Akashi Seijuurou sang emperor yang perintahnya 'absolute' harus menghadapi calon tunangannya, Takahashi Kana, sang tuan putri yang sulit diatur dan semaunya sendiri. Bagaimana kisah hubungan mereka?
KISEKI NO SEDAI NO KOI MONOGATARI
Disclaimer: Kuroko no Basuke – Fujimaki, Tadatoshi
Pairing: Akashi Seijuurou x OC (Takahashi Kana)
Warning : Agak OOC
.
.
.
Chapter 6: The Emperor and Princess
"Sei… Setelah ini kita kesana yaa!" Kata gadis cantik berambut hitam panjang sambil menarik tangan pemuda tampan berambut merah.
"Apa kau tidak lelah Kana? Kita sudah berkeliling 3 jam lebih… Sebetulnya apa yang kau cari? Apa belanjaanmu itu masih kurang?" Tanya si pemuda berambut merah, Akashi Seijuurou sambil menunjuk beberapa kantong belanjaan yang dibawa gadis itu.
"Hmm… Entahlah… Aku hanya ingin lihat-lihat, jika aku suka maka aku beli… Ah, itu lucu! Ayo lihat!" Kata Kana sambil menuju sebuah toko. Sementara Akashi hanya menghela nafas lelah sambil berjalan mengikuti gadis itu. Entah karma atau apa sehingga Akashi bisa 'terjebak' dengan gadis didepannya ini. Terimakasih atas kata 'perjodohan' sehingga hampir dua bulan dia bersama gadis ini.
Flashback dua bulan lalu…
"Aku tidak mau dijodohkan! Aku masih ingin bebas! Aku ini masih SMA, kakek!" Kata seorang gadis cantik berambut hitam panjang dengan nada tinggi pada pria didepannya yang tadi dia panggil kakek.
"Jaga nada bicaramu Kana! Apa hubungannya perjodohan dengan kebebasan? Lagipula kalian tidak akan langsung menikah, aku juga tahu kau masih SMA, kalian hanya akan dikenalkan terlebih dulu dan setelah itu kalian baru akan ditunangkan!" Jelas pria tersebut dengan nada yang tidak kalah tingginya.
"Tapi pada akhirnya aku harus menikah dengannya kan? Ini hidupku! Aku bebas menentukan dengan siapa aku akan menikah!" Balas gadis itu.
"Ini demi kebaikanmu juga Kana!" Kata pria tua itu.
"Ah sudahlah! Terserah kakek saja! Aku mau berangkat sekolah!" Kata gadis tersebut sambil beranjak pergi meninggalkan ruang makan tradisional Jepang tersebut. "Ah, satu lagi... Berhentilah menyuruh orang-orang aneh itu mengikutiku! Aku tidak butuh bodyguard!" Lanjut sang gadis sambil menunjuk sekumpulan orang dengan tampang sangar, berbadan besar, dan memakai baju hitam-hitam.
"Kalau kau tidak mau diikuti para bodyguard, kau harus menggunakan supir pribadi kesekolah!" Perintah kakeknya.
"Lebih baik aku jalan kaki daripada naik benda itu!" Desis sang gadis, lalu ia pergi dari hadapan kakeknya.
"Takeru, Misaki... Aku benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi Kana, cucuku satu-satunya peninggalan berharga dari kalian berdua... Aku sangat menyayanginya, bagaimana caranya agar dia mengerti hal itu?" Bisik sang kakek sambil mengingat putra dan menantunya yang telah tiada karena kecelakaan 10 tahun yang lalu.
Dilain tempat...
"Perjodohan?" Kata seorang pemuda tampan berambut merah yang memiliki mata berbeda warna pada seseorang didepannya.
"Begitulah. Keluarganya sejak lama menjadi partner bisnis kita dan banyak membantu kita juga. Kau mengerti kan Seijuurou?" Kata pria yang lebih tua tersebut.
"... Baiklah, ayah." Jawab pemuda tersebut.
"Malam ini kalian akan diperkenalkan terlebih dahulu, untuk pertunangannya akan diadakan beberapa bulan lagi. Jadi manfaatkan waktumu untuk saling mengenal, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Ini demi kau dan masa depan perusahaan." Kata sang ayah. Sang pemuda tidak menjawab, dia hanya mengangguk patuh walaupun sebenarnya dia sudah bosan karena sang ayah terlalu banyak ikut campur di kehidupannya.
'Perjodohan? Tidak buruk.' Batin Akashi.
Malam harinya dikediaman Takahashi
"Nona Kana, tolong buka pintunya!" Pinta seorang pelayan didepan pintu kamar Kana, karena saat ini dia menolak untuk keluar dari kamarnya.
"Tidak mau! Aku tidak mau pergi! Aku tidak pernah bilang aku setuju dengan perjodohan itu!" Teriak Kana dari dalam.
"Nona Kana, saya mohon buka pintunya... Jika tuan besar tahu-" Belum selesai sang pelayan berbicara, kakek Kana sudah muncul dibelakangnya dengan beberapa pelayannya.
"Ada apa ini?" Tanya sang kakek dingin.
"Tu-tuan... Nona Kana menolak membuka pintunya..." Jawab sang pelayan takut-takut.
"Hhh..." Sang kakekpun menghela nafasnya lelah, jika sudah begini akan sulit untuk membujuk cucunya, karena cucunya akan serius dalam melakukan apapun, jika sang cucu bilang tidak akan keluar, maka dia tidak akan keluar. Kalau sudah begini...
"Kana! Buka pintunya! Kakek ingin bicara!" Perintah sang kakek, namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Kana! Buka pintunya, atau akan kusuruh orang untuk menghancurkan pintu kamarmu!" Perintah kakeknya lagi dengan sedikit ancaman.
"Aah! Iya-iya! Aku buka!" Kata Kana akhirnya. Mau tidak mau dia harus membuka pintunya daripada kamarnya dihancurkan oleh kakeknya. 'Cklek' Kanapun membuka pintunya.
"Anak baik." Kata Kakeknya yang hanya dibalas pandangan sebal oleh Kana. Dan kakeknyapun masuk kekamar Kana.
"Kana... Kakek mohon, setidaknya kau harus bertemu dulu dengan calon tunanganmu..." Bujuk kakeknya, Kana tidak merespon dan hanya membuang pandangannya kearah lain.
"Kenapa kau begitu menolak perjodohan ini?" Tanya kakeknya.
"... Aku hanya tidak mau terikat dengan siapapun. Aku juga ingin menentukan pilihanku sendiri karena ini hidupku!" Jawab Kana egois. Kakeknya hanya menatapnya wajar, anak seusia Kana memang lebih mementingkan egonya.
"...Kalau begitu bagaimana jika kita buat kesepakatan?" Tawar kakeknya, Kanapun langsung menatap kakeknya antusias.
"Kau boleh memutuskan perjodohan ini jika kau memang tidak suka pada calonmu. Tapi berusahalah untuk mengenalnya lebih dekat dahulu dalam waktu 3 bulan? Bagaimana?" Lanjut kakeknya.
"... Baiklah, aku setuju. Dan setelah itu biarkan aku melakukan apa yang aku suka." Kata Kana.
"Bagus. Sekarang bersiaplah, para pelayan akan membantumu. Setengah jam lagi kita berangkat. Kakek janji kau tidak akan menyesal dengan calon yang kakek pilih." Kata kakeknya, lalu dia meninggalkan Kana sendirian.
'Kita lihat saja nanti...' Kata Kana dalam hati.
Setelah setengah jam bersiap-siap, merekapun akan berangkat, namun lagi-lagi Kana memberontak.
"Aku tidak mau naik mobil! Aku mau naik kereta saja!" Kata Kana ngotot.
"Kana! Kau pikir sekarang jam berapa?! Berbahaya jika naik kereta, apalagi dengan penampilan seperti itu!" Kata kakeknya.
"Pokoknya aku tidak mau! Lebih baik tidak pergi daripada aku harus naik benda itu!" Kata Kana lagi dan mulai beranjak pergi.
"Ck..." Kakeknya mendesis pelan dan menjetikkan jarinya, lalu salah seorang pelayanpun memukul tengkuk Kana hingga dia tidak sadarkan diri.
"Mohon maaf nona!" Kata sang pelayan dengan nada bersalah, lalu dia memasukkan Kana ke mobil, kakeknyapun menyusul masuk, lalu merekapun berangkat menuju kediaman Akashi.
'Padahal sudah 10 tahun berlalu... Tapi dia masih belum bisa menghilangkan traumanya... Kana...' Kata kakeknya dalam hati sambil mengusap pipi cucu satu-satunya itu.
Sesampainya didepan kediaman Akashi...
"Kana, ayo bangun, kita sudah sampai." Kata kakeknya sambil berusaha membangunkan Kana. Kana yang baru sadarpun langsung meraih pintu untuk keluar dari mobil. Kejadian 10 tahun yang lalu langsung berputar di otaknya, sehingga tubuhnya saat ini bergetar hebat dan jantungnya berdebar 2 kali lebih cepat, keringat dingin pun mulai mengalir, dan dia reflek memeluk dirinya sendiri sambil meremas lengannya untuk menghentikan getaran ditubuhnya.
"Kana... Tenanglah kau baik-baik saja sekarang, kakek disini..." Kata kakeknya berusaha menenangkan Kana. Perlahan gemetar Kana berhenti dan dia sudah kembali tenang.
"... Aku sudah tidak apa-apa, kakek." Kata Kana akhirnya.
"Bagus. Ayo kita masuk." Ajak kakeknya. Mereka berduapun memasuki kediaman Akashi dan langsung disambut oleh para pelayan, mereka berduapun diantar ke ruang keluarga dimana sang pemilik rumah menunggu.
"Silahkan masuk, tuan, nona." Kata sang pelayan sambil membuka pintu ruang keluarga.
"Ah... Takahashi-dono. Lama tidak bertemu." Sambut sang pemilik rumah yang lebih tua. Sang pemilik rumah yang lebih muda hanya mengikutinya dibelakang.
"Begitulah Akashi-san, semenjak Takeru tidak ada, aku harus mengambil alih tugasku lagi sehingga jarang berada di perusahaan." Kata sang kakek.
"Aku paham kondisimu Takahashi-dono... Ah ngomong-ngomong ini putraku Akashi Seijuurou." Kata sang pemilik rumah yang lebih tua sambil menunjuk pada anak laki-laki satu-satunya. Akashipun membungkukan badannya pada pria yang jauh lebih tua didepannya.
"Ooh... Seijuurou-kun. Aku sering mendengar kau sangat hebat dalam bermain shogi ya? Kuharap kita bisa bermain bersama nanti, hahaha." Kata Takahashi Yamato.
"Saya menantikan itu Takahashi-dono." Jawab Akashi disertai senyum kecil.
"Ah iya, aku akan memperkenalkan cucuku. ayo Kana, kenalkan dirimu!" Kata kakeknya sambil mendorong Kana pelan.
"Takahashi Kana desu." Kata Kana singkat sambil membungkukan badan tanpa menatap kedua pria didepannya, terutama sang 'calon tunangan'. Akashi yang melihat penampilan Kana saat ini hanya tersenyum kecil. Kana menggunakan furisode berwarna pink dengan motif kelopak sakura, dan obi berwarna emas, rambut hitam panjangnya disanggul sebagian.
'Tidak buruk.' Batin Akashi.
Setelah perkenalan singkat itu, merekapun makan malam bersama, dan mulai berbincang-bincang (kebanyakan kakek Kana dan ayah Akashi yang berbicara, Kana dan Akashi hanya berbicara jika ditanya). Kana yang merasa bosan dengan pembicaraan antara kakeknya dan ayah Akashi memilih pamit keluar untuk menghirup udara segar.
'Kurasa ini awal yang buruk, warna merah dan mobil...' Batin Kana sambil mengingat rambut dan sebelah mata calon tunangannya yang berwarna merah, warna yang paling dia benci setelah kejadian 10 tahun yang lalu. Sekarang dia bersender disalah satu pohon dihalaman kediaman Akashi sambil menatap lesu kearah kolam ikan didepannya.
"Kau sepertinya kurang sehat Kana?" Kata sebuah suara yang ternyata milik calon tunangannya.
"Tidak perlu terlalu peduli padaku..." Kata Kana pelan. Akashipun hanya merespon Kana dengan tatapan bingung.
"Sudahlah... Toh kita hanya dijodohkan untuk kepentingan keluarga, kau bebas jika ingin bersama perempuan manapun ataupun melakukan hal apapun yang kau mau, yang harus kau ingat hanya satu, pada akhirnya kau akan menikah denganku. Jadi, mohon kerjasamanya ya, Seijuurou!" Kata Kana santai sambil menepuk pundak Akashi, tidak lupa dengan senyum(palsu) terbaiknya. Mendengar itu Akashipun tersenyum kecil.
"Kata-kata itu juga berlaku untukmu Kana." Jawab Akashi dengan smirknya.
'Perempuan yang menarik.' Batin Akashi.
"Tapi kurasa sekali-kali kencan tidak masalah, hitung-hitung untuk saling mengenal..." Kata Kana lagi.
"Terserah kau saja." Kata Akashi.
"Kapan kau ada waktu?" Tanya Kana.
"Entahlah, aku memiliki banyak kegiatan, setidaknya jangan mendadak, minimal satu hari sebelumnya kau memberitahuku."
"Cih, bicaramu seperti orang penting saja... Memang apa saja kegiatanmu?"
"Aku ketua OSIS dan juga kapten klub basket." Jawab Akashi pendek.
"Hmm... Tapi aku tidak mau tahu! Kalau aku mengajakmu pergi, kau harus mau!" Kata Kana dengan nada memerintah seperti biasanya.
"Aku tidak janji akan hal itu." Kata Akashi mulai kesal.
"Kau harus! Aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan!" Kana mengeluarkan motonya.
"Dan aku tidak suka jika kata-kataku ditentang, perintahku mutlak, aku selalu menang berarti aku selalu benar. Ini juga berlaku untukmu, sekalipun kau calon tunanganku." Kata Akashi dengan nada dingin.
"Kalau memang benar seperti itu, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang dan benar!" Tantang Kana. Dan ada percikan api peperangan yang tidak terlihat diantara mereka berdua. Tapi sejujurnya, Akashi tidak menyangka bahwa tunangannya ini benar-benar sulit dikendalikan dan akan membuatnya kerepotan.
End of Flashback
"…Sei… Sei! Seijuurou! Apa kau mendengarku?!" Kata Kana kesal karena diabaikan.
"Ah, maaf aku melamun. Ada apa?" Tanya Akashi datar.
"Mou… Aku tanya pendapatmu… Apa baju ini bagus?" Tanya Kana sambil menunjukan baju terusan putih berenda yang dipegangnya.
"Bagus." Jawab Akashi asal.
"Kalau yang ini?" Tanya Kana lagi sambil menunjukan baju terusan tanpa lengan berwarna baby pink dengan pita dibagian pinggangnya.
"Bagus juga." Jawab Akashi lagi dengan nada yang monoton.
"Hmm… Menurutmu lebih baik beli yang mana?" Kata Kana bingung.
"Terserah." Kata Akashi singkat.
"Hmm… Yang pink saja ah…" Kata Kana akhirnya.
"Tapi menurutku lebih bagus yang putih." Kata Akashi mengutarakan pendapatnya. 'Ctik' perempatan siku-sikupun muncul didahi Kana.
"Tadi kau bilang terserah! Tapi setelah aku memutuskan, kau malah menyanggah! Bagaimana sih?!"
"Hhh… Terserah saja. Aku lelah, aku akan menunggu diluar toko, kau cepat bayar bajumu itu." Kata Akashi sambil pergi meninggalkan Kana yang sedang merengut kesal, bagi Akashi, menemani Kana belanja itu sepuluh kali lipat lebih melelahkan dibanding berlatih basket.
"Hey… Cowo itu tampan ya?" Bisik seorang gadis pada temannya sambil menunjuk Akashi yang saat ini sedang berdiri sambil menyilangkan tangannya didepan toko baju yang Kana masuki.
"Un! Sepertinya dia sendirian, bagaimana jika kita dekati dia?" Ajak temannya. Merasa sedang dibicarakan, Akashipun melihat kearah dua gadis yang sedang membicarakannya itu, dan keduanyapun langsung berteriak pelan melihat ketampanannya, sebetulnya tidak hanya kedua gadis itu, setiap perempuan yang lewat dihadapannyapun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Benar-benar membuatnya tidak nyaman.
"Sei…" Panggil Kana pada Akashi, diapun menyadari bahwa Akashi menjadi pusat perhatian gadis disekelilingnya dan Akashi sedang melihat kearah dua orang gadis yang sedang mencoba mencuri perhatiannya, entah kenapa Kana merasa tidak suka, lalu iapun langsung menghampiri Akashi dan memeluk sebelah tangan Akashi sehingga membuat Akashi menatapnya.
"Jangan melihat kearah gadis lain saat bersamaku!" Kata Kana tanpa melihat wajah Akashi yang menatapnya datar, lalu Kanapun memberikan kedua gadis itu tatapan tajamnya sehingga kedua gadis itu pergi.
"Bukankah kau bilang aku bebas bersama perempuan manapun?" Tanya Akashi dengan smirknya mencoba mengetes gadis disampingnya ini.
"I-itu kalau kau tidak bersamaku! Sekarang kau sedang kencan denganku! Tidak sopan jika melihat gadis lain jika kau sedang kencan!" Kata Kana gugup dengan wajah yang agak memerah.
"… Kau cemburu?" Tanya Akashi terang-terangan, sehingga membuat wajah Kana semakin memerah.
"A-A-Aku ti-tidak cemburu ko'! Untuk apa cemburu?!" Sanggah Kana sambil memalingkan wajahnya dari pandangan Akashi.
"Hmph." Dengus Akashi dengan nada merendahkan.
"A-apa-apaan nada merendahkanmu itu?!" Akashipun hanya bisa menahan senyumnya saat melihat wajah Kana, diapun akhirnya menepuk puncak kepala Kana pelan.
"Bukan apa-apa… Ayo kita jalan lagi." Ajak Akashi sambil membawakan kantong belanjaan Kana. Kali ini Kanalah yang menurutinya, mereka berduapun kembali berjalan dengan Kana yang masih belum melepaskan pegangannya pada Akashi.
"Sei… Apa kau tidak ingin membeli sesuatu?" Tanya Kana.
"Kurasa sekarang aku belum butuh apapun." Jawab Akashi. "Tidak seperti seseorang yang membeli sesuatu hanya karena 'ingin'." Sindir Akashi sambil melirik Kana.
"Hey! Kau menyindirku, hah?!" Kata Kana sambil melepaskan pegangan tangannya pada Akashi.
"Menurutmu?" Kata Akashi sambil mendekatkan wajahnya pada Kana.
"Aah! Kau menyebalkan!" Kanapun cemberut dan menjauh dari Akashi.
"Terimakasih pujiannya." Ucap Akashi datar, Kanapun semakin cemberut mendengarnya. Sementara Akashi hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat ekspresi Kana seperti itu.
.
.
.
"Ayo pulang, hari ini sudah cukup kan?" Kata Akashi pada Kana.
"Hm… Baiklah… Padahal aku masih ingin jalan-jalan…" Keluh Kana, namun ia setuju dengan Akashi, jika lebih dari ini, dia bisa kena omelan kakeknya dan belum lagi mereka harus sekolah esok harinya.
"Kita bisa pergi lagi kan lain kali?" Kata Akashi, sementara Kana mendengus.
"'Lain kali'mu itu benar-benar lama Sei…" Kata Kana kesal sambil menyilangkan tangannya. Akashi yang mendengar perkataan Kana itu hanya tersenyum kecil. Yah, dia sering sekali mengajak Akashi untuk pergi, namun selalu dijawab 'lain kali' oleh Akashi, terimakasih atas kesibukannya sebagai kapten basket dan ketua OSIS, belum lagi Akashi juga membantu bisnis keluarganya, semakin sulit saja Kana bertemu dengannya, makanya di 'kencan' hari ini dia sengaja menjahili Akashi dengan berkeliling berjam-jam bersamanya, berharap ini membuat waktunya dan Akashi yang terlewat bisa tergantikan sekarang.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menelepon supirku untuk menjemput." Kata Akashi. Mendengar kata 'supir' Kanapun langsung berjengit.
"Tidak! Aku tidak mau pakai mobil!" Tolak Kana.
"Memangnya kenapa?" Kata Akashi bingung dengan calon tunangannya itu, saat berangkat ataupun kencan sebelumnya Kana selalu menolak menggunakan mobil, Akashipun menurutinya, tapi ini sudah gelap, belum lagi mereka membawa banyak barang, akan lebih aman jika mereka menggunakan mobil pribadi kan?
"Aku tidak mau berada di satu ruangan yang sempit denganmu, aku mau pakai kereta, kalau kau tidak mau, kita berpisah disini saja." Kata Kana dengan alasan yang tentu saja tidak bisa diterima Akashi.
"Tidak. Kita naik mobil." Kata Akashi tenang namun dengan nada memerintah.
"A-Ku-Ti-Dak-Ma-U!" Kata Kana keras kepala.
"Ini perintah, kita naik mobil."
"Perintah? Dari siapa? Kau? Jangan harap aku menurutinya!" Kata Kana dingin dan pergi dari hadapan Akashi. Akashipun hanya mendecak kesal, mau tidak mau dia harus mengikuti gadis itu, dia tidak mau mendapat masalah karena membiarkan gadis itu sendirian dan terjadi sesuatu padanya.
.
.
.
Saat ini kereta sangat padat, inilah yang membuat Akashi malas naik kereta, dia hanya menerawang kosong pada jendela didepannya, namun lamunannya buyar saat Kana menggenggam erat tangannya, dan saat dia melihat kearah Kana, dia melihat Kana menggerakkan tubuhnya tidak nyaman, dan ekspresinya yang seolah berkata 'Tolong', dan benar saja saat Akashi memperhatikan Kana dengan jelas, ada sebuah tangan yang sedang meraba pinggulnya dengan sengaja. Akashipun mencengkram tangan yang menyentuh Kana itu.
"Jangan menyentuhnya dengan tanganmu itu." Kata Akashi dingin pada pria mesum tersebut, sambil menarik Kana ke pelukannya, auranya berubah menjadi menakutkan. Kana yang diperlakukan seperti itu oleh Akashi merasa pipinya memerah dan jantungnya berdebar kencang, sementara si pria mesum ini tiba-tiba merasa lututnya lemas, sehingga saat ini dia jatuh terduduk, merekapun menjadi pusat perhatian.
"Ada apa ini?" Kata petugas kemanan di kereta.
"A-ada pria mesum! Dia orangnya!" Kata Kana sambil menunjuk pria yang terjatuh itu. Sang petugaspun langsung mengamankannya, bersamaan dengan itu pula mereka berdua sampai di statsiun tujuan mereka. Akashipun langsung menarik Kana untuk turun dari kereta tanpa melepaskan pegangan tangannya.
"Te-terimakasih…" Bisik Kana saat mereka sudah diluar statsiun, Akashi hanya menghela nafasnya.
"... Sudahlah. Ayo." Kata Akashi akhirnya. Kanapun menatap punggung Akashi yang berada didepannya, dia benar-benar tidak mengerti dengan sifat Akashi sekalipun mereka berdua sudah berusaha saling mengenal selama dua bulan ini. Selama dua bulan ini Kana sengaja membuat Akashi kesal agar dia memutuskan pertunangan ini tapi pemuda itu hanya menanggapi sifatnya itu dengan dingin.
'Sebetulnya apa yang kau pikirkan, Sei? Apa sikapmu padaku ini karena tanggung jawabmu, atau... Apa aku boleh sedikit berharap?' Batin Kana.
.
.
.
"Ara, Sei-chan, apa kau kenal gadis itu? Dari seragamnya, sepertinya dia bukan murid disini." Tanya Reo saat melihat Kana duduk disalah satu bangku pojok didalam gymnasium sambil menonton mereka latihan basket. Kana memang sengaja datang ke Rakuzan, dia bilang ingin melihat Akashi bermain basket sekalian pulang bersama, Akashipun menyetujuinya dengan syarat dia tidak boleh mengganggu ataupun berisik meminta Akashi segera menyelesaikan latihannya.
"Dia? Apa ya... Calon istri? Kurang lebih begitu." Jawab Akashi cuek sambil tetap melempar bola basket ke ring.
"HAAH?!" Kata para anggota uncrowned king yang sedang belatih bersama Akashi setelah mendengar jawabannya, namun yang paling shock tentu saja Reo.
"Ca-ca-ca-calon istri?! Ka-kalian masih kelas satu SMA!" Jerit Reo. Akashi hanya menanggapinya dengan senyum kecil yang membuat Reo semakin shock.
"U-uwaa... Tenang Reo-nee! Namanya juga 'calon' kan, artinya mereka masih belum menikah... Naa, Akashi?" Kata Hayama berusaha menenangkan Reo.
"Begitulah." Kata Akashi singkat.
"Tapi tetap saja kan~? Mou~ Sei-chan~" Kata Reo dengan lebaynya, namun Akashi tidak menanggapinya dan tetap melanjutkan latihannya sambil berkata "Lanjutkan latihannya jika kalian ingin cepat pulang." Pada ketiga seniornya itu, mendengar perkataan(perintah) Akashi ketiganyapun langsung kembali melakukan latihan, daripada harus mendapat latihan tambahan dari Akashi yang luar biasa berat. Sementara Kana...
'Apa asiknya sih basket?' Batin Kana sambil menatap bosan pada lapangan didepannya.
'Tapi... Kelihatannya dia benar-benar menikmatinya, dan entah kenapa itu membuatnya terlihat keren...' Lanjut Kana, kali ini dengan senyum kecil diwajahnya saat melihat Akashi sedang menggiring bola. Tiba-tiba sebuah bola basket menggelinding kearahnya, Kanapun mengambil bola tersebut, dan dilihatnya seorang pemuda berambut abu-abu yang sepertinya lebih tua darinya berlari ketempatnya. Kanapun memberikan bola itu pada pemuda tersebut.
"Maaf merepotkan." Kata pemuda itu datar, Kanapun hanya mengangguk, setelah itu pemuda itupun pergi dari hadapannya, namun pandangan mata Kana tidak bisa lepas darinya. Tanpa Kana sadari Akashi melihat itu dengan pandangan tidak suka, Akashipun menghampiri Kana.
"Ng? Sei, masih lama?" Tanya Kana saat melihat Akashi mendekat padanya.
"Setengah jam lagi." Jawab Akashi singkat.
"Hhh... Masih lama berarti... Aku bosan~" Kata Kana dengan nada pura-pura bosan, padahal dia cukup menikmatinya.
"Jangan mengeluh. Sudah kubilangkan tadi, jangan menyuruhku cepat-cepat menyelesaikan latihanku?"
"Hmph... Ha'i-ha'i..." Kana menjawab dengan malas.
"Tadi apa yang kau bicarakan dengan Chihiro?"
"Chihiro..? Hee, jadi namanya Chihiro?" Ucap Kana dengan senyumnya mengabaikan pertanyaan Akashi, dan entah kenapa itu semakin membuat Akashi merasa kesal.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Akashi menatap Kana dengan pandangan tajam.
"Hm? Kami tidak membicarakan apapun, dia hanya bilang 'maaf merepotkan'... Kenapa memangnya? Ah iya, ngomong-ngomong dia keren ya! Keberadaannya yang tipis itu membuatnya terlihat misterius... Dan setidaknya dia tinggi dan tidak berambut merah." Puji Kana mengenai Chihiro sambil berniat menyindir Akashi, namun Akashi tidak menggubrisnya.
"Keren? Dia hanya pemain basket standar, bahkan dibawah rata-rata jika tanpa hawa keberadaannya yang tipis." Kata Akashi dingin dengan nada merendahkan. Kanapun melihat Akashi dengan pandangan tidak suka.
"Apa-apaan bicaramu itu? Dia anggota timmu kan? Apa pantas kau berkata seperti itu tentangnya?!" Bentak Kana,
"... Itu bukan urusanmu. Aku kembali latihan." Kata Akashi sambil meninggalkan Kana, tidak lupa sebelum pergi dia memberikan Kana tatapan dinginnya.
"A-apa-apaan sih dia itu?" Bisik Kana kesal.
.
.
.
"Latihan hari ini cukup, kalian boleh bubar sekarang." Kata Akashi menutup latihan hari ini. Diapun pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sebentar dan mengganti bajunya. Setelah itu diapun menemui Kana.
"Kan-" Panggilan Akashipun terhenti saat melihat gadis itu duduk tertidur sambil menyenderkan kepalanya ditembok.
"Hhh... Dasar merepotkan." Bisik Akashi pelan sambil menyentuh pipi Kana. Ada perasaan hangat dihatinya jika dia berada didekat Kana. Akashipun menelepon supir pribadinya dan menggendong Kana pelan-pelan agar Kana tidak bangun.
"Sei-chan~" Bisik Reo iri saat melihat pemandangan itu sementara Hayama berusaha menenangakannya.
"Aku tidak menyangka Akashi yang 'itu' bisa bersikap begitu... Dan yang lebih membuatku terkejut lagi dia bisa menggendong gadis dengan tubuh sekecil itu..." Komentar Nebuya tidak penting yang dihadiahi deathglare oleh Reo.
"Baka! Sei-chan bisa membunuhmu jika dia mendengarnya!" Kata Reo mengingatkan, lalu ia kembali berbicara, "Tch... Aku benci mengakuinya tapi mereka berdua terlihat manis!"
Mendengar suara mesin, Kana yang sedang tidurpun merasakan firasat buruk dan terbangun, dugaannya tepat, dia berada didalam mobil. Phobianya kumat, ingatan kejadian sepuluh tahun yang lalupun kembali berputar dibenaknya.
'Ayah... Ibu... Mobil... Darah...' Itulah yang ada dipikiran Kana. Kanapun tiba-tiba berteriak histeris sehingga membuat Akashi yang ada disebelahnya dan supirnya kaget.
"TURUNKAN AKU!" Teriak Kana sambil berusaha membuka pintu mobil.
"Kana!" Panggil Akashi sambil berusaha menghentikan Kana, namun Kana memberontak.
"Se-Seijuurou-sama..." Kata supirnya panik.
"Serahkan ini padaku, kau konsentrasi saja menyupir." Perintah Akashi tenang, supirnyapun mengangguk paham.
"TURUNKAN AKU DISINI! TURUNKAN AKU!" Raung Kana sambil tetap berusaha membuka pintu mobil, namun sia-sia, tombol kendali ada pada supir.
"Hentikan Kana! Ini jalan sepi, dan sudah gelap! Mana mungkin kau turun disini!" Kata Akashi sambil menarik tangan Kana, Kanapun kembali memberontak, bahkan sempat memukul wajah Akashi sehingga Akashipun mulai naik pitam.
"KANA!" Bentak Akashi, sehingga membuat Kana terdiam, dan jujur saja, supirnya juga kaget, karena pertama kalinya dia mendengar Akashi berteriak seperti itu, selama ini tuan mudanya sangat tenang bahkan emotionless. Lalu Akashipun menghimpitnya dan mengunci pergerakan tangan Kana.
"Kana..." Panggil Akashi dengan nada yang lebih pelan, diapun melihat wajah Kana yang sudah dibanjiri air mata.
"Aku harus turun... Sei... Turunkan aku... Aku takut... " Bisik Kana dengan suara bergetar, tubuhnya lemas sekarang, Akashipun melepas tangan Kana dan menariknya ke pelukannya.
"Aku disini... Tidak ada yang perlu ditakutkan..." Bisik Akashi lembut, Kanapun membelalakan matanya, baru pertama kali dia mendengar Akashi berbicara selembut itu. Kanapun akhirnya membalas pelukan Akashi dan terisak dipundak Akashi.
"Ayah... Ibu..." Bisik Kana sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.
.
.
.
Kakek Kana menatap cucunya yang tengah tertidur di ranjangnya dengan sedih, dia sangat kaget dan panik saat melihat Akashi menggotong cucunya yang tidak sadarkan diri, Akashipun menceritakan semuanya pada kakeknya.
"Jadi begitu... Phobianya kembali..." Kata kakeknya setelah mendengar cerita Akashi.
"Sebetulnya apa yang terjadi? Bisa tolong anda jelaskan padaku?" Pinta Akashi.
Kakeknyapun menghela nafas lemah. "Sebetulnya, sepuluh tahun lalu, Kana mengalami kecelakaan lalu lintas, mobil yang dikendarai ayahnya tertabrak oleh mobil lain dan masuk kejurang, kedua orang tuanya meninggal di kecelakaan itu." Jeda kakeknya, mengingat kejadian sepuluh tahun lalu. "Hanya Kana yang selamat karena dia dilindungi oleh tubuh ibunya... Semenjak itu, dia berubah menjadi sangat takut pada darah dan mobil... Bahkan dia akan histeris jika menaiki mobil atau melihat banyak darah..." Katanya mengakhiri ceritanya. Akashipun terdiam mendengar itu.
"... Maaf, saya tidak tahu kalau Kana memiliki phobia seperti itu, jadi saya seenaknya menaikannya ke mobil..." Kata Akashi dengan nada menyesal.
"Tenang saja, itu bukan salahmu, lagipula kau tidak tahu kan..." Kata kakeknya sambil menepuk pundak Akashi. "Terimakasih karena sudah peduli pada cucuku..." Lanjutnya disertai senyum yang menghiasi wajahnya yang sudah menua, Akashipun membelalakan matanya kaget mendengar perkataan itu.
"Aku keluar dulu ya, Seijuurou-kun..." Pamit kakeknya. Akashi hanya menjawabnya dengan menganggukan kepalanya.
Peduli? Sejujurnya, awalnya dia bersikap peduli pada Kana itu hanya sekedar formalitas, dan itu demi keluarga dan perusahaannya namun dua bulan bersama Kana membuat Akashi mulai menyukai gadis itu (walaupun Akashi menolak untuk mengakuinya), sekalipun gadis itu seringkali bertingkah menyebalkan, tapi jika gadis itu disisinya dia merasa nyaman dan ingin melindunginya, mungkin itu salah satu penyebab dia merasa kesal saat Kana memuji Chihiro seperti tadi. Akashipun duduk dipinggir ranjang Kana, menatap wajah tidur gadis itu dan menggenggam tangannya.
"Kana..." Bisik Akashi pelan dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Sei..?" Kata Kana pelan, dia terbangun karena merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh punggung tangannya.
"Sudah sadar?" Kata Akashi berusaha tetap tenang. Kanapun hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Akashipun mulai berbicara.
"Soal tadi-"
"Sudahlah... Maaf aku merepotkanmu." Potong Kana, diapun bangun lalu memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya disitu. Akashipun menarik tangan Kana dan memaksanya untuk menatapnya.
"Aku tidak suka kata-kataku dipotong." Kata Akashi, Kanapun tidak membalas ucapannya dan hanya menatap wajahnya. "Akan kubuat phobiamu terhadap mobil hilang." Lanjutnya sungguh-sungguh. Kanapun hanya bisa membelalakan matanya terkejut.
.
.
.
Perkataan seorang Akashi Seijuurou memang tidak pernah main-main, dia benar-benar berusaha membuat phobia Kana terhadap mobil hilang, walaupun bisa dibilang caranya 'agak' kasar. Dia sengaja membuat Kana sering menaiki mobil, awalnya jelas Kana sangat marah pada sikap Akashi ini. Namun setelah Akashi menjelaskan, "Semakin sering kau melakukan hal yang kau takuti, maka rasa takutmu akan hilang." Kanapun mulai memberanikan dirinya, walaupun dia masih sering gemetaran jika berada didalam kendaraan beroda empat tersebut, namun setidaknya tidak separah dulu. Melihat perkembangan Kana, kakeknyapun merasa sangat senang dan berterima kasih pada Akashi.
"Berkat Seijuurou-kun, phobia Kana mulai sembuh... Aku benar-benar berterima kasih padanya..." Puji sang kakek pada Akashi saat mereka melakukan pertemuan keluarga.
"Itu tidak benar, saya tidak melakukan apapun. Kanalah yang berusaha." Jawab Akashi tenang. Sementara Kana yang mendengar itu hanya mengutuk dalam hati.
'Terima kasih si, terima kasih! Tapi kakek tidak tahu bagaimana rasanya 'disiksa' didalam mobil oleh si kepala merah itu!' Lalu Kana melirik ke arah Akashi, ternyata Akashipun melihat kearahnya dan pandangan merekapun bertemu. Kanapun memalingkan wajahnya cepat.
'Tapi sudahlah...' Batin Kana disertai senyuman bahagianya.
"Tumben kau memakai warna merah... Bukannya kau membenci warna itu?" Komentar Akashi saat mereka hanya berdua di taman keluarga Takahashi. Memang betul, hari ini Kana mengenakan furisode berwarna merah dengan motif bunga yang dijahit dengan benang emas, belum lagi obi motif bunga-bunga kecil dipinggangnya dan kanzashi emas yang tersemat dirambut hitam panjangnya yang disanggul sebagian benar-benar membuat Kana terlihat seperti seorang putri.
"Bu-bukan urusanmu! Memangnya kenapa kalau aku memakai warna merah? Pelayan yang menyiapkan ini semua!" Kata Kana berusaha mengelak, padahal dia sendiri yang memilih kimono itu.
"Hmph." Dengus Akashi. "Kau berbohong." Kata Akashi sambil menatap wajah Kana.
"Aku tidak-" Kanapun menghentikan ucapannya saat menatap sepasang mata heterokom dihadapannya.
"Warna merahlah yang paling cocok padamu." Bisik Akashi ditelinga Kana. Pipi Kanapun merona mendengar ucapannya. Merekapun kembali bertatapan, perlahan wajah merekapun saling mendekat, dekat, dan...
"Nona Kana, Tuan Seijuro, kakek dan ayah anda memanggil anda berdua." Panggil seorang pelayan. Wajah keduanyapun langsung menjauh.
"Kami akan segera kesana." Jawab Akashi singkat. Sementara Kana saat ini berusaha menenangkan jantungnya dan wajahnya yang sekarang merah padam menyerupai rambut Akashi.
'Ka-kalau tadi pelayan tidak datang, ma-maka kami akan...' Batin Kana gugup, sambil membayangkan apa yang terjadi jika pelayan tersebut tidak datang.
"Kana." Panggil Akashi yang membuat jantung Kana berdebar lagi.
"I-iya?!" Kata Kana.
"Ayo ketempat ayah dan kakekmu." Ajak Akashi, lalu ia berjalan didepan Kana. Kanapun langsung mengikutinya sambil menatap punggung Akashi. Entah mengapa dia menyayangkan gagalnya kejadian tadi.
Saat mereka berdua memasuki ruangan tempat ayah Akashi dan kakeknya berada, tanpa sengaja Kana melihat kalender.
'Sebentar lagi ya...' Batin Kana menatap kalender itu sedih.
"Nee, Sei…" Panggil Kana pelan. Akashi hanya menatapnya dengan tatapan 'ada apa'.
"Lusa nanti bisa antar aku ke suatu tempat? Aku ingin memperkenalkanmu."
"Kemana dan pada siapa?"
"Rahasia." Jawab Kana misterius, Akashipun terdiam untuk berpikir sejenak.
"Baiklah." Kata Akashi akhirnya, mendengar itu Kanapun tersenyum senang.
"Janji ya?!" Kata Kana kekanakan sambil mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Hhh… Iya, aku janji." Dan mereka berduapun menautkan jari kelingkingnya.
.
.
.
"Kana, kau bersiap-siaplah, sepulang sekolah nanti kita akan ke makam orangtuamu untuk memperingati 10 tahun kematian mereka." Kata Kakeknya.
"Ng… Kakek duluan saja, aku akan kesana bersama Seijuurou nanti. Kami sudah janji akan pergi bersama." Mendengar jawaban itu kakek Kanapun tersenyum,
"Kakek rasa perjanjian tiga bulan itu sudah tidak diperlukan lagi." Goda kakeknya. Mendengar itu wajah Kanapun memerah.
"A-apa maksud kakek?! Jangan berpikir yang tidak-tidak!" Kata Kana malu, berusaha mengelak.
"Hmm…" Gumam kakeknya.
"A-apa sih?! Sudah ah, aku berangkat dulu! Ittekimasu!" Panik Kana sambil meninggalkan ruang makan, sementara kakeknya tertawa pelan.
"Dasar anak muda." Gumam sang kakek dengan senyumnya.
.
.
.
"Apa?! Tidak jadi?!" Teriak Kana kesal pada Akashi. Saat ini dia berada di gymnasium SMA Rakuzan, tempat Akashi latihan basket.
"Iya, aku ada latihan basket dadakan." Kata Akashi tenang berusaha menjelaskan pada gadis didepannya ini.
"Tapi kau sudah janji kan?!" Tuntut Kana.
"Mau bagaimana lagi? Ini perintah dari pelatih."
"Apa tidak bisa kau ijin?!"
"Tidak bisa. Aku kapten."
"Ya serahkan saja pada wakilmu dulu! Memangnya mereka tidak bisa apa latihan tanpa kau?!"
"Tidak bisa. Tugas tetap tugas."
"Janji juga tetaplah janji!"
"Lain kali akan aku tepati janji itu."
"Tidak bisa! Harus sekarang!"
"Sudah kubilang tidak bisa!" Akashi mulai menaikan nada suaranya kesal.
"Mana yang lebih penting, janjimu atau basket?!"
"Itu-" Belum selesai Akashi berbicara Kana sudah memotongnya.
"Apa asiknya sih basket?! Itu hanya olahraga yang membuat tubuhmu berkeringat dan berebut bola seperti orang bodoh!" Teriak Kana dengan nada yang sangat tinggi sehingga membuat seluruh orang yang ada di gymnasium menatap mereka berdua. Kenapa Akashi tidak mengerti kalau saat ini dia benar-benar membutuhkannya?
"Jaga bicaramu!" Kata Akashi marah. Jika sudah begini tidak ada yang berani melawannya. Kana yang pertama kalinya melihat Akashi yang semarah itu akhirnya terdiam.
"... Apa-apaan itu... Apa sebegitu berharganya basket?" Kata Kana pelan. "Kalau begitu, terus saja bermain basket sampai kau mati! BAKA SEIJUUROU, PERJODOHAN KITA PUTUS!" Lanjut Kana sambil melempar tasnya pada Akashi dan langsung berlari meninggalkan Akashi yang hanya menatap punggung Kana dingin.
"Sei-chan! Kau berlebihan!" Tegur Reo, bagaimanapun juga Kana itu perempuan, tidak seharusnya Akashi memperlakukannya seperti itu. Namun Akashi hanya mengabaikan teguran dari Reo, dan berjalan menuju lapangan untuk memulai latihannya. Moodnya memburuk sekarang.
.
.
.
'Bodoh! Tukang bohong! Maniak basket! Sok absolute! Mou… Seijuurou bodoooh!' Rutuk Kana dalam hati secara terus menerus. Dia masih kesal dengan sifat Akashi barusan. Saat ini Kana sudah berjalan sangat jauh, namun tanpa arah atau tujuan, dia hanya mengikuti kakinya melangkah, yang entah kenapa menuju komplek pemakaman. Diapun langsung menuju makam kedua orang tuanya dan terduduk didepannya.
'Kenapa aku malah kemari ya?' Batin Kana. Kanapun menatap batu nisan didepannya.
"Ini sudah 10 tahun kalian meninggalkanku, ayah, ibu... Waktu terasa lambat ya..." Kana mulai berbicara pada nisan didepannya. Dia ingat saat kecil dia sering kemari dan menangis saat mengingat orangtuanya, dan kakeknyalah yang menjemput dan menenangkannya.
"Seharusnya aku kemari bersama seseorang sih… Tapi, dia mendadak ada urusan, dan seenaknya membatalkan janjinya, benar-benar menyebalkan bukan?" Curhat Kana sambil memikirkan Akashi.
"Kalian tahu, 10 tahun ini aku merasa kosong dan selalu bosan dalam melakukan apapun, hingga akhirnya aku menjadi seenaknya dan selalu membuat orang disekitarku panik dan kesal… Tapi…" Kana menggantungkan kata-katanya. "Semenjak mengenal orang itu rasanya kehidupanku mulai berubah. Awalnya aku sangat marah saat kakek menjodohkanku dengannya… Tapi perasaanku berubah… Dia membuat traumaku karena kejadian 10 tahun yang lalu menghilang, dan membuatku yang tadinya sangat membenci warna merah menjadi sangat menyukai warna tersebut… Aku benci mengakui ini, tapi aku menyukainya… Walaupun yah… Sifatnya itu aneh, dan dia itu basket maniak! Bahkan aku dibuat cemburu pada hobinya itu!" Lanjutnya sambil tertawa kecil, namun seketika ekspresinya berubah menjadi sedih.
"Tapi ayah, ibu… Kurasa dia membenciku karena kata-kataku tadi… Hhh… Sepertinya mau tidak mau aku akan minta maaf padanya. Berikan aku keberanian untuk mengatakannya ya, ayah, ibu…" Kata Kana mengakhiri kalimatnya. Dia merasa lega mengutarakan isi hatinya disini, walaupun tidak ada jawaban dari batu nisan tersebut.
"Hhh… Kurasa sebaiknya sekarang aku pulang…" Katanya lagi, diapun bangkit dari duduknya, namun dia teringat sesuatu. Dompet, ponsel, kartu langganan kereta apinya ada di tas sekolahnya, dan tasnya…
'Ada pada Seijuurou!' Teriak Kana dalam hati.
"Aah… Bagaimana ini…" Kata Kana frustasi. Dan yang lebih membuatnya sial lagi, hujan deras tiba-tiba turun.
Ditempat Akashi…
"Aaah… Hujan…" Keluh Hayama sambil menatap hujan deras dari dalam gymnasium.
"Huft… Aku lupa bawa payung lagi… Mau tidak mau aku harus menunggu hingga hujan reda." Tambah Reo, lalu ia menatap Akashi yang sedang duduk meminum minumannya.
"Hey, Sei-chan, apa tidak sebaiknya kau meminta maaf pada Kana-chan?" Saran Reo.
"Untuk apa? Aku sudah tidak peduli lagi tentangnya." Kata Akashi dingin sambil memejamkan matanya. Tentu saja ucapannya barusan itu bohong, sejujurnya dia merasa tidak enak pada Kana karena seenaknya membatalkan janjinya dan membuat gadis itu marah. Namun karena harga dirinya yang terlalu tinggi, jadi dia terlalu gengsi untuk meminta maaf pada gadis itu dan malah membiarkannya pergi begitu saja.
'Lagipula kata-katanya tadi keterlaluan.' Batin Akashi.
"Hhh… Dasar kau ini…" Kata Reo menyerah. Tiba-tiba terdengar sebuah ringtone HP yang tidak dikenal, Akashi yang tahu itu berasal dari dalam tas Kana pun langsung menjawab panggilan itu yang ternyata dari kakeknya.
"Moshi-moshi?" Kata Akashi.
"Ah! Seijuurou-kun? Kalau kau yang mengangkat, berarti kau bersama Kana ya? Syukurlah…" Kata suara diseberang sana dengan nada lega.
"Apa Kana belum pulang?" Tanya Akashi. Dia merasakan firasat tidak enak.
"Eh? Jadi dia tidak bersamamu?!" Tanya kakeknya khawatir.
"Sebetulnya…" Akashipun menceritakan semuanya. Setelah itu dia menutup panggilan tersebut, dan segera menelepon supirnya. Diapun langsung membereskan barang-barangnya dan memakai jersey Rakuzannya.
"Bilang pada pelatih, aku ijin pulang duluan. Reo, kau gantikan aku menghandle latihannya." Setelah mengatakan itu Akashi langsung berlari keluar dari gymnasium.
"Eh?! Tunggu! Kau mau kemana Sei-chan?! Ini masih hujan!" Kata Reo kaget, namun sosok itu sudah menghilang. "Ck, yaampun…" Gerutu Reo kesal.
'Hari ini hari peringatan kematian orang tuanya… Tadi dia bilang dia akan pergi bersamamu...' Ucapan kakek Kana tadi terngiang-ngiang dikepalanya.
'Ck… Dasar gadis merepotkan itu… Kenapa dia tidak bilang sih?! Sekarang kau dimana Kana?' Batin Akashi khawatir, namun dia menyembunyikan kekhawatirannya dengan memasang topeng dingin dan tenangnya.
"Seijuurou-sama…" Panggil sang supir. "Sekarang kita kemana?" Tanyanya. Akashipun berpikir sejenak, entah kenapa Akashi memiliki insting kalau Kana ada di tempat itu…
"Pemakaman. Kita kesana sekarang." Perintah Akashi, sang supirpun mengangguk patuh dan pergi kearah yang dimaksud tuan mudanya. Akashipun menatap hujan deras diluar mobil.
'Semoga dia baik-baik saja.' Batin Akashi.
.
.
.
'Hhh… Apa ini hukuman dari langit karena sudah berbuat seenaknya selama ini?' Batin Kana sambil menikmati setiap guyuran hujan yang membasahi tubuhnya, dia tidak berusaha mencari tempat berlindung, justru dia malah kembali duduk dihadapan makam kedua orang tuanya sambil memeluk kedua lututnya. Bohong jika dia tidak kedinginan, tapi entah kenapa kakinya menolak untuk bangkit dan mencari tempat untuk berlindung dari guyuran hujan tersebut.
"Kurasa tidak buruk jika aku pergi ke tempat kalian karena mati beku kehujanan… Haha…" Kata Kana sambil tertawa putus asa.
"Baka…" Kata sebuah suara, dan tiba-tiba hujan berhenti membasahi tubuh Kana karena seseorang telah memayunginya, Kanapun melihat kesumber suara.
"Se-Seijuurou?!" Teriak Kana kaget sambil membelalakan matanya, dia langsung bangkit dari posisi duduknya, namun keseimbangan tubuhnya tidak stabil karena dia tiba-tiba merasa pusing. Mungkin karena dia membiarkan tubuhnya sejam lebih terguyur hujan. Akashipun lagsung menahan tubuh Kana dan menariknya kedalam pelukannya, lalu ia melepas jersey Rakuzannya dan memakaikannya ditubuh Kana.
"Baka… Siapa suruh hujan-hujannan, hah? Ayo pulang, kakekmu khawatir." Kata Akashi, sementara Kana mengangguk pelan dengan wajah memerah. Merekapun berjalan menuju mobil Akashi yang sudah menunggu di gerbang pemakaman.
"Pakailah, setidaknya untuk mengeringkan sebagian tubuhmu." Kata Akashi menyerahkan handuk kecilnya, Kanapun mengangguk dan mulai mengeringkan tubuhnya. Setelah selesai, diapun mengembalikan handuk itu pada Akashi dan mengucapkan 'terima kasih' padanya. Hening diantara mereka.
"Se-Seijuurou…" Panggil Kana pelan, Akashi tidak menjawab, dia hanya melirikan matanya kearah Kana. Takut-takut Kana menatapnya.
"Ha-hari ini…" Lanjut Kana. Namun dipotong oleh Akashi.
"Sudahlah, aku sudah tahu dari kakekmu… Aku minta maaf karena tidak tahu kalau hari ini hari peringatan kematian kedua orang tuamu." Kata Akashi, mendengar itu, Kanapun terdiam.
"Kana… Jangan ulangi lagi kejadian ini." Kata Akashi memperingatkan, Kanapun hanya membalasnya dengan anggukan.
"Sei… Boleh aku… Bersandar padamu?" Tanya Kana pelan. Akashi hanya menghela nafasnya dan menarik Kana agar mendekat padanya.
"… Terima Kasih…" Bisik Kana, lalu ia mulai memejamkan matanya, dia benar-benar lelah. Akashi hanya tersenyum kecil sambil mengeratkan pelukannya pada Kana. Entah sejak kapan gadis menyebalkan ini menjadi bagian penting hidupnya, dan dia ingin menjaganya dengan baik.
.
.
.
"Seijuurou." Panggil Kana pada pria didepannya. Hari ini mereka berjanji untuk bertemu disebuah taman dan pergi bersama ke makam orang tua Kana.
"Kau betul-betul sudah sembuh?" Tanya Akashi. Setelah kejadian itu selama satu minggu Kana demam tinggi dan Akashi setiap hari menjenguknya.
"Un. Terimakasih kepada seseorang yang selalu menemuiku tiap hari dan memaksaku memakan obat-obatan yang pahit itu." Sindir Kana.
"Kutarik pertanyaanku tadi. Kau memang sudah sembuh total sehingga bisa menyindirku seperti itu." Kata Akashi dingin, sementara Kana hanya menjulurkan lidahnya.
"Ah, iya… Ini jerseymu. Terimakasih." Kata Kana sambil menyerahkan jersey milik Akashi. "Dan aku minta maaf untuk kata-kataku yang keterlaluan waktu itu." Lanjutnya tanpa menatap mata Akashi. Akashi hanya diam saja mendengar hal kata-kata Kana.
"Lalu soal perjodohan kita…" Kanapun bingung bagaimana mengatakannya, waktu itu dia emosi dan seenaknya mengatakan 'putus' dan sekarang dia terlalu gengsi untuk mengatakan kalau dia tidak ingin putus.
"… Sudahlah. Aku tahu kau tidak ingin putus. Bulan depan kita akan resmi bertunangan kan?" Kata Akashi dengan nada agak mengejek sehingga membuat wajah Kana merona.
"Ha-hah?! Kenapa kau menentukan seenaknya begitu?!" Kata Kana.
"Jadi kau ingin putus?" Tanya Akashi.
"Ukh…" Kanapun speechless. Melihat itu Akashipun hanya menatap Kana dengan senyum mengejek.
"Apa-apaan senyummu itu, hah?!" Kata Kana dengan wajah yang memerah.
"Kau demam lagi?" Tanya Akashi sambil menatap wajah Kana, memaksanya untuk menatapnya dan entah kenapa Kana tidak bisa mengalihkan tatapannya.
"Aku tidak-"
"Kau tahu salah satu cara menyembuhkan demam?" Tanya Akashi memotong ucapan Kana, lalu ia mengecup bibir Kana lembut. "Yaitu menularkannya pada orang lain." Bisik Akashi disertai smirknya setelah melepaskan kecupannya.
"Sudahlah, ayo ke makam orang tuamu." Ajak Akashi meninggalkan Kana yang masih membatu karena kecupan singkat itu.
1 detik…
2 detik…
3 detik…
"SE-SEIJUUROU BODOOOH!" Teriak Kana dengan wajah yang sangat-sangat memerah pada Akashi yang sudah berjalan jauh didepannya. Sementara Akashi hanya tersenyum kecil.
'Aku memang selalu benar.' Batin Akashi.
END
Author's note:
Huaaa! Gak nyangka bakal jadi sepanjang ini! *cengong*
Gomenne kalau Akashinya OOC disini… Sumimasen! Sumimasen~! *ala Sakurai*
Tapi saya bahagia… Akhirnya projek kita selesai Otouto~! *nangis bahagia bersama Sirius*
Well, terima kasih banyak buat yang sudah baca dan review… Kalian penyemangatku~ *senyum-senyum* #digaplok
Mau balas reviewnya Uchiha Ayu-chan dulu di chap 5~ : Hu'un aku sengaja bikin nasib si Aomine tragis… Wahahahaha~! *ditimpuk bola basket sama Aomine plus fansnya* Nah, ini bagian Akashinya~ semoga kamu suka ya~ Makasih banyak atas reviewnya, ditunggu review di chap ini~ :D
Nah, berhubung ini chapter terakhir, ayo dong reader-tachi, minta reviewnya~ hehehe… xD
Yosh, imamade. Arigatou Gozaimasu~! :D
Sign, Kaito Akahime (Kazusa Kirihika)
