Aria dan Toshio sudah besar, mereka sudah bisa melakukan apapun dengan mandiri. Mereka akan kami bawakan ke sebuah sekolah yang diharapkan bisa mendidik mereka berdua dan kami sendiri juga akan mendidik mereka. Aku selaku seorang ibu sebenarnya penting bagi Toshio, sedangkan Hijikata-san untuk Aria.

Karena Aria lebih dekat denganku, aku selalu mendengar curahan hatinya. Begitu juga Toshio yang dekat dengan Hijikata-san yang selalu diajaknya untuk ngerumpi tentang kesehariannya dan Aria di manapun. Mereka berdua sangat akur, jarang sekali terjadinya perselisihan di antara mereka.

Umur mereka sudah mencapai usia 9 dan 8 tahun, dan mereka sekelas di ruang kelas III-3. Sejak kelas satu dan dua, mereka selalu ditunjuk maupun dipilih menjadi kandidat ataupun pengurus sesungguhnya. Mereka juga berusaha mati-matian untuk menjadi siswa terbaik di sekolah mereka: SD Fukuhara Ryushi 06. Sebuah SD terfavorit setelah mereka lulus dari TK. Anehnya ... aku punya firasat bahwa Aria mendadak banyak mendapatkan teman yang tidak sesuai harapannya. Sementara lima belas persen dari mereka sesuai dengan harapan Aria dan Toshio. Di kelas tiga inilah, Tuhan memberi mereka ujian yang berat untuk dihadapi. Aku yakin, Tuhan sangat mencintai mereka layaknya guru kepada muridnya.

Pada suatu ketika, kira-kira pertengahan musim gugur, Aria dan Toshio merasa diberatkan oleh ulah teman sekelasnya. Bahkan untuk masalah ini, mereka terus di-bully atau diancam karena suatu hal sepele. Bayangkan, hal yang sekecil itu berubah jadi besar. Kebetulan, hari Kamis ... hari tersibuk para Shinsengumi.

"Aria, Toshio!" panggil seseorang bernama Utsumi Tensei.

"Apa maksud kalian!?" Toshio menyahut mereka dengan tegas.

"Saudara kandung, ya ... heh? Mengapa kalian bisa sekelas?" ejek Mikazuki Muii.

"Karena keputusan ayahku yang seperti itu, maka kami menerimanya!" Toshio mulai membela Aria.

Suasana makin tegang di koridor kelas tiga SD, bahkan sahabat mereka Kawada Kyouji dan saudari kembarnya Kawada Kyouko ikut membela mereka. Dari sekian lama mereka bertengkar, mereka pasti berujung kemarahan pada seorang pelaku maupun korban. Aria, yang puncak kemarahannya seperti Hijikata-san selaku ayahnya ... amarahnya mulai meledak.

"Dengarkan aku, ya! Aku tidak terima atas ulah kalian. Toshio juga nggak mau terima atas kelakuan kalian yang begitu keterlaluan!" Aria mulai marah.

"Kakak ...," Toshio bersikap lembut sepertiku, selaku ibunya, "Kalau kakak masih marah dengan mereka ... nanti kakak akan ..."

"Toshio ... buat apa membela kakakmu, hah!? Seharusnya pihak sekolah memisahkanmu dengan kakakmu tercinta, Aria-inu!" Muii mulai mengejek Aria.

"Muii! Aku nggak sanggup lagi mendengar ejekanmu!" teriak Aria.

"Heh! Kau harus rela berpisah dengan adikmu jika ingin dipisahkan, Inu!" ujar Muii sinis, yang semakin mengundang kemarahan Aria.

Tak lama kemudian, matanya berkaca-kaca ... menandakan bahwa dia tak sanggup menahan luka hatinya. Aria mulai menangis dan membalas perkataan Muii.

"CUKUP! AKU NGGAK MAU MENDENGAR SEMUA UCAPAN KASARMU!" teriak Aria sambil terisak. Tangannya bersiap untuk menamparnya. Kemudian ...

"Kakak ... jangan membalas kemarahan dengan kemarahan pula. Seperti kakak, aku juga kecewa dengan mereka," Toshio menghentikannya untuk menampar Muii.

"Sudahlah ... biar aku laporkan ke Bimbingan Konseling," hibur Kyouko.

Sejak kejadian itu, batin mereka merasa sakit. Toshio yang mula-mula mengalami migrain setelah berlari keliling lapangan sebanyak tiga kali ketika pelajaran olahraga pada musim gugur ini ... harus merelakan batinnya yang ikut tersakiti juga. Meski Aria tidak apa-apa di dalam tubuhnya, hatinya sakit sekali ... seperti ditusuk oleh katana. Sepulang sekolah, mereka langsung menghampiriku dan Hijikata-san.

"Ayah!" Toshio menghampiri langkah Hijikata-san dan memangkunya.

"Ya?" Hijikata-san menatap tampang putranya.

"Temanku ... berbuat kasar terhadap kakak ...," Toshio menceritakan masalahnya bersama Aria ketika di sekolah.

"Wah, wah ..., kemudian kenapa dengan Aria?" tanya Hijikata-san penasaran.

"Dia menangis karena Mikazuki Muii, dia terbukti merasa dengki terhadapku dan kakak. Pada kejadian itu, kemarahannya meledak hingga aku harus menghentikan kakak ketika mau menamparnya," jawab Toshio.

Sementara Aria ... dia mengurung diri di dalam kamar ketika aku masih melanjutkan beberapa pakaian yang belum diseterika. Ketika aku datang ..., dia belum sempat membuka pintunya karena masih menangis di balik bantal. Ketika aku mengetuk pintu kamarnya untuk terakhir kali agar aku bisa mendengar isi luka hatinya ...

"Aria ... apakah ibu boleh masuk?" aku menyambut Aria.

Aria segera membuka pintu kamarnya.

"Hiks ... ibu ...?" Aria menghampiriku, kemudian menceritakan seluruh luka hatinya padaku.

"Sayang ... kemarahan takkan bisa membalas keburukan dirinya. Dia akan terus berbuat begitu, kecuali jika dia tiba-tiba langsung teringat sesuatu tentang dirimu," hiburku setelah mendengar cerita darinya.

"Dia benar-benar ... hiks ... keterlaluan! Aku harus membuatnya kapok dan merasakan luka yang sama denganku!" isak Aria.

"Iya, sayang ... ibu mengerti perasaanmu," kataku sambil tersenyum di hadapannya.

Setelah mengatakan itu kepada Aria, hatinya merasa sedikit enakan. Ketika kami berempat segera menikmati makan malam, kepala Toshio tambah pusing setelah pusing batin yang dideritanya sejak kejadian itu. Setelah makan malam, aku menimang Toshio agar kepalanya tidak merasa pusing lagi. Karena aku harus membesarkan hati Aria yang sakit sekali, kuserahkan Toshio kepada Hijikata-san untuk menenangkan dirinya. Kurasa, Hijikata-san akan mengerti perasaannya juga.

"Toshio, apakah kau tidak apa-apa?" tanya Hijikata-san kepada Toshio.

"Kepalaku masih ... pusing ...," rintih Toshio sambil membaringkan badannya atas kasur di kamar tidurnya.

"Pasti karena kau juga ikut sakit lahir batin dengan kakakmu, Aria," kata Hijikata-san.

"Ya ...," keluh Toshio, "Kakak merasa paling marah terhadap mereka ..."

Begitulah pembicaraan Hijikata-san dengan Toshio di dalam kamarnya. Mereka membicarakan seputar luka hatinya. Meskipun kepalanya masih pusing, Toshio ingin mencurahkan isi hatinya kepada Hijikata-san.

"Toshio, perlu kau tahu ... bahwa 85% dari seisi kelasmu memang begitu, sedangkan sisanya mampu membelamu dan Aria. Yah ... karena faktor keturunan ... Aria terkadang nggak bisa menahan amarahnya, seperti ayah ketika berada di Shinsengumi. Hadapi saja dengan sabar atau kesehatanmu akan terus-menerus kambuh seperti ini," kata Hijikata-san.

"Ayah, padahal mereka harus dibawa ke arah yang benar ... yaitu arah kebaikan dan bukan kepada pengaruh Muii sebagai ketua kelas! Apakah aku harus ... menggulingkan kekuasaannya sebagai ketia kelas III-3 ... demi kebaikan ...! Demi kemashlatan kelas!" Toshio memiliki tekad, meski hatinya ingin menangis.

"Toshio, putraku tercinta ... menggulingkan kekuasaannya memang susah, seperti yang ayah bicarakan kepada sebagian anggota Shinsengumi. Untuk menyadarkan perilakunya, pasti butuh waktu ...," hibur Hijikata-san.

Tak lama kemudian, Toshio menumpahkan isi hatinya ke hadapan Hijikata-san. Dia memeluknya dan Hijikata-san menghiburnya di dalam pelukan itu. Tak kusangka, Hijikata-san sendiri benar-benar bersikap pengertian kepadaku dan anak-anak kami. Kemudian ... di kamar Aria, aku masih menghiburnya sambil menjawab perasaan yang ada dalam hatinya. Begitulah sehelai kehangatan yang diberikan kepada mereka berdua, bagaikan cahaya yang menyinari sekeliling tempat yang gelap.