Keesokan harinya, aku dan Hijikata-san sepertinya agak sibuk untuk mengurus rapat orangtua murid di sekolah Aria dan Toshio. Entah mengapa, aku punya firasat bahwa Aria harus bisa move-on dari Muii dan segenap sekutunya untuk menyelesaikan masalah terberat ini. Setelah sarapan, Aria dan Toshio langsung berangkat ke sekolah dengan riang meskipun hati mereka masih terluka.
"Halo, Toshio, Aria ...," kata Ryouji, menyambut Toshio dan Aria di dalam kelas.
"Halo juga, Ryouji ...," gumam Toshio dengan memasang wajah yang amat murung.
"Toshio ...," gumam Ryouji, memandang wajah murung Toshio selaku sahabatnya.
Sejak kejadian kemarin, Aria dan Toshio merasa murung. Itulah sumber tertawaan bagi 85% dari seisi kelas. Mereka bahagia bahwa musuh mereka berhasil dibuat sedih atas ulah mereka. Mulai dari mengerjai hingga melabraknya, bahwa memanfaatkan mereka meskipun Hijikata-san telah mengajarkan teknik penolakan tersebut. Sebagian dari mereka bersikap netral, bahkan mendukung keberadaan Aria dan Toshio. Ketika bel berbunyi, seorang guru masuk ke dalam kelas. Muii sebagai ketua kelas langsung menyuruh seluruh murid di kelas 3-3 untuk memberi sambutan awal kepada guru tersebut.
"Berdiri! Memberi salam!" perintahnya. Seluruh murid langsung berdiri dari kursi mereka.
"Selamat pagi, Sensei!" sambut seluruh murid, kecuali Aria dan Toshio yang hanya membungkuk.
"Aria, Toshio! Sambutlah dia atau aku beri hukuman!" omel Muii kepada Aria dan Toshio.
"Sensei, mereka murung terus dari kemarin ...," sanggah Kyouko, memihak kepada mereka berdua sambil melaporkan kepada guru itu.
Mendengar hal itu, Katayama Yuki-sensei menghampiri mereka. Aria dan Toshio masih memasang wajah murung dan berusaha untuk menunjukkan senyum mereka kepada yang lainnya. Mereka curiga atas perilaku Muii selama ini, sehingga wajah mereka menjadi tambah murung dan sedih. "Hijikata bersaudara, kalian berdua boleh ke ruang BK atau ... ke ruang tamu sekolah untuk menenangkan jiwa kalian," katanya sambil menghibur mereka.
"Jangan, Bu!" teriak Muii.
"Ya, saya setuju dengan Muii-chan!" ujar seorang teman.
"Jangan dibela, Morizono!" tegur Takayama-sensei.
Sesaat kemudian, Aria dan Toshio diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran karena perasaan mereka yang tak karuan itu. Mereka segera mencari tempat untuk menenangkan jiwa, sesuai saran dari Katayama-sensei. Banyak guru yang merasa kasihan pada mereka, tetapi mereka banyak memberi saran agar masalah ini cepat selesai.
"Kakak, kita ke sana saja, ya ...," kata Toshio.
"Baiklah ...," kata Aria.
Mereka segera duduk di bangku panjang ketika mereka berada di taman sekolah. Katayama-sensei meminta izin walikelas mereka, Hashimoto Yuka-sensei agar mereka tidak usah ikut pelajaran terlebih dahulu untuk menenangkan jiwa atas kejadian kemarin. Oh ... seingatku, Hashimoto Yuka adalah salah satu sahabat dekat dari putri seorang dosen teladan wilayah Honshu.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, bel dibunyikan pada jam sepuluh tepat ketika aku dan Hijikata-san sudah mendatangi sekolah untuk menghadiri rapat orangtua kelas tiga sampai kelas enam. Udaranya menusuk tubuh, karena anginnya begitu merambat lurus dengan suhu musim gugur kali ini. Daun-daun berwarna merah sampai kuning bertebaran di halaman sekolah sampai beberapa petugas kebersihan membersihkan semuanya.
Aku menatap jam tangan merah muda yang terletak pada pergelangan tangan kiriku, jam sepuluh tepat. Tampak seperti pukul tiga sore, tapi inilah langit musim gugur yang indah dengan berbagai warna daun yang gugur. Hijikata-san sepertinya sedang serius membalas pesan singkat dari Okita-san yang selalu menggubrisnya dengan keisengan. Yah, anggap saja mereka adalah saudara kandung ...
"Anak-anak, hari ini bel pulang dipercepat karena siswa-siswi kelas tiga sampai enam wajib ikut rapat karena diadakan doa bersama untuk persiapan ujian akhir melalui doa kepada Tuhan yang Mahakuasa. Dan juga kita akan berdoa untuk mengenang bencana Tohoku 2011," kata Katayama-sensei.
"HORE ...!" sebagian murid bersorak gembira karena jam pulang dipercepat.
Sementara di taman, mereka berdua membicarakan masalah yang kemarin bersama Tomokazu Yanagi, kakak kelas dari kelas lima. Aku yakin, dia pasti memberikan saran dan tips yang terbaik untuk masalah ini. Bahkan mereka tidak kuat lagi untuk menahan semua amarah Muii. Yanagi punya firasat bahwa masalah ini bisa dinamakan 'bullying' karena Muii dianggap selalu mengancam yang lemah. Di depan sekolah, pukul 10.25
"Chizuru, sepertinya rapat akan dimulai," kata Hijikata, sambil menatap pemberitahuan pada handphone Samsung Galaxy ACE3 bersampul ungu miliknya.
"Bagaimana dengan Aria dan Toshio? Mereka wajib ikut ...," kataku.
"Kita panggil saja mereka ...," kata Hijikata kemudian.
Aku dan Hijikata-san memutuskan untuk memanggil mereka yang ada di taman sekolah. Di situlah mereka duduk di atas bangku panjang dan merenungkan masalah yang kemarin sambil menenangkan jiwa mereka berdua. Kulihat wajah murung mereka dan Hijikata-san langsung duduk di sebelah Toshio.
"Ayo, sayang ... pertemuan orangtua dan murid sudah mau dimulai ...," kataku lembut.
Aria dan Toshio langsung beranjak dari bangku panjang itu untuk bergandengan tangan bersamaku dan Hijikata-san. Kami berempat segera ke aula untuk menghadiri acara tersebut. Hijikata-san memilih tempat untuk kami, yaitu di barisan paling depan ... yang berhadapan dengan panggung aula sekolah. Aku memutuskan untuk duduk bersama Aria sedangkan Hijikata-san bersama Toshio. Rapat itu berisi tentang agenda sekolah mengenai ujian-ujian yang harus diikuti seluruh siswa kelas tiga sampai kelas enam untuk kelulusan. Sedangkan nilai yang diambil adalah nilai dari kelas empat sampai enam.
Ketika berlangsungnya acara doa bersama, seorang guru BK memerintahkan kepada kami untuk memegang tangan putra-putri kami. Aku dan Aria langsung berpegangan tangan, begitu juga Hijikata-san serta Toshio. Setelah itu, kami berdoa berdasarkan kepercayaan masing-masing. Tak lupa juga, kami segera mengheningkan cipta untuk mengenang para korban bencana Tohoku 2011. Acara ditutup oleh ceramah yang disampaikan guru agama, dia memberitahukan bahwa kita harus saling mendoakan agar menuju jalan terbaik bagi masalah yang mereka alami.
Setelah semuanya selesai, sebagian dari seluruh murid dengan orangtua mereka segera pulang ke rumah. Tidak untuk suatu kejadian yang menegangkan ... yaitu puncak dari kemarahan Aria kepada Muii dan permintaan Toshio kepada Hashimoto-sensei untuk segera menghentikan jabatan Muii sebagai ketua kelas atas perilakunya itu. Sayang sekali ... sejak seseorang bernama Morizono langsung membela Muii, Hashimoto-sensei harus mempertimbangkan beban tersulit ini.
"Jadi ... kau ingin membuatku dinilai buruk oleh semuanya, hah!?" ujar Muii geram.
"Aku sudah tahu bagaimana sikapmu, dan kau yang menyenangi mukaku yang murung!" ujar Aria.
"Bagaimana?! Anggap saja aku ini bahan gosip bagimu, aku masih tetap mengejekmu sebisa mungkin!" balas Muii.
"Apa maksudmu!? Padahal kakak adalah orang yang paling setia menemaniku sejak kecil! Semua berawal sejak ibu melahirkanku ke dunia ini!" Toshio mulai beraksi.
"Dasar anak mami! Kalian berdua pasti selalu ingin berada di sisi orangtua kalian!" kata Muii dengan marah.
"Anak mami!? Aku!? Toshio!?" kemarahan Aria sudah mulai memuncak, "Kalau kau masih berkata itu lagi ... hiks ... aku takkan memaafkanmu! Nggak ada kata 'maaf' untuk dirimu!"
"Aria! Toshio!" ujar Kyouji dan Kyouko, berlari ke tempat kejadian.
"Kalian jangan ikut campur!" teriak Muii kepada mereka.
Tibalah Saito-san selaku ayah dari Kyouji dan Kyouko dan Kawada Mikako-san selaku ibu mereka. Mereka ikut membela Aria dan Toshio. Kebetulan sekali, Saito-san mengingatkanku akan sejumlah buku yang dia belikan untuk kemashlatan para Shinsengumi. Tanpa menggunakan katana, dia langsung menghampiri kejadian itu.
"Hentikan!" teriaknya. Semua pihak pun terhenti.
"Siapa yang mulai duluan!?" ujar Kawada-san.
"Muii!" kata Toshio lantang.
"Mereka yang duluan!" bentak Muii.
Tak lama kemudian, ketika Aria menunjukkan kemarahannya kepada Muii sambil menangis ... dia pingsan di tempat. Aku dan Hijikata-san segera membangunkannya, tetapi tak kunjung sadarkan diri. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menenangkan kondisinya. Dalam perjalanan, Aria terus-menerus merintih karena ingin menangis selama pingsan. Sesampainya di rumah, pada waktu makan siang ... aku segera membaringkan Aria ke atas kasur di dalam kamar tidurnya. Hijikata-san segera memberinya minum dan Aria langsung meminumnya.
"Di mana ... aku ... sekarang?" akhirnya Aria sudah sadar.
Aria membuka kedua matanya ke hadapan seluruh orang yang datang ke kamarnya, termasuk aku. Dia terbangun dari tidurnya dan menaruh kedua tangannya ke atas lututnya.
"Aria, sekarang kau berada di kamarmu," jawab Kyouko.
Tiba-tiba, kami tak sadar bahwa perut kami sudah keroncongan dan waktu makan siang sudah tiba. Tak lama kemudian, Kaoru membawakan bubur untuk kami agar keadaan tubuh menjadi hangat setelah melalui udara musim gugur yang dingin selama di luar ruangan. Kami segera memakan bubur pemberian Kaoru untuk menghilangkan rasa lapar, sambil mengobrol tentang kejadian yang tadi. Karena Aria masih kurang sehat untuk berdiri dari tempat tidurnya, aku harus menyuapinya sambil mengajaknya mengobrol.
"Sayang ... kau tidak apa-apa sekarang?" tanyaku lembut.
"Aku ... hiks ... tidak apa-apa ...," jawab Aria, sambil menunjukkan senyuman di balik tangisannya.
"Aria ... tataplah mataku ... meskipun dirimu lagi nggak apa-apa, tetap saja ...," ujar Saito-san.
Aria langsung menatap Saito-san dengan wajah yang penuh air mata. Tampaknya dia menangis dan langsung mengambil boneka beruang putih kesayangannya. Penyakit batin itu tiba-tiba menggerogoti dirinya, bagaikan burung yang terluka parah pada sayapnya. Sungguh menyesakkan jika masalah ini makin rumit, kecuali jika ada penengah yang paling ahli dalam menyelesaikan masalah ini.
"Hijikata-san ...," kata Saito-san.
"Ya?" Hijikata-san menyahutnya.
"Bisakah kau mengantarkanku ke toko buku? Dirimu sebagai ayah harus ikut serta dalam penyelesaian masalah serius Aria," kata Saito kemudian.
Hijikata-san mengangguk, menyatakan bahwa dia setuju. Dia dan Saito-san segera ke toko buku yang berada di dekat perumahan ini. Aku masih menemani Aria di atas kasur, sambil memberikan kepadanya sebuah pangkuan dariku. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk menenangkan Aria.
Sesampainya di toko buku, Hijikata-san dengan Saito-san langsung menuju rak yang berisi alat-alat tulis. Hijikata-san segera mengambil sebuah buku harian yang bersampul putih dengan hiasan bunga sakura. Sepertinya Aria membutuhkan ini, tutur Hijikata dalam hati, sambil menatap buku harian itu. Kemudian dia berjalan ke tempat Saito mencarikan buku untuk Aria dan Toshio.
"Saito, sepertinya Aria membutuhkan ini. Dia harus bisa menuliskan perasaannya di dalam buku ini. Dan jika seluruh isi dalam buku ini bisa disalin kembali dalam bentuk cerita, aku jamin ... hatinya lega akan kesuksesannya itu," kata Hijikata-san.
"Aku setuju, Hijikata-san. Dia dan adiknya, Toshio harus membaca buku ini," kata Saito-san sambil menunjukkan buku yang telah dipilihnya, "Judulnya ... 'Kiat-Kiat untuk Menjadi Kuat pada Usia Peralihan'."
"Tunggu, padahal umur mereka masih sembilan dan delapan tahun ...," ujar Hijikata-san.
"Ah, iya ... inilah masa kritis ketika peralihan masa kanak-kanak ke masa remaja yang indah ...," kata Saito-san, tertawa kecil.
"Seharusnya dari tadi, Saito ...," tawa Hijikata pelan.
Kemudian, mereka membayar semuanya di kasir dan beranjak ke rumah. Ketika mereka berdua datang, aku segera menyambut Hijikata-san selaku suamiku dengan Saito-san saat mereka masuk ke rumah. Aku segera mengantarkan mereka ke kamar Aria. Beberapa saat kemudian, seluruh teman sekelas Aria dan Toshio telah kembali ke rumah mereka. Aku punya firasat, bahwa Toshio berjanji akan selalu bersama Aria, apapun yang terjadi. Toshio berhasil menjadi seorang adik laki-laki yang terbaik bagi Aria, karena anak laki-laki akan menjadi pemimpin ketika sudah besar nanti.
"Kakak, apapun yang terjadi ... aku takkan mau kehilangan kakak, dan aku akan selalu bersama kakak ... sampai nafas terakhirku ...," kata-kata itulah yang membuat Aria merasa sedikit lega, meskipun tersakiti.
"Toshio ... aku tak menyangka ... bahwa aku senang punya adik sepertimu, sejak ibu melahirkanmu ... ke dunia ini. Aku bangga pada diriku sendiri ... sebagai kakakmu. Aku adalah seorang anak perempuan yang tak bisa tegar, seperti para laki-laki ... sepertimu dan ayah. Hati seorang perempuan itu lembut ... dan mudah tersakiti," Aria mengakui bahwa perempuan mudah rentan terhadap apapun. Dikasari sedikit, tiba-tiba langsung tersinggung.
"Aku berjanji, akan selalu membela kakak apapun yang terjadi ...," kata Toshio, sambil memegang tangan Aria.
Ketika aku memasuki kamar mereka, aku merasa tenang ketika mereka berjanji untuk saling membela jika ditimpa kesusahan yang ditimbulkan orang lain. Ketika makan malam, hal itu juga dibicarakan setelah Aria membuka buku harian pemberian Hijikata-san selaku ayahnya. Setelah makan malam, Muii meneleponnya dan kembali mengejek. Katanya, dia akan selalu menjatuhkannya ... begitu juga sekutunya. Tepat sekali dengan isi buku harian Aria untuk pertama kalinya, setelah kubaca baik-baik.
Dia menangis di dalam pangkuanku sambil memeluk boneka kesayangannya. Aria merintihkan luka hatinya di hadapanku, ketika aku ingin memberikan kehangatan padanya. Aku pikir, aku harus membalas curahan hatinya.
"Sayang ... kau mau apa ...?" tanyaku lembut.
Dia masih menangis dalam pangkuanku karena menahan luka hati yang paling dalam. Aku hanya mengelus-elus pundaknya dan menghiburnya dengan lembut.
"Pasti karena masalah tadi, kan?" tanyaku, dia mengangguk, "Apakah itu yang kau tuliskan pada buku harian barumu?"
"Iya ... hiks ... ibu ...," rintih Aria, "Aku sempat ... hiks ... dibuat kesal ... hiks ... oleh Muii ... setelah berencana ingin menjatuhkanku ..."
"Itulah akibat dari kedengkian, sayang. Dia ingin menjatuhkanmu karena ingin sepertimu, Aria. Apapun yang mereka lakukan padamu, biarkan saja dan jangan dibalas dengan amarah. Kau dan ayahmu memang mirip dari tingkat amarah, tapi harus kau tahan dengan kesabaran," hiburku, sambil menjawab perasaannya.
"Tapi ... hiks ... mereka jahat sekali, ibu! Aku sudah ... hiks ... memberitahu mereka ... tetapi mereka malah ... hiks ... mentertawakanku!" isak Aria, yang tak ingin lepas dari pangkuanku.
"Aria sayang ... meskipun mereka jahat padamu sampai mentertawakanmu, inilah sebuah tanda bahwa Tuhan sayang padamu. Percayalah, segala sesuatu akan indah pada waktunya," kataku sambil mengelus-elus pundaknya.
"Apa yang harus kulakukan ... hiks ...," Aria kembali terisak.
"Harapan masih ada, gadis kecilku ... kau masih bisa berharap agar luka hatimu bisa sembuh ...," jawabku, "Ibu mengerti perasaanmu, sayang ... pasti Tuhan akan mengabulkan doa dari orang-orang tersakiti, sepertimu."
Ketika aku terus mendengar rintihan luka hati Aria, inilah penderitaan lahir-batin yang sebenarnya. Aku berusaha untuk membuatnya tenang sampai dia tertidur pulas.
