Beberapa hari kemudian, tepat pada hari Rabu ...

Aria dan Toshio berangkat ke sekolah dengan keadaan yang begitu ceria, meskipun Toshio dilanda penyakit flu. Ketika mereka memasuki kelas III-3, ada aura kejahatan yang terasa dalam benak mereka berdua. Muii kembali mengerjai mereka berdua dan mereka bersikeras untuk tetap kuat, meskipun ada rasa kemarahan dalam lubuk hati mereka.

Ketika bel berbunyi, pada saat pelajaran Hashimoto-sensei ... Muii dan sekutu-sekutunya mulai menakut-nakuti Aria serta Toshio. Kemudian, hal tersebut diketahui secara langsung olehnya. Bahkan mereka menutupi seluruh kesalahan mereka kepada Aria dan Toshio. Namun, mereka tetap kuat ... meskipun ada aura sedih dalam hati mereka setelah diejek. Ketika istirahat makan siang berlangsung, mereka sangat murung. Kyouji dan Kyouko harus menghibur mereka dengan berbagai cara setelah mereka makan.

Mereka baru sampai rumah ketika waktu menunjukkan pukul 15.00. Aku menyuruh mereka untuk mandi terlebih dahulu dan makan malam, karena musim dingin akan datang mulai minggu depan. Setelah pukul 17.00, Hijikata-san pulang dan aku menghidangkan makan malam untuk kami. Entah mengapa ... Aria dan Toshio terlihat seperti ingin menangis dan mengungkapkan kekesalan mereka kepada Muii, aku harus membesarkan hati mereka berdua meskipun dibantu oleh Hijikata-san.

"Mengapa wajah mereka sangat murung, Chizuru?" tanyanya.

"Pasti gara-gara Muii, ketika di sekolah. Toshio sempat menceritakan itu padaku," jawabku.

Setelah makan malam, Aria memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamarnya setelah mengerjakan PR bersama Toshio. Di dalam kamar, Aria menuliskan berbagai isi luka hatinya pada buku harian ... bahkan tulisannya sedikit berantakan karena terbawa emosi. Setelah menulis pada buku hariannya, dia menangis sambil menutup wajahnya selama memeluk boneka kesayangannya. Aria mematikan lampu kamarnya dan mulai menangisi luka hatinya, sendirian. Ketika aku mengetuk pintu kamarnya ... dia tidak memberiku jawaban apa-apa. Lalu, aku masuk ke kamarnya dan duduk di sebelahnya.

"Aria ... apakah kau begitu terluka?" tanyaku lembut, "Itulah suatu alasan, mengapa kau tidak menjawab permohonan ibu ... untuk masuk ke kamarmu."

Aria mengangguk pelan, kemudian menunjukkan isi buku hariannya kepadaku. Tampaknya, dia begitu terluka ... dan luka hatinya benar-benar mendalam. Karena terlalu sakit untuk dia ceritakan, dia hanya menunjukkan buku hariannya kepadaku. Hatiku merasa trenyuh ketika membaca paragraf kedua dari isi buku harian yang Aria tuliskan, dia benar-benar direndahkan oleh hampir seisi kelasnya. Otsuka Himeko, putri Osen-chan selaku sahabat terbaiknya ... begitu kewalahan ketika membela Aria, begitu juga Toshio, yang tidak ingin kehilangan kakak kesayangannya itu.

"Ibu begitu kasihan melihat nasibmu, sayang ...," kataku lembut, "Begitu kau diejek, langsung mereka anggap sebagai makhluk rendahan. Dan apapun yang terjadi ... ibu akan selalu ada di sampingmu, Aria. Itulah suatu alasan ... bahwa kau harus kuat."

Aria menerima rangkulanku sambil menangis sejadi-jadinya, aku mengelus-elus pundaknya sambil menenangkan hatinya yang begitu terluka. Tampaknya ... dia membutuhkan banyak kehangatan, yang bisa melelehkan luka hatinya ... bagaikan es. Luka hatinya sangat dingin, bahkan menembus pada lubuk hatinya. Aku harus menenangkannya, seperti pada saat aku menidurkan Aria ketika dia masih kecil.

"Mereka ... hiks ... sudah keterlaluan! Seharusnya mereka menerima kehadiranku sejak awal, tapi ... hiks ... mereka malah merendahkan diriku!" isak Aria.

"Mereka hanya iri padamu, Aria. Pastinya mereka memiliki cara untuk menjatuhkanmu. Dan inilah yang ibu sampaikan padamu ... jangan terlalu memikirkan mereka, padahal semuanya tidak memedulikan dirimu. Kau harus lebih ceria di depan mereka, karena perasaan itu akan membuatmu semakin kuat," hiburku, sambil mengelus-elus kepalanya.

"T-tapi ... hiks ... mereka menyakiti hatiku ...!" Aria menangis lagi.

"Ketika mereka berbuat begitu padamu, biarkan saja ... kemudian lakukan saja hal-hal terpenting dalam hidup ini, gadis kecilku ... hal yang penting adalah ... apapun yang menjadi hak dan kewajiban dirimu ...," aku masih menghiburnya dengan berbagai nasihat bijak.

Kemudian, aku mengambilkan Aria sebuah boneka dariku. Dia memeluk boneka beruang merah muda dariku sambil menangisi luka terdalam dari lubuk hatinya di dalam pangkuanku. Aku menenangkan hatinya sambil mendengar berbagai isi hatinya, bahkan apapun yang dia ceritakan padaku ... mengenai luka hatinya.

Sementara Toshio, dia mulai bercerita kepada Hijikata-san selaku sang ayah. Menurut Hijikata-san, kesabaran adalah hal yang paling ditonjolkan dalam penyelesaian masalah. Apapun kesalahan yang mereka lakukan, harus dimaafkan. Ketika dia berbuat kasar, tidak ada yang perlu ditakutkan dalam mengatakan sesuatu dengan tegas.

"Toshio ... apapun itu, bersabarlah. Mereka memang begitu, dan tak ada yang perlu kau takuti ketika mereka mengakui sesuatu padamu," ujar Hijikata-san menyemangati Toshio.

"Baiklah, ayah! Akan kulaksanakan perintah ini!" balas Toshio dengan semangat yang membara.

"Begitulah anak ayah, dan selamat malam ... semoga mimpimu indah ...," Hijikata-san meninggalkan kamar Toshio.

Sementara di kamar Aria, aku masih berusaha untuk membuatnya berhenti menangis. Apapun itu, akan kulakukan untuk menenangkan hati Aria dengan cara yang lembut ... demi sebuah kehangatan untuknya. Dia harus kuat walaupun hatinya sedang sakit ... bukan dengan cara menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyuman, melainkan dia harus melakukan berbagai hal untuk menyelesaikan masalahnya. Aku masih menghibur Aria di dalam pangkuanku, karena dia benar-benar ingin menangisi seluruh luka terdalam pada hatinya.

"Aria ... kau ingin memeluk ibu?" tanyaku dengan lembut.

"Hiks ... aku ... mau ...," isak Aria, sambil bersiap untuk memelukku dengat erat.

"Baiklah, sayang. Selama ini ... ibu telah melihat wajah kesedihanmu karena hatimu amat terluka. Aria, sayang ... di mata ibu, kau adalah gadis kecil yang ceria. Setiap bertemu dengan orang di sekitarmu, pastinya kau akan tersenyum ketika menerima kehadiran mereka. Sebenarnya ... ibu tidak begitu suka melihatmu merasa bersedih, ibu ingin sekali melihat senyumanmu ... meskipun hatimu terluka. Dan apapun yang terjadi ... kau harus kuat, sayang. Jangan pedulikan mereka, biarkan semuanya berlalu dan Tuhan akan memberikan sesuatu yang indah pada waktu yang tepat ...," hiburku, dengan nada yang aku lembutkan seperti seorang aktris yang berperan sebagai ibu yang bijak dan selalu mencintai suami dan anaknya, "Berpikirlah seperti orang-orang cerdas di sekelilingmu, buatlah mereka peka akan kebenaran yang akan kau ungkapkan dengan caramu sendiri. Meskipun ada yang tidak peka, biarkan dia sadar sendiri."

"Hiks ... bagaimana caranya, ibu ...?" Aria menangis sejadi-jadinya, meskipun berniat ingin memelukku dengan erat.

"Kendalikan dirimu, sayang ... jangan biarkan kemarahan mereka melukai hatimu. Bahkan, ketika luka hatimu sudah mendalam ... ingatlah kepada Tuhan, di manapun kau berada. Tuhan akan mengabulkan segala permintaan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Keinginan kita akan dikabulkan oleh-Nya pada waktu yang Dia tentukan, dan juga ... usaha yang kita lakukan agar doa itu bisa terkabul sepenuhnya ...," jelasku.

"Aku ... hiks ... tidak bisa menerima permintaan maaf ... dari mereka ... hiks ...!" isak Aria.

"Itulah kendalanya, gadis kecilku ... Tuhan mengampuni seluruh dosa dan kesalahan hamba-Nya ketika dia bertaubat. Ketika dosa dan kesalahan itu menyangkut kepada orang lain, dia harus meminta maaf dan orang itu harus memaafkannya. Kata ayah ... ketika mereka berbuat salah padamu, maafkanlah mereka sebelum waktunya," aku tersenyum lembut di hadapan Aria.

"Ibu ... hiks ... aku nggak kuat ...! Aku nggak mau lepas ... hiks ... dengan ibu ... hiks ... huwaaaa!" tak lama kemudian, Aria memelukku dengan sangat erat.

"Iya, sayang ... ibu mengerti perasaanmu ...," aku membalas pelukannya.

Tangisannya begitu kencang, bagaikan suara burung yang merintih kesakitan. Aku hanya bisa menatapnya sambil membelai rambut panjangnya dan menimangnya di dalam pelukanku. Kurasa, luka inilah yang paling mendalam ... walaupun aku berusaha untuk menyembuhkan luka itu dengan kata-kataku yang begitu bijak. Hatinya sudah semakin membeku dengan berbagai luka yang begitu mendalam bagaikan ditusuk oleh seribu panah dan dua katana. Aku yakin, ini bukanlah akhir dari segalanya ... karena jalan masih panjang untuk meraih impian kami.

Sebenarnya, dia memang ceria, murah senyum, dan penyabar. Ketika hatinya tersakiti, amarahnya tak dapat dikontrol seperti Hijikata-san. Aria adalah tipe orang yang mudah menangis ketika disakiti, itulah yang membuatnya takkan bisa mengendalikan emosinya. Aku benar-benar kasihan melihat luka hatinya, sehingga dia masih ingin bersamaku hingga tangisannya berhenti. Wajahnya sangat cantik, begitu juga hatinya. Dia juga berpenampilan manis, dengan senyumannya. Begitu aku mencubit pipinya yang gembul, itulah suatu tanda bahwa dia memang imut seperti boneka.

Aku masih menenangkan Aria di dalam pelukannya, ketika suara tangisannya masih mengeras. Dulu, ketika aku berada di dalam posisinya ... aku benar-benar lemah lembut. Aku memang sedikit gampang bersedih karena suatu hal. Sekarang ... inilah usahaku untuk menghibur putri kesayanganku dengan kelembutan dan kehangatan dariku. Aria kembali mengencangkan suara tangisannya karena hatinya masih begitu terluka. Begitu dia melakukan itu, dia mengeratkan pelukanku. Apapun yang terjadi ... aku selalu berada di sampingnya, hingga akhir nafasku.

"Hiks ... ibu ...," rintih Aria.

"Apa, sayang ...?" kataku dengan lembut.

"Ibu, tetaplah di sini ... hiks ... karena, ibu adalah ... hiks ... penghangat bagiku ... ketika aku menangis ...," isak Aria, sambil mengeratkan pelukanku.

"Baiklah, gadis kecilku ... ibu akan selalu menemanimu ketika menangis ...," hiburku, "Ibu akan selalu ada untukmu, Aria ... kau harus kuat, sayang!"

"Aku ... hiks ... tidak kuat ...!" tangisan Aria mulai terdengar dengan jelas.

"Sayang ... ssshh ...," aku menenangkan Aria sambil menimangnya di dalam pelukanku.

Biasanya, anak perempuan terkadang merasa galau setiap malam ... karena berbagai alasan. Mereka selalu mengharapkan kehangatan dari seorang cowok yang disukainya, padahal kehangatan orangtua adalah yang terpenting dari seluruhnya. Begitu juga Aria, dia menginginkan kehangatanku ketika hatinya sedang tersakiti oleh sesuatu. Dalam luka yang terdalam ini, aku selalu berada di sampingnya ... itulah mengapa, dia harus kuat.

Ternyata, waktu untuk tidur sudah di depan mata. Aku harus menidurkannya, meskipun Aria masih menangis sekencang luka hatinya di dalam pelukanku yang hangat. Kemudian, aku memutuskan untuk mengambil handphone milikku di atas meja di sebelah kasurnya. Aku mencari-cari lagu yang pas untuk menenangkan Aria dan membuatnya tertidur. Setelah aku menemukan lagu yang pas, judul lagu tersebut adalah 'Ketika Kau Menangis ...' oleh Takamori Risa.

Hoshizora o mitenara,
Kono yozora wa kagayaita
Heya no katasumi o mitenara,
Omoidakara, kimi wa kanashikatte

Jika kau melihat langit yang berbintang,
Langit malam ini bersinar

Jika kau melihat di sudut kamar,
Aku ingat, bahwa kau bersedih

Sono warui omoide wa omotte shinaide,
Sono kotoba o omotte shinaide,
Kono mama ni, ano naiteru jikan ni
Kimi ni soba ni iru,
Sō, nakanaide

Jangan kau pikirkan tentang kenangan yang terburuk itu,
Jangan kau pikirkan kata-kata itu,

Tinggalkan, pada waktu kau menangis
Aku berada di dekatmu,
Jadi, jangan menangis

Aku menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati, sambil menatap Aria dengan perasaanku yang begitu mencintainya ... karena dia adalah putri kesayanganku. Sebenarnya, dia juga sayang padaku ... dan aku benar-benar memiliki cinta yang terdalam untuknya, begitu juga Toshio. Lirik itu memiliki nada yang sangat keibuan, sehingga Aria menangis menjadi-jadi dan mengeratkan pelukanku. Keadaan Aria memang pas dengan lirik yang satu ini ... dia menangis di atas kasur.

Kono masshirona kokoro o,
Kanashimi ga kuru hazu no
Itami ni natte mo, tsumetaku natte mo

Dalam hati yang putih ini,
Kesedihan yang telah datang
Dan di dalam luka, ketika menjadi dingin

Tangisan Aria lama-kelamaan bisa berhenti, karena sedikit lagi ... dia akan tertidur pulas. Aku menyanyikan larik ini dengan penuh kehangatan, yang kupersembahkan kepada gadis kecilku. Aria akan tertidur setelah aku menyanyikan lagu ini untuknya, karena inilah nina bobo yang aku berikan padanya. Dia merasa nyaman ketika aku menghiburnya sekaligus menidurkannya di dalam pelukanku yang begitu memberinya kehangatan.

Komori uta o, sasayaita
Kimi no tame ni. . .
Uta o, utatta
Kimi no tame ni. . .

Aku membisikkan, sebuah nina bobo
Untukmu …

Aku menyanyikan lagu itu
Untukmu …

Son'na fukai ai o kimi ni nagusameru
Kimi wa itoshi terukara. . .
Fukai ai wa kokoro ni tsunagatte,
Boku ni dakishimete, nukumoridakara.

Cinta yang amat mendalam ini dapat menenangkanmu
Karena aku cinta padamu …

Cinta yang mendalam memang terhubung ke dalam hati,
Peluklah aku, karena inilah kehangatan.

Aria langsung mengeratkan pelukanku sambil menangis dengan nada yang amat pelan, karena lirik yang satu ini membuat luka hatinya semakin terobati. Aku mengelus-elus kepalanya sambil tersenyum lega ketika aku menyanyikan lirik ini. Aria ... senyumanmu akan kutunggu besok ... itulah kata-kata yang muncul dalam lubuk hatiku ...

Sono warui omoide wa omotte shinaide,
Sono kotoba o omotte shinaide,
Kono mama ni, ano naiteru jikan ni
Kimi ni soba ni iru,
Sō, nakanaide

Jangan kau pikirkan tentang kenangan yang terburuk itu,
Jangan kau pikirkan kata-kata itu,

Tinggalkan, pada waktu kau menangis
Aku berada di dekatmu,
Jadi, jangan menangis

Komori uta o, sasayaita
Kimi no tame ni. . .
Uta o, utatta
Kimi no tame ni. . .

Aku membisikkan, sebuah nina bobo
Untukmu …

Aku menyanyikan lagu itu
Untukmu …

Akhirnya, Aria tertidur pulas di dalam pelukanku. Aku membaringkan badannya ke atas kasur sambil mengelus-elus kepalanya. Kemudian, aku mengecup keningnya sebagai tanda bahwa aku benar-benar mencintainya. Dia tertidur pulas sambil memeluk boneka beruang merah muda milikku, yang kuberikan untuknya. Luka yang terdalam pada hatinya, telah kusembuhkan dengan kehangatanku ... dan aku hanya menunggu usaha yang Aria lakukan untuk menyelesaikan masalah terumit ini.