Chapter 5 : Jujurlah Ciel...

Bagi Ciel acara makan malam hari ini sama dengan neraka, panas menyengatnya semenjak dia keluar dari kamar sang raven.

Padahal surai kelabunya sudah di guyur air dingin selama mungkin di bawah shower, tapi entah kenapa wajah Ciel tetap memanas dan semakin memanas.

Ciel hanya bisa menyembunyikan wajahnya selama acara makan malam itu berlangsung, manik birunya terlalu takut untuk menatap sang kakak yang kini tengah duduk dihadapannya sambil menyantap makan malamnya dengan khitmat. Walaupun sesekali Ciel tetap mencuri pandang sekilas.

"Kau baik-baik saja Ciel? Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?"

Sebastian mulai memecahkan kecanggungan yang terjadi sejak acara makan malam hari ini dimulai, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Mereka akan saling berargumen, atau saling bertukar pengalaman, tapi hari ini semua terasa berbeda, atsmosfir dalam ruangan itupun jadi lebih berat dari pada biasanya.

Ciel hanya mengeleng lemah untuk menjawab pertanyaan kakaknya. Dan dalam hati dia mulai memikirkan pertanyaan yang terlontar tadi. Apa dia baik-baik saja? Ya... secara fisik dia baik-baik saja, yang dirasakannya hanya gejolak hati yang rumit. Apa makanannya tidak sesuai seleranya? Tidak... selama masakan itu di buat oleh Sebastian, pasti selalu sesuai seleranya.

'Ah... Sebastian... Sebastian selalu nama itu, selalu orang itu, selalu dia yang memenuhi fikirannya, tidak adakah orang lain yang ada dalam fikirannya selain si raven itu?'

Ciel menghela nafas panjang sebelum mengakhiri acara santap malamnya "Aku selesai... terima kasih makanannya." ucap Ciel enggan.

Sebelum dia berniat beranjak dari kursinya, sebuah suara membuatnya bergeming.

"Ciel... tidak bisakah kau mengatakan perasaanmu dengan jujur?"

Manik biru Ciel menatap manik merah Sebastian yang kini tengah menatapnya tajam.

"Aku tak mengerti apa maksudmu?"

"Kau tahu apa maksudku Ciel, jadi... aku mohon padamu, ungkapkan semua hal yang menganjal dihatimu, tak mungkin kau bisa menyimpannya sendirian."

Untuk yang kesekian kalinya hari ini, Sebastian melihat manusia di hadapannya ini dalam keadaan loading lama luar biasa. Sebastian beranjak dari kursinya untuk menghampiri adiknya yang tengah duduk dengan tatapan kosong.

Greb...

Ciel merasakan lengan panjang sang kakak tengah memeluknya dengan pelukan melindungi yang hangat sampai menembus hati.

"Mungkin sulit bagimu, tapi aku mohon ungkapkan semua hal yang tengah menganjal dalam hatimu. Aku tak suka melilatmu dengan tatapan kosong seperti ini."

Ciel berusaha keras mencerna perkataan Sebastian, tapi dia juga belum dapat mengerti apa yang sebenarnya Sebastian inginkan darinya.

'Mengatakan perasaanku dengan jujur?'

Ciel tak pernah menyadari bahwa banyak hal yang telah di sembunyikan dari kakaknya.

Yang seharusnya dia lakukan adalah mengatakan pada sang kakak tentang kelakuannya yang diam-diam menciumnya di tengah malam, mengatakan bahwa akhir-akhir ini detak jantungnya berpacu cepat kalau ada di dekatnya dan wajahnya memanas saat dia merasakan sentuhan kakaknya.

Tapi sadarkah Ciel bahwa selama ini banyak hal yang di sembunyikannya? Tentu saja tidak... bagi Ciel yang memiliki harga diri super tinggi, tidak mungkin dia mau mengakui hal yang selalu di sangkalnya selama ini, jadi yang bisa dia lakukan saat ini hanya mengelus lembut lengan sang kakak yang terus memeluknya, menyebarkan rasa hangat disekujur tubuhnya.

T^T

"Ciel... tidak bisakah kau mengatakan perasaanmu dengan jujur?"

Kata-kata Sebastian semalam terus terngiang-ngiang dalam benak Ciel, membuatnya terjaga hampir semalaman dan baru bisa memejamkan mata pada pukul 4 pagi.

'Mengatakan perasaan yang mana? Bukankah selama ini aku sudah jujur?' batin Ciel

Walau semalam Ciel telah menghabiskan waktu tidurya untuk memikirkan pertanyaan Sebastian, dia tidak dapat menemukan jawaban apapun. Dan mungkin karena saking frustasinya, Ciel sampai tak menyadari seorang gadis bersurai coklat muda tengah tersenyum penuh arti sambil mengambil duduk di sampingnya.

"Selamat pagi Ciel." sapa sang gadis.

Ciel menolehkan kepalanya ke samping kiri untuk melihat siapa yang baru saja menyapanya.

"Paula." lirihnya "Selamat pagi." imbuhnya.

'Well... mengawali kuliah di hari senin sambil duduk di samping seorang gadis manis, bukan hal yang buruk bukan?' batin Ciel ceria.

Tapi sayangnya keceriaan Ciel harus berakhir saat dia sadar kalau kuliah jam pertamanya adalah ilmu ekonomi dan itu artinya dia harus bertatap muka dengan dosen yang mengusik pikirannya selama ini.

Walaupun kelihatannya Ciel mendengarkan kuliah dengan baik, tapi sayangnya dia tidak benar-benar mendengarkan sang kakak yang tengah menjelaskan panjang lebar tentang sejarah perkembangan perekonomian London, yang ada di fikirannya hanyalah pertanyaan sang kakak semalam.

"Mr Phantomhive."

Mendengar ada yang memanggil namanya, Ciel mengedarkan pandangan sejenak. Saat Ciel menoleh ke sebelah kirinya, Paula menunjuk dengan dagunya pria yang tengah berdiri menjulang didepan meja Ciel.

"Lagi-lagi anda tidak mendengarkan kuliah saya, Mr Phantomhive?" tanya Sebastian tajam sambil berkacak pinggang di hadapan Ciel yang masih memalingkan wajahnya.

"Apa anda sebegitu bencinya terhadap saya sehingga tidak pernah mendengarkan kuliah saya, atau anda memang tidak pernah berniat untuk lulus mata kuliah saya?"

Ciel memberanikan diri beradu pandang dengan dosen dihadapannya itu, harga dirinya tidak terima atas tuduhan tidak beralasan si raven.

'Kau pikir... siapa yang membuatku jadi hampir frustasi seperti ini, hah.' teriak Ciel dalam hati.

Sebastian nampak tengah menimbang sesuatu sebelum membuat sebuah keputusan tentang hukuman yang akan diterima Ciel karena sikap acuhnya selama dalam kelas.

"Baiklah Mr Phantomhive... sebagai hukumanmu hari ini, kau harus menulis tentang sejarah perkembangan perekonomian London minimal dua puluh halaman." ucap Sebastian serius menatap mahasiswa dihadapannya itu.

Kelas mendadak riuh seketika, Sebastian memang terkenal sebagai dosen yang disiplin dan tidak pandang bulu dalam memberikan detensi, tapi menulis mininal dua puluh halaman itu bukan hal yang ringan jika dilihat dari ulah kecil yang ditimbulkan remaja bertubuh tanggung itu.

Ciel mengeratkan pegangannya pada meja yang ada dihadapannya, ingin sekali dia berteriak seketika mendengar hukuman yang dilontarkan sang kakak, sebelum sebuah lengan lembut gadis disampingnya menenangkan.

"Aku akan membantumu." ucapnya singkat

Ciel sedikit lega, setidaknya ada yang mau membantunya menyelesaikan hukuman tidak masuk akal dari dosen yang kini tengah memunggunginya itu.

"Dosen gila." umpat Ciel pelan, sambil menjulurkan lidahnya samar. Tapi Ciel harus buru-buru memasukkan lidahnya lagi karena mendadak Sebastian kembali menghadap manik birunya.

"Saya hampir lupa Mr. Phantomhive... harus ditulis tangan dan harus dikumpulkan besok pagi." seulas senyum mengembang saat Sebastian menyelesaikan kalimatnya, dan sayangnya hanya di balas dengan deathglare mematikan dari Ciel.

T^T

Braaakkkkk...

Sebuah pintu dibuka dengan keras, tangan mungil itu gatal ingin memukul seseorang, emosinya yang sekarang tengah encok, kini memuncah tak tertahankan. Beberapa orang yang berlalu lalang di depan sebuah ruang bertuliskan 'Mr Alberline' hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan aktifitas mereka kembali.

Sosok raven yang tengah duduk di dalam ruang hanya mengamati tamu tidak sopannya itu dengan maklum, surai kelabu sang tamu nampak berantakan tak beraturan menjadi bukti bahwa sang pemuda tengah frustasi berat, sedang bahunya yang naik turun tidak tentu menjadi penanda bahwa sang empunya tengah menahan emosi.

"Silahkah duduk Mr. Phantomhive." Sebastian mempersilahkan tamu kecilnya itu untuk duduk di depan meja kerjanya.

Ciel segera mendekat ke arah meja kerja Sebastian, tapi bukannya untuk segera duduk, tapi...

Braaaakkkk

Ciel mengebrak meja dihadapannya itu, sambil menahan rasa ngilu yang menjalar dari telapak tangannya, Ciel mengeluarkan semua emosi yang sudah memuncak di ubun-ubunnya.

"Apa yang kau lakukan Sebastian. Esai tentang sejarah perkembangan perekonomian London, di tulis tangan dan harus dikumpulkan besok pagi. Kau ingin aku tidak lulus mata kuliahmu, hah!" Ciel sudah lupa tentang tata krama pada dosen atau pada orang yang lebih tua darinya, andaikan dia mampu ingin sekali dia mencabik-cabik manusia di hadapannya ini yang tersenyum menghadapi cercaannya.

"Kau tak pernah menghukum mahasiswa lain seberat ini, paling berat kau akan menyuruh mereka mengerjakan esai minimal lima halaman, tapi kenapa aku sebanyak itu."

Senyum dibibir Sebastian makin melebar.

"Nilaiku selalu bagus dalam mata kuliahmu, walaupun kelihatannya aku tidak pernah memperhatikan kuliahmu, tapi aku mendengarkanmu dengan sungguh-sungguh." Ciel makin bersunggut saat menyadari senyum Sebastian makin melebar.

"Apa alasanmu menghukumku seberat itu, hah?" ucap Ciel pelan setelah dia meluapkan semua kekesalannya pada sang raven yang tengah duduk diam sambil terus tersenyum di hadapannya.

"Aku hanya melamun dalam kelas sesekali, apa itu hal yang sangat fatal bagimu? Sehingga kau memberikanku detensi seberat itu?" manik biru Ciel mulai mengabur, cairan bening yang mengantung di pelupuk matanya siap meluncur kapan saja.

Setelah berdiam mendengar segala kekesalan dari pemuda bersurai kalebu dihadapannya, Sebastian akhirnya angkat suara.

"Aku lebih suka Ciel-ku yang marah-marah dan jujur pada apa yang dirasakannya dari pada menjadi Ciel yang sering melamun dan memendam semuanya sendiri"

Bleesss...

Wajah Ciel yang memerah di awal karena emosi, memdadak pucat, maniknya melebar bulat, cairan bening yang sebelumnya mengenang mendadak menguap entah kemana, serta Ciel juga mendadak kehilangan kemampuannya untuk merangkai kalimat.

Api emosi Ciel memdadak mencair dan mendingin mendengar penuturan Sebastian yang terdengar sangat tulus dan sangat menyentuh sanubarinya.

"Aku hampir tak mengenalimu beberapa hari ini, kau mendadak lebih banyak diam, bahkan kau terlihat sedang menyembunyikan sesuatu, aku sangat mengkhawatirkanmu Ciel"

Ciel sudah merosot terduduk dalam kursi di depan meja kerja Sebastian saat disadarinya sang kakak tengah berjalan mendekat ke arahnya. Tenaga yang dia kumpulkan untuk mendamprat sang kakak mendadak menghilang, menguap dan yang dirasakan saat ini kaki dan tubuhnya melemas.

"Ku mohon Ciel... jangan membuatku khawatir lagi" ucap Sebastian lirih sebelum dia mendaratkan kecupan sayang pada pipi pucat sang adik.

Deg... Deg...

Tak perlu dijelaskan lagi jantung siapa yang kini tengah berdetak keras. Kerena jantung keduanya tengah mengalun bersahutan kerena saking kerasnya berdetak.

Sebastian berlutut di hadapan sang adik yang membatu di hadapannya, otak Ciel membeku seketika.

"Tanganmu pasti nyeri?"

Ciel kembali tercengang saat menyadari sang kakak sudah mengengam tangan yang digunakannya tadi untuk mengebrak pintu dan meja, kini di kecup dengan lembut oleh Sebastian. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Ciel melalui telapak tangannya yang baru saja dikecup. Rasa hangatnya membuat Ciel kembali tersadar dari kebekuaannya tadi.

"Kembalilah ke kelasmu, sepulang kuliah akan ku bantu kau menyelesaikan hukumanmu" Ciel mendongakkan kepalanya setelah beberapa waktu ditundukkannya, dilihatnya sang kakak tengah tersenyum ramah ke arahnya. Dia rindu saat-saat kebersamaan mereka yang seperti ini, dan yang paling dia rindukan adalah kecupan sang kakak.

"Saya permisi dulu Mr. Michaelis." Ciel segera beranjak sambil membungkuk singkat ke arah dosennya itu. Kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, profesionalisme dan sikap tata kramanya pun sudah kembali di gunakan untuk menjaga rahasia mereka selama di kampus.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Waktunya balas reviews...

Ichirukilover30:

Terimakasih sudah membaca dan menyempatkan reviews Ichiru-san...

Pastinya... Ciel itu selalu kawaii. Hehe *heboh sendiri*

Oxygen :

Arigatou... sudah mengatakan fic ini keren Oxygen-san. Hehe *jingkrak-jingkrak happy...*

Saya hanya berusaha untuk menyalurkan hobi dalam hal menulis, tapi gomen ne... akhir-akhir ini jadi tidak bisa update kilat karena beberapa hal. #plak *malah curhat*

Terimakasih atas dukungan dan do'anya Oxygen-san, anda telah membuat saya semangat saya mekin membara. Hehe #Lebaynya aoi...

Kim Victoria :

Hehehe... #nyengir kuda

Titiknya lagi liburan kayanya Victoria-san, suka ilang mulu, atau karena saya memang orang yang teledor telah menghilangkan titiknya *garuk-garuk rambut*

Terimakasih atas sarannya, saya sudah mencoba meletakkan titik pada akhir percakapan, tapi kalau masih ada yang tertinggal...

Wah... berarti si titik mang masih betah liburan #Plak *Abaikan*

Victoria-san terimaksih karena review anda sangat membuat saya sadar dan makin sadar akan kesalahan saya...

Seidocamui :

Kurang panjang? Apanya yang kurang panjang? Hwahahaha...

Ini sudah di update lho Seido-san. Jadi... apa anda puas? Haha~

Terimaksih sudah review Seido-san

Nana-chan love naruto :

*lempar tisu*

Disini Ciel dah kuliah lho Nana-san, masak masih di bilang masih anak-anak. Iya kan Ciel? *ngelirik Ciel*

Ciel bukannya masih anak-anak, tapi masih balita... wkkk~ *digorok Ciel*

Terimakasih sudah review Nana-san...

Akhit kata...

Ada keluhan, makian, kritikan, omelan, atau pujian #plak

Silahkan klik Review...