Tenshi 39 Production
Present
Fantasy Adventure
Fanfiction
"Kau sendiri?" tanya Donghae. "Kau sudah kelas 12, sebentar lagi kau akan mendapatkan hasil ujianmu. Apa yang akan kau lakukan setelah itu?"
"Aku ingin menguasai dunia ini," jawab Heechul. Donghae menolehkan kepalanya dan terdiam saat melihat raut wajah datar yang ditunjukkan Heechul. "Aku ingin menguasai dunia ini dan aku ingin semuanya tunduk padaku.."
"Hahahaha.." Donghae tertawa lepas dan Heechul pun menatap Donghae masih dengan wajah datarnya. "Kau terlihat sangat serius sekali mengatakannya. Aku harap kau akan meraih mimpimu itu." Donghae menepuk pundak Heechul pelan lalu melanjutkan makannya.
"Pasti.." gumam Heechul sembari menyeringai. "Dan kau yang akan membantuku meraihnya, Anthropinos.."
FINAL ZONE
Chp. 10
Sansan Kurai
2014
~Pukul 23.22~
Langit nampak bersih malam ini. Tak ada awan maupun bintang, hanya sebuah bulan yang menghiasi langit malam ini. Donghae yang memang sedang bosan memilih untuk berjalan-jalan menggunakan sepeda untuk mencari udara segar. Ia ingin menjernihkan pikirannya setelah seminggu ini menjalani ujian kenaikan kelas yang dirasa begitu berat baginya.
Jalanan pusat kota Seoul masih terlihat sangat ramai oleh kendaraan dan juga manusia walau jam hampir menunjukkan tengah malam. Donghae sedikit merasa terganggu dengan semua itu. Ia pun akhirnya mengarahkan laju sepedanya menuju sungai Cheonggyecheon, walau ia sendiri tahu disana pasti tak kalah ramainya dengan pusat kota. Tapi hanya sungai itu yang jaraknya tak terlalu jauh dari pusat kota.
Dan benar apa dugaannya tadi. Sungai Cheonggyecheon terlihat ramai. Sangat ramai malah. Donghae pun mendesah pelan dan terus melajukan sepedanya dan berhenti ditengah-tengah jembatan batu yang melintang diatas sungai Cheonggyecheon. Ia turun dari sepeda dan menyandarkan sepeda itu ditembok. Donghae menoleh ke kanan dan ke kiri lalu melongok kebawah. Dilihatnya ada belasan pasang muda-mudi berada dibawah sana menikmati aliran sungai Cheonggyecheon yang tenang.
Ditumpukannya sikunya pada pinggir jembatan lalu ia beralih menatap langit malam. Ia kembali mendesah pelan. Entah kenapa ia kembali teringat akan Hyukjae. Sudah seminggu ia tak bertemu dengan Hyukjae belum lagi Hankyung yang seminggu lalu dilihatnya di sekolah pun tak menunjukkan batang hidungnya lagi. Ia jadi merasa kesepian.
"Apa.. mereka membuangku karena tak ingin aku terlibat lebih jauh lagi?" tanya Donghae pada dirinya sendiri. "Tapi.. kenapa mereka tak menghapus ingatanku? Bukankah mereka mengatakan akan menghapus ingatanku? Lalu kenapa—"
"HOI, LEE DONGHAE!"
Donghae menolehkan kepalanya ke kiri dan ia terkejut saat mendapati Heechul tengah melambaikan tangan kearahnya. Ia terlihat sedang bersama seseorang. Donghae pun melambaikan tangannya, menyuruh mereka untuk mendekat.
"Hei, kita bertemu lagi Donghae," sapa Heechul sembari menepuk pundak Donghae pelan. "Apa yang kau lakukan disini tengah malam begini?"
"Mencari udara segar," jawab Donghae.
"Ahh.. begitu.. kau memang terlihat sedang suntuk," ucap Heechul. "Ohh.. ini.. aku kenalkan.. adikku.. Cho Kyuhyun.."
"Adik?" tanya Donghae sembari menatap pria berkulit pucat disebelah Heechul.
"Ahh... adik beda Ibu tentunya," imbuh Heechul saat melihat kebingungan diwajah Donghae. Terlihat seringaian diwajah Heechul saat mengatakan itu.
"Ahh.. Aku Lee Donghae," ucap Donghae pada Cho Kyuhyun. Pria pucat itu hanya menganggukkan kepalanya sekali tanpa tersenyum sedikitpun.
"Cho Kyuhyun.."
"Jangan diambil pusing, dia memang orangnya dingin," ucap Heechul. "Jadi.. kenapa kau tak memanggilku untuk menemanimu? Aku kan bisa menghiburmu.. Bukankah kita sudah berteman?"
"Ini sudah hampir tengah malam, aku masih punya sopan santun untuk tidak mengganggu orang lain di tengah malam seperti ini," ucap Donghae.
"Ck!" Heechul berdecak pelan. "Aku ini temanmu, aku akan menemanimu kapanpun kau mau, Donghae.."
"Terserah kau saja," desah Donghae pelan. Ia kembali memperhatikan pasangan-pasangan bahagia dibawah sana. Entah kenapa saat melihat pasangan-pasangan itu dada Donghae terasa amat sakit. Seakan ada yang tengah menikam dadanya dengan sebilah pedang.
"Kau cemburu pada mereka?" Pertanyaan dari Kyuhyun itu membuat Donghae menolehkan kepalanya dan menatap bocah pucat itu sembari mengedipkan mata dengan polosnya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak, Pa—ahh... Kyu.." tegur Heechul sembari melirik Donghae sekilas. Kyuhyun hanya mengedikkan bahunya lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding batu sembari melipat kedua tangannya didepan dada. "Apa kau terganggu dengan sesuatu?"
Donghae menggelengkan kepalanya sesaat setelah Heechul menanyakan pertanyaan itu.
"Ayolah, ceritakan padaku.. siapa tahu aku bisa membantumu.. bagaimana?"
"Hahhh..." Donghae mendesah keras. "Aku tak tahu harus menceritakannya dari mana dan aku yakin kau tak akan mempercayai semua ini.."
"Jika kau hanya membutuhkan sebuah saran, kau tak perlu membuat orang itu mempercayai ceritamu," ucap Heechul. "Ayo, ceritakan padaku!"
"Hmm.. aku menyukai seseorang.." mulai Donghae. "Tapi.. aku tak akan pernah bisa bersama dengannya jika aku tidak berada disana." Donghae menunjuk langit malam. Heechul serta Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan terdiam saat menatap langit malam.
"Aku yakin semua ini adalah kesalahan.." ucap Donghae. "Aku seharusnya tak boleh menyukainya.. dia.. dia terlalu berharga untuk ku cintai.. dia tak pantas mendapatkan cinta dari seseorang yang pernah membencinya."
"Siapa orang itu? Apa dia sudah mati?" tanya Heechul sembari menatap Donghae.
"Emm.." Donghae nampak bingung mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan. "Dia—"
"WOI!"
Donghae nampak berjengit saat seseorang menepuk pundaknya dengan amat keras, belum lagi teriakan yang sungguh memekakkan telinga hingga membuat orang-orang disekeliling mereka menoleh ingin tahu. Donghae menolehkan kepalanya dan sangat-sangat terkejut saat melihat sosok bertubuh besar dibelakangnya.
"K—k—kau.." Donghae tergagap sembari membelalakkan matanya.
"Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini? Ayo pulang.."
Tanpa banyak bicara, orang bertubuh besar itu segera menarik Donghae pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan keberadaan Heechul dan juga Kyuhyun.
"Tuu—tunggu Shindong.."
Namun Donghae tak bisa melancarkan protesnya karena Shindong menariknya dengan kuat dan berjalan cepat menjauhi keramaian itu.
"Dia dilindungi oleh Archangel itu, Pangeran.."
"Aku tahu Araf! Cepat kau beritahu dia!"
"Baik.."
Kedua sosok itu menghilang dari jembatan batu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
[9 Juni 2013]
~Pukul 00.43~
"Lepaskan!" tegas Donghae sembari mengibaskan tangan besar Shindong dari lengannya. Shindong pun melepaskan genggamannya dan berdiri diam menatap Donghae. Jalanan itu sepi dan juga gelap, itulah yang membuat Donghae berani meminta Shindong untuk melepaskannya.
"Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Donghae sembari menatap mata jernih Shindong. Tatapan yang sangat menusuk menurut Shindong. Namun Shindong tetap berdiri dengan tenang, seakan tak terganggu dengan tatapan Donghae.
"Tak ada yang perlu aku jelaskan padamu, Anthropinos," jawab Shindong. Donghae mengepalkan jemarinya.
"Tak ada?" Donghae berkata lirih.. amat sangat lirih.. namun masih dapat ditangkap oleh gendang telinga Shindong. "Lalu.. lalu kenapa aku berada ditempat ini? Bukankah kalian mengatakan akan menghilangkan ingatanku jika aku dikembalikan ke bumi? Tapi kenapa kalian tak menghilangkan ingatanku? Kenapa kalian membiarkanku menyimpan memori ini? Apa yang kalian inginkan? Apa kalian akan melakukan sesuatu padaku? Apa kalian—"
"Tenanglah, Anthropinos.."
Donghae memiringkan kepalanya sedangkan Shindong menolehkan kepalanya ke belakang. Nampaklah Kibum beserta dengan peri pelindungnya Siwon lalu Eunhyuk bersama dengan Henry dan Ryeowook berdiri tak jauh dibelakang Shindong.
Donghae seketika terdiam saat melihat Eunhyuk berdiri disana sembari tersenyum kearahnya. Entah kenapa, ia merasa terhipnotis oleh senyuman itu.
"Kita bertemu lagi, Lee Donghae.." sapa Kibum. "Kulihat kau baik-baik saja.. yah.. kurasa tidak dengan hatimu.."
Donghae terkesiap saat mendengar sindiran yang meluncur dari bibir Kibum. Dipalingkannya wajahnya yang mulai memerah. Kibum mendengus pelan melihat kelakuan Donghae.
"Jadi.. kau bertanya pada Shindong hyung kenapa kau kembali ke Anthropinos dan kenapa ingatanmu tak dihilangkan?" tanya Kibum. "Pertanyaan yang sudah aku prekdisikan sebelumnya dan aku rasa Hankyung hyung tak mengatakan apapun padamu saat bertemu denganmu, benarkan?" Donghae menganggukkan kepalanya pelan. Entah kenapa dia merasakan sedikit ketakutan dalam hatinya saat berhadapan dengan Kibum.
"Kau kami kembalikan ke Anthropinos hanya untuk menjaga keselamatanmu," jelas Shindong. "Kami tak ingin keberadaanmu diketahui oleh para petinggi langit."
"Tapi kenapa kalian tak menghilangkan ingatanku?" tanya Donghae.
"Apakah itu yang benar-benar kau inginkan?" Pertanyaan Kibum itu membuat Donghae terdiam. Sejujurnya memang ia tak ingin ingatannya dihilangkan. Ia masih ingin mengingat semua itu. Kibum kembali mendengus. "Aku tahu, kau tak ingin ingatanmu dihilangkan. Kami masih memberi kesempatan padamu untuk mengingat kami semua karena semua ini masih belum selesai. Tak ingatkah kau bahwa kami baru akan menghilangkan ingatanmu setelah semua ini selesai? Aku rasa kau masih mengingat dengan jelas perkataan itu."
"Jadi.. pada akhirnya ingatanku tetap akan dihilangkan?" gumam Donghae.
"Itulah yang harus dilakukan," ucap Siwon. "Jika tidak posisi Pangeran akan terancam karena ada seorang Anthropinos yang mengetahui Angellicty."
"Lalu.. kenapa kalian mengembalikanku disaat aku tengah ujian? Bukankah Sungmin mengatakan padaku bahwa aku sudah tinggal di Angellicty selama 3 bulan? Kau juga mendengarnya bukan?" Donghae menunjuk Kibum.
"Karena dihari itulah Pangeran membawamu ke Angellicty," jawab Siwon sembari menatap dingin Donghae. "Jika kau tidak dikembalikan dihari itu, maka roda kehidupan akan berubah."
"Sebaiknya kau pulang," perintah Kibum. "Ini sudah terlalu malam dan sangat berbahaya untukmu berada diluar saat ini."
"Apa seseorang sedang mengincarku?" selidik Donghae sembari menyipitkan matanya kearah Kibum.
"Ada atau tidak adanya yang mengincarmu, malam hari sangat berbahaya untukmu," jawab Shindong. "Sekarang lebih baik kau pulang ke rumahmu." Donghae diam sejenak menatap ke-6 orang itu lalu ia pun mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Donghae merasa otaknya kosong saat ini. Bola matanya bergerak gelisah. Donghae berhenti melangkah setelah berjalan 20 meter dan ia menolehkan kepalanya. Ia bisa melihat hanya tinggal Eunhyuk dan juga Henry disana, mengawasinya.
"Berhati-hatilah, Hae.." ucap Eunhyuk sebelum akhirnya ia menghilang bersama dengan Henry.
"Berhati-hati.. dari apa?" gumam Donghae pelan dengan tatapan mata kosong.
~Pukul 05.35~
"Hae.. Donghae.."
Donghae menggeliat pelan. Perlahan ia membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkannya pelan. Ia masih merasa mengantuk dan juga lelah tentunya. Semalam setelah ia berpisah dengan Archangel itu, ia pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Ia lupa karena meninggalkan sepedanya di atas jembatan batu. Namun ia sedikit kesal saat melihat sepedanya telah terparkir di depan pintu pagarnya. Ia yakin, salah satu dari Archangel itu yang meletakkannya disana.
Donghae mendesah pelan lalu bangkit dari ranjangnya dan segera menuju pintu kamarnya yang terus saja diketuk oleh Ibu.
"Astaga! Kau baru bangun, Nak?" tanya Ibu saat melihat Donghae mengucek matanya pelan.
"Ada apa Bu?" tanya Donghae sembari menguap pelan.
"Cepatlah mandi, Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu," jawab Ibu sembari tersenyum dan mengusap kepala Donghae pelan. Donghae mengangguk dan kembali berjalan menuju ranjangnya setelah ia menutup pintu.
Donghae kembali merebahkan dirinya diranjang dan menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya. Kejadian semalam masih berkeliaran diotaknya. Ia yakin, sangat yakin kalau mereka menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah sangat berbahaya untukku?" gumam Donghae sembari mengangkat tangannya dari kedua matanya. Donghae mengangkat tubuhnya dari ranjang dan duduk diatasnya. "Aku harus bertemu salah satu dari mereka!"
Donghae pun bergegas mengambil handuk dan melesat ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan siap dengan seragam sekolahnya, ia menuju ruang makan. Ayah serta Ibunya telah berada disana.
"Pagi.." sapa Donghae sembari duduk disalah satu kursi yang masih kosong.
"Kau terlihat agak pucat, kau sakit?" tanya Ayah sembari meraba dahi Donghae. Donghae hanya menggelengkan kepalanya dan mulai mengambil roti bakar yang telah tersedia di piring saji. Ia mengambil selai coklat dan mengoleskannya keatas roti.
"Ayah.. Ibu.." panggil Donghae pelan sembari menghentikan kegiatannya mengolesi roti itu.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibu. "Kau sedang ada masalah? Ceritakanlah pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu, Nak."
"Tidak Bu, aku sedang tidak ada masalah.. Hanya saja.." Donghae berhenti berucap dan menatap wajah kedua orang tuanya. "Tiba-tiba aku merasa sangat merindukan kalian.."
"Kau ini.." Ayah mengusap kepala Donghae agak keras. "Ayah kira kau sedang ada masalah..."
Donghae hanya tersenyum mendengar ucapan sang Ayah.
'Dan aku sangat menyayangi kalian..' batin Donghae dan ia mulai mengolesi rotinya lagi dengan selai.
~Pukul 14.20 di taman pusat kota~
"Panasnya..." seru Donghae sembari mengipasi tubuhnya dengan sebuah buku. Sejauh mata memandang ia hanya bisa melihat taman itu dipenuhi oleh pohon maple. Donghae berjalan lelah menuju bangku taman yang masih kosong. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memperhatikan orang-orang yang berjalan hilir mudik. Namun tiba-tiba matanya berhenti pada dua sosok yang tak lain adalah sang Archangel Kesuburan, Shindong bersama dengan peri pelindungnya, Ryeowook.
Dengan langkah ragu Donghae mendekati keduanya yang tengah berteduh dibawah pohon maple. Wajah keduanya nampak memancarkan kebahagiaan. Donghae yakin, siapapun yang melihat wajah itu pasti akan merasakan kebahagiaan.
"Ha—halo.." sapa Donghae pelan.
"Ohh.. Lee Donghae.. kita bertemu lagi.." sahut Shindong sembari tersenyum. Ia kini tengah mendongak memperhatikan daun pohon maple yang berwarna orange. "Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Pertanyaanku semalam.." mulai Donghae. "Apa benar-benar ada yang mengincarku?"
Shindong menegakkan kepalanya dan mentap Donghae dengan tatapan teduh. Ia membuang nafas pelan.
"Aku tak punya jawaban untuk pertanyaanmu itu Lee Donghae," jawab Shindong. "Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati."
"Berhati-hati? Berhati-hati dari apa?" tanya Donghae. "Semalam Hyukjae juga mengatakan padaku untuk berhati-hati, tapi berhati-hati dari apa?"
"Dari semuanya.." Donghae mengalihkan tatapannya ke Ryeowook. "Keadaan sedang kacau akhir-akhir ini dan Archangel sedikit kewalahan untuk menjaga agar Anthropinos tetap aman dan tak tersentuh oleh mereka. Namun mereka tetap saja bisa meloloskan diri. Yang aku tak paham, kenapa masih ada yang bisa melarikan diri? Padahala Archangel sudah bertugas siang malam."
"Mereka itu licik, Ryeowook.." sahut Shindong. "Tak ada yang bisa mengalahkan kelicikan mereka."
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Donghae.
"Kurasa kau tahu jawabannya tanpa aku harus menjawabnya, Lee Donghae.." jawab Shindong sembari tersenyum. "Well, jika saatnya tiba, aku harap kau sudah siap Lee Donghae.. sampai jumpa.."
"Tung.. gu.." panggil Donghae dengan lemas karena kedua sosok dihadapannya kini telah menghilang. "Sial! Ini sama sekali tak memberikanku jawaban!"
Donghae membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya pulang ke rumah dengan otak yang terus saja bekerja. Memikirkan kembali kejadian-kejadian yang dialaminya dari awal hingga akhir. Kadang Donghae pun menggumam tak jelas dan membuat orang yang berjalan melewatinya menatapnya dengan tatapan aneh.
"Hahh! Tidak mungkin!" seru Donghae dengan keras membuat orang-orang disekelilingnya berhenti dan menatapnya ingin tahu. Donghae mengambil langkah cepat meninggalkan kawasan ramai itu menuju sekolahnya yang berjarak 2 kilometer dari tempatnya berada saat ini.
"Ya, Pangeran," angguk Shindong. Setelah pertemuan singkatnya dengan Donghae, Shindong pun pergi mencari Kibum di aula pribadi Kibum. "Kita harus cepat sebelum Anthropinos itu pergi mencari tahu sendiri. Sepertinya dia ingin memastikan sendiri apa benar Cho Kyuhyun yang disebut Heechul adalah Cho Kyuhyun yang kita kenal atau bukan."
"Ini benar-benar tidak baik.." gumam Kibum. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan kesana kemari. "Siwon hyung."
"Ya Pangeran," jawab Siwon sembari membungkuk di depan Kibum. "Kumpulkan para Archangel, kita turun ke Anthropinos sekarang."
"Baik!"
Setelah membungkuk sekali, Siwon segera undur diri dari hadapan Kibum.
"Sepertinya serigala itu benar-benar ingin menggunakan Anthropinos itu untuk menguasai dunia," sahut Ryeowook. Shindong menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Ryeowook. "Aku jadi heran, apa yang dilakukan Kyuhyun?"
"Tidak tahu," geleng Shindong.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati pada serigala licik itu!" desis Kibum sembari mengepalkan jari jemarinya kuat-kuat.
"Pangeran! Pangeran!"
Kibum, Shindong serta Ryeowook menolehkan kepalanya kearah pintu masuk. Mereka bertiga nampak mengerutkan kening saat melihat Henry yang datang dengan wajah penuh peluh.
"Ada apa Hen—"
"Eunhyuk hyung diserang!" Henry memotong cepat pertanyaan Kibum.
"Diserang?" tanya Shindong.
"Diserang katamu?" tanya Kibum tak mengerti.
"Hmm.." angguk Henry. "Tadi, saat kami sedang berjaga di pos. Tiba-tiba ada awan berwarna gelap melingkupi pos kami dengan cepat. Aku tak bisa melihat apapun. Dan saat awan hitam itu menghilang, Eunhyuk hyung sudah terkapar dilantai. Semuanya terjadi begitu cepat.. sangat cepat Pangeran."
"Apa itu ditanganmu?" tanya Ryeowook sembari menunjuk tangan kiri Henry. Shindong, Kibum dan Henry mengikuti telunjuk Ryeowook dan Henry baru sadar bahwa ia membawa sesuatu untuk ditunjukkan.
"Ini berada dipos sesaat setelah Eunhyuk hyung diserang," jawab Henry sembari menunjukkan sebuah syal berwarna abu-abu. "Sepertinya ini terjatuh saat penyerang tengah menyerang Eunhyuk hyung."
Shindong serta Ryeowook saling bertukar tatap saat melihat serta mendengar penjelasan Henry. Kibum sendiri nampak terdiam seribu bahasa, seakan tak mempercayai dengan apa yang dlihat dan didengarnya saat ini.
"Pangeran, kau harus tenang.." ucap Shindong. "Jikapun Hankyung hyung yang menyerang Eunhyuk, belum tentu Hankyung hyung bergabung dengan Iblis itu."
"Bagaiman hyung bisa berkata seperti itu!" bentak Henry. "Sudah jelas-jelas syal ini milik Hankyung hyung! Dan itu sudah sangat pasti Hankyung yang menyerang Eunhyuk hyung! Belum lagi awan hitam yang berada disekeliling pos kami! Dia pasti sudah bergabung dengan Iblis sialan itu! Dia berkhianat pada kita! Sama seperti Kyuhyun!"
"Diam kau peri!" desis Ryeowook sembari menatap dingin Henry.
"Pangeran!" Siwon berjalan cepat menghampiri Kibum. "Aku tak bisa menemukan Hankyung hyung dan juga Zhoumi. Keduanya tak ada disekitar Angellicty."
"Dimana yang lain?" tanya Kibum.
"Di halaman depan," jawab Siwon.
"Kita pergi."
Kibum mendahului keluar dari aula pribadinya. Yang lain mengikuti langkah cepat Kibum.
"Pangeran.." sambut para Archangel dan juga para peri pelindung.
"Eunhyuk hyung!" seru Henry sembari berlari menghampiri Eunhyuk yang kini tengah dipapah oleh Yesung.
"Aku tak apa Henry," ucap Eunhyuk pelan.
"Kita berpencar," perintah Kibum, berusaha mengunterupsi Eunhyuk dan juga Henry. "Leeteuk hyung dan juga Yesung hyung pergi buru Hankyung hyung. Bawa pasukan terbaikmu, Yesung hyung. Sisanya.. ikut denganku."
"Baik!"
~Pukul 15.14 di depan SMA Geosang~
Donghae menumpu berat tubuhnya pada lututnya. Ia kini tengah terengah sembari menatap gerbang sekolah yang terbuka lebar. Setelah mengambil nafas banyak-banyak, Donghae kembali berlari. Ia memasuki halaman sekolah dengan bola mata yang menatap kesegala penjuru. Mencari sosok itu. Ia harus menemukannya apapun yang terjadi.
"Lee Donghae.."
Donghae hampir saja terjerembab oleh kakinya sendiri saat ia berhenti berlari dengan tiba-tiba. Dibalikkannya tubuhnya dan ia sedikit terkejut saat melihat Kibum, Eunhyuk, Shindong dan juga para peri pelindung mereka berada dihadapannya dengan pakaian mereka yang aneh.
"Ohh... kalian.." engah Donghae. "Aku sedang tak punya waktu untuk bertegur sapa dengan kalian saat ini. Aku sedang terburu-buru. Sampai jumpa."
"Tunggu!" seru Eunhyuk dan Donghae yang sudah akan berlari pun mengurungkan niatnya dan kembali membalikkan tubuhnya menatap Eunhyuk. "Kau mau kemana? Mencari siapa?"
"Bukan urusanmu!" cibir Donghae.
"Untuk apa kau menemui Kim Heechul?" tanya Kibum sembari menatap Donghae dengan wajah datarnya.
"Ohh.. bagaimana kau tahu aku akan menemuinya?" tanya Donghae. Namun melihat Kibum yang hanya diam, Donghae pun mendesah pelan. "Sebenarnya aku ingin bertemu dengan adiknya, bukan dirinya. Apakah adiknya itu—Cho Kyuhyun—adalah Kyuhyun yang kalian sebut-sebut itu atau bukan."
"Ternyata kau cukup pintar juga Anthropinos.."
Donghae terdiam saat mendengar suara itu. Entah kenapa, bagian belakang tubuhnya terasa merinding. Donghae menatap lekat wajah ke-6 sosok dihadapannya yang kini tanpa ekspresi. Donghae nampak memaki dalam hati. Ia memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya.
"Bagaimana kabarmu, Lee Donghae?"
~to be continued~
Final Zone kembali lagi! xD
entah kenapa saya excited dengan Final Zone ini..
mungkin karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan cerita-cerita fantasy.. xD
sebagai informasi saja..
ini adalah fantasy fanfiction kedua yang saya kerjakan dengan senang hati.. xD
yang pertama? tentu saja The Magic..
saya berusaha mengerjakan Final Zone dengan baik, dengan segala imajinasi gila yang berkeliaran diotak saya.. xD
awalnya, saya tidak berencana membuat Lee Donghae menjadi main cast difanfiction ini..
seperti biasa, rencana awal saya adalah membuat Park Jungsoo menjadi pemeran utamanya..
tetapi, seiring berjalannya waktu.. saya membuat fanficiton ini dengan feel dan itu membuat Lee Donghae menjadi pemain utamanya... xD
(ini aneh untuk saya, karena ini pertama kalinya saya membuat fanficiton menggunakan perasaan... :3 )
well...
direview kemarin, saya tidak menyangkan kalau ada yg menebak siapa yg menghipnotis Donghae hingga berani-berani mencium kakak saya, Park Jungsoo.. :3
sebenarnya, saya dilema untuk membuat adegan itu, karena jujur saja, itu tidak sesuai dengan style saya.. yah.. walau saya sering melihat para pria berciuman dan melakukan adegan 'ini itu'.. xD
yes, saya suka sekali menonton film/anime/drama berunsur yaoi/yuri.. xD
tapi jangan tanyakan pada saya judulnya, karena saya tak akan menjawabnya.. :P
tapi.. tapi...
saya tidak bermaksud membuat Final Zone menjadi fanfiction berbau yaoi... :3
jadi jangan berharap terlalu banyak pada itu, karena saya masih belum bisa membuat adegan yang aneh2..
namun.. jika kalian memaksa, sepertinya saya harus kembali membayangkan adegan 2 detik di film 十三人の刺客 dan mengembangkannya sendiri... xD
ohh.. dan jangan panggil saya Tenshi...
karena saya bukanlah malaikat serpeti Leeteuk... xD
panggil saja saya Sansan atau Kurai-chan.. ^^
saya akan berterima kasih jika kalian mau memanggil saya seperti itu..
tidak ada author, chingu, maupun eonni...
dan saya dengar ffn akan dihapus ya?
wah... saya sedih mendengarnya..
karena jika begitu saya tidak akan bisa memposting karya saya lagi..
karena bagi saya ffn adalah rumah bagi karya-karya saya untuk singgah..
saya juga tak ada rencana membuat rumah baru lagi karena saya sudah terlalu nyaman dengan ffn.. :(
ehem...
kita kembali ke Final Zone..
sepertinya perang antara Angellicty, Demoniac dan seorang Anthropinos akan segera dimulai...
saya tak bisa berjanji akan mengupdate chp.11 dengan cepat karena adegan perang sangat sulit untuk saya kerjakan..
tapi saya akan berusaha dengan keras untuk mengerjakannya dengan baik... ^^
well...
saya sudah terlalu panjang mengoceh...
sampai jumpa di chp.11, dear.. :*
