HitsuHina fic
Bleach belongs to Tite Kubo; Frozen belongs to hikariHARUNO13
Apa ini?
"Ini adalah sesuatu yang kau miliki namun tidak kumiliki. Ini adalah alasan kau tidak seharusnya berada di sini."
"Kau punya kehidupan. Ini bukan tempat yang pantas untukmu."
.
.
Frozen
Chapter 1 : Accident
Coincidence is God's way of remaining anonymous ― Albert Einstein
.
.
.
.
.
13 Years Later
.
.
Selamat pagi, warga kota Karakura. Cuaca hari ini terbilang cukup cerah bahkan cukup hangat untuk musim gugur di akhir bulan ini. Mengingat dalam waktu beberapa minggu lagi, musim dingin akan datang. Diperkirakan tidak akan ada badai salju seperti yang terjadi tahun lalu, yang cukup membuat beberapa orang kewalahan. Namun untuk beberapa daerah di bagian uta—
Hinamori Momo mengecilkan volume televisinya yang menayangkan seorang wanita berusia 30-an sedang memberitahukan ramalan cuaca kota Karakura. Gadis itu menaruh remote televisinya di sofa terdekat dan segera pergi menuju kamarnya yang tak jauh dari situ.
Ruangan itu cukup rapi. Terdapat sebuah kasur berukuran sedang dengan sprei berwarna krem. Ada ruang kecil di sebelah ranjang yang berfungsi sebagai tempat lemari pakaian yang berwarna cokelat muda. Sebuah cermin berukuran sedang digantung tak jauh dari lemari pakaian, memantulkan pintu ruangan tersebut, lemari buku serta sebuah meja rias yang berdekatan dengan jendela. Momo duduk di kursi kecil dekat meja rias lalu menatap pantulan dirinya di sana. Dia merapikan rambut hitam kecokelatannya, menyisirnya perlahan dengan jari. Lalu dia tersenyum pada pantulan dirinya.
Hari ini adalah hari yang cukup penting untuk Momo. Makanya dia bangun lebih pagi dari biasanya, meluangkan waktunya lebih banyak dan sengaja tidak meneruskan artikel yang sedang dikerjakannya selama dua pekan terakhir ini. Dia juga sengaja tidak membuat janji selama seminggu ini.
Dia menoleh, matanya mengarah ke luar jendela, tepat ke arah pepohonan yang sudah tak berdaun lagi. Dedaunan yang kemerahan sudah jatuh ke tanah, bahkan menyatu dengan warna tanah yang mulai memucat. Bahkan angin sudah tidak terasa hangat lagi sehingga Momo tidak mau membuka jendela. Akhir-akhir ini dia jadi lebih lemah terhadap cuaca dingin dan ia tidak ingin sakit karena hal itu hanya akan memperlambat aktivitasnya.
Momo menghembuskan napasnya. Meskipun hal seperti ini—meluangkan waktu untuk event penting seperti hari ini—sudah dilakukannya sejak lima tahun yang lalu, namun tetap saja dia sering merasa jenuh karena dia mengabaikan pekerjaannya untuk sementara. Rasanya agak aneh jika dia tidak menyibukkan diri dan malah memiliki terlalu banyak waktu luang.
Momo beranjak dari tempatnya duduk karena ponselnya berdering. Dia sudah menebak-nebak siapa yang meneleponnya bahkan sudah menyiapkan beberapa percakapan yang akan disampaikannya kalau-kalau orang yang ada di seberang telepon benar seperti yang ditebaknya.
"Oh, Hinamori!"
Momo mengembuskan napasnya pelan. Oh ternyata bukan...
"Ya, Ise-san. Ada apa?"
Ise Nanao sudah menjadi teman Momo sejak kuliah semester kedua. Mereka tidak mengambil jurusan yang sama namun bertemu dan akhirnya berkenalan karena mereka mengambil kerja sambilan sebagai petugas perpustakaan. Hingga lulus dan memiliki pekerjaan masing-masing, mereka tidak kehilangan kontak. Justru menyempatkan waktu untuk bertemu.
"Apa hari ini kau ada waktu?" tanya Nanao. Suara lalu lalang dan orang-orang yang bicara di seberang sana sayup-sayup dapat didengar Momo. Berarti Nanao menelepon di saat istirahatnya.
Nanao bekerja di kepolisian, tepatnya sebagai operator telepon darurat. Dia yang menerima semua telepon dan menyeleksi apakah si penelepon benar-benar dalam keadaan darurat atau hanya menelepon karena iseng. Jenis pekerjaannya memang terdengar sangat mudah—angkat telepon, seleksi, putuskan, lalu panggil tim polisi atau medis atau gunjing si penelepon iseng—namun Nanao pasti mengamuk jika ada yang mengatakan pekerjaannya adalah pekerjaan paling mudah di dunia.
"Ya."
"Oh syukurlah! Aku ingin meminjam buku yang baru saja datang di perpustakaan kemarin, sekalian mengembalikan buku-buku yang pernah kupinjam darimu. Tapi aku tidak bisa. Hari ini aku sangat sibuk—entah kenapa banyak sekali yang menelepon—dan aku takut buku itu sudah tidak ada di perpustakaan besok. Aku sudah minta Shunsui tapi dia tidak bisa! Katanya banyak kasus atau apalah, paling dia pergi ke bar dengan teman-teman minumnya.
"Makanya, kau mau ke perpustakaan lalu datang ke kantorku? Jam berapa pun tak masalah, sepertinya aku lembur," kata Nanao panjang lebar. Momo menahan tawanya. Dia takjub dengan Nanao yang sama sekali tidak terdengar kehabisan napas setelah bicara panjang lebar sambil marah-marah tadi.
"Baiklah, aku bisa. Buku apa yang ingin kaupinjam?"
Momo mendengarkan judul buku yang disebutkan Nanao lalu menjawab, "Baiklah. Sekitar jam 3 aku akan ke kantormu. Nanti kukabari lagi ya."
Momo menutup hubungan telepon lalu mengarah ke dapur. Namun belum berapa langkah, ponselnya berbunyi lagi. Dia mengambil kembali handphone yang dibiarkannya tergeletak di counter panjang yang sepi hiasan—hanya ada taplak renda dan satu pot kaca, juga ponsel jika dihitung sebagai hiasan. Momo tidak langsung menjawab panggilan, dia menatap agak lama nomor yang tertera di layar ponsel. Lalu desahan berat keluar dari mulutnya. Sepertinya dia harus memberitahu Nanao kalau dia tidak bisa ke kantornya jam 3 siang. Dia akan datang lebih telat dari waktu awal yang dijanjikan.
NNN
Momo tidak menyangka dia benar-benar ke kantor Nanao sangat telat dari waktu awal yang dijanjikannya. Terlalu telat malah! Sebelumnya dia sudah memberitahu Nanao bahwa dia tidak bisa datang jam 3 dan minta diundur menjadi jam 5. Nanao setuju-setuju saja, dia sudah bilang sebelumnya bahwa dia masih di kantor sampai malam. Tapi seiring waktu berjalan, seiring juga dengan Momo yang terus mengundurkan waktu janjinya.
Momo mendesah. Dia tidak habis pikir bahwa seorang agen publisher yang mempekerjakannya selama sebulan ini mendesak artikel yang sedang ditulisnya agar segera selesai. Padahal Momo sudah meminta waktu cuti dan sudah disetujui. Namun tetap saja publisher itu mendesaknya. Karena tidak enak berargumen di telepon, publisher itu meminta (memaksa, sebenarnya) Momo untuk menemuinya di kantor publisher tersebut. Mau tak mau Momo mengikuti saja kemauan publisher itu. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Momo dibolehkan cuti sampai waktu yang sudah ditentukan Momo sebelumnya.
Setelah itu dia pergi ke perpustakaan, meminjam beberapa buku untuk dirinya dan Nanao lalu segera melesat ke kafe. Dia baru ingat dia belum makan siang dan masih ada waktu sampai jam 5. Jadi dia datang ke kafe yang hanya makan waktu setengah jam dari sana sampai kantor Nanao.
Momo sudah akan menemui Nanao setelah mengisi perut jika dia tidak berpapasan dengan kekasihnya. Jujur saja, dia sedang kesal dengan kekasihnya itu dan sedang melancarkan gerakan-tak-mau-bicara-denganmu. Namun karena pria itu terus mendesak ingin bicara dengan Momo, sekali lagi gadis itu harus mengundur waktu temunya dengan Nanao.
Seperti yang diduga Momo, bicara dengan pria itu sama sekali tidak membangkitkan mood-nya.
Handphone Momo terus bergetar tapi dihiraukannya. Gadis itu kesal karena setelah pertengkarannya dengan kekasihnya tadi, pria itu terus merecokinya dengan menelepon Momo. Kesal mendengar ringtone yang terus berbunyi, dia ubah menjadi silent mode. Momo tidak ingin mematikan ponselnya karena tentu dia tidak bisa menghubungi Nanao jika ponselnya mati. Dan dia tidak pernah mau mematikan ponselnya karena alasan tertentu.
Momo memutar kemudi mobilnya dan memarkir dengan sempurna di tempat parkir yang sudah lengang. Dia turun dan langsung masuk ke kantor. Nanao meminta Momo menunggunya di kantin kantor. Bahkan kantin itu pun sangat sepi, hanya ada petugas kasir yang siap-siap meninggalkan ruangan tersebut.
"Anda menunggu seseorang?" tanya petugas kasir ketika melihat Momo mengambil salah satu kursi yang sudah diletakkan di atas meja.
"Ya, sebentar saja kok," jawab Momo meyakinkan. Petugas kasir itu mengangguk, mengucap salam lalu pergi dari ruangan itu.
Momo mengaduk-aduk tasnya dan mengambil ponselnya yang berwarna pink. Dia mendesah saat melihat history call-nya menumpuk sampai 12 missed call. Dia kesal karena kekasihnya masih saja keras kepala. Begitu ponselnya bergetar lagi, Momo menjawab panggilan tersebut.
"Halo. Ada apa lagi?... Bukankah sudah kubilang tadi... Kalau mau beralasan, sekarang bukan waktu yang tepat... Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendengarkanmu, Maki-kun..."
Momo menoleh, dia menyadari Nanao berlari ke arahnya. Momo tersenyum sesaat pada Nanao lalu kembali berbicara ke ponselnya. "Maaf, aku ada perlu. Besok saja kau telepon lagi."
"Siapa?" tanya Nanao begitu Momo memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Maki-kun," jawab Momo singkat lalu merogoh-rogoh tasnya. "Ah, ini buku yang ingin kaupinjam. Sudah kudaftarkan atas namamu jadi kalau kau mau perpanjangan waktu, kau tidak usah repot mencariku."
"Ah, terima kasih. Lalu setelah ini, kau langsung pulang? Atau mau menungguku? Setengah jam lagi, aku selesai." Nanao lalu memberikan dua buku yang dibawanya pada Momo. Momo menerimanya sambil tersenyum.
"Tidak perlu. Aku mau cepat-cepat pulang," ucap Momo. Gadis itu bangkit dari tempatnya duduk lalu meletakkan kursi tersebut ke atas meja.
"Ini sudah malam, kau tahu? Kusuruh si idiot itu mengantarmu saja," kata Nanao sambil memencet-mencet ponselnya, mencari nama 'Pemabuk Idiot' di daftar kontak.
Momo terkekeh mendengar kata-kata Nanao barusan. "Tidak usah, aku bawa mobil." Momo memperlihatkan gantungan kunci mobilnya pada Nanao. "Lagipula aku tidak mau Kyouraku-san jadi repot."
"Repot apanya? Daripada kau kenapa-kenapa di jalan. Kau yakin tidak apa-apa?"
Pertanyaan Nanao dijawab anggukan oleh Momo. Setelah itu Nanao mendesak menemani Momo sampai ke tempat parkir, namun setelah diyakinkan Momo bahwa masih ada petugas yang berjaga (lagipula Nanao masih punya pekerjaan yang menantinya), akhirnya Nanao mengalah. Wanita itu kembali ke ruang kerjanya sementara Momo berjalan ke tempat parkir. Selama berjalan, dia dapat merasakan ponselnya bergetar terus. Dia yakin yang meneleponnya adalah kekasihnya namun dia sengaja membiarkannya.
Terdengar bunyi alarm dua kali dari mobil mini berwarna biru itu. Momo segera masuk ke kursi kemudi, memasang sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin—urutan mengendarai mobil yang dipelajarinya dari kursus. Dia memberi salam pada petugas di sana lalu meninggalkan gedung tempat Nanao bekerja.
Meskipun baru jam 9, malam di Karakura memang tidak pernah seramai suasana malam di kota besar seperti Tokyo. Sisa-sisa kehidupan di kota itu terlihat dari beberapa toko malam yang mulai dibuka dan beberapa toko lainnya sudah tutup. Jarak dari kantor Nanao dan halte bus memang tidak terlalu jauh namun tidak ada bus yang beroperasi sampai jam 10 malam. Berarti dia harus naik kereta atau taksi. Namun memilih menunggu di stasiun yang mulai sepi bukan pilihan bagus dan pastinya Nanao tidak akan mengizinkannya naik taksi karena banyak sekali rumor tentang taksi abal-abal yang merampok para penumpangnya.
Ada satu hal juga yang ditakutkan oleh Nanao. Jalanan menuju rumah Momo—yang sedang dilewatinya sekarang—cukup mengerikan jika malam. Momo tinggal lumayan jauh dari keramaian. Jalanan menuju tempat tinggalnya cukup ramai di siang hari karena banyak pasar-pasar maupun toko-toko kecil yang berdagang di sana. Namun di malam hari, suasananya sama sepinya dengan kuburan. Untung saja Momo memutuskan untuk membawa mobilnya.
Sayup-sayup dia mendengar ponselnya bergetar. Lagi-lagi pria itu menelepon Momo. Dia tidak habis pikir, mengapa pria itu tidak bisa menyerah dan terus-terusan ingin bicara dengannya. Ingin mengklarifikasi, katanya. Tapi menurut Momo, semua yang dikatakan pria itu hanya alasan.
Dengan enggan, akhirnya dia mulai merogoh tasnya. Pandangannya tetap di depan, memerhatikan jalanan. Sebenarnya menerima panggilan telepon saat berkemudi tidak diperbolehkan namun dia tidak tahan mendengar ponselnya terus bergetar saat dirinya harus konsentrasi.
"Halo. Aku sedang dalam perjalanan, besok saja kau telepon lagi... Aku sedang mengemudi... Tidak bisa, aku mau tidur... Maksudmu, alasanmu lebih penting daripada rasa kantukku?... Masih ada besok, Maki-kun. Kenapa kau tidak sabaran?... Oh, kukira aku yang terlalu penyabar... Kalau begitu bes—Astaga!"
Mobil itu direm tiba-tiba oleh pemiliknya ketika dia melihat sesosok terjungkal sampai kaca depan. Karena aksinya tadi, sosok itu terjatuh dan menghilang dari pandangan Momo. Sekarang gadis itu hanya diam dan mulai ketakutan. Dia menabrak seseorang!
.
.
.
to be continued
.
.
.
.
.
daaaaan inilah chapter 1-nya~
pasti belum ketahuan kan ceritanya kayak gimana? (alah sok sok misterius!) ya, hikari memang memasang alur yang agak lambat untuk fic ini karena yaaaah rasanya nggak seru kalau ngebeberin ceritanya terlalu cepet (padahal author-nya aja yang bingung mau nulis apaan aja *creys*)
hikari agak males buat OC di fic ini makanya tokoh-tokoh di fic ini adalah karakter-karakter dalam Bleach. ada yang bisa nebak 'Maki' yang jadi pacar Momo itu siapa? kayaknya semua juga tahu kalau nyari di google hehe
oh ya, karena saya menyukai cukup banyak pairing di fandom Bleach, jangan heran kalau nantinya fic HitsuHina ini terkontaminasi pairing lainnya. contohnya Nanao dan Shunsui yang udah diceritain di atas :p sorry i can't resist
eh tapi sebenernya rambut Momo tuh kecokelatan ga sih? bingung =.=a
jadi...siapa yang mau mencet tombol review?
