Sebelumnya~
"Ciel, Sebastian! Apa yang kalian lakukan!"
Di depan pintu berdiri seorang Vincent Phantomhive dengan berkacak pingang ditambah dengan aura hitam yang menguar jelas dari sisi tubuhnya yang rupawan, sedangkan sang istri —Rachel Phamtomhive hanya bisa berdiam diri sambil membekap bibirnya dengan kedua tangannya, memaksa agar tidak ada teriakan yang lolos dari bibirnya.
"Mom... Dad..." ucap Ciel lirih.
.
.
.
.
Hanya dua kata itu yang keluar dari belah bibir mungil Phamtomhive muda, lidahnya mendadak kelu —bukan karena lelah bercumbu, hanya saja kehadiran kedua orang tuanya yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu itu membuat tubuh Ciel tak mampu bergerak sesenti pun, terlalu shock, terlalu kaget membuat nafsu yang sebelumnya menyelimuti kedua insan itu lenyap seketika, hawa penuh intimidasi, kemarahan dan kecewa menguar sempurna menyelimuti ruangan keluarga Phantomhive.
Tuan dan nyonya Phantomhive yang sebelumnya nampak bahagia karena akan memberikan kejutan kepulangan mereka, kini nampak menatap horor pada dua pamuda yang masih mematung beberapa meter di depannya.
Tak ada salah satu dari mereka berempat yang mencoba membuka suara untuk memecah keheningan yang ada, semua sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ciel sibuk dengan semua kalimat yang tengah disusunnya untuk meredakan amarah kedua orang tuanya, Sebastian sendiri tengah sibuk menyusun rencana untuk langkah selanjutnya, dan sepasang suami istri Phamtomhive sedang sibuk merencanakan cara untuk memisahkan kedua putranya.
.
.
.
.
Chapter 12 : Satu Perpisahan
Kabut nafsu memang menyesatkan, ciuman penuh hasrat memang membuat semua orang dapat melupakan daratan, kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu sudah membekukan semua logikanya, nafsu yang menyelimutinya membuat kekhawatiran membawa mereka pada titik nol, rasa nyaman yang dirasakan keduanya menurunkan dinding kewaspadaan.
Tak ada satu pun dari mereka yang akan mengira bahwa suatu hari orang tua mereka akan pulang, dengan memberikan kejutan, pulang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Harusnya mereka sadar, seharusnya mereka tahu, akan lebih aman melakukan percumbuan di salah satu kamar mareka, atau setidaknya tidak melakukannya tepat di depan pintu masuk, dan melakukannya tanpa mengunci pintu terlebih dahulu.
"Mom... Dad... A- aku b- bisa jelaskan semuanya," gugup Ciel, jemari kecil kakinya diseret berat melangkah menghadapi kedua orang tuanya, namun saat langkah kakinya sejajar dengan raven yang berdiri tegang, lengan pucat Ciel ditahan oleh lengan pemuda lainnya.
"Biar aku saja yang menjelaskan semuanya," lirihnya, tak cukup keras untuk didengar oleh sepasang suami istri yang masih membatu, tapi cukup keras masuk dalam telinga Ciel.
"Ta- tapi—"
Telunjuk si raven yang mendarat manis pada belah bibir Ciel, memotong kalimat adiknya lebih lanjut. Sebagai seorang kakak, dirinya terpanggil untuk menyelesaikan masalah dan melindungi adik —yang kini merangkap ganda menjadi kekasihnya.
Sebastian berlutut di depan pemuda bersurai kelabu, mensejajarkan tingginya agar manik crimson miliknya dapat menatap binar sang adik dengan jelas.
"Naiklah ke atas, tunggu aku. Aku akan menyelesaikan semuanya," terang raven sambil mengusap pipi sang adik penuh sayang.
"Tapi, kita harus menjelaskan bersama," protes pemuda yang lebih pendek dan hanya dijawab dengan gelengan kepala.
Kilatan amarah tergambar jelas pada Phantomhive senior, geram melihat tingkah kedua putranya yang nampak masih saja bermesraan di depan kedua orang tuanya, nampak tak peduli dengan jiwa pasangan suami istri yang sedang meradang.
"Apa yang kalian lakukan!" hardik Vincent kejam, langkahnya dihentak-hentakan keras, mendekati dua pasang sejoli yang masih tenggelam dalam jalinan tatapan mata yang syarat arti.
"Aku mohon Ciel, naiklah ke kamarmu. Biarkan aku yang menyelesaikan semua. Aku mohon," pinta sang kakak, kedua lengannya membelai pundak Ciel lembut, mendorong tubuh yang lebih pendek darinya itu untuk meniti tangga yang ada di belakangnya.
"Ciel mau kemana kau? Apa kau mau lari dari masalah?" emosi nampaknya masih mendominasi lelaki paruh paya yang biasanya tampak ramah, handikan yang di dengar telinga Ciel mau tidak mau membuat kaki kecilnya yang meniti tangga terhenti seketika, dengan gerakan yang pelan, kepala bersurai kelabu itu menoleh, manik safirnya menatap takut sang ayah.
Sadar akan rasa takut yang sang adik rasakan, membuat sang raven buru-buru merentangkan kedua lengannya, menghalangi sang ayah yang ingin mendekati Ciel yang berdiri pada anak tangga.
"Dad... aku mohon, biarkan aku yang menjelaskan semuanya," pinta Sebastian, manik gelapnya menatap sang ayah penuh keyakinan, dalam hati kecilnya sudah bersumpah akan melindungi mahluk manis yang sudah menawan hatinya, dan sumpah itu akan dibuktikannya sekarang.
"Aku mohon Dad, Biarkan aku yang menanggung semuanya, Ciel tidak melakukan kesalahan apapun," lirihnya pelan, terdengar seperti bisikan, berharap hanya dirinya dan ayahnya saja yang dapat mendengar.
Satu hembusan napas dilakukan Vincent untuk mengendurkan semua saraf yang menegang, semarah apapun dia pada kedua putranya, sebesar apapun kesalahan yang dilakukan putranya, seorang ayah tidak akan mungkin membenci putranya.
T^T
Tak banyak hal yang bisa Ciel lakukan selain mondar-mandir di depan kamarnya, perasaannya gelisah tak terkontrol, cemas berlebihan terhadap pemuda dengan surai hitam legam melanda dirinya. Tidak turut diikut sertakan dalam percakapan keluarga yang terjadi di dalam ruang keluarga membuat spekulasi-spekulasi saling berseliweran memenuhi isi kepalanya.
Berulang kali Ciel berniat untuk mencuri dengar, namun saat pinta sang kakak bergaung dalam rongga telinganya, membuat niat itu urung dengan sendirinya. Ciel ingin dipercayai, tak ingin mengecewakan sang kakak dengan tidak mengindahkan pinta darinya.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit berjalan bagaikan satu abad penantian bagi Ciel, keringatnya panas dingin membayangkan bagaimana sang kakak yang kini sedang menghadapi sidang kedua orang tuanya, dia sangat rela bertukar tempat dengan Sebastian sekarang ini, perih mengiris hatinya saat menyadari orang yang disayanginya tengah berjuang sendirian mempertanggung jawabkan perbuatan yang melibatkan mereka berdua, terasa tidak adil bagi Sebastian. Berdasarkan hal itu, Ciel kembali menata niatnya untuk turut membantu sang kakak menghadapi kemarahan ayahnya, namun belum sampai kaki mungilnya mengambil langkah, sosok pemuda dengan surai hitam sudah muncul di ujung tangga.
"Sebastian!" seru Ciel, rasa lega yang entah dipungutnya dari mana memenuhi relung hati yang sebelumnya berkabut sedih.
Senyum datar dijadikan Sebastian sebagai jawaban, dan Ciel tak bodoh untuk mengetahui senyum yang sang raven sajikan adalah senyum palsu penuh pemaksaan.
"Apa yang terjadi?" pemuda yang lebih pendek mencoba berjinjit untuk menguncang pundak pemuda di depannya.
"Ciel..."
Satu lirihan pelan bergaung dalam gendang telinga Ciel, sebelum satu pelukan hangat nan erat diterimanya.
"Ada apa?" tuntut Ciel lebih lanjut, namun bukannya mendapat jawaban yang dirasakannya adalah sang kakak yang makin memeluknya erat dan menengelamkan wajahnya pada leher miliknya.
Diam kembali menyelimuti keduanya, tak ada salah satu dari mereka yang menyela keheningan dengan lontaran kalimat, keduanya sama-sama ingin menyimpan hangat lebih lama untuk bekal menghadapi hari esok, membingkai aroma yang menyeruak dari tubuh masing-masing, membuat malam ini menjadi malam milik mereka berdua.
"Ciel..." panggil Sebastian setelah mengangkat wajahnya dari bahu sang adik, baritone yang biasanya berbisik dengan seduktif kini nampak penuh dengan nada sendu, syarat akan kesedihan yang mendalam.
"Berjanjilah padaku satu hal," safir Ciel mengamati setiap ekspresi yang coba sang kakak ukir dalam raut wajah tampannya, mengungkap setiap rasa gelisah yang coba sang raven simpan, "—berjanjilah bahwa kau akan selalu percaya padaku," lanjutnya.
Dorongan menuntut penjelasan jelas sedang berusaha Ciel tahan sekuat tenaga, saat ini mereka berdua hanya ingin merasakan hangat bersama tanpa ingin diintrupsi oleh hal lain, meleburkan kecemasan, sedih dan gundah dalam satu pelukan hangat, mengesampingkan hal-hal buruk yang akan mereka hadapi esok hari.
Dalam ruang kamar itu keduanya terus berbagi hangat di atas ranjang sang adik, tak ingin lepas, tak ingin berpisah setidaknya keduanya cukup menyadari bahwa mungkin malam ini adalah malam terkhir mereka dapat merasakan kehangatan masing-masing. Karena tanpa Sebastian menjelaskan, tanpa belah bibir merah itu berkata, Ciel cukup tahu apa yang akan mereka hadapi besok. Semua itu dapat dilihat dari betapa eratnya lengan sang kakak memperangkap pinggangnya, penuh dengan sikap protektif, seolah jika dia melepaskan pelukan itu Ciel bisa saja hancur berkeping-keping atau menghilang selama-lamanya.
Menjadi putra dari keluarga Phantomhive selama 19 tahun setidaknya pemuda bermanik safir itu sadar apa yang akan sang ayah lakukan pada mereka, memisahkan. Bukan, lebih tepatnya memaksa keduanya untuk berpisah adalah hal yang memiliki predeksi terjadi lebih besar daripada opsi-opsi yang lainnya.
Dan biarkanlah keduanya menghabiskan malam terakhir mereka dengan merangkum semua kehangatan, menyesap setiap aroma yang menguar, membingkai semua kenangan, setidaknya itu adalah satu-satunya hal yang membuat mereka masih ada alasan untuk bernapas esok hari.
T^T
Cicit burung dari balik jendela mengabarkan pada pemuda bersurai kelabu akan hari yang sudah berganti, sinar mentari yang menyeruak masuk turun menyumbangkan adil besar untuk membuat manik safir Ciel bergeliat resah. Satu lengan menepuk sisi ranjang yang lain, berharap ada eksistensi yang sangat dikenalnya bergelung di sana. Namun, yang didapatkannya hanyalah kekosongan dan kehampaaan. Tak ingin berprasangka buruk, buru-buru safir miliknya mengedarkan pandangan kepenjuru ruang yang didiaminya, sekali lagi Ciel harus menegak kekecewaan karena pemuda yang diharapkannya tak berada di sisinya.
Lagi, Ciel masih tidak mau berpikir negatif, setelah menyibak selimut tebal yang menaunginya, harap-harap cemas kaki munggilnya melangkah menuju ruangan yang ada di depan kamarnya, ruangan yang biasa menyimpan wangi sang kakak, menyembunyikan sosok sang kakak yang selalu menemani hari-harinya dan juga hatinya.
Dan begitu pintu kayu dibuka, hanya menampilkan ruang kosong tak berpenghuni, seolah-olah ruangan itu memang tidak pernah dihuni oleh orang selama beberapa waktu. Meja dan rak meja yang Ciel yakin biasanya terisi buku-buku tebal milik sang kakak kini benda itu kosong, ranjang yang biasanya adalah tempat sang kakak merebahkan diri juga nampak dingin, serasa tak pernah didiami seseorang.
Inilah yang dari semalam dia takutkan, membuat Ciel tak berani bertanya apapun, membuat Ciel hanya membenamkan kepalanya pada dada bidang sang kakak dan menangis dalam diam, berharap dan berdo'a hari ini tak akan pernah terjadi.
Sosok mungil itu merosot jatuh, kedua kakinya terasa meleleh tak mampu menopang berat tubuhnya, hatinya perih terasa tersayat belati kasat mata, bulir bening berlahan merembes keluar membasahi pipi pucatnya, bibirnya masih terkatup rapat, namun dalam hatinya Ciel menagis pilu. Sebelah lengannya mencoba meremat garmen di depan dadanya, berharap hati yang tercabik itu bisa utuh kembali, namun semakin dia menyadari kenyataan di hadapannya, hati lemah itu makin hancur berkeping-keping dan menyisakan luka lebar yang menganga.
T^T
Jika sebagian orang yang belum pernah melihat zombie, layaknya sekarang coba saja tenggok pada pemuda berkulit pucat yang kini sedang duduk di depan teras rumahnya, kulit pucatnya makin terlihat pucat karena sehari-hari hanya mengrung diri di dalam kamar, surai kelabunya acak-acakan tidak disisir, manik safirnya menyorot kosong pada setiap orang yang berlalu lalang, bibir pucatnya sudah tidak menampakkan senyum, ekspresi wajahnya yang bagaikan orang mati membuat siapapun yang melihat sangat yakin bahwa Ciel tak ubahnya seperti selongsong kulit yang berjalan tanpa jiwa.
Jika ditanya sejak kapan pemuda yang memiliki harga diri tanggi dan sangat arogan itu berubah menjadi seperti ini, maka serentak orang-orang terdekatnya akan menjawab dengan lantang sejak belahan hatinya tiba-tiba pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, lenyap bagaikan ditelan bumi, bahkan seolah-olah semua ingatan tentangnya juga dihapus membuat Ciel semakin sulit melacak keberadaan sang kakak.
Hari-hari sudah berganti menjadi minggu dan merangkak menjadi bulan, dan di sinilah Ciel dengan segala keputusasaan tentang keberadaan sang kakak, sudah tak dihiraukannya pinta kedua orang tuanya yang memohon Ciel untuk kembali seperti semula, Ciel hanya ingin mengatakan pada kedua orang tuanya dan juga pada dunia jika dia merasa sangat tersiksa karena dipisahkan dengan orang yang dicintainya, Ciel tidak butuh belas kasihan, dia hanya berharap orang lain turut mendukung keputusan yang sudah dia ambil.
Seorang petugas pengantar surat berhenti di depan rumahnya, Ciel sempat mendengus melecehkan siapapun orang bodoh yang masih menggunakan surat di dunia yang kini sudah mengenal internet, tapi dengusan itu langsung berubah dengan kernyitan saat sang petugas terus saja melenggang mendekati Ciel yang masih memadangi dengan datar.
"Ciel Phantomhive?" tanyanya saat sang petugas sudah berada di dekatnya.
Dengan malas, Ciel menumpukan pandangan pada petugas yang kini menyodorkan satu lembar amplop berwarna biru padanya.
"Dari Sebastian Michaelis," jawabnya singkat tanpa diminta.
Manik safir itu terbelalak sempurna, degup jantungnya terasa berhenti berdetak, entah kenapa rasanya ada perasaan tidak percaya karena mendengar nama keramat itu kembali, dengan jemari yang gemetar, Ciel meraih amplop yang disodorkan padanya, setelah amanat tersampaikan, tanpa pamit petugas pengantar surat beringsut pergi, membuat Ciel kembali menutup belah bibirnya saat ingin bertanya lebih lanjut.
Jemari itu masih terus bergetar, dan pandangannya tiba-tiba mengabur tidak jelas, dibaliknya berlahan kertas tipis itu berharap ada alamat yang tertera dari pengirim, namun nihil yang didapatkannya, karena tidak ada coretan tentang alamat pengirim, membuat euforia Ciel tentang dapat mengetahui alamat Sebastian pecah seketika.
Seolah-olah kertas tipis itu adalah salah satu benda pecah belah yang rapuh, dengan sangat hati-hati pemuda bersurai kelabu itu mengeluarkan satu kertas yang tersembunyi di dalam amplop dan membaca setiap rangkaian kata yang tertera di atasnya, tertulis rapi khas coretan sang kakak.
.
.
.
.
Tak akan ada yang bisa mengubah dunia jika bukan kita sendiri yang berusaha mengubah dunia kita terlebih dulu...
Aku jauh lebih hancur daripada kau, saat kedua mataku tak dapat menemukan kehadiranmu di dekatku...
Aku jauh lebih menderita daripada kau, saat jemariku tak lagi mampu mejamahmu...
Dan aku berkali-kali jauh lebih sakit saat melihatmu terpuruk karena kepergiaanku...
Kita sama-sama terluka, kita sama-sama menderita, jangan sampai pengorbanan kita ini, malah menghancurkan diri kita sendiri.
Aku sedang berjuang Ciel, berjuang untuk dapat kembali merengkuh eksistensimu, untuk dapat kembali mendekap dan membagi cinta yang aku punya.
Dan sampai hari itu tiba, aku mohon padamu...
Jadilah sosok yang patut untuk aku perjuangkan, jadilah sosok yang membuatku tidak menyesal karena telah meninggalkanmu, menjadi sosok yang kuat, agar kita mampu melangkah bersama tanpa ada orang lain yang akan memisahkan...
Bukanlah kau sudah berjanji akan selalu mempercayaiku? Akan aku tagih janji itu sekarang Ciel, aku mohon percayalah padaku, percayalah bahwa aku akan menemuimu, dan menjemputmu.
Dan sampai saat itu tiba...
jangan mencariku, karena akulah yang akan menemukanmu...
.
.
.
.
T^T
6 tahun kemudian~
Tubuh mungil yang masih bergelung dalam selimut nampak mengeliat enggan, hari ini adalah hari minggu dan pemuda bersurai kelabu itu akan mengutuk siapapun yang mengganggu minggu paginya dengan dering telepon yang tak kunjung berhenti sedari tadi.
Dengan gerakan yang sangat enggan, diraihnya ponsel yang tergeletak manis di meja samping ranjangnya.
"Halo.." sapanya malas, dua manik safirnya masih tersembunyi indah dibalik kelopak matanya.
"Selamat ulang tahun Ciel~" seru suara cempreng di seberang sana penuh dengan nada ceria, membuat Ciel buru-buru menjauhkan ponselnya dari telinga saat terdengar suara nyanyian selamat ulang tahun dari sang penelepon.
"Alois! Berhentilah bertingkah kekanakan, kau menganggu hari liburku!" maki Ciel sambil menyentakkan tubuhnya untuk bangun, sedangkan sang sahabat yang nampak tak ambil pusing dengan makian yang diterimanya, dan sekali lagi pemuda blonde itu menyanyikan lagu selamat ulang tahunnya dengan lebih keras membuat Ciel menutup telinganya rapat-rapat.
"Berhentilah terlalu sibuk Ciel, kau berhak untuk bersantai sesekali."
Ciel hanya mendengus kesal mendengar celoteh sang sahabat, "Aku sudah berniat akan bersantai dengan tidur seharian, dan suara cemprengmu itu sudah merusak hari damaiku."
Terdengar suara kekehan khas dari ujung sambungan telepon, membuat Ciel ingin segera mengakhiri percakapan yang membuat kedua telinganya memanas.
"Jika tidak ada lagi yang akan kau sampaikan, aku akan menutup—"
"Tunggu~" jeda dalam hening menyelimuti keduanya sebelum Alois kembali membuka suara, "Sudah tiga tahun kau tak pernah pulang ke rumah Ciel, apa kau tak ingin pu—"
"Baiklah jika tak ada hal yang kau bicarakan, akan aku tutup teleponnya," putus Ciel sepihak membuat Alois harus menelan kembali semua kalimat yang belum selesai dia ucapkan.
Tubuh mungil itu direbahkan kembali, manik safirnya menatap nyalang langit-langit kamar apartemen yang sudah dia diami selama tiga tahun terakhir ini.
Setelah menerima satu lembar surat terakhir dari sang kakak, Ciel berubah menjadi sosok yang jauh berbeda dari sebelumnya, setiap kata yang tertulis dicerna dan ditanamnya dalam hatinya sedalam mungkin. Tekad sudah dibulatkan dan niat sudah diucapkan, Ciel akan menjadi sosok yang lebih kuat dari sebelumnya. Dan begitulah hari-hari sepi yang dilalui Ciel tanpa kehadiran sang kakak. Menyibukkan diri dan berkutat dengan buku kuliahnya adalah satu-satunya cara dia menyibukkan diri dari rasa sepi yang menyelimuti hatinya.
Dan lubang dalam hatinya adalah satu-satunya bukti bahwa sosok raven itu nyata adanya, walaupun setiap bukti fisik yang lain telah lenyap, bahkan ajaibnya orang-orang seolah-olah tak pernah mengenal sosok menawan itu, tapi jauh dalam hatinya Ciel selalu yakin dan percaya bahwa suatu saat raven itu akan menemukan dirinya seperti janjinya, dan jika saat itu tiba Sebastian akan menemukan sosok Ciel yang jauh lebih dewasa, lebih bisa diandalkan dari sebelumnya.
Enam tahun penantian bukanlah waktu yang singkat, sekeras apapun jiwa Ciel meneriakkan kata tidak kesepian, namun nyatanya sesekali bendung tangis tak mampu ditahannya tengah malam, sendirian menjalani hidup yang berat membuat Ciel tumbuh menjadi sosok yang terlihat keras di luar namun sangat rapuh di dalamnya, dan semua ini dia jalani hanya semata-semata untuk memenuhi janjinya pada sang kakak.
Keheningan yang menyelimuti pagi Ciel kembali terusik dengan suara dering telepon, dan saat melihat nama yang tertera dalam layar ponsel miliknya, dengan gerakan yang sangat enggan seperti sebelumnya, Ciel kembali menempelkan ponsel ke dekat telinga.
"Hallo Mom..." sapanya datar.
Tak ada perubahan ekspresi saat sang ibu membacakan sederet do'a yang menyertai ucapan selama ulang tahun untuknya, Ciel sangat yakin apa yang akan sang ibu katakan selanjutnya. Seperti pada telepon-telepon yang sebelum-sebelumnya, pasti sang ibu akan memintanya untuk kembali pulang.
"Ciel karena hari ini ulang tahunmu, Mom ingin merayakan dengan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah, kau pasti datang kan, sayang?"
Tepat seprti prediksinya, undangan untuk pulang ke rumah dengan berbagai ajakan berkedok pesta dan yang lainnya. Sudah tiga tahun sejak Ciel menyelesaikan masa kuliahnya yang dikebut selama tiga tahun, misinya hanya satu, dia ingin secepatnya meretas kengkang orang tuanya terhadap kehidupannya, dia sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri, termasuk dengan pilihannya yang akan menanti kedatangan Sebastian sampai waktu yang belum bisa ditentukan.
Namun nampaknya, niat kedua orang tuanya untuk memisahkan mereka berdua tidak berhenti hanya sampai Sebastian angkat kaki dari rumahnya, itu terbukti dengan diaturnya pertunangan dengan beberapa gadis pilihan orang tuanya, walaupun acara pertunangan itu selalu dapat digagalkan, namun Ciel sudah mulai muak dengan segala cara-cara tidak masuk akal yang digagas kedua orang tuanya.
Karena itulah pemuda manis itu lebih memutuskan untuk angkat kaki dari rumah yang sudah dia diami sejak kecil dan pindah ke apartemen, alasannya Ciel hanya ingin memiliki hunian yang lebih dekat dengan kantor yang kini memperkerjakan dirinya, walaupun niat terselubungnya adalah untuk menghindari setiap rencana sang ibu yang selalu ingin menjodohkannya.
"Mom... Jika Mom merencanakan acara ini hanya untuk memaksaku untuk bertunangan lagi, maaf aku menolaknya."
"Ciel... kau sudah tidak pernah pulang selama tiga tahun, Mom sangat merindukanmu," sendu menyelimuti getar suara sang ibu ketika bercakap, membuat relung hati terkecil seorang putra tersentil. Tak akan ada seorang anak yang menyayangi orang tuanya akan tega mendengar suara sendu dan raut wajah sedih orang-orang yang mengasuhnya sejak kecil.
"Mom akan berjanji berhenti untuk menjodohkanmu, jika Ciel mau berkunjung, apalagi kalau kau mau kembali pulang kerumah."
Tawaran yang baru saja masuk ke dalam gendang telinga Ciel nampak mengiurkan, tak dapat dipungkiri hidup jauh dari kedua orang tuanya membuat sang pemuda juga memendam rindu yang besar pada kedua orang tuanya.
"Jika Mom berjanji akan berhenti menjodohkanku, aku mungkin akan mempertimbangkannya," Ciel bersumpah mendengar sang ibu menghembuskan napas lega, walaupun mereka terpisah jarak dan hanya terhubung jaringan sinyal dari telepon genggam, namun Ciel dapat merasakan bahwa ibunya sedang tersenyum.
T^T
Ciel berkali-kali menghembuskan napas untuk mengusir rasa gugup, tidak menginjakkan kaki selama tiga tahun di tempat dimana dia dilahirkan membuat pemuda bersurai kelabu itu menderita gugup berkepanjangan hanya karena akan berkunjung kekediamannya sendiri.
Sekali lagi Ciel melirik jam tangan yang melingkar manis pada tangan kirinya, dia datang tepat waktu seperti yang dijanjikannya, sejenak sebelum masuk Ciel merapikan setelah jas hitam yang membalut kemeja abu-abunya, celana hitam yang membungkus kakinya juga tak luput dari acara rapi-rapinya, sekali lagi Ciel kembali menghembuskan napas sebelum mengetuk pintu di depannya.
Tak ada jawaban walaupun sudah diketuk beberapa kali, membuat sebelah lengan Ciel tergelak untuk memutar kenop di depannya, dan saat tubuh mungilnya masuk melewati pintu berbahan kayu, hanya disambut dengan kegelapan semata, Ciel harus memicingkan manik matanya agar bisa menyesuaikankan penglihatannya untuk mencari tombol saklar terdekat. Namun saat jemari Ciel hampir menyentuh tombol saklar, terang berpedar secara tiba-tiba membuat sang pemuda harus menyembunyikan manik safirnya, menghalangi cahaya terang yang tiba-tiba berpedar bersamaan.
Belum selesai Ciel dikejutkan dengan pedar terang yang hampir membuatnya buta, kini sang bocah yang sedang berulang tahun dikejutkan oleh suara ramai orang-orang yang mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun seraya menyodorkan kue dengan lilin berbentuk angka dua puluh lima.
Rasa haru itu pecah seketika, dipandanginya satu persatu orang-orang yang memberikannya kejutan malam ini, mulai dari wajah kedua orang tuanya, wajah-wajah teman-temannya di bangku kuliah. Semua menampakkan wajah leganya saat mengetahui pemuda yang sudah lama menghilang selama tiga tahun itu nampak baik-baik saja.
Sejak peristiwa itu, Ciel memang menarik dari dari lingkungan sekitar, pemuda yang dari awalnya memang berbicara hanya untuk saat-saat yang penting, jauh menjadi lebih pendiam sejak enam tahun yang lalu, dan setelah kelulusan pun Ciel bagaikan lenyap ditelan bumi, keberadaannya seolah sulit terlacak oleh teman-temannya.
Dan dengan berdirinya pemuda yang kini meranjak dewasa, membuat semua undangan pesta kecil itu nampak lebih berbahagia. Di saat yang bersamaan, Ciel merasa hangat menyelimuti hatinya yang membeku, nampaknya keegoisan selama ini harus segera disudahi, raut bahagia yang terpancar dari orang-orang yang mengelilinginya menyentil relung hati Ciel yang membeku.
"Ciel, kami menyimpan hadiahmu di dalam kamarmu," sang ibu berbisik lembut pada putra kesayangannya.
Awalnya Ciel nampak enggan untuk segera melihat hadiahnya, namun senyum penuh arti sang ibu membuat pemuda dengan tinggi pas-pasan itu tergelitik untuk melangkahkan kaki buru-buru menuju kamarnya.
Bolehkan dia berharap? Tidak berdosakan jika dia mengartikan senyum penuh arti sang ibu sebagai salah satu wujud dari mimpinya selama ini? Salah satu dari doa yang senantiasa dia panjatkan sepanjang hari? Bolehkan dia berharap jika hadiah yang dikatakan sang ibu itu adalah Sebastian.
Ciel terengah-engah karena berlari untuk meniti tangga, satu lengannya terjulur membuka pintu, namun hanya gelap dan pencahayaan satu-satunya adalah dari arah jendela yang terbuka, tirai yang tersampir di samping jendela nampak menari indah mengikuti arah angin yang membelainya. Selain semua pemandangan itu dan perabot kamarnya yang nampak tidak berubah sesentipun, tak ada eksistensi yang dia harapkan datang memeluknya.
Kaki mungilnya dilangkahkan untuk masuk ke dalam kamar, tak ada apapun di dalam kamarnya, tidak ada siapapun seperti harapannya, Ciel memejamkan mata, menata kembali hatinya yang kecewa karena euforia ciptaannya sendiri, menyakinkan diri sendiri bahwa di dalam kamarnya hanya ada perabotan lamanya, hanya ada aroma mint mengelitik penciumannya, dan sebuah lengan yang melingkar secara protektif pada pinggulnya, dengan suara seduktif yang mengalun merdu tepat di depan telinganya.
"Enam tahun, dan tinggi badanmu tidak ada kemajuan ya..."
Bolehkah di menjadi melankolis untuk malam ini? Bolehkah dia membiarkan delusi ini lebih lama? Bolehkah dia tidak membuka mata selama-lamanya agar dia tidak merusak semua hal yang sangat dirindukannya?
"Buka matamu Ciel, apa kau tak ingin tahu bagaimana paras calon suamimu?"
Seolah dapat membaca pikiran pemuda yang lebih muda, baritone itu kembali bersuara. Dan Ciel tersentak kaget, kemudian buru-buru membuka matanya saat dirasakan satu kecupan lembut mendarat pada sisi lehernya.
Dalam remang kamar dan hanya dapat bantuan sinar dari arah jendela, Ciel membalikkan badannya berlahan untuk menatap raven yang berdiri menjulang di depannya, senyum mengoda itu hadir di sana, sama seperti ingatannya. Kulit pucat, rambut hitam legam, wajah yang rupawan tetap sama seperti terakhir kali Ciel memandangnya.
Hening menyelimuti keduanya, rindu yang tersimpan selama enam tahun mencair sudah, lubang hati yang menganga di dalam hati lenyap seketika dan perpisahan juga luka yang mereka derita seolah hilang tak berbekas.
"Aku menepati janjiku Ciel."
"Aku juga menepati janjiku."
Keduanya masih berpandangan intens, saling melepas rindu dari hati ke hati, tak lagi berebut cumbu dan tergoda untuk tenggelam dalam danau nafsu. Mereka berdua sama-sama merawat dan membiarkan cinta yang tumbuh menjadi cinta yang lebih kuat dan lebih besar dari pada sekedar nafsu dan percumbuan.
Pemuda yang lebih tinggi berlutut di depan pemuda yang lebih pendek, sebelah tangan diraih Sebastian untuk dikecup sekilas.
"Ciel Phamtomhive, aku sudah membuang nama keluargaku dan itu berarti aku bukan lagi kakakmu dan juga bukan putra baptis dari Vincent Phamtomhive—"
Ciel menajamkan pendengarannya, menangkap setiap kalimat yang dilontarkan pemuda yang tengah berlutut di depannya.
"—setelah membuang nama keluargaku enam tahun lalu, aku benar-benar berkerja keras untuk mewujutkan tiga janjiku pada kedua orang tuamu. Yang pertama, aku tidak boleh hadir dan menganggu kehidupanmu selama kau mengenyam pendidikan dan mengejar karirmu. Dua, aku harus bisa berdiri dengan kedua kakiku sendiri, tanpa bantuan dari sanak keluarga. Dan yang ketiga aku harus rela melepaskankanmu jika kau melupakan aku dan memilih pertunangan dengan orang lain—"
Safir Ciel membola sempurna, tidak pernah terbayangkan jika kedua orang tuanya mengajukan janji seperti itu pada putranya sendiri hanya untuk menguji ketulusan cinta mereka.
"—dan karena kita berhasil melewati segalanya, di sinilah aku sekarang, untuk memenuhi janjiku padamu Ciel Phantomhive—"
Jeda sebelum kalimat pamungkas diluncurkan, sang raven menarik napas panjang sebelum mengeratkan genggamannya.
"Ciel Phantomhive... bersediakah kau menikah denganku?"
Otak jenius Ciel membeku seketika, tidak menyangka akan mendapatkan lamaran dari satu-satunya pemuda yang mengobrak-abrik hatinya, menjungkir balikkan kehidupannya, bahkan tepat di hari ulang tahunnya.
Bibir ranum itu kelu seketika, tak ada rangkaian kata yang bisa mengambarkan kebahagiaan yang mencuat dari dalam relung hati Ciel. Sebastian masih di sana, menunggu satu jawaban dari calon mempelainya, hatinya nampak was-was karena sampai beberapa detik belum meluncur kata iya atau anggukan kepala sebagai jawaban.
Ya... Sebastian tidak akan mendengar kata iya atau anggukan kepala dari Ciel, karena sang pemuda tidak akan melakukan itu sebagai balasan untuk menjawab pinangan sang raven. Yang dilakukannya adalah menghamburkan diri dalam pelukan mantan kakaknya itu, membenamkan kepalanya pada dada pemuda yang selalu menemani mimpi-mimpinya selama enam tahun terakhir.
Dan satu kecupan penuh cinta menjadi akhir dari segala kesedihan mereka berdua, keduanya siap menyongsong kehidupan penuh kebahagiaan di depannya, meretas segala sakit yang menyiksa dan mengantinya dengan tawa serta senyum kebahagiaan.
.
.
.
.
.
FIN
A/N :
Terima kasih saya ucapkan kepada semua reader yang masih setia dan bersabar untuk menantikan update cerita ini, semoga endingnya tidak mengecewakan kerena alur yang terlalu cepat. Saya hanya ingin segera menyelesaikannya sebelum saya kembali terdampar dalam dunia WB.
Terima kasih banyak saya ucapkan kepada :
Toples kaca, seidocamui, Shikakukouki777, Retatsu Namikaze, Kim Victoria, baekhyungurl, Oxygen, Nana-chan love naruto, ichirukilover30, Guest, Yukina, akai girl, Just Reader, My Devil Butler, tetsuya kurosaki, amurei, nana-chan lovenaruto, little phantom, Chernaya shochka. Terima kasih untuk reviewnya, untuk dukungannya. Dan terima kasih juga pada para reader yang sudah memfaforitkan dan menfollow. Tak lupa terima kasih untuk semua pada silent reader. *membungkuk*
Ja Nee~ \(^o^)
Sebelum keluar, silahkan menikmati epilog dari My Brother, My Lover. ^^
Epilog -_-
Halaman belakang kediaman keluarga Phantomhive telah disulap menjadi satu set altar pernikahan dengan dominasi warna perak dan hitam. Tidak terdapat banyak bunga seperti pada garden party pada umumnya karena memang tidak akan ada mempelai wanita di sini, yang ada hanya dua pria dengan salah satunya mengenakan setelan jas putih mewah membalut tubuh pendeknya serta pria yang lebih tinggi mengenakan jas hitam mewah. Satu minggu setelah acara lamaran, upacara pernikahan segera diselenggarakan, dan kedua mempelai sama-sama setuju untuk hanya mengundang kerabat dekat, sahabat dan beberapa rekan kerja, tidak terlalu ingin acara sakral mereka dinodai oleh kemeriahan pesta dan kebisingan celoteh orang-orang yang tak tahu menahu tentang kisah cinta mereka yang berliku.
Decak kagum terus bergulir tiada henti saat dua mempelai melangkah membelah kursi-kursi tamu yang ditata rapi di depan altar, senyum merekah pada bibir keduanya, keduanya terus melangkah beriringan menyongsong pastur bertubuh tambun yang akan memimpin prosesi sakral hari ini.
Suasana mendadak menjadi hening saat proses pengikralan janji dimulai, beberapa tamu wanita nampak mengusapkan sapu tangan untuk mengenyahkan bulir tangis dan hendak turun, tamu pria nampak tersenyum begitu melihat mempelai yang mulai menjawab dengan lantang pertanyaan yang dilontarkan sang pastur.
Dan dunia terasa hanya milik mereka berdua, tak mengindahkan sorak sorai kerabat dan seluruh tamu yang hadir menyaksikan bagaimana dua belah bibir itu saling menyatu membagi kehangatan satu sama lain.
T^T
Pesta dilanjutkan, beberapa kerabat, sahabat dan rekan kerja keduanya silih berganti memberikan selamat, beberapa sahabat keduanya yang nampak mengerti bagaimana liku kehidupan keduanya, menatap penuh haru kedua mempelai, sambil memeluk erat keduanya.
Pesta terus berlanjut sampai hari merangkak menjadi semakin larut, tidak bertemu dengan kedua sahabatnya selama ini membuat Alois yang didampingi kekasihnya Claude rela berlama-lama untuk mengukir kembali kenangan keempatnya tentang masa lalu, sampai akhirnya kelamnya sang malam membuat Alois maupun Claude tersadar bahwa pengantin muda di depannya butuh waktu yang lebih pribadi.
Sepeninggal kedua sahabatnya, tanpa banyak kata sang raven memboyong tubuh ringkih pasangannya ala bridal style meninggalkan area pesta menuju pembaringan mereka di lantai dua, walaupun keduanya sudah memiliki hunian sendiri, namun malam yang semakin larut membuat mereka harus rela menghabiskan malam pertama mereka di dalam kamar Ciel yang kini ranjangnya sudah di upgrade lebih luas dari sebelumnya.
T^T
Vincent berdecih saat sampai di dalam kamar, walaupun restu sudah bergulir turun tapi bagaimanapun juga hati kecil sang ayah masih belum sepenuhnya rela atas pilihan putranya, bukan karena penyimpangan yang mereka lakukan, bukan juga karena sang menantu adalah mantan putra baptisnya, hanya saja postur tubuh menantunya yang dua kali lebih besar dari putranya sendiri, membuat pria baruh baya itu bergidik ngeri saat membayangan apa yang akan Sebastian lakukan pada putranya.
"Sudah malam, honey... bukankah lebih baik untuk segera beristirahat?" sopran di belakangnya mengudara, membujuk ramah pada sang suami yang masih nampak resah di depan pintu kamarnya.
"Lagipula Sebastian dan Ciel sudah dewasa, biarkan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan," bisikan lembut mengalun di depan telinganya, sepasang jemari memeluk dari belakang mencoba menenangkan.
"Tapi, apa kau tidak khawatir dengan keadaan Ciel?"
Vincent membalikan badan, menghadap istrinya yang mengulum senyum. "Aku selalu percaya jika Sebastian tidak akan menyakiti Ciel," satu jemari lembut membelai wajah Vincent lembut berusaha menenangkan gundah yang dideranya.
Satu hembusan napas untuk menenangkan saraf yang tegang, satu senyum menyejukkan dari sang istri membuatnya sedikit banyak ingin mempercayai perkataan istrinya, sebelum sebuah suara membuat saraf yang meregang kembali tegang.
"ARGGG~ sakit Sebastian!"
Suara ambingu itu mengema melalui dinding berlapis cat putih, menusuk pendengaran sang ayah dan kembali menghujam hatinya. Dua manik Rachel hanya bisa mengerjap beberapa kali, satu jemari masih berusaha mengusap punggung suaminya, berharap bisa kembali menenangkan.
"Pelan-pelan Sebastian, rasanya sakit sekali!"
Rahang sang ayah kembali mengeras, berkali-kali menepis suara yang ada namun jelas dan semakin jelas itu rintih putra kesayangannya.
"Sebastian hentikan! Keluarkan, keluarkan! Rasanya sakit sekali!"
Lengan sang istri mencoba menahan Vincent agar tidak keluar dari kamarnya di lantai satu, namun telat. Begitu jerit sang putra mengiris hatinya, secepat kilat Phantomhive senior berlari menuju lantai dua, lantai dimana sang putra kini tengah disakiti oleh manusia yang baru saja menyandang status menjadi menantunya.
Berdiri di depan pintu dengan dua pengantin baru di dalamnya, kepala keluarga Phantomhive itu berniat mengurungkan tujuannya yang ingin bertindak tidak dewasa dan menjatuhkan harga dirinya.
"Lubangnya terlalu kecil Ciel."
"Kalau begitu perlebar lubangnya dulu baru kau masukkan."
Cukup sudah, tidak peduli dengan yang namanya tindakan tidak dewasa, enyahlah engkau yang bernama harga tinggi, yang paling utama adalah misi penyelamatan putranya. Dengan tergesa-gesa, kedua kepalan tangan Phantomhive senior mengedor pintu di depannya dengan kasar.
"Ciel, Sebastian apa yang kalian lakukan? Buka pintunya?" sentaknya marah.
Berniat untuk kembali mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka, namun sayang niat itu harus dibatalkan karena sebelum pintu kembali diketuk kasar, sang raven terlebih dahulu membukakan pintu untuk ayah mertuanya.
Manik Vincent menatap horor penampilan Sebastian di depannya, kemeja dan jas hitam sudah tidak melekat pada tubuh atasnya, menampakkan dada bidang dan perut enam kotak yang memukau, hanya menyisahkan celana hitam yang membungkus kaki jenjangnya.
"Mana Ciel?" sentak sang ayah, manik matanya menatap garang pada pria yang membukakan pintu.
"Ada apa Dad?" jawab Ciel lesu, kedua kakinya turun dari ranjang dengan malas, menyeka peluh pada dahinya, kaki kecilnya melangkah mendekati sang ayah.
"Apa yang kalian lakukan?"
Mengamati dengan tajam sang putra, tak ada yang nampak perubah. Wajahnya masih terlihat imut seperti sebelumnya, dan yang paling jelas adalah seluruh pakaian Ciel masih lengkap, persis saat upacara pernikahan.
"Yang kami lakukan?" Ciel menatap sang ayah heran, "Tidak melaku—"
"Tentu saja melakukan ritual pengantin baru," potong Sebastian yang langsung saja mendapat tatapan mematikan dari sang ayah mertua dan Ciel tentunya.
"Teriakanmu Ciel, menggema sampai lantai bawah," sunggut sang ayah.
"Ah~ itu karena Sebastian Dad, dia memaksaku mengenakan cincin yang dibelikannya, dan ternyata terlalu kecil," terang Ciel sambil mengerucutkan bibir lucu.
Sontak saja sang ayah terpingkal, ah~ urusan anak muda memang tidak pantas dicampuri oleh pria baruh baya seperti dirinya, seharusnya dia percaya saja dengan ucapan istrinya dan berbaring mengistirahatkan tubuhnya.
Menyerah... akhirnya Vincent Phantomhive pun mengundurkan diri dan membiarkan kedua putranya menikmati waktu berdua mereka, bagaimanapun mereka adalah sepasang pengantin baru yang butuh waktu pribadi. Dan walaupun sudah berusaha dengan keras untuk mengenyahkan setiap suara yang masuk melalui gendang telinganya, namun tetap saja semalaman sang ayah tidak dapat memejamkan manik matanya karena rintih dan erangan putranya yang tembus hingga tempat pembaringannya, menghantui pikirannya, membuatnya terjaga semalaman.
End of Epilog
