Keesokan harinya, Kaoru mengajak kami ke suatu tempat di Kanagawa. Meskipun baru diberitahukan kepada Hijikata-san, kami pun tahu sejak Kaoru mengajak kami ke sana. Tujuannya, tentu saja untuk menghilangkan kepenatan kami.
"Toshio ... jangan lama-lama!" ujarku, sambil membawa handuknya, "Ayah akan mandi setelahmu!"
"Ya, Ibu!" ujar Toshio, yang baru menggosok gigi di kamar mandi, "Urus kakak saja dulu!"
Sesuai perintah Toshio, aku segera menuju kamar Aria. Di depan cermin, tampaknya dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan rok terusan warna putih bermotif bunga biru muda. Rambut panjang hitamnya baru disisir dengan sisir rambut miliknya, tampaknya ... aku punya firasat bahwa Aria belum terlalu bisa mengepang seperti teman-temannya.
"Aria ... betapa cantiknya dirimu!" pujiku ketika melihat Aria.
"Ibu ...," Aria tertunduk malu, "Teman-temanku terutama yang perempuan hampir seluruhnya bisa mengepang, tapi aku nggak bisa!" lanjutnya sambil memasang wajahnya yang memerah karena malu.
"Baiklah, gadis kecilku yang manis ... biar ibu ajarkan ...," kataku dengan ramah.
Aku mengajarkan cara mengepang kepada Aria, kemudian dia bisa setelah memahami maksudku dan mencoba mengepang rambutku yang dikuncir kuda. Tiba-tiba, aku senang melihat keceriaan Aria melalui senyuman manisnya. Aku mencubit pipinya karena merasa gemas akan wajah putriku yang benar-benar lucu, ketika aku melakukan itu ... Aria tertawa riang.
Tak lama kemudian, aku segera memberikan handuk yang kupegang kepada Toshio. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar Aria.
"Ibu ...!" Aria memanggilku.
"Ya?" Aku langsung datang ke hadapan Aria.
"Rambutku ingin sekali dikepang!" seru Aria dengan ceria.
"Oh, baiklah. Mau dikepang berapa?" tanyaku.
"Kepang dua, tapi modelnya terserah ibu!" jawab Aria.
Atas permintaan itu, aku segera menata rambut Aria dengan model kepang dua. Aku langsung membagi rambutnya menjadi dua, kemudian aku mengepang rambutnya dari bagian atas yang bersebelahan dengan poni rambutnya. Tentunya ... dari bagian kanan terlebih dahulu, begitu juga sebaliknya. Setelah itu, aku mengikat ujung kepangan dari keduanya dan mengepang seluruh rambutnya dari bagian kanan hingga sebaliknya. Kepangan itu aku ikatkan dengan karet rambut dan aku berikan pita biru pada ujung keduanya. Lalu, sebagai sentuhan akhir aku menyematkan jepitan putih dan biru pada kepangannya.
"Aria ... kau begitu cantik!" ujar Mitsuki, istri Kaoru.
"Chizuru ... bagaimana Aria bisa secantik itu ...?" tanya Kaoru sambil berdecak kagum.
"Eh!?" aku tertunduk malu, "Kaoru ... aku sengaja mendandani Aria seperti keinginannya ..."
"Hahaha ... kena, deh! Pasti gara-gara teringat masa lalu kita!" tawa Kaoru.
"Nggak juga ...," aku tertawa sambil memandang wajahku yang memerah.
Pukul tujuh tepat, kami menasuki sebuah mobil yang dapat mengantar ke suatu tempat di Kanagawa. Selama perjalanan, kami benar-benar ceria setelah Aria merasakan itu selama hidup ini. Dari depan, ayah ikut dalam pembicaraan itu sambil tertawa mendengar kata-kata yang begitu lucu.
"Chizuru ... anak-anakmu yang mana? Jadi agak lupa ...," ujar Ayah padaku.
"Ayah ... Aria adalah putri sulungku dan Hijikata-san. Sedangkan Toshio adalah putra bungsu," jawabku sambil tertawa kecil.
"Anu ... Aria yang mana ...?" ayah mulai bercanda, "Di dunia ini banyak yang bernama Aria!"
"Hahaha ... mengapa ayah sampai lupa begini!? Aria ... yang duduk di sebelah Chizuru ...!" kemudian Kaoru tertawa, "Itu, yang rambutnya berkepang dua!"
Mendengar kata 'berkepang dua', Aria terlihat sangat malu ... sehingga wajahnya mulai memerah. Karena dia begitu malu, dia tertawa sambil memegang pundakku. Tak lama kemudian, Hijikata-san dengan Toshio ikut tertawa ketika mereka fokus mengobrol dengan Mitsuki. Sesaat kemudian, ketika wajahnya masih memerah karena malu ... dia memegang kedua kepangannya dengan erat.
Kira-kira pukul sembilan pagi, mobil yang kami tumpangi telah sampai ke tempat tujuan. Setelah turun dari mobil, kami segera menikmati udara segar di Kanagawa. Angin yang segar pada musim gugur mengiringi kami dalam perjalanan menuju tempat yang pas untuk piknik di taman wisata Prefektur Kanagawa.
"Semuanya ... lebih baik kita berpiknik di bawah pohon ini!" Hijikata-san memanggil kami.
Kami langsung menuju tempat yang dimaksud Hijikata-san. Setelah berjalan selama tiga menit, kami telah sampai ke bagian bawah dari pohon itu. Lalu, Kaoru segera menggelar karpet dan setelah itu kami duduk di atas karpet itu. Sebelumnya, kami melepas alas kaki terlebih dahulu. Aku menyiapkan berbagai bekal untuk dinikmati di bawah pohon yang rindang. Daun-daun berwarna merah hingga kuning berguguran hingga ke karpet, sehingga Hijikata-san dan Kaoru langsung memainkannya.
Mitsuki, yang selalu teringat kakaknya ... membuat mahkota dari bunga sakura dan daun-daun yang berguguran. Sejak kecil, Haruna selaku kakaknya selalu mengajaknya ke taman untuk mencari daun musim gugur maupun bunga sakura yang cocok dibuat kalung dan mahkota. Ketika Haruna telah meninggal di hadapan seluruh Shinsengumi, Mitsuki dan Kaoru benar-benar merasa kehilangan.
Untuk mengatasi keterpurukan mereka, mereka benar-benar bersyukur karena Tuhan memberi anugrah kepada mereka anak berupa sepasang kembar dampit bernama Nagumo Hikari dan Nagumo Hikaru, yang sama-sama diartikan 'cahaya' karena menginginkan mereka untuk selalu menyinari hidup ini dengan kebaikan. Mereka lahir pada awal musim dingin, tepat setahun setelah kelahiran Toshio.
"Kaoru ... itu Hikaru, bukan?" tanya Hijikata-san.
"Ya, namanya Hikaru, yang selalu di sampingku," jawab Kaoru, "Ini Hikari, yang rambutnya mirip Chizuru."
Sementara kami mengobrol, Aria, Toshio, Hikaru, dan Hikaru bermain di area dekat karpet yang digelar sejak tadi. Mereka bermain kejar-kejaran, dibuktikan ketika mereka saling mengenai pundak salah satu dari mereka ... pasti mereka anggap akan mengejar mereka.
"Kena!" ujar Hikaru, yang nyaris mengenai kepangan Aria, "Kau jaga, Aria-neechan!"
Aria dengan lincah mengejar ketiganya sambil tertawa riang. Mereka benar-benar ceria, bahkan pada saat mereka berempat tertawa bersama ketika jatuh di atas tumpukan daun-daun yang berguguran dari atas pohon. Sesaat kemudian, mereka mulai membuat mahkota dari daun-daun tersebut. Hasilnya, mahkota itu mereka pakaikan pada kepala mereka. Kemudian, mereka berempat bermain lempar-lemparan daun. Aku, Hijikata-san, Kaoru, dan Mitsuki hanya tertawa kecil melihat keakraban mereka.
"Aria-neechan ... kau terlihat lucu, deh!" ujar Hikari sambil mencubit kedua belah pipi saudara sepupunya, Aria.
"Kau terlihat cantik ... dari hatimu!" kata Aria sambil tertawa kecil. Pada saat itu, Aria mengepang rambut Hikari dengan niat keisengannya.
"Iseng, deh!" Hikari tertawa melihat keisengan Aria, "Ngomong-ngomong, Aria-neechan juga bisa mengepang, ya?"
"Ya, aku bisa. Karena tadi pagi, ibu mengajariku," jawab Aria sambil mengikat ujung kepangan itu dengan benang wol hijau muda, "Teman-temanku, khususnya yang perempuan ... hampir seluruhnya bisa mengepang. Makanya aku ingin bergabung di antara teman-temanku yang bisa."
Sesaat kemudian, ketika waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas.
"Aria! Toshio!" panggil Hijikata-san.
"Hikari! Hikaru!" panggil Mitsuki.
Mereka berempat segera berlari menuju karpet. Ternyata, Hikaru sampai duluan ke atas karpet. Kemudian, mereka berempat segera duduk di atas karpet itu. Toshio menceritakan kepada kami mengenai permainan itu, bahkan bagaimana hal itu bisa menjadi seru.
"Wah ... bagaimana bisa terjadi?" tanya Mitsuki, sambil melihat tampang Hikari yang berbeda dari biasanya.
"Aria-neechan bisa mengepang karena teman-temannya juga bisa. Tadi pagi, Chizuru-sama mengajarinya. Hasilnya, karena tertarik akan model itu seperti teman-temannya ... dia ingin sekali," jelas Hikari.
"Oh ... begitu," kata Mitsuki, "Chizuru ... sejak pertama ke zaman ini, siapa yang mengajarimu?"
"Putri bungsu dari seorang dosen," bisikku kepada Mitsuki, "Kemudian, aku membagikannya kepada Kaoru. Dan akhirnya ... aku bagikan juga kepada Aria."
"Hahaha ... makanya tadi pagi kubilang, pasti terungkit masa lalu!" ujar Kaoru sambil tertawa kecil, "Dulu ... aku pernah mendandani Chizuru, sekarang dia yang mendandani Aria dengan model kepang!"
Kami tertawa bersama, kemudian ... kami segera menyantap bekal makan siang yang kami bawa dari rumah. Setelah makan siang, ayah mengajak kami untuk berfoto di hutan dekat Pegunungan Inari. Tentunya, mereka harus merapikan diri untuk siap difoto. Hikari yang merupakan tipe pemalu harus merasa narsis karena sekarang merupakan saat-saat berfoto di hutan yang penuh dengan suasana musim gugur itu. Sepertinya ada yang merasa, bahwa kepangan rambutnya kendor. Aku segera membetulkan kepangan rambut ekor kudaku yang kendor. Sementara Aria, dia harus meminta bantuan Kaoru untuk merapikannya.
"Ayah ... Ibu ... baca, deh!" ujar Aria sambil menunjukkan handphone-nya.
Aku segera menghampiri Aria untuk membaca sebuah pesan singkat yang diberikan kepadanya, begitu juga Hijikata-san. Isinya ... benar-benar membuat kami tertawa karena Yotsuba Iori, pelawak kelas III-3 berniat untuk melawak sebagai cara untuk menghibur Aria. Menurut Hikaru, itulah tipe teman yang begitu baik ... selalu menghibur teman yang lainnya di kala susah. Hikari juga begitu, karena dia dan saudara kembarnya selalu mendapat canda-tawa dari teman-teman sekelas mereka.
"Menggelikan sekali ... tapi kakek senang melihat wajah ceria cucu perempuan kakek yang satu ini ...!" ujar ayah sambil memegang pipi Aria dan menyentil keduanya.
Kami tertawa geli melihatnya, kemudian kami menikmati sebagian cemilan yang ada. Ketika Aria masih menggigit sebuah kue kering, Kaoru datang untuk merapikan kepangan rambutnya yang kendor. Tadi pagi, aku mengepang rambutnya dengan model itu ... sekarang giliran Kaoru untuk merapikannya agar terlihat lebih manis. Dengan cekatan, dia membuka seluruh kepangan rambut Aria dan aksesorisnya. Kemudian, dia menyisir rambut panjang hitamnya sambil memakan cemilan yang aku berikan. Melihat rambut yang sepanjang ini ... aku teringat akan Hijikata-san, ketika aku menyisir rambutnya ..., gumam Kaoru dalam hati.
Kemudian, dengan teliti Kaoru membagi dua rambut Aria dan mengepangnya dari bagian kanan atas di dekat poninya ... begitu sebaliknya. Karena terpikir olehku, dia menambahnya satu lagi. Dia menyatukannya dan mengikat ujungnya dengan karet rambut biru. Setelah itu, dia mengepang dua rambut Aria dari ujung kepangan yang sebelumnya dengan bagian yang masih terurai panjang. Sebagai sentuhan akhir, Kaoru mengikatnya dengan karet rambut dan mempercantiknya dengan pita biru. Aku memasang kembali jepitan bunga berwarna biru dan putih pada kedua kepangannya ketika Kaoru memintaku untuk menolongnya. Karena di dalam saku tasku ada aksesoris lagi, aku menambahkan jepit bunga berwarna putih di sebelah kanan dan kiri poninya.
"Aria ... sekarang dirimu terlihat berbeda!" ujar Mitsuki.
"Kakak ...," gumam Toshio, sambil melihat wajah kakaknya, Aria.
"Cantiknya ... seperti seorang putri," kata Hijikata-san, itulah yang membuat Aria lebih malu.
"Ayah ... aku malu!" kemudian wajah Aria memerah dan akhirnya kami tertawa riang.
Kemudian, acara foto-foto diawali dengan berfoto di sebuah hutan dekat Pegunungan Inari. Bahkan Ayah langsung meminta seorang pengunjung untuk mengambil foto kami ketika bertemu seekor rubah yang dijinakkan oleh petugas pariwisata Pegunungan Inari, Kanagawa. Kemudian, Hijikata-san dengan Toshio dan Kaoru memutuskan untuk berfoto di sebelah patung rubah. Karena patung tersebut merupakan lokasi favorit teman sekelas Hikaru dan Hikari, mereka ikut. Kemudian, aku bersama Hijikata-san, Aria, dan Toshio mulai berfoto di depan sebuah kuil yang terkenal di Kanagawa.
Setelah berfoto-foto, kami langsung beranjak ke suatu penginapan di Hakone. Beberapa saat kemudian, kami langsung menemukan kamar yang pas untuk kami. Karena ada suatu undangan untuk datang ke sebuah festival, kami harus bersiap-siap. Ternyata ... Okita-san dan keluarganya memberikan undangan itu kepada kami, dia dan Otonashi Kii-san selaku istrinya sejak menikah pada dua bulan yang lalu. Ketika waktu telah menunjukkan pukul lima sore, kami segera mandi secara bergantian pada kamar mandi yang terdapat di sebelah kamar kami.
Lalu, karena undangan itu menyuruh kita untuk datang sebelum pukul tujuh malam ... kami segera bersiap-siap. Kami memakai kimono yang pas untuk menghadiri acara itu. Aku memakai kimono berwarna lavender dengan motif bunga dan aku menggulung kepangan rambutku menjadi konde yang diikat dengan pita ungu. Hijikata-san memakai kimono ungu tua dengan model khusus pria. Aria memakai kimono putih dan hijau dengan motif bunga teratai pemberian temannya. Sedangkan Toshio memakai kimono hitam dengan model khusus pria. Kemudian, ada-ada saja tingkah ayah ... ternyata dia menantangku dan Kaoru untuk membuat model yang terkesan 'kembar' bagi Aria dan Hikari.
Aku dan Kaoru menerima tantangan itu, dan Mitsuki membisikkan sesuatu pada telingaku tentang apa yang harus kulakukan untuk model yang ditentukan. Setelah itu, tantangan itu aku laksanakan. Hijikata-san dan Toshio hanya tertawa kecil ketika melihatku dengan Mitsuki pada saat berbisik-bisik.
"Hehehe ... aku penasaran seperti apa ...," kata Toshio, sambil membaca novel yang dipinjamkan oleh temannya.
"Sama, ayah juga penasaran ... padahal kakek memang asyik dan begitu heboh terhadap Shinsengumi, hingga dibelikan es krim segala ketika musim panas ...," ujar Hijikata-san, "Ayah selalu mendapat nasihatnya sebelum menikah dengan ibu."
"Semoga modelnya gampang dan kakak tetap cantik apa adanya!" kemudian Toshio tertawa setelah membaca pesan singkat dari Hikawa Yuko, salah satu sahabatnya dan Aria sejak kelas dua.
"Ayah harap begitu ... tapi kalau ketahuan, Aria akan malu!" Hijikata-san ikut tertawa, akhirnya mereka berdua tertawa bersama.
Sementara itu, Aria yang masih mendengarkan sebuah lagu melalui earphone pada handphone-nya langsung dia buka dan menjeda lagu yang dia dengarkan karena aku akan menata rambutnya sesuai perintah Mitsuki.
"Hikari-chan akan terlihat seperti apa?" tanya Aria kepadaku.
"Ini catatannya, sayang ... ibu jamin, kau akan cantik apa adanya ...," kataku sambil tertawa kecil.
"Wah ... pasti terlihat seperti boneka Barbie milik temanku!" Aria berdecak kagum, "Berarti ... aku dan Hikari-chan akan ditata seperti itu, kan?"
"Pastinya ...," jawabku, sambil menyisir rambut panjang hitamnya.
Kemudian, aku mengepang rambutnya seperti dalam beberapa ketentuan yang berada pada catatan dari Mitsuki. Aria benar, dia dan Hikari akan terlihat seperti boneka Barbie milik teman Aria. Dengan teliti, aku menata rambutnya sesuai ketentuan itu dan setelah itu ... aku mengikat ujung kepangan itu dengan karet rambut berwarna hitam, sesuai dengan warna rambutnya. Lalu, Aria mempercantik kepangannya sendiri dengan pita berwarna hijau muda untuk ujungnya dan rambutnya dipasang dengan jepit berbentuk daun berwarna hijau.
"Aria ... akhirnya kau bisa mempercantik rambutmu sendiri ...," kataku, sambil melihat hasil kepangan rambutnya.
"Hehehe ...," Aria tertawa kecil sambil tertunduk malu, wajahnya mulai memerah. Karena wajahnya yang begitu menggemaskan ketika tertunduk malu, aku mencubit pipinya dan membuatnya tertawa setelah aku mencubit kedua belah pipinya.
Sementara Hikari, yang memakai kimono berwarna putih dan merah muda dengan motif bunga tsubaki langsung menampakkan dirinya di depan seisi keluarga. Rambutnya dikepang dengan model yang sama, namun aksesorisnya berwarna merah muda dan putih. Sesaat kemudian, kami segera berangkat ke tempat festival di sebuah jalan yang berada di Objek Wisata Pegunungan Inari. Ketika kami merasakan aura bahagia yang terdapat pada festival ini, kami merasa benar-benar senang dan selalu bersyukur akan kenikmatan Tuhan yang begitu banyak.
Begitulah kebahagiaan yang begitu tulus yang ayah berikan kepada seluruh anak-anak dan cucunya. Semoga saja ... kebahagiaan itu selalu terhubung dalam lubuk hati kami yang terdalam.
