Toshio yang terluka lahir batin telah mendapat pelukan hangat dari Hijikata-san. Dia menumpahkan kesedihannya di hadapan ayahnya sendiri dan mengeratkan pelukannya. Sebenarnya, menjadi laki-laki tidak hanya memandang kuat atau tidak di dalam jiwanya, namun perilaku harus diperlihatkan lagi.

Aria masih menumpahkan kesedihannya di dalam pangkuanku, aku pikir ... batinnya terluka parah. Ya ... sekarang aku masih berada di dalam kamar tidurnya untuk mengobati luka hatinya yang parah.

"Di manapun aku berada ... hiks ... aku dan Toshio sering dimarahi dan diancam oleh mereka. Aku marah sekali ketika mereka ... hiks ... menghalangi jalanku ... kemudian ... aku ... aku ...," Aria melanjutkan ceritanya.

"Apa sayang ...?" tanyaku.

"AKU KESAL DENGAN MEREKA!" isak Aria kencang.

"Sudahlah ...," aku menenangkannya, "Renunglah, seandainya kau ada di dalam posisinya. Kau akan kerepotan sambil mengancam beberapa anggota kelas yang menurutmu menyebalkan karena perilaku mereka."

"Dan jika dia ... hiks ... ada pada posisiku ... dia akan senasib denganku ...," isak Aria, "AKU AKAN MEMBUATNYA SEPERTI ITU AGAR DIA MENYESAL!"

"Aria sayang ..., nanti dirimu akan sama dengannya. Dan masalah pun semakin rumit kalau kau ingin melakukan itu," hiburku kemudian.

Sekarang, batinnya sangat sakit seperti dihalau kayu besar dan kemudian tersesat entah ke mana. Aku sudah berkali-kali menenangkan Aria dengan jawaban dari setiap curahan hatinya, tetapi hatinya masih sakit karena ditelepon oleh Muii yang protes ketika membaca sebuah pesan singkat yang dia kirimkan lewat handphone Samsung ACE3 milik Aria sendiri. Kasihan sekali ..., aku harus menenangkannya dengan cara lain.

Mendengar rintihan hatinya, aku menggunakan selendang ungu untuk menggendong Aria. Kemudian, aku menimangnya sepenuh hatiku untuk menyembuhkan luka hati Aria yang makin mendalam. Memang mustahil, tapi aku melakukannya dengan penuh kasih sayang kepadanya.

"Aria ... gadis kecilku ... ssshh ...," bisikku lembut, sambil menimangnya.

Aria merasa tenang saat aku menggendongnya, meskipun masih ingin menumpahkan isi hatinya. Dia harus kuat, jangan sampai seperti Toshio yang nanti langsung jatuh sakit ketika memikirkan mereka. Aku harap ... cara ini dapat menenangkan hati kecilnya.

"Aria ...," panggilku lembut, "Lihatlah langit berbintang di jendela ini. Bintang-bintang itu menyinari langit malam ... begitu juga rembulan yang cahayanya sampai ke bintang itu."

Aria yang masih digendong olehku segera menatap langit malam yang penuh bintang yang menyinarinya. Dia merenung, seandainya dia terbebas dari cobaan ini ... maka dia akan tersenyum riang bagaikan bintang yang bersinar. Aku menghapus air matanya dengan saputanganku.

"Ibu ... hiks ...," rintih Aria.

"Apa, sayang?" tanyaku.

"Aku mau peluk boneka ...," jawabnya.

"Baiklah, sayang ... lebih baik tiduran dulu di kasur. Kemudian ambil saja bonekamu yang ingin kau peluk di sebelah sini," kataku, sambil membaringkan Aria ke atas kasur.

Aria segera mengambil boneka beruang warna cokelat sebagai pemanis baju vintage lolita cokelat bergambar teddy bear. Dia memeluknya sambil berbaring di atas kasur. Aku segera duduk di sebelahnya dan membelai rambutnya. Aria berambut panjang hitam, seperti Hijikata-san sebelum dia memotong rambutnya. Sepertinya, malam hampir larut ... aku harus menidurkannya agar dia tertidur pulas dan bermimpi indah.

"Sayang, sudah waktunya tidur. Dan dirimu masih belum berhenti menangis, Aria," kataku lembut.

"Aku ... hiks ... masih kepikiran mereka ...," rintih Aria kemudian, "Aku ... hiks terbayang jika mereka tidak ada ... hiks ... aku akan merasa nyaman ..."

"Aria, gadis kecilku ... biarlah semua berlalu, bagaikan tertiup angin. Apapun yang terjadi, kau akan tetap nyaman bersama sahabat-sahabatmu. Bahkan sahabat sejati bisa memberimu bantuan," hiburku, "Memang nggak berguna jika kau masih menangisi mereka. Tetapi ... inilah peluang untuk menumpahkan luka hatimu, Aria sayang ..."

Sementara di kamar tidur Toshio, Hijikata-san langsung membacakan dongeng berjudul 'Cinderella' kepada Toshio untuk menenangkan hatinya. Cara itu berhasil baginya karena Toshio sudah tertidur pulas dan sakit kepala yang dideritanya langsung sembuh. Hijikata-san langsung mengucapkan selamat tidur kepada Toshio dan memasuki kamar tidur Aria.

Dia melihatku yang bersusah-payah untuk menghibur Aria dan menidurkannya. Kasihan Aria ... tutur Hijikata-san dalam hati. Hijikata-san duduk di sebelahku dan memberikan sebuah boneka dari Kaoru.

"Chizuru, kalau dia masih belum lega ... peluk saja boneka ini," katanya kemudian.

"Ah ... terima kasih, Hijikata-san. Kau sudah tahu sendiri, kan? Cewek memang lemah, tapi mereka berusaha untuk kuat meski batin mereka sakit," kataku.

"Ya, begitulah kalau anak perempuan. Mereka selalu mencurahkan isi hati mereka melalui cara apapun. Ada juga yang pendiam, namun tak selamanya. Chizuru, sebelum kita merasakan seperti ini ... kau sendiri juga merasakannya, kan?" jelas Hijikata-san.

"Ya, aku merasakannya sendiri," jawabku, "Selama kita berdua menjadi suami-istri, tak terasa ... kehangatan kita selalu diberikan kepada Aria dan Toshio."

"Tunggu, Chizuru!" Hijikata-san teringat akan sesuatu.

"Ya?" ujarku.

"Aria ... kemudian menangis menjadi-jadi. Mungkin kau harus menenangkannya meski kau sudah berusaha sekuat tenagamu," kata Hijikata-san, "Karena dia lebih dekat denganmu, lebih baik Aria harus menangis di dalam pelukanmu yang hangat."

"Oh, baiklah ... Hijikata-san. Aku juga ingin menidurkannya dengan nina bobo," ujarku kemudian.

Kasihan gadis kecilku ... dia menangis menjadi-jadi sambil memeluk boneka beruang cokelat itu. Aria begitu membutuhkan banyak kehangatan, karena hatinya masih terluka parah atas ujian Tuhan ini. Aku yakin, Tuhan mengabulkan doa orang yang tersakiti.

Kemudian, Hijikata-san keluar dari kamar tidur Aria setelah merasa dirinya sangat mengantuk. Sebenarnya aku juga mengantuk, tetapi kasihan Aria ... aku harus menidurkannya dengan nina bobo.

"Aria, sayang ... jika dirimu nggak sanggup menahan semua ini, peluk ibu ... karena ibu akan memberimu banyak kehangatan kepadamu, gadis kecilku ...," aku langsung mengulurkan tanganku untuk memberi pelukan kepada Aria.

Perlahan-lahan ... Aria datang ke hadapanku. Dia benar-benar mencintaiku, selaku ibunya. Aku memandang wajahnya yang penuh air mata kesedihan, batinnya merasa kedinginan ... bagaikan badai salju yang takkan berakhir selamanya. Aria membaringkan kepalanya ke atas pundakku. Putriku ... yang berwajah cantik, memiliki penampilan yang manis, dan imut ... sekarang masih kedinginan dalam batinnya.

"Hiks ... apakah itu benar ... ibu ...?" Aria penasaran.

"Benar, sayang ... dirimu sudah nggak tahan lagi, kan? Tak ada salahnya, kok ... dan kering sudah air matamu untuk menangisi mereka, Aria. Sekarang ... bisa menangis dalam pelukan ibu yang hangat, Aria ... gadis kecilku ...," jawabku.

"Ibu ... hiks ... aku ... sudah tak bisa menahannya ... hiks ...," isak Aria.

"Ibu mengerti, sayang ...," aku tersenyum di hadapannya.

"Hiks ... ibu ... huwaaaaaa!" Aria memelukku erat sambil menangis sekencang luka hatinya.

Aku membalas pelukannya dengan hangat, sambil membelai rambut panjang Aria dan menimangnya di dalam pelukanku. Dia merasa bahwa dirinya sudah tidak kuat untuk menghadapi semua ini, padahal dia harus kuat untuk menghadapi sebuah masalah yang merumitkan. Aku harus bisa menenangkan hatinya sebisa mungkin agar batinnya terobati.

Bayangkan seandainya dia berada dalam posisiku, dia akan memberikan kasih sayang yang tulus kepada anaknya. Aria harus tetap kuat dalam menghadapi masalahnya, meskipun hatinya sangat terluka. Karena tak bisa menahan tangisannya ... dia mengeratkan pelukanku saat aku masih menimangnya di dalam pelukanku sambil membelai rambutnya.

"Sayang ... kau harus kuat ... pasti mereka takkan menganggapmu lemah. Tunjukkan bahwa kau adalah gadis kecil yang kuat, Aria," hiburku sambil membalas pelukannya.

Aria merasa bahwa dia tidak kuat. Dia masih menangis dalam pelukanku hingga bajuku nyaris basah terkena air matanya, kemudian Aria langsung mengambil boneka beruang putih kesayangannya dan kembali memelukku. Aku menimangnya di dalam pelukanku agar bisa menidurkannya.

"Aria ... kau tidak apa-apa?" tanyaku lembut. Aria hanya menggeleng dan berkata, "Aku ... hiks ... kedinginan ... hiks ..."

"Oh ... kedinginan, ya? Itulah yang membuat dirimu dipenuhi perasaan ini, sayang ...," kataku, "Apapun yang terjadi, walaupun kita berpisah ... ibu akan selalu di sampingmu, selamanya ..."

Aria cukup lega saat aku mengatakan itu meskipun masih menangis menjadi-jadi. Namun, aku harus membantu Hijikata-san untuk menjadikannya seorang gadis kecil yang kuat. Kupikir, dia harus kunyanyikan sebuah nina bobo untuk menidurkannya. Aku segera mengambil handphone milikku untuk mencarikan sebuah lagu untuk kunyanyikan. Kemudian, Aria kembali memelukku untuk menumpahkan luka hatinya di dalam pelukanku. Aku memilih versi instrumental dari lagu yang berjudul 'Anata e ...' oleh sebuah band terkenal di Jepang maupun di dunia.

Kono hoshizora o, kono yoru ni mo

Motto kagayaite, sono hoshi no hikari o

Nukumori ni o hoshi no yōna, watashi kara

Anata e. . .

Pada langit berbintang malam ini

Lebih bersinar, cahaya pada bintang-bintang itu

Bagikan bintang yang penuh kehangatan, dariku

Untukmu …

Liriknya begitu puitis, begitu juga keadaan hati Aria. Aku masih membalas pelukannya ketika Aria mengencangkan tangisannya.

Ano koro ni, anata no kokoro ni kanashimi ga tome dekinai nara. . .

Watashi ni dakishimete

Kizutsuku koto wa anata no kokoro ni. . .

Watashi wa anata no kokoro no kizu o tokeru

Kon'na kōri no yōna, anata no kizuato wa tsumetasa no …

Pada waktu itu, jika kau tak bisa menghentikan kesedihan dalam hatimu …

Peluklah aku

Merasa tersakiti di dalam hatimu …

Aku lelehkan luka hatimu

Bagaikan es, rasa kedinginan pada bekas lukamu …

Nemurimashou, watashi no shin'ai

Anata no kokoro ga atatakai ni naru

Kono komori uta o, anata ni utaeru

Tidurlah, sayangku

Hatimu akan menjadi hangat

Aku nyanyikan padamu, nina bobo ini

Kebencian adalah hal serius yang perlu dibuang jauh-jauh dalam hidup ini. Janganlah diumbar sembarangan, kecuali jika ingin diceritakan oleh seseorang yang dipercaya. Aku berharap, lama-kelamaan kebencian Muii terhadap Aria begitu sebaliknya akan menjadi sebuah cinta dalam persahabatan.

Jikan mo nagareru,

Kono yoru made

Afuredasu namida,

Kono toki made

Waktu terus mengalir,

Hingga malam ini

Air mata terus mengalir

Hingga saat ini

Lagu ini benar-benar memahami suasana kesedihan yang berbalut air mata, bahkan luka hati. Tepat sekali dengan keadaan Aria yang begitu membutuhkan kehangatan dari cintaku yang tulus karena Yang Maha Kuasa. Kesedihan ditemukan dari air mata, meski tak hanya itu. Keajaiban akan terjadi karena Tuhan menetapkan bahwa semuanya akan indah pada waktu yang tepat.

Ano koro wa, sore wa nemuru no jikan

Nakanaide, soshite nemurimashou

Kono gekkō wa kimi no kokoro ni kagayaiteru,

Nukumori ni naru. . .

Pada saat itulah, sekarang waktunya untuk tidur

Tidurlah, dan jangan menangis

Cahaya rembulan ini, bersinar di dalam hatimu

Menjadi sebuah kehangatan …

Sampai situlah aku menyanyikan nina bobo kepada Aria. Akhirnya dia tertidur pulas di dalam pelukanku yang hangat dan aku segera membaringkannya ke atas kasur. Oh ... air matanya masih berlinangan dan sedikit terdengar suara isakan tangis karena terlalu memikirkan dirinya. Aku menghapus sisa air matanya dengan saputangan milik Aria dan mengelus-elus kepalanya.

"Ibu ... hiks ... aku tak bisa tidur ...," rintih Aria pelan.

"Baiklah, sayang ...," kataku lembut.

Aria membaringkan badannya ke atas kasur dan meletakkan kepalanya di atas bantal, kemudian dia memeluk boneka beruang putih kesayangannya dengan nama 'Shirakuma-kun'. Aku menatapnya dengan penuh kehangatan sambil membuatnya tertidur pulas.

"Nina bobo ... oh, nina bobo ... kalau tidak bobo, digigit nyamuk ...," aku menyanyikan sonata nina bobo dengan lembut di hadapan Aria yang tertidur pulas.

Setelah itu, aku mencium keningnya dan kembali mengelus-elus kepalanya. Shirakuma-kun ... temani Aria tidur ..., kataku dalam hati. Inilah sebuah alunan kasih sayang yang kuberikan kepada Aria dan Toshio, apapun yang terjadi. Meskipun mereka terpisah dariku, aku akan selalu berada di samping mereka, selamanya ...