-Tower -
*Ch 3*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka
Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). Awalnya Normal Pov (sampai pergantian PoV).
Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?
"Celaka!" Batin gadis itu ketika melihat bahwa ada seseorang di hadapannya kini yang melihatnya dengan pandangan terkejut. Dan tanpa berpikir panjang, ia pun berteriak.
"KYAAAA!"
Setelah ia selesai berteriak, sang gadis langsung merebut kembali kantung belanjaannya dari tangan Len lalu berniat untuk langsung berlari pergi. Namun, Len ternyata berhasil menggengam lengannya, membuat gadis itu memekik kecil.
"Kau siapa?" Tanya Len dengan nada serius. Gadis tersebut meronta, namun Len jauh lebih kuat. Maka…
GRAUP!
Gadis itu langsung menggigit tangan Len dengan cepat, membuat Len mau tidak mau melepaskan genggamannya dan merintih kesakitan sembari memegangi tangannya.
"Len!" Jerit Rinto ketika ia sudah sampai disana. Lenka berada di belakangnya.
"Dia sudah pergi," Ucap Len dengan nada kesal. Lenka dan Rinto pun melihat ke arah dalam menara sejenak (terdapat tangga disana) lalu kearah Len yang kini tengah memegangi tangannya sambil sesekali merintih kesakitan akibat gigitan gadis tadi.
"Kenapa tanganmu?" Tanya Lenka dengan raut binggung. Rinto juge melihat kearah Len, meminta penjelasan.
"A-Aku… Digigit olehnya…," Ucap Len dengan nada pelan dan sedikit rona merah. Terasa sekali kalau ia malu mengakui bahwa ia kalah melawan seorang gadis.
"Heh?"
Namun setelah itu, tempat itu segera dipenuhi oleh suara tawa Rinto dan Lenka.
"O-Oi! Jangan tertawa!" Ucap Len, berusaha menghentikan kedua temannya yang tertawa karena jawabannya. Namun bukannya berhenti, tawa mereka malah semakin menjadi-jadi.
.
.
.
? PoV
Aku langsung berlari ke lantai paling tinggi menara. Entah mengapa, perjalanan ke atas terasa lebih lama daripada biasanya. Dan itu membuatku rasa lelahku semakin terasa. Uh… Apalagi karena adanya pemuda itu tadi.
Awas saja jika ia berani mengambil kantung belanjaanku! Akan kuberi dia pelajaran! Ah! Sebentar lagi sampai! Yey! Akhirnya aku sampai juga di lantai teratas menara. Di menara ini, banyak sekali lantainya. Lantai teratas adalah lantai tujuh. Dimana ruanganku berada.
Aku pun berjalan masuk ke dalam koridor di lantai tujuh. Koridor itu cukup berdebu, namun juga cukup bersih untuk ditinggali. Aku berbelok ke arah kanan saat ada pertigaan lalu berjalan terus sampai berada di akhir koridor.
Di akhir koridor, terdapat sebuah pintu yang memiliki warna yang sama dengan tembok disekelilingnya, sehingga tidak mudah untuk dideteksi. Aku pun mencari ganggangnya. Dan saat aku menemukannya, kubuka pintu itu.
Normal PoV
Sang gadis pun membuka pintu tersebut. Dibalik pintu itu, terdapat sebuah ruangan yang cukup luas, dengan tembok yang terbuat dari batu bata, dan lantai yang dibuat dari kayu jati. Diujung kanan ruangan tersebut, terdapat sebuah ranjang berwarna oranye. Selain itu, terdapat juga beberapa perabotan lainnya, seperti lemari, meja, kursi, lampu, dll.
Gadis itu menghela nafas kecil, lalu masuk dan menutup pintunya. Ia melepaskan kerudung yang dikenakannya dan menaruhnya di dalam lemari sehingga menampakan rambutnya yang berwarna honeyblond sebahu. Ia mengenakan beberapa jepit untuk merapikan poninya, serta sebuah pita putih bersih di atas kepalanya.
Ia mengenakan sebuah dress polos berwarna putih berlengan pendek, dengan ujung yang frilly. Terdapat sebuah pin Mawar tersemat di bajunya. Selain itu, ia juga mengenakan sebuah sepatu flat berwarna kuning dengan pita berwarna oranye cerah diujungnya.
Gadis itu meletakkan kantung belanjaannya di meja lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sejenak. Gadis itu menghela nafas sekali lagi, lalu berjalan dan duduk di pinggir kasur miliknya.
Disebelah kasurnya, terdapat sebuah meja rias. Disana terdapat sebuah frame dengan foto seorang wanita berambut pirang panjang sedang tersenyum. Disebelah foto tersebut, terdapat sebuah lampu tidur.
Sang gadis pun mengambil foto tersebut, meletakkan jari-jarinya di atas foto tersebut. Lalu ia menggumamkan sebuah kata dengan nada sedih.
"Kaa-san…"
.
.
.
"Lenka, apa kau yakin ini tidak akan apa-apa?" Tanya Rinto kebinggungan, bagaimanapun juga, ide tidur di menara bukanlah suatu hal yang bagus.
Kini Len, Rinto, dan Lenka sudah berada di rumah Lenka, tepatnya di kamarnya. Mereka terus saja berdiam di kamar Lenka sejak insiden yang terjadi tadi sore, mendiskusikan ide Lenka.
"Tentu saja! Lagian aku jamin kalian juga ingin tahu tentang gadis yang menggigit Len tadi kan?" Tanya Lenka antusias. Len dan Rinto mengangguk.
"Kalau begitu, kita hari ini akan tidur di menara!" Seru Lenka, "Dan kita hanya akan membawa ransel berisi makanan dan minuman!"
"Eh? Kalau begitu kita nanti tidur dimana?" Tanya Len kebinggungan. Rinto sendiri tidak kalah binggungnya dengan Len.
"Kalau di menara, aku yakin banyak kamar. Dan kalaupun kita tidak menemukan cukup kamar, kita bisa tidur di dalam koridor menara. Tadi aku sempat mengintipnya sedikit. Hanya berdebu sedikit, namun kita masih dapat tidur disana."
"Entah mengapa ini jadinya seperti camping saja," Batin Len dan Rinto sambil sweatdrop.
"Berapa lama kita menginap? Dan bagaimana dengan kaa-san dan juga Neru ba-san?" Tanya Rinto.
"Hanya semalam! Ah, Kaa-san dan Miku ba-san sudah aku urus," Jawab Lenka cepat dengan tampang datar. Rinto dan Len pun membelalakan matanya.
"Maksudmu… Kau urus?" Tanya Rinto dan Len dengan kaget.
"Okaa-san sudah pergi ke Kerajaan Francisca di daerah Utara, sedangkan Miku ba-san sepertinya takkan kembali sampai besok."
Rinto dan Len pun menghela nafas lega. Lenka menaikkan sebelah alisnya, kebinggungan.
"Memangnya kalian pikir aku melakukan apa?" Tanya Lenka dengan pandangan curiga.
"E-Eh! Tidak ada apa-apa kok!" Ucap Rinto dan Len bersamaan sambil melambaikan kedua tangannya di depan dada tanda mereka tidak memikirkan apa-apa. Lenka terlihat semakin curiga, namun ia menghapus kecurigaan itu dan segera pergi ke lantai bawah untuk mengemasi makanan.
.
.
.
"Sisir, lotion, ponsel, buku bacaan, majalah anime, tisu kering dan tisu basah, antis… Yosh! Itu barang bawaanku!" Lenka pun berbicara dengan dirinya sendiri sembari memasukkan semua benda tersebut. Lalu ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil yang bertulisan barang pokok yang harus dibawa.
"Pakaian?" Lenka pun mulai mendikte barang bawaan mereka bertiga. Len dan Rinto mengangguk, pertanda merewka sudah membawanya.
"Sepuluh sisir pisang?"
"Siap!" Jawab Len semangat. Lenka mengangguk puas.
"Sepuluh buah jeruk?"
"Siap! Tapi kenapa pisangnya jauh lebih banyak daripada jeruk?!" Tanya Rinto tidak terima.
"Karena pisang itu jauh lebih enak daripada jeruk," Jawab Len dan Lenka kompak juga dengan memberikan deathglare gratis kearah Rinto, 'Kau-akan-jadi-sate-jika-membalas-lagi.' Rinto meneguk ludahnya lalu tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!" Seru Lenka gembira. Sepertinya mood Lenka dapat berubah dengan cepat ya?
Tidak memerlukan waktu lama untuk segera sampai ke menara yang besar tersebut. Mereka pun segera masuk kedalam. Oh, mungkin kalian bertanya, bagaimana cara mereka keluar dari rumah itu? Maka jawabannya adalah: 'Menggunakan cara yang sama dengan cara yang mereka gunakan di chapter 1'.
Mereka pun langsung masuk ke dalam, karena gerbangnya sama sekali tidak dikunci. Lenka langsung saja masuk ke dalam menara, lalu naik ke lantai tiga. Matanya yang berwarna shappire mencari-cari pintu ruangan-ruangan di lantai tersebut.
Hingga ia menemukan sebuah koridor dengan dua kamar yang terbuka disana. Lenka langsung memasuki kedua kamar tersebut, melihat apakah terdapat cukup ranjang disana. Rinto dan Len yang mengikuti Lenka dari belakang hanya kebinggungan ketika Lenka keluar dari salah satu ruangan dengan wajah gembira.
"Aku sudah menemukkan kamarnya!" Jeritnya. Rinto dan Len hanya berpandang-pandangan sejenak sebelum berlari untuk melihat kamar yang dimaksud Lenka.
Kamar yang pertama memiliki dinding terbuat dari batu bata dengan lantai dari keramik. Terdapat satu ranjang disana. Ruangannya tidak seberapa luas. Sedangkan ruangan kedua cukup luas. Dindingnya terbuat dari batu bata juga, namun lantainya terbuat dari kayu. Disana juga terdapat dua ranjang.
"Kalau begitu, aku dan Len akan tidur disini, dan Lenka akan tidur disana," Ucap Rinto dengan nada datar sambil menunjuk ruangan kedua dan ruangan pertama secara bergantian. Lenka dan Len hanya mengangguk menyetujui.
Mereka pun masuk ke dua ruangan yang bersebelahan itu lalu membereskan barang bawaan mereka. Rinto dan Len lebih dulu selesai, kenapa? Karena barang bawaan mereka lebih sedikit daripada Lenka.
Setelah selesai membereskan barang, mereka pun berbincang-bincang sejenak di kamar Rinto dan Len. Walaupun tidak tahu juga, apakah sebenarnya mereka bertiga boleh tidur di dalam kedua kamar itu.
"HOAM!" Tiba-tiba saja, Lenka menguap kencang. Terbukti sekali kalau ia sekarang sudah mengantuk. Len dan Rinto yang awalnya berbicara, menoleh kearah Lenka.
"Sebaiknya kita tidur saja sekarang, sudah jam sembilan malam," Ucap Rinto. Len dan Lenka mengangguk setuju. Lampu kamar Len dan Rinto pun dipadamkan.
.
.
.
"Hiks…," Sang gadis bersurai honeyblond sebahu itu menangis perlahan. Memang tidak keras, namun karena ia menangis di dalam menara, membuat gema di seluruh menara (karena pasti ada celah dari ruangan satu ke ruangan lainnya).
Wajahnya merah karena menangis. Matanya juga sedikit merah. Wajahnya yang awalnya bersih tanpa noda kini dicemari oleh adanya air mata. Gadis itu menggumamkan beberapa kata sebelum ia kembali terisak pelan.
"Kaa-san… Kenapa… Kaa-san… Meninggalkanku?"
.
.
.
Len yang masih tidur perlahan membuka matanya. Ia merasa mendengar sesuatu. Seperti suara… Tangisan? Entahlah, ia sendiri tidak tahu. Perlahan, ia turun dari ranjangnya. Ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Rinto masih terlelap di tempat tidurnya. Len merasa kalau Rinto tidak mendengar suara aneh tersebut, maka Len tidak berencana untuk membangunkannya. Ia berjalan keluar, masih mengenakkan bajunya yang tadi sore ia kenakkan. Jaket dengan celana jeans.
Menara itu cukup dingin, bagaimanapun juga, kerajaan Melodia rata-rata memang memiliki suhu dibawah lima belas derajat. Karenanya, mereka tidak memerlukan kipas angin ataupun Air Conditioner (AC). Bahkan terkadang Len sendiri justru masih merasa kedinginan walaupun sudah mengenakan pakaian yang seperti itu.
Ia melirik kearah kamar Lenka sebentar. Lalu ia meletakkan daun telinganya di pintu, berusaha mendengarkan apakah ada suara datang dari kamar tersebut.
Hasilnya nol. Lenka juga sepertinya tidak terbangun seperti Len. Sepertinya Rinto dan Lenka memang susah sekali untuk terbangun. Tanpa ada niat untuk membangunkan Rinto dan Lenka, Len pun berjalan-jalan menelusuri koridor tersebut.
"Hiks…"
Len mendengarnya lagi. Suara itu. Suara yang membangunkannya dari alam mimpi. Len merasa kini suara itu jauh lebih dekat daripada yang tadi.
"Hiks…"
Len PoV
Kini aku yakin. Suara itu suara tangisan. Tapi… Siapa yang menangis di jam seperti ini? Ini bukalah suara Rinto ataupun Lenka, jadi aku konklusikan ini pasti bukan mereka. Yang biasanya berkeliling di jam seperti ini kan…
…Hantu.
Hiiiiii! Tenangkan dirimu Len. Ya, tidak mungkin kan ada hantu disini? Bagaimanapun juga itu tidak mungkin. Ya, tidak mungkin. Takkan pernah. Tidak mungkin.
"Hiks…"
Sekali lagi aku merasa bulu kudukku merinding. Aku cukup ehemtakutehem dengan hantu. (Tapi tidak separah Lenka). Yah, sulit dipercaya memang, seorang Kagamine Len takut dengan yang namanya ehemhantuehem.
Sekarang aku merasa ingin kembali ke dalam kamar dan masuk ke dalam alam mimpi sekali lagi, namun aku juga ingin tahu…
…Siapa yang menangis di jam sebelas malam ini?
…Mengapa dia menangis?
…Apa dia pernah mengalami sesuatu yang pahit?
Setelah beberapa lama pikiranku berdebat, akhirnya, aku pun memutuskan…
…Untuk mencari penyebab suara tangisan itu.
"Hiks…"
Suara itu terdengar lagi. Namun kini lebih pelan. Sepertinya seseorang yang menangis tersebut berusaha untuk menghentikan tangisannya.
Karena aku merasa tangisan tersebut berasal dari lantai atas, aku pun berlari, menaikki tangga. Aku berlari dengan cepat, seakan-akan jika terlabat sedetik saja, 'orang itu' sudah takkan ada lagi disana.
Kini aku sampai di lantai teratas. Lantai dimana suara itu paling jelas terdengar juga…
…Paling gelap.
Ya. Koridornya sangat gelap, tidak ada lampu satupun yang menyala. Hanya ada cahaya remang-remang yang masuk lewar jendela. Aku melangkahkan kakiku dan mengedarkan pandanganku ke sekitar, berusaha mencari koridor manakah yang akan mempertemukanku dengannya.
"Hiks…,"
Suara itu terdengar lagi. Namun kali ini aku dapat mengetahui kalau yang menangis adalah seorang gadis. Suara itu terdengar lemah juga takut. Tapi… Suara itu juga seperti mengundangku… Untuk menemukan dirinya.
.
Alicia: WEEEWW… Akhirnya jadi juga nih chap! X3 RintoLenka akan dimulai di chap depan… XD RinLen akan dimulai di chap depan juga! X3 Sekedar spoil sedikit… Apa yang akan terjadi jika Lenka terbangun?
Inori: Mari kita balas reviewnya~
.
-Nishiko Yuki
Ini sudah updet Ev… Arigatou sudah me-review! X3
-Kei-T Masoharu
Ok! Ini sudah lanjut… Arigatou Kei sudah me-review! X3
-Sae Hinata
Oke! Ini sudah lanjut! Arigatou sudah me-review! XD
-Celia Viona
Alice aja nekat kok Vi… Pernah manjat gerbang rumah ._. #dor
Ok! Ini sudah lanjut! Arigatou reviewnya! XD
-Kurotori Rei
Iya… Itu Rin, sudah kelihatan di chap ini XD
Ha'i… Sudah lanjut! Arigatou sudah me-review! X9
-Kagamine Ririka02
Okee… Ini sudah updet! Arigatou sudah me-review! XD
-Emilia Frost
Iya… Ini sudah lanjut! Arigatou Emi sudah me-review! X3
.
TERAKHIR… REVIEW PLEASE? *Puppy eyes*
.
Lanjut atau delete?
