkata sambil menunduk. Membuat dua sosok bayangan itu menoleh menatapnya.

"Ini bukan salahmu, Sasuke-kun," kata Minato sambil tersenyum sebelum kembali menunduk dan menatap sang putri.

"Aku yang membuat Naruto jadi seperti ini," kata Sasuke pelan sebelum mengaduh saat sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

"Diam-Dattebane... Minato sudah bilang ini bukan salahmu kan," kata Kushina sambil mengepalkan tangan, "Serahkan saja Naru-chan pada kami,"

Mata Sasuke melebar sebelum kembali memeluk Naruto dan menjauhkan dirinya dari dua bayangan di depannya. Kedua mengekyounya berputar pelan.

"Aku takkan membiarkan kalian membawanya," desis Sasuke tajam. Memeluk tubuh Naruto yang dingin semakin erat. Dua bayangan di depannya hanya saling pandang.

"Sasuke," Itachi berkata pelan.

"Diam, Itachi! Aku tak peduli mereka ini apa atau siapa! Aku takkan menyerahkan Naruto!" kata Sasuke lagi. Tubuhnya bergetar dan perlahan rambutnya kembali memutih. Ia akan melakukan apapun untuk menjaga gadis dalam pelukannya, meski ia harus menjadi monster.

Sosok Minato dan Kushina berdiri dan tersenyum.

"Kalau begitu, kami serahkan Naru-chan padamu," kata Minato sambil tersenyum.

"Kami akan tenang jika dia bersama denganmu," kata Kushina ikut tersenyum

Sasuke masih menatap mereka tak mengerti sebelum tiba-tiba tubuhnya membeku.

Deg

Sasuke menunduk dan memandang tubuh Naruto yang masih berselimut cakra.

Deg deg

Tak percaya, Sasuke menempelkan telinganya di dada Naruto. Dimana jantung yang sebelumnya ia koyak kini berdetak kembali. Dan Sasuke menatap dua bayangan di depannya tak percaya. Yang dibalas oleh dua senyuman.

"Bagaimana kalian melakukannya? Aku yakin tadi Naruto..." tanya Itachi yang ikut berlutut dan memeriksa Naruto.

"Mati?" tanya Kushina melanjutkan kata-kata Itachi, "Secara teknis sebenarnya Naruto tak bisa mati, sebagai pembawa kekuatan Kyuubi dia itu makhluk abadi," lanjutnya sambil tersenyum.

"Tubuhnya hanya berhenti berfungsi selama beberapa saat. Tugas kami sebenarnya hanya menjaganya sementara tubuh itu 'bangun'" kata Minato menambahkan.

"Kalau klan Namikaze adalah makhluk abadi kenapa kalian bisa mati?" tanya Itachi.

"Tidak. Klan Namikaze bukan makhluk abadi. Hanya sang pembawa Kyuubi. Dulu aku juga selamat saat pembantaian karena kekuatan itu. Minato yang menemukan dan merawatku saat aku 'tertidur'. Saat Naruto lahir secara otomatis kekuatan itu menurun pada Naruto. Karena itu klan Namikaze tak pernah punah. Akan selalu ada yang hidup untuk membawa kekuatan itu," jelas Kushina.

"Kau hanya harus bersabar menunggunya bangun," kata Minato sambil memeluk dan memandang Kushina.

"Berapa lama?" tanya Itachi

"Aku butuh waktu 300 tahun untuk bangun,5 tahun terakhirnya bersama Minato," kata Kushina sambil menggaruk pipinya, "Tapi aku yakin Naru-chan tak akan butuh waktu selama itu, dulu aku harus kembali membentuk tubuhku dari abu setelah mereka membakar habis seluruh klan kami," kata Kushina menenangkan.

"Aku akan menjaganya dengan nyawaku," kata Sasuke serius. Wujudnya telah kembali seperti semula. Dua bayangan itu hanya mengangguk dan tersenyum.

"Aku ingin meminta maaf, atas nama pendahuluku," kata Itachi sambil membungkuk. Membuat para prajurit di sekelilingnya terkejut.

"Kau tidak perlu minta maaf, Itachi-kun. Itu sudah takdir." Jawab Minato.

"Ya! Bangunlah! Tak sepantasnya raja neraka menunduk seperti itu-ttebane. Lagipula Sasuke-kun sudah menggantikan kami menjaga Naru-chan," tambah Kushina.

"Terima kasih," kata Itachi sambil berdiri tegak.

"Sepertinya kami harus pergi. Kami sudah tenang Naru-chan bersama kalian," kata Minato saat bayangannya mulai memudar.

"Buatkan kami banyak cucu Sasu-chan," Teriak Kushina sambil tersenyum lebar.

"Kami serahkan Naru-chan padamu, Sasuke."

Dan kedua bayangan itu menghilang, bersamaan dengan memudarnya cakra emas yang menyelimuti tubuh Naruto.

Sasuke memeluk tubuh Naruto lembut. Merasakan detak jantung dan tubuh sang gadis yang mulai menghangat.

"Segeralah bangun. Aku menunggumu,"

.

.

.

10 tahun kemudian...

"Kyaaaaaaaa! SASUKE-SAMA!"

"SASUKE-SAMA!"

Teriakan seperti itu sudah menjadi adegan yang rutin terjadi setiap Sang Raja Neraka berjalan melewati koridor taman atau setiap Sang Raja terlihat keluar dimanapun. Tak mengherankan, dengan wajah tampan dan kekuasaan tertinggi di dunia itu, siapa yang tak akan megejarnya. Ditambah, Sang Raja belum memilih permaisuri. Setidaknya itu yang mereka tahu.

"Sesekali kau harus tertawa, Sasuke. Kerutan di dahimu akan menjadi permanen dan membuatmu seperti kakek-kakek," Kata Itachi saat memasuki ruang singgasana dan mendapati Sasuke tengah membaca laporan dengan kerutan di dahinya.

"Berisik, aku tak akan berubah sepertimu, Keriput," jawab Sasuke tanpa memandang Sang kakak.

"Hei... aku tak punya keriput," kata Itachi sambil duduk di kursi sebelah kanan Sasuke.

"Bilang saja itu pada dirimu sendiri," balas Sasuke.

"Ya ya... terserah katamu, Yang Mulia," kata Itachi sambil membungkuk.

"Jika kau mengatakan itu lagi, aku akan menyumpal mulutmu dengan sepatu," kata Sasuke masih tanpa memandang sang kakak.

Itachi hanya menghela nafas dan memandang sang adik yang terus berkutat dengan laporan-laporan yang menggunung di atas mejanya. Dan tak ada tanda-tanda akan meninggalkan pekerjaannya meski malam telah larut. Itachi jadi sedikit merasa bersalah. Sudah hampir 5 tahun sejak Sasuke menggantikannya sebagai Raja Neraka. Dan sejak saat itu Sasuke terus menenggelamkan dirinya pada tugas-tugas sebagai Raja Neraka.

Sejak kejadian penyerangan 10 tahun lalu, Sasuke benar-benar berubah. Dia menjadi semakin dingin dan tak pernah lagi tersenyum. Jika dulu dia hanya bersikap seperti itu pada bangsawan lain. Tapi kini ia bersikap begitu pada semua orang bahkan pada Itachi, Hinata bahkan Sakura. Selama 5 tahun pertama, Sasuke hanya menghabiskan waktunya menunggu Naruto bangun. Dia tak mau meninggalkan sisi sang gadis rubah sedetikpun.

Itachi harus menghajarnya habis-habisan hingga babak belur agar sang adik sadar. Bahwa tak ada gunanya berdiam tanpa melakukan apapun.

"Bagaimana kalau ia bangun saat aku tak ada?" kata Sasuke tanpa ekspresi. Tak peduli sudut bibirnya yang berdarah setelah menerima pukulan Itachi.

"Dia akan menunggumu," jawab Itachi. Sasuke tak menjawab hanya bangun dan kembali duduk di samping ranjang sang gadis. Keadaan Sasuke benar-benar berantakan. Rambutnya yang panjang di belakang punggung terlihat berantakan. Dengan jenggot yang memanjang menutupi ketampanan sang pangeran.

"Lihat dirimu, Sasuke! kau terlihat seperti gelandangan! Kapan kau terakhir membersihkan diri, hah?" kata Itachi sambil menarik kerah Sasuke. sang pangeran hanya memalingkan wajah dan kembali memandang wajah Naruto yang masih tertidur dengan tenang.

"Kau pikir Naruto akan senang saat bangun dan melihatmu seperti ini? Kau membuatku ingin muntah!" bentak Itachi kasar. Ini pertama kalinya ia berkata sekasar itu pada sang adik.

"Aku tak peduli," Jawab Sasuke datar.

"KAU-" Itachi sudah akan menghajarnya lagi sebelum ia tiba-tiba terbatuk. Dan ia harus menutup mulutnya dengan tangan saat ia muntah darah. Meski begitu, cairan merah itu berhasil menyusup dari sela-sela jari sang raja dan menetes di lantai bawah Sasuke. hal itu membuat Sasuke menoleh dan menatap sang kakak yang masih terbatuk. Neji sudah ada disampingnya dan memberikan sebuah saputangan putih yang segera penuh noda merah.

"Itachi?" panggil Sasuke, untuk pertama kalinya berpaling dari sosok Naruto dan benar-benar memandang sang kakak. Dan ia baru menyadari Itachi terlihat lebih kurus dari yang ia ingat, ia juga lebih pucat dengan garis wajah yang berkerut permanen karena rasa khawatir.

"Itachi, kau baik-baik saja?" kata Sasuke sambil berdiri menghampiri sang kakak.

Itachi hanya menampik tangan Sasuke dan segera pergi meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan apapun lagi.

Keesokan harinya, Itachi terkejut setengah mati saat melihat sang adik, sudah bercukur dan memotong rambut, memasuki ruang singgasana dengan baju rapi , Mengambil setumpuk laporan dari meja Itachi dan duduk di kursinya dan mengerjakan laporan. Tak peduli pada raja Neraka dan para pelayan dan prajurit disana yang melongo melihat sikapnya.

Itachi tak mengatakan apapun. Hanya kembali mengerjakan laporan yang kini jauh sedikit dengan senyum kecil di bibirnya.

Malam itu ia baru tahu kalau Hinata datang setelah ia pergi dari kamar Sasuke, dan sambil menangis –menurut apa yang dikatakan Neji- menceritakan tentang penyakit yang di derita Itachi. Penyakit yang membuatnya tak akan pernah jadi pewaris tahta. Pewaris tahta yang sebenarnya adalah Sasuke. namun ia terpaksa mengambil posisi Raja setelah kedua orangtuanya terbunuh. Hanya sementara, hingga Sasuke siap menjadi Raja yang selanjutnya. Dan kondisinya semakin memburuk karena ia harus mengerjakan semua tugasnya dan tugas Sasuke selama beberapa tahun terakhir.

Sejak hari itu, Sasuke datang setiap hari tanpa terkecuali dan mengerjakan semua laporan miliknya dan Itachi. Beberapa bulan kemudian Itachi turun tahta dan digantikan oleh Sasuke.

Meski begitu, Sasuke tak pernah tersenyum atau menampakkan emosinya. Hanya saat Itachi menikah dengan Hinata, ia melihat sedikit raut bahagia di wajah sang adik, dan senyuman yang sangat tipis seperti benang.

Itachi kembali memandang wajah sang adik yang kini terlihat lebih dewasa, wajahnya masih tanpa ekspresi saat membaca dokumen dan menulis beberapa laporan.

"Apa yang kau lakukan disini, bukankah seharusnya kau beristirahat?" tanya Sasuke tanpa menoleh. Itachi tersenyum.

"Hei... aku tak sesakit itu hingga harus selalu tidur di atas ranjang." Kata Itachi. Sasuke tak merespon.

"Istirahatlah, Sasuke," kata Itachi dengan nada serius.

"Hn, tinggal sedikit lagi," jawab Sang Raja neraka.

"Istirahatlah, aku tak mau kau sakit juga. Aku bisa menyelesaikan sisanya." Kata Itachi.

Sasuke tak menjawab. Hanya terus mengerjakan laporannya.

Hingga dokumen ditangannya menghilang dan beralih di tangan Itachi.

"Kalau kau tak segera pergi, aku akan membakar seluruh dokumen ini," kata Itachi serius.

Sasuke mendongak dan menatap sang kakak. Seolah berkata betapa merepotkannya kalau ia harus menyalin ulang semua dokumen itu, hingga ia melihat raut khawatir di wajah Itachi. Sasuke menyandarkan punggungnya dan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Sebelum berdiri dan melangkah pergi.

"Terserahmu, jangan memaksakan diri mengerjakan semua, atau Hinata akan membunuhmu," kata Sasuke sebelum menutup pintu.

Itachi hanya tersenyum sebelum duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Sasuke. sambil melanjutkan pekerjaan sang adik mau tak mau Itachi kembali memikirkan sang gadis rubah.

"Kuharap kau segera bangun, Naruto,"

.

.

.

Sang Raja Neraka itu berjalan pelan melewati koridor istana Neraka yang sepi. Hingga ia berhenti di depan sebuah kamar. Ia terdiam sejenak sebelum perlahan membuka pintu dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun dengan cepat perasaan itu langsung lenyap saat melihat sosok Naruto yang masih lelap tertidur.

"Aku kembali," Kata Sasuke sambil menutup pintu.

Ia berjalan masuk dan segera duduk di tepi ranjang. Menatap sosok gadis yang masih tidur di depannya dalam diam. Naruto masih sama sejak 10 tahun lalu, masih terlihat cantik dengan kulit tan dan tiga goresan tipis di pipinya, mata biru yang selalu ia kagumi masih tertutup kelopak sewarna madu, dan rambut pirangnya kini sudah memanjang hingga mata kaki, tertata rapi di samping kanan kiri tubuhnya. Ia mengenakan gaun putih polos tanpa lengan dengan selimut putih yang menyelimuti separuh tubuhnya. Sasuke menyibak helaian pirang di dahi sang gadis. Menatap bagaimana bahu kecil itu akan bergerak pelan seirama dengan nafas sang gadis. Setelah beberapa saat, ia menggengam tangan berkulit tan itu dan mendekatkannya di bibir. Ia menciumnya lembut sebelum berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.

Saat kembali, Sasuke sudah terlihat segar dengan mengenakan celana panjang dan kemeja tidur berwarna putih.

Ia membuka selimut yang menutupi separuh tubuh Naruto sebelum ikut naik dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Ia meraih tubuh Sang gadis dan membaringkannya di pelukannya. Sambil membelai rambut pirang yang kini telah memanjang, Sasuke menempelkan bibirnya di ujung kepala Naruto yang bersandar di dadanya dan memejamkan mata. Merasakan detakan teratur yang menjadi irama faforitnya dan aroma matahari yang selalu bisa membuatnya tenang.

Hanya di saat itu, Sasuke melupakan semua masalah dan tugasnya sebagai raja neraka dan membiarkan dirinya terlelap.

.

.

.

Saat Sasuke merasakan kesadarannya perlahan kembali, ia hanya mengeratkan pelukannya dan mengambil nafas dalam. Masih memejamkan mata dan berharap waktu bisa berhenti.

Setelah beberapa saat, sang raja neraka itu menghela nafas dan membuka mata. Menatap jendela yang terlihat terang. Cahaya matahari yang suram terlihat di sela tirai yang sedikit terbuka. Menyadari ia sudah sedikit terlambat dari biasanya. Sasuke menghela nafas.

Satu hari lain yang harus ia lewati tanpa Naruto.

Sasuke kembali menghela nafas sambil mencium dahi Naruto. Ia menyibak selimut dan bersiap bangun sebelum tubuhnya menegang saat melihat safir itu. Ia mengerjap beberapa saat sebelum memejamkan mata dan menghitung hingga sepuluh. Ini bukan pertama kalinya ia membayangkan Naruto bangun, mungkin ia masih bermimpi atau dia belum benar-benar hitungan berakhir, Sasuke bersiap merasakan kekecewaan yang selalu ia rasakan sebelum membuka mata.

Tapi safir itu masih menatapnya. Hanya mengedip lambat sebelum kembali menatapnya.

"N-naruto?" panggil Sasuke dalam bisikan. Dengan tangan gemetar ia menyibak rambut pirang sang gadis dan membelai pipi berkulit madu dalam pelukannya. Hal itu membuat sang gadis memejamkan mata dan tersenyum.

Jantung Sasuke hampir berhenti berdetak saat melihat senyuman itu. Sambil tertawa pelan ia memejamkan mata dan memeluk sang gadis rubah. Tak menyadari setetes cairan bening yang jatuh di wajah pucatnya, ia mencium setiap jengkal wajah Naruto sebelum membuka mata. Mendapati safir itu masih menatapnya.

"Selamat datang, kau membuatku menunggu lama, Dobe."

.

.

.

"HEI, ASUKA!"

Sosok pendek bermata hitam itu menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Dan sebuah senyuman langsung menghiasai wajah putih itu saat melihat seorang gadis berambut pirang tengah melambaikan tangannya di ujung koridor sekolah. Gadis itu terlihat menawan dengan seifuku berwarna darkblue dan rambu pirang panjang yang dibiarkan tergerai.

Sambil mengangkat tas dan menyandarkannya di atas bahu, sosok yang dipanggil Asuka itu segera berjalan menghampiri sang gadis yang tengah membawa setumpuk buku.

"Apa ini, Naruto?" tanya siswa berambut hitam pantat ayam itu sambil mengambil alih tumpukan buku tebal yang dibawa sang gadis.

"Itu buku materi dari perpustakaan, Kakashi-sensei memintaku membawanya ke ruang guru," kata Naruto sambil berjalan di sisi sang raven yang mulai berjalan.

"Dasar guru pemalas itu... selalu saja menyuruhmu mengerjakan hal tak penting," gerutu Asuka, "Kau juga, mau-maunya disuruh-suruh seperti itu," lanjutnya sambil melirik gadis bermata biru disampingnya. Tiga garis tipis di pipi berkulit madu yang biasa ia lihat kini menghilang.

"Mau bagaimana lagi, dia wali kelas kita kan," jawab Naruto.

"Ini! Cepat berikan padanya, aku tunggu disini," kata Asuka sambil menyodorkan tumpukan buku itu dan berdiri bersandar di dinding.

"Eh, kau tak menemaniku?" tanya Naruto sambil memandang kekasihnya itu.

"Aku malas melihat muka mesumnya, dan lagi aku tak ingin secara tidak sengaja menyihirnya jadi kodok," jawab Asuka sambil memalingkan muka.

Naruto hanya mengedikkan bahu dan memasuki ruang guru.

Sambil menunggu Naruto, Asuka berpaling menatap keluar jendela. Dari lantai dua itu ia bisa melihat para murid yang berjalan pulang keluar gerbang. Untuk sesaat ia bertanya mengapa dulu ia sangat ingin melakukan semua ini. Dunia manusia itu memang indah tapi membosankan.

"Hei, tadi itu Naruto-senpai kan? Dia terlihat semakin cantik kalau dari dekat ya,"

Dan menjengkelkan.

Asuka melirik dua siswa yang baru keluar dari ruang guru dan kini tengah berpura-pura membaca dokumen di tangannya sambil mengintip ke dalam ruangan.

"Iya, tapi kudengar dia sudah punya pacar," kata salah satu yang berambut coklat.

"Benarkah? Sayang sekali, semoga saja mereka cepat putus," satunya yang berambut hitam menimpali.

Tiga sudut siku-siku muncul di dahi Asuka.

Sabar... tak akan bagus kalau tiba-tiba ada yang menemukan mayat di dalam sekolah.

"Sssst... kudengar pacarnya itu sangat menyeramkan loh,"

"Eh? Jangan-jangan Naruto-senpai diancam agar mau jadi pacarnya,"

Tiga sudut siku-siku bertambah di dahi Asuka.

Mungkin tak apa kalau tak ada mayat yang bisa ditemukan, kalau ia memakai amaterasu tak akan meninggalkan sisa.

"Mungkin saja, aku juga belum pernah melhatnya, eh... dia ke arah sini," kedua siswa itu menggumamkan 'siang-senpai' saat Naruto lewat dan dibalas sang gadis. Membuat keduanya bersemu sebelum mereka bertemu pandang dengan Asuka yang berdiri berlawanan dengan mereka. Yang hanya bersedekap dan menatap kosong mereka dengan aura membunuh yang pekat.

"Ayo, Asuka!" panggil Naruto sambil menarik tangan sang raven.

Sambil masih menatap kedua manusia itu, Asuka berjalan merangkul bahu Naruto dan menyeringai dengan mata semerah darah.

Deg

Dua siswa itu langsung membeku dengan wajah pucat pasi, sebelum berlari pergi menjauh.

"Kau kenapa, Asuka?" tanya Naruto saat memandang seringaian di wajah Asuka.

"Ada dua tikus yang lucu," jawab Asuka sambil memandang sang gadis. Matanya sudah kembali sehitam onix. Ia sedikit mengerut saat menyadari Naruto lebih tinggi darinya. Ia baru ingat kalau tubuh manusianya ini benar-benar payah.

"Eh, mana? Memang disini ada tikus?" tanya Naruto.

"Ada, dan aku sedang mencoba mencari cara membunuhnya sekarang," kata Asuka sambil tersenyum tanpa dosa.

Naruto menghentikan langkahnya dan memeluk sang raven, "Aaaah, Asuka memang paling imut,"

"Hentikan, Dobe. Jangan memanggilku dengan kata-kata memalukan seperti itu," kata Asuka sambil melepaskan pelukan Sang gadis. Lalu berjalan meninggalkan Naruto yang merengut.

"Asukaa...!" panggil Naruto sambil mengejar sang raven.

"Kenapa kau bersikeras memanggilku dengan nama itu sih? Aku kan tak perlu menyamar lagi, kau bisa memanggilku dengan nama asli," kata Asuka sambil menuruni tangga.

"Ne, tapi aku menyukai Asuka," jawab Naruto membuat tiga garis siku-siku muncul di dahi sang raven. Ia menghentikan langkahnya dan mendorong sang gadis hingga bersandar di dinding tangga.

"Hoo... jadi kau lebih menyukainya ya?" sebuah suara lain terdengar diikuti sepasang sayap hitam yang muncul di punggung Asuka.

Mata biru itu balas memandang sepasang mata semerah darah yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya, wajah pucat sang raja neraka itu tersenyum menyeringai sambil memperangkap Naruto di antara lengannya. Tubuhnya yang tinggi membuat sang gadis mendongak untuk menatapnya.

"Tentu saja... aku menyukai kalian berdua," jawab Naruto sambil tersenyum, ia sedikit berjinjit dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman singkat.

"Ayo pulang, Sasuke. dan sembunyikan sayap itu, aku tak mau penggemarmu bertambah saat melihatmu seperti ini," kata Naruto dengan muka merah den mendorong Sasuke yang masih membeku. Sasuke perlahan menyentuh bibirnya dan tersenyum. Jarang sekali Naruto mau menciumnya di sekolah.

Saat ia berbalik dan berjalan di samping Naruto, sosoknya sudah kembali menjadi manusia.

"Jadi kau cemburu ya?" tanya Asuka sambil menatap wajah Naruto yang masih merona.

"Itu masih lebih baik daripada cemburu pada diri sendiri, weeks" jawab Sang gadis sambil menjulurkan lidahnya.

"Aku hanya tak suka kau memanggil nama lain seperti kau memanggilku, itu menyebalkan tau, aku bahkan lupa kalau namaku Asuka," gerutu sang raven.

"Kau menggelikan,Teme,"

"Aku bahkan pernah berpikir untuk membunuh semua manusia yang bernama Asuka, kau tahu,"

"Aaaah... Asuka yang cemburu memang lebih imut,"

"Diam, Dobe,"

Dan gadis itu hanya tersenyum saat kedua bibir mereka kembali bertemu. Kali ini dengan sepasang Onix yang seperti langit malam.

"Ayo pulang," .

.

.

.

### The End ###

.

.

Yoooooossssshaaaaaaaaa!

SELESAI! AKHIRNYA SELESAI JUGAAAAAA ! *sujudsyukur* maaaaf klo chap ini mengecewakan . dan ASUKAAA o siapa yang kangen sama dia?

Ini pertama kalinya saya namatin fic multichap saya. Moga endingnya gak mengecewakan ^o^. Dan maaf klo chap ini jelek dan agak aneh. Saya udah lumayan lama ga nulis ^^a

Saya mau berterima kasih pada semuuuuaaaaaa yang udah dengan hati lapang dan kesabaran tak terhingga buat nunggu chap ini ^^ *ditendang*

Sebagai permintaan maaf saya akan buat satu spesial chap yang saya usahakan publish dalam waktu dekat^^ *tenang saja, ini udah setengah jadi kok*

Saya tau fic ini banyak sekali kekurangan... dan ini fic pertama saya di ffn... banyak sekali hal yang saya sesali *sempat pengen ngerombak ulang* fic paling kacau menurut saya *Oocnya itu... pemilihan charanya haduuuh* n masih nyesel kenapa saya g banyak masukin Kakashi-sensei... meski begitu masih ada yang mau baca arigatou gozaimasu... *deep bow*

Maukah memberi review untk chap terakhir ini? *aaah... saya bakal kangen ma fic ini*

REVIEW PLEASE...