"Ciel! Apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan itu padamu?" berondong tanya dari Paula hanya bisa dijawab dengan keheningan dan tundukan kepala yang dalam. Sedangkan senyum puas terkembang pada bibir remaja blonde yang baru saja terbebas dari cekikan sang sahabat. Juga ada seorang lagi yang tersenyum puas, raven yang tengah bersembunyi di dekat jendela ruangan yang baru saja ditinggalkannya, tengah mengagumi hasil karyanya semalam dan juga menikmati wajah merona sang adik yang menurutnya sangat manis. Sedangkan bagi seorang Ciel Phantomhive, kiamat baru saja menyapa harinya.
Chapter 11 : Badai?
Ciel menyeret kakinya selama berjalanan pulang, ingin mati rasanya karena malu yang ditanggungnya. Ingin juga Ciel menyobek mulut jahil Alois yang dengan kerasnya mengatakan pada Paula bahwa tanda kepemilikan dileher Ciel adalah maha karya sang dosen charming mereka. Dan dapat dipastikan bahwa Paula mendadak pucat pasi mendengarkan deklarasi paling fenomenal itu.
Ciel menghela nafas saat melihat rumah munggil yang sudah tertangkap manik kelabunya, mobil kesayangan sang kakak juga sudah terparkir rapi di garasi, membuat mood Ciel kembali memburuk. Ragu antara pulang kerumah atau melarikan diri sejauh mungkin. Tapi, bukankah memang dalam hatinya juga ingin agar teman-temannya tahu tentang hubungannya dengan sang kakak, jadi kenapa dia harus sefrustasi ini? Oh... mungkin Ciel hanya merasa bersalah saja pada Paula karena melihat raut wajah kecewa yang terpahat pada wajah cantiknya.
"Aku pulang." seru Ciel ketika badan mungilnya masuk dari celah pintu.
"Selamat datang Ciel."
Begitu telinganya mendengar baritone sang kakak, amarah Ciel memuncak, bayangan raut wajah Paula kembali tergambar dengan jelas, membuat dadanya sedikit sesak, dengan hentakan kaki yang dibuat-buat, Ciel melangkah menuju sang kakak yang kini tengah duduk berselonjor di sofa ruang tengah.
DUAAKKK
Adegan penendangan kaki kembali terjadi, dan kaki jenjang Sebastian kembali menjadi korbannya.
"Kau menyebalkan Sebastian, aku membencimu."
Sebastian tersentak, sedangkan Ciel melengos dan meninggalkan sang kakak yang sedikit mengerang karena sakit pada tulang kakinya.
Ciel hampir mencapai tangga sebelum tangan kekar Sebastian menghentikan langkahnya.
"Kau kenapa? Kenapa pulang-pulang, marah seperti ini?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa aku marah." bentak Ciel yang diikuti sentakan pada lengannya agar terlepas dari cengkraman sang kakak, namun sayang tidak membuahkan hasil.
"Aku membencimu." imbuhnya.
"..."
"Kau selalu saja suka mempermainkanku."
Sebuah seringai tipis tersungging sebelum Sebastian memaksa tubuh mungil di depannya untuk menghadap pada dirinya.
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan padaku untuk melakukan sesuka hatiku?"
Bagus sekali, kata-kata yang terlontar kini menjadi bumerang baginya, Ciel harus mencacat dalam hati dan harus mengendalikan mulutnya sebelum mengoarkan sebuah kalimat yang suatu saat bisa menusuknya dari belakang.
"Aku sudah berusaha menutupi tanda ini dengan syal, lalu kenapa kau malah mematikan AC dan membuat aku menjadi gerah."
"Harus dikoreksi lagi kalimatmu Ciel, karena saat tadi aku bertanya kenapa kau memakai syal, kau bilang sedang tidak enak badan, jadi wajar kalau aku mematikan AC supaya kau tidak kedinginan kan?"
Telak, Ciel kalah telak dalam adu argumen ini, tidak ada lagi kata yang bisa manyangkal jawaban sang kakak,
"Lagi pula memangnya kenapa kalau Alois dan Paula tahu tentang hubungan kita?" Ciel mendelik mendengar lontaran tanya sang kakak. "Apa kau menyesal Ciel?" tanya itu begitu mengiris hati karena baritone Sebastian terdengar begitu sendu. "Apa kau tidak menginginkan hubungan ini?"
Tidak, Ciel tidak menyesal sama sekali. Hanya saja mengingat wajah terkejut Paula membuat dada Ciel diserang sesak yang kasat mata. Membuatnya dilingkupi rasa bersalah yang tak bisa diungkapkannya. Dan kini melihat wajah sendu itu menaunginya, batin Ciel makin tersiksa, hilang sudah seringai jahil sang kakak, yang ada kini hanya sebersit luka yang terhias dalam chimson miliknya.
"Aku minta maaf Ciel, jika kau tidak menginginkan hubungan ini, kita akhiri saja."
DEG
Satu kecupan pada kening Ciel mengakhiri kalimatnya, membuat sosok remaja itu mengepalkan tangannya hingga buku tangannya memutih.
"Sebastian, apa makasudmu? Kau mau mencampakkan aku? huh?" sembur Ciel pada sang kakak yang kini memunggunginya.
"Dasar! Kau selalu saja mempermainkan perasaanku, kau selalu saja membuatku bingung, jika kau menang tidak menyukaiku, katakan saja." teriak Ciel kolosal, membuat Sebastian membalikkan badan dan menatap sang adik.
"Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan, Ciel?"
"..."
"Apa yang kau inginkan, huh?"
Sebastian semakin melangkahkan kakinya mendekati Ciel yang kini semakin terpojok, hingga punggungnya membentur pegangan tangga.
"Bukan aku yang mempermainkanmu Ciel, tapi kau yang membuatku bingung dengan semua tingkahmu."
Crimson itu menghujam kelabu dibawahnya, sirat luka itu terlihat dengan jelas. Sebastian tahu kegelisah yang dirasakan sang adik. Dia juga tidak menyalahkan Ciel yang merasa kesal karena dipermalukan di hadapan teman-temannya. Tapi Sebastian juga harus memberikan si kecil pelajaran, bahwa setiap kalimat yang terucap selalu memiliki konsekunsi yang harus dihadapi.
"Sekali lagi aku tanya padamu Ciel, apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau ingin berhenti atau melanjutkan hubungan ini?"
Ingin rasanya Ciel menyemburkan sumpah serapahnya pada jangkung yang menjulang tepat dihadapannya. mudah sekali Sebastian memberikan pilihan aneh seperti itu, padahal baru kemarin mereka mengumbar kata cinta.
'Sekali lagi kau berkata terserah atau lakukan saja kesuka hatimu, aku bersumpah akan menghukummu.' batin Sebastian.
Jemari munggil yang sedikit bergetar itu terjulur, mendengarkan pilihan sang kakak membuat hatinya sedikit terkoyak. Ciel tentu tak mau mengakhiri hubungan yang baru saja dimulainya, tapi entah kenapa bibirnya terlalu kelu, hanya sekedar mengatakan keinginannya pada sang kakak, sehingga hanya satu hal yang dapat Ciel lakukan.
Chu~
Bibir munggil itu menempel pada bibir sang raven, jemari munggilnya mencengkam kerah kemeja sang kakak agar mendekat, walaupun begitu Ciel masih harus berjinjit agar dapat mengapai bibir sang kakak.
Manik crimson itu membulat, kecupan sang adik begitu lembut tanpa nafsu, hanya kecupan yang mengutarakan seluruh perasaan yang terpendam. Semburat merah menjalar memenuhi wajah Ciel yang kini memejamkan matanya. Dan kecupan itu lebih dari cukup sebagai jawaban.
"Apa sih susahnya mengatakan semua yang ada dalam benakmu?"
Ciel hanya memberengut sambil melipat tangan dan membuang muka. Sebastian yang melihat jalaran benang merah dipipi sang adik tidak akan mungkin rela melepaskan mahluk mungil dihadapannya ini, dan sekali sentak tubuh Ciel sudah terangkat dengan tubuh yang terduduk pada pinggiran pegangan tangga. Hanya supaya tinggi mereka sejajar untuk saling intens menatap satu sama lain.
"Sebastian apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membuatku ja— hmmpf."
Bibir itu kembali terkunci, pasokan udara kembali tercuri dan detak jantung lagi-lagi harus berpacu tak terkontrol. Desahan kembali terdengar, lenguhan lagi-lagi mendominasi. Mengabaikan paru-paru yang berteriak karena kurangnya pasokan udara, melupakan pintu yang belum terkunci, tak memperdulikan sepasang kaki yang mulai mendekati pintu kayu mereka, dan mengacuhkan sebuah lengan yang memutar kenop pintu.
Ciel dan Sebastian masih sibuk merengkuh nikmat dunia dengan pangutan-pangutan penuh cinta, logika serasa sudah membuta karena nafsu yang mengelora, sehingga sebuah seruan daari arah pintu masuk melonjakkan kedua insan yang tengah dimabuk cinta.
"Ciel, Sebastian! Apa yang kalian lakukan!"
Di depan pintu berdiri seorang Vincent Phantomhive dengan berkacak pingang ditambah dengan aura hitam yang menguar jelas dari sisi tubuhnya yang rupawan, sedangkan sang istri —Rachel Phamtomhive hanya bisa berdiam diri sambil membekap bibirnya dengan kedua tangannya, memaksa agar tidak ada teriakan yang lolos dari bibirnya.
"Mom... Dad..." ucap Ciel lirih.
TBC
