Chapter 2 : Blind Date 1
"Apa maksudmu tadi?" seru Ciel saat dia sudah ada dalam porsche silver Sebastian yang membawa mereka menuju rumah mereka di Pentonville street.
"Aku jadi dosen pengganti sementara selama Mr Alberline cuti" jawab Sebastian datar sambil tetap berkosentrasi pada jalanan
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku" sembur Ciel sambil melotot ke arah sang kakak
"Aku juga baru tahu tadi pagi, Ciel" ucap Sebastian sambil mengenggam tangan sang adik menenangkan.
Ciel hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya bersuara "Apa yang akan terjadi jika semua orang tahu dosenku adalah kakakku sendiri, orang-orang pasti akan mengira kita akan melakukan kolusi dikampus"
"Tidak akan ada yang akan berfikir seperti itu Ciel"
"Aku pasti juga akan menjadi bulan-bulanan fans mu itu kalau mereka tahu kita tinggal serumah" ucap Ciel sambil menerawang
"Aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu Ciel" jawab sang kakak tulus sambil mengelus lembut pipi porselen sang adik dengan sayang. Ciel hanya mampu memalingkan wajahnya, menutupi debaran jantungnya dan semburat merah di pipi pucatnya.
T^T
Ada perasaan aneh yang berkembang di hati Ciel, entah sajak kapan dia merasa lebih sering berdebar-debar saat melihat sang kakak tersenyum atau sekedar menyentuhnya singkat. Ciel ingin sekali meredam debarannya, jadi dia lebih memilih menghabiskan waktu sebanyak mungkin di kampus dari pada jantungnya meloncat tidak karuan jika dia hanya berdua saja dengan Sebastian di rumah.
Tapi sekarang ini, mau dirumah ataupun di kampus akan sama saja, apalagi sejak Sebastian menjadi dosennya, mau tidak mau Ciel harus bertemu sang raven selama dua jam penuh seminggu tiga kali.
.
.
"Mr Phantomhive tidak bisakan anda memperhatikan kuliah saya dengan serius tanpa memandang keluar jendela?" seru sang dosen yang merasa terganggu dengan sikap Ciel yang selalu menetap keluar jendela selama kuliah berlangsung.
Ciel segera menoleh ke arah sang kakak yang saat ini sedang berkacak pinggang didepan kelas, dilihatnya saat ini sang kakak sedang memandangnya tajam.
Sebastian memang sudah gerah dengan tingkah sang adik saat dikelasnya, disaat semua mahasiswa yang lain dengan serius memperhatikannya, hanya Ciel yang lebih sering memandang keluar jendela saat dia mangajar, walaupun Sebastian juga heran karena Ciel mampu menjawab semua pertanyaan yang dia lontarkan
"Jika memang anda tidak suka dengan mata kuliah saya, anda bisa keluar dari kelas saya" tambah Sebastian, terselip nada sesal saat dia menyadari kalimat yang dilontarkannya membuat sang adik membulatkan matanya dengan tidak percaya. Sebastian mungkin kejam pada yang adik tapi dia juga tidak suka saat Ciel mengacuhkannya seperti sekarang ini.
Bukan tanpa alasan Ciel bersikap demikian, sejak Sebatian menjadi dosennya, semua jadi serba salah. Jika Ciel membolos dari kelas itu artinya dia tidak akan lulus mata kuliah Mr Alberline, tapi dia masuk kelas Itu membuat jantungnya semakin liar meloncat dalam rongganya, apalagi jika mereka tak sengaja saling beradu pandang atau ketika sang dosen menghadiahkan senyumannya pada Ciel yang sesekali mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkannya. Hanya dengan senyuman, atau kontak mata singkat sudah membuat si iris biru itu jadi melting. Maka dari itu Ciel memilih bertindak tidak sopan dengan membuang muka untuk menyelamatkan wajahnya yang memanas
T^T
"Hari ini kau akan di jemput Alois kan Ciel?" tanya Sebastian saat mereka sedang menikmati sarapan pada jum'at pagi
"Tentu" jawab si iris biru tanpa menghentikanya menyuap sandwich buatan Sebastian
"Apa tidak sebaiknya aku saja yang mengantarmu?" tawar Sebastian sambil mengamati sang adik dengan seksama
"Tak perlu repot-repot, kau bersantai saja di rumah. Aku akan baik-baik saja dengan Alois"
Alois mungkin panjang umur, karena beberapa detik kemudian terdengar suara klakson ferrari merah dari halaman depan dengan suara yang keras memekakkan telinga. Kedua pemuda itu segera beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju halaman depan
"Kau tepat waktu Alois" sapa Sebastian yang sudah tiba di depan pintu mendahului Ciel yang masih menyeruput tehnya hingga tandas.
"Tentu saja Mr Michaelis, saya tidak mau Ciel mengomel karena saya telat menjemputnya" jawab Alois dengan sopan, walau pun perbedaan usia mereka hanya dua tahun tapi karena Sebastian adalah dosen mereka jadi mau tidak mau Alois harus bersikap sopan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Claude, Al?" tanya Sebastian basa-basi karena Ciel masih belum menampakkan diri.
Pertanyaan Sebastian ampuh membuat wajah remaja bersurai kuning pucat itu merona, sudah menjadi rahasia umum jika Alois sedang berkencan dengan kakak kelasnya di kampus, sekaligus teman kuliah Sebastian. Mereka dengan berani mendeklarasikan hubungaan mereka, walaupun banyak yang tidak setuju dengan hubungan mereka, -mereka merupakan pemuda-pemuda yang menawan, mana mungkin ada wanita yang setuju jika pria-pria tampan itu menjadi slahs- tapi mereka tetap memegang teguh pendirian mereka bahwa cinta tidak memandang gender.
"Jauh lebih baik sir" jawab Alois malu-malu
"Apa yang sedang kalian bicarakan" seru Ciel yang sudah keluar dari dalam rumah sambil menenteng ranselnya di bahu.
"Kau sudah mau berangkat?" tanya Sebastian sambil merapikan rambut Ciel yang di sisir sembarangan, beruntung rambut kelabu itu sangat lembut sehingga tanpa disisir pun surai kelabu itu membingkai wajah Ciel yang membuatnya nampak sangat menawan.
"Hn" jawab Ciel singkat membiarkankan sang kakak merapikan penampilannya, dan kemudian sebuah ciuman singkat mendapat di pipi Ciel, membuat iris biru itu membelalak dan mengeluarkan deathglare andalannya.
'Apa yang kau lakukan di depan temanku' ucapnya tanpa suara pada sang kakak
Sebastian hanya tersenyum saat Ciel mengerucutkan kedua bibirnya dan membanting pintu mobil Alois dengan keras
T^T
Ciel masih merona saat mobil Alois sudah melaju menuju kampusnya, tangan pucat itu masih mengusap-usap pipi yang baru saja mendapat kecupan dari sang kakak, seolah-olah ada noda di sana yang membuatnya malu jika tidak segera di hapus.
"Dasar... kenapa dia masih memperlakukanku seperti seorang anak kecil, aku kan bukan anaknya" cerca Ciel berusaha meredam detak jantungnya yang berdegup kencang
"Malah sebaliknya, aku melihat dia memperlakukanmu sebagai seorang kekasih bukan anaknya" komentar sinis Alois mampu membuat rona merah di pipi Ciel meluas hingga seluruh wajahnya.
"Kau tahu kan Ciel, kebanyakan pemuda menawan seperti kita ini, cenderung memiliki orientasi seks yang cukup menyimpang kan?" lanjut Alois tanpa memperhatikan wajah pink Ciel sudah berubah kembali menjadi pucat
"Apa maksudmu?" tanya Ciel sambil menautkan kedua alisnya
"Kau tahu pasti apa maksudku, lagi pula masyarakat kita sekarang ini sudah lebih menerima keberadaan slash seperti kita"
"Hei" seru Ciel mengintrupsi kata-kata Alois
"Aku tidak seperti kau, aku ini masih straight tahu" protes Ciel tidak terima di masukkan dalam golongan 'slash' dia tidak seperti itu, atau lebih tepatnya dia belum seperti itu.
Alois nampak berfikir sebelum dia melontarkan tanya yang mampu membuat Ciel mendapat serangan jantung ringan
"Jika kau memang straight, kenapa aku tak pernah melihat kau berkencan dengan gadis dari High School dulu?"
Kena kau sekarang Ciel, bagaimana kau akan menjawab pertnyaan itu. Tidak mungkin kau menjawab jujur bahwa kau tak tertarik dengan perempuan itu sama artinya kau menggali kaburmu sendiri. Tapi bukan Ciel namanya jika dia tidak dengan sombong menjawab pertanyaan ringan sahabatnya itu
"Aku hanya belum menemukan gadis yang sesuai dengan keingnanku" jawab Ciel dengan angkuhnya padahal dalam hati dia berharap Alois mempercayai kebohongannya itu. Dan pada detik berikunya Ciel harus mengutuk dirinya sendiri atas jawaban yang kini membuatnya makin frustasi
"Jika seperti itu, aku akan merencanakan kencan buta untukmu dan jika dalam sebulan kau masih belum tertarik dengan gadis yang kau kencani kau harus mengakui bahwa kau slash" tantang Alois dengan senyum terkembang di wajah pucatnya, tanganya kini terjulur ke arah Ciel saat mobil mereka terjebak lampu merah
Setelah ini mungkin Ciel harus menenggelamkan diri ke sungai Themes karena kecerobohannya yang tanpa berfikir ulang langsung menyambut uluran jabat tangan Alois tanpa memperdulikan otaknya yang meneriakkan kata 'tidak' pada si iris biru
"Setuju" jawab Ciel yang kemudian disusul dengan gumaman tak jelas dari Alois
T^T
Mentari sudah tenggelam beberapa waktu yang lalu, tapi di sebuah ruangan nampak remaja yang tengah duduk diujung ranjangnya sambil mengamati detak waktu yang makin menjahui angka 8 malam. Malam ini Ciel ada jadwal untuk memenuhi 'Blind Date' yang tengah di susun sahabatnya Alois. Tidak seperti remaja-remaja yang akan mendatangi kencan pertamanya, Ciel nampak santai saja hanya bermodal kemeja putih lengan pendek yang dipadu dengan sweter rajutan tanpa lengan berwarna hijau dengan celana pendek favoritnya siap menyambut teman kencannya di cafe greenhall yang tak begitu jauh dari kompleks rumahnya di Pentonville street
"Aku pergi dulu" pamitnya pada Sebastian yang tengah sibuk menekuni esai-esai mahasiswa diruang keluarga
"Mau kemana?" tanya Sebastian penuh selidik
"Hanya jalan-jalan sebentar" jawab Ciel enggan
Tanpa mendengar kalimat Sebastian berikutnya Ciel segera membuka pintu dan berjalan menuju cafe greenhall tempatnya akan bertemu dengan seorang gadis untuk memenuhi tantangan yang terlanjur diterima Ciel.
Ciel menghela nafas panjang saat kakinya sudah sampai di depan cafe greenhall, cafe yang berkonsep go green itu nampak penuh dengan remaja-remaja yang menghabiskan malam minggu mereka dengan pasangan atau teman-temannya. Dengan menghela nafas sekali lagi Ciel memeguhkan hati dan mulai masuk menyongsong gadis teman kencannya.
Begitu Ciel sudah masuk ke dalam cafe, kedatangannya sudah di sambut senyum remaja bersurai kuning pucat yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Lama sekali kau, Lizzy sudah menunggumu dari tadi tahu" Alois segera menyeret sahabatnya itu menuju meja yang tadi sudah di pesannya.
"Lizzy... Ciel sudah datang" teriak Alois ketika keduanya sudah hampir dekat di meja yang tengah dihuni gadis blonde berkostum lolita dress.
Ciel hanya menyunggingkan senyum datarnya untuk sekedar bersopan santun pada gadis yang tengah menatapnya dengan berbinar itu.
"Wahh... imutnya!" teriaknya histeris "Aku tak pernah menyangka kau seimut ini bila di pandang dari dekat. Aku tak pernah bisa memandangmu sedekat ini kalau di kampus" ocehan heboh sang gadis blonde itu hanya di tanggapi dengan senyum datar Ciel yang semakin datar.
"Kenalkan namaku Elizabeth Middford, kau bisa memanggilku Lizzy" ucapnya berapi-api sambil mengulurkan tangan, Ciel juga mengulurkan tanga, dan menjabar tangan sang gadis sebagai bentuk sikap bersopan santun. Ketika Ciel hendak memperkenalkan diri, bibir mungil Lizzy kembali berceloteh
"Aku tahu, kau Ciel Phantomhive kan? Aku sudah sering mendengar ceritamu dari Alois" sentak saja Ciel menghadiahkan deathglare mematikan ke arah sahabatnya yang tengah nyengir kuda. Alois tahu jika lebih lama dia berada di sana mungkin dia akan pulang tanpa nyawa karena menghadapi deathglare sang sahabat sepanjang malam. Setelah Alois memaksa Ciel duduk di hadapan Lizzy, Alois segera melesat pergi meninggalkan cafe.
T^T
Menit-menit pertama telinga Ciel masih sabar mendengar celotehan Lizzy, bibirnya masih sanggup senyunggingkan senyum datar sambil sesekali mengomentari cerita Lizzy dengan enggan. Menit berikutnya senyum datar Ciel merubah menjadi senyum kaku mayat, telinganya hampir kebas, bibirnya terkunci rapat karena setiap Ciel hendak mengintrupsi cerita Lizzy malah dia yang di intrupsi duluan. Dan pada menit-menit berikunya membuat Ciel makin menampakkan ekaspresi yang sulit di tebak saat tobik pembicaraan mereka berganti bergosip tentang dosen pengganti Mr Alberline
"Kau tahu Ciel, Aku suka sekali melihat Mr Michaelis kalau memakai kemaja hitam, terlihat mengagumkan, aku selalu ingin di peluk dengan lengannya yang kekar itu. Kyaa~" jerit histeris si blonde membuat Ciel melonggo seketika. Seperti itukah yang di fikirkan mahasiswanya tentang kakaknya di kelas.
"Dan bibirnya, aku yakin dia belum mencium siapapun karena bibirnya masih merah merona" Lizzy mulai berfantasi dalam benaknya, sedangkan Ciel memijit keningnya berlahanan.
'Sebanarnya ini acara blind date atau acara curhat' batin Ciel
"Satu lagi yang kusuka dari Mr Michaelis, dada bidangnya Ciel, aku selalu ingin melihat Mr Michaelis mengajar tanpa kemeja. Kyaa~" jeritan Lizzy makin histeris berbarengan wajahnya yang merah padam
Ciel harus segera pergi dari situasi ini sebelum wajahnya ikut memerah karena nama Sebastian berulang kali di sebut.
'Apa dia lupa kalau aku juga pria, kenapa dia mengajakku bicara selayaknya aku ini perempuan yang sedang bergosip dengannya' batin Ciel
Ciel memutuskan segera pamit secara sopan ada Lizzy sebelum kegilaan ini semakin parah, dia tidak peduli tatapan kecewa Lizzy. Dari pada dia berakhir tewas karena mendengar ocehan Lizzy dia lebih memilih pergi atau sekalian di benci gadis bonde itu.
Jika saja ada Guiness word rekor dengan kategori kencan blind date tercepat mungkin Ciel pemenangnya, dia meninggalkan teman kencangnya beberapa menit setelah dia bertemu, bahkan sebelum pelayan membawakan buku menu untuk pesanan mereka. Kalau saja topik terakhir yang mereka bicarakan bukan tentang si raven, mungkin Ciel bisa sedikit bersabar untuk mendengarkan ocehannya, tapi yang di bicarakan itu Sebastian lho... Sebastian. Ciel segera mengeleng-gelengkan kepalanya agar percakapan terahirnya dengan Lizzy enyah dari ingatannya, tapi bukannya hilang wajah Ciel kini memerah disertai dengan debaran jantung yang semakin kencang saat terkenang ocehan Lizzy tentang Sebastian tadi. Dan Ciel memilih untuk berwajah cemberut mengingat bagaimana Lizzy bercerita dengan antusias tentang kakaknya
.
.
.
TBC
A/N :
Maaf jika chapter ini terlalu panjang... *Sujud-sujud
Saya ucapkan terimakasih pada semua reader yang menyempatkan mampir dan membaca fic saya, juga terima kasih banyak pada toples kaca yang selalu mememani saya '?' #plak
*dikubur toples kaca
Akhir kata...
Ada keluhan, kritikan, omelan, atau pujian #plak
Silahkan klik Review... _
