-Tower -
*Ch 4*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka
Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.
Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal PoV.
Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?
Disaat Len sedang mencari penyebab suara tangisan tersebut, mari kita intip keadaan Lenka dan Rinto…
"Uhmm…," Gadis itu mengerang pelan karena terbangun. Perlahan, kelopak matanya terbuka, menampakkan matanya yang berwarna biru Shappire. Ia sendiri tidak tahu suara apa yang membangunkannya hingga…
"Hiks…"
…Sebuah suara pelan sukses membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
"Jangan bilang kalau disini memang ada arwahnya Kagami Lily…," Batin Lenka dengan keringat dingin bercucuran. Ia memosisikan dirinya menjadi duduk, lalu menggengam selimut yang dikenakannya erat-erat.
"Hiks…"
Bagus. Suara itu sukses membuat Lenka ingin berteriak, namun suaranya tidak dapat keluar. Dengan wajah ketakutan dan air mata di ujung matanya ia berlari keluar kamarnya dan langsung mengetuk kamar Rinto dan Len pelan.
"Rinto! Len!" Bisik Lenka pelan. Namun tidak ada jawaban. Lenka kini merasa lebih takut lagi. Karenanya, ia langsung saja membuka pintu ruangan Len dan Rinto tanpa permisi. Setelah membukanya, ia segera mengedarkan pandangannya ke ruangan itu.
Gelap. Yah, jelaslah gelap, ini kan malam hari, dan juga lampu kamar Rinto dan Len sudah dipadamkan. Lenka meraba sekelilingnya, walaupun ia masih dapat melihat, namun bagaimanapun juga, seorang gadis biasa tanpa night vision akan kesusahan melihat di dalam gelap.
Ia berjalan mengelilingi ruangan itu. Dan kini ia sampai dimana ranjang Len berada. Lenka yang meraba-raba ranjang itu segera tahu kalau Len tidak berada di sana (Note: Ranjang Len berada di ujung kiri ruangan, sedangkan ranjang Rinto berada di ujung kanan ruangan).
"Kemana Len?" Batinnya kebingungan.
"Hiks…"
Sekali lagi, suara itu membuat Lenka bergidik ngeri. Mau tidak mau, spontan ia langsung masuk ke dalam ranjang Len dan membungkus dirinya di dalam selimut dalam-dalam.
"Uh… Sekarang bagaimana? Tak ada jalan lain, selain…," Batin Lenka dengan raut wajah serius, "… Tidur disini."
Bagaimanapun juga, Lenka terlalu takut untuk kembali ke kamarnya. Setidaknya, jika ia berada disini, ia merasa aman karena Rinto ada bersamanya. Lenka tahu Rinto masih tertidur karena ruangan itu sangat tenang, sehingga suara deru nafas Rinto dapat terdengar walaupun sangat pelan.
Lenka pun memosisikan dirinya agar nyaman di dalam ranjang tersebut, lalu perlahan ia menutup matanya sambil berpikir.
"Aku akan meminta maaf pada Len besok,"
Kembali ke keadaan Len…
Len kini sedang berjalan-jalan di koridor-koridor lantai tujuh itu dengan raut kebinggungan. Ia merasa tadi sudah melalui jalan yang benar, namun akhirnya malah berakhir di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Len pun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan kebinggungan. Sudah tiga kali ia berakhir di tempat yang sama.
"Hiks…"
Suara itu terdengar lagi. Seperti tadi, Len pun berjalan memasukki koridor itu sekali lagi. Namun entah mengapa, selalu saja berakhir di jalan buntu. Len yang merasa kebinggungan pun berhenti di depan koridor itu lalu memasang telinga baik-baik.
Cahaya matahari yang direfleksikan oleh bulan kini tengah masuk ke dalam jendela di sebelah Len, membentuk sebuah cahaya remang-remang. Len pun terdiam sebentar di ujung koridor tersebut. Ia benar-benar yakin kalau suara tersebut berasal dari sana.
Sudah tiga kali ia berakhir disitu, namun ia selalu berlari kembali dan mencari rute yang lain karena merasa jalan tersebut jalan buntu. Namun kini ia yakin, ada sesuatu disini. Sebuah ruangan tersembunyi… Mungkin?
"Hiks…"
Suara itu lagi. Len mendengarnya dengan jelas kini. Datangnya dari ruangan dibalik tembok diujung koridor tersebut. Len pun memiringkan kepalanya sejenak.
"Ada ruangan… Dibalik tembok ini!" Batinnya kaget. Lalu ia meraba tembok tersebut. Hingga tangannya menangkap sesuatu seperti metal yang dingin. Tanpa aba-aba, Len langsung membuka pintu tersebut.
Menunjukkan ruangan terang yang cukup luas. Len menutup matanya sejenak dengan lengannya, karena terlalu terang. Hingga matanya dapat mengadaptasi dengan cahaya di ruangan tersebut, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.
Tembok yang terbuat dari batu-bata, lantai yang terbuat dari kayu, dan perabotan-perabotan tertata dengan rapi di dalam ruangan tersebut. Len terus mengedarkan pandangannya hingga ia melihat sesuatu- tidak, tepatnya seseorang.
Ya, seorang gadis tengah membungkus dirinya di dalam selimut kepunyaannya, dan menatap Len dengan mata terbelalak. Wajahnya sangat menggelikan saat itu, setidaknya itulah menurut Len.
"Ba-Bagaimana k-kau bisa ma-masuk k-ke sini?" Tanya gadis berambut honeyblond berjepit putih di rambutnya itu dengan terbata-bata. Diujung matanya terdapat sedikit air mata, wajahnya terlihat sangat cemas.
"Em… Suara tangisanmu?" Jawab Len dengan nada canggung di akhir kalimat. Gadis itu terlihat lebih terkejut lagi dan menghapus sisa-sisa air matanya, berusaha meninggalkan jejak tangisannya.
"Ka-Kau itu siapa?" Tanya gadis itu lagi sambil menunjuk Len dengan jari telunjuknya. Tubuhnya masih berada di dalam selimut, hanya tangannya saja yang keluar untuk menunjuk Len.
"Na-Namaku Kagamine L-Len. Kau sendiri siapa?"
"Na-Namaku…," Gadis itu terlihat menimbang-nimbang jawabannya sesaat, kelihatannya ia ragu untuk mengatakannya kepada Len. Mungkin ia takut. Sekitar tiga menit menimbang-nimbang, ia akhirnya menjawab, "Rin."
"Eh… Margamu?" Tanya Len lagi kebinggungan.
"Ka-Ka-Ka-Ka-Ka-"
"Ka?"
"Ka-Kaga-Kaga-"
"Kaga?"
"Ka-Ka-Kagami!"
Bagaikan petir menyambar Len di siang bolong setelah Rin mengatakan marganya. Memang, Len tadi mendengar sedikit cerita dari Lenka sebelum tidur, tentang rumor bahwa adanya arwah Kagami Lily di menara ini. Katanya, suara tangisan Kagami Lily sering terdengar di malam hari.
"Ja-Ja-Jadi k-kau Kagami Li-Lily i-itu?" Tanya Len tergagap sambil menunjuk Rin dengan tatapan horror. Rin yang mendengar hal itu langsung terkejut.
"E-Eh? Ke-Kenapa kau tahu nama ibuku?" Tanya Rin kebinggungan sambil memandang Len curiga, tapi juga takut.
"I-Ibumu?" Tanya Len kebinggungan. Ia sebenarnya masih cukup takut, namun ia memberanikan dirinya untuk bertanya, "Kau tidak tahu rumor yang beredar itu?"
Rin menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu. Bagaimanapun juga, ia hanya keluar dari menara tiga bulan sekali untuk membeli bahan makanan, jadi ia sama sekali tidak tahu tentang rumor yang beredar disana.
"Memangnya apa rumornya?" Kelihatannya Rin kini mulai merasa nyaman berbicara dengan Len. Namun tiba-tiba ia terlonjak sedikit, seakan-akan menyadari sesuatu lalu menggeser dirinya ke ujung kasur, menyisakan tempat yang cukup banyak disebelahnya.
"Duduk," Ujar Rin pelan. Len memandang Rin dengan tatapan binggung.
"Aku bilang duduk. Memangnya kau tidak lelah berdiri terus disitu?" Tanya Rin dengan sebelah alis terangkat, "Kau kan tamuku."
Len mengangguk lalu duduk disebelah Rin, tepatnya di pinggir kasur. "Aku sendiri tidak terlalu tahu… Tapi yang kutahu, katanya Kagami Lily pernah meninggal disini dan arwahnya tinggal di dalam menara ini karena suara tangisan yang selalu di dengar di malam hari."
Rin menganguk-anguk mengerti.
"Nee… Tapi sebenarnya kau yang menangis kan?" Tanya Len sambil melihat kearah Rin. Rin hanya mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku," Ucap Len seenaknya. Rin memandangnya kaget, lalu tersenyum geli.
"Tapi, aku kan baru saja bertemu denganmu hari ini," Protes Rin. Len menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Tapi mungkin saja kan, aku dapat meringankan bebanmu?" Tanya Len lagi. Rin menatap Len sejenak.
"Kelihatannya ia cukup dapat dipercaya… Mungkin aku memang dapat menceritakan hal itu padanya…," Pikir Rin sambil menatap Len dalam-dalam dengan bola mata Shappire-nya.
"Baiklah… Akan kuceritakan… Tapi tolong jangan beritahu siapapun tentang hal ini," Ucap Rin akhirnya sambil tersenyum sedih. Dengan begini ia terpaksa harus memutar kembali memori buruknya itu. Len mengangguk.
"Dulu… Aku hidup disini berbahagia bersama Kaa-san, Kagami Lily, dan Tou-san, Kagami Leon," Rin pun memulai ceritanya, "Tapi… Saat aku berumur 5 tahun Kaa-san meninggal bersama Tou-san karena terjatuh dari menara…"
Entah terasa atau tidak, air mata Rin mulai menetes perlahan, "Lalu… Se-Semuanya seakan-akan terjadi sangat cepat… A-Aku ditinggal sendirian, sebatang kara… Ka-Karenanya, a-aku jadi sering menangis di malam hari… Ta-Tapi aku tidak pernah menyangka ka-kalau semuanya akan berpikir itu adalah i-ibuku…"
Rin kini tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membuat tangannya menjadi basah karena air matanya. Mau tidak mau, Len juga merasa iba dengannya. Gadis itu kesepian. Sepanjang hidupnya, ia hanya dapat bergantung kepada dirinya tanpa mendapat kepercayaan dari yang lainnya.
Len pun mengelus lembut punggung Rin, seperti memberikan semangat kepadanya. Perlahan, Rin pun dapat menghentikan tangisannya.
"A-Arigatou Len," Ucap Rin masih sedikit sesengukan. Len menganggukkan kepalanya. Ia dapat melihat, kalau kini Rin terlihat lebih tenang. Sepertinya membagi memori pahitnya itu dapat membuatnya merasa lebih tenang.
Len melihat wajah Rin. Rin terlihat agak mengantuk. Len sendiri sudah merasa mengantuk, karenanya ia pun meminta ijin Rin untuk segera pergi dari ruangan itu.
"Kau sudah mau pergi?" Tanya Rin sambil menatap Len dengan pandangan sendu. Len mengangguk.
"Kau kan harus tidur," Jawab Len. Rin mengangguk.
"Kau… Akan datang lagi tidak?" Tanya Rin penuh harap. Bagaimanapun juga, ia sangat kesepian di dalam menara. Len kini memandang ke arah Rin yang tengah memandangnya dengan wajah penuh harap.
Entah apa yang merasuki Len, ia menganggukan kepalanya. Langsung saja sebuah senyuman kebahagiaan terbentuk di wajah Rin. Len yang melihatnya merasa jantungnya berdegup kencang.
"Arigatou!"
Melihat Rin yang sangat senang seperti itu, membuat Len mau tidak mau tersenyum juga. Ia mengangguk lalu berjalan keluar ruangan itu, kembali ke kamarnya. Entah mengapa ia merasa gembira, dapat bertemu dengan Rin.
Len kini tengah sampai di depan kamarnya. Ia pun membuka pintunya dan beranjak masuk ke dalam. Namun betapa terkejutnya Len ketika menyadari Lenka sedang terbaring manis di ranjangnya dengan deru nafas yang teratur.
Itu berarti Lenka sudah tidur bukan?
"Sedang apa ia disini?" Batin Len kebinggungan. Namun ia hanya mengangkat kedua bahunya lalu berjalan keluar untuk pergi tidur di kamar Lenka, tidak tega juga untuk membangunkan Lenka yang sedang tertidur lelap.
.
.
.
Rinto kini tengah terbangun di pagi hari. Langit menunjukkan bahwa sekarang merupakan jam tujuh pagi. Dengan jalan yang masih sempoyongan dan agak tertatih-tatih, Rinto pun berjalan menuju ranjang Len.
"Hoi… Len, bangun!" Jerit Rinto sambil mengguncang-guncangkan tubuh Lenka yang dipendam oleh selimut dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakkan untuk mengucek matanya. Dan saat penglihatannya sudah jelas ia pun melihat Lenka.
"Eh?"
.
.
.
.
"*& T^#*!^ $(^#&^!%* ! LENKA?! SEDANG APA KAU DISINI?!"
Teriakan besar Rinto sukses membangunkan Lenka dari tidur nyenyaknya dan Len yang mendengarnya juga langsung terbangun lalu mendobrak pintu kamar Rinto.
"Rinto! Ada apa?!" Tanya Len panik. Rinto menunjuk-nunjuk Lenka dengan tatapan horror.
"Se-Sedang a-apa dia di-disini?" Tanya Rinto terpatah-patah. Len melihat kearah Lenka dengan pandangan binggung lalu melihat Rinto lagi dengan pandangan datar.
"Entah, kemarin aku kembali kesini, dia sudah berada disini."
"Emm… Ada apa ya?" Tanya Lenka sambil mengucek matanya dalam posisi separuh duduk.
"Lenka! Sedang apa kau disini?" Tanya Rinto sambil menunjuk Lenka yang tengah memiringkan kepalanya karena binggung.
"Eh? Tentu saja tidur," Jawab Lenka dengan polosnya.
"Bukan! Maksudku kau sedang apa di ranjang Len?" Tanya Rinto lagi. Lenka pun kebinggungan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hingga otaknya pun connect dengan apa yang dilakukannya kemarin malam.
"Ke-Kemarin aku mendengar suara-suara aneh… Jadi… Aku berencana untuk memberitahu kalian. Tapi, saat aku masuk ke dalam, Len tidak ada di ranjangnya dan kau masih tertidur. Dan karena Len tidak kunjung balik, aku pun tertidur disini," Jawab Lenka panjang lebar sambil menunjuk Len dan Rinto bergantian.
"Maksudmu suara tangisan?" Tanya Len. Lenka melihat kearah Len dengan pandangan terkejut lalu mengangguk.
"Semacam itulah… Ohya, kemarin kau tidak ada Len, apa jangan-jangan kau dimakan hantu Kagami Lily?" Tanya Lenka histeris. Len langsung memandang Lenka dengan pandangan kaget.
"Kalau aku dimakan, bagaimana aku bisa berada disini, hah?!" Tanya Len dengan tidak kalah kagetnya. Sedangkan Rinto kini tengah berdiri di pojok sambil memakan sebuah jeruk dengan pikiran, "Aku tidur sekamar dengan Lenka. Aku tidur sekamar dengan Lenka. Aku tidur sekamar dengan Lenka-"
"Benar juga ya… Kalau begitu kau kemarin kemana?"
"Aku bertemu dengan gadis yang menangis itu," Jawab Len seadanya. Lenka membelalakan matanya, terlihat sangat terkejut. Rinto juga tidak kalah terkejutnya.
"UAAPPAAHHH?! LENNY KETEMU SAMA ARWAH KAGAMI LILY?!" Jerit Lenka histeris sambil memegangi kedua pipinya. Ugh… Lebaynya.
"BUKANNN! DAN JANGAN PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN MEMALUKKAN ITU!"
"Ba-Baiklah Len… Jadi… Kau kemarin bertemu dengan hantu Kagami Lily? Bagaimana dia? Menakutkan? Membawa pisau? Mukanya hancur? Atau jangan-jangan kemarin kau dikejar-kejar olehnya dengan tampang psikopatnya itu!" Em… Kurasa Lenka harus menghentikan pikiran horrornya itu sebelum tambah menjadi-jadi.
"Bukan! Begini… Apa kalian mau bertemu dengannya?"
Lenka mentap Len seakan-akan Len itu adalah alien yang nyassar ke Bumi. Rinto sendiri tidak kalah kagetnya. Ia bahkan menyimpan waktu bersama jeruknya untuk nanti.
"UAPAHH?! BERTEMU DENGAN ARWAH KAGAMI LILYYY?!" Lenka langsung berteriak histeris lagi.
"SUDAH KUBILANG DIA BUKAN ARWAH!" Jawab Len tidak kalah kerasnya dengan teriakan Lenka.
"O-Oke… Mukanya tidak hancur kan?"
"Tidak."
"Ia bukan hantu kan?"
"Bukan."
"Psikopat?"
"… Tidak tahu."
"UUAAAPAAAAAAAHHHHH! JADI DIA PSIKOOPPAAATTTT?!" Lenka mulai berpikiran yang tidak-tidak. Rinto dan Len langsung sweatdrop sambil facepalm di tempat.
"Kurasa dia bukan psikopat. Kalaupun ia psikopat, kemarin Len pasti akan dibunuh olehnya," Timpal Rinto sambil mengupas jeruknya (lagi). Len mengangguk menyetujui ucapan Rinto.
"Aku akan ikut bersama Len menemuinya saja. Lagian aku juga penasaran, siapa dia," Ucap Rinto sambil melirik sedikit kearah Len. Lenka menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan horror, namun ia segera menghela nafas pasrah.
"Baiklah… Aku ikut kalian… Aku juga tidak ingin ditinggal disini sendirian," Jawab Lenka akhirnya.
.
Alicia: AAkhirrrnya chap ini selesaiii… XD Bagi yang belum tahu latarnya, ini tempatnya berlatar di kerajaan Melodia. Kerajaannya bayangkan saja kayak Inggris. Yang memimpin adalah Raja dan Ratu. Tapi teknologinya canggih. Untuk menaranya, bayangkan seperti menara pisa yang lurus dengan tangga spiral dari lantai satu ke lantai lainnya. Di sekeliling menara itu, ada pagar berbentuk kotak jika dilihat dari atas (sehingga menara berada di tengah-tengah). Trus gerbangnya berada di bagian depan… Gomen kalau kurang jelas XC
Kyoko: Ini balasan reviewnya~
.
-Kagamine Ririka
Halo Ririka-san! Iya… Ada sedikit tapi, gatau kerasa atau tidak TAT
Um… Chaptersnya Alice jujur masih belum tahu… Antara 8 - 10 Chapter. Itu rencana Alice XD
Arigatou reviewnya! X3
-Nabmiles
Iya… Maaf banyak salah… Plotnya Alice sudah kasih keterangan lebih jelas di bagian atas itu =)
Arigatou Nabmiles reviewnya! XD
-Kurotori Rei
Iya… Tempat tinggalnya Rin itu di menara… Ini sudah lanjut XD
Arigatou reviewnya! X3
-Kei-T Masoharu
Iya…Lenka membuka matanya XD
Ini sudah lanjut, arigatou reviewnya! X3
.
Semuanya: DITUNGGU FAVE, FOLLOW, DAN REVIEWNYA! XD
Kenapa? Karena Alice ga bisa menilai fict Alice sendiri TATa
.
Lanjut atau delete?
