HitsuHina fic

Bleach belongs to Tite Kubo; Frozen belongs to hikari el


Suara yang ingin didengarnya itu terdengar kembali. Suaranya lirih, seakan dia tidak pernah berbicara dalam waktu yang lama. Dia terus mendengar suara itu. Suara yang diulang berkali-kali seperti kaset rusak. Suara itu membentuk sebuah kalimat yang tidak bisa dilupakan olehnya. Kalimat yang sangat ganjil.

Aku tidak punya nama...

.

.

Frozen

Chapter 4 : Learn

"Is it really possible to tell someone else what one feels?" ― Leo Tolstoy, Anna Karenina

.

.

.

.

.

Suara penggorengan yang beradu dengan codet terdengar dari dapur. Di sana, seorang gadis berambut cokelat gelap sedang memasak. Apa yang tidak biasa dari hari itu adalah dia memasak lebih banyak dari hari-hari biasanya. Bahkan selama beberapa hari ini, dia sudah sering sekali memesan makanan lebih dari seporsi. Dan hari ini dia memutuskan untuk memasak, karena tamu yang sekarang menginap sejak beberapa hari yang lalu belum pernah memakan hasil masakan gadis itu.

Momo mematikan nyala api di kompor. Dia segera berlari mengambil piring lalu menuangkan masakannya ke atas piring tersebut. Lalu dengan gerakan cepat, dia membawa piring itu ke arah ruang makan. Meja sudah tersusun rapi, alat-alat makan sudah tersedia dan makanan sudah tersaji. Momo meletakkan piring tersebut lalu tersenyum.

Dia tersenyum bukan karena hasil kerjanya. Tapi karena ada dua mangkuk yang tersedia di sana.

"Ah, makanan sudah siap," ujar Momo saat dia melihat sosok pemuda berambut putih masuk ke ruang makan. Pemuda itu langsung mendekat tanpa ragu dan mulai duduk di kursi yang berseberangan dengan Momo. Momo merapikan sumpit di depannya terlebih dahulu lalu mulai mendekapkan tangannya di depan bibir sambil memejamkan mata.

Tidak lama, dia membuka mata dan mulai mengambil makanan di depannya. Dia tersenyum saat pemuda di depannya hanya memandangnya bingung.

"Aku sedang berdoa," jawab Momo tanpa ditanya. Dia mengambil mangkuk di depan pemuda berambut putih lalu mengisinya dengan nasi. "Jangan sungkan kalau mau tambah lagi. Aku memasak lumayan banyak hari ini."

Momo memberikan mangkuk itu pada pemuda di depannya. Setelah mengambil nasi untuk dirinya sendiri, Momo berseru, "Selamat makan!". Keduanya pun mulai makan.

Suasana makan mereka tidak terlalu sepi namun keduanya juga tidak ada yang bersuara. Masing-masing sibuk makan; suara sumpit Momo yang mengetuk-ngetuk dasar mangkuk dan suara sendok pemuda berambut putih yang beradu dengan mangkuk. Momo jarang sekali memasak untuk porsi dua orang. Kalau pun pernah, itu karena Nanao yang ikut makan siang di rumahnya. Itu juga jarang sekali. Makanya Momo sempat khawatir kalau makanan yang dimasaknya terlalu banyak.

"Aku jarang memasak lebih dari seporsi." Momo membuka percakapan begitu lauk yang tersedia di mejanya masih tersisa lebih banyak daripada kapasitas perutnya sekarang. "Aku pernah memasak saat Ise-san datang kemari, tapi porsinya hampir sama denganku makanya aku bisa menakar porsi yang harus kumasak. Ah, tapi kupikir memasak lebih dari seporsi seperti ini juga menyenangkan. Aku tidak pernah memasak sebanyak ini."

Momo tidak tahu apakah pemuda itu sudah kenyang apa belum. Gadis itu tak pernah tahu kapasitas makanan yang dapat ditolerir pemuda di depannya. Sudah bersiap akan menghabiskan semua masakannya, pemuda berambut putih itu menyerahkan mangkuknya.

"Kalau sudah kenyang, taruh saja di meja. Nanti akan kubersihkan."

Pemuda itu terdiam, seakan sedang memikirkan sesuatu. Lalu dia berkata, "Tambah."

Momo mengerjapkan mata kemudian senyumnya mengembang. "Kau mau tambah? Boleh, boleh! Mau tambah seberapa?"

Tak sampai sepuluh menit, masakan Momo habis oleh pemuda berambut putih itu.

...

Momo memindahkan alat-alat makan ke basin. Dia menoleh sedikit ke arah ruang makan dan mendapati pemuda berambut putih itu merapikan kursi tempatnya duduk. Gadis itu tersenyum sekilas lalu kembali menatap basin yang penuh dengan alat makan yang kotor.

Dia menghembuskan napas.

Sampai dia menatap dua mangkuk yang masih ada sedikit bekas nasi, saling bertumbuk di antara alat makan lainnya. Momo tersenyum sekali lagi. Dia teringat suasana di ruang makan yang sepi tadi namun entah mengapa tidak membuat canggung sama sekali. Atau malah membuatnya nyaman. Lalu setelah selesai dengan pikirannya, dia mulai mencuci piring.

NNN

Sudah sembilan hari sejak Momo memutuskan untuk cuti, dia tidak memiliki kegiatan yang begitu berarti. Bukan tidak berarti, hanya saja biasanya gadis itu selalu sibuk dari pagi sampai malam. Makanya begitu mengambil cuti beberapa hari, dia suka kebingungan dan cemas sendiri. Kalau sudah begitu, dia akan langsung pergi ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku atau pergi ke wisma hanya untuk bantu-bantu. Tapi sekarang gadis itu memiliki kegiatan lain untuk membunuh waktu.

Kegiatan yang sering Momo lakukan akhir-akhir ini adalah mengajari pemuda berambut putih yang menginap di tempatnya tentang kegiatan sehari-hari dan baca tulis. Momo bahkan membeli buku-buku baca tulis hitung untuk sekolah dasar, buku tata krama dan kamus bahasa Jepang hanya untuk pemuda itu. Gadis itu pun membuatkan jadwal belajar khusus sehingga pemuda itu juga dapat belajar tentang disiplin waktu.

Selama lima hari ini mengajari pemuda itu macam-macam, Momo cukup kagum dengan kemampuan daya ingat pemuda itu. Pemuda berambut putih itu langsung dapat menghapal lebih dari setengah isi dari kamus bahasa Jepang dan sudah dapat menulis sepuluh huruf kanji. Dia bahkan sudah mengetahui fungsi beberapa furnitur dan alat-alat yang berada di rumah Momo dan mengerti bagaimana cara menggunakan alat-alat tersebut. Momo yakin pemuda itu juga pasti memperhatikan keadaan sekitarnya untuk belajar.

Dia jenius, pikir Momo dalam hati begitu melihat selembar kertas yang penuh dengan tulisan yang tidak rapi; tulisan pemuda berambut putih itu. Dia tersenyum begitu matanya menangkap sebaris kalimat penuh dengan hiragana. Sepertinya pemuda itu masih takut memasukkan kanji dan katakana ke dalam tulisannya sehingga dia selalu menulis dengan huruf hiragana. Kare hari ini enak sekali, begitu tulisnya. Sepertinya Momo harus membeli buku baca tulis hitung level sekolah menengah untuk pemuda itu.

Sayup-sayup Momo mendengar pintu kamar mandi dibuka. Gadis itu mendapati pemuda itu keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya dan berpakaian lengkap. Hal pertama yang ditekankan Momo berkali-kali setiap hari padanya adalah agar dia tidak membuat Momo gagal jantung setiap kali pemuda itu keluar kamar mandi.

"Oh sudah selesai? Kau mau menonton tv?" tanya Momo. Pemuda itu mengangguk singkat lalu duduk di sofa yang ditempati Momo. Momo di sana bukan untuk menonton juga tapi untuk menunggu giliran mandi. Maka dia berdiri dan langsung masuk ke kamar mandi.

Begitu kakinya menginjak pintu kamar mandi, Momo tertegun sejenak. Lantai keramik itu dingin. Momo sudah tidak begitu terkejut, tidak seperti waktu pemuda itu mulai menginap di rumah Momo. Saat itu, jika diingat-ingat, pertama kali pemuda itu mandi di sana juga menggunakan air dingin.

Momo masih ingat saat dia memekik begitu kakinya menyentuh lantai kamar mandi dan langsung menghampiri pemuda berambut putih yang sedang duduk di kasur kamar tamu.

"Kau mandi dengan air dingin lagi? Kan sudah kubilang, putar keran ke kanan untuk air panas. Kalau putar ke kiri, itu air dingin. Apa penjelasannya kurang bisa dipahami?"

Momo menarik napas karena dia sama sekali tidak mengambil jeda saat mengomeli pemuda itu. Dia melihat pemuda itu hanya diam, sama sekali tidak bergeming. Gadis itu mencoba mengatur kembali napasnya. Dia lalu duduk di sebelahnya sambil menatap mata pemuda itu. Pemuda itu tidak balik menatap Momo. Dia bukannya menghindari tatapan Momo, hanya saja pintu kamarnya lebih menarik untuk dilihat pemuda itu.

"Kau bisa sakit kalau mandi dengan air dingin di cuaca sedingin ini," lanjut Momo dengan nada melembut. "Aku kan, sudah mengatakan hal ini berkali-kali."

"Kenapa kamu mandi dengan air dingin? Kamu juga mandi dengan air dingin waktu pertama kali mandi di sini. Apa kamu bingung kalau mandi menggunakan shower?"

"Tidak," jawab pemuda berambut putih itu singkat. "Aku sudah terbiasa."

Momo mengernyitkan alisnya. "Sudah terbiasa?"

Pemuda itu mengangguk. Mata Momo tidak lepas dari mata pemuda yang tidak balik menatapnya. Momo mencoba mencari sesuatu di dalam kolam turquoise itu namun pemuda itu tidak mengizinkannya. Akhirnya gadis itu menyerah.

"Kenapa terbiasa?"

"Tidak tahu," jawab pemuda itu. Dia mengangkat kepala sedikit lalu kembali menunduk.

"Tidak ingat," ralatnya.

Momo mengerti jika pemuda ini memiliki masalah pada memorinya. Dia mempelajarinya setelah tinggal dua hari dengan pemuda itu.

Rasa penasaran Momo mulai muncul.

"Kau punya keluarga?"

Kali ini pemuda itu mengangkat kepalanya, memandang kedua bola mata Momo. Raut hampa terlihat jelas di wajah pemuda berambut putih itu.

"Keluarga?"

"Ya, keluarga. Ayah, ibu, adik atau kakak?"

Pemuda itu tampak berpikir lalu dia menggeleng. Raut wajahnya masih hampa.

"Keluarga... Aku belum belajar sampai situ."

Dari balik pintu kamar mandi, Momo menatap pemuda berambut putih yang sedang menonton serial drama Jepang. Drama itu sebenarnya sangat sedih namun pemuda itu hanya menontonnya dengan ekspresi datar. Momo hanya berpikir, hidup seperti apa yang dilalui pemuda itu sebelum bertemu dengannya. Apakah hidupnya sangat menderita, dia bahkan tidak mengerti apapun tentang dunia ini.

Dan bahkan dirinya sendiri.

Momo memejamkan matanya. Dia tidak mampu membayangkan masa lalu pemuda itu. Lalu dia mulai menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.

NNN

Malam sudah larut, namun mata pemuda itu belum juga terpejam. Dia tidak mengerti mengapa hari ini dia susah sekali tidur. Selama dia menginap di rumah gadis baik itu, dia selalu dapat tidur lelap. Tentu saja karena rumah itu terasa nyaman dan kasurnya empuk sekali. Tidak terlalu lelap karena pemuda itu seperti sudah terbiasa untuk setengah terjaga. Entah mengapa dia dapat waspada dalam keadaan tidur, pemuda itu saja tidak ingat.

Sebenarnya tidak hanya itu saja yang pemuda itu tidak ingat. Ada banyak hal yang tidak bisa dia ingat. Ingatan paling lama di memorinya adalah saat dia sadar bahwa dia berada di jalanan tanpa pakaian sehelai pun, dan itu terjadi hanya dalam rentang kurang dari setahun. Kalau dipikir-pikir, dia tidak pernah bisa mengingat apapun sebelum kejadian itu. Bagaimana dia bisa berada di sana atau mengapa dia tidak memakai apapun saat itu atau mengapa hanya jam saku berwarna perak yang hanya dia miliki saat itu. Dia hanya bisa merasakan bahwa dia 'sudah terbiasa' melakukan sesuatu dan menurutnya hal itu wajar. Tapi tidak bagi gadis baik berambut kecokelatan itu.

Ah, jam saku...

Benar juga, alasannya kembali ke rumah ini adalah untuk mencari jam sakunya yang hilang. Tapi dia lupa akan tujuannya itu saat melihat gadis baik yang menolongnya diserang oleh tiga pria. Saat itu, pemuda itu gelap mata dan dia bisa merasakan tangannya mendingin. Lalu tanpa berpikir panjang, pemuda itu langsung merubuhkan ketiga pria itu dengan mudah. Untunglah gadis itu baik-baik saja.

Syukurlah...

Kalau diingat-ingat (bahkan pemuda yang lupa ingatan sepertinya bisa mengingat) tatapan mata gadis itu sangat aneh. Tadi, saat pemuda itu memilih untuk menonton televisi dan gadis itu akan mandi, dia melihatnya sekilas. Gadis itu menatapnya dengan tatapan yang sangat rapuh. Meskipun pemuda itu tidak tahu apa maksud tatapan gadis itu, dia merasa asing. Asing, karena sepertinya baru sekarang lah dia mendapat tatapan itu. Aneh sekali, dia hanya bisa menduga-duga tanpa ingat apapun. Sepertinya pemuda itu sulit tidur karena hal itu.

Sayup-sayup pemuda itu mendengar sebuah gerakan tak jauh dari kamar gadis baik itu. Dengan sigap dia langsung bangkit dari tempat tidurnya tanpa suara. Anehnya dia tidak mencium bau apapun selain bau gadis itu. Apa orang ini pandai menyembunyikan kehadirannya?

Pemuda itu membuka pintu perlahan. Dia menyusuri ruang per ruang dengan cepat tanpa suara sedikit pun. Ketika berada dekat dengan ruangan gadis baik itu, pemuda itu berhenti. Dia menunggu sesosok bayangan mencurigakan yang sedang menutup pintu kamar pelan-pelan. Tapi sosok itu sama sekali tidak mencurigakan.

"Oh Tuhan!" pekik seorang gadis saat dia menyadari pemuda itu berdiri tak jauh di depannya. Rasanya aneh sekali, gadis ini selalu terkejut. Memangnya pemuda itu sangat menyeramkan sehingga dia selalu memekik dan terkejut seperti itu?

"Kenapa kau—astaga, jantungku—ada apa kau kemari jam segini?" tanya gadis itu sambil mengusap-usap dada. Ternyata suara yang didengarnya itu adalah suara langkah gadis itu sendiri. Lagipula mengapa gadis itu juga masih bangun padahal malam sudah larut?

"Kau mau minum? Atau makan cemilan? Bukannya kau sudah tahu cara menuang minuman?" celoteh si gadis sambil menggapai-gapai dinding terdekat. Gadis itu tak pernah terlihat marah. Bahkan saat gadis itu bertanya dan menawarkan banyak hal dan pemuda itu hanya diam saja, gadis itu hanya tersenyum. Gadis itu tak pernah mendesak, dia hanya menunggu sampai pemuda itu menggeleng atau menganggukan kepala. Bagi sang gadis, itu saja sudah cukup.

Pemuda itu mengekor si gadis. Sepertinya gadis itu benar-benar berpikiran bahwa pemuda itu ingin minum karena gadis itu membawanya sampai ke dapur. Gadis itu menyalakan lampu dapur lalu berjalan menuju lemari gelas.

"Mau?"

"Tidak," jawab pemuda itu. "Aku tidak haus."

Gadis itu mengeluarkan bunyi 'hmm' dari tenggorokannya lalu dia mulai menuangkan air ke dalam sebuah gelas. Gelas itu untuk si gadis. Gadis baik itu lalu duduk di salah satu kursi tinggi. Matanya menyilakan pemuda itu untuk duduk di kursi tinggi yang satunya lagi. Maka pemuda itu duduk, di sebelah gadis itu. Agak sulit duduk di kursi tinggi itu, karena bentuknya aneh dan kakinya hanya ada satu. Pemuda itu dapat mendengar desah tawa dari gadis baik itu begitu pemuda itu berhasil duduk di kursinya.

"Ini pertama kalinya kau menjawab dengan kata-kata. Biasanya kau selalu mengangguk atau menggeleng." Gadis itu meminum air di gelasnya sedikit lalu menatap pemuda itu kembali. Sepertinya gadis ini senang sekali menatap pemuda itu. Ini bukan pertama kalinya. Pemuda itu sangat sadar bahwa gadis itu selalu menatapnya ketika berbicara. Tapi pemuda itu tidak pernah menatap balik. Bukan karena dia benci, lebih tepatnya gadis itu tidak suka jika pemuda itu menatapnya.

"Aku tidak bisa tidur. Kau juga?"

"Ya," jawab pemuda itu.

"Padahal besok aku harus bangun pagi-pagi." Lalu gadis itu diam. Aneh, karena gadis itu tak pernah diam seperti itu. Seperti berpikir tapi tidak berpikir. Pemuda itu masih harus mempelajari banyak kosakata.

"Ah, besok—" Pemuda itu menoleh untuk menatap gadis itu. Pandangan mereka akhirnya bertemu. Dalam hitungan detik, gadis itu sudah memalingkan wajah, menghindari tatapan pemuda itu. Benar, kan? Gadis itu tidak suka dilihat olehnya.

"—besok kau bisa bangun lebih pagi? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujar gadis itu sambil mengusap rambutnya. Pemuda itu mengangguk lalu mereka berdua bangkit dari tempat keduanya duduk. Setelah obrolan kecil itu, mereka tidur lelap.

NNN

Momo sudah bangun terlebih dahulu pagi itu. Dia menyiapkan segala hal yang perlu dibawanya. Gadis itu menaruh dua tas yang berbeda di atas sofa, yang satu berisi peralatan kecil seperti hanphone dan dompet dan yang satu lagi berisi tempat bekal. Dia juga sudah memasak untuk sarapan pagi; telur gulung dan brokoli rebus. Pemuda berambut putih keluar dari kamarnya begitu Momo sedang membereskan meja makan.

"Pagi. Kau mandi dulu saja, baru setelah itu makan," kata Momo sambil menoleh sekilas lalu kembali menata meja makan. Pemuda itu menurut, dia berjalan menuju kamar mandi. Tidak sampai lima belas menit, pemuda itu sudah keluar dari kamar mandi. Sesuai dengan kata-kata Momo barusan, dia langsung ke ruang makan dan memakan sarapan yang sudah disediakan.

"Kita tidak belajar hari ini. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat," ujar Momo begitu pemuda itu sedang mencuci piring.

"Ke mana?" tanya pemuda berambut putih itu.

"Lihat saja nanti." Momo hanya tersenyum kecil lalu membawa barang-barang yang sudah disiapkan.

Dia memasukkan semua barang-barang tersebut ke bagasi mobil. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Momo mempersilakan pemuda itu untuk duduk di sebelah kemudi. Seperti biasa, pemuda itu yang baru pertama kali duduk di sebelah kemudi terlihat ragu-ragu. Namun begitu dia menyadari bahwa kursi yang didudukinya tidak jauh beda dengan kursi belakang, dia mulai terlihat rileks. Momo memakaikan sabuk pengaman pada pemuda tersebut sebelum dia memakaikan sabuk pengaman miliknya.

"Sebelum berangkat, kau harus memakai sabuk ini terlebih dahulu," ujar Momo sambil menunjuk sabuk pengaman milik pemuda itu. Mobil mini itu pun akhirnya meninggalkan tempatnya dan mulai menyusuri jalan.

Suasana di perjalanan cukup sepi karena Momo tidak terbiasa mendengarkan musik saat berkendara dan pemuda itu juga pasif dalam obrolan. Namun keduanya sama sekali tidak terlihat canggung. Sepertinya tinggal bersama hampir seminggu membuat mereka tidak perlu mengisi kekosongan obrolan seperti ini. Lagipula Momo sepertinya tidak ingin menganggu pemuda yang sedang memandang pemandangan di luar dalam diam. Meskipun pemuda itu tidak berekspresi, Momo yakin dia cukup senang melihat pemandangan kota yang jarang dilihatnya.

Setengah jam kemudian, mobil kecil itu sampai di sebuah tempat. Dengan rapi, gadis itu memarkir mobilnya di seberang toko makanan. Barang-barang yang ditaruhnya di bagasi dikeluarkan. Momo juga meminta tolong pemuda itu untuk mengangkat sebagian tas yang dibawanya.

"Dari sini kita masih harus jalan, soalnya mobil tidak bisa masuk ke dalam sana. Kita akan makan siang di tempat yang akan kita kunjungi," jelas Momo. Mereka berdua pun berjalan berdampingan dalam diam. Memang, jalan yang dilalui mereka hanya bisa dimasuki oleh satu mobil. Momo sempat mengingatkan bahwa tempat yang mereka kunjungi cukup jauh, makanya dia mengatakan pada pemuda itu untuk memberitahu gadis itu kalau-kalau dia sudah tidak kuat berjalan. Nyatanya pemuda itu memiliki stamina yang kuat dan sama sekali tidak merasa lelah. Momo sampai malu karena justru dialah yang meminta waktu istirahat.

Tak lama, mereka masuk ke sebuah tempat terbuka yang hanya dibatasi oleh pagar bata yang tingginya melebihi mereka. Tempat itu cukup luas namun dipenuhi oleh bebatuan yang berjejer rapi. Pemuda itu dapat mencium bau dupa di kejauhan. Tempat yang hening dan menyeramkan dalam satu waktu.

"Ini tempat pemakaman," kata Momo, menjawab raut kebingungan di wajah pemuda itu. Momo berjalan di depan pemuda itu. Dia membawa pemuda itu ke sebuah batu yang berada tak jauh dari tempatnya masuk. Pemuda itu baru sadar bahwa batu-batu tersebut memiliki huruf-huruf yang diukir di atasnya. Batu di depannya juga terdapat ukiran huruf kanji. Tulisannya seperti—hinamo—

Makam keluarga Hinamori.

Bukankah 'hinamori' nama gadis itu?

"Ini makam keluargaku." Gadis itu menyalakan dupa yang dibawanya lalu meletakkannya di tempat dupa. "Ayah dan ibuku meninggal lima tahun yang lalu, tepat di hari ini. Aku ke sini untuk memberikannya salam atau semacam penghormatan." Lalu Momo menepuk tangannya dua kali lalu merapatkannya di depan bibir. Gestur itu sama persis seperti saat dia hendak makan.

Entah kenapa, pemuda itu ikut berjongkok di sebelah gadis itu. Dia melakukan hal yang sama dengan Momo; menepuk tangan dua kali lalu merapatkan di depan bibir. Setelah selesai, mereka saling bertatapan. Momo langsung tersenyum begitu mendapat tatapan dari pemuda itu.

"Aku mengajakmu ke sini untuk menemui keluargaku. Aku harap aku bisa bertemu dengan keluargamu juga." Momo masih tersenyum namun senyumannya terlihat rapuh.

NNN

Sepulangnya dari makam, pemuda itu mengecek sesuatu di kamusnya. Dia membuka halaman demi halaman dengan cepat. Gerakannya berhenti pada satu halaman. Dengan seksama dia membaca satu deret kalimat yang tertera di situ.

家族 - かぞく

1. Sebuah kelompok sosial yang mendasar dalam masyarakat biasanya terdiri dari satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka.

2. Dua atau lebih orang yang berbagi tujuan dan nilai-nilai, memiliki komitmen jangka panjang satu sama lain, dan biasanya berada di tempat tinggal yang sama.

Hari itu dia mempelajari tiga hal. Pertama tentang arti dari kata tersebut. Kedua tentang sikap seseorang begitu kehilangan keluarga. Meskipun gadis itu tidak menunjukkannya, pemuda itu dapat melihatnya. Perasaan sakit dan kesepian yang gadis itu coba sembunyikan dari siapapun. Lalu yang terakhir adalah sesuatu yang membuat gadis itu kehilangan keluarganya, yang membuatnya merasakan sakit dan kesepian.

Itu adalah kematian.

.

.

.

to be continued

.

.

.

.

.


fic ini lama banget apdetnya? haha masih mending, ada tuh fic saya yang masih gelantungan ga jelas nasibnya *eeeh

eh tapi makasih buat semua yang udah baca fic ini. apalagi yang review fic ini, bikin saya tambah semangat nulis hehe.

ng apa? segini masih dikit juga? hahaha ya gimana ya? saya juga maunya panjang-panjang tapi pas diliat-liat, emang cocoknya disusun kayak gini. saya juga nulisnya agak random, ga chapter per chapter tapi sedapetnya aja haha *padahal sih males*

oh ya, untuk menanggapi salah satu review di fic ini : ini fic asli ide dari saya. saya gatau fic apa yang anda referensikan, karena kalau saya beberin jalan ceritanya di sini, ga asik juga dong. ketahuan entar jalan ceritanya gimana. (tapi penasaran juga sih, cerita yang dimaksud tuh yang kayak gimana?)

seperti biasa, saya minta reviewnya haha. thanks for reading~