Beberapa tahun yang akan datang, aku akan menikah dengan Hijikata-san. Segala persiapan dimulai hingga upacara tradisional pernikahan sejak turun-temurun akan dilaksanakan di Shinsengumi HQ. Aku dan Hijikata-san sangat bersyukur pada waktu itu, karena ikatan cinta kami tercapai.
"Apakah kalian siap menepati janji suci kalian?" kata seorang pendeta Shinto.
"Siap," kata kami berdua.
Akad nikah tradisional Shinto kali ini berjalan khidmat, seluruh pemerintah Jepang pada zaman ini yang hadir pada akad nikah kali ini sangat bahagia melihatku dan Hijikata-san bisa bersama lagi selamanya. Rasa bahagia juga dirasakan oleh sahabat-sahabat kami yang termasuk anggota Shinsengumi, Osen-chan hingga seluruh tamu undangan juga merasakannya. Aura bahagia pada musim semi ini, membuat hatiku merasa senang.
Sekian bulan kemudian, kira-kira awal musim panas, kami berdua tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan pemandangan yang sangat rindang dan segar. Tak terasa, aku dan Hijikata-san terpisah dari sahabat-sahabat kami: Shinsengumi. Kami sangat merindukan canda tawa dari Heisuke-kun dan kawan-kawannya dari TRIO BAKA, bahkan masakan yang paling enak dari Okita-san dan Saito-san. Yang paling kami rindukan adalah ... selalu terdengar sayup-sayup 'obrolan khusus' yang penuh makna dari Kondou-san bersama San'nan-san serta Kazama-san dari kamar mereka. Apalagi Yamazaki-san dengan 'atraksi ninja' untuk menghibur kami, sehingga perasaan kami menjadi tenang di kala susah.
Hijikata-san juga merindukan canda tawa dari Okita-san yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri sejak pertama bertemu dengannya, hingga saling berebut buku Haiku yang selalu Hijikata-san tuliskan. Aku sangat merindukan hari-hariku bersama Kaoru di Shinsengumi HQ, karena aku dan dia adalah kembar dampit yang memiliki ikatan batin yang kuat ... hingga kuajak dirinya untuk bermain boneka bersamaku.
"Chizuru, kamar untuk anak-anak kita ada dua. Satu untuk yang pertama, dan satu lagi untuk yang kedua," ujar Hijikata.
"Ya, aku tahu ... Hijikata-san," kataku sambil membalas pesan singkat dari Kaoru melalui handphone Android 4 milikku yang berwarna ungu dengan gantungan berwarna pink.
Setelah Hijikata-san menunjukkan seisi rumah baru kami padaku, barulah kami bersedia untuk menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia dari sebelumnya. Kamarku bersama Hijikata-san berada di sebelah kiri kamar mandi. Dapurnya berada di sebelah pintu halaman belakang beserta meja makan dan kursinya, sedangkan ruang tamunya berada setelah kalian memasuki rumah baru kami. Suasana rumah kami makin segar oleh udara yang di luar ... bagaikan air yang mengalir, udara selalu berada tepat bersama para makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Waktu terus bergulir ...
31 Agustus, ulang tahun seorang teman ... akhirnya aku dan Hijikata-san sudah bisa melihat tampang anak pertamaku dari kehamilanku. Aku selalu mengelus-elus perutku yang mengandung anak pertamaku, begitu juga Hijikata-san. Cinta benar-benar membutuhkan pengorbanan, sehingga aku harus merawat anak pertamaku dengan baik hingga dia lahir ke dunia ini.
"Siapakah nama yang cocok untuknya?" tanya Okita-san, dengan nada penasaran.
"Jenis kelaminnya sendiri belum ditentukan secara jelas, Souji!" ujar Hijikata-san ketus.
"Kalian berdua tetap saja ... dari dulu sampai sekarang ...," aku tertawa kecil melihat tingkah mereka yang masih tetap terkenang di dalam benakku.
Beberapa bulan kemudian, ketika usia kehamilanku mencapai 6 bulan ... aku dan Hijikata-san segera ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan bayi yang ada di dalam kandunganku. Ternyata, kondisinya normal dan jenis kelamin bayi tersebut adalah perempuan. Ah ... Okita-san benar, aku dan Hijikata-san harus mencari nama yang cocok untuk calon anak kami. Sesampainya di rumah, aku dan Hijikata-san segera membuka sebuah buku yang berisi nama-nama untuk bayi. Nama adalah doa, itulah prinsip para orangtua untuk mendoakan yang baik untuk anak-anaknya setelah mereka lahir. Tiga puluh menit telah berlalu ...
"Chizuru, mungkin 'Aria' adalah nama yang cocok untuknya. Pasti mengingatkanmu terhadap seseorang yang ... begitu manis menurutmu ...," kata Hijikata-san.
"Aria, ya ... pasti cocok! Pasti singkatan dari sebuah nama seseorang yang begitu membuatku terpesona akan kelebihannya ...," kataku.
"Apakah dia yang memiliki masa remaja yang suram? Dan kemudian menjadi indah pada waktu yang tepat?" tanya Hijikata-san.
"Ya, seperti itulah dirinya," jawabku, mengiyakan pendapat Hijikata-san.
Inilah yang kutunggu-tunggu, pada penghujung musim dingin ... usia kandungan yang mencapai sembilan bulan dan sepuluh hari ... aku berusaha keras untuk melahirkan putri pertama kami ke dunia fana ini dengan berbagai rintihan penuh pengorbanan keringat, air mata, dan segenap kasih sayang yang berharga dari semua orang. Hijikata-san membawaku ke Rumah Sakit Konoha, yang merupakan rumah sakit populer di Tokyo, Jepang. Aku masih merintih dan berusaha untuk menghilangkan rasa sakit dalam tubuhku meskipun masih penghujung musim dingin. Hijikata segera menghubungi seluruh Shinsengumi untuk melihat saat-saat yang begitu menunjukkan pengorbananku kepada putri pertamaku.
"Bagaimana ... kata ... mereka ...?!" rintihku.
"Tenang saja ... mereka akan datang ...," jawab Hijikata.
Beberapa saat kemudian, aku dibawa ke ruang persalinan untuk melancarkan proses kelahiran putri pertama kami. Seluruh dokter membantuku hingga aku harus berkali-kali mengambil nafas untuk memudahkan proses kelahirannya. Satu jam ... hingga dua jam kemudian, para Shinsengumi dihebohkan oleh usahaku yang benar-benar berhasil ... putriku lahir dengan selamat ke dunia ini. Senyumannya manis, meskipun dia menangis untuk mengambil nafas pertamanya di dunia ini. Hijikata-san mulai merangkulnya dengan tangan kanannya. Dia menggendongnya untuk pertama kalinya dan mengecup keningnya.
"Nona Yukimura ... anda telah melahirkan seorang bayi perempuan ...," kata seorang dokter, sebelum beliau memberikan bayi berbungkus kain merah muda tersebut kepadaku dan Hijikata-san.
"Kita mau lihat ...!" ujar sebagian Shinsengumi dari luar ruangan, termasuk Okita-san serta TRIO BAKA.
Aku menatap putriku yang masih berbungkus kain merah muda dengan senang hati, hingga ingin mengelus-elus kepalanya. Aku juga menggendongnya sambil mencium pipinya, tak kusangka ... pipinya juga sama tembem dengan seseorang yang selalu kuingat. Dia tersenyum riang, sambil menatapku dan Hijikata-san sebagai kedua orangtuanya. Seluruh Shinsengumi termasuk Okita-san ingin melihat bayi perempuan tersebut hingga aku harus menunjukkannya kepada mereka. Menurut Saito-san, dia benar-benar mirip seorang gadis bernama Avie-chan.
"Siapa namanya, Chizuru, Hijikata-san?" tanya Heisuke-kun sambil menyisir rambut pendeknya dengan jari.
"Heisuke, sudah kami putuskan ... nama bayi perempuan ini adalah ... Hijikata Aria," jawab Hijikata tegas.
Kemudian ...
"Aria ... kamu lucu, deh!" Osen-chan menyentil pipinya setelah mengetahui nama bayi perempuan yang telah aku lahirkan dengan selamat.
"Ini Yukimura Chizuru, ibumu ... dan ini Hijikata Toshizo, ayahmu ...," ujar Kaoru, memperjelas perkenalannya denganku dan Hijikata-san selaku ibu serta ayahnya, "Aku Nagumo Kaoru, sebagai pamanmu. Dan juga ... Yukimura Kodo selaku kakekmu yang kujamin ... selalu mengajakmu bersenang-senang ..."
Kaoru benar-benar memperkenalkan Aria dengan keluarga barunya secara jelas. Ya ... setiap bayi baru lahir pasti ada laporan kelahiran, dan beruntung sekali ... Hijikata-san mempersiapkan seluruh dokumen untuk mendapatkan akta kelahiran khusus putri kami tercinta; Hijikata Aria.
Pada suatu saat di musim gugur, Aria harus belajar berjalan. Aku dan Hijikata-san harus berusaha agar dia mau belajar berjalan setelah dia selalu merangkak di lantai hingga memegang kakiku. Aku sangat beruntung menjadi seorang ibu yang terbaik baginya. Setiap hari aku memandikannya sebanyak dua kali, menyuapi makanan untuknya, hingga mengajaknya bermain. Tak lupa Hijikata-san menceritakan sebuah dongeng untuknya sebelum tidur sementara aku segera menyanyikan nina bobo untuknya.
"Aria ... Aria ... bangun, sayang. Pagi ini sangat cerah, bagaikan wajahmu yang cantik ...," aku membangunkan Aria dengan sangat lembut. Dia tersenyum manis di hadapanku.
Setelah aku memandikan Aria yang masih bayi, aku menyuapi sarapannya. Ketika aku akan menyuapi satu sendok dari makanan yang ada di mangkuknya, Aria bisa mengambilnya sendiri dan sendok itu dia arahkan pada mulutnya. Kurasa, dia mau belajar makan sendiri. Tepat juga harapanku, dia bisa menjadi mandiri sebelum waktunya. Kemudian, seorang teman mendatangi kami, begitu juga Kaoru. Ketika dia memeriksa kesehatanku, tampaknya dia berpikir bahwa menurut perkiraan, aku akan hamil lagi untuk mengandung adik baru untuknya.
"Aria ... sedikit lagi, kau akan memiliki seorang adik ...," ujarku.
"Hore ...," Aria menyambut berita itu dengan bahagia, "Aku ... mau ... punya ... adik ...!"
"Chizuru, dia ceria sekali, ya ...," kata Hijikata-san, menatap wajah ceria dari Aria.
Beberapa waktu telah kami jalani dengan baik, sampai dengan saat-saat kelahiran seorang bayi laki-laki dari dalam kandunganku. Aria telah berumur satu tahun lima bulan dan benar-benar menanti tampang adiknya ketika Hijikata-san menggendongnya ke arah jendela ruang persalinan. Aku, dibantu oleh para dokter ... berusaha untuk melahirkan bayi laki-laki itu. Hijikata-san, Aria, beserta seluruh Shinsengumi melihatku dari jendela ruang persalinan.
"Masih lama ...," keluh Aria, yang waktu itu masih belum bisa berbicara dengan sempurna.
"Sabar, Aria ... adikmu akan segera lahir ...," hibur Hijikata-san.
Sepuluh menit kemudian, seorang bayi laki-laki telah lahir ke dunia fana ini. Dia berbungkus kain biru muda dan aku serta Hijikata menyambutnya dengan cara yang sama seperti saat-saat kelahiran Aria ke dunia ini. Para Shinsengumi masuk ke ruang bersalin sambil melihat tampang bayi laki-laki yang begitu mirip dengan masa kecil Hijikata-san. Okita-san mengira bahwa bayi laki-laki itu adalah tampang asli masa kecil Hijikata-san, meskipun bukan.
"Mana namanya!?" tanya Harada, yang benar-benar penasaran.
"Tenang, tenang, tenang ...," Hijikata-san menenangkan suasana, "Sudah aku putuskan bersama Chizuru ... bahwa nama bayi ini adalah; Hijikata Toshio. Sama dengan namaku, tapi agak diplesetkan."
Ayah bersama Kaoru datang terlambat karena selesai mengadakan lamarannya bersama adik dari almh. Fujisawa Haruna, Fujisawa Mitsuki. Mereka segera melihat tampang bayi laki-laki yang berbungkus kain biru muda yang masih digendong olehku. Aku sudah memberikan pesan singkat kepada Kaoru bahwa nama bayi laki-laki itu adalah Toshio.
"Toshio, ini Aria ... kakakmu. Semoga kau bisa akrab dengannya ... sampai nafas terakhirmu ...," kata Kaoru kemudian, "Namamu diambil dari nama ayahmu, Hijikata Toshizo ... atas kasih sayang ibumu, Yukimura Chizuru. Ini aku, Kaoru ... sebagai pamanmu. Dan disebelahku itu ... Yukimura Kodo, kakekmu."
Sejak saat-saat itu, Aria semakin bahagia dengan kehadiran adik barunya. Dia takkan lagi kesepian sambil menunggu lama mengenai waktu kedatangan adik barunya. Dia selalu mengajak adiknya bermain sambil belajar, bahkan bermain di luar ketika musim salju telah tiba.
