Terimakasih saya sampaikan pada :
Kim Victoria, Retatsu Namikaze, shikakukouki777, seidocamui, Toples kaca
terimakasih atas masukan dan riviewnya ^^
Chapter 3 : Diam-diam
Ciel mempertahankan wajah cemberutnya hingga sampai dirumah. Dia masih kesal pada Lizzy yang malah membicarakan Sebastian dengan antusias tanpa memperdulikan jantung Ciel yang semakin berdetak kencang saat nama sang kakak disebut.
Ciel mengacak-acak surai kelabunya dengan gemas sebelum masuk ke dalam rumah, berharap semua yang di ocehkan Lizzy lenyap seketika dari pikirannya, namun sialnya dia malah semakin mengingatnya.
"Aku pulang" ucap Ciel lesu sambil melenggang ke dalam ruang keluarga tempat Sebastian berkutat dengan esai tugas mahasiswa-mahasiswanya.
Sang raven menatap kearah suara Ciel sambil membenarkan letak kaca mata bacanya.
"Kau belum selesai?" tanya Ciel saat melihat tumpukan esai yang tadi ada dihadapan Sebastian belum berkurang sedikitpun. Sebastian yang melihat sang adik sudah pulang hanya mengayuhkan tangan sekilas, mengajak si pendek untuk bergabung dengannya.
"Kau butuh bantuan?" tawar Ciel setelah duduk bersila disamping kakaknya.
Sebastian yang tengah berselonjor sambil memegang beberapa esai milik mahasisiwanya segera mengawasi sang adik dengan seksama.
"Kau kenapa?" tanya Sebastian khawatir sebelum mengelus pundak Ciel perlahan setelah meletakkan semua kertas yang diperiksanya.
"Tidak ada apa-apa" Sebastian tahu apa yang diucapkan sang adik selalu berbeda dengan apa yang sebenarnya ada di benaknya. Melihat raut wajah Ciel yang makin murung, Sebastian mengambil inisiatif untuk membimbing kepala surai kelabu itu untuk berbaring diatas pahanya.
"Aku tahu kalau sudah terjadi sesuatu" tebaknya sambil membelai surai kelabu sang adik dengan lembut sampai kearah rahang bawahnya.
Namun sedetik kemudian tangan pucat sang raven disentuh tangan mungil Ciel, seraya bertanya pada sang kakak "Tangamu dingin, apa kau habis keluar?"
Sebastian buru-buru menarik tangannya dari sang adik, dia tak mau ketahuan kalau dia baru saja pulang dari memata-matai sang adik.
"Aku tidak kemana-mana" elak si raven dengan suara datarnya
Ciel mengedarkan pandangan dan menemukan mantel hitam Sebastian teronggok di sudut ruang.
"Benarkah? Tapi..."
Agar Ciel tak mengintrogasinya lebih lanjut, Sebastian memilih untuk kembali mengelus helai rambutnya yang jatuh si sekitar pipi sang adik dan mengalihkan pembicaraan "Lalu apa yang terjadi hingga kau berekspresi sejelek ini" canda Sebastian sambil menyubit lembut hidungnya.
Hanya terdengar helaan nafas tanpa jawaban dari manusia yang menyamankan kepalanya dipaha sang raven. Sebastian tahu apa tujuan Ciel tadi keluar, dia juga tahu adiknya itu tadi bertemu dengan siapa, tapi yang tidak dia ketahui adalah kenapa Ciel sampai berwajah lesu sesampainya dirumah.
Sebastian masih berkutat dengan fikirannya sendiri saat dia mendengar dengkuran halus sang adik, seulas tersenyum terkembang, Sebastian menatap wajah tenang sang adik yang tengah terlelap, tanpa buang waktu Sebastian segera mendaratkan kecupan di kening sang adik seraya bergumam "Jarang-jarang kau diam seperti ini saat aku kecup Ciel"
T^T
Ciel terbangun karena dia merasa tidak nyaman tidur beralaskan karpet ruang keluarganya. Ciel mengercapkan iris birunya perlahan dan memerintahkan otaknya untuk mulai berfikir mengira-ngira pukul berapa sekarang. Merasa suasananya makin sunyi, Ciel menduga pasti sekarang ini tengah malam. Kepalanya sedikit kaku karena tidur beralaskan paha sang kakak, punggungnya juga ikutan merasa tidak nyaman karena tidur dalam posisi yang sama selama beberapa jam.
Tubuh ringkih itu dipaksa Ciel untuk dapat bangun dan duduk, setelah beberapa waktu mendapatkan kesadaranya, Ciel menyaadari bahwa sang kakak saat ini tengah tertidur, kepala sang raven itu bertumpu pada bantal sofa dan tubuhnya bersandar pada kaki sofa.
'dia pasti kecapean karena memeriksa esai sebanyak ini' Ciel tersenyum mendapati tumpukan kertas-kertas esai yang sudah tersusun rapi di sisi Sebastian.
Tak ada yang tahu bagaimana awalnya, tiba-tiba tangan mungil Ciel sudah menyentuh rambut sang kakak yang jatuh diatas dahi. Ciel kembali terkenang pada kata-kata Elizabeth ketika dia membicarakan tentang bagaimana sempurnanya fisik kakaknya.
Dari hanya memegang beberapa helai rambut yang jatuh di dahi sang kakak, Ciel mulai menurunkan tangan mungilnya ke arah pipi Sebastian. Dia menikmati bagaimana lembutnya kulit sang kakak, persekian detik kemudian telunjuk Ciel mulai menelusuri bibir merah Sebastian, ada perasaan yang aneh mengelitik hati kecilnya saat dia mengenang dengan jelas kata-kata gadis blonde yang Ciel temui tadi.
"Sudah berapa gadis yang pernah kau cium. Hah?" gumam Ciel lirih sambil masih melanjutkan aktivitasnya menelusui garis bibir sang kakak
Perasaan yang tadi timbul di hati Ciel, kini berubah menjadi lebih aneh saat dia menyuarakan apa yang difikirkannya "Kau pasti menikmati saat mencium gadis-gadis itu kan. Dasar pesolek"
Perasaan Ciel kini menjadi super aneh, saat dia benci atas fakta yang dia buat sendiri, dia mulai kesal tapi Ciel tak tahu kesal pada apa, dia marah tapi tak faham marah karena sebab apa. Yang jelas kini dia tengah kesal pada pemuda yang ada dihadapannya.
Ciel mulai mengeliminasi jaraknya dengan sang kakak, tak ada yang tahu dari mana datangnya keberanian yang kini dimiliki Ciel, dengan mata yang tertutup berlahan dia mulai mengecup bibir merah si raven. Bukan ciuman penuh nafsu, bukan ciuman menuntut hanya ciuman lembut yang penuh dengan perasaan yang tak dapat Ciel ungkapkan.
Saat Ciel sadar bahwa debaran jantungnya berpacu dengan cepat, iris biru itu membelak saat mengetahui apa yang tengah dia lakukan, segera saja Ciel menjauhkan tubuh ringkihnya dari sang kakak yang masih tertidur
"Ini salah, tak mungkin aku melakukannya" Ciel segera mundur beberapa langkah, dengan masih mengelengkan kepalanya seolah ingin menghapus peristiwa tadi dari fikiranya, Ciel kembali bergumam "Dia kakakku, kami saudara, aku tak seharusnya melakukan itu, aku tak seharusnya memiliki perasaan semacam ini"
Ciel segera beranjak dari ruangan itu, dia tak ingin ketika sang kakak bangun dia malihat raut wajah Ciel yang memerah seperti kepiting rebus tapi dengan raut wajah penuh penyesalan. Tapi tanpa Ciel sadari sang kakak tengah menatap punggungnya yang tengah menjauh dengan tatapan yang hampa.
.
.
.
TBC
A/N :
Jika Chapter yang kemarin terlampau panjang, chapter kali ni terlampu singkan. Hehe~ #sujud-sujud
Maaf juga karena updatenya agak lama #plak *g ada yang tanya...
Terimakasih untuk yang sudah meluangkan waktunya membaca dan mereview fic ini, semoga pada reader sekalian tidak kecewa dengan fic ini...
Jika ada kritik, saran, omelan, makian, cacian, protes dan pujian (?)
Silahkan Klik Review di bawah ini...
