Setahun kemudian pada bulan Maret, pada saat kenaikan kelas.

Sekarang, umur mereka berdua sudah 10 dan 9 tahun sejak wisuda kenaikan kelas yang bertepatan pada hari ulang tahun Aria. Ulang tahun Toshio masih lama, yaitu di akhir bulan September. Aku dan Hijikata-san mendidik mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan perhatian khusus. Aku berhak memberikan perhatian khusus kepada Toshio, karena posisiku sebagai ibu lebih penting untuk mendidik putranya. Sedangkan Hijikata-san kepada Aria, karena posisinya sebagai ayah lebih penting untuk mendidik putrinya.

Ketika mereka berdua sudah pubertas, Hijikata-san mulai membantu diriku untuk mencarikan solusi kepada Aria dan Toshio dalam menghadapi masalah mereka. Mereka berdua akan mengalami masa remaja awal, yang menurut banyak orang adalah masa-masa terindah sepanjang masa. Tanda-tandanya ... biarlah mereka tahu sendiri, begitu juga para remaja yang lain. Tak kusangka, tinggi badan Aria dan Toshio sudah meningkat drastis sejak acara gladi resik wisuda kenaikan kelas dan kelulusan.

"Toshio ... tinggi badanmu hampir setinggi pinggang ayah ...," gumam Hijikata-san, ketika melihat Toshio.

"Aria, sayang ... tinggimu sekarang ... hampir mirip ibu sebelum masuk Shinsengumi," kataku, sambil mengukur tinggi badan Aria.

"Apakah itu benar!?" Aria tertunduk malu, "Bisa-bisa aku dikira jerapah!"

Kami tertawa bersama ketika Aria mengira bahwa tinggi badannya dikira seperti seekor jerapah di kebun binatang. Ketika kami kedatangan tamu, ternyata ...

"KEJUTAN ...!" itulah teman-teman dari kelas III-3, termasuk Himeko, Kyouji, dan Kyoko.

"Kalian ... apakah kalian sudah berubah, sejak perlakuan kalian ... selama ini!?" ujar Toshio, ketika merasa heran.

"Perilaku kami ... sudah berubah drastis setelah Aria-chan menerbitkan sebuah novel yang bercerita tentang kita. Seminggu sebelum wisuda kenaikan kelas, novel itu terbit!" ujar Morizono Yukari, sambil menunjukkan novel karangan Aria berjudul 'Di Balik Bunga Sakura'. Sebelumnya ... dia sempat ditegur oleh Katayama-sensei karena membela keinginan Muii agar tidak membiarkan Aria dan Toshio keluar dari kelas.

"Apa!?" ujar Hijikata-san, "Chizuru, aku dan Saito telah mencari-cari buku itu! Aria menuliskannya sejak liburan musim dingin, dengan tokoh yang dia dramatisir ... tetapi ceritanya sesuai dengan isi buku hariannya!"

"Benar, paman ... saya harap, anda dan bibi akan bangga karena Aria-chan sudah bisa menumpahkan isi hatinya dalam bentuk cerita seperti ini!" ujar Hikasa Minami, salah seorang murid yang netral akan kehadiran Aria dan Toshio sejak pertama bertemu di kelas III-3.

"Ya ... inilah kebanggan seorang gadis kecil yang kuat, Hikasa ...," kataku, sambil mengelus pundaknya, "Bibi sudah mendukungnya, memberinya kehangatan ketika dia merasa lemah ... dan juga, selalu mencintainya ... karena Tuhan selalu memberikan sesuatu yang indah pada waktunya."

Mereka juga bahagia akan kesuksesan Aria setelah menuliskan novel tentang mereka, begitu juga kami sebagai orangtuanya. Ketika Himeko memberikan informasi tentang tiga juara kelas III-3, hasilnya begitu mengejutkan bagi kami semua. Ketiga juara tersebut adalah: Toshio sebagai peringkat pertama, Iori peringkat kedua, sedangkan Aria yang ketiga. Mereka masuk lima besar bersama Kyouji yang mendapat peringkat keempat dan Kyoko yang kelima. Saito-san dan Kawada-san pasti bangga akan prestasi kedua anak mereka, begitu juga aku dan Hijikata-san.

"SELAMAT ULANG TAHUN, ARIA!" ternyata ... seluruh angkatan kelas III-3 memberikan kejutan terbesar untuk merayakan ulang tahun Aria ke-10 setelah aku lahirkan dirinya ke dunia ini.

"Hijikata Aria-san, maafkan kami ... atas semua kesalahan yang kami lakukan kepadamu dan adikmu ...," kata salah seorang teman, Nakamura Satsuki, "Muii sedang sakit, dan kalian mendapatkan salam darinya ... bahwa dia benar-benar bersalah atas perlakuannya kepadamu dan Toshio-kun."

"Tidak apa-apa, Satsuki-kun ...," ujar Toshio sambil merangkul pundak anak laki-laki itu, "Dengan ikhlas, aku memaafkan kalian. Begitu juga Muii ..."

Kami segera keluar untuk mengadakan acara tiup lilin untuk merayakan ulang tahun Aria bersama teman-teman dari III-3. Aria sangat senang, karena seluruh teman-temannya ingat akan hari ulang tahunnya ketika menyadari kesalahan mereka. Mereka berjanji untuk tidak mengulanginya di depan orang lain, mereka akan selalu membantu Aria ... apapun yang terjadi. Semoga saja ... ada seorang teman yang kembali sekelas dengannya di kelas IV nanti. Setelah Aria meniup lilin pada kue ulang tahun buatan Osen-chan dan Himeko kepadanya, dimulailah saat-saat pemotongan kue cokelat yang merupakan kue kesukaan seluruh temannya di kelas III-3.

Potongan kue yang pertama dia berikan padaku, atas rasa terima kasih padaku karena sudah melahirkannya ke dunia ini, membesarkannya, hingga membangun dirinya sebagai seorang gadis kecil yang kuat dan selalu tersenyum dalam menghadapi apapun. Kedua, dia berikan kepada Hijikata-san ... sosok ayah yang selalu mendidiknya untuk terus tegar dan berada pada jalan yang benar. Ketiga, kepada Toshio ... adik laki-laki yang selalu melindunginya ... karena tidak ingin kehilangan Aria selaku kakak perempuan yang dia cintai dengan tulus. Kue itu memiliki dua tingkat, sehingga kue tersebut habis dibagi untuk teman-temannya.

Musim semi, ketika Aria dan Toshio sudah naik ke kelas IV.

Mereka berangkat ke sekolah dengan perasaan yang begitu bahagia, melebihi biasanya. Mereka benar-benar bahagia karena mereka bersyukur kepada Tuhan atas semua bantuan yang Dia berikan untuk menyelesaikan masalah mereka. Ketika Aria dan Toshio mencari-cari kelas baru di sekeliling koridor, mereka menemukan nama mereka di kelas IV-2. Mereka berdua sekelas kembali dengan Himeko, selaku sahabat mereka. Kyouji dan Kyoko terpisah di kelas IV-3 dan IV-1. Bunga sakura yang berguguran mengingatkan Aria dan Toshio akan kebaikan saudara sepupu mereka, yang mau membuatkan gelang dari kuntum bunga sakura sebagai tanda kesetiaan mereka pada seluruh keluarga. Mereka memakai gelang itu sebagai gantungan tas sekolah mereka.

"Hai!" sapa Satsuki, seorang teman yang dimaafkan oleh Toshio.

"Hai juga!" ujar Toshio, "Kita sekelas lagi, ya!"

"Betul sekali, Toshio-kun!" kata Satsuki.

Ketika bel masuk berbunyi, mereka segera memasuki kelas. Aria dan Toshio memutuskan untuk duduk di bangku yang terdepan pada barisan kedua. Meja tersebut membuat mereka nyaman dan mereka bisa memahami pelajaran. Masalah teman sekelas, sebagian besar teman mereka adalah sahabat mereka sendiri ketika pertama kali masuk SD Fukuhara Ryushi 06. "Lama tak berjumpa, Aria-chan! Toshio-chan!" sapa mereka.

Aku bersyukur kepada Tuhan, karena perubahan mereka membawa dampak bagi kelas baru yang mereka tempati. Hijikata-san juga, dia terus berusaha demi Shinsengumi dan demi keluarga ini. Sebagai Oni-Fukuchou pada Shinsengumi yang dipercaya oleh pemerintah Zaman Heisei, dia terus melaksanakan tugasnya. Aku mendapat kabar yang mengejutkan sekaligus membanggakan ... ketika Aria diangkat sebagai ketua kelas IV-2 melalui hasil pemungutan suara oleh kelasnya. Dia berusaha untuk menjadi seorang penyabar dalam menghadapi kelasnya.

Sepulang sekolah, Aria terlihat tidak kuat. Entah mengapa, aku harus membuatnya lebih sabar dalam menghadapi suatu hal yang menimpa dirinya. Aku punya firasat bahwa Aria sudah mengalami tanda-tanda pubertas dari seorang perempuan pada umumnya.

"Kenapa, sayang ...?" tanyaku.

"Lihat wajahku, ibu," perintah Aria.

"Oh ... sepertinya wajahmu penuh dengan bintik-bintik yang disebut ... jerawat, Aria," aku menatap wajah Aria dengan jelas.

"Kakak ... itulah tandanya, bahwa kakak sudah besar ...," kata Toshio, menyemangati Aria.

"Tapi, aku nggak percaya diri dengan wajahku yang seperti itu ...!" Aria mulai ngambek.

"Tenang, Aria ... akan ibu sediakan obat pembersih jerawat untukmu, gadis kecilku yang manis ...," aku tertawa kecil.

"Benarkah!?" ujar Aria, "Hore ... jerawatku akan hilang!"

"Benar, sayang ... pakailah secara teratur untuk menghilangkan jerawatmu," kataku.

"Hahaha ... untukku juga, ya! Biasanya, cowok juga jerawat karena hormon ... begitu kata guru-guru di sekolah ...," Toshio tertawa pelan.

"Toshio!" Aria tertawa melihat tingkah adiknya itu.

Kami tertawa bersama hingga Hijikata-san menghampiri kami dengan tatapan 'ingin tertawa padahal penting untuk dibicarakan'. Pasti dia tahu, bahwa kami membicarakan tentang jerawat. Menurut guru-guru di sekolah, jerawat disebabkan oleh hormon-hormon yang ada pada remaja, bahkan pada saat pubertas seperti mereka berdua. Sebagian besar remaja menyangka, bahwa jerawat adalah perusak suasana pada diri mereka. Ternyata, itu salah ... inilah pelajaran berharga bagi mereka untuk segera mentaati tata krama dalam berdandan untuk menunjukkan diri kepada lawan jenis agar mereka menyukainya.

"Boleh dibilang sebagai perusak suasana pada wajah remaja, tapi berarti ... itulah jerawat," gumam Hijikata-san ketika duduk di sampingku.

"Kau benar, Hijikata-san. Seharusnya mereka dalam keadaan biasa saja ketika melihat seseorang maupun sesuatu yang mereka sukai. Itulah remaja yang sesungguhnya, meskipun harus diajarkan bagaimana harus mengendalikan apapun dalam diri mereka," jelasku.

"Tunggu, Chizuru ...," Hijikata-san menatap Aria, "Rambut Aria, sudah semakin panjang ... melebihi panjang rambutku yang dulu. Dia harus potong rambut agar terlihat lebih dewasa di depan teman-temannya."

"Hijikata-san ...," aku tertawa kecil, "Tampang apapun jangan dipermasalahkan ... dia akan cantik apa adanya ..."

"Aku mengerti, Chizuru ...," Hijikata-san juga tertawa kecil.

"Aku ingin potong rambut, ayah, ibu ...," ujar Aria, "Rambutku mau dipotong hingga panjangnya sampai bawah pundakku!"

"Aria setuju akan keputusanmu, Hijikata-san ...," kataku.

Kemudian, ketika akhir pekan sudah di depan mata ... aku mengantarnya ke sebuah salon untuk memotong rambutnya. Setelah dipotong sesuai keinginannya; yaitu dengan panjang rambut sampai bawah pundak ... dia mulai mengekspresikan dirinya dengan berfoto narsis menggunakan handphone-nya. Hehehe ... aku hanya tertawa kecil melihat kebiasaan remaja zaman sekarang, berfoto untuk menunjukkan dirinya ke hadapan orang banyak. Rambutnya mirip denganku, sebelum rambutku panjang sampai ke bawah dadaku.

"Kakak ... terlihat dewasa setelah potong rambut ...," Toshio berdecak kagum ketika melihat Aria.

"Tapi aku juga senang ketika rambutku panjang lagi, karena teringat suatu kenangan ketika aku terlihat lebih lucu ... dan menggemaskan ...!" ujar Aria, "Karena rambutku sudah pendek hingga bawah pundakku, pasti masih bisa diikat lagi."

"Lucunya ... anak ayah ...!" Hijikata-san mulai mencubit kedua belah pipi Aria.

Kami berempat tertawa bersama sambil menonton sebuah acara inspiratif pada televisi. Setelah itu, kami segera mandi sore dan makan malam. Kemudian, kami tertidur pulas pada malam harinya.

Keesokan harinya, kami menikmati akhir pekan bersama Keluarga Otsuka sesuai dengan kesepakatan kami dengan Osen-chan dengan suaminya, Otsuka Tatsuki. Kami berangkat ke suatu tempat yang dapat menampung beberapa remaja yang tidak dalam keadaan biasanya. Sebelum itu, Tatsuki-kun menyuruh kami untuk bangun pagi-pagi agar dapat jatah tempat untuk menikmati keindahan alam di sana. Setelah mandi dan sarapan, kami segera bersiap-siap karena kami akan dijemput pada pukul enam pagi.

"Ibu ...," Aria memanggilku.

"Apa, sayang ...?" sapaku.

"Jerawatnya sudah bisa hilang, setelah aku memakai krim penghilang jerawat itu setelah mandi!" ujar Aria.

"Wah ... karena kau memakainya dengan teratur, ibu bangga dengan usahamu, sayang! Kau bisa mencegah jerawat dengan caramu sendiri, dan mentaati nasihat ibu sejak pertama kali jerawat," pujiku kepada Aria.

"Ibu ... biasanya, tidak semua siswi kelas enam yang termasuk kakak kelas di sekolah ... selalu mondar-mandir ke kamar mandi karena hal yang mereka ributkan. Apakah hal itu juga menandakan, bahwa mereka sudah sepenuhnya menjadi gadis?" tanya Aria, sambil membaca sebuah pesan singkat dari kakak kelas yang berada di kelas enam.

"Iya, sayang ... itulah yang dinamakan 'tamu yang datang' untuk perempuan. Tidak semua dari mereka selalu mondar-mandir ke kamar mandi untuk mencegah sesuatu yang keluar dari dalam tubuh mereka. Tamu tersebut merupakan hadiah khusus kepada para perempuan ... karena Tuhan begitu sayang dengan mereka," jelasku.

"Lalu, kapan aku akan mengalaminya?" tanya Aria, ketika aku menyisir rambutnya.

"Sekarang umurmu 10, gadis kecilku yang manis ...!" aku mencubit pipinya, karena ekspresinya begitu menggemaskan, "Entah kapan ... kau akan mengalami hal itu. Menurut suatu paham kepercayaan, itulah awal kedewasaan bagi perempuan."

Setelah kami mengobrol seputar kejadian yang dialami oleh sebagian siswi kelas enam di sekolah, Aria memutuskan untuk berganti pakaian. Dia memakai dress selutut lengan panjang berwarna merah muda dan hitam dengan celana putih panjang dengan motif bunga sakura sebagai bawahannya. Kemudian, aku dan Aria segera keluar dari kamar tidurnya untuk berkumpul bersama Hijkata-san dengan Toshio. Waktu masih menunjukkan pukul 05.49, kami masih bisa menunggu sekitar 10 menit lagi untuk kedatangan keluarga Osen-chan.

"Aria ... sambil menunggu mereka, rambutmu mau diapakan?" tanyaku.

"Terserah ibu saja ...," jawab Aria, sambil membalas pesan singkat dari Himeko.

Aku menyisir rambutnya, kemudian aku memberikan kepangan di sebelah kanan dan kiri rambutnya. Setelah itu, Aria mempercantiknya sendiri dengan pita merah muda dan jepit putih. Lalu, Aria mengambil foto dirinya dengan handphone miliknya, sepertinya ... model itu pas untuknya. Ketika Osen-chan datang, kami segera menaiki mobil keluarga Otsuka.

"Aria ... kamu lucu!" Osen-chan menyentil pipi Aria.

"Osen-chan ... sepertinya dia sudah cukup dewasa untuk menghadapi berbagai masalah, tidak seperti dulu lagi ...," kataku kepada Osen-chan.

"Benarkah?" ujar Osen-chan, "Aku senang melihat Aria ... yang kembali merasa bahagia!"

"Aria-chan ... sini, deh!" ujar Himeko, memanggil Aria.

"Ibu ...," pinta Aria, "Bolehkah aku pindah ke tempat Hime-chan?"

"Boleh ...," aku mengizinkannya, Aria segera memindahkan posisinya ke sebelah Himeko.

"Chizuru-chan ... sepertinya Aria dan Himeko memang akrab, ya ...," kata Osen-chan, "Sejak kelas satu, para guru pasti mengira bahwa kalau ada Himeko, pasti di sampingnya selalu ada Aria ..."

"Iya ... aku sempat tertawa ketika Katayama-sensei ikut membicarakan itu ...," aku tertawa kecil.

Dalam perjalanan, mereka berdua saling mengobrol tentang keseharian mereka. Sementara Hijikata-san dengan Toshio mengobrol tentang kedewasaan. Mereka menyimpulkan bahwa perempuan lebih cepat mengalami masa kedewasaan daripada laki-laki. Menurut pandangan mereka berdua, Aria dan Himeko sedang berbagi cerita mengenai hal-hal tentang kedewasaan mereka karena diri mereka sendiri sudah besar.

"Fukuchou, memangnya enak punya anak bandel!" canda Tatsuki-kun.

Kami tertawa lepas ketika Tatsuki-kun bercanda. Bahkan Himeko yang tak bisa menahan tawa langsung memegang pundak Aria. Aku hanya tertawa sambil membalas pesan singkat dari Kaoru. Sementara Aria ... dia masih merapikan kepangan rambutnya yang kendor. Tampaknya ... dia agak sedikit kesulitan setelah ikut tertawa dengan kami.

"Aria-chan ... pasti kau agak kesusahan ketika merapikan kepanganmu yang kendor," kata Himeko, "Sini kubantu .."

"Ah ... terima kasih, Hime-chan ...," kata Aria, dia senang setelah Himeko menawarkan bantuan untuknya.

Sesampainya di suatu tempat yang dimaksud oleh Tatsuki-kun, kami langsung mempelajari seluruh hal yang ada di tempat itu. Ya ... inilah penampungan remaja yang masih tergolong sebagai 'berkebutuhan khusus'. Mereka pasti ada yang terkena gangguan jiwa maupun keterbelakangan mental. Ketika kakak Himeko yang masih berumur 13 tahun, Otsuka Hanayo datang ...

"Himeko! Aria! Aku datang!" ujarnya, sambil menyambut kami.

"Hana-neechan!" sambut Himeko kepada kakaknya.

"Hanayo-senpai, lama tidak berjumpa!" seru Aria.

Di tempat Hanayo bertugas bersama seluruh pengurus OSIS SMP Negeri Tokyo 10, kami diceritakan mengenai kehidupan para remaja yang terdapat di penampungan itu. Mereka begitu berhak dikasihani, padahal mereka bisa mengasihani mereka sendiri. Meskipun ada kekurangan di balik mental mereka, mereka juga memiliki kelebihan yang luar biasa. Salah satunya; beberapa mantan anggota dalam penampungan itu yang masuk ke berbagai sekolah maupun perguruan tinggi unggulan di Jepang.

Aku harap, ketika mereka remaja ... mereka bisa melampaui kekuatan mereka dalam menghadapi suatu masalah.