HitsuHina fic
Bleach belongs to Tite Kubo; Frozen belongs to hikari el
"Kalian bukan manusia, kalian lebih hina dari itu. Tahu kenapa? Karena kalian hanya seonggok daging. Tidak kurang, tidak lebih."
.
.
Frozen
Chapter 3 : Name
My name is Nobody (Odyssey 9.366)
.
.
.
.
.
Dua hari berlalu dan hari itu adalah hari yang melelahkan.
Momo sudah berhasil menjelaskan semuanya pada Nanao. Dia yakin temannya itu pasti sangat bingung ketika melihat seorang pria asing di rumahnya. Dia bisa melihat wajah penasaran Nanao setiap kali pemuda berambut putih itu berjalan di belakangnya seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Dan Momo ingat betul wajah Nanao yang terkejut saat dia menceritakan semuanya.
Hmm baiklah, tidak semuanya. Momo tidak menceritakan tabrakan yang dilakukannya—ceritanya sama seperti cerita yang ia ceritakan di rumah sakit; terjatuh dari tangga—juga melewatkan bagian perilaku-perilaku aneh yang dilakukan pemuda itu. Momo memang merasa bersalah sudah berbohong pada Nanao tapi setidaknya hal itu mencegahnya jantungan.
Momo mendesah. Dia masih ingat ketika pagi itu dia mendapati pemuda itu sudah bangun. Dia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Gadis itu heran, padahal ada sofa di sana namun pemuda itu malah duduk di lantai. Momo juga bertanya-tanya dalam hati, sudah dari jam berapa pemuda itu bangun tidur. Lalu setelah sarapan, Momo mengantar pemuda itu ke toko obral yang buka pagi-pagi. Dia membeli enam stel pakaian termasuk pakaian dalam untuk pemuda itu. Setelah itu mereka kembali ke rumah Momo dan di situlah Nanao melihat pemuda itu.
Tapi perasaan khawatir masih belum hilang juga. Padahal dia sudah meminta bantuan Kotetsu Kiyone dan Kotsubaki Sentarou untuk menjaga pemuda itu dan meneleponnya kalau ada apa-apa. Tapi sebenarnya Momo sempat merasa keputusannya kurang tepat. Menitipkan pemuda itu pada Kiyone dan Sentarou bukan keputusan yang cukup bijak.
Rasa lelahnya bertambah begitu dia mendapat telepon dari Ichinose Maki, kekasihnya. Mendengar kekasihnya bicara sama sekali tidak membuatnya rileks. Dia malah tambah lelah dan menjadi kesal. Pembicaraan keduanya tidak berlangsung lama, Momo langsung memutuskan sambungan dan menghiraukan panggilan-panggilan Maki.
Dua hari yang lalu itu memang penuh cobaan.
Sekarang, Momo sedang membersihkan rumahnya. Bersih-bersih memang salah satu pekerjaan rutin yang sering dilakukannya, namun mengubah tata letak furnitur merupakan kegiatan yang jarang dilakukannya. Terakhir kali dia mengubah tata letak ruangannya sekitar dua tahun yang lalu. Memang sudah lama sekali karena mengubah tata letak termasuk pekerjaan yang berat dan tidak bisa dilakukan gadis itu jika sedang sibuk. Entah mengapa dia ingin sekali mengubah tata letak furnitur-furnitur rumahnya hari ini. Lagipula dengan perubahan tata letak ruangan, bisa memberikan suasana baru dalam rumahnya serta membangkitkan mood-nya saat bekerja nanti.
"Sudah," bisiknya begitu dia meletakkan kursi-kursi kaki empat di sekeliling meja makan berbentuk segi empat itu. Dia menghempaskan pantatnya ke salah satu kursi lalu mengembuskan napas. Tidak mudah memindahkan sendiri barang-barang di rumah sendirian, apalagi jika kau wanita. Momo tidak meminta bantuan pada Nanao karena pasti temannya itu sedang bekerja dan dia tidak mau meminta Maki untuk datang ke rumahnya. Melihat wajah pria itu saja Momo segan.
Momo mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Pikirannya beralih ke susunan jadwal yang dibuatnya. Jadwal itu sempat berantakan karena hal-hal mendadak yang harus dilakukannya. Namun Momo tidak ingin melanjutkan kegiatannya sesuai jadwal itu. Dia hanya mengingat-ingat satu hal penting yang harus dilakukannya dalam jadwal itu.
Apa ya? Mengeringkan baju, sudah. Pergi ke perpustakaan, sepertinya itu bisa dilakukan di lain waktu. Membeli bahan-bahan masakan, aku sudah makan dan sepertinya untuk makan malam aku masak bubur saja. Lalu apa ya?
Tiba-tiba Momo berdiri. Dia ingat apa yang harus dilakukannya. Dengan cepat, dia berjalan ke luar rumah. Dia mengabaikan mobilnya yang terparkir di garasi. Dia hanya ingin pergi ke pasar kecil yang terletak tak jauh dari perumahan tempatnya tinggal. Lagipula hari masih sore, seharusnya pasar itu belum tutup jam segini.
NNN
Kotetsu Kiyone memperhatikan pemuda berambut putih yang duduk di meja makan. Tidak ada yang salah dengan pemuda itu. Penampilannya tidak berbeda dengan kebanyakan lelaki pada umumnya; kulit yang agak gelap, otot-otot yang sudah mulai terbentuk, tubuh yang tinggi tegap, dan wajahnya cukup tampan. Yang mencolok dari penampilannya mungkin rambutnya yang seputih salju dan matanya yang berwarna biru—atau hijau, Kiyone tidak terlalu yakin.
Juga perilaku-perilakunya yang aneh.
Kiyone tidak bercanda, dia serius. Dari hari ke hari, pemuda itu melakukan hal-hal yang aneh padahal hal yang dilakukannya adalah hal yang biasa orang-orang lakukan tiap hari. Seperti kemarin, dia memakai selop dengan posisi terbalik bahkan memakai selop hanya di satu kaki saja (pemuda itu sempat memakai selop tersebut untuk menyeka wajahnya), memakai sprei sebagai handuk, melompat kaget begitu lampu tidur dinyalakan. Seolah semua itu baru dilakukan pemuda itu untuk pertama kalinya.
Hinamori Momo memang sudah memperingatkan tentang 'kejutan-kejutan yang mungkin dilakukan pemuda ini dalam kegiatannya sehari-hari' namun dia tidak menyangka kejutannya terlalu sering dan seaneh ini.
Lamunan Kiyone buyar. Dia berjalan agak cepat menuju meja yang ditempati pemuda itu. Begitu sampai, dia memegang sumpit yang digunakan pemuda itu.
"Anda tidak memakai sumpit ketika makan sup miso. Seharusnya anda memakai sendok," ujar Kiyone sambil menyerahkan sendok pada pemuda berambut putih. Kiyone sudah siap akan menjelaskan bagaimana memakai sendok namun tidak jadi. Gadis itu cukup lega karena pemuda tersebut langsung bisa menggunakan sendok tanpa kesulitan.
Mata Kiyone menangkap seorang pria tengah melambai ke arahnya, isyarat untuk mendatangi pria itu. Wajah Kiyone langsung berubah sangar, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah pria itu. Tanpa aba-aba, gadis itu menendang tulang kering pria itu. Keduanya sama-sama mengaduh kesakitan.
"Kau kenapa, sih?" bentak Kotsubaki Sentarou, pria yang memanggilnya tadi. Rasa sakit di tulang keringnya begitu menyengat sehingga mengusap saja tidak bisa menghilangkan sakit di tulang keringnya.
"Itu karena kau tiba-tiba menghilang lalu tiba-tiba datang menyuruhku kemari!" bentak Kiyone tak kalah keras. "Sebenarnya kau ke mana sih? Kau pasti makan di dapur karena tidak mau menjaga orang itu kan?" Kiyone memberi isyarat dengan matanya ke arah pemuda yang sedang duduk tenang sambil memakan sup misonya.
"Tentu saja aku tidak kabur!" elak Sentarou kesal. "Aku membantu Mayu-san membersihkan toilet umum di lantai dua dan tiga!"
Tangan Kiyone tersampir di pinggangnya. Pandangan gadis itu tidak juga melembut, malah bertambah mengerikan. "Jadi kau meninggalkan amanat Hinamori-san untuk menggoda Mayu-san? Licik sekali!"
"Kau salah! Aku tidak menggoda Mayu-san!—meskipun dia cantik dan baik, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menggodanya!" ujar Sentarou dengan tempo yang cepat. "Lagipula seharian ini aku sudah melakukan tugasku. Tadi pagi dia tidak bisa membuka kancing kemeja dan kau tahu siapa yang membantunya? Aku! Lalu dia duduk di lantai yang dingin hampir dua jam dan coba tebak siapa yang menjelaskan bahwa sofa diciptakan sebagai tempat duduk ternyaman? Aku! Waktu dia akan keluar kamar hanya memakai handuk yang bahkan tidak menutupi bagian yang perlu ditutupi, tebak siapa yang memberitahukan padanya bahwa berpakaian setelah mandi sangatlah penting? AKU!"
Kiyone mengerti siapa yang dimaksud Sentarou. Makanya begitu Sentarou sudah akan menjelaskan hal-hal hebat apalagi yang sudah dilakukannya, Kiyone membekap mulut pria itu dengan kasar. "Iya iya, aku tahu! Bisa tidak pelankan suaramu?! Kau mau orang itu mendengar kita?"
Tadinya Sentarou ingin sekali membalas perkataan Kiyone namun gadis itu ada benarnya juga. Meskipun letaknya cukup jauh, pemuda itu bisa saja mendengar mereka.
"Aku tidak mengerti, mengapa orang itu dititipkan pada kita?" ujar Sentarou begitu tangan Kiyone tidak menutup mulutnya.
"Kau keberatan dengan permintaan Hinamori-san?"
"Bukan begitu! Di sini kan hanya tempat bernaung sementara, bukan semacam tempat tinggal selamanya seperti rumah. Maksudku, pemuda itu bahkan tidak tahu fungsi sandal, bagaimana nasibnya di luar sana?"
Kiyone mengangguk-angguk setuju. Apalagi besok pagi semua penghuni sementara harus meninggalkan gedung karena waktu yang diberikan sudah berakhir. Mau tidak mau, Kiyone juga jadi memikirkan nasib pemuda berambut putih itu setelah keluar dari tempat ini.
Kiyone menoleh ke arah meja yang diduduki pemuda itu namun orang yang dicarinya tidak ada di sana. Tatapannya beralih pada Sentarou, ekspresinya sama dengan gadis itu. Tak lama mereka berdua berjalan bersamaan, menuju satu tempat yang sama-sama ada di pikiran mereka.
NNN
Orang itu menatap tas kain yang tergeletak tak jauh dari lemari kecil di sebelah ranjang. Tas kain itu diberikan oleh seorang gadis berambut hitam kecokelatan. Tas itu tidak kosong, tadinya tas itu penuh dengan pakaian—beberapa dari pakaian tersebut sudah dikeluarkan oleh orang itu. Tapi tidak apa-apa, memang pakaian-pakaian itu sengaja diberikan gadis itu untuknya.
"Ini untuk anda. Semoga anda cukup nyaman dengan pakaian ini." Begitulah kata gadis bermata cokelat itu lalu pergi dengan temannya—wanita berkacamata itu masih sempat melirik ke arahnya sedetik.
Dia mengambil tas tersebut. Orang itu masih ingat saat mengeluarkan isi tas tersebut, dia melihat pakaian lamanya—jubah dan celana sebetisnya—juga berada di dalam situ. Ternyata gadis itu benar-benar mencuci dan menyetrika pakaiannya yang sudah usang. Orang itu mengambil jubahnya, merabanya dengan kaku lalu mengendus-endus. Wanginya enak... Dia benar-benar menyukai wangi itu. Terasa nyaman dan segar. Wangi yang sama yang sempat diciumnya saat gadis itu berada di dekatnya.
Orang itu kini mengambil celana usangnya lalu menepuk pelan celana tersebut. Ada sesuatu yang membuat air mukanya berubah seketika. Dengan cepat dia meraba-raba celana itu,tepatnya di bagian saku. Rautnya bertambah menakutkan apalagi sekarang dia juga mulai mencari-cari sesuatu di jubahnya, di pakaian-pakaiannya yang lain, di dalam tas, di balik sprei dan tempat lainnya. Namun sampai ruangan itu berantakan pun, sesuatu yang dia cari tidak dia temukan.
"Permisi! Kotetsu Kiyone akan ma—astaga!"
Orang itu menoleh. Dia mendapati seorang gadis berdiri di dekat pintu. Di sebelahnya seorang pria juga sama terkejutnya dengan gadis yang lebih pendek dari pria itu. Orang itu kenal keduanya. Mereka sama seperti gadis berambut kecokelatan, mengajarinya hal-hal baru. Hanya saja gadis berambut kecokelatan lebih sabar dan lembut dalam menghadapinya.
Namun sekarang, kedua orang itu tidak penting. Dia harus menemukan sesuatu yang dicarinya. Mengikuti instingnya, dia keluar dari kamar itu dengan cepat.
"Hei tunggu! Anda mau ke mana?!" teriak salah satu dari mereka. Orang itu tidak peduli. Dia terus berlari menuju ke satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya. Ke tempat gadis berambut kecokelatan itu tinggal.
NNN
Momo menggenggam satu pak dupa di tangannya. Dia memberikan beberapa keping uang logam pada seorang pria tua yang berdiri di balik gardu.
"Terima kasih," ujar Momo sambil tersenyum. "Untung saja anda belum tutup."
"Kau beruntung, datang di saat aku masih membereskan barang daganganku," ucap pria tua itu sambil ikut tersenyum, seakan tertular senyum gadis itu.
"Kalau begitu, saya pulang dulu. Anda juga sebaiknya cepat pulang," ujar Momo lalu pergi meninggalkan gardu tersebut. Hari memang sudah gelap. Lampu-lampu di jalan mulai menyala secara serempak, pasar kecil di sekitar jalan itu pun hanya tinggal gardu-gardu yang tertutup. Meskipun lampu-lampu di sana cukup terang namun rasa takut sempat terbesit di hati Momo. Masih ingat di pikirannya percakapan ibu-ibu rumah tangga yang tinggalnya tak jauh dari rumah Momo. Membicarakan tentang pencurian yang terjadi tak jauh dari area pasar kecil tersebut.
"...di sana ada pencurian kan?"
"Yang benar?"
"Iya, bersenjata pula. Pencurinya tidak segan menusuk korbannya kalau nggak nurut."
"Mengerikan!"
"Anak perempuan tetanggaku sempat jadi korban. Handphone-nya dirampas, tasnya juga. Tapi dia langsung berlari begitu pencurinya lengah. Dia menangis keras sekali saat di depan rumah."
"Beruntung sekali! Kudengar ada korban yang diperkosa."
"Kasihan sekali..."
"Jahanam memang!"
"Kalau begitu, jangan keluar malam-malam sendirian. Apalagi lewat jalan itu. Berbahaya sekali!..."
Momo meringis dalam hati. Jalan mana? Jalan mana yang berbahaya? Ada empat jalan berbeda dari pasar tersebut yang sama-sama menembus perumahan tempat tinggal Momo. Namun keempat jalan itu juga sama-sama sepi sehingga Momo tidak bisa memilih jalan berbahaya mana yang dimaksud ibu-ibu itu.
Akhirnya Momo memilih jalan yang sering dilewatinya ketika dia membawa mobilnya. Meskipun sepi namun Momo tidak pernah menemui berandalan maupun pencuri di sana. Maka kakinya pun membawanya menuju jalanan itu.
Ternyata berjalan sendirian tanpa duduk di kemudi mobil di jalanan yang sepi adalah pengalaman yang cukup menakutkan. Jalanan itu sangat sepi melebihi perkiraan Momo. Bahkan penerangan lampu di jalan tersebut tidak seterang lampu-lampu yang menerangi perumahan Momo. Meskipun bibirnya diam saja, dalam hati Momo memanjatkan doa perlindungan pada dewa-dewa, berharap dirinya masih tetap utuh begitu menginjak lantai rumahnya.
Entah mengapa, selama sedetik penglihatan Momo buram lalu menghitam. Dia lalu mendengar pekikan yang sangat keras. Keras sekali, terdengar terlalu dekat dengan telinganya. Lalu dia merasakan sakit dan bunyi debum yang keras. Barulah gadis itu sadar, suara pekikan itu adalah suaranya sendiri. Dan sekarang di depannya, seorang pria—tidak, tiga pria tengah mengelilinginya yang terpojok di dinding.
Sepertinya dewa terlambat mendengar doanya...
Salah satu pria bersiul dan pria lainnya terkekeh mengerikan. Sementara pria di depannya memperhatikannya, dari atas lalu bawah. Momo tidak bisa menahan perasaan takutnya saat itu. Mata cokelatnya itu memancarkan ekspresi ketakutan yang membuat tiga pria itu semakin senang.
"Kenapa sendirian?" tanya salah satu pria dengan nada menggoda yang menjijikkan. "Bagaimana kalau kita temani malam ini?"
"Berikan barang-barang berhargamu kalau masih ingin selamat," ancam pria di depannya dengan suara pelan namun terdengar berbahaya dalam satu waktu. Momo merasakan sebuah benda yang lancip menyentuh permukaan baju yang dipakainya. Mereka adalah pencuri bersenjata yang diceritakan ibu-ibu rumah tangga itu!
Momo dengan cepat mencari dompetnya di kantong jaketnya. Dia tidak punya pilihan lain jika ingin selamat, bukan? Dia tidak menguasai ilmu bela diri sehingga rasanya tidak mungkin melawan ketiga pria tesebut hanya dengan memukul tanpa tenaga. Namun Momo juga tidak ingin menyerah begitu saja.
Gadis itu mengeluarkan barang yang dicarinya. Dia menggenggam benda itu dengan kedua tangannya lalu memberikannya pada pencuri itu. Belum sempat benda itu jatuh ke tangan pencuri, Momo melempar benda itu jauh-jauh, membuat ketiga pria itu terkejut dan mengikuti arah jatuh benda tersebut. Di kesempatannya yang kecil itu, Momo langsung berlari secepat-cepatnya.
"Brengsek! Ini dupa!" Momo mendengar pria yang mengancamnya barusan mengumpat kesal. Satu lagi alasan mengapa Momo harus mempercepat larinya. "Kejar dia!"
Momo sekali lagi berdoa, memohon agar kali ini saja dia bisa lolos dari kejaran pencuri-pencuri itu. Namun Momo sekali lagi memekik begitu jaketnya ditarik, tubuhnya pun ikut tertarik dan akhirnya jatuh ke tanah. Punggungnya memang terasa sakit namun bukan itu yang harus dikhawatirkannya. Pria yang menarik jaket Momo tersenyum mengerikan, seorang pria lagi datang sambil menahan kaki Momo yang terus meronta. Sementara pria lain yang tadi mengumpat menatapnya kesal.
"Habisi dia," ucapnya tanpa ampun. Momo berusaha meronta lebih keras namun pegangan pria-pria itu jauh lebih kuat sehingga gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak. Tapi percuma, jalanan itu terlalu sepi sehingga tak seorang pun mendengar teriakan Momo. Bahkan Tuhan sekalipun.
Tuhan, kenapa kau tidak mendengarku?
Suara debum keras mengalihkan perhatian kedua pria yang menahan Momo, bahkan menarik perhatian gadis itu. Pria yang mengumpat itu kini berbaring di tanah. Pria yang menahan kaki Momo berdiri. Sambil berteriak memaki, dia menghampiri seseorang yang membuat temannya pingsan. Namun pria itu juga mengalami nasib yang sama dengan temannya, jatuh ke tanah. Pria yang satu lagi tidak menghampiri orang misterius itu, dia malah lari terbirit-birit menjauhi orang itu. Namun orang itu berlari lebih cepat lalu merubuhkan pria tersebut. Kini ketiganya tidak sadarkan diri.
Momo yang terbaring di tanah berusaha duduk. Punggungnya masih terasa sakit sehingga agak sulit baginya untuk duduk. Begitu dia menajamkan matanya, dia melihat sesosok lelaki tengah berdiri. Dan sekelebat warna putih juga turquoise.
"Anda...?" ucap Momo begitu orang itu mendekatinya.
NNN
"Silakan," ujar seorang opsir sambil menyerahkan segelas kopi hangat pada Momo. Gadis itu tersenyum lemah lalu meniup-niup kopi tersebut sebelum meminumnya.
Suasana kantor polisi itu terlihat cukup ramai. Ada beberapa petugas polisi yang masih mondar-mandir dan beberapa ada yang duduk di mejanya. Tidak seperti opera-opera sabun di televisi, kantor polisi di kota Karakura itu bersih dan rapi. Dulu Momo sempat berpikir kantor polisi adalah tempat menyeramkan yang penuh polisi dan kriminal yang berwajah menyeramkan. Namun dia tidak pernah berpikir seperti itu lagi sejak sembilan tahun yang lalu.
Gadis itu mendapati seorang pemuda berdiri di depannya. Karena kejadian beberapa jam yang lalu, Momo sempat ketakutan begitu ada seorang lelaki berdiri tiba-tiba di depannya. Namun dia langsung menghembuskan napas lega begitu tahu pemuda yang berdiri di depannya adalah pemuda yang menyelamatkannya.
Gadis itu menepuk-nepuk bangku di sebelahnya, isyarat agar pemuda itu duduk di situ. Pemuda itu menurut, dia duduk dengan tenang di sebelah Momo.
"Sudah selesai?" tanya Momo. Mereka berada di kantor polisi sekarang untuk ditanyai keterangan oleh polisi atas kejadian pencurian yang dialami Momo. Saat itu, Momo langsung menelepon polisi begitu sadar bahwa pria-pria yang berusaha mencuri darinya sudah terkapar tak berdaya. Bahkan saat polisi datang, pencuri-pencuri itu tetap tidak sadarkan diri.
Pemuda itu mengangguk. Dia terus memandangi Momo dalam diam. Wajah Momo yang semula pucat kini mulai memerah karena kelakuan pemuda itu. Orang ini ternyata belum berubah, ucapnya dalam hati.
"Selamat malam," sapa seorang petugas polisi. Baik Momo dan pemuda itu mendongak dan mendapati seorang pria berwajah ramah berdiri di depan mereka. Sekali lagi Momo sempat ketakutan namun dia langsung sadar bahwa pria di depannya adalah polisi. Sepertinya dia harus menjalani perawatan medis untuk trauma.
"Saya memberitahukan bahwa anda bisa pulang. Keterangan yang anda berikan sudah cukup untuk kami," lanjut petugas itu sambil tersenyum meyakinkan. Momo mengeluarkan napas lega. Dia pikir dia akan menghabiskan malamnya di kantor polisi.
"Lalu penjahat-penjahat itu bagaimana?"
"Mereka akan dipenjara dan diberi hukuman dalam waktu dekat. Seorang dari mereka yang terbangun, mengaku bahwa mereka bertiga adalah komplotan pencuri dan tidak memiliki rekan lain. Mereka benar-benar pencuri yang meresahkan warga sekitar."
Momo mengangguk-angguk sambil mendesah lega. Dia berdiri lalu membungkuk pada petugas polisi tersebut sebagai rasa terima kasih. Petugas polisi tersebut juga balas membungkuk.
"Oh ya, pria yang menyelamatkan anda ini siapa?" tanya petugas polisi tersebut sambil menunjuk pemuda berambut putih yang kini sudah berdiri.
"Dia kenalan saya."
"Begitu? Boleh saya tahu nama pemuda tersebut?" tanya petugas polisi lagi sambil mengecilkan volume suaranya. Alis Momo terangkat, heran dengan pertanyaan petugas tersebut juga dengan volume suaranya.
"Anda tidak menanyakannya langsung pada orangnya?"
"Kami sudah menanyakan namanya, namun orang itu tidak mau menjawab. Dia hanya diam saja begitu kami berulang kali menanyakan namanya. Bahkan saat ditanyai keterangan pun, dia hanya menjawab dengan singkat," jelas petugas tersebut tanpa menoleh ke arah pemuda berambut putih. Sekali lagi Momo heran. Pemuda itu memang selalu diam saja meskipun Momo menanyakan sesuatu padanya. Paling hanya dijawab anggukan atau gelengan kepala.
Tunggu dulu.
Pemuda itu bicara? Momo tidak percaya dengan perkataan petugas polisi barusan. Namun melihat wajah serius petugas tersebut, ketidakpercayaan Momo berubah menjadi perasaan heran dan bingung. Kalau memang selama ini pemuda itu bisa bicara, mengapa dia tidak pernah mengatakan apapun pada Momo?
Petugas polisi itu masih menunggu jawaban dari Momo. Gadis itu mengerti lalu meringis. Dia harus mengarang cerita lagi kali ini.
NNN
"Aku minta maaf sekali lagi. Kalian sampai repot-repot mencarinya. Ah, seharusnya aku yang minta maaf. Ah iya, benar-benar tidak apa-apa. Besok aku akan ke sana untuk mengambil barang-barang yang tertinggal. Iya, sekali lagi terima kasih."
Momo memutus sambungan telepon. Dia lalu mendekati seorang pemuda berambut putih yang sekarang duduk diam di sofa.
Momo dan pemuda itu sudah kembali ke rumah Momo. Petugas kepolisian itu mengizinkan mereka pulang meskipun nama pemuda itu masih belum diketahui. Namun sepanjang perjalanan, pemuda itu lagi-lagi hanya diam. Dia sama sekali tidak mengatakan apapun.
"Kurasa anda akan menginap di sini lagi," ujar Momo. Sekali lagi, Momo mempersilakan pemuda itu masuk ke kamar tamu. Dia memperhatikan pemuda itu sedang menyentuh kain yang menutupi kasur dengan gerakan kaku. Entah mengapa, Momo merasa pria itu rindu dengan kasur yang pernah ditidurinya.
"Anu..." Kalimat itu mengambang. Momo ingin sekali menanyakan sesuatu kepada pemuda itu namun merasa ragu karena menurutnya itu tidak terlalu penting. Sayang sekali, jiwa ingin tahunya lebih besar ketimbang keraguannya.
"Aku ingin tahu namamu. Namaku Hinamori Momo." Gadis itu baru ingat, dia juga belum memperkenalkan diri pada pemuda itu. Akan sangat tidak sopan menanyakan nama seseorang tanpa memperkenalkan diri sendiri.
Pemuda itu awalnya terlihat ragu-ragu. Ada raut kebingungan di air mukanya. Namun akhirnya dia menjawab. Momo yakin itu adalah kalimat pertama yang diucapkan pemuda itu padanya dan suaranya akan terus terngiang dalam memori gadis itu.
"Aku tidak punya nama."
.
.
.
to be continued
.
.
.
.
.
lagi-lagi, chapter kali ini terlalu dikit! saya ga tau kenapa kalau apdet chapter, isinya selalu dikit mulu kayak irit jalan cerita.
tapi yaaa mau gimana lagi? author nya juga gaje begini -_-
oh ya, fic ini punya empat karakter utama, tapi tetep yang diceritain itu HitsuHina. meskipun nanti ada bumbu-bumbu pairing lainnya, yaaaah ga sebanyak HitsuHina sih hehe
review anyone?
