-Tower -

*Ch 6*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len; Kagamine Rinto X Kagamine Lenka

Genre: Romance, Mystery, Hurt/Comfort.

Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo merambat dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal PoV.

Summary: Ditengah kegelapan malam yang penuh akan misteri, terdengarlah suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu begitu pilu… Dan mendendam kesedihan yang tinggi. Siapapun itu… Apa kau berniat memecahkan teka-teki ini?

Derap langkah ringan dibuat oleh seorang gadis berambut honeyblond panjang pun terdengar. Ia membawa sebuah keranjang di tangan kanannya. Wajahnya menunjukkan sebuah senyuman. Tak lama kemudian, ia sampai di depan sebuah pintu yang tersembunyi lalu membukanya lebar.

"Rin! Aku datang!" Ucap gadis itu-Lenka, dengan ceria. Rin menoleh ke arah Lenka dengan tatapan gembira.

"Aku sudah hampir jamuran! Untung saja kau datang tepat waktu!" Ucap Rin semangat. Lenka hanya tertawa kecil. Lalu Rin menyadari sesuatu.

"Are? Len dan Rinto kemana?" Tanyanya kepada Lenka dengan kedua bola mata Shappire-nya.Lenka terlihat membatin sejenak.

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka sedang membantu Miku ba-san," Jawab Lenka dengan pose berpikir. Rin hanya mengangguk-angguk mengerti. Lalu Lenka pun duduk di lantai kayu itu, berhadapan dengan Rin.

"Apa yang kau bawa?" Tanya Rin penuh rasa ingin tahu ketika melihat Lenka membawa sebuah keranjang di tangannya. Lenka tertawa kecil.

"Jeruk dan pisang."

Rin langsung terlihat sangat bersemangat, "Boleh aku memakannya?"

"Nanti. Waktu makan siang kan masih lama," Jawab Lenka. Rin pun cemberut mendengarnya, namun ia tidak mengatakan apa-apa.

"Ah ini…," Gumam Lenka sembari mengeluarkan brosur yang kemarin diberikan oleh wanita berambut panjang berwarna pink itu. Rin melihat brosur itu dengan pandangan binggung.

"Ada apa memangnya dengan brosur ini?" Tanya Rin kebinggungan sambil mengibas-ngibaskan brosur tersebut. Lenka tersenyum mendengar pertanyaan Rin.

"Akan ada festival diadakan di dekat sini."

"Lalu?" Tanya Rin, ia masih tidak paham apa maksud Lenka.

"Mau tidak kau ikut bersama aku, Rinto, dan Len untuk pergi kesana besok lusa?" Tanya Lenka semangat. Wajah Rin langsung menjadi pucat pasi.

"Ta-Tapi… Aku kan jarang sekali keluar dari sini… Nanti bisa-bisa dicurigai orang lagi…," Ucap Rin, sepertinya berusaha memberikan pernyataan yang logis mengapa ia tidak bisa ikut atau lebih tepatnya, ia takut untuk ikut.

"Tidak apa-apa, kau bisa menyamar seperti dulu kan? Mengenakan kerudung hitam."

"Ta-Tapi… Bajunya? Bajuku hanya ada tiga dan semuanya sama," Jawab Rin, berusaha meyakinkan Lenka. Lenka pun membatin, "Iya ya… Benar juga…"

Disaat Lenka berpikir keras, Rin diam-diam mendekati keranjang Lenka, dan berusaha mengambil jeruk di dalamnya.

"EITS!" Tapi Lenka dengan cepat langsung memindahkan keranjang itu, membuat Rin terjatuh di atas kayu.

"Itai…," Gumam Rin.

"Kalau dibilang nanti ya nanti!" Jawab Lenka sadis sambil menjulurkan lidahnya. Rin hanya menggembungkan pipinya tanda tidak suka.

"HUUh…," Ucapnya. Sedangkan Lenka tetap saja menjulurkan lidahnya sambil tersenyum jahil. Namun tiba-tiba saja, sebuah bohlam berwarna kuning menyala terang di atas kepala Lenka.

"Nee, Rin! Ayo kita beli baju di luar!" Pekik Lenka gembira karena merasa ide itu sangat luar biasa. Rin membelalakan matanya karena terkejut.

"Ka-Kau yakin?" Tanya Rin memastikan dengan gemetar.

"Tentu! Ayo cepat! Dan tanpa aba-aba, ia langsung menarik pergelangan tangan Rin yang sedang mengenakan baju dress polos berwarna putih berlengan pendek, dengan ujung yang frilly tersebut.

"Tu-Tunggu! Lenkaaaa!" Jerit Rin tidak terima dengan suara cemprengnya. Namun Lenka tidak mau menghentikan aksi hebat yang menurutnya memang sudah 'sempurna' sehingga ia tidak tanggung-tanggung dan juga tidak berniat untuk menghentikan aksinya.

Hingga akhirnya, mereka sampai di pekarangan menara. Mereka pun berhenti sebentar disana dan Lenka pun melepaskan cengkramannya kepada Rin. Nafas mereka berdua terengah-engah.

Lenka terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalanan. Ia terlihat sedang berpikir keras. Rin yang melihat hal itu langsung bertanya kepada Lenka.

"Le-Lenka… Memangnya kau tahu kita akan pergi kemana?" Tanya Rin dengan harapan bahwa Lenka tidak mengetahui tujuannya, dengan begitu, ia bisa lolos.

Lenka tersenyum kecil yang sukses membuat Rin mulai merasa ketakutan.

"Tentu saja aku tahu! Kita akan ke Lecturané. Itu toko teman lamaku."

Harapan Rin runtuh seketika. Lenka dengan sigap menggengam tangan Rin dan menariknya menuju keluar halaman menara.

"Neraka akan dimulai dari… Sekarang…," Batin Rin dengan wajah minta dikasihani.

Mereka bahkan tidak menyadari. Bahwa sepasang bola mata berwarna ruby kini tengah memandang mereka berdua dari kejauhan dengan tatapan yang tak dapat dideskripsikan.

.

.

.

"KYAAA! Pakai yang ini juga imut! Tapi kan… Yang ini juga lucu! Bagus yang mana ya?" Jerit Lenka karena fangirlling mode-nya kambuh. Rin kini sedang didandaninya ala boneka dari Rozen Maiden. Rin hanya bisa pasrah karenanya.

"Tapi tunggu… Itu juga bagus! KYAAAAAA!" Jerit Lenka sambil menunjuk sebuah dress Gothic Loli yang dipajang di bagian tengah. Ia pun berlari untuk meminta salah satu contoh baju tersebut untuk dicoba oleh Rin.

Sudah kita tinggalkan saja Lenka yang sedang fangirlling itu. Mari kita cek keadaan Rin yang kini sudah 'parah'. Rin sedang menggunakan baju model Shinku dari Rozen Maiden. Wajahnya memerah karena malu. Rambutnya digerai seperti biasa.

Disisi lain, seorang gadis bermata ruby dengan rambut panjang sepunggung sedang memperhatikan mereka berdua dengan antusias.

"Menarik…," Gumamnya.

.

.

.

"RRRIIINNN! KENAPA HANYA YANG INI?!" Jerit Lenka frustasi karena Rin hanya membeli sebuah dress polos yang berwarna pink muda dengan ujung frilly, tidak berbeda jauh dengan dress-dress lainnya yang biasa. Simple. Sedangkan untuk sepatu, mereka hanya mengambil sebuah sepatu flat berwarna pink muda dengan ujung mawar berwarna pink tua.

Rin sempat berpikir, dress berwarna pink itu akan cocok dengan pin mawar yang ia punya, itulah alasannya membelinya.

"Yang lain terlalu NORAK!" Balas Rin dengan wajah memerah serta menekankan kata 'norak'. Lenka menggembungkan kedua pipinya.

"Tapi baju-baju itu cocok untukmu!" Balas Lenka, tidak mau kalah. Rin memutar bola matanya malas.

"Menurutmu."

Lenka kembali menunjukkan wajah cemberutnya. Kurasa dalam hal fashion, Lenka dan Rin mempunyai sense yang (sangat) berbeda.

Gadis berambut panjang berwarna merah dan bermata ruby itu terus saja mengikuti mereka dengan antusias. Entah apa yang menarik dirinya untuk membuntuti kedua gadis berambut honeyblond tersebut, ia sendiri tidak tahu.

Sedangkan Lenka dan Rin yang tidak menyadarinya hanya terus berjalan tanpa berhenti sampai ke tujuan mereka, menara.

.

.

.

"Jaa ne!" Ucap Lenka gembira sambil melambaikan tangannya kepada Rin. Rin hanya mengangguk sambil membalas lambaiannya tanpa mengatakan apapun.

Sebenarnya, ia cukup malas untuk berpergian keluar, sehingga ia berniat untuk tidak mengikuti festival tersebut. Selain itu, ia juga merasa canggung karena ini pertama kalinya ia menghadiri sebuah festival setelah orangtuanya meninggal.

Hanya saja, jika ia ikut bersama mereka, mungkin itu juga akan menambah pengalaman baru baginya. Ia juga bisa bersama dengan Rinto, Len, dan Lenka. Jadi hitung-hitung, sebenarnya hal-hal positifnya lebih banyak daripada hal-hal negatifnya.

"Haah…," Rin menghela nafas panjang lalu membaringkan dirinya ke ranjangnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, membuatnya menatap sembarang interior yang ada. Lalu, ia menatap foto ibunya yang terletak di sebelah ranjangnya tersebut lalu mendesah pelan.

"Kaa-san… Apa aku memang boleh ikut dengan mereka?" Tanyanya dengan wajah khawatir. Rin tahu pertanyaannya takkan mungkin dijawab oleh ibunya, namun ia tetap tidak bisa tidak bertanya kepadanya.

"Sebaiknya apa yang harus kulakukan?" Batinnya kebinggungan.

.

Alicia: Alice tahu… Alice sendiri sebenarnya binggung karena belakangan ini words per chapter-nya bakalan sedikit. Tapi untuk beberapa chap depan, wordsnya akan lebih panjang lagi, kenapa? Karena ada festival-nya itu… Dan ada yang mau memberi usul? Di festivalnya nanti akan ada apa saja?

Yuki: Ini balasan reviewnya *mendeathglare Alice karena nyolong es batunya*

.

-Kei-T Masoharu

Iya… Masa muda! #ditempeleng sama negi + aisu

Arigatou Kei sudah me-review! X3

-Kurotori Rei

Ehehe, iya, Rin sudah dapet temennya! XD

Sebenarnya ada ide untuk kayak festival musim panas, jadi ada kembang apinya. Cuman sisanya masih binggung TATa

Arigatou Rei sudah me-review! XD

.

Quiz: Ada yang bisa tebak siapa cewek rambut merahnya itu? Nanti chap akhir harusnya masuk lagi X3

.

Lanjut atau delete?