KISEKI NO SEDAI NO KOI MONOGATARI

Disclaimer: Kuroko no Basuke – Fujimaki, Tadatoshi

Pairing: Aomine Daiki x OC (Satou Meiko)

Warning : Agak OOC

.

.

.

Chapter 5: The Blue Sky

"Hajimemashite, Satou Meiko desu. Douzo yoroshiku onegaishimasu..." Kata seorang gadis bersurai putih panjang dan bermata ruby seraya membungkukan badannya dihadapan teman-teman barunya.

"Satou-san seharusnya masuk semenjak 3 bulan yang lalu, namun karena alasan pribadi, dia baru bisa begabung dengan kita sekarang." Jelas wali kelasnya, murid-muridpun mengangguk tanda mengerti. "Nah, Satou-san, silahkan duduk disamping Aomine-san… Aomine-san, tolong angkat tanganmu!" Panggil sang wali kelas, namun tidak ada jawaban dari si surai dark blue, sehingga wajah wali kelasnyapun berubah menjadi sangat kesal.

"Su-sumimasen, A-Aomine-san… Sensei memanggilmu…" Kata Ryo Sakurai berusaha membangunkan teman sekelasnya yang saat ini kesadarannya entah dimana. Sehingga akhirnya si surai dark blue membuka matanya dengan malas.

"Hoahm… Nanda yo Ryo?" Kata Aomine dengan wajah tanpa dosa, tanpa dia sadari saat ini wali kelasnya menatap dengan pandangan membunuh.

"A-O-MI-NE-SAN. Istirahat nanti, temui saya diruang guru." Kata wali kelasnya dengan senyuman iblis.

"Chee… Mendokusai…" Gerutu Aomine.

"Nah Satou-san, tempat dudukmu disebelahnya ya.." Lanjut sang wali kelas pada Meiko.

"Baik sensei." Jawab Meiko, diapun berjalan menuju bangku disebelah Aomine, dan tidak lupa memberikan Aomine senyum simpul saat mata mereka bertemu. Dan pelajaranpun dimulai…

.

.

.

Atap sekolah merupakan tempat kesukaan Aomine, selain tenang dan sejuk, dia juga bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan siapapun (kecuali saat Momoi menemuinya untuk memarahi karena dia bolos latihan basket). Namun kali ini berbeda, dia mendengar suara nyanyian seseorang, sehingga membuat matanya yang tadi terpejam menjadi terbuka. Diapun bangkit dari tidurnya dan melihat ke sumber suara.

"Sedang apa kau? Konser?" Kata Aomine dengan nada malas. Mendengar ada yang berbicara padanya, gadis itupun melihat kearah Aomine.

"Ah… Maaf, aku pikir tidak ada orang, apa aku mengganggu, Aomine-san?" Tanya gadis yang ternyata murid baru dikelas Aomine, Satou Meiko.

"Hoahm… Tidak juga… Ngomong-ngomong kau siapa?" Kata Aomine sambil menguap malas.

"Aku murid pindahan dikelasmu, dan aku juga duduk disebelahmu. Satou Meiko…" Meikopun memperkenalkan dirinya sekali lagi.

"Eh? Begitu ya? Jadi tadi ada murid pindahan…" Kata Aomine dengan tampang bodohnya. Mendengar itu Meiko hanya bisa sweatdrop sambil tertawa kecil.

"Pfft… Cobalah untuk mengingat teman sekelasmu Aomine-san…" Saran Meiko sambil tertawa geli. Melihat dirinya ditertawakan, Aomine pun memalingkan wajahnya yang agak memerah dan menggaruk surai dark blue-nya yang tidak gatal.

"Chee… Mendokusai…" Gumam Aomine pelan. "Ngomong-ngomong kenapa kau disini?" Tanya Aomine.

"Eh? Tidak boleh?" Kata Meiko balik bertanya.

"Bukan begitu… Ck, sudahlah, jawab saja…"

"Ng… Aku baru disini, dan belum punya teman, lagipula aku suka tempat tinggi dan melihat langit, jadi aku kemari…"

"Hmm…"

"Aomine-san juga, kenapa disini?"

"… Tidur…" Jawab Aomine pendek.

"Hee?"

"Kenapa?"

"Tidak… Tidak apa-apa… Memangnya Aomine-san tidak ada kegiatan lain? Makan siang bersama teman misalnya?"

"Ha? Kau pikir aku anak SD yang suka makan siang bersama temannya?"

"Tapi biasanya hal itu sering dilakukan disekolah saat istirahat kan?"

"Masa? Aku tidak…" Hening diantara mereka. "Kau sendiri tidak makan siang?" Tanya Aomine akhirnya.

"Umm… Aku bawa bekal sih… Tapi entah kenapa aku tidak berselera memakannya…" Jawab Meiko dengan senyum yang agak dipaksakan.

"Kalau begitu untukku saja…" Kata Aomine main-main.

"Eh? Silahkan kalau kau mau…" Meikopun memberikan bekalnya pada Aomine.

"O-oy! Aku hanya bercanda!" Kata Aomine bingung.

"Eh? Tidak apa-apa ko'… Daripada tidak kumakan…" Kata Meiko sambil tetap menyodorkan bekalnya.

"Ck… Yasudah kalau kau memaksa…" Kata Aomine menyerah. Diapun mengambil bekal itu dan mulai memakannya, sementara Meiko hanya memperhatikan Aomine tanpa berkedip.

"Oy, kenapa menatapku begitu?!" Kata Aomine tidak nyaman dipandangi seperti itu oleh Meiko.

"Eh? Ng… Tidak… Bukan apa-apa… Anak laki-laki itu makannya cepat ya…" Kata Meiko polos.

"Haaah? Kau berkata seolah-olah kau tidak pernah punya teman laki-laki saja…" Kata Aomine heran.

"Memang tidak punya." Kata Meiko lagi. "Sejak dulu, aku sering tidak masuk sekolah, jadi aku tidak punya teman dekat, apalagi dengan lawan jenis…" Jelas Meiko.

"Hoo…" Kata Aomine, diapun melanjutkan makannya. "Ngomong-ngomong…"

"Ng?"

"Ini, makanlah!" Kata Aomine sambil menyodorkan sepotong sosis pada Meiko.

"Eh? Aku tidak-" Belum selesai Meiko berbicara, Aomine sudah menjejalkan sosis tersebut kemulut Meiko, sehingga mau tidak mau Meiko memakannya.

"Mou… Aomine-san…" Gerutu Meiko sambil mengunyah sosis tersebut.

"Hmph! Kau harus banyak makan! Lihat tubuhmu kurus begitu! Laki-laki tidak suka dengan perempuan yang terlalu kurus!" Kata Aomine cuek dengan tawa kecil. Mendengar itu Meikopun ikut tertawa.

"Pfft… Jadi Aomine-san mempedulikanku? Baiknya…" Kata Meiko disertai tawanya.

"Bukan begitu baka!" Kata Aomine lagi dengan pipi yang agak memerah. Melihat itu Meikopun tertawa semakin keras.

"Hoy! Hentikan tawamu itu!" Perintah Aomine yang diabaikan oleh Meiko. Namun tiba-tiba pintu atap sekolah terbuka, menunjukan surai merah muda yang melangkah menuju mereka berdua.

"Ternyata benar kau disini Aomine-kun!" Kata Momoi sambil berkacak pinggang, Aomine dan Meiko pun melihat kearah Momoi.

"Ah… Ada apa Satsuki?" Kata Aomine pada teman kecilnya itu.

"Hanya ingin mengigatkan sore ini kita ada latihan, jangan bolos ya!" Kata Momoi lagi.

"Ha'iHa'i…" Jawab Aomine malas. Pandangan Momoipun beralih pada gadis bersurai putih disebelah Aomine yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.

"Dia siapa Aomine-kun? Kau tidak melakukan hal aneh padanya kan?" Bisik Momoi curiga pada Aomine.

"Haaah? Apa maksudmu Satsuki?! Mana mungkin kan?!" Kata Aomine agak tersinggung dengan pertanyaan Momoi.

"Habis kau kan mesum…" Cibir Momoi, sehingga membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Aomine.

"Ng… Ano… Kalian pacaran?" Tanya Meiko blak-blakkan karena melihat kedekatan Aomine dan Momoi.

"HAAAH?! MANA MUNGKIN AKU PACARAN DENGANNYA?!" Kata keduanya bersamaan sambil saling menunjuk. Merekapun bertatapan lagi.

"JANGAN MENGIKUTIKU!" Kata mereka bersamaan lagi. Melihat itupun Meiko tertawa lagi sehingga membuat keduanya memasang wajah masam.

"Ng… Ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya Momoi.

"Aku Satou Meiko, teman sekelas baru Aomine-san…" Kata Meiko memperkenalkan dirinya pada Momoi.

"Ah, aku Momoi Satsuki, manager tim basket dan teman kecil Aomine-kun, BUKAN pacarnya…" Kata Momoi memperkenalkan diri sambil menekankan kata 'bukan'.

"Waah… Manager tim basket? Berarti Aomine-san…"

"Iya, dia anggota tim basket kami yang luar biasa paling pemalas…" Jelas Momoi cuek seolah Aomine tidak ada disitu.

"Oy Satsuki!" Tegur Aomine kesal yang hanya diabaikan oleh Momoi. Tidak lama kemudian bel tanda istirahat selesai berbunyi.

"Ah! Aku harus kembali kekelas! Duluan ya! Kalian juga, terutama Aomine-kun, Jangan bolos ya!" Kata Momoi memperingatkan Aomine dan diapun pergi darisitu.

"Ck… Cerewet…" Gerutu Aomine.

"Kalian akrab sekali…" Kata Meiko ditengah perjalanan menuju kelas.

"Begitukah? Tapi kadang aku agak sebal dengan sifatnya yang terlalu mengurusiku… Seperti babysister saja…"

"Hm? Baguskan? Berarti Momoi-san peduli pada Aomine-san… Punya teman akrab begitu benar benar enak ya…" Kata Meiko dengan senyumnya.

"Hhh… Terserah kau saja…" Kata Aomine, namun dalam hatinya dia membenarkan ucapan Meiko.

.

.

.

"Oy, kenapa kau masih disini?" Tanya Aomine saat melihat Meiko yang masih berada di sekolah, tepatnya didepan gym.

"Menunggu jemputanku…" Jawab Meiko pendek.

"Kau diantar jemput? Memangnya kau ini seorang nona besar?" Kata Aomine terkejut, tiba-tiba dia ingat dengan mantan kaptennya terdahulu di Teiko yang merupakan seorang 'tuan muda' dan selalu diantar jemput oleh supir pribadinya.

"Bukan! Bukan begitu! Karena suatu alasan aku jadi harus diantar jemput, tapi aku bukan nona besar seperti dugaanmu itu!" Sanggah Meiko.

"Hee… Souka…" Kata Aomine, "Lalu kenapa kau ada didepan gym?" Lanjutnya. Sebetulnya Aomine melihat si surai putih sejak tadi, makanya saat istirahat latihan basket dia memutuskan untuk menghampirinya.

"Gedung sekolah sudah sepi… Karena aku takut, jadi aku kemari saat mendengar di gymnasium masih banyak orang… Hehe…" Jelas Meiko sambil tesenyum malu.

" Ck… Dasar kau ini…"

"Aomine-kun! Cepat kembali latihan! Eh? Satou-san?" Kata Momoi. Tadinya dia hanya berniat memanggil Aomine, namun dia agak terkejut saat melihat Meiko juga ada bersamanya.

"Doumo, Momoi-san…" Sapa Meiko sambil tersenyum saat melihat Momoi.

"Kenapa kau masih disini? Ini sudah lewat jam pulang sekolah loh!" Kata Momoi lagi.

"Aku menunggu jemputan… Sepertinya jemputanku agak telat…" Jelas Meiko.

"Ah… Kalau begitu, bagaimana jika kau menunggu didalam saja? Diluar dingin loh… " Ajak Momoi.

"A-apa tidak mengganggu?" Tanya Meiko ragu. Momoipun menggelengkan kepalanya.

"Sama sekali tidak! Lagipula aku senang jadi ada teman untuk mengobrol! Ayo!" Kata Momoi riang sambil menggenggam tangan Meiko agar dia mengikutinya. Meiko yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum kecil dan berjalan mengikuti Momoi. "Ah! Aomine-kun juga! Cepat masuk!" Lanjut Momoi.

"Ha'i… Ha'i…" Jawab Aomine, dan diapun mengikuti kedua perempuan itu yang dalam waktu singkat mereka sudah akrab.

"Ngomong-ngomong Satou-san, kau tinggal dimana?" Tanya Momoi penasaran.

"Aku tinggal di blok 7 Momoi-san…" Jawab Meiko.

"Ah… Lumayan jauh ya… Ngomong-ngomong kenapa kau diantar jemput? Apa jangan-jangan kau nona besar?!" Kata Momoi. Dia menanyakan hal yang sama seperti Aomine, sehingga membuat Meiko tertawa kecil.

"Hihi, kalian benar-benar teman dekat ya… Bahkan pertanyaan kalian sama…" Kata Meiko, Momoipun menaikan sebelah alisnya bingung. "Tidak… Aku bukan nona besar, karena suatu hal, aku jadi harus diantar jemput…"

"Eh? Hal?" Kata Momoi bingung sekaligus penasaran.

"Un. Sejak kecil tubuhku lemah, sehingga membuat orang tuaku selalu khawatir, jadi mereka memutuskan untuk mengantar jemputku kesekolah…" Jelas Meiko pada Momoi.

"Eh? Begitukah…" Kata Momoi mengerti. Pandangan mereka berduapun kembali tertuju pada lapangan, melihat anggota tim basket yang sedang berlatih dengan serius. Meikopun memperhatikan Aomine yang saat ini sedang memasukan bola ke keranjang basket. Dia terpukau dengan kemampuan Aomine yang bisa memasukan bola basket dari segala arah, karena Meiko sendiri belum pernah melihat itu sebelumnya.

'Luar biasa…' Batin Meiko saat melihat Aomine lagi-lagi memasukan bola. Tiba-tiba ponsel Meiko berbunyi dan menunjukan panggilan masuk yang ternyata dari ibunya.

"Ah? Ibu? Iya, aku kesana sekarang…" Kata Meiko singkat, dan diapun menaruh ponsel tersebut ke sakunya.

"Momoi-san… Aku pulang duluan ya… Ibuku sudah tiba." Pamit Meiko pada Momoi.

"Un! Hati-hati ya Satou-san! Sampai besok!" Kata Momoi pada Meiko, yang hanya dibalas oleh senyuman dan lambaian tangan oleh Meiko.

"Bagaimana hari pertamamu disekolah?" Tanya ibunya saat Meiko sudah masuk didalam mobil.

"Menyenangkan! Aku punya dua teman baru!" Jawab Meiko riang. Ibunya hanya tersenyum, karena dia sudah lama melihat ekspresi riang Meiko.

"Ngomong-ngomong kau tidak lupa meminum obatmu kan? Dan ingat, jangan terlalu lelah…" Kata ibunya memperingatkan.

"Un. Ibu tenang saja… Aku sama sekali tidak melakukan kegiatan berat ataupun hal-hal yang membuatku lelah ko'…" Kata Meiko dengan senyum yang agak dipaksakan. Ibunyapun bernafas lega. Dia agak khawatir dengan anaknya, karena dia tahu tubuh Meiko semakin melemah, bahkan tadinya dia tidak setuju dengan permintaan Meiko untuk pergi sekolah, namun karena Meiko memaksa dan terus berusaha meyakinkannya, mau tidak mau ia dan ayahnya menyetujuinya. Karena mereka tidak tahu, kapan lagi bisa mengabulkan permintaan Meiko…

.

.

.

Sekarang, setiap hari benar-benar menyenangkan untuk Meiko. Dia sering menghabiskan waktunya disekolah bersama Aomine dan Momoi, mereka berdua adalah teman dekat pertama baginya. Sifat Aomine yang santai namun kadang kekanakan dan seenaknya dan sifat Momoi yang periang benar-benar membuatnya nyaman bersama mereka. Apalagi saat melihat Aomine sedang bermain basket, entah kenapa dia merasa melihat keajaiban. Dia penasaran bagaimana Aomine bisa memasukan bola semudah itu, dan bagaimana bisa Aomine berlari secepat itu.

"Basket itu benar-benar menarik ya…" Komentar Meiko tiba-tiba saat dia berdua bersama Aomine di atap, sebetulnya ini masih jam pelajaran, namun guru mereka tidak bisa hadir, sehingga mereka memilih untuk menghabiskan waktu disana.

"Hm? Ya… Begitulah… Tapi entah kenapa aku merasa bosan…" Kata Aomine dengan pandangan datar.

"Eh? Kenapa?" Tanya Meiko bingung.

"Aku tidak bisa menemukan lawan yang sepadan denganku… Jadi aku malas… Apa aku berhenti saja ya?" Kata Aomine dingin. Meikopun membelalakan matanya kaget dan diapun merubah posisinya menjadi dihadapan Aomine dan menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi Aomine sehingga saat ini mereka bertatapan. Aomine yang terlalu kaget pada perlakuan Meiko saat inipun hanya bisa diam dan menatap Meiko.

"Jangan bicara seperti itu! Aku sangat suka melihat Aomine-san bermain basket… Entah kenapa saat melihatmu bermain basket itu membuatku bersemangat… Aku juga sangat menyukai ekspresi Aomine-san saat bermain basket… Aomine-san sebetulnya sangat menyukai basket kan?" Kata Meiko panjang dengan senyum diwajahnya. Entah kenapa Aomine terpesona dengan sepasang mata ruby indah milik Meiko, mata itu seperti menghipnotisnya sehingga dia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedetikpun.

"Aomine-san?" Panggil Meiko bingung saat melihat Aomine tidak bereaksi apapun dan hanya menatapnya.

"Ha-hah?" Kata Aomine gelagapan. Dia terlalu terpesona menatap mata ruby milik Meiko sehingga dia tidak sadar bahwa Meiko sudah melepaskan kedua tangannya dari pipinya.

"Jangan berhenti bermain basket ya?" Kata Meiko lagi, kali ini dengan nada memohon.

"Ha-haaa?! Ck… Baiklah… Lagipula kenapa kau menganggap ucapanku serius sih?!" Aomine yang mendengar nada bicara Meiko seperti itupun menjawab dengan gugup sambil melihat kearah lain agar bisa menutupi rona diwajahnya, dia juga merasakan debaran jantungnya yang dua kali lebih cepat.

'Oy! Oy! Ada apa denganku?!' Batin Aomine sambil memegangi dadanya, sementara saat ini Meiko menatapnya bingung, namun ekspresi bingung Meiko berubah menjadi senyum kecil saat mendengar kata-kata Aomine.

"Syukurlah…" Kata Meiko lega masih dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Sementara Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ah iya! Hari ini kau ada latihan kan?" Kata Meiko mengingatkan.

"… Begitulah… Tapi masih dua jam lagi ko'… Lagipula aku malas… Tidak perlu latihanpun aku sudah bisa…" Jawab Aomine sambil merebahkan dirinya dan mulai menutup matanya. Meiko yang mendengar perkataan Aomine yang seperti itupun mencubit pipi Aomine keras.

"Ittai!" Kata Aomine. Diapun bangkit sambil memegangi sisi pipi yang dicubit oleh Meiko. "Kenapa kau-!" Belum selesai Aomine berbicara, Meiko sudah memotongnya.

"Jangan berkata seperti itu! Walaupun kau sudah jago, kau tetap harus berlatih! Bagaimana jika kau menemukan lawan yang lebih kuat darimu? Persiapkan itu dari sekarang!" Kata Meiko. Sementara Aomine hanya menatap Meiko dengan pandangan kesalnya.

"Ck… Baiklah… Aku akan latihan… Tapi…" Kata Aomine menggantungkan kalimatnya.

"Tapi?" Tanya Meiko penasaran.

"Tapi kau harus datang melihatku!" Lanjut Aomine dengan wajah yang memerah. Mendengar itu Meikopun tertawa sehingga membuat wajah Aomine semakin memerah.

"Baiklah… Aku janji akan datang melihatmu!" Kata Meiko dengan senyumnya dan dia mengangkat satu jari kelingkingnya dihadapan Aomine, dan Aomine pun menautkan jari kelingkingnya. Setelah itu dia berbaring kembali.

"Aomine-san… Apa enak tiduran seperti itu?" Tanya Meiko penasaran.

"Hn? Kau coba saja sendiri…" Jawab Aomine. Meikopun menurut dan berbaring disebelah Aomine.

"Huaaa… langitnya luas sekali…" Kata Meiko dengan senyumnya. Tiba-tiba dia mengangkat sebelah tangannya, seolah berusaha menggapai awan yang menggantung disana dan ekspresinya berubah menjadi sendu.

"… Kapan ya aku kesana?" Lanjutnya pelan namun masih bisa didengar oleh Aomine.

"Hah? Kenapa bicaramu itu seperti orang yang mau mati saja?" Kata Aomine heran yang hanya dibalas dengan senyuman kecil oleh Meiko.

"Kau pucat." Komentar Aomine saat melihat wajah gadis disebelahnya lebih dekat.

"Hm? Itu hanya perasaanmu saja… Wajahku memang begini…" Sanggah Meiko.

"Hmm…" Gumam Aomine singkat, entah kenapa dia tidak mempercayai ucapan gadis disebelahnya ini. Hening diantara mereka. Angin semilir membuat mereka berdua mengantuk, sehingga akhirnya keduanyapun memejamkan matanya. Benar-benar tenang… Sampai sebuah suara membangunkan keduanya.

"Kyaaa! Aomine-kun, apa yang kau lakukan pada Satou-san?!" Jerit Momoi dengan wajah memerah saat melihat tangan Aomine berada diatas tubuh Meiko, lebih tepatnya Aomine terlihat seperti sedang memeluknya. Mendengar teriakan Momoi, keduanyapun terbangun dan wajah keduanya memerah saat menyadari posisi mereka. Momoipun langsung menarik Meiko dan melindunginya dari Aomine, seolah-olah Aomine itu hewan buas yang akan memakan mangsanya.

"Oy! Oy! Jangan salah paham dulu Satsuki! Aku tidak melakukan apa-apa padanya!" Kata Aomine berusaha membela dirinya.

"Bohong! Dasar Aomin-ecchi!" Kata Momoi tidak percaya.

"E-etto… Aomine-san benar Momoi-san, dia tidak melakukan apapun padaku… Tenanglah…" Kata Meiko dengan senyum yang dipaksakan agar Momoi tenang.

"Huh! Baiklah aku percaya kalau itu katamu!" Kata Momoi akhirnya. "Tapi kalau si ganguro ini berani macam-macam padamu, laporkan saja padaku!" Tambahnya.

"Ha'iHa'i…" Kata Meiko sambil tersenyum geli.

"Ah! Ini sudah waktunya latihan ayo cepat ke gymnasium!" Perintah Momoi pada Aomine. Aomine hanya membalasnya dengan tatapan malasnya, tapi pada akhirnya dia menurut juga.

"Satou-san, kau mau ikut melihat latihan?" Ajak Momoi.

"Un. Aku mau." Jawab Meiko. "Soalnya aku sudah janji pada seseorang agar selalu melihatnnya saat bermain basket." Lanjutnya. Mendengar itu Momoi membelalakan matanya kaget, namun setelah itu ia tersenyum jahil pada mereka berdua.

"Hmm… Jadi begitu ya…" Goda Momoi.

"Apa-apaan wajahmu itu Satsuki?! Menyebalkan!" Gerutu Aomine.

"Uun… Tidak apa-apa… Ayo pergi~" Ajak Momoi, sambil menarik tangan Meiko dan Aomine, sementara keduanya hanya memasang wajah bingung. Namun tiba-tiba rasa sakit menyerang kepala Meiko, sehingga tanpa sadar dia meremas tangan Momoi yang menggenggamnya dan membuat Momoi melihat kearah Meiko.

"Ada apa Satou-san?" Tanya Momoi bingung.

"A-ah… Ti-tidak apa-apa ko… Hehe… Maaf ya Momoi-san…" Kata Meiko dengan senyumnya. Momoipun hanya mengangguk dan kembali berjalan.

'Iya ya… Aku harus ingat, waktuku tidak banyak…' Batin Meiko sambil tersenyum sedih, tanpa ia sadari Aomine menatap gadis itu curiga.

"Satou-san… Satou-san!" Panggil Momoi khawatir saat melihat gadis yang duduk disebelahnya ini tiba-tiba pucat dan berkeringat dingin.

"A-ah… Maaf aku melamun, ada apa Momoi-san?" Kata Meiko dengan senyum yang dipaksakan.

"Kau sakit? Kalau begitu pulang saja ya? Biar aku minta Aomine-kun mengantarmu pulang ya?" Tawar Momoi. Dia khawatir dengan kondisi Meiko yang kelihatan sangat tidak sehat.

"Ti-tidak usah Momoi-san! Aku tidak apa-apa! Tolong jangan khawatir ya?" Kata Meiko berbohong, padahal saat ini dia merasa kepalanya sangat sakit. Namun Meiko tidak ingin Aomine ataupun Momoi mengetahuinya.

"Kau tidak 'tidak apa-apa'! Sudahlah, kau pulang saja sekarang! Tidak perlu menunggu jemputanmu, oke?" Paksa Momoi.

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian!" Potong Momoi.

"… Baiklah… Apa tidak merepotkan? Aomine-san kan sedang latihan?"

"Ah… Dia itu, jika kusuruh untuk bolos mana mungkin menolak? Sudahlah, sekarang kau kemasi barang-barangmu, aku akan menemui Aomine-kun." Kata Momoi sambil berlari ke tempat Aomine.

"Aomine-kun!" Panggil Momoi pada Aomine yang sedang asik dengan bola basket ditangannya.

"Ada apa lagi Satsuki?"

"Satou-san sakit… Bisa tolong kau antar dia kerumahnya? Soalnya sepertinya jemputannya masih lama… Masalah izin pada pelatih dan Imayoshi-senpai, serahkan padaku!" Pinta Momoi.

"Eh? Ck… Baiklah, tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu…" Kata Aomine sambil berjalan menuju ruang ganti, walaupun dia terlihat biasa saja, namun sebetulnya dia khawatir saat mendengar Meiko sakit.

"Yo… Maaf lama." Kata Aomine pada Meiko. Sementara Meiko hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Pucat… Kau sebetulnya kenapa?" Tanya Aomine.

"Ng? Kenapa apanya? Aku tidak apa-apa ko'… Hanya pusing biasa… Momoi-san terlalu berlebihan…" Kata Meiko berusaha tersenyum.

"Jangan bohong." Mendengar itu Meikopun terdiam.

"… Aku tidak bohong…" Kata Meiko pelan sambil menunduk, dia menolak menatap Aomine.

"Hhh… Yasudahlah… Ayo." Kata Aomine menyerah. Merekapun mulai meninggalkan gymnasium, namun baru beberapa langkah, tubuh Meiko sudah limbung lagi, beruntung ada Aomine yang menahannya.

"Ck, seperti ini apanya yang 'baik-baik saja'?" Cibir Aomine. Lalu ia menjongkokkan tubuhnya didepan Meiko.

"Eh?" Kata Meiko dengan tatapan bingung.

"Naiklah. Biar kugendong saja, lagipula akan lebih cepat sampai kan? Kau cukup beritahu arahnya saja." Jelas Aomine.

"Tapi…"

"Cepatlah!"

"… Maaf merepotkan." Kata Meiko akhirnya, dan diapun naik kepunggung Aomine.

"Kau ringan sekali…" Komentar Aomine sementara Meiko memilih diam dan menyenderkan kepalanya sambil menikmati wangi maskulin tubuh Aomine. Entah kenapa Meiko merasa sangat nyaman dengan keadaan ini.

'Seandainya waktu bisa dihentikan… Aku ingin merasakan ini lebih lama…' Batin Meiko.

.

.

.

"Aomine-san…" Panggil Meiko saat melihat Aomine diloker sepatu.

"Oh? Kau kemana saja? Sakitmu parah?" Tanya Aomine, setelah kejadian itu, Meiko tidak masuk sekolah selama dua minggu, bohong jika Aomine tidak khawatir, namun mau bagaimana lagi, kejuaraan basket sebentar lagi akan dimulai, dan dia harus bersiap-siap.

"Un… Sebetulnya tidak terlalu parah, hanya saja ibuku terlalu khawatir, sampai-sampai aku tidak diijinkan kesekolah…" Kata Meiko berbohong. "Ah iya! Terimakasih untuk waktu itu, Aomine-san!" Lanjutnya sambil tersenyum.

"Hmm, sudahlah…" Kata Aomine singkat. "Ngomong-ngomong, kau benar-benar sudah baikkan? Kau semakin pucat saja…" Kata Aomine lagi, dia tidak mengerti kenapa dia begitu peduli pada gadis disampingnya ini.

"Ya... Begitulah… Sudahlah, ayo kita kekelas, sebentar lagi bel akan berbunyi…" Ajak Meiko untuk mengalihkan pembicaraan. Mereka berduapun beranjak memasuki kelas.

Istirahat…

"Satou-san~!" Panggil Momoi sambil memeluk Meiko erat. "Sudah sembuh? Apa sakitmu parah? Kau tahu, aku merindukanmu… Hari ini kau datang ketempat latihan kan?" Kata Momoi bertubi-tubi.

"Haha… Aku sudah tidak apa-apa ko' Momoi-san… Aku juga merindukan Momoi-san… Iya, tentu saja aku datang…" Jawab Meiko.

"Ah iya! Aku punya tiket ke taman bermain, bagaimana jika kita kesana akhir minggu ini? Rencananya aku juga akan mengajak Tetsu-kun! Kau juga ikut kan, Aomine-kun?" Ajak Momoi.

"Sepertinya menarik… Ngomong-ngomong Tetsu-kun itu siapa?" Kata Meiko.

"Tetsu-kun itu temanku dan Aomine-kun semasa SMP, dia orang yang baik, sekarang dia bersekolah di Seirin. Ngomong-ngomong bagaimana denganmu, Aomine-kun?"

"Hmm? Mendokusai…" Kata Aomine malas.

"Eeh? Ayolah… Kalau kau ikut, aku akan membuatkanmu bekal!" Kata Momoi mencoba merayu Aomine, yang malah membuat Aomine semakin tidak ingin ikut.

"Tidak usah, aku tidak mau mati muda, Satsuki." Tolak Aomine langsung. Momoipun cemberut mendengar perkataan Aomine.

"Ayolah Aomine-san, kau juga ikut ya?" Pinta Meiko. Aominepun terdiam.

"… Hhh, baiklah…" Kata Aomine akhirnya. Mendengar itu, Momoi dan Meikopun langsung berhigh five.

"Aku tidak sabar menunggu akhir minggu ini!" Kata Meiko riang. Melihat Meiko tersenyum, tanpa disadari Aomine pun ikut tersenyum kecil.

"Yosh! Ayo kita makan sekarang! Aku lapar!" Kata Aomine yang langsung disetujui oleh Momoi dan Meiko.

'Semoga masih sempat…' Pinta Meiko dalam hati.

.

.

.

Akhir minggu yang ditunggu-tunggupun tiba, merekapun pergi ke taman bermain, dan bermain sepuasnya disana.

"Hhh… Menyenangkan sekali… Tapi aku cape…" Kata Momoi, dia dan Meiko duduk disalah satu bangku yang disediakan oleh taman bermain tersebut, sementara Aomine dan Kuroko pergi ke kamar kecil sekalian mencari makanan ringan.

"Kau benar Momoi-san… Hhh, sudah lama aku tidak bermain seperti ini…" Kata Meiko.

"Tapi apa kau tidak apa-apa Satou-san?"

"Ng? Aku tidak apa-apa ko'…" Jawab Meiko dengan sedikit kebohongan, memang benar Meiko sangat senang, tapi fisiknya mudah lelah, belum lagi rasa sakit dikepalanya juga mulai menyerang.

'Bertahanlah… Kumohon… ' Batin Meiko, berusaha menyemangati dirinya sendiri.

"Ngomong-ngomong Satou-san… Apa kau menyukai Aomine-kun?" Tanya Momoi tiba-tiba.

"E-eh?" Kata Meiko dengan wajah memerah.

"Fufu… Jawab saja…" Goda Momoi.

"…U-un…" Kata Meiko sambil mengangguk pelann dengan pipi yang merona.

"Aah! Yappari! Apa yang bisa membuatmu menyukai orang seperti itu Satou-san?!" Tanya Momoi penasaran.

"Ng… Entahlah… Hanya bersama Aomine-san persaanku jadi hangat dan sangat nyaman… Dan melihat Aomine-kun bermain basket, entah kenapa aku jadi semangat…" Jawab Meiko malu-malu.

"Hee… Kalau begitu kalian jadian saja!" Saran Momoi. Namun Meiko menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak perlu… Bagiku, bisa menyukai dan disisi Aomine-san saja sudah cukup… Aku tidak ingin lebih…" Kata Meiko sambil tersenyum dan melihat kearah langit. Sementara Momoi memandang Meiko bingung.

'Aku ingin terus merasakan perasaan seperti ini hingga detik-detik terakhirku…' Batin Meiko.

"Momoi-san…" Panggil Meiko. "Tolong… Jaga Aomine-san ya?"

"E-eh? Kenapa tiba-tiba bicara begitu?" Tanya Momoi bingung, namun Meiko hanya menjawabnya dengan senyuman sedih.

"Sa-Satou-san?" Kata Momoi berusaha mencerna maksud dari kata-kata Meiko, entah kenapa Momoi merasa firasat buruk.

"Hoy! Kalian sedang membicarakan apa?" Kata Aomine, dia dan Kuroko membawa beberapa snack yang sempat dibelinya.

"Ra-Ha-Si-A…" Kata Meiko dengan senyumnya.

"Chee…" Decih Aomine.

"Momoi-san?" Panggil Kuroko karena melihat Momoi diam saja.

"A-ah?! Tetsu-kun?! Kyaaa! Terimakasih cherrysundaenya Tetsu-kun!" Kata Momoi berpura-pura riang sambil memeluk Kuroko.

"Kau juga, makanlah…" Kata Aomine sambil menyerahkan sebuah crepes pada Meiko.

"Terimakasih…" Kata Meiko disertai senyumnya dan mulai memaka crepesnnya.

Setelah itu, mereka berempatpun kembali mengelilingi taman bermain dan mengambil beberapa foto disitu, dan pulang.

"Kalau begitu, biar aku mengantar Momoi-san, Aomine-kun antar Satou-san saja…" Kata Kuroko.

"Oke…" Balas Aomine. Merekapun berpisah arah, dan sekarang hanya Aomine dan Meiko berdua.

"Apa kau senang?" Tanya Aomine.

"Un! Sangat!" Jawab Meiko riang.

"Baguslah…" Kata Aomine sambil tersenyum kecil dan menepuk-nepuk pelan kepala Meiko. Tiba-tiba suara jam dari arah taman kecil yang mereka lewati berbunyi. Dan merekapun berhenti didepan jam tersebut.

"Sudah jam lima ya…" Kata Aomine.

"Aku benci suara jam…" Kata Meiko tiba-tiba sehingga membuat Aomine menatapnya heran, namun Aomine memilih untuk diam agar bisa mendengar lanjutan kata-kata Meiko.

"Soalnya suara jam mengingatkanku kalau waktu kita terbatas dan semakin sedikit… Dan itu artinya, aku dan Aomine-san akan semakin cepat berpisah…" Kata Meiko dengan pandangan sendunya. Entah apa maksud dari ucapannya, yang pasti itu membuat Aomine merasa tidak tenang.

"Baka…" Kata Aomine tiba-tiba. "Aku akan selalu disisimu dan tidak akan kemana-mana…" Lanjutnya sambil menggenggam tangan Meiko dan dia memalingkan wajahnya yang memerah kearah lain.

"Terimakasih, Aomine-san…" Kata Meiko pelan sambil menatap Aomine dan tersenyum lembut. 'Tapi akulah yang tidak bisa berada disisimu…' Lanjutnya dalam hati.

"Kau… Menangis?" Kata Aomine terkejut karena melihat air mata menetes di wajah Meiko.

"Ah… Aku hanya kelilipan debu…" Kata Meiko sambil menunduk dan berusaha menghapus air matanya, namun Aomine tidak percaya dan mengangkat wajah Meiko agar menatapnya.

"Jangan bohong." Kata Aomine mengulang perkataannya disekolah dulu. Namun kali ini Meiko tidak bisa membantah, dia sekarang hanya bisa meneteskan air matanya yang selama ini disembunyikan. Aominepun menghapus air mata Meiko menggunakan ibu jarinya, dan menariknya kepelukannya.

"Aku sudah tidak apa-apa, Aomine-san… Terimakasih…" Kata Meiko dengan senyumnya, sambil melepaskan pelukannya.

"Hhh, kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan kita… Rumahmu sudah dekat kan?"

"Un… Sampai disini saja Aomine-san…" Kata Meiko.

"Haaah? Tidak! Aku akan mengantarmu sampai rumah!" Kata Aomine, namun Meiko menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Disini saja, seperti kata Aomine-san, rumahku sudah dekat, jadi disini saja, oke?" Paksa Meiko.

"Tapi…" Kata Aomine namun dipotong oleh Meiko.

"Disini. Saja." Kata Meiko lagi.

"Ck… Baiklah kalau itu maumu…" Kata Aomine menyerah. Meikopun mengangguk puas.

"Sayonara, Aomine-san…" Kata Meiko pada Aomine, sakit dikepalanya semakin terasa.

'Bertahanlah… Setidaknya sampai Aomine-san pergi…' Batin Meiko.

"Bukan 'sayonara' tapi 'matta nee'!" Tegas Aomine, diapun berbalik untuk pulang namun baru beberapa langkah, dia mendengar suara 'bruuk' dan saat dia melihat kebelakang, Meiko sudah terjatuh tidak sadarkan diri. Aominepun langsung berlari menghampirinya.

"Meiko! Oy! Meiko! Sadarlah! Meiko! Meikooo!" Kata Aomine panik, diapun segera menelepon ambulan, dan beberapa menit kemudian ambulanpun tiba.

.

.

.

Aomine terduduk lemas didepan UGD. Didepannya ada orangtua Meiko yang sedang menangis. Tidak lama kemudian Momoi datang menghampiri Aomine.

"Aomine-kun! Bagaimana Satou-san?!" Kata Momoi.

"Entahlah…" Jawab Aomine lemas dengan pandangan kosong. Momoi hanya bisa menatap Aomine simpatik dan duduk disebelahnya. Hening diantara mereka. Setengah jam kemudian, perawat yang bersama dokter yang menangani Meiko keluar. Merekapun langsung menghampiri perawat tersebut.

"Anda semua sudah boleh masuk." Kata perawat tersebut. Mereka semuapun memasuki ruangan UGD. Terlihat disana Meiko yang sedang berbaring, selang infus, oksigen, dan peralatan medis lain yang entah apa namanya menempel di tubuhnya.

"Maaf, hanya ini yang bisa kami lakukan…" Kata dokter yang menangani Meiko dengan nada menyesal. Mendengar itu Momoi dan ibu Meikopun mulai menangis, Aomine dan Ayah Meiko berusaha untuk tegar. Tiba-tiba tangan Meiko bergerak, Meiko juga mulai membuka matanya perlahan.

"A..yah… Ibu…" Panggil Meiko pelan. Ayah dan ibunyapun langsung mendekat kearahnya.

"Maaf… Maaf… Aku selalu membuat kalian menangis… Aku sayang kalian…" Kata Meiko dengan air mata yang menetes, mendengar itu, orang tuanyapun berusaha tersenyum.

"Momoi-san… Terimakasih banyak sudah menjadi temanku… Aku sangat senang… " Kata Meiko pada Momoi, isakan Momoipun semakin keras. Lalu Meiko melihat kearah Aomine yang memandangnya sendu.

"Aomine-san… Maaf, karena aku tidak bisa menepati janjiku padamu… Terimakasih untuk selalu disisiku, walaupun tidak lama… Aku senang bisa bertemu denganmu… Aku… Menyukaimu, Aomine-san… Sangat…" Kata Meiko mengakhiri ucapannya dengan senyum di wajahnya. Tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung berbunyi dan gambar garis yang tadi naik-turun itu berubah menjadi datar, menunjukkan bahwa seseorang yang ditempeli alat tersebut sudah pergi.

.

.

.

Esok harinya, upacara pemakaman Meiko diadakan dirumahnya, semua teman sekelasnya termasuk Aomine dan Momoi bahkan Kuroko datang. Setelah melakukan penghormatan terakhir, Aomine, Momoi, dan Kurokopun meninggalkan kediaman tersebut.

"Aomine-kun…" Panggil Momoi. Sejak kemarin pulang dari rumah sakit, sahabat sejak kecilnya ini diam saja.

"… Aku mau main basket…" Kata Aomine tiba-tiba dan diapun langsung pergi dari hadapan Momoi dan Kuroko. Kuroko yang berniat mengejar Aomine dihentikan oleh Momoi.

"Kurasa lebih baik membiarkan Aomine sendiri dulu saja sekarang…" Kata Momoi pelan, Kurokopun mengangguk mengerti.

Dilapangan, Aomine sedang memainkan bola basket ditangannya, dia mendrible, dan menshoot bola tersebut ke ring.

"Baiklah… Aku janji akan datang melihatmu!" Tiba-tiba dia teringat akan janji itu.

"Padahal kau sudah janji akan melihatku bermain basket…" Bisik Aomine sambil melempar bola ditangannya ke ring dan dia berlari untuk mengambil bola itu kembali, entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu.

"Aku akan selalu disisimu dan tidak akan kemana-mana…"

"Terimakasih, Aomine-san…"

"Padahal aku sudah bilang akan selalu disisimu… Tapi kau malah pergi duluan…" Kata Aomine dengan nada bergetar sambil tetap melakukan hal yang sama seperti tadi. Namun tiba-tiba, bola basket yang dipegang Aomine terlepas dari tangannya, iapun mengambil bola tersebut.

"…Aku… Menyukaimu, Aomine-san… Sangat…" Kata-kata terakhir Meiko itu terngiang dikepalanya.

"Baka… Aku juga sangat menyukaimu…" Kata Aomine dengan suara bergetar dan air mata yang menetes. Hanya untuk kali ini dia membiarkan air matanya mengalir dan membuat dirinya terlihat lemah agar bisa menumpahkan kesedihannya. Hanya langit biru, dan lapangan tersebutlah saksi bisu kesedihan Aomine saat ini.

END

Author's note:

Oke… Ancur banget ini chap… *pundung*

Gomen reader-tachi, saya bener-bener ngeblank dibagian Aomine ini, dan akhirnya malah jadi gaje gini… *kibar bendera putih*

Buat uchiha ayu-chan : Akashi-nya abis chap ini yaaa… Makasih banyak reviewnya :D

Buat Otouto-ku Sirius, maaf Onii-chanmu ini telat dari deadline yang udah ditentuin dari awal… Hiks… Hiks…

Oke segini aja deh, makasih buat yang udah baca dan review…

Ditunggu kritik, saran, atau apapunlah di kotak review… XD