Orang-orang bilang bahwa musim semi adalah musimnya orang jatuh cinta. Jadi, asalkan jatuh cinta –tak peduli kapanpun itu, maka saat itu adalah musim semi baginya. Mengapa menganalogikannya dengan musim semi? Mungkin karena musim semi bersuhu hangat, sama seperti hati-hati manusia yang tengah jatuh cinta –atau mungkin karena fakta bahwa musim semi digunakan sebagian besar hewan untuk menikah. Jangan lupa kalau manusia juga merupakan mamalia yang memiliki akal.

"Apa yang kau katakan?!" suara seorang gadis meninggi tak karuan membuat banyak mata memandangnya, "Tentu saja bukan!"

"Tapi aku sering melihat kalian berdua bersama, haha aku tidak tahu seleramu yang seperti itu," ujar lawan bicaranya, dan suara tawa menguar di udara –mengundang tawa lain untuk ikut serta.

"Kalian ini," sang gadis dengan surai kecoklatannya menggeram kesal, "Katanya sahabatku, ko tidak percayaan?"

"Komachi, kurasa kedua hal itu tidak ada hubungannya," ujar sosok lain.

"Dengar ya! Aku tidak pacaran dengan anak yang bernama Midorima itu!" dengan tegas sang gadis berkata, "Ayolah, mana mungkin aku pacaran dengan anak SMP sepertinya?"

"Eh, lalu mengapa kalian sering terlihat bersama?" tanda tanya besar keluar dari atas kepala gadis-gadis SMA itu.

"I–itu," surai kecoklatan yang dipanggil Komachi gelagapan, "Itu karena kami teman."

Sahabat-sahabat sang gadis saling menatap tidak percaya, "Teman, apa teman?"

"Sudah aku katakan, kami hanya teman!" Komachi bersikeras, "Bahkan bisa dibilang, aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Kalian tahu 'kan betapa aku menginginkan seorang adik?"

"Well, kau pernah mengatakan itu dulu," salah seorang di antara mereka mengiyakan.

Manik coklat Komachi tersenyum senang, "Aku mana mungkin berbohong pada kalian?"

Keadaanpun menjadi hening karena semuanya sedang mencerna penjelasan Komachi.

"Ya sudah. Kalau Ko–chan bilang kalau mereka hanya teman, itu artinya mereka hanya teman," gadis dengan surai kuning berkata sembari mengacak rambut sahabatnya, "Sayang sekali, padahal kupikir kali ini mungkin musim semi-mu tiba bersamaan dengan musim semi sebenarnya."

"Musim seminya juga sudah hampir berakhir, mungkin mantranya jadi menurun," timpal yang lain.

"Haha, sudah ah, nanti gerbangnya sekolahnya dikunci sebelum kita datang," ujar Komachi sembari tertawa.

"Iya, iya, ayo pergi," jawab seorang gadis yang memakai kaca mata.

Kelima gadis yang sudah berada di tengah masa remaja mereka itu mulai berjalan ke arah SMA Seiho. Tapi baru beberapa langkah pergi dari tempat itu salah seorang dari mereka menyadari surai kehijauan yang ada di balik salah satu pohon sakura. Awalnya ia pikir itu daun, ternyata kepala manusia.

"Eh, bukannya itu anak yang bernama Midorima?" tunjuknya.

Komachi melirik cemas, "Benarkah? Pasti bukan 'kan? SMP Teiko bukan ke arah sini, mana mung–"

"Midorima–chan! Aku tahu kau di situ!" surai kuning yang ada di sana berteriak keras.

Sosok yang merasa dipanggil namanya itu menampakkan tubuhnya. Kalau bukan karena seragam khas SMP Teiko yang dikenakan si surai hijau, dengan tingginya yang mencapai angka 174 cm orang-orang akan beranggapan kalau dia sudah duduk di bangku sekolah menengah atas.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Komachi kaget.

"Aku baru saja dari toko di seberang sana, nanodayo," Midorima menunjuk sebuah toko barang-barang antik, "Lucky-item-ku hari ini adalah–"

Manik kelima gadis itu memperhatikan benda yang kini ada di tangan kanan pemuda yang lebih muda dari mereka itu.

"–payung zaman 60-an."

Keringat imaginer muncul di dahi para gadis itu, agak kebingungan harus memberikan reaksi apa pada si freak-ramalan-Ohaasa di hadapan mereka.

"Oh iya, mumpung anaknya ada di sini," ujar si surai kuning, "kita tanyakan saja ada hubungan apa dia dengan Ko–chan."

"Jangan begitu, kasihan dia," ucap gadis lain sembari membenarkan letak kacamatanya.

Namun nampaknya surai kuning itu tidak mau mendengarkan, "Ne, Midorima–chan, kau punya hubungan apa dengan Ko–chan kami?"

"Usa–chan, hentikan!" Komachi berucap marah, "Bukannya tadi aku sudah bilang?"

Midorima tersenyum samar, "Seperti yang dikatakan Suzuki–san, kami ini seperti saudara, nanodayo. Kebetulan aku tidak memiliki kakak."

Meski mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya, tak urung pupil Komachi melebar, "Midorima–kun."

"Sudah ya, aku takut terlambat masuk sekolah," Midorima berucap santai, "Osakini, Suzuki–san."

"Ah, Midori–" ucapan si surai kecoklatan itu terputus saat orang yang ia maksud sudah berjalan ke arah yang berlawanan.

.

.

.

Take the Wrong Turn, and Stumble

.

.

.

"Shun, hari ini aku boleh ke rumahmu tidak?" surai kehijauan itu bertanya, maniknya tenggelam pada kumpulan awan mendung yang ada di depan matanya.

"Boleh saja, ibu pasti senang, sejak lama dia bilang kalau dia merindukanmu. Memangnya kenapa?" sang gadis dengan surai dark-lavender itu balik bertanya tanpa merubah posisinya.

"Orangtuaku pergi selama seminggu, hanya adikku yang mereka bawa serta, nanodayo," Midorima menarik napas pelan, "Aku agak kesepian."

Manik kehitaman Shunji berkedip beberapa kali sebelum merilekskan tubuhnya, "Kalau begitu, seminggu ini menginap saja di rumahku, nope?"

Midorima menatap gadis itu, berusaha untuk memastikan, "Tak apa 'kah?"

"Baka, tentu tidak apa-apa. Ya sudah, nanti saat pulang kita ke rumahmu dulu untuk mengambil beberapa barang yang kau butuhkan," Shunji tersenyum ke arah sahabat baiknya itu, "Aku akan membantu."

"Arigatou, nanodayo," ujar surai kehijauan itu bergumam. Midorima tetaplah remaja tsundere jika dihadapkan pada hal-hal seperti ini, dengan kaku ia membenarkan letak kacamatanya.

Hening yang tercipta membuat pemuda itu melirik ke sampingnya, berusaha untuk mencari sosok gadis dengan surai dark-lavender yang tak kunjung membalas ucapannya –padahal Midorima sudah bersiap-siap jika Shunji meledeknya karena bersikap kekanakkan seperti tadi –mana ada pemuda yang takut ditinggal sendirian di rumahnya sendiri?

"Shun?" panggil Midorima pelan, maniknya mengedarkan pandangan ke penjuru kelas.

"Hua! Kise, hati-hati," ucap Shunji berlari cepat lalu menarik satu dus yang tengah dibawa –dengan susah payah, oleh surai kuning keemasan, "Jangan memaksakan diri seperti itu."

"Ah, gomen, Shunji–cchi," Kise memandang khawatir kekasihnya, "Ini berat, biar aku saja–ssu."

Shunji menendang tulang kering Kise main-main –namun sempat membuat keseimbangan Kise terganggu, "Karena ini berat, jadi dibagi. Berdua lebih baik 'kan?"

Kise menatap gadis yang tersenyum ke arahnya, "Maaf."

"Mengapa minta maaf? Ini mau dibawa ke mana?" Shunji menatap dus yang dibawanya.

"Gudang sekolah," jawab Kise pendek.

Lalu tanpa ada komando lagi kedua orang itu melangkahkan kaki mereka ke tempat tujuan, perlahan suara mereka mulai mengecil dan menghilang dari pendengaran seseorang dengan surai kehijauannya.

"Terkadang aku lupa Shun sudah berpacaran," ujar Midorima lebih kepada dirinya sendiri, "Terlebih saat aku sadar pria itu si berisik Kise."

.

.

.

Midorima menggeram kesal saat dilihatnya Shunji berdiri di depan pintu rumahnya –dalam keadaan basah.

"Kau dari mana saja, nanodayo?"

"Ehehe, maaf terlambat," Shunji tertawa kecil, "Tadi Kise memintaku untuk mengajarinya dulu."

Midorima memilih tidak menjawab alasan yang diberikan sahabatnya itu, "Masuk. Keringkan tubuhmu."

Shunji mengangguk patuh dan mengikuti Midorima masuk ke dalam rumahnya.

"Wah, kangennya!" pekik Shunji senang. Maniknya berbinar memperhatikan seluruh sudut ruangan. Ia berlari cepat memasuki ruangan-ruangan yang dulu sering ia masuki.

"Taman di belakang tidak berubah, kolam ikannya juga," Shunji berkata dengan antusias, "Ruang keluarga dijadikan seperti ini toh."

Setelah puas berkeliling Shunji masuk ke kamar Midorima dan mendapati pemuda itu menatapnya dengan tatapan membunuh, "Sudah aku katakan BUKAN? Keringkan tubuhmu dulu!"

"Eh? Tapi, cuma bagian atas bajuku saja ko yang basah," protes Shunji kecil, "Kau tidak perlu membentakku sekeras itu."

Midorima melemparkan sebuah baju dan handuk ke arah Shunji yang menerimanya dengan mudah.

"Pakai itu," Midorima melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan cepat, "Aku akan membuatkanmu minum."

Shunji masih terdiam saat pintu kamar Midorima ditutup dari luar.

"Ada apa dengan si baka Shintarou?" bibir Shunji cemberut, ikut kesal karena sikap Midorima yang kurang bersahabat.

Shunji melangkahkan kakinya ke depan cermin besar yang Midorima miliki. Dengan cepat Shunji mengeringkan rambutnya yang sedikit lepek karena basah. Lalu seluruh gerakan tubuhnya terhenti saat ia memperhatikan dirinya dengan lebih seksama. Shunji benar saat mengatakan bahwa hujan tidak membuatnya sebasah itu, hanya baju bagian atasnya yang menjadi korban, tapi justru itu yang menjadi masalah–

"Shintarou," Shunji menggumamkan nama sahabat kecilnya.

–bajunya menempel dengan lekat pada tubuh surai dark-lavender, membuat lekuk tubuhnya yang mulai terbentuk tercetak dengan sangat jelas –termasuk area barely-b-cup yang sempat Midorima singgung sebelumnya.

.

.

.

"Shintarou," panggil Shunji pelan, "Hp-mu menyala."

Midorima melirik sekilas nama yang tertera di layar teleponnya, "Biarkan saja, nanodayo."

Shunji yang tengah mengerjakan tugas rumah bersama si tsundere Midorima menaikkan sebelah alisnya bingung, "Siapa tahu penting."

Midorima menatap Shunji sejenak sebelum menyerahkan hp itu ke tangannya, "Kau saja yang angkat."

"Apa hubungannya denganku? Dia perlu padamu 'kan?" tolak Shunji.

"Kalau begitu biarkan saja," jawab Midorima cuek.

"Kemarikan!" Shunji berkata kesal.

Pip.

"Ah, moshi-moshi," ucap Shunji sopan.

"Eh? Ini nomor Midorima–kun 'kan?" ujar suara di seberang sana.

"Iya, ini nomor Shin-maksudku Midorima, ah sebentar ya," Shunji menyerahkan hp itu kembali pada pemiliknya dan memberikan tatapan mematikan.

"Terima, nope?" ucap Shunji sembari menggertakkan giginya.

Dengan malas Midorima menerima uluran itu –dia masih cukup tahu diri dan berterima kasih atas tumpangan yang Shunji berikan padanya.

"Ini aku, ada perlu apa?" ucap Midorima dingin –selebih dia tahu siapa yang meneleponnya.

"Midorima–kun, aku ingin meminta maaf soal yang tadi pagi. Aku tidak bermaksud seperti itu, kau mengerti 'kan?" tanya suara di ujung telepon.

"Hm," Midorima merespon dengan dehaman.

"Jangan marah ya. Nanti aku jelaskan, aku sayang Midorima–kun," ucapnya, "Ngomong-ngomong, gadis yang mengangkat telepon tadi siapa?"

Midorima melirik Shunji yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya, "Ia kekasihku."

Jeda mengisi beberapa detik berikutnya, "Midorima–kun, jangan marah seperti itu dong."

"Aku tidak marah, nanodayo. Mengapa harus marah?" tanya surai hijau itu.

"Lalu kenapa kau berbohong?"

Midorima tersenyum mengejek –meskipun gadis yang sedang meneleponnya tidak bisa melihat hal itu, "Aku tidak berbohong."

"Huh? Shintarou?" Shunji menatap khawatir saat sang three-pointer menaikkan volume suaranya.

Midorima mengalihkan perhatiannya pada surai dark-lavender Shunji, "Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi aku akan menutup teleponnya, nanodayo."

"Midorima–"

Pip.

"Tadi siapa?" tanya Shunji penasaran.

Si surai kehijauan membenarkan letak kacamatanya yang turun, "Hanya seorang teman yang menganggapku sebagai adiknya, nanodayo."

.

.

.

Sore itu Midorima sedang asik memilih snack saat maniknya mengenali dark-lavender seseorang yang begitu dikenalnya.

Perlahan Midorima mendekati sosok itu dan menepuk pundaknya halus, "Shun–"

"Kyaaa!"

Midorima mengerenyitkan dahi bingung dan kesal saat sapaannya dibalas dengan teriakan keras, membuat semua orang yang ada di sana memandangi mereka. Beberapa detik berlalu dan wajah Shunji masih memerah, dengan napasnya yang memburu –mungkin itu perpaduan antara kaget dan rasa malu yang ia rasakan.

"Kau kenapa, nanodayo?" tanya si surai hijau kesal, "Kau memberikan reaksi yang berlebihan, kau tahu itu?"

"Shintarou, kau mengagetkan aku. Aku pikir, kupikir," ucap Shunji terbata-bata.

Midorima memperhatikan kondisi keseluruhan Shunji, memutuskan bahwa gadis itu terlihat biasa saja –tidak sakit atau dalam bahaya, "Kau berbelanja apa saja?"

Shunji mengangkat keranjang belanjaannya, "Ah, seperti yang kau lihat."

Midorima memperhatikan keranjang belanjaan Shunji dan mendapati berbagai macam benda seperti daging, susu sapi, sayuran dan berbagai macam snack, "Sesudah ini mau ke mana?"

"Pulang, mungkin. Shintarou bagaimana?" sang gadis balik bertanya.

Midorima membenarkan letak kacamatanya, "Mau temani aku sebentar?"

"Eh? Huh? Tentu saja," Shunji menjawab gelagapan, tidak siap ditanya hal seperti itu.

Klontang!

Suara benda, terutama kaleng bertemu dengan lantai terdengar memekak telinga. Membuat supermarket yang berada di lantai dasar itu senyap seketika.

"Suara apa itu?" surai dark-lavender bertanya.

"Sepertinya seseorang menjatuhkan barang jualan, nanodayo," jawab Midorima klise.

"Aku juga tahu," Shunji mengerlingkan matanya bosan, "Lihat yuk, aku khawatir."

Di tempat kejadian banyak orang yang berkumpul, termasuk pelayan toko. Sepertinya semua orang penasaran akan keributan yang terjadi.

"Bertanggung jawab itu bagus, tapi kalau begini aku jadi kasihan padanya," Shunji berucap pelan.

Bertanggung jawab…

Rasa kesal muncul dalam diri surai kehijauan Midorima, membuatnya membalikkan badan cepat dan mulai menjauhi tempat itu, "Semua orang harus bertanggung jawab akan apa yang telah mereka lakukan dan katakan."

Shunji berusaha menyamakan langkahnya dengan Midorima, "Tapi 'kan? Dia tidak perlu membeli semuanya."

"Dia sudah mengatakan akan membelinya, nanodayo. Di dunia ini, ada waktu di mana kau tidak bisa menarik kembali ucapanmu–" Midorima mengambil keranjang dari tangan Shunji dan menyimpannya di tempat kasir, "–semenyesal apapun dirimu."

Shunji hanya mampu terdiam, berusaha untuk mengerti maksud yang Midorima sampaikan.

.

.

.

Midorima dan Shunji duduk dalam diam di ruang keluarga rumah Shunji sembari menikmati es krim cone yang mereka beli di supermarket tadi. Keduanya jatuh pada suasana canggung tak bersahabat, membuat si surai dark-lavender tanpa sadar menghabiskan es krimnya cepat.

"Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan, Shintarou?" Shunji bertanya hati-hati, tidak ingin menghancurkan suasana lebih jauh.

"Ne, Apa aku kurang baik?" Midorima berdiri dan berjalan ke arah jendela.

"Apa maksudmu?" tanya Shunji tak mengerti.

"Apa yang salah dariku? Aku memikirkannya sepanjang malam dan tak menemukan jawaban yang tepat," Midorima menatap lurus halaman samping yang keluarga Shunji miliki, "Kau sahabatku, jadi kurasa, ne, Shun."

"Shintarou, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu," ucap Shunji, ia mendekat ke arah Midorima dan memeluk tubuh itu dari belakang.

Midorima membalikkan badannya dan balas memeluk Shunji. Midorima memeluk sosok mungil itu erat, membuat sang gadis harus berjingjit semampunya karena perbedaan tinggi di antara mereka. Pikiran Shunji terasa gamang, separuh dari pikirannya sedang berkeliaran keluar. Shunji menarik napas pelan, lalu lengannya mendekap leher Midorima. Midorima tercium seperti sabun, dan Shunji selalu menyukai hal tersebut. Membuatnya rileks, dan merasa nyaman. Manik kehitaman Shunji tertutup sempurna, "Shintarou, aku ada untukmu."

Namun sepertinya bukan hanya pikiran Shunji yang tengah gamang –Midorima pun sama. Semuanya muncul ke permukaan saat gadis dengan surai dark-lavender merasakan ada tekanan asing nan lembut di permukaan bibirnya. Maniknya membuka cepat dan mendapati manik kehijauan Midorima bersembunyi di balik kelopaknya –tapi itu bukan fokus utama sang gadis.

"Shintarou, apa yang?" tanya Shunji lemas saat –pada akhirnya Midorima mau menarik wajahnya menjauh.

Midorima menarik tubuh Shunji hingga jatuh ke pelukannya, "Maaf, Shun. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak pernah menyesal dan menarik kata-kataku ini. Tidak seperti orang itu, aku akan bertanggung jawab atas apa yang kulakukan–"

"Shintarou," Shunji mengucap nama sahabatnya lagi, masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, "Mengapa kau melakukan itu?"

Midorima memilih diam dan menikmati hangat tubuh gadis yang ada di pelukannya. Ia baru ingat betapa eksistensi gadis dengan maniknya yang kehitaman itu mampu membuatnya setenang ini. Hanya dengan berada di dekatnya Midorima selalu merasa nyaman.

"–sepertinya aku menyukaimu, nanodayo."

.

.

.

Komachi berjalan pulang setelah mengikuti les tambahan. Langit sudah gelap dan hal ini membuatnya malas untuk mengikuti les tambahan lagi. Ia sudah sering berjalan pulang ke area ini dan sejauh ini keadaan selalu baik-baik saja, begitu pikir gadis itu sebelum maniknya menemukan sosok orang mencurigakan dengan jersey dan tas selendang yang basah kuyup terlihat sedang serius memperhatikan sesuatu –tampaknya orang itu berada di sana cukup lama. Manik coklat Komachi mengikuti arah manik sosok itu. Sebuah rumah, dengan halaman samping yang cukup besar, juga sesosok orang yang tengah berdiri membelakangi mereka. Tunggu, sepertinya dua orang. Ada lengan yang nampak memeluk leher sosok itu –sosok dengan surai kehijauan.

"Midorima–kun?" Komachi berucap pelan.

Tanpa gadis itu sadari genggamannya mengendur, membuat payung yang tengah ia pegang jatuh ke tanah. Maniknya terasa perih tiba-tiba, menghasilkan air mata berlebih yang jatuh bebas mengikuti gaya gravitasi. Tapi sepertinya bukan hanya dirinya yang seperti itu; diliriknya orang asing dengan jersey itu –sama sepertinya, sepasang manik jingga milik orang itu menjatuhkan air mata. Tidak sadar pada kenyataan bahwa meski di dalam kegelapan seperti ini surai kecoklatan itu dapat melihat sosoknya dengan cukup jelas. Komachi mengabaikan orang asing itu dan kembali memperhatikan dua orang yang tengah berpelukan intim di balik jendela cukup jauh di ujung sana.

"Midorima–kun," isak Komachi pelan.

.

.

.

"Hoi, Midorima," teriak seseorang.

Sosok yang merasa namanya dipanggil hanya melirik sedikit, "Apa maumu, nanodayo?"

"Akashi menyuruh kita untuk menjenguk si Kise yang sedang sakit," jawab sosok itu malas.

"Aho–mine, sopan sedikit! Dia rekan satu tim-mu 'kan?" ujar seorang gadis dengan surai violet-nya.

"Rekan satu tim atau bukan, aku tidak begitu dekat dengannya," surai navy-blue itu lagi-lagi menjawab malas.

Sang gadis menghadiahi satu pukulan keras di kepala sang pemuda, membuatnya mengerang dan protes di saat yang bersamaan.

"Ano, maaf, bukannya kau itu, Kaou Karen, anak kelas 2–3?" tanya Midorima memperhatikan sosok yang agak asing di sana.

"Ah, iya, eto.. Midorima–san?" jawab gadis yang bernama Karen itu canggung, "Kita belum berkenalan dengan benar ya? Aku Kaou Karen, yoroshikune."

"Midorima Shintarou, yoroshiku," Midorima balas menunduk saat gadis di hadapannya menunduk sopan.

"Daiki, Shintarou, kita berangkat sekarang," ujar seseorang dengan surai kemerahan di depan gerbang, selain sosok itu, sosok dengan surai baby-blue dan soft-purple berdiri dan melambaikan tangan mereka.

"Mido–chin, Aomi–chin, cepat," ujar si bongsor Murasakibara.

"Keh, merepotkan," keluh Aomine terakhir kalinya sebelum mengalihkan perhatiannya pada Karen, "Aku pergi ke rumah si Kise dulu, kau hati-hati di jalan."

Sang gadis mengangguk, "Tentu. Dan belajarlah menyebut nama Ryota–kun dengan benar, padahal dia teman sekelasmu."

"Dan mantan teman sekelasmu," tambah Aomine.

"Tidak ada mantan untuk teman," protes Karen, "Dan kita bertiga satu kelas di kelas 1. Bukan cuma aku atau Ryota–kun, tapi kita."

"Terserah kau saja, jya," Aomine berjalan pergi.

"Kaou–san, duluan," ucap Midorima berbasa-basi.

Karen menundukkan kepalanya sejenak lalu melihat surai navy-blue dan kehijauan itu sedang berbincang dengan anggota Kiseki no Sedai yang lain. Kumpulan anak jenius basket.

"Jadi Kise sakit?" tanya Midorima di tengah perjalanan.

"Iya," jawab Murasakibara sembari mengunyah maibou, "Kuro–chin yang bilang."

Midorima melirik si master misdirection cepat, "Bukannya kalian tidak sekelas?"

"Ah, begini. Karena sibuk, tadi Hiruma memintaku untuk mengantarkan fotocopi pelajaran hari ini ke apartemen Kise," jawab Kuroko, "Tapi karena aku tidak tahu dimana apartemennya, jadi aku bertanya pada Akashi–kun."

"Lalu Aka–chin memutuskan kalau kita semua harus menjenguk Kise–chin karena Kise–chin tinggal sendiri dan kemungkinan besar saat ini dia sedang terlantar di kasurnya," Murasakibara menimpali.

"Sayaka Hiruma ya? Ketua osis dan rekan sekelas yang baik, tidak seperti seseorang di sini," Midorima melirik ke arah seseorang dengan surai navy-blue.

"Dia sakit atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganku," ucap Aomine dingin, sedikit banyak tersinggung dengan ucapan si surai hijau, "Lagipula siapa suruh dia berdiri di tengah hujan seperti kemarin?"

"Siapa? Kise–kun?" Kuroko bertanya dengan nada bingung.

"Kurasa semua orang punya alasan untuk melakukan suatu hal," potong Akashi, menghentikan semua perbincangan mereka mengenai si jenius dalam hal meng-copy, Kise Ryota.

"Kita ke sana dulu untuk membawakan Ryota sesuatu," tambah Akashi saat dilihatnya sebuah Konbini.

Murasakibara terlihat senang, "Sekalian aku mau membeli maibou. Apa rasa baru sudah keluar ya?"

"Atsushi, di tanganmu masih banyak kotak maibou," sela Akashi.

"Kalau yang itu untuk di rumah, Aka–chin," Murasakibara membela dirinya.

Murasakibara lagi-lagi harus membela dirinya saat Aomine berkata sesuatu mengenai banyak makan dan diabetes. Perang ucapan itu belum selesai –bahkan saat mereka sudah ada di dalam mini market itu. Kalau saja Kuroko tidak menyikut Midorima, mungkin sang shooter akan tetap berdiri mematung di depan konbini sembari melamunkan sesuatu yang baru didengarnya.

kemarin, dia berdiri di tengah hujan…

Di mana tepatnya?

.

.

.

Rombongan Kiseki no Sedai dikurangi Kise sedang berdiri di depan sebuah elevator yang sejak tadi tidak kunjung turun.

"Apa elevator ini rusak?" ucap Murasakibara, wajahnya tampak kesal. Wajar sebenarnya karena sudah sepuluh menit pintu elevator itu tidak kunjung terbuka.

"Apa sebaiknya kita menggunakan tangga saja?" usul Kuroko, sama-sama lelah menunggu.

"Akashi, bagaimana menurutmu?" tanya Midorima sembari melirik kapten tim basketnya itu.

"Tidak, kita tunggu saja. Sebentar lagi elevatornya akan turun," jawab Akashi dingin.

"Huh?" respon Midorima bingung, "Seperti biasa, kau berkata seolah kau tahu segalanya."

"Tentu saja," jawab Akashi, "Karena aku tidak pernah salah."

Ingin rasanya si surai kehijauan memukul surai merah yang ada di sampingnya, tapi Midorima tidak ingin menu latihannya dinaikkan berkali-kali lipat, karenanya dia masih menahan diri.

"Ah, Aka–chin benar, lihat elevatornya mulai turun," tunjuk jemari panjang Murasakibara.

Semua mata langsung melihat apa yang dimaksud Murasakibara, dan Akashi hanya tersenyum simpul.

.

.

.

"Minna, terima kasih sudah mau menjengukku–ssu," Kise menangis bahagia.

"Aku tidak tahu kalau Iwayama–san merawatmu," ucap Kuroko sembari melihat ke arah dapur apartemen Kise, nampak seorang gadis dengan surai dark-lavendernya tengah menuangkan jus apel ke dalam gelas.

"Shunji–cchi datang dari siang, dia merawatku dengan penuh kasih sayang," ucap Kise memeluk guling yang ada di dekatnya gemas.

Midorima yang tengah berdiri di dekat pintu menatap Kise lama, baru ingat kalau Shunji meminta izin pulang pada saat istirahat makan siang –pulang untuk merawat si berisik Kise. Pikiran itu membuatnya menjadi kesal sendiri.

"Ini minum dulu," ujar Shunji sembari meletakkan beberapa gelas berisi jus, juga makanan ringan dan buah-buahan kaleng yang sudah dipindahkan ke mangkuk-mangkuk kecil di atas meja, "Terima kasih sudah mau menjenguk si bodoh Kise."

"Hidoi–ssu.. Shunji–cchi, kenapa harus menambahkan kata bodoh?" tanya Kise.

"Itu permohonan," jawab Shunji cuek, "Karena katanya orang bodoh sembuh lebih cepat."

Kise terdiam, pipinya memanas dan semburat merah hadir di sana. Mengundang senyuman dari beberapa orang yang ada di ruangan itu kecuali seseorang dengan surai kehijauannya.

"Eeh?" si kulit kecoklatan Aomine memperhatikan Shunji dengan seksama lalu tertawa mengejek, "Jadi, si dada rata ini kekasihmu?"

Refleks Shunji melirik tajam ke arah sumber suara, "Siapa yang kau maksud dada rata, Aomin–ecchi?"

"Siapa lagi kalau bukan kau, RATA," jawab Aomine, jari panjangnya menunjuk wajah kesal sang gadis.

Murasakibara yang tengah asik makan jadi memperhatikan Shunji, "Ah, benar, dadanya rata."

Jleb! Sebuah panah imaginer menghujam hati gadis itu, membuatnya tertohok.

"Ternyata bukan hanya aku yang berpikiran seperti itu, nanodayo," Midorima membenarkan letak kacamatanya dan berusaha menghindari tatapan membunuh yang dikeluarkan Shunji.

"Atsushi, tidak sopan berbicara seperti itu pada anak perempuan. Shunji masih dalam masa pertumbuhan, jadi itu normal," Akashi mengingatkan.

"Tapi, tapi, punya Sa–cchin besar," protes Murasakibara.

"Meski begitu, tetap saja tidak sopan mengatakan dadanya rata, Atsushi," surai kemerahan itu menasehati.

Jleb! Panah lain menusuknya.

"Iya, meskipun itu adalah kebenaran, kita tidak boleh menyebutnya dada rata, Murasaki–kun," Kuroko ikut berkomentar.

Jleb! Bahkan Kuroko bilang begitu.

"Hentikan–ssu, berhenti menyebut Shunji–cchi dada rata," teriak Kise parau, "Meskipun dadanya rata, aku tetap menyukainya, eh, maksudku bukan berarti dia dada rata, tapi, eh."

Jleb!

Rata.. Rata.. Rata.. Rata.. Rata.. Rata..

"HENTIKAN!" sang surai dark-lavender menutup telinganya, menghambat kata 'rata' lain untuk mampir, mengganggu pikirannya.

Sekarang Shunji baru sadar, pemuda-pemuda jenius nan tampan di sekitarnya memiliki kemampuan membunuh yang besar. Kata-kata sehalus itu berasa seperti sebuah pisau yang teramat tajam. Menusuk hatinya, dan merobek-robek apa yang ada di dalam. Kata lain dari kehancuran. Mungkin anggota Kiseki no Sedai harus banyak belajar, bahwa hati perempuan amatlah lembut dan rapuh.

"Ah! Shunji–cchi, kau kenapa–ssu?" Kise berteriak cemas, kakinya dipaksakan berlari ke arah sang gadis, meski itu artinya rasa sakit di kepalanya menjadi terasa berkali-kali lipat.

"Si dada rata rusak," komentar Aomine santai saat ia melihat asap imaginer keluar dari telinga sang gadis.

"Kau pikir dia apa? Robot?" tanya Midorima dingin.

"Iya, robot berdada rata," jawab Aomine, ia tertawa keras saat Shunji menghadiahinya tatapan kesal bercampur air mata di sudut-sudut matanya. Kalau begini di mata Aomine, Shunji jadi terlihat lezat. Membuatnya ingin merusak gadis itu lebih jauh.

Shunji berdiri, mengabaikan Kise yang memegangi bahunya, "Aomin–ecchi–baka!"

Aomine hanya tersenyum penuh arti saat sang gadis mendekat ke arahnya dan memukul lengan kirinya cukup keras.

"Haru–chan," bisik Aomine pelan hingga hanya dirinya serta eksistensi di dekatnya saja yang bisa mendengar hal itu.

Pupil kehitaman Shunji membesar seketika, lalu dengan gerakan pelan dia menjauhkan diri dari Aomine, "Ah~ Ka– kalian tolong ajak Kise mengobrol. Aku mau ke dapur dulu, belum sempat membuatkan Kise onion glatin soup yang sempat kujanjikan."

"Aku juga mau," timpal Murasakibara.

"Kalau begitu aku sekalian membuatkan untuk Murasaki–kun, yang lain mau?" tawar Shunji.

Anggota Kiseki no Sedai minus si bongsor Murasakibara saling menatap dan akhirnya Akashi sebagai perwakilan menolak tawaran sang gadis, "Kurasa tidak perlu, bukan kami yang sakit."

"Aku mengerti," ucap Shunji.

"Shunji–cchi," panggil Kise.

"Ya?" Shunji mendekat ke arah kekasihnya itu, "Kenapa, Kise?"

"Arigatou," Kise memaksakan bibirnya yang masih pucat untuk tersenyum.

Meski dalam keadaan sakit, sang model terkenal yang satu itu memiliki aura tampan yang tidak lekang. Membuat hati Shunji meleleh, hingga akhirnya memberikan kekasihnya itu satu senyuman manis serta satu ciuman di dahi sebelum keluar dari ruangan itu dengan segera –menghindari kemungkinan menerima kata 'rata' lain yang akan menusuk hatinya dengan panah-panah imaginer nan menakutkan.

.

.

.

Langit sudah menunjukkan sisi gelapnya saat si surai hijau Midorima berjalan pulang bersama Shunji.

"Shun," Midorima membuka pembicaraan.

Sang gadis bergumam pelan, "Apa?"

"Soal yang kemarin," Midorima menggantung ucapannya, berharap Shunji bisa mengerti tanpa perlu ia jelaskan kembali.

Sang gadis diam sejenak, lalu menatap langit berwarna biru pekat di atasnya, "Shintarou, kau tahu? Kurasa kita berdua sama. Tipe orang yang tidak bisa jujur terhadap dirinya sendiri–"

"Aku tidak mengerti, nanodayo," Midorima memotong.

Shunji berhenti melangkah lalu menautkan jarinya di jemari Midorima, "Maksudku adalah, jika kita berani untuk membuka diri, maka kebahagiaan berjarak sedekat ini."

Shunji meremas jemari Midorima di akhir kalimatnya, membuat sang surai kehijauan terdiam. Maniknya menatap manik kehitaman milik sang gadis.

"Kau berkata kalau aku berbohong pada diriku?" ucap Midorima pada akhirnya.

Shunji mengangguk lembut, "Termasuk saat kau menciumku dan berkata kalau kau menyukaiku."

Midorima menghentakkan tangannya keras, membuat jemari Shunji terlepas paksa, "Kau salah jika berpikir aku hanya main-main!"

"Kau tidak main-main," ujar Shunji, "Kau hanya kebingungan mengartikan perasaan sayangmu padaku."

Midorima menatap manik kehitaman Shunji sekali lagi sebelum meninggalkan sang gadis, "Sejak awal aku tidak berharap kau untuk mengerti, nanodayo."

"Shintarou?" Shunji berucap pelan. Tubuhnya terdiam di tempat dan lututnya mendadak lemas seketika, segera disenderkan tubuhnya ke batang pohon yang ada di sekitar sana. Ia menarik napas panjang beberapa kali sebelum memutuskan untuk kembali berdiri tegak dan menyeret kakinya pulang ke rumah.

.

.

.

Si surai hijau Midorima melangkahkan kakinya cepat. Hatinya dipenuhi kekesalan yang ia sendiri bingung apa alasannya. Apa ia kesal pada surai dark-lavender yang menurutnya gagal untuk mengerti perasaannya? Atau kekesalan Midorima hadir karena merasa apa yang dikatakan gadis itu benar? Ia tidak begitu mengerti.

"Midorima–kun?" panggil seseorang.

Midorima menoleh, "Ada apa, Suzuki–san?"

"Aku, belum minta maaf dengan benar padamu," ucapnya pelan, "Soal yang waktu itu."

"Maaf karena apa? Kau tidak salah apapun," Midorima menghela napas berat, "Mungkin aku yang salah mengartikan hubungan kita."

"Kau tidak salah, ko," ucap Komachi.

Midorima memilih diam dan tidak membalas ucapan sang surai kecoklatan.

"Kau kekasihku, dan aku menyukaimu sebagai pria," ujar sang gadis melanjutkan ucapannya, "Tapi, aku tidak ingin teman-temanku tahu kalau aku berpacaran dengan anak yang lebih muda dariku, terlebih kau masih SMP–"

Midorima masih terdiam dan memperhatikan gadis yang lebih tua tiga tahun darinya itu lekat.

"–karenanya aku berkata kalau aku menganggapmu sebagai adikku sendiri," tambah Komachi lagi.

Midorima masih tetap diam dan membiarkan gadis itu mengeluarkan isi hatinya.

Komachi memberanikan diri untuk menatap manik emerald Midorima, "Oleh karena itu, kalau di depan temanku, kau mau ya? Bertingkah sebagai teman yang aku anggap adik."

"Aku mengerti yang kau inginkan," Midorima tersenyum menjawab permintaan si surai kecoklatan, "Ah, aku salah tidak mendengarkan ramalan Ohaasa."

Komachi menaikkan alisnya bingung, "Midorima–kun, apa hubungannya Ohaasa dengan yang sedang kita bicarakan?"

Si surai kehijauan menatap gadis itu sinis, "Sejak awal ramalan Ohaasa sudah mengatakan kalau zodiac kita tidak cocok, nanodayo, dan sekarang aku tahu apa maksudnya."

Komachi menatap kesal Midorima, "Itu cuma ramalan. Ayolah, sampai kapan kau akan percaya ramalan bodoh itu?"

"Ramalan Ohaasa tidak bodoh, nanodayo," Midorima berucap pendek, "Buktinya aku jadi bisa kabur dari genggaman wanita sepertimu."

Midorima melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Kepalanya terasa pening karena memikirkan banyak hal di waktu yang sama.

"Sial," umpatnya.

.

.

.

Waktu satu minggu berlalu dengan cepat. Midorima tidak begitu memperhatikan masalah waktu. Siang ini cuaca sudah mulai membaik, jika beberapa hari kebelakang selalu diisi dengan air hujan, maka sekarang nampaknya matahari akan sering muncul.

"Shunji–cchi, pulang bersama ya!" teriak seseorang dari pintu kelas.

Jeritan para gadis langsung berkoar ketika melihat seseorang dengan surai kuning keemasannya, apalagi jika kini sosok tersebut tengah menebar senyuman maut. Siapa lagi kalau bukan si berisik Kise Ryota? Setelah diizinkan masuk oleh doktor pribadinya, akhirnya sejak dua hari yang lalu Midorima harus mau melihat tampang pemuda itu berkeliaran di sekolah –di sekitar Shunji. Banyak orang yang bilang orang yang jatuh sakit cenderung menjadi manja, mungkin itu sebabnya kini sang surai kuning keemasan selalu bergelayut di lengan Shunji setiap kali ada kesempatan. Lagi-lagi hati Midorima kesal jika memikirkannya.

"Sudah aku katakan, rumah kita berlawanan arah, Kise," Shunji berucap malas sembari menghampiri si surai kuning keemasan. Matanya melirik canggung kepada gadis-gadis yang tengah mengiriminya death-glare –belum terbiasa mengenai tereksposenya hubungan mereka, "Lagipula, kau baru sembuh. Jangan sok sehat."

"Shunji–cchi perhatian padaku–ssu," Kise mulai bergelayut manja seperti anak koala, "Aku jadi makin mencintaimu."

Surai kehijauan yang melihat dari sudut lain ruangan mendecih pelan. Benci pada kenyataan ada orang berisik nan aneh di dekat gadis yang disukainya.

Shunji melepaskan genggaman erat Kise yang dihadiahi protes kecil, "Haha Kau bersemangat sekali. Iya, iya, Kise.. aku juga makin mencintaimu. Tapi kalau gara-gara ini kau sakit kembali, aku jadi ingin mengikat tubuhmu dan membuangmu ke dasar laut."

Kise kaget dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh mungil Shunji, "Hido–!"

Shunji menarik napas lelah, lalu keluar dari ruangan kelas, "Sudah minum vitamin?"

"Sudah, saat istirahat makan siang," jawab Kise.

Shunji mengangguk tanda mengerti dan mulai berjalan di depan Kise, membuat si surai kuning keemasan mengekor padanya seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

"Shun, tunggu!" ujar seseorang.

"Shintarou?" tanya Shunji, ia menghentikan langkahnya, membiarkan surai kehijauan itu mengerjar mereka.

"Midori–cchi?" ujar Kise, sama-sama bertanya.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, nanodayo," ucap Midorima.

Si surai kuning keemasan menatap dua orang yang dikenalnya itu dengan wajah tidak mengerti.

"Kise, bisakah kau pulang sendiri?" Shunji berucap lembut.

Masih dengan sikap manjanya Kise menjawab, "Aku ingin pulang bersamamu–ssu!"

"Karenanya, aku sudah bilang berapa kali, rumah kita itu berlawanan arah," geram Shunji kesal.

"Ya sudah," lelah, manik kehitaman Shunji menatap Midorima sekali lagi sebelum mencurahkan seluruh perhatiannya pada sang kekasih, "Kise, tunggu aku di depan gerbang ya? Aku akan segera menyusul."

Kise masih tidak mengerti, "Um, baiklah–ssu. Aku akan menunggu."

Manik kehijauan Midorima memperhatikan Kise intens sampai pemuda itu hilang dari jarak pandangnya.

"Jadi kau mau membicarakan apa?" tanya Shunji dengan suara yang dipelankan.

"Sepertinya di atap sekolah lebih baik," ucap Midorima, tidak menjawab pertanyaan sang gadis.

Shunji yang sudah mengenal watak keras three-pointer tsundere di hadapannya hanya bisa mengangguk setuju.

"Jadi, soal yang ingin kau bicarakan denganku itu?" tanya Shunji mengingatkan saat mereka sudah sampai di atap.

"Aku akan mengatakannya langsung, nanodayo," ucap Midorima, "Putuskan Kise–"

Hening mengisi ruang di antara mereka.

"–jadilah kekasihku."

Shunji memilih untuk tidak memberikan respon apapun saat dilihatnya Midorima memberikan tatapan serius –wajah yang hanya akan ia pasang ketika sedang bertanding dan belajar.

"Lho? Jadi bagi Shintarou pertandingan itu sama dengan belajar?" pikir Shunji polos. Namun ia segera menggelengkan kepalanya, mengusir segala pikiran tidak penting, "Tidak bisa."

"Kenapa?" tanya Midorima, nadanya terdengar kesal.

"Karena, aku serius mengenai apa yang aku bilang tadi," jawab sang gadis.

Midorima menaikkan alisnya bingung.

Sang gadis dengan surai dark-lavender itu meneruskan ucapannya, "Kalau semakin hari, aku jadi semakin mencintai Kise."

Surai kehijauan itu membenarkan letak kacamatanya dan tersenyum sinis, "Kau hanya tertipu, nanodayo. Kau tahu benar cinta manusia itu lemah, lama-kelamaan kalian akan saling bosan dan meninggalkan satu sama lain."

Shunji terdiam lalu perlahan menatap langit cerah yang membentang luas, "Ahaha, mungkin kau benar. Mungkin nanti kami akan bosan terhadap satu sama lain, mungkin pada akhirnya nanti kami akan saling meninggalkan. Sama seperti ayah dan ibu. Jujur sampai sekarang aku masih trauma–"

Manik kehitaman Shunji mendaratkan fokusnya di manik kehijauan milik Midorima, "–tapi, untuk sekarang ini, yang aku tahu aku mencintai Kise, dan Kise mencintaiku. Tak ada alasan untuk meninggalkannya hanya karena rasa takut belaka. Ada kebahagiaan saat aku bersamanya. Shintarou juga, cari kebahagiaanmu itu, dengan seseorang yang bukan aku."

Midorima membuang wajah, "Jadi si berisik itu lebih berharga untukmu."

Shunji menggeleng tegas, "Kalian berdua sama berharganya!"

"Kau egois," jawab Midorima, lalu lagi-lagi hening menyapa mereka.

"Shintarou," Shunji tersenyum lalu mendekat ke arah surai kehijauan itu, "Buka matamu."

"Mataku membuka dari tadi nanodayo," jawab Midorima pendek, hal itu membuat Shunji tertawa renyah.

"Hmp, iya juga sih. Maksudku, ah, kau tahu maksudku, nope?" ujar Shunji, tangannya jahil mencubit pipi Midorima.

"Shun," surai kehijauan menepis tangan sang gadis, maniknya menjauhkan pandangan dari manik lawannya, merasa lelah dan –sedikit terkalahkan? "Apa menurutmu aku –lagi-lagi– salah mengartikan perasaanku?"

"Lagi?" tanya Shunji.

"Menyedihkan," Midorima berucap ironis, "Ditolak oleh orang terdekatku."

Ada detik aneh sebelum salah satu dari mereka membuka mulut.

"Baka, aku bukannya menolak," jawab Shunji kesal, "Aku hanya mengundurkan diri. Aku tidak bisa masuk ke kriteria perempuan idamanmu –selamanya tidak akan bisa!"

"Memangnya kriteria yang mana?" tanya Midorima, menilai poin apa yang kurang dari diri sahabat kecilnya.

"Aku–" Shunji menjulurkan lidahnya, "–tidak lebih tua darimu!"

Midorima tertegun sejenak sebelum mengeluarkan aura pembunuhnya, apalagi saat ia mendengar tawa pelan yang keluar dari mulut sang gadis, mengatakan hal seperti, "Cih sukanya jadi berondong." Atau, "Ngincar daun tua mulu."

"Kau akan menyesal, nanodayo!" Midorima menggeram.

"Nope! Tidak akan! Kau mengajarkanku untuk tidak pernah menyesal," ujar sang gadis, senyuman merekah di bibirnya saat ia sadar pemuda yang sudah bersamanya sejak kecil itu tampak lebih familiar. Atmosfir dingin yang seminggu belakangan ini muncul di antara mereka terkikis perlahan. Membuat beban tak nampak di dua anak manusia itu bagaikan terangkat hilang. Mengutip hal yang sudah sahabat kecilnya itu katakan, Midorima meneguhkan dirinya. Untuk sekarang ini yang ia tahu dirinya menyayangi gadis dengan surai dark-lavender itu, dan ia tahu gadis itu balik menyayanginya. Tak ada alasan untuk membuat sebuah hubungan baru hanya karena rasa takut belaka. Ya, sejujurnya Midorima ketakutan. Ia takut Shunji meninggalkannya sendiri –sama seperti yang dilakukan orang itu. Shunji tidak meninggalkannya, dan hal itu membuatnya tenang –ya, meskipun jika benar Shunji berani meninggalkannya, ia hanya perlu merebut sang gadis kembali dari tangan si berisik Kise Ryota.

Midorima tersenyum dengan teramat sinis, "Bukan hal yang sulit, nanodayo."

.

.

.

Di waktu yang sama, tempat yang sedikit berbeda seseorang dengan surai kuning keemasannya menguap entah untuk yang keberapa kalinya siang itu. Lagi-lagi ia melirik jam tangan yang melekat erat di pergelangannya, "Shunji–cchi lama sekali–ssu."

.

.

.

To Be Continued (?)

.

.

.

A/N : Fic yang masih gabungan sama abang aku Kazusa Kirihika. Kali ini gak akan ngasih alesan apapun, fic ini Sirius tulis dengan sadar sepenuhnya dan dengan kondisi fit seratus persen –soalnya udah minum Miz**e. Oh iya, baru sadar kalau aku belum bahas Review(s). Sumimasen deshita. Makasih buat yang udah mau meluangkan waktunya untuk mengetik review, makasih juga udah mau baca sampai author note yang sebenarnya gaje tingkat dewa hihi.

Anyway, leave some review ya, flame juga diterima, asal bisa membangun ^ ^ Jangan lupa cek cerita dari abangku ya, pen name : Kazusa Kirihika.

Aomine : "Hoam, review kalau sempat. Aku mau tidur dulu."

Sirius : "Promosi macem apa itu?" (nyesel masukin cowo ganteng yang satu itu di A/N corner)

Midorima : "Jangan pernah mengatakan kau menyesal, nanodayo. Tanggung jawab atas pilihanmu."

Sirius : "Hai, gomenasai." (T_T dimarahin Mido–nii.)

Midorima : (pat Sirius head) "Kalian tidak akan menyesal sudah me-review fic ini. Aku berani bertanggung jawab."

Sirius : (blush + speechless : mode on)

So, would you mind to review ? *wink