KISEKI NO SEDAI NO KOI MONOGATARI
Disclaimer: Kuroko no Basuke – Fujimaki, Tadatoshi
Pairing: Midorima Shintarou x OC (Amano Kasumi)
Warning : Agak OOC
.
.
.
Chapter 3 : The Shooter's Love Story
'Dia ada lagi...' Batin sosok berkacamata berambut hijau yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya dibalik buku yang dipegangnya. Saat ini dia sedang mengamati (secara diam-diam tentunya) sesosok gadis manis berambut coklat sebahu yang terlihat lebih dewasa darinya yang sedang membaca novel dibangku pojok perpustakaan kota.
"Mengamatinya lagi eh, Shin-chan?" Goda partnernya yang berambut hitam, Takao.
"Diamlah Takao, aku tidak sedang mengamatinya-nanodayo." Kata Midorima sambil membetulkan letak kacamatanya. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona malu karena ketahuan memperhatikan gadis yang bahkan dia tidak tahu namanya tersebut.
"Chee... Dasar tsundere... Kapan kau bisa mendapatkannya kalau kau tidak berusaha mendekatinya dan hanya memandangnya dari jauh seperti itu?" Cibir Takao.
"Sudah kubilang aku tidak menyukainya-nanodayo!"
"Eh? Aku tidak pernah bilang bahwa kau menyukainya loh, Shin-chan..." Kata Takao yang saat ini semakin senang menggodanya. Mendengar itu Midorimapun semakin terpojok.
"Ukh, terserah kau saja! Memang lebih baik aku tidak kemari denganmu-nanodayo!"
"Hee... Ini sudah keberapa kalinya kau bilang begitu ya Shin-chan? Tapi pada akhirnya kau tetap mengajakku, hahahaha!" Tawa Takao.
"Urusai Takao-nodayo!" Kata Midorima keras dengan wajah memerah sambil berdiri dari kursinya, dan "Ssst!" Kata para pengunjung perpustakaan yang lain sambil menatap kearah mereka.
"Ups... Sumimasen..." Kata Takao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal disertai cengiran bodohnya, sementara Midorima kembali duduk dikursinya sambil membenarkan kembali letak kacamatanya. Tanpa sengaja Midorima melihat gadis itu sedang menatap kearahnya dan Takao lalu dia tertawa kecil, sehingga membuat pipi Midorima kembali merona dan berusaha mengalihkan pandangannya.
Sudah beberapa minggu ini setiap Sabtu dan Minggu ataupun saat tidak ada latihan basket Midorima menjadi rajin ke perpustakaan kota dengan berbagai alasan, entah mengerjakan tugas, mencari buku, dan sebagainya, padahal tujuan utamanya hanyalah melihat gadis tersebut. Dia sendiri tidak mengerti, padahal dia belum pernah berbicara dengan gadis itu sekalipun, bahkan namanyapun dia tidak tahu, tapi entah kenapa ada hal yang membuatnya tertarik dengan gadis tersebut, tapi bodohnya dia tidak berusaha mencari tahu, baginya menatap gadis itu saja sudah cukup.
.
.
.
Minggu ini seperti biasa Midorima mengunjungi perpustakaan kota, namun bedanya kali ini Takao tidak bersamanya, kejadian beberapa hari yang lalu sudah cukup membuat Midorima kapok membawa Takao bersamanya, lagipula menurut ramalan Oha Asa, hari ini Cancer harus berhati-hati dengan Scorpio, karena Scorpio akan membuat Cancer kerepotan. Karena itulah dia tidak ingin bersama Takao untuk hari ini, walaupun dia sekarang agak kerepotan karena tidak ada 'budak' yang selalu membonceng sepeda(gerobak)nya. Diapun memasuki perpustakaan, namun orang-orang langsung menatapnya dengan pandangan aneh karena dia membawa-bawa lucky itemnya hari ini, yaitu boneka anak ayam berwarna kuning (Piyo-chan) dengan ukuran yang cukup besar. Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang diapun pergi menuju rak buku yang berisi ramalan-ramalan dan mitos-mitos.
Saat sedang mencari buku yang menurutnya menarik, pandangannya teralihkan oleh sesosok gadis yang rupanya menarik perhatiannya beberapa minggu ini dan saat ini dia sedang berusaha menggapai buku di susunan rak yang cukup tinggi. Melihat itupun Midorima menghampirinya.
"Nghh... Sedikit lagi..." Desis gadis itu sambil berusaha menggapai buku tersebut, bahkan dia sampai berjinjit, namun tetap saja tidak sampai.
'Kenapa tinggi sekali sih? Atau aku yang kurang tinggi?' Batin gadis itu kesal. Diapun masih berusaha mengambilnya dan 'cetit' tiba-tiba kakinya terasa sakit dan diapun kehilangan keseimbangan hingga nyaris terjatuh jika tidak ada Midorima yang menangkapnya, sehingga saat ini tubuh sang gadis bersandar pada tubuh Midorima.
"Kau tidak apa-apa-nanodayo?" Tanya Midorima. Sang gadis yang masih agak 'shock' itu hanya menganggukan kepalanya.
"Baguslah. Kau mau buku yang mana? Biar kuambilkan-nanodayo." Kata Midorima lagi.
"Ah... Sebelum itu..." Kata sang gadis. Dan Midorimapun baru sadar, bahwa posisi mereka masih sama dengan tangan Midorima yang memegang pundak gadis tersebut.
"Hu-hua! Maaf-nanodayo!" Kata Midorima kaget sekaligus malu. Diapun langsung melepaskan tangannya dan menjauh dari gadis tersebut.
"Eh? Tidak perlu minta maaf ko'. Aku yang harusnya berterima kasih, kalau kau tidak menangkapku pasti aku sudah terjatuh tadi... Hahaha..." Kata gadis itu lagi disertai tawa kecil dengan pipi yang agak merona, melihat itupun jantung Midorima menjadi berdebar lebih cepat.
"Su-sudahlah-nanodayo. Jadi, buku mana yang kau mau?" Tanya Midorima lagi sambil mengalihkan pandangannya.
"Ah, buku dengan judul 'Tanaman Herbal' itu. Tolong ya..." Jawab sang gadis sambil menunjuk buku yang dia inginkan tersebut. Dan Midorimapun segera mengambilkannya lalu memberikannya pada gadis tersebut.
"Ini."
"Terimakasih!" Kata gadis itu disertai senyumnya, sementara Midorima hanya mengangguk sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah.
"Mau duduk bersama?" Tawar gadis tersebut yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan oleh Midorima.
.
.
.
"Ngomong-ngomong namamu siapa? Aku sering melihatmu kemari..." Tanya gadis itu setelah mereka selesai membaca.
"Midorima Shintarou, 16 tahun, kelas 1 SMA Shuutoku-nanodayo." Jawab Midorima lengkap.
"Eeh? Kau masih kelas 1 SMA?! Kau tinggi sekali, jadi tidak kelihatan seperti anak SMA..." Kata gadis itu kaget. "Ah iya, aku Amano Kasumi, 22 tahun, saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan S2-ku di jurusan keperawatan..." Lanjut Kasumi seraya memperkenalkan dirinya.
'Ternyata dia memang lebih tua dariku-nanodayo.' Batin Midorima.
"Kau sekarang sendiri? Biasanya kau terlihat bersama temanmu yang berambut hitam itu, Midorima-kun?" Tanya Kasumi.
"Takao? Hari ini aku tidak bersamanya, karena dia bilang ada urusan lain." Jawab Midorima 'sedikit' berbohong.
"Jadi namanya Takao? Kalian akrab sekali ya..."
"I-itu tidak benar-nanodayo." Sangkal Midorima sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Hihi... Midorima-kun lucu ya..." Kata Kasumi diiringi tawa kecil, mendengar itu wajah Midorimapun memerah lagi. "Oh iya, daritadi aku penasaran..." Kata Kasumi lagi. "Itu apa?" Lanjutnya sambil menunjuk boneka Piyo-chan ukuran besar itu. Sebetulnya dia sering melihatnya membawa benda-benda yang agak err... Aneh? Hanya saja baru kali ini dia berani menanyakannya.
"Ini Piyo-chan, lucky item-ku hari ini-nanodayo." Jawab Midorima singkat dan jelas.
"Lu-lucky item?! Kau percaya ramalan?!" Kata Kasumi kaget disertai sweatdrop.
"Tidak semua. Hanya Oha Asa yang aku percaya karena ramalannya tidak pernah salah." Jawab Midorima lagi.
"Ahaha... Souka..." Kata Kasumi disertai tawa garing.
"Apa Amano-san tidak percaya ramalan?" Tanya Midorima balik.
"Panggil Kasumi saja... Hmm, bukannya tidak percaya sih... Aku suka ramalan, hanya saja tidak begitu menganggapnya serius... Just for fun." Jawab Kasumi.
"Begitukah... Kalau boleh tahu, apa zodiak dan golongan darahmu-nanodayo?"
"Aku Pisces dan golongan darahku O." Jawab Kasumi.
"Pisces kah? Hari ini dia berada diurutan kelima, dan lucky itemnya adalah saputangan berwarna kuning." Kata Midorima.
"Eh? Benarkah? Mungkin ini bisa jadi hari yang bagus, hahaha."
"Tapi ramalan itu tidak akan bekerja kalau kau tidak mempercayainya-nanodayo."
"Fufu... Midorima-kun benar-benar mempercayai ramalan ya? Manisnya~" Goda Kasumi.
"Ja-jangan menggodaku begitu-nanodayo!"
"Ah, mukamu merah... hahaha." Tawa Kasumi. Dan mereka berduapun terus mengobrol hingga langit mulai berubah warna menjadi kemerahan.
"Wah, sudah jam segini ya? Aku harus pulang..." Kata Kasumi. Mereka berduapun keluar dari gedung perpustakaan tersebut.
"A-ano... Kasumi-san." Panggil Midorima sesampainya di pintu keluar. "Apa kita bisa bertemu lagi nanti?"
"Tentu saja! Aku biasanya kemari setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Midorima-kun bagaimana?"
"Aku hanya bisa kemari setiap Kamis, Sabtu, dan Minggu-nanodayo. Karena di hari selain itu aku ada latihan basket-nanodayo."
"Wah... Ternyata kau ikut basket? Pantas saja badanmu tinggi... Hmm, bagaimana jika kita bertukar alamat e-mail saja, agar bisa janjian untuk bertemu?"
"A-apa tidak apa-apa-nanodayo?" Kata Midorima kaget sekaligus senang.
"Haha, tentu saja tidak apa-apa!"
"Ba-baiklah kalau begitu-nanodayo."
Mereka berduapun saling bertukar alamat e-mail dan berpisah, tanpa disadari Midorima tersenyum tipis.
"Oha Asa memang tidak pernah salah-nanodayo. Ini hari keberuntunganku." Kata Midorima pelan.
.
.
.
Setelah kejadian itu Midorima dan Kasumi hampir setiap hari saling berkirim e-mail, walaupun Midorima hanya menjawabnya dengan singkat (e-mail terpanjangnya hanya berisi ramalan Oha Asa), tidak jarang mereka bertemu jika sedang senggang, baik hanya untuk berjalan-jalan atau mengobrol mengenai ramalan dan kegiatan mereka seminggu ini, sifat ramah dan dewasa Kasumi benar-benar membuat Midorima nyaman bersamanya. Hari inipun mereka berjanji untuk bertemu di kafe kecil dekat taman kota. Namun sepertinya kali ini Kasumi terlambat.
"Midorima-kun! Maaf lama menunggu!" Sapa Kasumi. Hari ini dia terlihat cantik dan dewasa dengan kemeja putih berpita merah yang dipadukan dengan blazer kremnya yang panjang lengannya hanya mencapai sikunya dan rok span hitam selutut untuk bawahannya, rambutnya yang berwarna coklat sebahu itu ia biarkan tergerai begitu saja. Midorima hanya bisa terpaku melihat Kasumi yang seperti itu.
"Midorima-kun?" Panggil Kasumi sambil menggerakan tangannya didepan wajah Midorima.
"A-ah, maaf-nanodayo. Kau darimana dulu Kasumi-san?" Kata Midorima setelah tersadar dari lamunannya.
"Aku bertemu dengan seseorang dulu... Maaf ya, kau jadi lama menunggu..." Sesal Kasumi.
'Seseorang?' Batin Midorima. Entah kenapa ada perasaan tidak enak dihatinya. Namun Midorima memilih untuk mengabaikan perasaan itu, dan dia juga memilih untuk tidak bertanya lebih jauh siapa 'seseorang' itu, untuk tidak mencampuri privasi Kasumi.
"Tidak apa-apa-nanodayo." Kata Midorima singkat.
"Ngomong-ngomong itu lucky item hari ini?" Tanya Kasumi disertai senyum geli sambil menunjuk boneka katak yang ada disebelah Midorima.
"Iya, ini lucky item-ku, Kerosuke-nanodayo." Jawab Midorima sambil mengangkat Kerosuke dengan sebelah tangannya.
"Pfft, dasar kau ini..." Kata Kasumi sambil menahan tawanya. "Ah iya, kau sudah pesan sesuatu?" Lanjutnya.
"Belum. Aku menunggumu-nanodayo."
"Eeh? Kenapa tidak duluan saja?"
"Lebih baik pesan bersama saja-nanodayo. Aku tidak suka jika pesananku sudah habis duluan sebelum kau datang-nanodayo."
"Hmm... Baiklah ayo pesan." Kata Kasumi akhirnya. Merekapun akhirnya memutuskan pesanan mereka, dan seperti biasa, mereka berbincang-bincang mengenai keseharian mereka dan ramalan-ramalan Oha Asa (ini hanya Midorima yang antusias), hingga tiba-tiba Kasumi mengatakan sesuatu.
"Midorima-kun... Sebetulnya aku sedang bingung..." Kata Kasumi, wajahnya berubah menjadi murung.
"Bingung kenapa-nanodayo?"
"Aku diberi sebuah pilihan yang bisa dibilang pilihan itu sangat menentukan masa depanku... Sejujurnya aku sangat bahagia, tapi aku juga takut. Aku takut salah memilih, dan aku juga takut jika nanti aku tidak bisa menjalani pilihan itu dengan baik." Kata Kasumi lagi. Hening diantara mereka.
"Walaupun aku tidak tahu apa 'pilihan' yang kau maksud itu, tapi menurutku, jika kau memang bahagia kenapa tidak jalani saja pilihan itu? Percaya saja pada apa yang kau pilih. Masalah kau akan menjalaninya dengan baik atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kau sudah berusaha semaksimal mungkin. Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan-nanodayo." Kata Midorima bijak. Mendengar itu Kasumipun tersenyum.
"Fufu, sasuga Midorima-kun... Kau memang dewasa ya..." Puji Kasumi diiringi senyum manisnya.
"U-urusai-nanodayo." Kata Midorima pelan dengan wajah yang merona, dan Kasumi yang melihat itupun tertawa kecil.
"Ah, sudah jam segini, ayo kita pulang?" Ajak Kasumi.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai statsiun-nanodayo." Kata Midorima. Mereka berduapun pergi ke statsiun, tidak lama kemudian kereta pun datang.
"Terimakasih untuk hari ini Midorima-kun, berkatmu aku jadi tidak bingung lagi dan bisa memberikan dia jawaban..." Kata Kasumi riang, diapun berjalan memasuki kereta.
"Sampai ketemu lagi!" Kata Kasumi lagi sambil melambaikan tangannya pada Midorima, yang dibalas dengan lambaian tangan dari Midorima, dan pintu keretapun menutup. Saat ini hanya tinggal Midorima yang menatap kereta yang semakin menjauh itu. Entah kenapa perasaan tidak enak menghampiri hatinya lagi.
.
.
.
"Shin-chan... Kenapa akhir-akhir ini wajahmu kusut begitu? Walaupun biasanya juga dingin sih..." Kata Takao bingung setelah latihan basket selesai. Akhir-akhir ini Midorima terlihat sering menggumam sendiri, atau tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya. Midorima memilih untuk tidak menghiraukan kata-kata temannya itu. Mana mungkin dia menjawab karena dia memiliki firasat tidak enak tentang hubungannya dengan gadis yang (diam-diam)disukainya, bisa-bisa Takao menertawakannya.
"Mungkin karena ramalan zodiaknya sedang buruk?" Timpal senior basket mereka, Kiyoshi Miyaji.
"Itu tidak benar-nanodayo! Cancer selalu menduduki peringkat 5 besar minggu ini-nanodayo!" Kata Midorima. Akhirnya dia angkat bicara juga jika menyangkut zodiaknya.
"Eeeh? Lalu kenapa?" Kata Takao semakin penasaran.
"Bukan urusanmu-nanodayo!"
"Ah iya!" Kata Takao lagi tiba-tiba.
"Apa lagi-nanodayo?!" Kata Midorima kesal.
"Jangan-jangan karena cinta? Kau sering bertemu dengan kakak cantik yang ada di perpustakaan itu kan? Bagaimana progress-nya sekarang?" Kata Takao yang langsung tepat sasaran pada Midorima.
"Apaaa?! Si kepala hijau itu sedang dekat dengan perempuan?! Lebih tua pula?! Kuso! Mati saja kau Midorima! Kimura, berikan aku pineapple!" Kata Miyaji jealous karena merasa keduluan soal perempuan oleh Midorima yang merupakan juniornya.
"U-urusai-nanodayo! Itu bukan urusanmu, dan lagi bagaimana kau tahu aku sering bertemu dengannya?!" Kata Midorima dengan muka merah. Mendengar itu Takaopun semakin senang menggoda Midorima.
"Ah? Berarti benar ya kau sering bertemu dengannya? Soal bagaimana aku tahu kau sering bertemu dengannya itu rahasia!" Jawab Takao. Mana mungkin dia bilang kalau dia diam-diam membaca e-mail masuk di HP Midorima?
"TAKAOOO!" Teriak Midorima.
"Huaaa! Ampun Shin-chan!" Kata Takao sambil berusaha kabur dari Midorima.
Setelah aksi kejar-kejaran(?) antara Takao dan Midorima merekapun pulang. Seperti biasa Takao yang membonceng Midorima menggunakan gerobaknya.
"Oy Shin-chan... Jadi bagaimana hubunganmu dengan kakak cantik itu?" Tanya Takao ditengah perjalanan.
"Namanya Amano Kasumi-nanodayo!"
"Iya-iya, bagaimana hubunganmu dengan Amano-san?" Ulang Takao lagi.
"Biasa saja, tidak ada perkembangan yang berarti-nanodayo." Jawab Midorima singkat.
"Chee... Kau ini benar-benar tidak menarik Shin-chan! Kalau kau memang suka padanya, nyatakan saja! Setidaknya lebih baik menyatakan lalu ditolak, daripada kau pendam sendiri perasaan itu padahal ternyata kalian saling menyukai." Saran Takao.
"...Cih, cara bicaramu itu seperti bukan Takao saja-nanodayo." Kata Midorima dingin sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Eeh?! Padahal aku sedang berusaha bijak! Tapi responmu malah seperti itu! Chee!" Kata Takao kesal yang hanya Midorima abaikan.
'Mungkin Takao benar... Aku harus mengatakannya...' Batin Midorima. Walau seperti itu, sebetulnya Midorima sedang memikirkan kata-kata Takao.
.
.
.
Minggu ini Midorima dan Kasumi berencana untuk bertemu kembali di taman depan perpustakaan kota, karena mereka sudah 2 minggu ini tidak bisa bertemu dikarenakan kesibukan Kasumi. Midorima saat ini sedang bersiap-siap sambil menonton ramalan Oha Asa.
"Yosh... Pagi ini kembali dengan Oha Asa, untuk hari ini, zodiak yang menduduki peringkat pertama adalah... Selamat untuk Cancer! Rencanamu akan berjalan lancar, tapi jangan lupa untuk tetap membawa lucky item-mu ya! Lucky item hari ini adalah sapu tangan berwarna putih... Selanjutnya ada..." Kata suara di televisi. Mendengar itu Midorima tersenyum kecil.
'Keberuntunganku hari ini bagus, aku bisa percaya diri sekarang.' Batin Midorima. Lalu diapun berangkat menuju tempat janjian mereka setelah berpamitan dengan orang rumah. Sebetulnya mereka berjanji untuk bertemu pukul 10, namun Midorima pikir lebih cepat lebih baik. Setelah setengah jam Midorima menunggu, akhirnya sosok yang ditunggunyapun tiba.
"Midorima-kun? Kau cepat sekali..." Kata Kasumi sambil tersenyum.
"Tidak, aku baru tiba 10 menit yang lalu ko'-nanodayo." Kata Midorima berbohong.
"Sebetulnya ada yang ingin aku bicarakan." Kata Kasumi dengan pipi yang agak merona.
"Aku juga-nanodayo." Kata Midorima singkat.
"A-aku..." Kata keduanya bersamaan.
"Eh? Midorima-kun saja duluan." Kata Kasumi.
"Tidak, Kasumi-san saja duluan-nanodayo."
"Tidak, Midorima-kun saja!"
"Ladies first-nanodayo." Kata Midorima lagi.
"Mou baiklah..." Kata Kasumi menyerah. "Ng... Midorima-kun... Sebetulnya aku..." Kasumi menggantungkan ucapannya, sehingga membuat Midorima berdebar-debar penasaran.
"AKU AKAN MENIKAH BULAN DEPAN!" Lanjut Kasumi riang, tidak lupa dengan senyum yang menghiasi wajahnya, tanpa ia sadari didepannya ada pemuda yang saat ini hatinya sedang hancur.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
"A-ah, begitukah? Selamat, kuharap kau bahagia-nanodayo." Kata Midorima dengan senyum kecil yang dipaksakan, padahal saat ini hatinya sangat sakit. Mendengar itu Kasumi tersenyum dan memeluk Midorima. Pelukan seorang sahabat, atau kakak pada adiknya? Entahlah, yang manapun sama saja, tetap tidak mengubah rasa sakit dihati Midorima.
"Terimakasih Midorima-kun... Ini semua berkat kau..." Bisik Kasumi, lalu ia melepas pelukannya dan memandang wajah bingung Midorima.
"Kau ingat kan waktu itu aku mengatakan sesuatu tentang 'pilihan'? Saat itu aku bingung akan menerima lamaran pacarku atau tidak, walaupun kami sudah lama bersama... Tapi berkat kata-katamu aku jadi memiliki keberanian untuk menerima lamarannya..." Jelas Kasumi, dan berkat itu Midorima semakin meratapi nasibnya sekarang.
'Bodohnya aku...' Batin Midorima.
"Ini undangannya, kuharap kau datang ya Midorima-kun..." Kata Kasumi sambil menyerahkan undangan berwarna putih. Yang sebetulnya sangat ingin Midorima robek-robek sekarang juga, tapi tidak mungkin kan?
"Terimakasih-nanodayo, aku pasti datang." Kata Midorima sambil menerima undangan itu.
"Oh iya, ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan Midorima-kun?" Tanya Kasumi.
"Tidak, aku tidak ingin mengatakan cerita kelamku, karena kau sedang berbahagia sekarang-nanodayo." Jawab Midorima.
"Eh? Kenapa? Kau sudah kuanggap sebagai adik, jadi tidak masalah, ceritakan saja..."
SKAK MAT! Midorima mati... Dia merasa seperti ada panah besar kasat mata yang menusuk tepat dijantungnya sekarang.
'Adik... Adik... ADIIIK!' Kata-kata itu sekarang terus berulang dibenaknya. Aura hitam mengelilinginya sekarang.
"Midorima-kun?" Panggil Kasumi karena dia bingung Midorima mendadak diam saja.
"... Sebetulnya aku sedang menyukai seorang gadis, namun aku ditolak sebelum menyatakan perasaanku karena ternyata dia sudah punya kekasih..." Kata Midorima akhirnya.
"Eh?! Begitukah?! Sabar ya Midorima-kun, aku yakin masih banyak gadis baik yang mau bersamamu... Aku akan mendukungmu..." Kata Kasumi simpatik sambil menepuk bahu Midorima.
'Itu kauuu!' Teriak Midorima dalam hati.
"... Iya, aku sudah tidak apa-apa-nanodayo..." Kata Midorima 1000% bohong(?), rasanya dia ingin menangis sekarang, tapi sekali lagi, itu tidak mungkin. Tiba-tiba HP Kasumi berbunyi.
"Ah, moshi-moshi Satou-kun? Ada apa? Eh?! Sekarang?! Ukh... Baiklah, tunggu ya..." Kata Kasumi. Lalu dia mematikan HP-nya.
'Pasti dari calon suaminya, mengenai pernikahan mereka...' Batin Midorima.
"Gomennasai Midorima-kun... Aku harus segera pergi sekarang, ada urusan mendadak..." Kata Kasumi pada Midorima dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa-nanodayo, aku juga ada urusan lain, maaf kali ini sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai statsiun-nanodayo." Kata Midorima.
"Un! Baiklah, sampai nanti Midorima-kun! Kutunggu kedatanganmu ya!" Kata Kasumi ceria, lalu ia melambaikan tangannya pada Midorima dan meninggalkannya. Sementara Midorima saat ini hanya menatap punggung Kasumi yang menjauh. Tanpa sadar dia meremas undangan yang diberikan Kasumi itu, dan air matanya mulai menetes, namun segera ia hapus menggunakan sapu tangan putih lucky itemnya hari ini.
'Ternyata Oha Asa bisa salah juga-nanodayo...' Batinnya.
END
Omake:
Midorima memencet beberapa tombol dan terdengarlah bunyi ringtone dari HP si pemilik yang berada ditempat lain.
"Ng? Moshi-moshi, Shin-chan? Ada apa?" Kata si pemilik suara, Takao.
"Jemput aku disini sekarang juga. Kutunggu dalam waktu 5 menit!" Perintah Midorima.
"Eh?! Tunggu! Kenapa tiba-ti-PIIP-" Belum selesai Takao menyelesaikan ucapannya, Midorima sudah memutuskan panggilannya.
5 menit kemudian
"Ck... Ini sudah 5 menit 10 detik-nanodayo... Dia kemana sih?" Gerutu Midorima sambil melihat jam tangannya. Tiba-tiba terdengar bunyi e-mail masuk di HP-nya yang berasal dari Takao, yang berisi:
From: Takao_Kazunari
Subject: -
'Disini' itu dimana Shin-chan?
(Benar-benar) END
Author's note:
Oke sip, ini benar-benar gaje... "=,=
Buat penggemarnya Midorima, maaf ya Midorima aku bikin patah hati disini... Gomennasai~! *sujud(?)*
Baiklah, terimakasih banyak buat yang sudah baca, kalau bisa tinggalkan review ya... xD Dan jangan lupa buat baca fic-nya otouto-ku dengan penname The Sirius of Black Daria, oke? :3
Last, mind to Review please? *make emperor eyesnya Akashi* #dzigh
