Ciel sudah berada dalam lift ketika cerulean miliknya menangkap sosok Sebastian yang berlari menyongsongnya, tak ingin sang kakak menemukannya, Ciel segera menekan tombol agar pintu lift segera tertutup. Entah nasib baik berpihak pada Sebastian atau memang nasib buruk berpihak pada Ciel, yang jelas Sebastian telah berhasil meloloskan diri melalui celah pintu lift yang hendak tertutup. Dan begitu Sebastian berhasil masuk dalan ruang persegi itu, hal pertama yang dilakukan adalah menarik pergelangan tangan pemuda pendek itu dan merengkuhnya dalam pelukan hangat.

Chapter 10 : Kiamat bagi Ciel Phantomhive

Ciel buru-buru mendorong tubuh tegap dihadapannya dengan kasar, enggan berlama-lama dalam pelukan pemuda yang sudah mempermainkanya.

"Ciel..." lirihnya, Sebastian sadar bahwa remaja dihadapannya kini tengah dalam keadaan marah dan kecewa, jadi dengan sangat enggan Sebastian melepaskan kungkungannya dari pemuda yang lebih muda darinya.

"Apa yang kau inginkan Sebastian, apa kau belum puas menertawakanku, apa kau masih ingin mempermainkanku, huh?" tantang Ciel angkuh.

"Apa kau tahu bagaimana perasaanku Sebastian, apa kau tahu bagaimana frustasinya aku setiap hari seperti orang gila, apa kau tahu peperangan batinku untuk mengambil keputusan ini, keputusan paling gila yang pernah aku lakukan. Pernyataan paling ekstrim dalam hidupku," Sebastian masih berada disana, mendengarkan dengan perhatian penuh setiap celoteh amarah yang coba dirangkai sang adik tentang perasaannya. "—Apa kau tahu, sangat sulit bagiku mengakui bahwa aku menyukaimu, semakin besar aku mengelak semakin besar pula rasa itu menyelimutiku, dan kau malah mempermainkanku, kau benar-benar manusia—"

Kalimat Ciel harus rela terpotong karena kini bibirnya sudah terkunci oleh bibir sang kakak, hanya kecupan tanpa pangutan, tanpa dominasi, tanpa nafsu, hanya kecupan singkat untuk membuat bibir tipis itu berhenti berbicara, karena bagi Sebastian pemuda dihadapannya ini sudah menyampaikan seluruh perasaannya dengan jujur dan kini sudah saatnya bagi dirinya untuk mengungkapkan segala yang dipendam pada sang adik.

"Sudah cukup kau bicara Ciel, kini biarkan aku yang akan membuat pengakuan, dengarkan aku baik-baik Ciel Phantomhive," ruby milik Sebastian menatap telak manik Ciel, mentrasnfer segenap rasa yang selama ini tersimpan dalam hatinya. "Aku sudah menyukaimu sejak awal kita bertemu Ciel Phamtomhive, sejak mom menyeretmu masuk kedalam ruang tamu, sejak kau yang saat itu masih bangun tidur, kau sudah mengodaku dengan wajah manismu sejak awal pertemuan kita, dan rasa tertarik itu berubah menjadi rasa suka kemudian berkembang menjadi rasa cinta dan sayang yang luar biasa."

Jantung Ciel kembali memacu dengan kencang, bibirnya masih terasa panas walau kecupan yang diterimanya terlampau singkat dan lidahnya kelu tak mampu berkata-kata.

Sebelah tangan Sebastian terjulur untuk menyentuh pipi pucatnya, saat Ciel tak jua membuka suara. "Dan aku benar-benar minta maaf... aku tak bermaksud untuk mempermainkanmu Ciel, semua hal yang kulakukan semata-mata hanya ingin membuatmu menyadari perasaanmu sendiri, dan aku tak bisa melakukannya sendiri, itulah mengapa aku meminta beberapa bantuan. Walau akhirnya aku sendiri yang kalang kabut dengan semua rencana sempurna yang telah aku susun."

"Heh..."

Mau tak mau Sebastian harus tersenyum begitu mendapati wajah terkejut sang adik. "Ya Ciel... kau membuat semua rencanaku berantakan dengan sikapmu yang tiba-tiba, kau berhasil membuatku cemburu disaat terakhir, kau berhasil membuatku frustasi saat kau tiba-tiba mencium Miss Palencia dihadapanku."

"Eh?"

"Dan kau harus mendapatkan hukuman dari tingkahmu itu Ciel!"

Manik kelabu itu membulat saat dengan beringas Sebastian memangut bibirnya. Jelas sekali Sebastian memangut bibirnya dengan emsosi yang tertahan. Ciel hanya diam, tak faham apa yang harus dilakukannya, kelopak matanya berlahan mengatup saat Sebastian mulai menghisap bibir bawah Ciel meminta izin untuk menginvasi ruang basahnya lebih dalam. Ciel membiarkan naluri yang membimbingnya, membiarkan hasrat yang menguasainya untuk memimpin permainan bersama Sebastian. Bibir Ciel sedikit terbuka, membuat sang raven tak ingin membuang waktu lagi untuk segera mengecap setiap rasa yang terdapat didalamnya, menginvasi setiap inci dalam rongga basah itu hingga membuat sang empunya lemas dan mendesah dalam dekapannya.

"Hmmp—"

Erang Ciel tertahan saat lidahnya bertautan dengan lidah milik Sebastian, tubuhnya mengejang saat tanpa pemberitahuan Sebastian sudah menghisap kuat-kuat lidah miliknya, membuatnya langsung limbung lemas dalam dekapan sang raven.

Dengan nafas yang masih terputus-putus, Ciel mencoba menatap tajam kearah pemuda yang tengah menyeringai ke arahnya. "Jangan pernah lakukan hal seperti ini ditempat umum, Bodoh!" bentaknya sebelum membenamkan kepalanya pada dada bidang sang kakak.

T^T

"Ah-h..." erangan Ciel kembali lolos saat lidah Sebastian kembali menginvasi ruang hangat miliknya. Tubuh ringkihnya sudah tak dapat bergerak leluasa dalam kungkungan pemuda yang bertubuh jauh lebih besar.

Semenjak kedua pemuda itu pulang dari kunjungan yang penuh dengan emosi, tanpa ba-bi-bu lagi, Sebastian langsung menyeret tubuh sang adik menuju ruang tamu yang ada disebelah kiri pintu masuk rumah mereka. Ciel sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi, tubuhnya sudah terlanjur lemas kerena semenjak mereka masuk ke dalam rumah sang kakak terus saja menghujaminya dengan kecupan panas tanpa henti.

"Ah-h..." lengkuhnya kembali memenuhi udara dalam ruang tamu bergaya minimalis itu, setelah berhasil melepaskan cardigan biru tua milik Ciel, detik berikutnya Sebastian menghempaskan tubuh munggil itu ke atas sofa beludru berwarna merah marun ditengah ruangan.

"Se-Sebastian apa yang akan kau lakukan?" dengan suaranya yang makin parau, Ciel mencoba merangkai kata ditengah nafasnya yang terengah-engah.

Seringai mesum Sebastian menghiasi wajah rupawannya, sambil melangkah mendekatkan diri pada mangsanya, tangan lentiknya mulai membuka tiga kancing teratas kemaja hitamnya. Menampakkan dada putih sang raven yang tegap dan menawan. Ciel bahkan kehilangan kemampuannya untuk bernafas saat pemandangan itu tersuguh dihadapannya.

"Aku hanya melakukan apa pun sesuka hatiku seperti yang kau katakan tadi Ciel," ternyata selain lupa bagaimana caranya bernafas ternyata Ciel juga lupa bagaimana caranya menegak salivanya sendiri saling gugupnya. "—lagipula aku juga harus menghukummu karena perbuatanmu tadi siang."

Ciel masih mematung saat tubuh tegap Sebastian sudah memenjarakannya, menindih dan mengapit tubuh ringkihnya itu tanpa sedikitpun celah untuk kabur.

"Se-sebastian lepaskan aku, kenapa kau mau menghukumku, aku tak melakukan kesalahan apapun." ronta Ciel yang berakhir dengan sia-sia, karena kini kedua tangannya sudah dalam genggaman sang raven yang menguncinya diatas kepala Ciel, sedangkan lengan yang lain digunakan Sebastian untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh menindih Ciel yang terbaring pasrah diatas sofa.

Rona pada wajah pucatnya makin terlihat seiring dengan panas nafas Sebastian yang menubruk wajahnya.

"Bibirmu itu sangat nakal Ciel," ucapnya kemudian mengecup singkat bibir tipis dibawahnya. "Berani-beraninya bibir itu malah mencium orang lain dihadapanku."

Tubuh Ciel menegang mendengar bisik baritone sang kakak yang mulai serak menggoda, mengirimkan sinyal-sinyal cemburu tingkat dewa yang kini diderita sang kakak.

"Dan... aku harus menghukummu untuk hal itu, agar kau tak mengulanginya."

"Akh—"

Sudah tak dapat ditahan lagi, erangan itu harus rela lolos karena tanpa peringatan Sebastian langsung menyerang leher jenjang sang adik, membuat Ciel melengkuh nikmat saat dirasakan lehernya sudah menjadi bulan-bulanan dari jilatan, hisapan dan gigitan dari sang kakak.

"Akh—"

Ciel kembali tak dapat menahan jeritannya untuk yang kesekian kalinya, saat sang kakak memberikan hisapan kuat pada leher pucatnya.

"Aku hanya ingin memastikan perasaanku padamu dengan memanfaatkan Paula, aku hanya ingin tahu apakah aku akan berdebar saat berciuman dengannya sama seperti yang aku rasakan saat mencuri ciuman darimu, Akh—"

Susah payah Ciel mencoba menjalaskan situasi yang sebenarnya pada sang kakak yang sudah terlanjur termakan rasa cemburu, walaupun pada akhirnya wajah sang sang pemuda bersurai kelabu itu makin memerah karena baru saja mengakui bahwa dia telah mencuri ciuman dari kakaknya sendiri.

"Kau harus percaya padaku, kalau aku mencium Paula tanpa perasaan apapun. Hanya semata-mata ingin membuktikan perasaanku pada—hmff."

Sebastian sudah bosan mendengar bibir tipis Ciel terus mengumandangkan nama orang lain, walaupun niatnya hanya ingin menjelaskan keadaan sebenarnya, tapi nampaknya Sebastian tidak mau tersaingi siapapun jika menyangkut tentang Ciel.

"Jangan pernah menyebut nama orang lain saat kita bersama, kau hanya boleh menyebut namaku saja Ciel." perintahnya tajam, sebelum kembali menginvasi ruang hangat milik Ciel, mengecap setiap rasa manis didalamnya, mengabsen setiap inci sudut mulut orang terkasihnya.

"Se-Se... bastian." Panggilnya parau saat sang raven kembali membenamkan diri pada lehernya.

T^T

Kicauan burung diluar jendela kamar bernuansa abu-abu dan biru itu, sedang mengabarkan pada sang pemilik kamar bahwa hari sudah siang. Ciel harus mengerjap beberapa kali untuk membuat manik kelabu miliknya terbiasa dengan cahaya yang ada. Kedua lengan pucat itu direngangkan ketika Ciel sudah duduk pada tepian ranjang. Sebelum beranjak dari tempat tidur manik kelabunya sekilas melirik kearah jam weker yang teronggok dilantai.

Ciel pasti membuang jam weker tak berdosa itu saat dia tengah terlelap dan masih enggan bangun ketika wekernya mulai memanggil. Dengan langkah malas Ciel mengambil weker miliknya dan melatakkan kembali diatas meja.

"Sudah jam 9 pagi rupanya, aku ujian jam 10 pagi." gumamnya lirih, sebelum akhirnya kaki mungilnya melangkah menuju kedalam kamar mandi dan mematrikan diri didepan cermin diatas wastafel.

Wajah putih itu semakin memucat saat menyadari bayangan yang terpantul pada cermin dihadapannya, bayangan itu memperlihatkan sesosok pemuda dengan surai kelabu yang awut-awutan, kulit wajah yang putih pucat dan yang paling mengerikan adalah hiasan kissmark yang tersebar disekujur lehernya tanpa sisa.

"AAAAAAAARG! SEBASTIAN APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU—" teriak Ciel memecah kedamaian pagi disalah satu kediaman di permukiman elit Pentonville street. Memekakkan telinga seorang pemuda yang tengah sibuk didapur rumahnya, menyisakan seringai puas pada bibirnya yang menawan.

Derap langkah dari kaki mungilnya mengema seantero rumah berdominasi warna putih dan abu-abu itu. Geram, marah, tentu saja. Siapa yang tak marah jika bangun tidur sudah tersuguhi pemandangan mengerikan pada lehernya, tanda kebiruan itu hampir tersebar diseluruh leher miliknya tanpa celah, sekali lagi perlu ditegaskan 'Tanpa Celah'.

Aroma harum pie apel menyeruak hidungnya begitu langkah kaki kecil Ciel sampai di depan pintu dapur. Sesosok pemuda bertubuh tegap dengan kemaja hitamnya tengah memunggungi pemuda yang tengah mengeram kearahnya, mencoba menahan senyum yang terkembang sejak suara cempreng milik Ciel menggema diseluruh rumah mereka.

Merasa terabaikan, Ciel menghentakkan kaki menuju sang kakak yang masih setia memunggunginya.

DUAAK

Satu tendangan telak mengenai kaki jenjang sang raven, membuat Sebastian mau tidak mau, pada akhirnya menghadap pemuda yang masih mengeram kesal itu. Tanpa membuang banyak waktu, jemari lentik Ciel segera mencekram kerah kemeja hitam milik sang kakak, mendekatkan wajah rupawan itu pada wajahnya sendiri bermaksud untuk menumpahkan setiap caci maki yang sudah disiapkannya.

"Apa yang kau lakukan bodoh! Aku tidak mungkin bisa keluar rumah dengan keadaan seperti ini! Apa kau ingin menyiksaku." maki Ciel tanpa memperdulikan bahwa posisi yang dipilihnya ini hanya mengundang seringai milik Sebastian makin melebar, puas.

Lengan Sebastian yang sejak tadi dibiarkan menganggur kini difungsikan untuk menarik pinggang sang adik agar semakin mendekat, manik kelabu Ciel membola sempurna, baru sadar akan posisi berbahaya yang dipilihnya, dan seringai sang kakak membuatnya makin sadar bahwa posisi seperti ini hanya akan menguntungkan bagi sang kakak saja.

"Apa yang semalam itu masih kurang Ciel, sehingga masih pagi begini kau sudah mengodaku?" tanya Sebastian seduktif sambil makin mendekatkan tubuh munggil dalam dekapannya.

Ini tidak seperti yang direncanakannya, Ciel hanya ingin memarahi Sebastian, tapi kenapa malah dirinya sendiri yang terpojok. Tangan-tangan mungil itu mencoba memberontak, melepaskan diri dari dekapan sang raven yang makin erat.

"Apa yang kau lakukan Sebastian? Lepaskan aku!"

"Kau ini sulit sekali difahami Ciel, awalnya kau yang mengodakku dengan menyerangku, sekarang kau minta aku melepaskanmu begitu saja? Tidak mungkin dear." Sebastian membisikan kalimat seduktif itu tepat didekat telinga si kecil, membuat Ciel blusing parang ditambah dengan bulu kuduknya yang meremang saat nafas hangat sang kakak menyapu kulit wajahnya.

Stop! Bukan waktunya untuk terbuai, Ciel harus meluruskan masalah yang menganggunya pagi ini. Dengan tenaga yang tersisa lengan pucat itu mendorong kuat-kuat pemuda yang lebih besar darinya. Walaupun hasilnya hanya menjauhkan beberapa senti wajah Sebastian dari wajahnya karena lengan sang raven masih setia melingkar pada pingangnya.

"Aku butuh penjelasan kenapa kau malakukan ini." Tunjuk Ciel pada lehernya sendiri yang kini sudah penuh dengan tanda-tanda bekas pergumulan mereka semalam.

Sebastian terkekeh pelan sebelum akhirnya menjawab. "Itu hukuman untukmu."

Kening Ciel mengkerut dalam. "Hukuman? Aku salah apa?"

Cuping hidung Ciel harus rela menjadi korban cubitan dari sang kakak, hadiah dari pertanyaannya yang begitu sangat lugu.

"Haruskah aku mereka ulang kegiatan kita semalam, agar kau ingat apa kesalahanmu sehingga aku harus menghukummu?"

Bluss...

Hanya dengan membayangkan saja kini wajah Ciel sudah memerah bagai tomat matang, apa lagi kalau Sebastian mereka ulang kegiatan mereka, mungkin jantung Ciel akan melompat dari tempatnya bersarang saking senangnya. Tapi sekarang bukan itu permasalahnya, pukul 10 nanti ada ujian di kampus, dan Ciel tak mau terlambat untuk hal itu.

"Bagaimana aku datang ke kampus dengan keadaan seperti ini, orang-orang pasti akan menertawakanku."

"Itu deritamu Ciel, siapa suruh kau begitu nakal seperti kemarin."

Alis Ciel berkedut samar, sepertinya kakaknya masih marah atas isiden ciumancoret bersama Paula kemarin. Ciel menghembuskan nafas seraya melepaskan kedua lengan Sebastian yang masih mengunci tubuhnya.

"Kalau begitu, aku akan membolos saja."

"Jika kau membolos, itu artinya kau tak ikut ujian. Jika tidak ikut ujian itu artinya kau tak lulus mata kuliahku. Dan kau pasti faham jika tak lulus itu artinya apa."

'Artinya aku harus ikut kelasmu semester depan.' batin Ciel kesal.

"Aku akan ikut ujian susulan saja." Ucap Ciel keras kepala.

"Aku tidak menyiapkan ujian susulan." Jawab Sebastian tak kalah keras kepalanya.

'Sepertinya Sebastian benar-benar berniat menyiksaku.'

"Aku akan meminta ujianku digantikan dengan tugas saja."

"Aku tidak mengizinkannya."

Pembicaraan ini semakin membuat kesabaran Ciel menipis, membuat kerut diwajahnya sudah melebihi kuota yang ada dan emosinya benar-benar sedang diuji.

"Aku mendadak sakit, aku akan meminta izin dari kampus untuk tidak mengikuti ujianmu hari ini."

Ciel merasa bahwa gagasan ini benar-benar paling aman untuknya, sebelum jawaban sang kakak yang dibarengi dengan remasan gemas pada pantatnya membuatnya harus berfikir ulang atas gagasan tentang pura-pura sakit itu.

"Jika kau sakit, aku juga akan memilnta izin dari kampus dan akan merawatmu seharian."

'Seharian.' Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam benaknya untuk beberapa detik. Pastinya bukan gagasan yang baik jika dia harus bersama sang kakak yang sudah tergoda dari pagi, dan hanya berdua saja didalam rumah meraka yang sepi. Otak mesum sang kakak pasti sudah merancang hal yang 'iya-iya' begitu ada kesempatan. Bukannya Ciel tidak mau, dia hanya belum siap, masih terlalu awal untuk hubungan mereka jika melakukan sesuatu yang berbumbu rate M.

T^T

Dengan enggan Ciel kembali kekamarnya untuk melakukan persiapan untuk berangkat kuliah, pemuda malang itu tak bisa mengelak ataupun melarikan diri dari 'tidak datang ke kampus' hari ini. Resikonya sama-sama terlalu besar antara membolos atau datang ke kampus dengan kondisi memprihatiankan seperti sekarang.

"Huuh~" dihembuskannya nafas itu keras-keras berharap bisa mengurangi rasa dongkol yang bersarang dalam hatinya. Sambil membuka lemari pakaiannya, Ciel mulai berfikir semua hal yang bisa menutupi bekas kepemilikan sang kakak.

Beberapa menit kemudian Ciel harus meremat surainya dengan frustasi, menyalahkan dirinya sendiri yang memiliki selera fashion yang sangat buruk sehingga tidak dapat menemukan pakaian yang bisa menyelamatkannya. Lemari kayu yang berukuran hampir dua meter itu hanya dihuni dengan berpotong-potong t-shirt, celana jeans, dan kemeja disisi kanan serta beberapa jaket, cardigan juga mantel yang tergantung rapi disisi sebelah kiri lemari.

Dan pilihan Ciel jatuh pada celana jeans selututnya dipadu dengan t-shirt lengan pendek berwarna biru cerah ditambah dengan syal biru tua melingkar pada lehernya. Dengan harapan syal itu bisa menyelematkannya dari rasa malu luar biasa jika orang lain melihat kissmark yang tak kunjung memudar.

"Apa kau sedang sakit Ciel? Kenapa kau memakai syal?" tanya Sebastian begitu melihat sang adik turun dari lantai dua.

"Huh~ bukan urusanmu." jawab Ciel super ketus, sebelum akhirnnya mengekor sang kakak untuk berangkat ke kampus bersama-sama.

T^T

Ciel memilih untuk masuk ke ruang kelas pada saat terakhir, enggan baginya untuk bertemu sang pengkhianat Alois atau menatap gadis yang kemarin baru saja diciumnya, Paula. Namun sepertinya gagasan untuk datang paling akhir saat ujian adalah gagasan yang kurang tepat. Karena sangat jauh dari yang diharapkannya, sekarang pemuda malang itu malah menjadi pusat perhatian seantero kelas. Mencoba untuk mengabaikan setiap mata yang kini memandangnya, dengan segera Ciel mengambil tempat paling depan yang masih tersisa, diapit oleh dua orang yang sedang memandang penuh tanda tanya.

"Apa kau sedang sakit Ciel? Kenapa memakai syal padahal cuaca sedang cerah." tanya seorang gadis yang kini sedang duduk disebelah kiri Ciel.

"Kenapa kau datang hampir terlambat Ciel?" tanya pemuda blonde yang berada disebelah kanan tempat duduknya.

Beruntung karena sebelum Ciel menjawab pertanyaan yang tertuju padanya, sang dosen charming sudah memasuki ruang ujian dengan membawa setumpuk kertas dalam pelukannya.

Ciel sedikit menahan nafas saat sang kakak mulai melengang untuk membagikan kertas ujian. Harum parfum milik sang kakak begitu mengoda hidung Ciel, membuat pemuda itu kembali blusing karena mengingat malam yang mereka habiskan bersama kemarin. Ciel mengamati penampilan sang kakak dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengagumi surai hitam legam yang membingkai wajah menawannya, memuji lengan kekar yang kini berbalut kemeja hitam dan cardigan abu-abu, serta dada bidang sang kakak yang tersembunyi dalam balutan garmen yang membuat penampilan makin mempesona.

Terkutuklah pada otak yang terus membayangkan tubuh tegap sang kakak, sehingga membuat Ciel tak sadar bahwa sang kakak kini tengah berdiri menjulang dihadapannya, sambil menahan senyum karena memergoki sang adik yang tengah mengamatinya dalam diam.

"Apa kau sedang sakit Mr. Phantomhive?" suara itu bagai menampar Ciel agar segera kembali pada dunia nyata.

"T-tidak."

"Kenapa kau memakai syal pada cuaca yang cerah ini? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dibalik syalmu itu kan?"

Baritone itu terdengar sangat menyebalkan di telinga Ciel, bagaimana mungkin sang kakak bisa berbicara seperti itu di depan teman-temannya yang kini sukses menatapnya curiga karena kalimat yang terlontar dari dosen charming mereka.

"Kau tidak menyembunyikan contekan dibalik syalmu itu kan?" lanjut Sebastian yang kini dihadiahi tatapan maut milik Ciel.

"Saya tidak menyembunyikan sesuatu Mr. Michaelis, saya hanya merasa kurang enak badan." elak Ciel susah payah.

"Kalau begitu, tentu kau tak keberatan jika melepas syalmu itu kan. Jika kau tidak menyembunyikan sesuatu dibaliknya."

Simpang tiga tersemat dengan tidak etisnya pada kening Ciel yang mulus, lelah sudah dengan semua tingkah menyebalkan sang kakak yang berniat mempermalukan dirinya dihadapan teman-temannya.

"Sudahlah Mr. Phantomhive... saya hanya bercanda, saya yakin kau tak menyembunyikan contekan dibalik syalmu." ucap Sebastian akhirnya karena tidak tega melihat sang adik yang kelihatan hampir berkaca-kaca.

Ada rasa lega yang menyelimuti perasaannya saat Sebastian menyerah untuk tidak memaksa membuka syalnya. Tapi disisi lain Ciel juga merasa sedikit kecewa, kecewa? Karena secara tak langsung dia juga ingin mendeklarasikan hubungannya dengan sang kakak.

Bohong sekali kalau Sebastian melepaskan Ciel semudah itu, insiden —lepas syal— belum selesai sampai situ saja kerena seulas senyum penuh arti itu tengah menghiasi bibir seksi sang dosen. Ada banyak rencana yang tengah dipikirkannya untuk membuat tanda kepemilikannya pada Ciel diketahui orang lain.

T^T

Pemuda surai kelabu itu tak henti-hentinya mengibaskan jemari lentiknya kedepan wajah, berharap gerakan kecil itu dapat mengirimkan rasa sejuk kearah tubuhnya yang gerah. Sejak beberapa menit yang lalu suasana kelas makin memanas, karena AC yang mati atau lebih tepatnya dengan sengaja dimatikan oleh seseorang.

Peluh mulai meluber dari kening Ciel dan kini mulai mengalir melewati pelipisnya, menandakan bahwa sang empunya sedang melawan rasa gerah yang luar biasa menyiksa. Manik kelabu itu sejenak mengedarkan pandangan seantero kelas, berharap tak banyak mata yang akan mengamati pergerakannya, begitu merasa keadaan telah aman, Ciel mulai membuka lilitan syal yang membuat gerahnya berlipat ganda, dan membiarkan syal biru tua itu tetap mengantung di lehernya, kini Ciel merasa sedikit nyaman dan siap untuk menyelesaikan ujiannya.

60 menit berlalu dengan cepat, terlalu cepat bahkan karena Ciel belum bisa menyelesaikan seluruh soal yang ada. Salahkan saja Sebastian yang membuat dirinya tidak sempat belajar semalam. Dan saat seluruh kelas hampir kosong, Ciel tertunduk lesu di tempat duduknya.

"Argggg..." dengan frustasi Ciel meremat rambutnya sendiri, membuat dua orang yang duduk disebelahnya mengalihkan perhatiannya pada si surai kelabu.

"Kau kenapa Ciel?" suara sopran Paula bertanya dengan nada kekhawatiran yang kentara.

"Kau ini kenapa Ciel? Sejak pagi sikapmu aneh." dan suara cempreng milik pemuda blonde itu membuat Ciel yang frustasi makin frustasi tingkat dewa. Sekali hentak Ciel bangkit dari tempat duduknya dan langsung mencekik leher sang sahabat.

"Dasar kau pengkhianat!" teriak Ciel membabi buta kearah pemuda dihadapannya yang kini hampir kehabisan nafas.

"Ci-Ciel... To-Tolong Le-paskan aku." gagap Alois disela-sela nafasnya yang hampir putus.

"Ciel apa yang kau lakukan? Lepaskan Alois, dia bisa kehabisan nafas."

Ciel tak mengindahkan suara panik Paula yang menyapa telinganya, mengabaikan wajah sang sahabat yang makin memucat karena saluran darah yang terhambat.

Paula mencoba menenangkan Ciel dengan sedikit mengunjangkan bahunya, berharap sentuhan tangannya mampu menyadarkan Ciel yang tengah kalap, namun tangan yang terjulur itu malah ditepis oleh Ciel, dan membuat syal yang hanya mengantung di lehernya terlepas, memperlihatkan leher jenjang Ciel yang sejak pagi mati-matian dia sembunyikan dari dua kawannya itu.

Paula membekap mulutnya dengan kedua tangan, sedang Alois hanya bisa membulatkan mata sempurna. Dan hampir bersamaan kedua remaja itu saling berteriak di depan Ciel yang wajahnya kini sudah memerah menahan malu luar biasa.

"Ciel! Apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan itu padamu?" berondong tanya dari Paula hanya bisa dijawab dengan keheningan dan tundukan kepala yang dalam. Sedangkan senyum puas terkembang pada bibir remaja blonde yang baru saja terbebas dari cekikan sang sahabat. Juga ada seorang lagi yang tersenyum puas, raven yang tengah bersembunyi di dekat jendela ruangan baru saja ditinggalkan, tengah mengagumi hasil karyanya semalam dan juga menikmati wajah merona sang adik yang menurutnya sangat manis. Sedangkan bagi seorang Ciel Phantomhive, kiamat baru saja menyapa harinya.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N :

Hay minna~ \(^o^

Kaget kah saya update kilat? #plak *kagag ada yang tanya*

Saya ingin segera menyelesaikan fic ini supaya bisa tidur dengan tenang *apa hubngannya coba?*

Jadi bagaimana menurut Reader-san tentang fic ini? Makin aneh ya? Makin geje ya? Gomen ne~ mohon kritik dan saran dari para Reader-san pada Author abal ini. ^^

Ingin berkomentar~ Silahkan klik... Review. ^^