Chapter 4 : Blind Date 2

Ciel lebih memilih untuk tidak segera turun saat bangun pada minggu pagi, dia merasa tak mampu bertatap muka dengan kakaknya hari itu, setelah apa yang dia perbuat semalam, Ciel merasa sudah menjadi adik yang buruk, bagaimana mungkin seorang adik dapat mencium kakaknya sendiri yang tengah terlelap.

Lamunan Ciel terganggu ketika mendengar sebuah ketukan yang berasal dari pintu kamarnya.

"Ciel kenapa pintunya kau kunci? Ada apa?" tanya suara bariton sang kakak dari luar pintu.

Ciel tidak pernah mengunci pintunya selama ini, itu karena penyakitnya yang kadang sulit bangun membuatnya membiarkan pintu kamar tak pernah terkunci, agar mempermudah orang lain yang mau membangunkannya.

"Ciel... apa kau belum bangun? aku hanya ingin bilang hari ini aku ada urusan dikampus, kau tidak apa-apakan dirumah sendirian?" tanya Sebastian dengan sedikit berteriak.

Terdengar helaan nafas sang raven yang tidak kunjung mendapat jawaban dari sang adik, dan dia memutuskan untuk segera beranjak dari pintu kamar Ciel.

Begitu menyadari sang kakak sudah tidak berdiri di depan pintunya, Ciel memberanikan diri mengintip dari balik pintu, menajamkan telinga sejenak dan mendapati posche sang kakak yang melaju menjauhi kediaman mereka.

Iris birunya menumbruk sebuah pintu tertutup didepan kamarnya. Dibalik pintu itu adalah ruang sang kakak mengistirahatkan tubuh lelahnya setiap malam. Dengan gerakan perlahan, Ciel memberanikan diri masuk ke dalam ruangan kamar Sebastian yang tidak terkunci.

Ciel menghela nafas panjang, seraya menjatuhkan tubuh munggilnya ke arah ranjang sang kakak. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan jika bertemu langsung dengan sang kakak, siapa yang harusnya disalahkan atas perasaan yang berubah menjadi aneh ini.

Dering dari ponsel yang berada di sakunya membuat Ciel harus berhenti untuk menyesapi bau sang kakak yang menguar seantero ruang pribadinya. Dengan enggan Ciel memencet tombol hijau itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Bagaimana dengan kencanmu kemarin Ciel?" tanya suara di seberang sana dengan sangat antusias.

Ciel yang sedari tadi sedang galau dengan perasaannya sendiri, malah menjadi emosi saat mendengar suara cempreng sang sahabat.

"Kau gila!" semburnya "Kenapa kau malah memilihkan teman kencan gadis tukang gosip seperti itu hah?" maki Ciel sambil berteriak-teriak pada benda persegi yang digenggamnya.

"Maaf... aku tak tahu tipe favoritmu seperti apa, dan ku lihat Lizzy itu sering memperhatikanmu jika di kelas, jadi aku langsung merencanakan kencanmu, setelah Lizzy setuju makan malam denganmu" jelas Alois penuh sesal.

"Ah... sudahlah ini tidak akan berhasil, kita akhiri saja" ucap Ciel putus asa.

"Tunggu dulu..." cegah Alois panik "Hari ini aku sudah mengatur kencanmu lagi, Paula pasti kecewa jika kau tiba-tiba membatalkannya"

Ciel hanya mendengarkan saja saat Alois menceritakan rencana blind datenya yang kedua. Hari ini Ciel harus bertemu dengan Paula, gadis yang juga satu kelas dengannya pada mata kuliah ilmu ekonomi, tapi Alois sudah menjamin bahwa si Paula ini tidak akan seheboh Lizzy atau seobsesi Lizzy saat menatap Sebastian.

Taman tempat Ciel berjanji akan bertemu dengan Paula tak begitu jauh dari perumahannya, dia hanya perlu naik taksi selama sepuluh menit untuk sampai ke tempat yang sudah di setujuinya.

Taman itu luas dengan jalan setapak yang di kelilingi pohon maple yang berjajar rapi, juga terdapat bangku-bangku taman bercat putih tersebar di sekeliling taman di pinggiran perumahan Pentonville street.

Ciel segera mengedarkan pandangan mencari gadis dengan rambut panjang coklat muda yang mengenakan bandana bunga mawar sebagai penanda. Tak perlu waktu lama untuk Ciel menemukan gadis yang akan jadi teman kencannya hari ini, karena saat Ciel berjalan menelusuri jalan setapak taman itu, Ciel mendapati sesosok gadis dengan bandana bunga mawar tengah melambai kearahnya.

"Paula Palencia?" tanya Ciel ragu-ragu saat sudah berdiri di samping sang gadis.

"Ciel Phantomhive?" tunjuk gadis bersurai coklat muda itu.

Ciel hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Paula barusan, sedangkan Paula tersenyum manis menatap teman kencannya hari ini.

Waktu terasa bergulir dengan cepat seiring dengan percakapan mareka yang semakin akrab, ya... walaupun percakapan mereka tidak jauh dari sekitar kegiatan di kampus, dan tentang hal-hal ringan sejenisnya.

Pemuda bersurai kelabu itu sangat nyaman berbincang dengan teman kencannya hari ini, yang rupanya lebih tua darinya dua tahun, sikap Paula yang feminim dan pengertian membuat Ciel merasa dia telah menemukan teman kencan baru yang menyenangkan.

'Paula itu menyenangkan seperti seorang kakak yang baik hati' kekehnya dalam hati.

Kakak... Sebastian...

Ah... dia teringat kembali, tidak bisakan otaknya berhenti untuk tidak memikirkannya, kenapa dadanya selalu bergetar saat pikirannya tertuju pada sang raven, dan kenapa wajahnya juga ikut memanas.

'Aku mungkin sudah gila' batin Ciel sambil menepuk dahinya pelan.

"Kau tak apa-apa Ciel? Apa kau sakit? Wajahmu merah?" tanya Paula bertubi-tubi saat menyadari ada perubahan dari sikap Ciel.

"A... Aku baik-baik saja" jawab Ciel sambil mengulas senyum untuk menutupi gejolak hati yang kembali mengusiknya.

T^T

Pertemuannya dengan Paula harus berakhir saat senja yang semakin turun memeluk langit pinggiran kota London. Perut yang selama siang belum terisi membuat Ciel berniat untuk mengajak Paula makan malam, namun sayangnya niat baik Ciel harus di tolak oleh gadis manis itu. Dengan berat hati keduanya harus berpisah dan kembali kerumah masing-masing.

Paula tak seperti gadis-gadis yang selama ini Ciel kenal, tak seperti Lizzy yang heboh, cerewet dan tukang gosip, juga tak seperti ibunya yang selalu memanjakannya, memperlakukan seolah-olah Ciel adalah seorang gadis hanya karena wajah imut serta perawakannya yang mungil.

Ciel selalu bersenandung selama perjalanannya menuju rumah, dia ingin segera menceritakan kencannya hari ini pada sang kakak, namun sedetik kemudian wajahnya memucat sekaligus memerah dalam waktu yang bersamaan saat dia teringat tingkah bodohnya semalam. Euforia Ciel berubah saat tubuh mungilnya sudah sampai didepan rumah dan melihat porsche sang kakak sudah terparkir rapi dalam garasi rumah mereka. Ciel mendadak diserang gugup stadium akhir membayangkan dirinya akan bertemu sang kakak. Ciel menepuk dahinya pelan dengan kedua tangan, mencoba untuk melupakan hal memalukan yang telah dia perbuat.

'Jika aku kelihatan aneh di depan Sebastian, pasti dia akan curiga' batinnya.

Dengan segenap keberaniaan yang dikumpulkannya, Ciel memberanikan diri memasuki rumahnya dengan menghela nafas panjang terlebih dahulu.

"Sebastian... aku pulang" teriaknya sambil mendorong pintu depan rumahnya.

T^T

Ciel merasa sedikit heran saat mendapati rumahnya masih dalam keadaan gelap karena lampu yang belum dinyalakan.

'Apa mungkin Sebastian baru pulang' fikir Ciel

Kaki munggilnya segera mendaki tangga yang menuju lantai dua, sesampainya di ujung tangga, iris biru Ciel mendapati kamar sang kakak tengah sedikit terbuka.

"Sebastian kau didalam?" tanyanya sambil membuka pintu kamar Sebastian dengan perlahan.

Pertanyaan Ciel hanya di jawab dengan suara guyuran shower dari arah pojok ruangan. Ciel kembali mengedarkan pandangan pada ruangan sang kakak. Ah.. kenapa dia tak pernah bosan untuk selalu memasuki kamar kakaknya ini, walaupun ukuran kamar mereka sama dengan perabot yang hampir sama pula, tapi aroma yang menyeruak didalamnya sangat berbeda, dia merasa sedang dipeluk sang kakak kala memasuki ruang pribadinya ini.

"Sedang apa kau disini Ciel?" tanya Sebastian yang baru saja selesai melakukan aktifitas mandinya.

Ciel menoleh ke arah suara bariton sang kakak yang tengah berdiri dibelakangnya. "Kau baru pulang?"

Beruntung pencahayaan kamar Sebastian hari itu tidak terlalu terang, sehingga dapat menyembunyikan rona terkejut di raut pucat Ciel, hampir saja Ciel nosebleed melihat pemandangan yang terhampar dihadapannya.

Dengan tampang yang innocent, Sebastian menatap adiknya yang pucat pasi kerena menatap kakaknya yang tengah topless, memperlihatkan dada bidangnya yang putih tanpa celah, serta perut datar tanpa lemak, hanya ada handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya, surai hitamnya yang basah juga dibiarkan menetes jatuh membasahi bahu dan mengalir melewati dada bidangnya, sedang iris merahnya menatap lurus manik biru Ciel yang menatapnya tanpa berkedip.

Deg.. Deg...

Mungkin Sebastian dapat mendengar detak jantung Ciel yang semakin berdetak tak beraturan, karena saat itu jantung Ciel benar-benar berdetak tidak karuan.

"Ciel.. Kau baik-baik saja?" tanya sang raven sambil melambaikan tangan di hadapan sang adik yang masih tercengang dengan pahatan tubuh sang kakak.

"Ciel" panggil Sebastian sekali lagi sambil menyentuh bahu sang adik singkat.

Sentuhan Sebastian membangunkan Ciel pada dunia nyata, membuatnya tergagap saat menyadari jaraknya dengan Sebastian hanya tinggal beberapa senti saja.

"A.. aku h... hanya i... ingin memastikan, k... kita makan malam jam berapa?"

Ciel menghela nafas lega saat dia sadar mampu menyelesaikan kalimatnya dengan lancar, diliriknya sang kakak dengan ekor manik biru Ciel.

Ciel mendapati Sebastian menarik tubuhnya menjauh, kemudian bergaya layaknya model dan 'berfikir'.

"Ah... aku lupa belum menyiapkan makan malam" ucapnya sambil menyatukan genggaman tangan kanan pada telapak tangan kirinya.

"Lebih baik kau mandi dulu, selama aku menyiapkan makan malam" tawar Sebastian akhirnya.

Ciel masih cengo, masih melonggo, masih kaku, dan masih belum bisa mengalihkan fikirannya dari tubuh topless Sebastian, sebelum dia mendengar ajakan Sebastian yang mampu membuatnya nosbleed lagi.

"Kau masih disini? Apa kau ingin memintaku untuk membantumu mandi, Ciel?" goda Sebastian dengan menampangkan senyum menggodanya.

"Hah..." ucap Ciel dalam keadaaan lola parah. "Kau bilang apa tadi?"

"Aku bilang... Apa kau ingin memintaku untuk membantumu mandi, Ciel?" Sebastian mengulangi setiap katanya dengan perlahan, karena dia tahu manusia munggil dihadapannnya ini sedang mengidap lola musiman.

"Atau kau ingin mandi bersamaku, heh?"

Satu detik... dua detik... tiga detik...

Saat Sebastian mulai mengulas senyum menggodanya lagi, Ciel mulai bisa menyerap apa maksud dari kata-kata kakaknya barusan.

"Dasar mesum" teriak Ciel meninggalkan kamar Sebastian sambil membanting pintu kamar keras-keras.

Otak Ciel masih blank sesampai diruang pribadinya, tangan mungil Ciel segera mengapai dada sebelah kirinya, merasakan jantung yang semakin kencang berdetak, tangan kanannya juga mulai merambah menyentuh pipi pucatnya, hangat... panas...

Ciel beringsut terduduk bersandarkan pintu kamarnya, kedua telapak tanganya menutup wajahnya yang memanas kemudian mulai mengacak-acak surai kelabunya dengan frustasi.

'Apa yang sebenarnya terjadi padaku' jerit Ciel dalam hati.

.

.

.

.

.

TBC

T^T

Oxygen : Gomen ne... karena ada beberapa kendala, membuat saya jadi jarang update, benar-benar karena kendalan teknis, bukan karena yang mereview fic Aoi Cuma dikit. Hehe...Dari awal saya memang ingin menjadi Author yang akan tetap menulis walau tidak ada yang review kogh #plak dan ingin menciptakan image Author yang cepet update. Ho.. ho.. ho. Tapi namanya juga manusia, hanya mampu berencana, jadi... saya mohon maaf atas keterlambatan updatenya...

A/N :

Anda puas dengan chapter kali ini? Atau malah muak dan mual?

Semoga anda puas, harus puas :p #maksa

Ada keluhan, makian, kritikan, omelan, atau pujian #plak

Silahkan klik Review...