Ket. Kalimat langsung yang dimiringkan artinya bentuk past-tense. (ngertikan?)
Enjoy!
.
.
.
Boleh aku bertanya sesuatu?
Apa kau sudah pernah menemukan cinta?
.
.
.
A blind spot
.
.
.
Manik kecoklatan milik pelatih Seirin, Aida Riko berkedip cepat mengikuti gerakan para pemain basket asuhannya. Gadis yang merangkap menjadi pelatih dan manajer itu berpikir keras mengenai latihan apa yang harus ia berikan untuk mengembangkan performa bermain anggota klub basket Seirin. Meski dalam waktu dekat ini tidak ada pertandingan besar, toh latihan sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan setiap saat.
Pritt!
"Latihan hari ini cukup sampai di sini. Bersiap-siaplah, besok aku akan memberikan kalian menu latihan spesial!" ucap Riko bersemangat.
"Hah, hah, lagi?" tanya Koganei, masih dengan napas yang terengah selesai berlatih.
"Ah, padahal pertandingan sebelumnya baru saja berakhir," Kagami mengeluh, ia menghapus keringatnya dengan handuk yang ada di bench.
Alis Riko berkedut kesal, "Lalu apa maumu, baka-Gami?"
Kagami mendelik, "Kau tahu, kami berhak mendapatkan liburan."
"Kau ini, terlalu bermalas-malasan," ucap Riko berusaha untuk meremehkan Kagami, "Iya 'kan Kuroko-kun?"
Surai baby-blue yang dimaksud hanya memandang bingung beberapa saat, "Sebenarnya aku juga sangat ingin berlibur."
Riko yang tidak menyangka akan jawaban yang Kuroko berikan berkata dengan nada yang naik beberapa nots, "Eh? Bahkan Kuroko-kun juga?"
Gadis berambut pendek itu menyentuh dagunya sendiri, tampak berpikir, sesekali ia memperhatikan anggota tim basket Seirin yang kini tengah beristirahat setelah melakukan menu latihan harian mereka.
Dengan tarikan napas lembut Riko berkata, "Baiklah-"
"Kau mau apa?" ucap Kagami cepat, trauma akan keputusan sepihak Riko yang biasanya berujung pada penyiksaan terhadap dirinya.
"-jangan memotong pembicaraanku!" ucap Riko memprotes aksi adik kelasnya itu.
Riko menghembuskan napas kesal, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Apa yang kau rencanakan, Riko?" tanya sang kapten basket, Hyuga Junpei.
"Kalau kalian memang ingin mendapatkan hari libur, mulai sabtu minggu ini, selama lima hari, kalian bebas dari latihan rutin. Bagaimana kalau begitu?" tawar sang pelatih.
"Eh? Benarkah, pelatih? Akhirnya aku bisa beristirahat sejenak!" Kagami bersorak gembira.
Meski awalnya lima hari itu disebut 'hari libur' –waktu untuk beristirahat, entah mengapa beberapa detik kemudian mulai terdengar beberapa rekomendasi tempat yang harus mereka datangi bersama. Rasanya mereka bukan berlibur tapi berekreasi.
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain saja?" center terbaik Seirin, Kiyoshi Teppei berkomentar.
"Eh? Boleh juga, aku sudah lama tidak pergi ke sana," ujar Tsuchida menimpali.
"Taman bermain ya?" Koganei berpikir sejenak.
"Ada apa?" Teppei bertanya, agak khawatir rujukkannya ditolak.
Koganei menatap Teppei lurus, "Kurasa minggu-minggu ini taman bermain akan penuh."
Teppei mengeluarkan suara merajuk, "Kenapa? Kenapa?"
Hyuga melihat perubahan atmosfir yang terjadi di sekitar Teppei, tampak sangat jelas kekecewaannya akan respon yang diberikan oleh Koganei, "Tak apa, bukan? Semakin ramai semakin asik."
"Hyuga," Teppei tersenyum menatap kaptennya.
"Taman bermain? Kalian itu apa? Anak SD?" ujar Kagami skeptis, "Itu ide yang buruk, iya 'kan Kuroko?"
Teppei tampak murung kembali mendapatkan penolakan kedua dari adik kelasnya sendiri, perlahan pemuda bertubuh jangkung itu menatap surai baby-blue Kuroko, berharap si master misdirection itu akan memihak idenya.
Kuroko menghela napasnya pelan, nampak kelelahan karena sesuatu yang tidak tampak, "Kalau boleh jujur, aku juga ingin pergi ke taman bermain."
Lalu keheningan menyergapi lapangan basket indoor Seirin itu.
"Yosh! Hari minggu ini kita semua akan pergi ke sana!" teriak Riko yang disambut hangat oleh Teppei.
Surai kemerahan milik Kagami melirik surai baby-blue di sampingnya, memperhatikan sosok kecil itu lebih dekat. Maniknya memperhatikan manik Kuroko yang melihat ke arah lain -sebuah jendela yang tidak tertutupi apapun; tidak, ia melihat butiran salju yang turun.
.
.
.
.
"Sayaka-san, aku ingin bertanya sesuatu," manik surai baby-blue Kuroko mengerjap pelan.
Seseorang yang berada di samping pemuda itu memiringkan kepalanya manja, "Hi-ru-ma, panggil aku Hiruma."
"Sudah aku katakan, aku terbiasa memanggilmu Sayaka-san," Kuroko berkelit.
"Hiruma, atau aku tak akan menjawab pertanyaanmu," sang gadis menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menandakan keputusan akhirnya tidak bisa dirubah.
Kuroko menghela napas lelah, "Sayaka-"
"Hiruma!" potong gadis itu cepat, surai keemasannya jatuh melewati bahunya, membuat wajahnya terbingkai dengan sempurna.
Kedua mahluk itu terdiam, saling memandang, meski lama kelamaan sang gadis membuang pendangannya ke tanah yang memutih –bukan, tapi tanah yang ditutupi butiran putih.
"Hi-Hiruma," Kuroko menarik napasnya ragu, "Hiruma-san"
Untungnya gadis dengan manik keabuan itu tidak sedang minum atau makan, kalau iya dia bisa langsung tersedak saking kesalnya, "Tidak usah pakai '–san'!"
Perlu beberapa saat sebelum sang gadis bisa memandang Kuroko tanpa ada petir di matanya, "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan, Tetsuya?"
Kuroko menatap Hiruma intens, "Ano, Hiruma-san apa-"
"Hiruma!" surai keemasan itu lagi-lagi memotong.
Kuroko mengulang kembali ucapannya, "Hiruma, apa benar kalau..."
Dan pupil keabuan itu melebar, menunjukkan keterkejutan pemiliknya yang teramat sangat.
"Tetsuya..."
"Kuroko-kun, Kuroko-kun, di sini!" Riko memanggil Kuroko yang berdiri sendiri di ujung bangunan sana, nampak kebingungan mencari tempat pertemuan mereka, di sampingnya ada Nigou yang menyalak gembira begitu melihat Riko dan anggota tim baket yang lain. Suara Nigou menarik sang surai baby-blue dari lamunannya mengenai kumpulan memori masa lalu.
"Ah, apakah semuanya sudah datang?" tanya Kuroko begitu ia menghampiri rekan satu timnya.
"Tidak, Izuki, Tsuchida, dan Kagami-kun belum datang," jawab Riko sembari berjongkok menyapa Nigou, "Kau membawanya."
"Nigou juga anggota tim basket Seirin. Dia bahkan sudah punya bajunya sendiri," ucap Koganei mengingatkan.
Kuroko melirik Koganei sekilas lalu kembali menatap pelatihnya, "Aku tidak tega meninggalkannya sendiri."
"Maa, maa, hari ini kita akan bersenang-senang, Nigou," Teppei berucap gembira, dari tadi senyuman tidak bisa lekang dari wajahnya.
"Tampaknya Kiyoshi-senpai sangat senang mengenai rencana kita pergi ke taman bermain bersama," ujar Furihata, membuat Teppei salah tingkah.
Kuroko menatap Teppei yang tertawa sembari menggaruk kepalanya yang Kuroko yakini tidak gatal sama sekali. Maniknya melirik ke arah lain, agak jauh dari tempat mereka sekarang. Ia bisa melihat Tsuchida dan Kagami berjalan beriringan, mungkin mereka tidak sengaja bertemu dan memutuskan untuk pergi bersama. Kalau begini tinggal menunggu Izuki, dan mereka akan memulai liburan mereka setelah sekian lama.
.
.
.
.
Tidak sampai satu jam setelah kedatangan Izuki, tim basket Seirin kini sudah berada di dalam taman bermain –meski mereka harus mengantri lama untuk membeli tiket masuk. Salah mereka sendiri datang di saat-saat libur seperti ini.
"Aneh ya," ucap Koganei tiba-tiba, menarik semua perhatian kepadanya, "Biasanya pemain basket itu selalu dikelilingi oleh wanita."
Ada jeda aneh yang diisi oleh kegiatan saling-menatap di antara anggota tim basket Seirin, "Itu artinya kita pemain basket yang kurang beruntung," ucap Izuki setelah bisa mencerna maksud dari ucapan Koganei.
"Ne, apa ada di antara kalian yang pernah berpacaran?" tanya Koganei sembari memicingkan mata jahil.
Hampir semua yang ada di sana menggelengkan kepala mereka.
"Aku tidak punya waktu," jawab Kagami.
"Tidak. Dalam kasusmu, tidak ada wanita yang mau," sela Riko mencibir.
"Aku sih sudah," potong Tsuchida.
"Kami TAHU!" teriak pemain basket Seirin itu serempak.
"Ah, jangankan pacar. Dapat coklat valentine saja tidak pernah," keluh Teppei.
"Ah, benar juga," seru yang lain.
"Dasar kalian ini. Kuroko, kita tidak memerlukan hal itu 'kan?" ucap Kagami sembari merangkul si surai baby-blue erat, "Kita punya basket, itu cukup."
Lalu hanya hening yang menyapa pendengaran Kagami.
"Kuroko-kun, kau mau aku buatkan coklat untuk valentine nanti?" tanya Riko ketika melihat wajah Kuroko yang murung.
"Ah, tidak perlu repot-repot," Kuroko menolak secara halus, mengingat bagaimana kemampuan memasak pelatih wanita itu. Terima kasih, tapi Kuroko masih ingin hidup.
"Setidaknya aku ingin mendapatkan coklat valentine sekali seumur hidup," timpal yang lain.
"Kalau begitu mau aku buatkan?" tawar Riko lagi, yang masih dihadiahi gelengan keras.
Gadis dengan surai pendek kecoklatan itu cemberut mendapati niat baiknya ditolak begitu saja.
Perlahan Kuroko menatap langit siang yang nampak biru di atas sana, "Kurasa, perasaan yang ingin disampaikan lebih utama dari pada coklat."
"Kuroko, kau mengatakan hal itu seolah-olah kau pernah saja, haha," Furihata tertawa pelan.
"Kau bertanya yang mana? Pernah berpacaran atau pernah mendapatkan coklat valentine?" Kuroko mengeratkan syal yang digunakannya, "Keduanya juga pernah sih."
"HEE?" semua tim basket Seirin termasuk Riko menyeru keras.
"Bahkan seorang Kuroko?" jerit Teppei sedih.
Kagami menangkap gelagat aneh dari nada bicara kawannya, "Dapat dari gadis merah muda Touou itu?"
"Namanya Momoi-san, Kagami-kun. Iya, dari dia juga."
"Juga?" tanya Kagami.
"Lupakan," jawab Kuroko pendek.
"Ah, sudahlah, sekarang bukan saatnya membicarakan itu! Kita kemari untuk bermain!" Hyuga berkata dengan nada rendah.
Teppei tertawa melihat ekspresi kaptennya yang nampak gusar, "Ya sudah, Hyuga mau naik apa dulu?"
"Jangan menggunakan nada bicara itu, aku bukan anak-anak!" protes si pemuda berkacamata.
"Kalau aku ingin naik pontang-panting," ucap Teppei tidak memperdulikan lirikan sinis yang ditujukan Hyuga padanya.
"Kalau begitu, semuanya ke pontang-panting!" Riku berseru, mendukung ide center kesayangannya.
Kumpulan remaja itu pun perlahan mulai berjalan mendekati wahana yang disetujui –lagi-lagi secara sepihak- untuk dinaiki. Semuanya mulai berjalan, tanpa terkecuali. Saat melewati sebuah stand, tiba-tiba sang surai baby-blue terdiam, ia mengadahkan tangannya yang bersembunyi dengan rapat di balik sarung tangan berwarna biru dengan pola snow-flakes. Berusaha menangkap butiran-butiran hujan yang membeku -salju. Membuatnya terjebak dalam lamunan tentang masa lalu. Manik sang surai baby-blue mengerjap beberapa kali saat dia merasa bisa melihat 'dirinya yang lain' sendirian di ujung sana. Sama seperti hari itu, Kuroko mengadahkan tangannya, menunggu sosok seseorang yang sudah mengikat sebuah janji untuk bertemu. Berdiri di dekat sebuah bangku yang sama sekali tidak digunakannya.
"Tunggu, kenapa waktu itu aku tidak duduk saja?" pikir Kuroko, terdiam lama.
Lalu sosoknya di masa lalu itu menghembuskan napas, terlihat asap putih menguar ke udara. Bahu kecil itu ia putar kecil, berusaha untuk merilekskan otot di dalamnya.
"Apa aku setegang itu?" Kuroko berucap pelan.
"Tegang apanya?" Kagami yang berdiri di dekat Kuroko bertanya bingung.
Manik baby-blue itu mengalihkan pandangannya ke surai red-wine yang setia menunggunya sejak tadi, "Tidak apa."
Kuroko melirik ke arah bangku taman itu lagi –di mana ia bisa melihat sosok masa lalunya samar. Sebuah senyuman merangkak naik, "Kagami-kun, ayo kita menyusul yang lain."
Kagami menarik syal Kuroko main-main dan mulai berjalan terlebih dahulu.
"Kagami-kun, nanti aku tercekik," Kuroko menyuarakan protesnya.
"Kau 'kan mudah hilang, haha," pemuda bertubuh tinggi itu tertawa keras, "Ini untuk jaga-jaga."
Hilang...
"Tetsuya, kau di sini rupanya-" suara manis gadis surai keemasan itu mengisi ruang yang ada di sekitar mereka, "-kupikir kau hilang ke mana."
Manik Kuroko membulat sempurna, tubuhnya berbalik spontan. Lagi-lagi ingatan masa lalu berputar di kepalanya. Sialnya segala sesuatu terasa terlalu nyata. Lalu udara di sekitar Kuroko seperti tersedot entah ke mana, membuatnya merasa sesak. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan tanpa dasar.
"Sayaka-san-"
"Hiruma."
"-akhirnya kau datang juga."
.
.
.
.
Langit sudah menunjukkan sisi jingganya saat Kuroko dan Kagami berjalan pulang. Nigou menancapkan kukunya di jaket tebal Kuroko saat Kuroko memeluknya erat –takut karena keseimbangan Kuroko agak bermasalah dikarenakan timbunan salju. Padahal saat ini sudah masuk bulan Februari, tapi musim semi tampaknya masih enggan datang.
"Kuroko, gadis yang tadi kau maksudkan itu siapa?" Kagami bertanya hati-hati, memecah kesunyian yang sempat hadir.
Pemuda yang ditanya hanya terdiam sembari memperhatikan manik Nigou yang mirip dengan maniknya, "Apa aku boleh tidak menjawab?"
Kagami mendecih kecil, "Itu hakmu."
Lalu mereka kembali berjalan dalam keheningan. Hening jika kau mengabaikan suara-suara khas perkotaan. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Tempat yang awalnya nampak biasa itu berubah, berkilauan; efek warna lampu yang beragam.
Nigou menyalak pelan, membuat perhatian Kagami dan Kuroko tertuju padanya.
"Mungkin anjing itu lapar," Kagami menyuarakan pendapatnya.
Kuroko menimbang sejenak, "Ya, mungkin saja."
"Kau masih punya stok?" tanya si surai red-wine.
"Sepertinya hampir habis," Kuroko menimbang-nimbang.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu membelinya," ucap Kagami.
Kuroko tidak membalas tawaran Kagami, tapi meski begitu seorang baka-Gami cukup pintar untuk tahu bahwa Kuroko setuju.
"Kagami-kun, apa kau masih mau tahu siapa perempuan itu?" Kuroko bertanya, menarik semua perhatian yang Kagami punya.
Kagami diam menyimak perkataan Kuroko selanjutnya, "Namanya Hiruma."
Kuroko diam, Kagami-pun sama.
"Dia anak mana?" tanya Kagami ketika dirasanya Kuroko tidak berniat melanjutkan ucapannya.
"Dulu dia satu SMP denganku," Kuroko memberikan jeda di antara ucapannya, "Sekarang dia bersekolah di SMA Rakuzan."
Kagami mengangguk tanda mengerti, "Dia kekasihmu?"
Kuroko tampak berpikir sejenak, "Mantan, kurasa."
Kagami memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, lagi pula dia bukan tipe orang yang senang mencampuri urusan orang lain.
"Sebenarnya, hubungan kami tidak benar-benar seperti itu," Kuroko mulai bercerita, "Aku seperti, kalian menyebutnya apa? selingkuhan?"
"Huh?" Kagami tersentak, tak menyangka kata seperti itu bisa keluar dari bibir si surai baby-blue, "Apa maksudmu?"
Kuroko hanya tersenyum simpul, "Persis seperti apa yang kau dengar, Kagami-kun."
Lampu jauh yang dinyalakan oleh sebuah mobil bersinar ke arah duo Kuroko-Kagami, membuat tiga eksistensi yang ada di sana menyipitkan mata karena silau.
"Padahal aku sangat menyayanginya," Kuroko melanjutkan ceritanya, "Itu adalah pertama kalinya aku berani melakukan hal-hal bodoh tidak untuk diriku sendiri."
"Kuroko, kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk bercerita," Kagami menggaruk kepalanya kaku.
Manik kebiruan Kuroko memandang puncak-puncak gedung di seberang jalan, "Aku ingin kau mendengarnya."
Dehaman kecil terdengar, Kagami berusaha melegakan tenggorokkannya yang entah mengapa mendadak kehilangan suara.
Kuroko tersenyum kepada dirinya sendiri saat mengingat beberapa kepingan masa lalu, "Aku ingat pernah mengunjungi semua konbini di daerah ini hanya untuk mengganti hairpin basket milik Hiruma yang hilang."
Kagami menghentikan langkahnya dan memandang mantan sixth phantom itu tidak percaya, "Ha? Serius?"
"Ngomong-ngomong, Kagami-kun, meskipun dia perempuan, kemampuan bermain basketnya lebih baik daripada aku," Kuroko melirik pemilik nomor punggung 10 yang masih terdiam di tempat, membuat objek yang dipandang sosok baby-blue itu melanjutkan langkahnya, "Jadi, kalau nanti bertemu, jangan sampai meremehkannya."
"Dari ceritamu, dia sepertinya gadis yang baik," Kagami berkata pelan, "Tapi, yang namanya selingkuh itu-"
"Dia memiliki rambut keemasan yang terurai hingga pinggangnya, mungkin sekarang tidak sepanjang itu lagi," Kuroko memotong ucapan Kagami, "Manik keabuannya akan tampak berkilauan saat ia tersenyum."
"Kuroko," Kagami memanggil rekannya itu, berusaha memberi pause di antara ucapan si surai baby-blue.
"Seperti sepasang permata yang indah. Membuatku ingin memandangnya terus menerus," Kuroko tertawa lembut, "Tentu saja aku melakukannya secara diam-diam, dia bisa memukul kepalaku kalau tahu aku melakukan hal semacam itu."
"Ah," Kuroko menunjuk sesuatu dengan jari telunjuknya, "Kita harus menyebrang. Toko hewannya ada di sana."
Kuroko mengelus kepala Nigou beberapa kali, "Sebentar ya, aku akan membelikanmu makanan."
"Tunggu sebentar ya..."
"Lampunya sudah hijau, ayo menyebrang," ajak si surai red-wine.
"...Tetsuya."
"Oi, Kuroko, cepat menyebrang!" teriak Kagami dari ujung jalan.
Kuroko tersentak, segera dikontrolnya tubuh itu untuk menyebrang dengan segera.
"Jangan melamun kalau sedang menyebrang!" mau tidak mau Kuroko akhirnya terkena semburan marah Kagami, mata Kagami membesar –Kuroko pikir mata itu akan tergelincir, lepas dari tempatnya.
"Maafkan aku," ucap Kuroko pendek.
Kagami menghela napas kesal tapi ia segera berlalu dan meninggalkan Kuroko yang dengan segera berusaha menyamakan langkah mereka.
"Ano ne, Kagami-kun," ucap Kuroko.
Kagami melirik sekilas dan bergumam, "Apa?"
"Aku ingin ia kembali padaku," Kuroko berkata pelan, "Aku ingin Hiruma kembali ke pelukanku."
"Hei! Kau masih membicarakan hal itu?" teriak Kagami tidak percaya.
"Tapi kurasa tidak bisa," sang surai baby-blue mempererat pelukannya pada Nigou, "Karena sekarang Hiruma harus menggantikan posisi seseorang –selamanya. Haha kecuali aku bisa bermain dengan waktu dan merubah masa lalu."
Anak didik Alex itu menekan kepala lawan bicaranya agak keras, "Kuroko! Sudah, aku tidak ingin mendengarnya lagi."
Dengan susah payah Kuroko melepaskan cengkraman setan duo-nya, "Tolong hentikan ini."
"Rasanya aneh melihatmu seperti ini," Kagami mendecih kecil, "Kau jadi sentimental dan terdengar bodoh."
Kuroko memilih diam dan tidak meladeni ucapan api berjalan itu. Dengan langkah tenang si surai baby-blue melangkahkan kakinya masuk ke toko hewan, dan memesan beberapa hal yang ia pikir akan dibutuhkan oleh anjing yang kini berada dalam dekapannya. Nigou hanya menyalak kegirangan beberapa kali saat melihat banyak hal yang khusus dibuat untuk mahluk hidup sepertinya, ekor Nigou bergerak-gerak sendiri, membuat beberapa orang yang juga ada di dalam ruangan itu gemas melihatnya.
"Datang lagi," ucap pemilik toko saat Kuroko sudah membayar barang beliannya, lagi-lagi Nigou menyalak –mungkin memberikan salam untuk pemilik toko baik hati itu.
"Kau sudah membelinya?" tanya Kagami saat dilihatnya surai baby-blue keluar dari pintu depan.
"Iya. Terima kasih sudah mengantarku," ucap Kuroko, tubuhnya membungkuk sedikit menandakan rasa terima kasihnya.
"Yo," jawab Kagami, "Ngomong-ngomong berhentilah memikirkan hal tidak mengenakan seperti tadi. Lupakan Hiyama itu."
"Hiyama?" tanya Kuroko.
"Eh? Apa namanya Hirama?" Kagami memasukkan tangannya ke saku celana, "Ah, Hiruma?"
Manik Kuroko tampak kosong beberapa saat, lalu sebuah senyuman merangkak naik, "Ah, kalau soal itu-"
"Kau tahu, ibaratkan burger, gadis di dunia ini banyak jumlahnya," Kagami berusaha memberikan nasihat pada rekan seangkatannya itu, "Masih ada gadis berambut merah muda itu, bukan? Mh, Momoi-san?"
Alis Kuroko berkedut bingung. Berpikir ada hubungan apa antara burger dan populasi wanita. Tapi kali ini, Kuroko tidak berniat membahas analogi hancur yang Kagami buat.
"Kagami-kun terima kasih sudah mau mendengarkan cerita-" Kuroko tersenyum, "-palsuku."
Kagami terdiam, "Palsu?"
"Haha, apa kau benar-benar berpikir orang sepertiku mau menghabiskan waktu untuk wanita?" tanya Kuroko, dia memiringkan kepalanya kecil, "Kalau aku memiliki begitu banyak waktu luang, pasti sudah kugunakan untuk berlatih basket."
"He? Jadi semua ceritamu mengenai Hirama ini hanya karanganmu saja?" Kagami memajukan tubuhnya kaget, "Soal rambut keemasan, jago main basket, dan selingkuh itu... semua karanganmu?"
"Hiruma, bukan Hirama," ucap Kuroko, "Awalnya aku hanya ingin sedikit menggodamu, tapi saat aku sadar kau mempercayainya, aku jadi sedikit kelewatan."
"Maafkan aku," pada akhirnya Kuroko meminta maaf lagi kepada surai red-wine itu saat ia sadar Kagami hanya bisa terdiam dalam keadaan shock.
"Sial kau!" teriak Kagami setelah ia bisa mencerna apa yang terjadi.
"Kagami-kun, kau mau apa? Mau menyentuh Nigou, ya?" ucap Kuroko, mendekatkan anjing kesayangan tim basket Seirin ke arah Kagami yang sudah bersiap dengan tinjunya. Gerakan pelan Kuroko mampu membuat pemuda yang memiliki lompatan tinggi itu mengurungkan niatnya dan menjauh mundur.
"Kagami-kun, mengapa kau menjauh?" Kuroko bertanya sedih, "Padahal Nigou begitu lucu, lihatlah."
Kuroko berlari mendekati orang yang semakin menjauhinya. Kedua tangan kecilnya memegang Nigou dan satu plastik besar berisi makanan, dan obat-obatan hewan yang baru dibelinya tersampir di sisi dalam siku kanannya. Seseorang yang dikejar hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah, membuat orang-orang yang ada di sana menatap mereka aneh.
"Kuroko, berhenti atau aku hajar kau nanti!"
Kuroko hanya mampu tersenyum, masih berlari mengejar surai red-wine di depannya, terkadang tawa halus bisa terdengar keluar dari mulutnya, ia tertawa, lagi, lagi, dan lagi, lalu perlahan air mata turun dari kedua maniknya yang mencerminkan langit dengan begitu baik. Membuatnya terdiam di tempat, membeku –terutama saat jauh di ujung sana ia melihat surai keemasan, dengan manik keabuan yang tampak begitu familiar.
.
.
.
"Aku akan selalu ada di sisimu, Tetsuya" jeda kecil, "Ini bukti cintaku."
.
.
.
To Be Continued (?)
A/N
Mungkin ada beberapa yang harus dijelasin biar gak ada salah arti. Konbini, itu semacam mini-market kalau di Indonesia. Tapi meskipun mini, konbini di Jepang tergolong lengkap. Di sana, dalam sebuah konbini, selain produk yang dijual, biasanya mereka juga punya mesin fax, mesin foto-copy, ya pokoknya tergolong lengkap deh. Soal mereka malah nyebrang waktu lampu hijau nyala? Iya, soalnya yang dimaksud lampu hijau ini adalah tanda menyebrang, bukan lampu lalu-lintas. Jadi kalau tanda menyebrangnya jadi hijau, mereka aman buat nyebrang.
Fic ini masih fic gabungan sama abang aku. Mungkin karena Sirius dikejar deadline dan tugas kuliah yang numpuk bak gunung di meja, fic-nya jadi sependek ini –gaje pula. Maafkan Sirius reader. Ini juga udah kerja keras banting tulang –bohong deh hihi. Eh, makasih lho udah mau baca sampai sini. Anyway, leave some review ya, flame juga diterima, asal bisa membangun ^ ^ Jangan lupa cek cerita dari abangku ya, pen name : Kazusa Kirihika.
Nigou : "Wang! Wang! Wang!"
So, would you mind to review ? *wink
