-Tower-
*Ch 1*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka
Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal Pov.
Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?
Maret 2014, Revania
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Rinto sambil menompang dagunya, bosan.
Kini Rinto, Kaito, Len, dan Miku sedang dalam perjalanan ke kerajaan Melodia. Mereka akan tinggal disana sementara waktu. Oh, kuberitahu. Mereka adalah seorang pengelana. Dalam arti, mereka berpergian dari suatu daerah, ke daerah yang lain dalam jangka waktu tertentu.
Mereka sekarang sedang menggunakan kereta kuda untuk berpergian ke kerajaan Melodia. Kerajaan Melodia adalah kerajaan yang terkenal karena musik indahnya dan juga festival musik yang diadakan disana.
"Sebentar lagi sampai kok," Hibur Miku, ibunya Rinto dan Len. Ia tahu Rinto pasti bosan dengan perjalanan ini. Karena ia sendiri juga bosan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kerajaan Melodia. Mereka hanya menggunakan kereta kuda sampai di perbatasan kerajaan Revania dan Melodia. Setelah itu mereka berjalan, menuju ke rumah Lenka.
.
.
.
"WAH! Lama tidak jumpa, Miku! Kau bertambah cantik saja!" Ucap seorang wanita berambut kuning keemasan diikat satu ke samping, Akita Neru sambil tersenyum ramah, menyambut kehadiran keluarga Kagamine itu. Kaito? Kaito tidak ikut ke kediaman Akita, ia lebih memilih pergi ke toko es krim.
Kini mereka sedang berada di ruang tamu kediaman Akita. Kediaman tenang yang hanya berisi dengan tiga orang: Akita Neru, Akita Nero, dan Akita Lenka.
"Iya… Lama tidak jumpa Neru! Ah, dimana Lenka? Aku yakin Len dan Rinto mau bermain bersamanya!" Jerit Miku gembira.
"Lenka? Tunggu ya, kupanggilkan dulu!" Balas Neru lalu segera naik ke lantai dua untuk memanggil Lenka. Tak lama kemudian, Neru kembali. Tapi hanya sendirian.
"Kalian, main di kamarnya Lenka saja ya!" Ucap Neru lalu memberi isyarat kepada Rinto dan Len untuk mengikutinya. Rinto dan Len pun hanya mengangguk dan mengikuti mereka dari belakang.
.
.
.
Kamar Lenka bisa dibilang cukup luas untuk anak seusianya. Mungkin itu dikarenakan faktor bahwa Lenka itu anak tunggal.
"Jadi… Selamat bersenang-senang!" Ucap Neru lalu dengan cepat menutup pintu kamar tersebut setelah Len dan Rinto masuk ke dalam.
"Em… Len? Rinto? Sedang apa kalian disini?" Tanya Lenka yang belum pulih dari keterjutannya.
"Em… bisa dibilang kami akan tinggal disini selama beberapa hari," Ucap Rinto. Len hanya mengangguk menyetujui ucapan Rinto. Lenka juga cuman manggut-manggut, tapi tidak tahu apakah ia benar-benar mengerti atau tidak. Suasana pun menjadi canggung.
"Jadi… Mau main apa?" Tanya Lenka, memecahkan keheningan yang terdengar canggung itu. Rinto dan Len hanya mengangkat bahu.
"Kalau begitu… AYO KITA JALAN-JALAN!"
.
.
.
"Kau tahu menara itu kan, Miku?" Tanya Neru.
"Menara apa?" Tanya Miku kebinggungan.
"Menara di kerajaan Melodia ini, yang berada di pinggir kerajaan dan tidak jauh darisini itu… Kau tahu kan?" Tanya Neru lagi dengan pandangan serius.
"Oh! Menara yang terkenal angker itu?" Tanya Miku memastikan. Neru mengangguk.
"Iya. Menara angker karena suara tangisan tersebut… Begini, jangan biarkan kedua anakmu bermain disana! Bisa-bisa kesialan menimpa mereka," Peringat Neru. Miku hanya mengangguk, walaupun dalam hati ia agak ragu.
"Dan satu lagi, aku akan berpergian selama setahun atau dua tahun ke kerajaan Francisca di daerah utara, jadi…," Neru menghentikkan kalimatnya sejenak. Miku menatapnya, kebingunggan.
"Jadi… Bisa tidak Lenka ikut berkelana bersama kalian?" Tanya Neru memohon.
"Eh?"
.
.
.
Kini Rinto, Len, dan Lenka sedang berada di pekarangan rumah. Tunggu…
…PEKARANGAN RUMAH?!
Flashback: ON
"Tunggu… JALAN-JALAN?!" Koor Rinto dan Len kaget. Lenka mengangguk ceria.
Ternyata polos-polos gini, Lenka itu nakal juga ya?
"Jadi… Apa maksudmu dengan jalan-jalan?" Tanya Rinto kebinggungan dan dengan pandangan horror. Ia sebenarnya mempunyai sebuah teori dengan apa yang dimaksud Lenka, namun ia belum yakin.
"Kita akan pergi ke luar!" Jerit Lenka ceria.
"Ke-Ke-Keluar?" Tanya Len tergagap, "Tapi bagaimana dengan Neru ba-san?"
"Aku yakin Okaa-san akan segera pergi habis ini untuk membeli merek ponsel terbaru dari Nok*a," Jawab Lenka polos, "Dan karenanya kita akan pergi ke menara!"
"APA?!" Jerit Rinto dan Len dengan pandangan horror. Tanpa memedulikan reaksi Len dan Rinto, Lenka segera meluncurkan ide 'nista'nya itu. Ia pun menmasukkan tangannya ke bawah kasur, mencari sesuatu.
"Ah! Ketemu!" Pekiknya gembira ketika menemukan sebuah selendang yang sangat panjang. Ia pun mengikat ujung selendang itu di teralis jendela dan melempar sisanya turun hingga mencapai ke tanah.
Kuingatkan sekali lagi, kamar Lenka, berada di lantai DUA!
"Ayo, kita turun ke bawah!" Ajak Lenka lalu langsung meluncur kebawah menggunakan selendang tersebut sebagai perantaranya dan mendarat dengan mulus di tanah.
"Ayo turun! Ngak berbahaya kok!" Bujuk Lenka kepada Rinto dan Len yang terlihat pucat pasi. Kalau Lenka kan sudah professional, tapi untuk Len dan Rinto? Ini merupakan sebuah hal baru bagi mereka.
"A-A-Aku turun…," Ucap Len pelan lalu segera berseluncur turun, tapi sayangnya…
"Eh?"
BRUK!
Pendaratannya sangatlah tidak elit, dengan tubuh terkapar di tanah. Dan Rinto yang tidak menyadarinya langsung menyusul Len sehingga pendaratannya…
"Eh? Kok empuk ya?" Batin Rinto kebinggungan dan saat ia menengok ke bawah…
"RI-RINTO! MENYINGKIR DARI PUNGGUNGKU!" Jerit Len kesal karena ditindih seperti itu. Rinto yang barusan sadar langsung menyingkir dari punggung Len sambil menggumamkan kata 'maaf' sedangkan Len langsung berdiri sambil menggerutu tidak jelas.
"Rinto! Len! Ayo cepat! Kita akan segera pergi ke menara SEKARANG!" Perintah Lenka dengan sebuah senyuman manis.
Len dan Rinto mengangguk kecil dan menjawab dengan kompak: "Ha'iii."
Flashback: OFF
.
.
.
Kini terlihat tiga orang tengah berlari ke arah sebuah menara. Ya, menara kutukan tersebut. Tak lama kemudian, ketiga orang itu pun sampai di gerbang menara tersebut.
Gerbang itu dicat dengan warna cokelat emas, dengan berbagai motif yang cukup klasik membuat suasana seperti berada di dalam negeri dongeng bagi siapapun yang melewati gerbang tersebut.
"Aneh… Padahal biasanya gerbang ini dibuka…," Gumam Lenka pelan.
"Eh? Ada apa Lenka?" Tanya Rinto yang mendengar sedikit gumamman Lenka.
"Bukan apa-apa… Ada yang bisa memberi usul tidak? Bagaimana cara masuk ke dalam?" Tanya Lenka sambil menoleh ke arah Len dan Rinto bergantian.
"Em… Didobrak?" Tanya Len ragu-ragu.
"Tidak bisa! Pintunya terlalu kuat!" Ucap Lenka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau memanjat gerbang saja? Gerbangnya kan juga tidak terlalu tinggi," Ucap Rinto sambil menunjuk gerbang tersebut. Lenka langsung tersenyum cerah.
"Benar juga! Kenapa ya tadi ngak kepikiran? Rinto pinter deh!" Puji Lenka saking girangnya lalu mulai memanjat keatas gerbang. Em… Ingat, Lenka menggunakan celana panjang. Sedangkan Rinto hanya bisa diam tapi dalam hati berbunga-bunga karena dipuji Lenka.
"Ayo kita panjat gerbangnya!"
.
Alicia: Yes! Chap 1 jadi… Kecepetan ya? Maaf… Dan disini Rin belum masuk memang… X3 Dan jujur, Alice sudah buat Endingnya-
Kyoko: WHAT?! BUAT ENDING TANPA PLOT?! *cengo*
Alicia: Ehehe… IYa… Ide mendukung soalnya XD
Inori: Mari kita balas review~
.
-Sae Hinata
Ehehe, Alice memang sengaja buat kayak donggeng2… Soalnya Alice suka genre fantasy/mystery gituan X3
Arigatou sudah me-review!
-Kurotori Rei
Iya… Rinnya belum masuk, tapi nanti masuk di Ch 2 ._.
Arigatou sudah me-review! X3
-Nabmiles
Em… Maksudnya foreshadow? Gomen kepo #plak
Alice kurang mengerti soalnya ._. (Soalnya Alice masih muda…#Plak)
Arigatou sudah me-review! XD
.
Lanjut atau delete?
