Hanya helaan nafas berat yang terdengar dalam setiap langkah yang diambilnya, perasaannya hancur seketika saat melihat pemandangan yang begitu memilukan baginya. Tak akan ada hati yang tak terluka saat menyaksikan sang tambatan hati tengah bercengkrama dengan orang lain, dan hati siapa yang tak teriris saat menyaksikan orang yang disayangi malah berbagi kehangatan melalui bibir mereka dengan orang lain.
Oh... andaikan saja dia dapat menghapus ingatannya saat ini, tentu sang raven akan dengan senang hati melakukannya walaupun nyawa sebagai ganjarannya.
Sebuah panggilan masuk membuat sang raven tersentak, buru-buru Sebastian merogoh saku mantel untuk mengambil ponsel perseginya.
"Hallo.." sapanya engan setelah mendekatkan ponsel persegi kearah telinganya.
"Sebastian..." seru sang suara diujung sana membuat Sebastian kembali terlonjak.
"Ada apa Claude... kau mengagetkanku." dengusnya kesal.
Setelah hal yang membuat moodnya mendadak jadi memburuk kini harus ditambah dengan suara bersemangat sang sahabat yang sukses membuat moodnya makin buruk sampai pada stadium akhir.
"Jika tak ada hal yang penting, lebih baik aku tutup saja telfonmu."
"Tunggu... jangan tutup dulu telfonnya, ini tentang Ciel."
Kaki jenjangnya mendadak berhenti melangkah menuju parkiran begitu nama sang adik yang disebut, seremeh apapun berita yang akan dikabarkan, Sebastian akan dengan senang hati mendengarkan, sejelek apapun atau sebaik apapun itu, jika sudah menyangkut tentang Ciel, semua akan menjadi sangat penting, sangat tidak ingin dilewatkannya. Jangan pernah salahkan Sebastian, jika tiba-tiba memiliki sifat ini karena cintanyalah yang sanggup membuatnya seperti ini.
Chapter 8 : Ya... Aku cemburu!
Ciuman itu harus berakhir saat Ciel mulai menjauhkan diri dari sang gadis, diliriknya Paula yang masih memejamkan manik matanya dan menahan rona merah diwajahnya agar tidak menyebar semakin parah.
Ada perasaan lega menyelimuti hatinya begitu Ciel selesai melakukan ciuman bersama Paula, karena untuk pertama kalinya setelah hampir setahun lebih dia mengakui tentang akan perasaannya sendiri terhadap sang kakak.
"Paula..." Ciel membuka suara saat dilihatnya sang gadis mulai membuka manik matanya perlahan.
Paula tersenyum tipis penuh luka saat didapati sang lawan bicara tengah tertunduk dan menyembunyikan wajah menawannya. Dia tahu, dia sepenuhnya sadar jawaban apa yang akan didengarnya dari si surai kelabu. Satu jawaban yang akan melukai hatinya, satu jawaban yang akan membuatnya sedih, satu jawaban yang tidak pernah ingin dia dengar. Namun dia sudah terlanjur berjanji akan ikut bahagia jika pemuda bertubuh tanggung itu juga bahagia. Tapi... apakah ada orang yang akan benar-benar bahagia, saat melihat sang pujaan hati sedang bercengkrama dengan orang lain? Semoga Paula dapat melakukannya.
"Paula aku..."
Kalimat Ciel harus rela terpotong saat telunjuk sang gadis terulur padanya dan menyentuh bibirnya.
"Jangan katakan apapun Ciel, aku sudah tahu..." jawabnya lirih penuh dengan goresan sedih disetiap kata yang terangkai.
Perlahan Ciel menyentuh telunjuk sang gadis dan kembali membuka suara.
"Aku hanya ingin mengatakan terimakasih, karena kau sekarang aku sadar akan satu hal yang penting."
Oh... betapa seorang Ciel Phantomhive sangat egois? Seorang gadis sedang tertunduk lesu dihadapannya, melepaskan ciuman pertama hanya demi dirinya, tapi apa yang dikatakannya? Hanya ucapan terimakasih tanpa rasa menyesal?
Dan Paula memahami itu, dia memang mencintai si surai kelabu ini dan rela melakukan apapun untuk kebahagiaannya.
Begitu melihat sang gadis tersenyum, Ciel segela beranjak dari tempatnya bersimpuh, sejenak merapikan pakaiannya sebelum berpamitan pada sang gadis yang masih setia tersenyum sampai dia kehilangan sosok sang pujaan hati, sebelum akhirnya tetesan bening itu meluncur melalui pipinya yang seputih salju melepas kepergian sang Phantomhive muda.
T^T
Langkah ringan, hati yang berbunga dan beban hati yang menguap adalah gambaran perasaan sang Phamtomhive muda kini. Hanya satu hal yang ingin dia lakukan dihari yang menjelang malam ini. Hanya satu orang yang ingin segera ditemuinya sekarang. Dan sudah diputuskan bahwa hari ini Ciel Phantomhive akan menumpahkan seluruh perasaannya pada si raven.
Dengan bangga dia merapalkan sebuah kalimat sepanjang perjalan pulangnya. "Aku mencintaimu Sebastian."
.
.
.
Tinggal selangkah lagi, Ciel meraih kenop pintu rumahnya, saat dirasakan detak jantung yang sedari tadi sudah berdetak kencang kini makin berdetak tak beraturan. Diliriknya sebuah porsche silver sudah terparkir rapi dalam garasi rumahnya, hal itulah yang membuat jantung Ciel makin berdetak tak seirama dan membuat rona merah mulai terlihat samar, dipeluknya makin erat buku-buku tebal yang senantiasa dia sandang semenjak tadi mencoba untuk sejenak meredam debaran yang ada.
Kaki kecilnya mencoba melangkah sepelan mungkin agar tidak disadari pemuda yang sudah pulang lebih dahulu darinya. Ciel menghembuskan nafas pelan saat dilihatnya hanya pintu dari dalam ruang makan yang menyala, membuatnya berfikir bahwa sang kakak sedang berada di dalamnya.
Semakin langkah kakinya mendekati ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, semakin didengarnya samar-samar suara baritone yang begitu dikenalnya. Kakinya mendadak berhenti begitu menyadari sang kakak sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel perseginya.
Baru saja beberapa waktu yang lalu dia mencuri dengar di dalam ruangan kerja sang kakak, apakah sekarang dia akan mencuri dengar lagi? Tentu saja, karena dia sudah terlanjur mendengar dan menjadi penasaran. Namun sayangnya Ciel harus merutuki sikapnya yang selalu ingin tahu, karena begitu dia mulai mencuri dengar, sepasang telinganya harus menegang sempurna.
"Iya Sayang..."
Kedua manik Ciel melotot dengan suksesnya, cemburu... tentu saja.
"Aku mencintaimu..."
Ciel mencengkram ujung kemejanya hingga buku tanganya hampir berubah memucat.
"Aku akan datang malam ini..."
Habis sudah semua pertahan agar emosinya tidak meledak.
"Muaaaaaacccccch..."
Selesai sudah, tak peduli Sebastian akan suka atau tidak, tidak peduli juga jika sang kakak akan menemukannya berwajah merah padam yang tengah berjuang menawan seluruh amarahnya yang memunjah.
BLAAAKKK
Pintu dapur didobrak dengan kasar, membuat satu-satunya remaja yang mendiami ruangan itu sedikit tersentak kaget, sambil menyunggingkan senyum samar.
Ciel sudah melirik tajam ke arah sanga kakak sejalan dengan langkahnya yang menuju kursi terdekat, ketika kalimat berikutnya yang terdengar adalah hal yang paling tidak ingin dia dengar.
"Sudah ya sayang... nanti aku hubungi lagi. Muaaacccccchh..."
Tanpa rasa sungkan Sebastian mencium ponsel perseginya dihadapan sang adik yang masih mempertahankan wajah merah padam karena lamanya dia mencoba menahan amarah yang menguasai hatinya.
Cukup sudah... tidak akan ada yang tahan menahan emosi saat secara bertubi-tubi diserang rasa cemburu yang makin menyiksanya.
BRAAAK
Ciel menghempaskan buku-buku tebal miliknya ke atas meja, membuat pemuda yang dilirik Ciel sedikit terlonjak mendapati tingkah sang adik yang begitu tiba-tiba, membuat seringai miliknya makin melebar sempurna.
Kena kau!
"Kau sudah pulang Ciel?" sapa Sebastian dengan ekspresi paling menawan miliknya, dan hampir saja Ciel termakan oleh sapaan lembut sang kakak. Tapi begitu mengingat apa yang baru saja didengarnya membuat emosinya kembali menguasai hatinya.
Tak menjawab, Ciel hanya menarik kursi yang ada dihadapannya sambil mendengus kesal. Sedangkan pemuda yang ada dihadapannya hanya menatapnya dengan intens, mencoba menyelami setiap ekspresi yang dihadirkan sang adik.
"Dasar pesolek... seorang dosen tidak seharusnya melakukan hal memalukan seperti tadi, mau ditaruh dimana nama baik keluarga kita, jika kau bersikap seperti itu disembarang tempat." omel Ciel panjang lebar, seraya memalingkan wajahnya karena merasa tidak nyaman dipandangi sang kakak semenjak tadi.
Tak ada jawaban, sang manik kelabu memberanikan diri untuk melirik sang raven yang sedang duduk dihadapannya, terlihatlah sang kakak yang tengah merusaha berfikir sebelum akhirnya menjawab dengan lugunya.
"Memalukan? Hal memalukan seperti apa Ciel?"
Dengusan Ciel makin keras. "Bermesraan ditelfon disembarang tempat seperti yang baru saja kau lakukan. Aku beri kau satu nasehat, jika kau memang ingin melakukan phone sex, lakukan saja dalam kamarmu, jangan melakukannya disembarang tempat."
Kening Sebastian sedikit berkerut. "Aku tidak melakukan disembarang tempat." belanya dengan tenang.
"Ya... kau melakukannya disetiap tempat, kau melakukannya di kampus dan sekarang di rumah. Membuatku merasa jijik setiap mendengarnya." Bentaknya sambil bangkit berdiri, menantang rubi sang kakak dengan cerulean miliknya.
Andaikan saja Ciel tidak dalam keadaan emosi, pasti dia dapat melihat sebuah seringgai menghiasi bibir kakaknya.
"Ciel..." panggilnya pelan. "Aku hanya melakukannya di tempat privasi yang tidak akan mungkin didatangi orang lain."
"Jangan membuatku tertawa Sebastian, jika kau melakukannya di dalam kamarmu itu namanya tempat privasi. Tapi kau melakukannya di kampus dan di rumah, orang lain pasti dapat mendengarmu." Ciel masih menatap sang kakak dengan angkuhnya, namun suara tawa yang tiba-tiba terdengar dari bibir Sebastian membuat Ciel mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Puas dengan tawanya Sebastian menarik lengan sang adik pelan, menyuruh pemuda tanggung dihadapannya untuk kembali duduk dengan tenang.
"Ciel... jika yang kau khawatirkan adalah orang lain, kau tenang saja. Karena orang lain akan mengetuk pintu ruang kerjaku jika ingin masuk dan orang lain juga akan menekan bel terlebih dahulu jika ingin datang ke rumah kita."
Kalimat panjang itu diakhiri dengan senyum paling menawan yang dimiliki Sebastian yang sukses membuat Ciel membeku di tempatnya duduknya dan mencoba mencerna setiap kata yang dirangkai sang kakak, menyatukan logika antara setiap kata yang dia ucapkan dengan kata yang didengarnya.
Dan ingin rasanya Ciel menghilang dari hadapan sang raven sekarang, begitu menyadari kata tak masuk akal yang diucapkannya, semua yang dikatakan kakaknya benar, jika orang lain yang ingin masuk ke dalam ruangan atau ke dalam rumahnya, mereka tidak akan langsung mendobrak pintu atau mengendap-endap seperti dirinya, orang lain pasti akan memberikan tanda terlebih dulu sebelum masuk.
Skak mat... selesai sudah semuanya, tak ada yang bisa diubah. Kata-kata yang terlanjur Ciel ucapkan sama artinya dengan mendeklarasikan diri bahwa dia memiliki hobi baru, yaitu menguping pembicaraan sang kakak.
Ciel hanya memalingkan wajahnya, menghindari setiap kontak mata yang berusaha sang kakak jalin, Ciel merasa sudah tak memiliki muda didepan Sebastian.
'Oh... dasar mulut sialan.' makinya dalam hati.
Sebuah lengan terjulur melewati meja yang memisahkan mereka, lengan pucat itu mencoba meraih dagu sang adik, menariknya dengan lembut agar bersedia menatap manik rubi miliknya.
"Ciel." panggilnya lembut saat kedua manik kelabu itu sudah terperangkap dalam manik rubinya. "Tatap mataku, dan berkatalah dengan jujur. Yang tadi kau katakan itu merupakan nasehat atau kau cemburu?"
Debaran jantung Ciel kembali mengalun kencang, rona merah samar kembali menyebar dan keringat dingin membuatnya semakin tidak nyaman.
'Ya... aku cemburu.' Teriaknya dalam hati, namun sayangnya hanya teriakan dalam hati yang hanya diketahui sang pemilik hati dan Tuhannya saja. Sedang pemuda dihadapannya masih dengan setia menunggu jawaban.
Tak sabar mengunggu jawaban yang tak kunjung didengungkan membuat Sebastian semakin gemas menatap pemuda dihadapannya. "Kau cemburu kan?" godanya singkat.
Manik kelabu Ciel melotot sempurna, sebelum akhirnya menepis tangan sang kakak yang sedari tadi menyentuh dahinya.
"Jangan bodoh Sebastian, aku tidak pernah cemburu padamu."
Sebastian menopangkan kepalanya pada lengan kirinya saat Ciel berniat untuk beranjak pergi. "Benarkah?"
"Benar... sekarang terserah kau. lakukan saja kesuka hatimu..." bentaknya sambil diakhiri dengan dengusan khas miliknya. Kemudian beranjak dan melangkah mendekati pintu.
Sebastian menyeringai singkat sebelum ikut beranjak dari kursinya, menyongsong Ciel yang hampir mendekati pintu keluar dan mengangkat tubuh ringkih itu dalam gendongan bridal style miliknya.
"Sebastian apa yang kau lakukan... Lepaskan aku." pekiknya begitu menyadari tubuh mungil miliknya sudah dalam kungkungan sang raven.
"Kau tidak akan pernah mencabut kata yang sudah kau ucapkan bukan?" Ciel kini baru menyadari kalau sang kakak sedang tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. "Kau yang memintaku untuk melakukan dengan sesuka hatiku kan."
Beku... Ciel mendadak membeku, dia sudah terlanjur mengatakannya dan tak mungkin dia cabut kembali. Oh... kenapa selalu sulit untuk menang dari pemuda yang kini tengah mengendongnya dengan mersa.
Rasa hangat itu makin menyebar dalam tubuh Ciel mengalahkan hawa dingin yang menyeruak begitu mereka sampai diluar rumah. Teriakan Ciel makin melemah dan akhirnya dia menyerah memberontak dari dalam hangatnya tubuh Sebastian, begitu dia menyadari sang kakak tidak akan melepaskannya sampai apa yang diharapkan sang kakak tercapai.
Ciel hanya menjambak surai sang kakak sebagai langkah pemberontakannya yang terakhir, sebelum akhirnya mereka berdua masuk dalam porsche silver milik Sebastian dan melaju menembus malam kota London.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Minna-san~ arigatou sudah membaca sampai chapter ini...
Saya hanya ingin menanyakan sedikit pendapat Minna-san, karena chapter fic ini terlanjur panjang seperti kereta, saya berencana mengakhiri fic ini sampai konflik ini saja.
Menurut Minna lebih baik mana? Berhenti sampai konflik ini dan mambuat judul baru untuk konflik yang baru? atau diteruskan saja pada chepter seterusnya?
Saran dan kritik sangat diharapkan... ^^
