Chapter 6 : Cemburu?

"Tidak bisakah di ganti dengan di ketik saja... tanganku hampir mati rasa karena kesemutan." rengek Ciel saat dia baru saja menyelesaikan separuh hukuman yang di terimanya dari Sebastian.

"Kau ini pilih-pilih sekali... tadi ku lihat kau bersemangat menulis saat di perpustakan bersama Miss. Palencia, kenapa sekarang kau malah jadi ogah-ogahan seperti ini." omel Sebastian panjang lebar.

"Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengerjakannya tadi siang, sekarang tenagaku sudah benar-benar habis." elak Ciel sambil menampangkan 'puppy eyes' nya mencoba meruntuhkan kerasnya aturan sang kakak.

"Kau sendiri kan yang minta untuk diperlakukan sama dengan mahasiswa yang lain, jadi sekarang kerjakan hukumanmu dengan serius." Sebastian mengacak pelan surai sang adik yang di balas Ciel dengan mengerucutkan bibirnya panjang-panjang.

Setelah selesai makan malam, Sebastian menepati janjinya untuk membantu Ciel menyelesaikan detensinya, Sebastian sudah mengumpulkan beberapa buku dari perpustakan kampus dan sudah memberi tanda pada halaman-halaman yang harus ditulis Ciel. Jadi tugas Ciel hanya menyalin tulisan dari buku pada halaman folio putih di mejanya, sedangkan Sebastian tinggal mengawasi sang adik dari ranjang Ciel disampingnya.

"Kelihatannya kau akrab dengan Miss. Palencia. Akhir-akhir ini aku jadi sering melihatmu bersamanya di kampus?" tanya Sebastian penuh selidik.

"Dia itu..." Ciel yang tengah sibuk menulis hampir saja keceplosan mengatakan siapa Paula sebenarnya, dan kenapa dia jadi dekat dengannya. Mungkin dia harus mengikis mukanya jika Sebastian sampai tahu taruhan konyolnya dengan Alois tempo hari.

"Dia hanya teman sekelasku." jawab Ciel singkat.

Walaupun Sebastian kurang puas dengan jawaban yang di lontarkan Ciel, tapi dia tak ingin memaksanya lebih lanjut lagi. Dia tahu sikap Ciel, semakin dia di tekan semakin dia tak akan mau memberitahukan kebenarannya. Dan Sebastian akan sabar menunggu sampai Ciel mau mengungkapkan dengan sendirinya.

T^T

"Huah... akhirnya selesai juga." teriak Ciel sambil merentangkan kedua tangannya untuk mengusir penat yang menjalari sekujur lengannya.

Sebastian yang tengah duduk berselonjor di atas ranjang Ciel, hanya mengisaratkan pada adiknya agar dia juga ikut bergabung dengannya. Tanpa berfikir dua kali, Ciel segera menghamburkan tubuhnya ke arah ranjang empuk di sebelah meja belajar, dan menjadikan paha sang kakak menjadi bantal untuk kepalanya.

Sebastian tersenyum simpul saat mengamati tingkah adiknya yang tengah menyamankan kepala, mencari posisi yang nyaman di paha Sebastian.

"Pijit..." perintah Ciel manja sambil mengacungkan kedua lenganya pada Sebastian.

Segera Sebastian meraih kedua lengan sang adik sambil tersenyum maklum, melihat tingkah sang adik yang kini menunjukkan raut wajah mengemaskan.

"Ciel... sepertinya aku akan sedikit sibuk dalam beberapa hari ini."

Ciel tertegun dan menatap iris merah Sebastian, mencari kebenaran dalam kata yang diucapkannya.

"Kenapa? Kau ada kencan?" tanya Ciel dengan nada meremehkan.

Sebastian mengelengkan kepalanya singkat sebelum menyubit cuping hidung Ciel dengan gemas.

"Akhir minggu ini kita akan menghadapi ujian, jadi tentunya aku akan sangat sibuk di kampus. Membuat soal, merapikan beberapa berkas dan lain-lain. Kau tidak apa-apakan kalau aku tinggal dirumah sendirian?" tanya Sebastian yang hanya di balas dengan tanya balik dari Ciel.

"Kenapa tidak membuat soal dirumah saja?" ada rasa hampa yang Ciel rasakan saat mendengar bahwa Sebastian akan meninggalkannya sendirian dirumah, tapi bukan Ciel namanya jika dia tidak menjunjung tinggi harga dirinya.

"Apa kau keberatan, Ciel?"

'Ya... aku keberatan. Kenapa kau harus mengerjakan soal itu di kampus tidak di rumah? Kenapa kau malah meninggalkan aku sendirian dirumah' batin Ciel, namun yang keluar dari mulutnya adalah...

"Tidak... aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri" ucap Ciel dengan sikapnya yang arogan seperti biasa.

Sebastian hanya menghela nafas pelan saat mendapati adiknya yang makin mengerucutkan bibir panjang-panjang tanpa kesal tingkat dewa.

"Kau belum sepenuhnya jujur padaku Ciel" gumam Sebastian lirih, namun sayang gumaman Sebastian tak sampai di telinga Ciel

T^T

Dalam ruangan yang diklaim Ciel sebagai tempat pribadianya, nampak sesosok pemuda tengah mengelus surai kelabu pemuda pendek yang menyamankan kepalanya pada paha si raven.

"Sebastian..." panggil Ciel pelan.

"Hn..." jawab Sebastian datar.

"Apa pendapatmu tentang hubungan yang tengah Alois jalani saat ini?"

Seketika Sebastian harus menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan Ciel. Adiknya itu selalu enggan mendiskusikan pilihan hidup sang sahabat, tapi kenapa sekarang tiba-tiba dia malah bertanya topik yang biasanya selalu hindari.

"Well... Sebenarnya aku menghormati keputusan mereka, bagaimana pun cinta itu bisa datang secara tiba-tiba, dalam keadaan yang situasi yang tidak kita duga. Jika mereka saling mencintai kenapa tidak kita dukung saja mereka" jelas Sebastian panjang lebar sembari melanjutkan aktifitasnya mengelus surai sang adik.

"Tumben sekali kau bertanya seperti itu Ciel?"

Hening... tak ada pergerakan dari bibir mungil mahluk bersurai kelabu yang masih menyamankan kepalanya, sampai akhirnya suara bariton sang kakak menyadarkan Ciel dari lamunannnya.

"Apa ada hal yang menganggumu Ciel?"

Ciel mengeleng pelan, dengan gerakan yang dramatis manik birunya menatap manik merah sang kakak dengan intens. "Lalu apa kau juga seperti mereka?" tanya Ciel ragu-ragu, dirasanya jantungnya makin berdetak tak beraturan, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, serta rasa tidak nyaman mendadak menyergap perutnya, saat dilihatnya Sebastian menampakkan wajah keterkejutan yang luar biasa.

Namun sedetik kemudian, Sebastian dapat menguasai dirinya, dan kembali memasang wajah tenang serta senyum yang menyungging penuh arti.

"Cinta dapat mengubah apa pun Ciel, dapat mengubah seorang penjahat menjadi seorang yang baik hati, dapat mengubah rasa pahit menjadi manis, dan tentu saja dapat mengubah seorang straight menjadi slash" tajam, serius, penuh makna. Setidaknya itulah nada yang tertangkap oleh telinga Ciel.

Ciel segera beranjak dari tempatnya merebahkan diri, kembali menatap manik merah sang kakak.

"Tidak ada yang bisa mengetahui akan kemana cinta itu membawa kita Ciel"

Manik biru itu membulat saat menyadari jemari tangan sang raven menyentuh pipinya pelan, meninggalkan guratan-guratan samar berwarna merah, sebelum akhirnya Ciel kembali merebahkan diri dengan tetap pada posisinya semula. Sepertinya itu adalah posisi yang paling disukainya.

Hening... kedua mahluk berbeda usia itu tangah sibuk dengan pemikiranya masing-masing. Ciel tengah sibuk mencerna perkataan sang kakak, sedangkan Sebastian sibuk menerka apa yang sedang di fikirkan sang adik.

"Ciel..." panggil Sebastian, setelah beberapa waktu mereka di bekukan oleh kesunyian.

Satu detik... dua detik...

"Ciel..." panggil Sebastian lagi.

Terdengar hembusan nafas teratur dari manusia yang tengah terlelap di bawahnya, Sebastian terkekeh pelan seraya bergumam "Kau terlalu lelah, atau kau terlalu nyaman tidur beralaskan pahaku?" tanya Sebastian sia-sia karena Ciel sudah menutup manik birunya rapat-rapat.

Di amatinya wajah polos Ciel yang tangah terlelap itu, bagaimana mungkin remaja bertubuh jangkung itu bisa membuat kehidupannya menjadi lebih menarik dari pada yang dia kira.

Sebastian sudah mengeliminasi jaraknya secara nyata agar dapat mengecup pipi sang adik, tapi hari ini dia ingin membuat pengecualian, dia ingin membalas dendam pada manusia bertubuh tanggung itu.

"Selamat malam Ciel-ku, aku menyayangimu."

Chuu~ dikecupnya bibir merah sang adik dengan lembut.

T^T

Ciel terbangun saat mendengar suara alarm yang hampir memecahkan gendang telinganya karena selama berkali-kali alarm itu berbunyi dan semakin lama semakin keras sedangkan Ciel makin erat mengelungkan diri dalam selimut hangatnya.

Dengan gerakan yang enggan, Ciel bangun dari ranjang kemudian menyambar alarm di samping meja belajarnya, mematikan benda laknat itu dan kembali merebahkan diri di atas kasurnya.

Manik biru kelabunya mengerjap beberapa kali saat memandangi langit-langit kamar, berusaha mengumpulkan memori tentang peristiwa semalam, rasa kantuk masih setia menghiasi manik kelabu miliknya, serta lengan yang masih terasa pegal-pegal.

Ciel mengangkat lengannya perlahan seraya bergumam. "Ini pasti karena efek menulis seharian."

Pemuda surai kelabu itu kembali memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras pagi ini, untuk menemukan mimpi yang membuat tidur malamnya menjadi gelisah sehingga membuatnya masih merasa mengantuk walaupun hari sudah semakin siang.

"Selamat malam Ciel-ku, aku menyayangimu."

Sedetik kemudian manik Ciel terbelalak saat mengingat apa yang dari tadi ingin dia temukan dalam memorinya, namun bukannya perasaan lega yang didapatkannya karena telah menemukan apa yang ingin di ingatnya, tapi Ciel harus segera mengeratkan cengkraman di depan dada saat jantungnya berlompatan tak karuan.

'Tak mungkin kan Sebastian mengatakan hal seperti itu kan?' tanyanya pada diri sendiri.

Ciel kembali mengumpulkan kepingan-kepingan memorinya, berusaha mengingat kejadian semalam, seingatnya dia setelah menyelesaikan detensi yang diberikan sang raven, menghamburkan diri dalam pelukan sang kakak selanjutnya dia tidur berbantalkan pahanya. Dan merasakan kecupan hangat sang kakak saat dia terlelap.

'Tak mungkin kan Sebastian menciumku.' batin Ciel mencoba memotifasi diri untuk tidak mempercayai ingatannya sendiri.

'Itu pasti mimpi yang membuatku susah tidur.' putus Ciel pada akhirnya.

'Lalu kemana dia' batin Ciel sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangannya, dan menyadari tak mememukan tanda-tanda sang raven di kamarnya.

Merasa tidak menemukan sang kakak di dalam ruangan itu, Ciel bergegas keluar dari kamar dan meluncur langsung ke arah dapur, dimana dia selalu menemukan sang kakak setiap pagi dengan senyuman dan godaan-godaannya yang khas.

Namun, saat Ciel sampai di dapur dia harus menelan kekecewaan karena tidak berhasil menemukan Sebastian dimanapun, yang di temukan hanya dua potong sandwich dan sebuah pesan.

"Kau baru bangun Ciel? Maaf aku harus berangkat ke kampus pagi-pagi, jadi aku hanya bisa membuatkanmu sandwich sebagai sarapan." Ciel membaca pesan Sebastian sambil mendengus kesal.

Manik kelabunya memandang sepiring sandwich dihadapannya dengan pandangan yang menerawang jauh, ingatannya tentang peristiwa semalam kembali terlintas dalam benaknya. Jari telunjuknya mencoba menelusuri garis bibinya sendiri, mencoba mencari jejak sentuhan bibir sang kakak.

'Jika memang semalam aku bermimpi, kenapa seolah benar-benar terjadi.'

Ciel meremat surai kelabunya dengan frustasi 'Tak bisakah sehari saja aku tidak memikirkannya.' Teriaknya dalam diam sambil mengigit sandwich buatan Sebastian dengan kasarnya.

T^T

"Ciel..." teriak sesosok remaja bersurai kuning pucat saat melihat sahabatnya tengah melangkahkan kaki menujunya.

Pemuda bersurai kelabu yang di panggil itu hanya mengulaskan senyum datar menyambut Alois yang tengah melambai ke arahnya dengan bersemangat dan ceria.

"Kau ini kenapa? Beberapa hari ini kau kelihatan seperti mayat hidup" tandas Alois sambil merangkul bahu Ciel yang sudah berada di dekatnya.

"Hn..."

"Tak adakah kosa kata yang lain selain 'hn'? Beberapa hari ini kau selalu saja mengucapkan kata keramat itu, apa dalam kamus di kepalamu hanya ada kata itu." protes Alois sambil mengerucutkan bibir tanda kesal.

Beberapa hari ini memang ada hal yang kembali mengganggu pikiran sang surai kelabu, hal yang di peercayainya sebagai sebuah mimpi tempo hari, membuat pemuda bertubuh tanggung itu ingin sekali mencari tahu atas kebenarannya, mimpi kah? Atau memang sebuah kenyataan?. Namun sayangnya selama beberapa hari ini dia harus kecewa lantaran tak mendapat kesempatan berbicara secara pribadi dengan sang kakak. Di kampus dia hanya bisa bertemu dengan kakaknya saat di kelas, di rumah? Sebastian selalu berangkat pagi-pagi sebelum Ciel bangun dan pulang pada larut malam.

"Apa ada hal yang menganggu pikirannmu Ciel?" tanya Alois khawatir atas keadaan sahabatnya itu. Walaupun Ciel memang bukan type orang yang ceria seperti dirinya, tapi melihat Ciel yang makin diam dan lemas seperti sekarang ini, dia yakin ada hal yang tengah menganggu sahabatnya itu.

"Apa ini ada hubunganya dengan Paula?" tebak Alois asal yang hanya di jawab dengan gelengan kepala Ciel.

"Atau ada hubungannya dengan Mr. Michaelis?" Ciel membeku di tempat, seolah-olah ada semen yang membingkai kakinya sehingga membuatnya sulit untuk melangkahkan kaki.

Sebuah seringai mengembang dari pemuda yang tengah berdiri di samping Ciel.

"Lalu... apa yang telah Mr. Michaelis lakukan padamu Ciel?" untuk pertama kalinya suara sumbang Alois terdengar seperti petir di siang hari, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi Ciel?" rasa penasaran sudah menguasi Alois, tanpa memperdulikan sang sahabat yang makin memucat, dia berusaha mengorek informasi sebanyak-banyaknya.

'Apa yang harus aku katakan, jika aku mengatakan yang sebenarnya terjadi. Mau di kemanakan mukaku.' batin Ciel.

"Mr. Trancy... Mr. Phantomhive...!" panggil sebuah suara yang di telinga Alois terdengar seperti suara dosen paling disiplin sepanjang sejarah, sedangkan di telinga Ciel terdengar seperti suara panggilan dari surga.

Kedua pemuda itu membalikkan tubuh mereka untuk menatap sang dosen charming mereka.

"Mr. Michaelis..." ucap kedua pemuda itu hampir bersamaan.

"Kenapa kalian masih di depan kelas? Apa kalian berniat untuk membolos kuliah?" tanya Sebastian tajam, sambil menyilangkan lengan di depan dadanya.

Ciel terpaku di tempatnya berdiri, memandang dengan inters setiap guratan indah pada garis wajah sang kakak. Tidak bertemu Sebastian dalam beberapa hari membuatnya tersadar bagaimana wajah dan tubuh sempurna sang kakak telah menjadi mahnet yang dapat menarik siapapun insan di muka bumi ini. Manik kelabu Ciel kini beralih objek dengan menatap lekukan di bawah wajah sang raven, lekukan yang beberapa hari lalu menyebarkan hangat pada bibirnya, dan lekukan yang selalu menyunggingkan senyum hangat yang hanya di tunjukkan padanya setiap pagi.

'Ah...' Ciel mendesah dalam batinnya.

Dalam manik kelabunya itu menyimpan rasa rindu yang dapat di rasakan siapapun yang melihatnya detik ini, termasuk Alois dan Sebastian sendiri. Alois menyenggol bahu Ciel pelan karena mendapati sang sahabat yang tengah menatap dosennya itu dengan pandangan yang seolah-olah menguliti dosen charmingnya itu.

"Tidak Mr. Michaelis... kami akan segera masuk kelas." Ucap Ciel buru-buru setelah tersadar dari apa yang telah dilakukannya, lengan pucatnya menyeret Alois memasuki kelas sebelum Sebastian menyadari bahwa wajah sang adik sudah berubah memerah.

Ciel menghembuskan nafas keras-keras ke arah surai kelabunya yang bertengger pada dahinya, sesaat setelah menghempaskan diri pada kursinya di pojok ruang dekat jendela, Ciel sangat bersyukur karena Sebastian hadir di saat-saat yang tepat, sehingga dia tidak harus repot-repot berbohong untuk menjawab pertanyaan Alois.

Sesaat Ciel merasakan ada yang mengawasinya, dan benar saja saat ini Alois tengah menatap Ciel tatapan penuh arti.

"Aku butuh menjelasan darimu." ucap Alois tajam.

T^T

Ciel buru-buru merapikan semua bukunya dan memasukkan dengan asal ke dalam tas ransel yang disandangnya, dia harus segera keluar dari kelas itu sebelum Alois berhasil menyegatnya.

"Ciel... Kau berhutang penjelasan padaku." suara sumbang itu terdengar lagi dari balik punggungnya, sejak pagi tadi Alois selalu mencari kesempatan untuk memberondong Ciel dengan berbagai pertanyaan.

"Maaf Alois, aku sedang buru-buru... aku harus menyerahkan tugasku pada Sebastian." elak Ciel sekenanya. Dan Ciel segera melarikan diri meninggalkan Alois yang masih membeku di tempatnya berdiri.

"Tugas dari Mr. Michaelis? Bukannya minggu ini tidak ada tugas karena besok sudah ujian ya?" gumam Alois sambil mengangkat bahu dan memandang punggung sang sahabat yang makin menjauh.

Kaki mungil itu dipaksanya untuk berlari sejauh yang dia mampu, Ciel harus menghindari bertemu Alois sebelum dia melupakan niatnya untuk mengorek perasaan Ciel.

Tanpa sadar Ciel yang berlari tanpa tujuan telah sampai di depan pintu ruang dosen pertuliskan Mr. Albeline di atas pintunya.

'Kenapa aku bisa sampai kesini?' tanyanya dalam hati.

Karena sudah sampai di ruang sang kakak bermarkas, tak ada salahnya untuk sejenak mengunjungi dosen sekaligus kakaknya itu, lagi pula sudah beberapa hari ini Ciel tidak pernah bertemu dengannya. Sebagai seorang adik, wajar bukan jika dia rindu pada kakaknya.

'Rindu?' kekehnya pelan.

'Kau benar-benar sudah gila jika merindukannya Ciel.' omelnya pada dirinya sendiri.

Perlahan Ciel mengetuk pintu kayu oak di hadapannya, berharap akan mendapatkan sambutan hangat dari sang kakak. Lama berselang, namun Ciel tak mendapatkan tanggapan seperti yang diharapkannya.

Merasa jengkel, tangan usil Ciel memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci, sambil mengawasi keadaan sekitar, pemuda bersurai kelabu itu memberanikan diri memasuki ruang khusus dosen itu.

Harum mint menyeruak hidung Ciel sesaat tubuh ringkihnya memasuki ruang persegi yang tidak terlalu besar itu, terdapat sebuah satu set kursi dan meja kerja di ujung ruang dengan background rak buku super tinggi sampai menyentuh langit-langit. Sedangkan di sebelah kiri ruangan terdapat jendela besar dan beberapa tanaman ruang yang di tata rapi di sampingnya. Satu set sofa untuk bersantai juga dengan anggun di tata sedemikian rupa di sudut ruang yang lain.

Ciel hendak mengeluarkan suara sebelum kalimatnya terinterupsi oleh suara satu-satunya pria yang sejak tadi mendiami ruangan itu.

"Aku tahu... tapi aku tak punya tempat lain untuknya, maaf kalau aku terus merepotkanmu."

Telinga Ciel menegak mendengar suara sang kakak yang tengah berbicara dengan entah siapa melalui ponsel perseginya.

"Aku mohon bersabarlah... biarkanlah dia di rumahmu sementara waktu, akan aku usahakan untuk setiap hari datang menemaninya."

Sepertinya sang raven tak menyadari sebuah manusia bertubuh tanggung tengah menguping pembicaraannya, karena Sebastian tetap dengan santainya berbicara melalui ponselnya bersandarkan tembok sambil memandang keluar jendela, menikmati beberapa mahasiswanya yang tengah menghabiskan waktu siang mereka berteduh pada pohon di taman kampus mereka.

"Memperkenalkannya pada Ciel? Aku yakin Ciel tidak akan menyukai Angela."

Sesak... seingat Ciel dia tak mempunyai riwayat mengidap asma atau penyakit apapun tapi kenapa mendadak dadanya terasa sesak?

Panas... ruangan ini berAC tapi kenapa mendadak suasana hatinya mendadak jadi panas?

'Angela? Nama perempuan? Jadi selama ini Sebastian sedang menyembunyikan perempuan?' dengan informasi yang terbatas itu, Ciel mulai berspekulasi pada kemungkinan-kemungkinan aneh yang diciptakannya sendiri.

"Ya Claude... padahal baru tadi pagi aku bertemu dengannya tapi sekarang aku sudah sangat merindukannya."

Deg...

Jantung Ciel hampir berhenti berdetak saat mendengar kalimat terakhir Sebastian, namun sebelum sang raven membalikkan tubuhnya utuk kembali menempati meja kerjanya, secepat kilat Ciel berhasil menyusup keluar dari ruangan sang dosen.

'Sebastian sedang menyembunyikan kekasihnya di rumah Claude.'

Ciel bergegas mencari satu-satunya sahabatnya di kampus, dia harus segera mengabarkan fakta yang ditemukannya pada Alois Trancy.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Gomen ne... update yang super telat bin lambat...

Waktunya balas reviews...

Oxygen :

Gomen ne Oxygen-san... *Sujud-sujud*

Mungkin karena pengaturannya ada yang tidak beres jadi review Oxygen-san jadi tersendat masuk. Hehe~

Maklumlah saya manusia baru dalam dunia fic, jadi kadang masih belum faham masalah pengaturan dan tetek bengeknya.

Saya jadi merasa bersalah telah membuat Oxygen-san gregeran. Hehe *garuk-garuk kepala*. Sebastian bukannya nggak mau, dia hanya mencari waktu yang tepat saja #Halah sok diplomatis.

Untuk masalah sampai berapa chapter fic ini, saya belum tahu bisa jadi panjang bisa juga jadi singkat. Tergantung readernya mau panjang atau pendek. Hehe

LuckyItem :

Thank'z sudah menbaca dan mereview Lucky-san...

Kurang nyambung ya? Terima kasih masukannya, nanti akan saya teliti kembali dan saya berbaiki. ^^

Kurang panjang? Kalau terlalu panjang saya takutnya para reader jadi bosan dengan gaya tulisan saya yang masih monoton. Nulis fic dengan panjang 2+ itu saja saya sudah ketar-ketir takut ke panjangan. Hehe~

Yukina :

Arigatou sudah membaca dan menyempatkan mereview. ^^

Hai... ini sudah di lanjut Yukina-san, ya... walaupun sangat telat dan lama. Hehe~

Guest :

Iya... saya sering update ko... walaupun ngaret dan lama. Hehe~

Kim Victoria :

Gomen ne... kalau kamu tidak berkenan, saya ganti panggilannya deh... biasanya kamu di panggil gimana?

Iya... ya... ketahuan banget deh kalau Sebastian itu dah tahu perasaan Ciel, gimana sih Sebastian nggak ngomong-ngomong, kalau Ciel ngga berani ngomong, ngomong duluan dunk.. *nunjuk Sebastian* #digaplok Sebas

Ini sudah di update chapter 6 nya ko... Hehe~

Eibie :

Iya Eibie-san Sebas udah tahu bagaimana perasaan Ciel ko, dia hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk menekan Ciel agar dia mau mengakui perasaannya sendiri. ^^

Jangan gregetan sama Sebas... dia ngga salah apa-apa Eibie san. Hehe~

Akhir kata...

Ada keluhan, makian, kritikan, omelan, cacian atau pujian #plak

Silahkan klik Review...