Dengan keras, Sebastian menghempaskan diri pada kursi di meja kerjanya, setelah memutuskan hubungan telefonnya dengan Claude. Pikirannya kembali terpusat pada sosok remaja tanggung yang selama ini sudah menawan hatinya. Akhir-akhir ini memang si raven jarang sekali menghabiskan waktu di rumah, pekerjaannya sebagai seorang dosen sekaligus seorang mahasiswa sangat menyita waktunya, tapi semua yang dilakukan merupakan konsekunsi yang harus dibayar untuk memenuhi panggilan jiwanya yang ingin menjadi seorang dosen.

"Ciel... andaikan saja kau tahu, aku sangat merindukanmu sekarang ini."

Rasa lelah luar biasa yang kini Sebastian rasakan, hanya satu obatnya, hanya satu yang dapat memberinya energi. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah kehadiran seorang Ciel Phantomhive.

Chapter 7 : Sadar...?

"Alois Trancy..."

"Alois Trancy... dimana kau disaat yang paling aku butuhkan seperti ini?" teriaknya.

Setelah mendengar kabar berita paling mengejutkan sepanjang sejarah kehidupannya, Ciel segera bergegas mencari keberadaan si surai kuning, sahabat sekaligus kekasih dari pemuda yang kini bekerja sama dalam misi yang tengah dijalankan kakaknya.

Sudah berulang kali Ciel mendengus kesal, ada perasaan panas yang aneh tengah menguasai hatinya, emosinya mendadak menjadi labil saat membayangkan bagaimana sang kakak yang tengah bermesraan dengan wanita imajiner ciptaan si surai kelabu sendiri, dan entah datang darimana rasa kesal yang menyelimutinya itu, yang Ciel tahu saat ini dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjambak dan menjabuti setiap helaian halus surai sang kakak. Kesal.

"Alois..." teriak Ciel saat mendapati sang sahabat yang tengah berjalan menuju parkiran.

Merasa ada yang memanggil namanya, seketika Alois menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Alois sedikit tertegun saat melihat sang sahabat yang tengah berlari menyongsong ke arah dirrinya. "Ada apa Ciel?"

Dilihatnya Ciel yang tengah mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya untuk asupan paru-paru yang kembang kempis, berlari sepanjang lorong kampus setidaknya telah menghabiskan pasokan oksigen seorang Ciel Phantomhive.

"Alois..." Panggilnya, sebelum memulai sesi pengaduannya. "Kau harus berhati-hati dengan kekasihmu itu, dia sedang membantu menyembunyikan kekasih Sebastian di rumahnya." dengan masih terengah-engah, Ciel mencoba mengatur nafas untuk merangkai kalimat pada sahabatnya yang masih menatap heran akan dirinya.

"Hah..."

"Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk selalu berhati-hati kan? Sekarang terbukti bahwa dia tidak baik." Ciel masih terus menyuarakan fakta yang dibuatnya sendiri, sedangkan manusia surai kuning dihadapannya hanya menatap Ciel dengan tatapan tidak percaya.

"Kau harus segera menyuruh dia mengusir kekasih Sebatian dari rumahnya. Atau..." kalimat Ciel terpotong oleh suara tawa Alois yang mengelegar tak tertahankan.

"Ciel..." panggilnya. "Sejak kapan kau jadi aneh begini? Biasanya aku tak akan pernah peduli dengan hal-hal seperti ini." ucap Alois disela-sela tawanya.

"Lagi pula kau tahu dari mana? Apa kau melihat sendiri?" imbuhnya.

Hening sejenak, yang terdengar hanya kekehan kecil Alois.

"Aku... mendengar Sebastian sedang membicarakan hal itu ditelfon dengan Claude." jawab Ciel pelan membuat tawa Alois meledak kembali.

"Ciel... kau cemburu ya?"

DEG...

Kalimat polos Alois seolah menjadi petir kedua yang menyambar Ciel hari itu.

'Cemburu?' batinnya.

"Aku selalu percaya pada Claude Ciel, dia tidak akan melakukan hal yang akan menyakitiku, jikapun apa yang kau katakan benar, aku yakin sebentar lagi Claude akan memberitahukannya padaku." Alois memegang bahu sang sahabat yang kini tertunduk lesu.

"Yang harus kita lakukan dalam menjalani sebuah hubungan adalah harus saling percaya dan jujur terhadap perasaan kita. Kau faham maksudku kan?"

Manik biru itu membola mendengar kalimat Alois.

'Jujur...' batinnya.

Sudah dua kali dia mendengar orang lain memintanya untuk jujur pada apa yang dirasakannya.

'Ah... bukannya aku sudah sangat jujur.'

"Kau mau ku antar pulang Ciel?" tawar Alois saat mendapati sang sahabat yang masih tertunduk terdiam.

Pemuda surai kelabu itu menonggakkan kepalanya manatap manik sang sahabat. "Tidak... terimakasih, aku ingin pulang sendiri."

T^T

Ciel merebahkan tubuh ringkihnya pada rerumputan hijau yang terhampar di taman Northumberland University. Keadaan kampus yang sudah sedikit sepi membuat pemuda tanggung itu dengan leluasa menguasai taman yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa.

Mengingat percakapannya dengan Alois tadi membuat mood Ciel untuk segera pulang dan belajar untuk ujian besok pagi hilang mendadak.

'Cemburu?' batinnya.

Satu kata itu sakti membuat Ciel pusing tujuh keliling. Selama ini tak pernah ada kata itu dalam kamus hidupnya, tapi kenapa sahabatnya malah mengatakan kata itu padanya.

Bukankah kalau dia cemburu pada kakaknya itu sama artinya kalau dia mencintainya?

"Agh..." Ciel berteriak sambil meremat surai kelabunya dengan frustasi.

Karena saking frustasinya membuat Ciel tidak menyadari sesosok gadis yang tengah berjalan mendekatinya.

"Kau belum pulang Ciel?"

Ciel terkesiap saat mendapati Paula tengah berlutut di samping Ciel yang merebahkan diri.

"Pa.. Paula? Kenapa kau masih di sini?" tanya Ciel sambil berusaha bangkit untuk duduk kembali.

"Well... sebenarnya aku sudah akan pulang, tapi melihatmu sedang santai di sini membuatku jadi ingin menyapamu sebentar." jawab sang gadis dengan sedikit tersipu.

Keheningan seketika tercipta di sekitar dua remaja yang tengah duduk berdampingan di bawah naungan pohon maple yang rindang. Keduanya tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sang gadis tengah sibuk mengamati pemuda di sampingnya, sedangkan sang pemuda sedang sibuk dengan kegalauan hatinya sendiri.

"Paula..." panggil Ciel hati-hati, sang gadis yang merasa dipanggil hanya menoleh sekilas pada sosok pemuda yang tengah duduk bersamanya.

"Apa menurutmu aku ini orang yang tidak jujur?"

Kening Paula mendadak berkerut, seorang Ciel Phantomhive yang terkenal irit bicara dan hanya membicarakan hal-hal yang penting membuat pertanyaan yang ambigu diawal percakapan? Paula dapat menduga bahwa si surai kelabu ini tengah gundah hatinya.

"Apakah kau pernah berbohong pada sesorang?"

Ciel mendadak mengendus kesal, pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Jika saja yang melakukan itu bukan seorang gadis, jika bukan seorang Paula Palencia, Ciel pasti sudah memakinya habis-habisan.

"Tentu saja tidak, aku selalu mengatakan hal sebenarnya."

Mendengar jawaban Ciel, mau tak mau Paula tersenyum. Jika Ciel sendiri sudah mengakui bahwa dia adalah orang yang selalu mengatakan hal yang sebenarnya kenapa juga dia harus repot-repot bertanya pada orang lain tentang dirinya yang merupakan orang jujur atau bukan. Sedangkan Ciel merengut kesal, dia sadar Paula tengah menertawakan pertanyaan konyolnya. Dan Ciel juga mengepalkan tangan erat saat sadar bahwa pertanyaanya benar-benar konyol. Tapi walaupun begitu masih ada hal yang menganjal dihatinya.

"Tapi..." mulainya lagi, membuat Paula kembali memusatkan perhatian pada si tanggung di sampingnya. "Kenapa mereka mengatakan kalau aku harus lebih jujur pada perasaanku sendiri, itu sama artinya mereka menuduhku berbohong, padahal aku tak pernah berbohong."

"Apakah kau sedang menyukai seseorang Ciel?"

Kening Ciel kembali berkerut, dia sendiri heran kenapa Paula sangat senang menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan, apa dia tidak pernah belajar bahasa. Jika saja situasinya hatinya tidak sedang rumit seperti sekarang, pasti Ciel sudah meninggalkan Paula sejak tadi.

"Menyukai seseorang?" sejenak Ciel mulai berfikir. Tapi semakin lama Ciel berfikir, membuatnya semakin bingung. Dan sebagai jawabannya Ciel hanya mengelengkan kepala sambil memasang wajah yang dapat diartikan sebagai kalimat 'Aku tidak tahu.'

Paula harus menahan agar tawanya tidak meledak seketika, seorang remaja 19 tahun masih bingung atas perasaannya sendiri, itu fenomena luar biasa. Ternyata teman sekelas sekaligus mantan pasangan 'blind date'nya benar-benar awam dalam hal yang menyangkut perasaan.

"Apa kau pernah merasa berdebar saat berada di dekat seseorang Ciel?"

"..."

"Apakah kau pernah merasa sangat sedih dan sangat merindukannya seseorang saat dia jauh darimu?"

"..."

"Apakah kau pernah merasa sangat ingin selalu bersama seseorang apapun situasinya?"

"..."

Yang mampu Ciel lakukan hanya diam, manik kelabunya tertutup rapat saat tertunduk, dan pada setiap tanya yang terlontar, dia hanya menemukan satu nama, satu orang dalam benaknya. Namun... Ciel belum sepenuhnya yakin akan apa yang dirasakanya sekarang.

Manik kelabunya kembali terbuka saat dirasa ada sebuah tangan halus mengengam tangannya, kini Paula tengah bersimpuh di depan Ciel yang sedang duduk bersila.

"Itulah yang aku rasakan Ciel, aku sangat menyukaimu."

Manik kelabunya membola, tak pernah ada dalam prediksi hidupnya bahwa seorang Paula Palencia, gadis yang memiliki rambut indah coklat sebahu, mahasiswi yang terkenal dengan kecantikan alami dan hati yang luar biasa baik sedang bersimpuh dihadapannya yang mengatakan dia menyukainya.

Berbagai macam pertanyaan berkumpul menjadi satu dalam otak kecilnya, bermain-main dalam imajinasinya.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau kau menyukaiku?"

Hebat sekali Ciel. Dari ratusan kata tanya yang bisa ditanyakan, sang Phantomhive muda memilih untuk menayakan hal paling tidak masuk akal.

Paula tersenyum simpul setelah melepas gengaman tangannya, menghela nafas panjang sejenak dan memandang langit kota London sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Ciel.

"Yang aku tahu, orang pertama yang selalu aku ingat saat aku senang dan sedih adalah kau, melihat kau tersenyum aku merasakan kebahagiaan dan saat melihat kau bersedih aku juga merasakan sedih yang tak aku bisa fahami," Ciel mengikuti arah pandang sang gadis, mencoba ikut menyelami apa yang kini tengah difikirkannya. "Dan sejak pertama kali aku melihatmu hingga detik ini, aku merasa debaran jantungku selalu berdetak semakin cepat."

Satu kalimat terakhir yang terlontar dari bibir merah sang gadis sarat akan rasa sedih yang tak nyaman, memaksa Ciel untuk dapat merasakan perasaan yang selama ini coba dipendam sang gadis.

"Tapi aku lega sudah mengutarakan perasaanku padamu, walaupun pada akhirnya cintaku ini terbalas atau tidak. Yang jelas beban dihatiku sudah terangkat dan aku sudah jujur pada perasaanku sendiri."

'Jujur pada perasaanku sendiri.'

Satu kalimat itu terus berenang dalam otak kecilnya, semakin keras dia mencoba untuk mengabaikannya tapi semakin keras pula kalimat itu terus berbisik padanya.

"Menurutku, yang namanya jujur pada perasaan kita sendiri adalah mencoba mengakui pada siapa kita menaruh hati dan berani untuk mengungkapkannya." senyum Paula terkembang saat dia menyelesaikan kalimatnya. Sedangkan mahluk surai kelabu di sampingnya hanya mampu diam dan mengunci bibirnya rapat-rapat, fikirannya melalang buana menerka setiap arti dari kalimat yang didengarnya.

Seorang gadis sedang menyatakan perasaan padanya, tentu dia menginginkan sebuah jawaban, sedangkan Ciel sendiri masih bingung akan perasaan yang dia rasakan. Satu-satunya cara agar dia bisa mengetahui siapa yang sebenarnya dia sukai adalah dengan membuktikannya.

"Paula..." panggil Ciel pelan, perlahan diangkatnya kepala yang sejak tadi tertunduk. Menatap manik mata sang gadis dengan manik kelabu miliknya.

"Boleh aku memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum aku menjawab pernyataan perasaanmu."

Alis Paula nampak terangkat, bingung, tak ada yang bisa dibayangkan sang gadis saat ini, jadi yang dilakukannya hanya menganguk pelan ke arah sang lawan bicara.

Ciel mengembuskan nafas tertahan sebelum akhirnya membuka suara. "Boleh aku menciummu..." manik Paula nampak membola, otaknya sibuk menerka apa yang sedang si surai kelabu inginkan.

Melihat ekspresi kaget Paula, Ciel buru-buru menambahkan. "... Aku hanya ingin memastikan, jika saat berciuman denganmu aku merasakan debaran yang sama sepertimu, itu berarti kita memiliki perasaan yang sama, namun jika tidak..."

"Berarti kau menyukainya." potong Paula pelan.

Ganti... sekarang Ciel yang terbelalak kaget. Ada penekanan saat Paula melafalkan kata ganti 'nya'.

"Jangan heran Ciel, aku sudah merasa curiga karena sejak tadi topik pembicaraanmu hanya tentang kejujuran perasaan, dan aku sadar kau kini sedang bingung dengan perasaanmu sendiri."

Binggo... Tepat sasaran, kini Ciel mulai berfikir jangan-jangan Paula dapat membaca fikiran atau bahkan dia seorang cenayang.

"Apa kau marah dengan permintaanku?"

Tanya Ciel hanya dibalas dengan gelengan kepala dan senyum hangat Paula. "Seperti yang aku katakan tadi padamu Ciel. Aku menyukaimu dan aku akan turut bahagia jika kau juga berbahagia."

Mungkin ini tingkah paling konyol yang pernah Ciel berbuat, meminta ciuman dari seorang gadis hanya untuk membuktikan perasaannya sendiri. Jika saja Paula bukan gadis baik hati, pasti saat ini Ciel sudah mendapatkan hadiah sebuah tamparan dipipi porselennya.

Dengan perlahan namun pasti, Ciel mulai merangkak mendekati Paula yang tengah duduk bertopang pada lututnya, sambil berpangku pada telapak tanganya Ciel mulai mengeiminasi jarak mereka berdua. Sampai detik ini Ciel tidak merasakan apapun, namun Ciel dapat merasakan detak jantung Paula yang mengalun semakin kencang, serta pipi putihnya yang berhias rona merah samar.

Tinggal beberapa sentimeter lagi sebelum kedua bibir itu bertemu saat Paula mulai memejamkan manik matanya, sedangkan Ciel sendiri dapat merasakan hembusan halus sang gadis yang mulai menabrak wajahnya sendiri. Pada detik ini Ciel belum juga merasakan apapun.

Chu~

Bibir itu bertemu, Ciel merasakan rasa manis stroberi saat bibirnya bersentuhan, aroma mawar pun menguar mengelitik hidung Ciel saat menghirup nafas di dekat yang gadis. Dan Ciel tetap tidak merasakan apapun, tidak ada debaran yang menggila seperti saat dia mencuri ciuman dari sang kakak tempo hari, tak ada rasa panas yang menjalari wajahnya saat dia sadar kalau sedang berciuman, dan tak ada pula sensasi aneh pada hatinya seperti yang selama ini dia rasakan jika melakukan kontak fisik dengan sang kakak.

Dan satu ciuman itu cukup bagi Ciel, cukup untuk membuatnya sadar, cukup untuk membuatnya faham atas apa yang selama ini disangkalnya, dan cukup membuatnya sadar dan mengakui bahwa...

'Aku menyukai dosenku, aku menyanyangi kakakku dan aku mencintai Sebastian.'

T^T

Manik crimson itu masih terus memandang keluar jendela dari dalam ruang kerjanya, tangannya mengepal samar, sedangkan raut wajahnya nampak tak bersahabat. Pemicunya adalah sebuah pemandangan di bawah pohon maple yang tertiup angin lembut dengan backgroung terbenamnya matahari kota London.

Ada garis sedih yang tergambar samar pada wajah rupawannya, niatnya untuk tidak pulang lebih awal dan menunggu jam pulang kuliah sang adik merupakan kesalahan yang fatal. Lengkungan tipis pada bawah wajahnya melengkung ke bawah sangat parah, andaikan saja ada yang dapat melonggok hatinya. Hatinya sudah hancur berkeping-keping saat ini. Andaikan saja dia seorang remaja putri pasti si raven itu sudah berlari sambil menangis meraung-raung.

Tak ada yang dapat dia lakukan saat ini, yang bisa dia lakukan hanya segera beranjak dari tempatnya berdiri, mengabaikan rasa sakit yang menyerang hatinya, tersenyum hambar pada pasangan yang tengah memadu kasih lurus tepat di tempatnya berdiri dan merapalkan sebuah nama dalam diam.

"Ciel..."

.

.

.

.

TBC

A/N :

Gomen nasai... atas keterlambatan yang super sangat lambat ini, karena kesibukan yang menyiksa, dan hilangnya kemampuan mengolah kata. *sujud-sujud*

*Sedikit curhat_

Minggu kemarin sedih banget karena waktu ikut acara cosplay, nggak ada yang ngosplayin Sebastian-sama. Tapi seneng banget karena bisa foto sama Ciel, lady Ciel, trus bisa foto bareng Grell (yang jadi Grell cakep + baik hati. Hehe) *Sorak* #Plak *abaikan*

Mau ngucapin beribu terimakasih untuk Retatsu Namikaze-san, Kim Victoria-san, Nana-chan love naruto, Akai girl, eibie, Oxygen, LuckyItem, Yukina, Guest, Seidocamui, PizzaPizzi, Madness break, Shikakukouki777, 0ri, Glace Aquarii, Sheila-ela dan para silent reader sekalian. Terimaksih sudah mereview, memfav, memfollow dan membaca fic Aoi...*terharu*

Semangat dari kalian semua membuat hidupku lebih berarti...

Akhir kata...

Ada keluhan, makian, kritikan, omelan, cacian atau pujian #plak

Silahkan klik Review...