"Benar... sekarang terserah kau. lakukan saja kesuka hatimu..." bentaknya sambil diakhiri dengan dengusan khas miliknya. Kemudian beranjak dan melangkah mendekati pintu.
Sebastian menyeringai singkat sebelum ikut beranjak dari kursinya, menyongsong Ciel yang hampir mendekati pintu keluar dan mengangkat tubuh ringkih itu dalam gendongan bridal style miliknya.
Ciel sepertinya harus belajar berhati-hati dengan setiap kata yang akan diucapkannya, karena mulai sekarang Sebastian akan benar-benar melakukan hal sesuka hatinya menuruti kata Ciel, dan sialnya kadang hal itu malah merugikan si surai kelabu. Seperti saat ini, Ciel harus rela digendong Sebastian, memecah keheningan kota London untuk berkendara ketempat yang tidak Ciel ketahui.
Chapter 9 : Kenyataan yang kejam?
Ciel masih mengerucutkan bibirnya panjang-panjang selama perjalanannya bersama Sebastian. Kesal, tentu saja. Segala macam emosi ditahannya, enggan berucap pada mahluk menawan disampingnya, sejenak Ciel melirik dengan ekor matanya pada sang kakak yang dengan tiba-tiba mengendongnya, memasukkannya dalam porsche silver miliknya dan melajukan kuda besi itu cepat membelah gelapnya kota London.
Manik kelabu itu memilih untuk menyapukan pandangan keluar jendela mobil, terang mentari telah tergantikan dengan lampu warna-warni yang menghiasi malam kota London, sejenak pemandangan itu mampu mengalihkan pikirannya, walaupun pada detik berikutnya Ciel kembali diradang rasa kesal.
Ciel enggan untuk sekedar bertanya kemana arah tujuan mereka malam ini, terlalu malas pula untuk sekedar basa-basi membuka sebuah kalimat untuk membunuh suasana sepi yang tercipta sejak mereka meninggalkan perumahan elit Pentonville street, dia sudah terlanjur kesal pada sang kakak yang dengan tidak sopannya telah menuduhnya cemburu. Padahal sebenarnya, itu bukanlah rasa cemburu, hanya rasa sebal dan tidak suka saat sang kakak melakukan telfon mesra dengan entah siapa nama perempuan yang dikenalnya. Ciel hanya tidak suka mendengarnya, Ciel hanya merasa telinganya memanas dan dadanya sesak saat mendengar sang kakak begitu intim berbicara ditelfon, dia hanya tidak mau jika sang kakak lebih memilih menghabiskan waktunya dengan orang lain, Ciel hanya ingin sang kakak menjadi miliknya seorang. Hanya itu saja, itu bukan rasa cemburu kan?
Porsche silver itu berhenti pada tempat parkir gedung apartemen yang tidak Ciel kenal sama sekali, manik kelabunya menatap setinggi apa aparteman dihadapannya, dan dapat diduganya lantai apartemen dihadapannya ini pasti berpuluh-puluh lantai. Ciel sedikit terlonjak saat si raven sudah membukakan pintu mobil disampingnya.
"Kita sudah sampai Ciel, kau mau berjalan sendiri atau aku gendong seperti tadi?" goda Sebastian dan sudah dapat dipastikan jika jawaban dari Ciel adalah sebuah dengusan kesal disertai dengan rona merah yang mulai menghangatkan wajahnya.
Ciel hanya mengekor dibelakang Sebastian dengan tetap mempertahankan sikap dinginnya, dia hanya ingin mendeklarasikan pada sang kakak kalau sekarang dia sedang kesal tingkat dewa. Tapi nampaknya rasa keingintahuan lebih mengelitik daripada rasa egoisnya sendiri, niat awal yang ingin mempertahankan sikap diam harus terkalahkan oleh rasa penasaran yang menuntut jawaban.
"Sebenarnya kita ini mau kemana?"
Tanpa menoleh, Sebastian menjawab tanya pemuda yang masih setia mengekor dibelakangnya.
"Aku akan mengenalkanmu pada seseorang."
DEG
Tak perlu memiliki IQ setinggi Einstein untuk memahami makna kata Sebastian, cukup hanya dengan menggabungkan semua fakta yang ada, Ciel dapat menduga siapa orang yang akan dikenalkan sang kakak padanya. Dan kenyataan itu sukses membuat hati Ciel terasa terkoyak.
Kaki kecilnya berhenti mengekor, bibirnya kembali mengerucut namun kini ditambah dengan pipi yang mengembung dan tangan yang terlipat rapi di depan dada. Kesal, protes, marah dan sedih adalah emosi yang ingin ditunjukkan pada pemuda yang masih berjalan memunggunginya. Merasa hawa keberadaan manusia dibelakangnya memudar, Sebastian memutuskan untuk berhenti dan menengok kebelakang tepat kearah Ciel yang masih merengut kesal.
Sebuah tarikan nafas Sebastian lakukan sebelum menjemput sang adik yang masih berdiri beberapa langkah dibelakangnya.
"Kau kenapa lagi?" tanyanya begitu sampai dihadapan Ciel, tak menjawab pemuda bertubuh tanggung itu hanya membuang wajah kearah lain. "Jangan coba mengodaku dengan wajah manismu itu didepan umum seperti ini Ciel, kau hanya membuatku ingin segera memakanmu." bisik Sebastian tepat ditelinga si pendek dan sontak saja membuat seluruh bulu kuduk Ciel meremang dahsat.
Ciel harus rela menelan seluruh caci makinya pada sang kakak karena pada detik berikutnya tangan yang terlipat rapi didepan dada itu sudah ada dalam gengaman si raven yang kini berusaha menuntunnya —menyeretnya— menuju pintu lift.
T^T
Otak Ciel masih terus mencari arti kalimat ambigu yang beberapa waktu lalu didengarnya. 'Apa maksudnya dengan memakan? Manis katanya?' batin Ciel tengah bergelojak, saling berperang antara logika dan perasaan, saling mengasumsikan arti kata yang membuat wajah Ciel makin memerah hebat. Sedangkan seringai lebar tengah bertahta dalam raut wajah menawan disampingnya.
TING..
Pintu lift terbuka, mengabarkan pada kedua pemuda yang berada didalamnya bahwa mereka sudah sampai ke lantai yang akan dituju. Ciel yang masih berkutat dengan batinnya tidak menyadari pintu lift yang terbuka, juga tidak menyadari saat sebuah tangan mengengam tangannya lembut dan menariknya keluar dari lift.
Ketika hangat mulai menyebar dari tangannya yang digengam saat itulah Ciel mulai sadar bahwa kini sang kakak sedang mengandengnya dengan mesra. Dan satu fakta itu membuat Ciel makin mengeratkan gengaman tanganya seolah tak ingin terlepas selamanya.
Tak butuh waktu lama bagi Sebastian untuk sampai pada satu apartemen bernomor 212, dan tanpa membuang waktu sang raven segera mengetuk pelan pintu berwarna merah marun dihadapannya.
Dan begitu menyadari nama yang tertera dibawah label angka kamar, Ciel buru-buru menepis tangan sang kakak yang semenjak tadi mengengam tangannya, Sebastian yang nampak sedikit terkejut itu hanya melirik sejenak sang adik dan sukses dihadiahi tatapan tajam penuh kebencian, amarah dan kesedihan yang dalam.
Baru saja Sebastian akan angkat bicara dan berniat menyentuh bahu yang sedang naik turun menahan marah itu sebelum sebuah pintu terbuka dan mendengarkan sebuah seruan dari suara yang sangat dikenalnya.
"Oh... Akhirnya kau datang Sebastian, Angela sudah menunggumu."
T^T
Meong~
"Hachiiii~"
"Hahaha~"
Meong~
"Hachiiii~"
"Hahaha~"
Meong~
"Hachiiii~ Sebastian berhenti menertawaiku! Dan segera jauhkan dia dariku..." teriak Ciel mengema diseluruh ruangan.
Apartemen mewah dengan segala perabot tingkat atas, ditambah dengan dominasi warna gold dan merah itu memperkuat kesan bahwa pemiliknya bukan dari kalangan yang biasanya saja, dan sayangnya kini si pemilik apartemen harus berkali-kali memijat keningnya setiap kali tamunya berlari mengeliling aparteman dan memecahkan beberapa keramik kesayangannya saat sesuatu mengejarnya.
"Sebastian... tidak bisakah kau berhenti tertawa dan segera jauhkan Angela dari Ciel, sebelum dia menghancurkan apartemanku?"
Sebastian menarik nafas sebelum menghentikan tawanya. Ya... semenjak mereka berdua masuk dalam apartemen Claude Fautus, mereka langsung disambut dengan eongan manja kucing persia berwarna kelabu dan putih yang dipanggil Sebastian dengan Angela. Dan kali ini untuk pertama kalinya selama lima tahun memeliharanya, Angela mengabaikan kehadiran Sebastian dan malah mengejar pemuda yang berambut sama dengan bulunya. Sebastian tahu betul Ciel alergi dengan bulu kucing dan dia juga tahu bahwa adiknya itu tidak begitu menyukai binatang. Itulah sebabnya dengan terpaksa Sebastian harus menitipkan kucing kesayangannya pada mantan tetangga sekaligus teman kuliahnya Claude selama Sebastian tinggal bersama Ciel di Pentonville street.
"Angela..." panggil Sebastian yang langsung direspon oleh kucing betina itu dengan eongan manja. "Sini..." perintah Sebastian lagi sambil memberikan isyarat pada kekasihnya —peliharaannya— untuk mendekat.
Ciel merosot dari tempatnya berdiri begitu melihat mahluk yang dari tadi terus mengejarnya pergi menjauh, dengan nafas yang terengah-engah dia masih sempat mengirim sinyal membunuh pada pemuda yang kini mengendong Angela dengan sayang.
"Nah Ciel... kau kini sudah tahu bukan kalau aku tidak membantu Sebastian menyembunyikan perempuan, aku hanya membantu merawat kekasihnya saja." Terang Claude sambil menyerahkan segelas air putih kehadapan Ciel yang masih memucat.
Mungkin Ciel harus menambahkan list nama manusia yang akan dibunuhnya besok pagi, Sebastian menempati urutan pertama, Alois Trancy menempati urutan kedua, dan yang menempati urutan ketiga adalah Claude Fautus.
'Terima kasih Alois karena sudah ember pada semua orang.' sungutnya kesal dalam hati.
"Nah Ciel, apakah kau ingin menarik kembali tuduhanmu padaku?" kini ganti Sebastian yang bertanya dengan tetap setia mengendong Angela yang makin merapatkan bulu-bulunya pada dada bidang sang raven.
"Tidak... kau tetap saja seorang pesolek aneh yang melakukan phone sex dengan seekor kucing."
Ciel mendengus kesal saat melihat Sebastian kembali mengelegarkan tawa yang kemudian disusul dengan suara tawa dari Claude yang kini sudah berdiri disamping Sebastian.
"Aku yang mengusulkan agar Sebastian berpura-pura menelfon perempuan agar membuatmu cemburu Ciel, agar kau bisa segera menyadari perasaanmu sendiri. Alois sudah sangat uring-uringan saat kau tak kunjung mengakui perasaanmu sekaligus kekalahanmu,"
"Tunggu..." Potong Ciel seraya mengangkat tangannya untuk mengintrupsi "Kekalahlahan? Apa maksudmu Claude?"
"Bukankah kau tengah bertaruh dengan Alois, hmm... tentang orientasi seksmu kan?"
Bluus... Wajah Ciel blusing seketika tanpa direncanakan, membuat seorang pemuda yang tengah memeluk kucing terpesona pada wajah imut dihadapannya.
Begitu Ciel tersadar pada alam nyata dan hal pertama yang dilakukannya adalah berteriak kearah kedua raven yang berdiri menjulang dihadapannya.
"Sejak kapan kalian tahu? Sejak kapan Alois memberitahu kalian?" teriaknya frustasi antara marah kerena merasa terkhianati, disertai malu karena ketahuan. Dan kini Alois telah menjadi target pertama orang yang akan dia bunuh.
"Hmm... bagaimana kalau pertanyaanmu itu diganti Ciel, menjadi... Mulai kapan kalian merencanakan hal itu? Atau untuk apa kalian merencanakan hal itu?"
Manik kelabu itu masih menatap Sebastian dengan bingung, masih tidak dapat mencerna apa yang sebenarnya ingin dikatakan sang kakak padanya.
"Sebastian," seru Claude. "Kenapa tidak kau katakan secara langsung saja agar Ciel faham,"
perlahan Claude mulai melangkah ke tempat dimana Ciel yang masih terduduk diatas lantai, sambil menyentuh lembut bahunya, Claude mulai berkata. "Ciel... Sebastianlah yang merencanakan semuanya, dialah yang menyuruh Alois untuk mengajakmu bertaruh dan menyuruhnya merencanakan kencan buta untukmu, yang diinginkan Sebastian hanya supaya kau lebih mengakui perasaanmu sendiri."
Petir kasat mata serasa menyambar tubuh Ciel dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil saat kalimat Claude berakhir, dan seluruh bumi berserta isinya serasa hancur saat Ciel melirik raven yang tengah duduk disofa tersenyum penuh arti. Hatinya terasa hancur seketika, perasaannya terasa dipermainkan oleh manusia-manusia dihadapannya ini, Ciel merasa seperti orang tolol yang tengah ditertawakan atas tingkah bodohnya. Tidak adakah yang bisa memahami dirinya, tidak adakah yang tahu bagaimana selama ini batinnya mengolak bergejolak, tidak adakah yang bisa memahami bagaimana sulitnya memutuskan untuk mengakui bahwa dia menyukai kakaknya sendiri, mencintai pria yang selama ini tinggal bersamanya, dan dua raven itu malah menertawakannya.
'Sial.' umpat Ciel dalam hati sebelum akhirnya dia memutuskan untuk beranjak dari tempatnya bersimpuh, berlari menuju pintu depan dan membantingnya dengan keras meninggalkan dua raven yang saling terbengong dengan sikap tak terduga pemuda bersurai kelabu itu.
T^T
Ciel terus saja mengumpat dalam hati setelah keluar dari apartemen milik Claude, bibirnya tak henti-hentinya menyumpai sang kakak yang dengan seenak hati mempermainkan perasaannya, dan dendam dihatinya semakin bertumpuk pada sang sahabat, membuat Ciel ingin menguliti pemuda bersurai kuning itu secepatnya.
Ciel sudah berada dalam lift ketika cerulean miliknya menangkap sosok Sebastian yang berlari menyongsongnya, tak ingin sang kakak menemukannya, Ciel segera menekan tombol agar pintu lift segera tertutup. Entah nasib baik berpihak pada Sebastian atau memang nasib buruk berpihak pada Ciel, yang jelas Sebastian telah berhasil meloloskan diri melalui celah pintu lift yang hendak tertutup. Dan begitu Sebastian berhasil masuk dalan ruang persegi itu, hal pertama yang dilakukan adalah menarik pergelangan tangan pemuda pendek itu dan merengkuhnya dalam pelukan hangat. Mengabaikan fakta bahwa meraka sedang ditempat umum, masa bodoh jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam lift pada lantai berikutnya, persetan dengan orang lain toh kini dunia hanya milik mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
TBC
A/N :
Selamat tahun baru Minna-san~ ^^ #telat woy... #digampar rame-rame
Gomen ne kalau updatenya lelet, atau malah nggak ada yang nunggu update fic ini ya? #pundung di pojokan
Nggak perlu banyak ocehan tak penting, mohon reviewnya jika ada keluhan, cacian, makian, maupun pujian tentang fic ini. ^^
See you~ pada chapter berikutnya~ *itupun kalau chapter selanjutnya jadi dipublis* Ho~ ho~ ho~
