Hijikata-san dan Toshio membicarakan janji itu kepada Aria. Tak lama kemudian, Hijikata-san mendukungnya dengan senang hati ketika mengucapkan selamat malam kepada Toshio. Setelah menutup pintu kamarnya, Hijikata-san memasuki kamar Aria.
"Chizuru, bagaimana keadaan Aria?" tanya Hijikata-san.
"Dia ... sedang kutimang-timang ...," jawabku, "Luka hatinya makin parah sejak Muii meneleponnya sambil menyatakan bahwa dia ingin menjatuhkannya."
"Bisakah kau menurunkannya terlebih dahulu? Aku ingin bicara dengannya," pinta Hijikata.
Aku menurunkan Aria dari gendonganku, kemudian aku segera duduk di sebelahnya. Hijikata-san berbicara dengan Aria mengenai janji dari Toshio untuk membelanya apapun masalah yang terjadi. Harapan Kaoru ternyata tidak meleset, Aria dan Toshio selalu akur selamanya. Setelah pembicaraan itu selesai, aku memberikan pangkuan kepada Aria.
Dia menangis di dalam pangkuanku, sedangkan aku menenangkan hatinya. Aria mengatakan padaku bahwa dia harus membuatnya sadar dengan suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan,
"Aku ... hiks ... ingin menyadarkannya ... hiks ... dengan caraku sendiri!" Aria berniat untuk membuatnya sadar.
"Sayang ...," aku tertawa pelan, "Kau tahu, kan ... menyadarkannya memang membutuhkan waktu yang begitu lama. Jika kau ingin melakukannya, takutnya dia berbuat seperti itu lagi ..."
"Tetapi ... hiks ... tadi dia sempat ... hiks ... memfitnahku ...!" isak Aria, sambil memeluk boneka kelinci yang diberikan oleh Kaoru.
Kupikir ... Muii melakukan hal sepele, ternyata ... dia memang memfitnah Aria dengan segala tuduhan yang diada-adakan untuk melukai hatinya. Menurut suatu kepercayaan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan dan merugikan kedua belah pihak. Aku mencoba untuk membuatnya berhenti menangis dengan berbagai cara termasuk ingin membacakan dongeng untuknya, tetapi dia menolaknya karena masih ngambek.
"Aria, sayang ... bagaimana kau akan tersenyum di depan semua orang? Kau harus tegar, menunjukkan bahwa kau memang kuat," hiburku, "Bagaimana kalau peluk boneka? Pastinya kau mau, kan?"
Aria mengangguk pelan, kemudian memeluk Shirakuma-kun, boneka kesayangannya sambil berbaring di atas kasur. Aku hanya mengelus-elus rambutnya sambil membalas berbagai curahan hatinya yang mendalam. Kupikir, sekarang waktunya tidur ... aku harus menidurkannya meskipun perasaannya masih tersakiti. Lama-kelamaan, dia tak mau terpisah dariku ketika perasaannya tidak enak.
"Aria ... apakah kau tidak apa-apa?" tanyaku lembut.
"Aku ... hiks ... benar-benar tersakiti ...," rintih Aria, sambil mengusap air matanya.
"Aria ... gadis kecilku tersayang ... sekarang sudah waktunya tidur ...," hiburku, "Kau harus kuat, apapun masalahmu. Kau harus bisa tegar dalam menghadapi masalahmu yang sekarang, meskipun batinmu tersakiti."
"Hiks ... aku nggak kuat ...," rintih Aria, yang ingin memelukku erat.
"Kau harus kuat, sayang ...," kataku lembut, "Oh ... kau ingin memeluk ibu, ya?" kemudian aku menatap Aria yang ingin memelukku.
"Iya, ibu ...!" isak Aria kencang, kemudian dia memelukku dengan erat, "Aku nggak mau lepas dari ibu ... huwaaaaaaa!"
"Ibu mengerti, sayang ...," kataku lembut, sambil membalas pelukannya.
Aku membalas pelukannya dengan menimangnya sambil mengelus-elus rambutnya. Kasihan Aria, tangisannya kembali mengencang di dalam pelukanku karena hatinya benar-benar terluka. Dia merasa bahwa dirinya merupakan seorang tokoh utama dalam suatu film tragedi, namum tragedi dalam hatinya lebih parah dari biasanya. Hatinya seakan-akan membeku karena dibalut oleh perasaan yang membuat hatinya begitu dingin.
Masalah ini memang didramatisir karena ketidakmampuan seseorang untuk menghadapinya sendiri, itulah yang kupikirkan saat ini. Aku berusaha untuk menenangkan Aria hingga dia berhenti menangis dan tertidur dengan pulas serta mimpi yang terindah. Makin lama Aria menangisi luka hatinya, makin erat pelukannya denganku.
Di dalam benakku, Aria adalah seorang gadis kecil yang sangat ceria. Dia tersenyum manis di hadapan seluruh orang yang dia temui sepanjang hidupnya. Aku selaku ibunya harus memberikan suatu pelajaran berharga agar Aria menjadi seorang gadis kecil yang kuat, begitu juga Hijikata-san selaku suamiku dan ayah dari Aria serta Toshio. Tak lama kemudian ...
"Chizuru ...!" Hijikata-san memanggilku dan memasuki kamar Aria.
"Ya?" sahutku, sambil membalas pelukan Aria.
"Aria harus memeluk boneka ini jika dia belum berhenti menangis," kata Hijikata-san, sambil memberikan sebuah boneka beruang kepadaku.
Sesaat kemudian, setelah Hijikata-san keluar dari kamar Aria.
"Aria, sayang ... peluk saja boneka ini ...," kataku sambil menunjukkan boneka beruang itu.
"Nggak mau!" isak Aria kencang, tampaknya ... dia ngambek, "Aku ... hiks ... nggak mau lepas dari ... hiks ... pelukan ibu!"
"Anu ...," aku berpikir sejenak, "Baiklah, karena ibu juga kasihan padamu ... peluklah dengan erat, namun tidak ada salahnya jika kau mau ibu gendong."
Aria memelukku sangat erat, bahkan dia tak ingin terlepas dariku. Ketika sebuah pesan singkat dari handphone Aria masuk, pesan itu dikirimkan putri dari Hashimoto-sensei kepadanya. Setelah kubaca, dia memang sebaik yang kukira. Dia benar-benar mendukung keberadaan Aria. Kemudian, aku segera mencarikan lagu untuknya agar aku bisa menidurkan Aria. Setelah kucari-cari ... aku menemukan sebuah lagu berjudul 'Sonata Kehangatan'.
Ketika kau menangis,
Ketika kau dilanda kebencian,
Itulah tandanya ... bahwa dirimu butuh kehangatanku
Aku di sini, untuk menenangkan hati kecilmu ...
Aku di sini, untuk memberimu kehangatan.
Melalui sonata ini, ku akan menghangatkan hatimu ...
Yang berbalut oleh perasaan yang begitu dingin.
Aku ingin melihat senyuman manismu,
Aku ingin melihat hatimu yang ceria,
Aku ingin melihat kekuatanmu,
Ketika kau tenggelam dalam sebuah luka
Lirik itulah yang membuat Aria merasa sedikit lega, tetapi ... nada yang keibuan pada lirik itu membuatnya ingin mengeratkan pelukanku. Liriknya berisi tentang kepedulian seseorang yang menurutnya benar-benar berada dalam luka hati yang menembus ke dalam pikirannya.
Saat kau merasa tidak kuat,
Tentang luka itu ...
Datanglah ke hadapanku
Karena aku, selalu berada di sampingmu,
Selamanya ...
Ku tahu dirimu terluka,
Ku tahu hatimu sedih ...
Aku akan memberimu sonata kehangatan ini, di hadapanmu
Dalam batin yang menyesakkan ini,
Berjuanglah untuk menjadi seseorang yang kuat
Karena bukan hanya aku ... yang ingin melihat keceriaanmu
Orang-orang lain pun ingin melihatnya
Aria merasa lega setelah kunyanyikan lagu itu padanya. Ketika kembali ke bagian inti lagu itu, Aria tertidur pulas di dalam pelukanku yang begitu hangat. Tanpa kunyanyikan sonata nina bobo, dia langsung tertidur sambil memeluk boneka yang diberikan oleh Hijikata-san. Aku mengelus-elus kepalanya dengan lembut untuk menenangkan hatinya, kemudian aku mencium kening Aria setelah menyelimutinya dengan selimut dari kasurnya.
"Aria, kau harus bisa menjadi seorang gadis kecil yang kuat, sayang! Biarlah semuanya terjadi, jangan terus dipertahankan. Jadilah seorang pemaaf yang tulus, dan teruslah tegar di balik luka hatimu!" Aku menasihati Aria setelah dia tertidur pulas.
